Sunday, May 10, 2026

Gorengan dan Kesesatan

SEJAK pertengahan Desember 2022 saya reguler Latihan di Ranting Pamulang yang berjarak sekitar 5 km dari rumah saya, dan sangat jarang ke Wisma Subud Cilandak—hampir 10 km dari rumah saya. Kalau hari Minggu, 10 Mei 2026, saya Latihan di Cilandak, adalah karena selama seminggu ini saya kehilangan kesempatan Latihan di Pamulang lantaran saya sakit dan cuaca buruk.

Kalau ke Cilandak, tempat nongkrong saya adalah di “Teras Timur”, teras di sisi timur Hall Latihan Cilandak, yang disangka dan mendapat julukan “Kelompok Subud Sesat” oleh mereka yang tidak pernah nongkrong di situ, dan selalu tersebut nama saya di samping dua anggota lainnya (salah satunya meninggal pertengahan Desember 2024) sebagai “pentolan kelompok”. Anggapan yang tentu saja salah, karena geng Teras Timur terbentuk secara organik, tanpa pernah saya rencanakan atau inginkan. Mengapa disebut “sesat”, karena mereka yang menganggap begitu hanya mendengar selentingan bahwa obrolan kejiwaan dari orang-orang yang nongkrong di situ “keluar dari arus utama”. Padahal kami hanya suka mencandai penerimaan atau pengalaman masing-masing dengan Latihan.

Jarang sekali ada wanita yang ikut gathering tidak resmi di situ, kecuali mereka yang kenal baik dengan kami, dan kebetulan lewat dalam perjalanan mereka ke toilet wanita, yang memang berlokasi di sisi timur hall Latihan. Para pembantu pelatih telah mencegah para anggota baru untuk bergabung di geng Teras Timur agar tidak cepat “terganggu”. Tidak pernah pula pengurus Cabang Jakarta Selatan ataupun Nasional yang dengan sadar mau meluangkan waktu untuk nongkrong di Teras Timur, sehingga agak mengejutkan kami, geng Teras Timur, ketika siang kemarin, pasca Latihan, Ketua Umum Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia 2025-2027, Muhammad Ridwan, dan satu pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tiba-tiba bergabung dengan kami. Sontak semua diam, padahal sebelumnya obrolan kami ramai.

Ketua Umum Pengurus Nasional memancing kami untuk mau buka mulut, berbagi cerita pengalaman atau pemahaman, tetapi semua membisu. Dengan cuek saya pun berkata, “Asyiknya ngobrol itu kalau ada gorengan, Mas!” Ketua Umum Pengurus Nasional pun membeli gorengan secara daring dan menelepon salah satu dari para anggota wanita yang berjualan makanan dan minuman di pekarangan depan Hall Cilandak. Ketua Umum Pengurus Nasional memborong semua jualan mereka dan meminta agar dibawa ke Teras Timur. Barulah suasana cair. Di antara topik pembicaraan pertama, saya tertarik pada pertanyaan Ketua Umum Pengurus Nasional: “Kalau bertanya, apa alasan seseorang masuk Subud, itu sudah biasa. Coba, tanya dong mengapa seseorang bertahan di Subud.”

Saya menyeletuk, “Itu yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri... mengingat saya di awal mengenal Subud saya bukanlah orang yang berminat pada spiritualitas. Kalau tidak dipancing dengan makanan enak, mungkin saya tidak pernah masuk Subud.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Mei 2026

Saturday, May 9, 2026

Modal Lain

TAHUN 2009, lantaran diare tidak kunjung berhenti selama lebih dari dua minggu—karena stres yang disebabkan oleh pekerjaan, saya dikenalkan oleh almarhum Pak Otjo Wiroreno (anggota Subud Jakarta Selatan) ke dr. Harry Angga, seorang dokter asal Bandung yang berhenti berpraktik dokter medis, beralih ke alternatif. Berbekal ilmu kedokteran Barat dari Jerman dan ilmu penyembuhan Timur dari Tiongkok, beliau menciptakan metode penyembuhan diri sendiri (auto-therapy) yang beliau namakan senam olah napas dan gerak Bio Energy Power atau BEP. Dilatih langsung oleh dr. Harry, pada pelatihan pertama itu diare saya langsung reda.

