TAHUN 2025
lalu, saya bertandang ke rumah seorang pembantu pelatih Amerika asal New York
yang telah cukup lama tinggal di Indonesia. Dalam obrolan kami di meja makan,
usai menyantap hidangan makan malam buatan istri Indonesianya yang lezat,
terungkap bahwa si pembantu pelatih pernah tinggal dan bekerja selama sepuluh
tahun di Shanghai, Tiongkok. Ia menggambarkan bahwa situasinya pada saat itu
tidak enak bagi jiwanya tetapi berkat Latihan ia mampu bertahan.
Penggambarannya
tentang situasi negara itu, melalui kata-kata, tidak cukup untuk membuat saya
memahami bagaimana sebenarnya, sehingga saya bertanya padanya, “Memang
bagaimana sebenarnya China itu? Apa yang kamu alami di sana?”
Si pembantu
pelatih menatap saya tajam dan dengan tekanan ia berkata, “Kamu anggota Subud,
kan? Pakai rasa kamu! Saya tidak perlu menjelaskan detail.”
Saya pun
melakukan apa yang disarankan si pembantu pelatih. Itu seperti testing kejiwaan, dengan pertanyaan: “Apa
yang dialami X selama di Shanghai yang mengganggu rasa perasaannya?”
Pengalaman
seperti ini pula yang saya terapkan ketika mendesain logo Kongres Dunia Subud ke-17
di Fàtima, Portugal. Saya belum pernah ke Portugal, apalagi Fàtima. Sulit saya
membayangkan bagaimana ruh negara itu, meski saya dapat menemukan begitu banyak
fotonya di Google Images. Sebagai
konsultan branding, saya terbiasa
dengan serangkaian proses desain logo dan pengembangan identitas merek, yang
bersumbu pada riset yang mendalam. Mendesain identitas merek tidak semudah
membalikkan telapak tangan; Anda harus mengerahkan segenap waktu, tenaga dan
pikiran untuk menggali pengetahuan dan wawasan tentang antropologi, sosiologi,
psikologi, sejarah, arkeologi, heraldika, dan lain-lain, agar identitas yang
Anda rancang menawarkan pengalaman rasa yang kuat terhadap
produk/jasa/organisasi yang diwakili identitas tersebut.
Sebagai
sarjana Ilmu Sejarah lulusan sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia,
saya terbiasa dengan penelitian dan pengkajian multidisiplin, tetapi berkaitan
dengan rasa tidak ada “sekolah” dengan kualitas pendidikan sebaik Subud.
Bekerja dengan diri saya terisi Latihan Kejiwaan, membuat hasilnya selalu ada
rasa yang bahkan dapat diterima oleh klien-klien saya meski mereka belum dibuka
atau bukan anggota Subud.
Membuka
Wikipedia tentang Fàtima, yang cukup kaya dengan foto-foto bangunan bersejarah
yang menjadi landmark kota itu, saya
membiarkan Latihan saya untuk menunjukkan apa yang harus saya angkat sebagai
Gagasan Besar (ide atau rancangan pemikiran utama yang memiliki visi luas,
mendalam, dan transformatif. Gagasan ini biasanya menjadi fondasi untuk
menciptakan sebuah karya iklan yang mampu menggerakkan audiens untuk beraksi,
atau paling sedikit berrelasi dengan merek). Perhatian saya tercurahkan pada
bangunan Basilica of Our Lady of the
Rosary. Saya merasakan vibrasi yang kuat walau yang saya hadapi hanya
sebuah foto, seolah bangunan itu memanggil saya.
Fotonya saya
unduh, lalu saya crop hingga yang
tampak adalah bentuk mahkota di pucuk menara utama basilika itu. Saya kemudian
mencari foto-foto yang menampakkan berbagai sisi dari mahkota itu. Hal itu
mendorong saya untuk googling foto
patung Bunda Maria dengan mahkota penobatan kanoniknya. Sambil membayangkan
sosoknya saya iseng membuat coretan-coretan di kertas—yang biasa dilakukan para
perancang grafis maupun pengarah kreatif. Setelah sekian jam saya membuat
coretan, dan tidak memberi hasil, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk
mengaplikasikan satu per satu dari berbagai pilihan menu di Filter Gallery di Photoshop di komputer saya, sampai perhatian saya tertuju pada
efek Note Paper, Photocopy, Plaster, Stamp dan Torn Edges, yang membuat sosok Bunda Maria dalam foto berubah
menjadi laiknya “cipratan-cipratan air”.
Di ranah
desain grafis, yang saya lakukan disebut Deformasi, yaitu teknik mengubah,
merombak, atau menyederhanakan bentuk asli suatu objek menjadi bentuk baru yang
lebih unik, ekspresif, dan komunikatif tanpa menghilangkan identitas atau makna
dasarnya. Teknik ini biasanya diterapkan untuk memperkuat karakter, menyampaikan
pesan visual, atau menyesuaikan elemen dengan estetika desain secara
keseluruhan.
Hasil
deformasi gambar Bunda Maria adalah cipratan-cipratan hitam putih. Saya lantas googling lagi, mencari ikon lainnya yang
mewakili Portugal. Saya kepincut pada ayam jantan yang dikenal di Portugal
sebagai Galo de Barcelos; simbol
nasional tak resmi dari Portugal, yang melambangkan kepercayaan, keadilan,
kejujuran dan keberuntungan. Suvenir ayam jantan ini dapat ditemukan di mana
saja di Portugal dan biasanya berhiaskan gambar