Disarankan oleh dr. Harry, agar saya BEP sehari dua kali, pagi dan sore, masing-masing 15 sampai 30 seri. Satu seri terdiri dari tiga jurus yang sangat mudah gerakannya, bisa dilakukan anak-anak maupun orang tua, dalam posisi duduk atau berdiri. Selain saya dan Pak Otjo, anggota Subud lainnya yang ikut pelatihan BEP tahun 2009 itu adalah istri saya, Mas Luthfie, dan Pak Isa Anshori (dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta yang menderita tumor tenggorokan). Yang ajaib, tiap kali berlatih BEP bersama di kompleks Bank Mandiri Cipete, Jakarta Selatan, di mata dr. Harry Angga dan para peserta lainnya, yang dari Subud itu “tampak berbeda” dan efek kesembuhannya serta kesehatannya juga cepat, dalam sekejap. Seperti diare saya dan tumor tenggorokannya Pak Isa, reda atau hilang segera pada pelatihan pertama.

Dan menurut kesaksian para peserta lainnya, para praktisi BEP dari Subud gerakannya serasi, selalu bersemangat dan pasca latihan BEP selalu kelihatan lebih segar dan bugar. Dokter Harry sendiri beberapa kali mengungkapkan kekagumannya, karena sebagai kreator BEP beliau belum pernah mengalami atau merasakan efek sekejap dari BEP seperti halnya yang dialami atau dirasakan oleh praktisi yang dari Subud.

Saya terpikir untuk berbagi cerita ini, setelah barusan seorang praktisi BEP lama, yang tidak saya kenal, mengirim pesan WhatsApp ke saya (nomor saya dia dapat dari mailing list BEP yang sudah tidak aktif), menanyakan apa saya punya modal lain selain BEP kok bisa “sukses” dalam latihan BEP, sedangkan dia sudah bertahun-tahun belum merasakan manfaatnya. Ya, saya sampaikan apa adanya... mungkin karena saya barengi dengan Latihan Kejiwaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 Mei 2026

Thursday, May 7, 2026

Menguasai Teknik Penceritaan Melalui LDR

SEORANG relasi bisnis meminta kesediaan saya untuk mengajari para staf pemasaran di perusahaannya dalam teknik penceritaan sebagai cara untuk meningkatkan penjualan. Saya bersedia, tentu saja. Saya bercanda—ketika ditanya berapa sesi yang dibutuhkan untuk seseorang bisa jago dalam penceritaan—bahwa menulis membutuhkan pembelajaran seumur hidup.

Sebagai pendahuluan, saya bercerita bahwa kemampuan saya menulis narasi pemasaran dengan teknik penceritaan dipicu oleh hubungan jarak jauh (long-distance relationship/LDR) saya dengan pacar saya (yang kini telah menjadi istri saya). Alkisah, pada tahun 1994, ketika saya menjalankan LDR itu, saya menulis surat cinta berlembar-lembar untuk menyambungkan jarak rindu kami. Setiap minggu saya menulis dan mengirim surat berstempel Kilat Khusus ke pacar saya. Suatu hari, ketika saya tengah menulis surat, teman saya datang. Ia membaca suratnya dan berkomentar, “Tulisan lo mengalir, enak dibacanya. Lo pintar bercerita. Lo seharusnya jadi copywriter.”

Saat itu, saya belum tahu apa itu “copywriter”. Saya baru tahu ketika pada akhir Oktober 1994 saya diterima bekerja di Matari Advertising dan mendapat ruang kerja sementara di perpustakaan biro iklan raksasa Indonesia itu, dimana saya menemukan delapan buku tentang copywriting.

Salah satu kiat untuk copywriting yang hebat ternyata ditawarkan kedelapan buku tersebut: “Menulislah seolah Anda sedang menulis surat kepada kekasih Anda.” Itulah teknik terkuat penceritaan yang selalu saya sampaikan kepada para peserta workshop copywriting yang saya saya berikan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Mei 2026

Friday, May 1, 2026

Menghidupkan Sebuah Karya

SATU saudara Subud di Jakarta tidak suka bila sebuah karya tulis dibuat dengan bantuan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Tidak ada rasanya, tidak ada jiwanya, kalau pakai AI,” kata dia.

Tahun lalu dia dan saya menghadiri acara peluncuran buku karya teman kami (dia bukan anggota Subud). Dalam bedah bukunya, si penulis berterus terang bahwa ia menggunakan bantuan Gemini AI untuk merangkai kalimat-kalimat dalam bukunya. Parahnya, di testimoni dari salah satu peninjau buku tersebut, di cover belakangnya, tertulis bahwa penulis buku adalah seorang “spiritualis”, yang bagi saudara Subud itu terasa konyol. Bagi dia, seorang spiritualis seharusnya mengandalkan rasa, alih-alih teknologi.

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan saudara Subud itu, karena pengalaman telah menunjukkan ke saya bahwa bukan apa alatnya melainkan ketenangan batin kitalah yang dapat “menghidupkan” sebuah karya. Pengalaman baru-baru ini lagi-lagi membuktikan kebenaran itu.

Saat ini, saya sedang menjadi freelance copywriter di sebuah firma kehumasan yang menggarap proyek penulisan coffee-table book dalam rangka ulang tahun ke-25 sebuah perusahaan. Fee yang tidak sesuai dengan tingkat kerepotannya serta waktu yang kelewat mepet membuat saya mengambil jalan pintas: Menggunakan AI untuk merancang bangun teksnya. Saya tulis prompt sesuai dengan apa-apa yang disyaratkan klien dalam hal penulisan.

Ada satu hal lain yang menginspirasi saya untuk menggunakan bantuan AI, yaitu cerita dari “kalangan dalam” Pamulang, bahwa nama Subud yang diberikan Ibu Rahayu kepada anggota bukanlah hasil dari penerimaan spontan, melainkan dengan melakukan testing terhadap sejumlah nama yang diambil dari buku tentang “nama dan artinya”, yang bisa dibeli di toko buku. Nama Subud tetap akan memiliki vibrasi karena dicomot dengan bimbingan Latihan.

Hasilnya saya baca dan edit dengan diri saya dalam keadaan Latihan, kemudian saya serahkan ke klien. Kliennya berkomentar bahwa tulisan saya (yang aslinya dibuat oleh AI) memancarkan vibrasi yang membuatnya merasa dirinya berada di dalam tulisan itu dan menilai saya mampu membangun emosional pembaca. Kesimpulan saya, energi Latihan dapat menembus segala ciptaan manusia dan memberinya jiwa.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Mei 2026

Tuesday, April 21, 2026

Kritik Kartini Terhadap Agama

RADEN Ajeng Kartini (1879-1904) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkemuka dan pelopor gerakan hak-hak perempuan serta pendidikan. Lahir pada 21 April 1879—karena itulah setiap tanggal 21 April diperingati oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini—dalam keluarga bangsawan Jawa di masa kolonial Belanda, ia paling dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut merinci pemikirannya tentang reformasi sosial, penderitaan perempuan Jawa, dan perjuangan kemerdekaan nasional.                   

Kartini dirayakan secara luas sebagai perintis hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Namun, di balik advokasi sekolah dan kesetaraan sosial, terdapat pemikiran analitis yang mendalam—pemikiran yang berani mengkritisi fondasi praktik keagamaan di zamannya. Kartini bukan sekadar seorang reformator; ia adalah seorang beragama yang kritis. Surat-suratnya mengungkap sosok wanita yang menolak menerima tradisi begitu saja, melainkan mencari keyakinan yang berakar pada logika dan kasih sayang.

Kritik Terhadap Pemahaman Agama

Salah satu kritik Kartini yang paling terkenal adalah mengenai cara Alquran diajarkan pada masanya. Ia mempertanyakan mengapa para murid diharapkan untuk menghafal dan melantunkan kitab suci dalam bahasa Arab tanpa diwajibkan memahami maknanya. Bagi Kartini, pertumbuhan spiritual mustahil terjadi tanpa pemahaman. Ia melihat praktik melantunkan kata-kata tanpa tahu definisinya sebagai sebuah latihan yang hampa. Keinginannya adalah agar agama berbicara kepada hati melalui pikiran—sebuah sikap radikal dalam masyarakat di mana otoritas agama jarang sekali dipertanyakan.

Kritik Kartini pun meluas hingga ke luar ruang kelas. Ia membayangkan sebuah dunia yang melampaui batas-batas agama terorganisir, menyiratkan bahwa dunia akan jauh lebih damai jika agama-agama tidak menonjolkan perbedaan mereka atau terlibat dalam penghinaan dan konflik timbal balik. Observasinya yang paling tajam tetap terasa sangat relevan hingga saat ini: “Agama seharusnya menjaga kita dari dosa, namun seringkali, dosa justru dilakukan atas nama agama!”

Kejujuran Intelektual

Apa yang membuat Kartini benar-benar “keren” menurut standar modern adalah kejujuran intelektualnya. Ia tidak meninggalkan agamanya; sebaliknya, ia menjunjung agamanya ke standar yang lebih tinggi. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya atau agama seseorang bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Ia menantang para pemimpin agama untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai jembatan menuju perdamaian, bukan senjata untuk perpecahan.

Dengan menuntut untuk memahami kitab suci bagi dirinya sendiri, ia merebut kembali kedaulatan spiritualnya. Kartini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa menjadi orang yang beragama dan menjadi pemikir kritis bukanlah dua hal yang saling eksklusif. Faktanya, seperti yang ia tunjukkan, iman yang paling mendalam sering kali adalah iman yang tidak takut untuk bertanya, “Mengapa?”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 April 2026

Sunday, April 19, 2026

Melampaui Bayang-Bayang Inferioritas Anggota Subud Indonesia di Kancah Global

PENGALAMAN spiritual dalam wadah Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma atau Subud telah berkembang secara global sejak pertengahan abad ke-20. Fenomena ini menciptakan sebuah dinamika yang unik karena secara historis dan esensial, Latihan Kejiwaan ini berakar dari pengalaman spiritual seorang putra Indonesia, yakni RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, atau “Bapak”. Namun, terdapat sebuah paradoks yang cukup nyata di dalam tubuh organisasi ini di tanah air. Meskipun Indonesia merupakan rahim kelahiran Subud, interaksi dan keterlibatan anggota domestik dalam kancah internasional sering kali dirasakan masih sangat minim. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis atau kendala bahasa, melainkan sebuah persoalan psikologis yang mendalam dan berakar pada sejarah kolektif bangsa yang panjang.

Ketertinggalan dalam keterlibatan global ini sering kali berakar pada apa yang disebut oleh para psikolog dan sosiolog sebagai inferiority complex atau rasa rendah diri kolektif. Bagi bangsa yang pernah mengalami kolonialisme selama lebih dari tiga abad, sisa-sisa mentalitas terjajah tidak hilang begitu saja hanya dengan proklamasi kemerdekaan. Struktur kolonial yang selama berabad-abad menempatkan penduduk pribumi pada strata sosial terbawah telah meninggalkan jejak traumatis dalam alam bawah sadar. Hal ini memicu pandangan bahwa segala sesuatu yang datang dari Barat atau dunia luar memiliki kualitas yang lebih unggul, lebih modern, dan lebih kredibel dibandingkan dengan apa yang ada di dalam negeri. Dalam konteks Subud Indonesia, mentalitas ini sering kali mewujud dalam bentuk rasa sungkan atau keraguan untuk berdiri sejajar dengan anggota dari negara-negara maju.

Padahal, jika kita menilik kembali sejarah perjalanan Bapak ke mancanegara, beliau memberikan teladan yang sangat kuat mengenai martabat dan kepercayaan diri. Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok yang perlu menyesuaikan diri dengan standar kebudayaan Barat demi mendapatkan pengakuan. Beliau tetap tampil apa adanya sebagai orang Jawa dengan kesahajaan dan keteguhan prinsip spiritualnya. Di hadapan para cendekiawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat di Inggris, Amerika Serikat, hingga Eropa daratan, beliau tidak pernah merasa rendah diri. Sebaliknya, cara beliau membawakan diri justru mengundang rasa hormat yang mendalam dari masyarakat Subud luar negeri. Beliau membuktikan bahwa otoritas spiritual dan kematangan jiwa tidak ditentukan oleh asal-usul bangsa atau latar belakang ekonomi, melainkan oleh keikhlasan dan kejernihan dalam menjalani Latihan Kejiwaan.

Ketimpangan eksposur internasional bagi anggota di Indonesia sering kali bermula dari hambatan psikologis dalam berkomunikasi. Banyak anggota yang merasa bahwa kemampuan bahasa mereka yang terbatas menjadi penghalang mutlak untuk berkontribusi dalam komite-komite internasional atau menghadiri kongres dunia. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kendala bahasa hanyalah manifestasi permukaan dari ketakutan akan penilaian orang lain. Ada ketakutan bahwa ide atau gagasan yang disampaikan dari perspektif Indonesia akan dianggap tidak relevan atau kurang canggih. Pola pikir inilah yang harus segera didekonstruksi. Subud adalah organisasi yang berbasis pada persaudaraan kejiwaan yang melampaui sekat-sekat budaya, sehingga setiap anggota sebenarnya memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk bersuara di panggung dunia.

Untuk memecahkan belenggu rasa rendah diri ini, diperlukan sebuah pergeseran paradigma yang dimulai dari tingkat individu. Anggota Subud Indonesia perlu menyadari kembali kekayaan nilai yang mereka miliki sebagai pemegang tongkat estafet tradisi spiritual asli Indonesia ini. Indonesia memiliki modal sosial berupa keramah-tamahan, gotong royong, dan ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam dinamika organisasi global yang sering kali terlalu kaku atau bersifat administratif. Dengan memahami bahwa perspektif Indonesia adalah aset berharga bagi keragaman internasional, maka rasa percaya diri akan mulai tumbuh secara alami. Kita tidak perlu menjadi “kebarat-baratan” untuk diterima, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang berdaya dan berwawasan luas.

Strategi pertama dalam memperluas eksposur internasional adalah dengan memanfaatkan teknologi digital secara proaktif. Di era konektivitas saat ini, jarak geografis bukan lagi hambatan utama. Anggota Subud Indonesia dapat mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan virtual, webinar, atau kelompok diskusi internasional yang sering diselenggarakan oleh World Subud Council atau zona-zona lainnya. Keterlibatan ini tidak harus dimulai dengan peran yang besar. Menjadi pendengar aktif dan sesekali memberikan opini singkat dalam diskusi daring dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan diri berinteraksi dengan dialek dan budaya yang berbeda. Konsistensi dalam kehadiran digital ini akan perlahan-lahan menghapus rasa asing dan membangun kedekatan emosional dengan saudara-saudara sejiwa di belahan bumi lain.

Selanjutnya, peningkatan literasi organisasi menjadi sangat krusial. Sering kali, anggota merasa kurang percaya diri karena mereka tidak sepenuhnya memahami struktur dan mekanisme kerja organisasi di tingkat internasional. Dengan mempelajari laporan-laporan dari lembaga-lembaga (wing bodies) internasional seperti Susila Dharma International Association (SDIA) untuk bidang sosial, Subud International Cultural Association (SICA) untuk bidang budaya, Subud Education Association (SEA) untuk pendidikan, atau Subud Enterprise Services (SES) untuk enterprise, anggota akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sedang terjadi di dunia luar. Pengetahuan ini memberikan basis yang kuat saat melakukan percakapan. Ketika seseorang berbicara berdasarkan data dan pemahaman konteks yang jelas, rasa rendah diri akan terkikis karena fokus perhatian beralih dari kekurangan pribadi menuju substansi permasalahan yang sedang dibahas.

Langkah strategis lainnya adalah melalui pengembangan kemitraan proyek antarnegara. Anggota di Indonesia yang memiliki keahlian di bidang tertentu, baik itu dalam manajemen, seni, pendidikan, maupun kewirausahaan, dapat menawarkan kolaborasi dengan anggota dari negara lain. Misalnya, seorang pengusaha di Indonesia bisa berdiskusi dengan sesama anggota Subud di Eropa mengenai peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Kolaborasi berbasis proyek ini menciptakan hubungan yang setara dan profesional. Dalam proses kerja sama tersebut, interaksi yang intens akan terjadi secara alami, yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan adaptasi lintas budaya. Pengalaman sukses dalam proyek kecil akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk mengambil peran yang lebih besar di kemudian hari.

Pendidikan dan pelatihan bahasa tetap merupakan hal yang penting, namun harus didekati dengan motivasi yang benar. Belajar bahasa asing bukan bertujuan untuk meniru identitas bangsa lain, melainkan sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan spiritual dan kemanusiaan yang universal. Organisasi di tingkat nasional dapat memfasilitasi kursus bahasa atau lokakarya komunikasi internasional yang dikhususkan bagi anggota yang memiliki minat untuk melayani di tingkat global. Dengan adanya dukungan kolektif dari sesama anggota di dalam negeri, individu akan merasa lebih berani untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Dukungan moral dari komunitas lokal sangat berperan dalam memvalidasi bahwa keberangkatan seseorang ke ranah internasional adalah representasi dari kemajuan bersama.

Selain itu, penting bagi anggota Indonesia untuk aktif mendokumentasikan dan membagikan pengalaman kejiwaan serta kegiatan sosial mereka dalam format yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Penulisan artikel, pembuatan video pendek, atau pengelolaan blog dalam bahasa Inggris mengenai perkembangan Subud di daerah-daerah di Indonesia dapat menarik perhatian anggota global. Sering kali, dunia luar merasa penasaran dengan bagaimana Subud dipraktikkan di tanah kelahirannya. Dengan menjadi narator bagi diri sendiri, kita tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi menjadi subjek yang aktif membentuk opini dan berbagi inspirasi. Inisiatif seperti ini akan menempatkan anggota Indonesia sebagai mitra dialog yang inspiratif bagi dunia.

Kehadiran fisik dalam acara-acara besar seperti Kongres Dunia atau pertemuan tingkat zona juga harus diupayakan secara terencana. Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, manfaat dari pertemuan tatap muka tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Interaksi langsung melalui makan bersama, berbincang santai di sela-sela acara, dan mengikuti Latihan Kejiwaan bersama akan meruntuhkan tembok-tembok prasangka yang mungkin selama ini terbangun di dalam pikiran. Anggota akan menyadari bahwa saudara-saudara dari luar negeri juga memiliki tantangan, pergumulan, dan keraguan yang sama. Kesadaran akan kemanusiaan yang setara ini adalah obat mujarab bagi penyakit inferiority complex. Setiap anggota Indonesia yang pulang dari acara internasional biasanya akan membawa energi baru dan perspektif yang lebih segar untuk dibagikan kepada anggota lain di tanah air.

Mentalitas sebagai pemberi, bukan hanya penerima, juga perlu ditanamkan. Dalam hubungan internasional, sering ada kecenderungan untuk memposisikan Indonesia sebagai pihak yang membutuhkan bantuan atau bimbingan. Kita harus mulai mengubah posisi tersebut dengan menawarkan kontribusi nyata. Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan pengalaman dalam menjaga keharmonisan dalam keberagaman yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang penuh konflik. Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan bagi kemajuan Subud dunia, martabat kita sebagai bangsa akan terjaga. Hal ini sejalan dengan teladan Bapak yang selalu menekankan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan berkarya secara nyata di masyarakat.

Penting juga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional tanpa harus menjadi chauvinistik. Mengenalkan budaya Indonesia, mulai dari cara berpakaian yang sopan namun elegan hingga kuliner yang kaya rasa saat berinteraksi dengan anggota luar negeri, adalah bentuk diplomasi budaya yang halus. Ketika kita menghargai identitas kita sendiri, orang lain pun akan belajar untuk menghargai kita. Rasa bangga yang sehat ini akan menjadi perisai yang kuat terhadap serangan rasa rendah diri. Anggota Subud Indonesia harus menyadari bahwa mereka adalah duta dari sebuah bangsa yang besar dengan sejarah peradaban yang tua dan mulia.

Pada akhirnya, perluasan eksposur internasional adalah sebuah proses transformasi jiwa yang sejalan dengan tujuan dari Latihan Kejiwaan itu sendiri. Latihan Kejiwaan mengajarkan kita untuk mengelola segala nafsu dan daya rendah, termasuk rasa takut dan rasa rendah diri yang menghambat potensi kemanusiaan kita. Jika setiap anggota benar-benar berserah diri kepada kekuasaan Tuhan, maka identitas kebangsaan tidak akan menjadi beban, melainkan menjadi warna-warni yang memperindah kebun persaudaraan dunia. Dengan mengikuti jejak langkah Bapak yang rendah hati namun berwibawa, anggota Subud Indonesia dapat melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak, siap untuk belajar, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan universal. Transformasi ini bukan hanya akan menguntungkan individu yang bersangkutan, tetapi juga akan memperkuat posisi Subud Indonesia sebagai pilar utama dalam perkembangan Subud di masa depan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 20 April 2026

Wednesday, April 8, 2026

Sukun Berkejiwaan

TADI malam, saya mau Latihan di Wisma Barata Pamulang, tetapi Nuansa melarang saya pergi. Terutama karena hari ini saya harus pergi lagi untuk meeting dengan calon investor di Serpong. Saya membujuk putri saya yang berumur sembilan tahun itu, salah satunya dengan janji bahwa saya akan membawakan suguhan yang biasanya tersedia bagi anggota Subud yang datang Latihan di Wisma Barata.

Saya asal sebut saja bahwa saya akan bawakan sukun buat dia. Yang terlintas di pikiran saya adalah gorengan, tetapi mulut saya berucap “sukun kukus”. Akhirnya, Nuansa membolehkan saya pergi—bukan karena janji saya akan membawakan kue tapi daripada hari Minggu saya pergi ke Wisma Subud Cilandak sebagai gantinya.

Yang membuat saya kaget ketika tiba di Wisma Barata adalah bahwa suguhannya memang sukun kukus yang ditaburi kelapa parut. “Yang spontan itulah yang dari jiwa,” kata Bapak, bukan yang terpikirkan, apalagi pikiran yang terisi nafsu belaka.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 April 2026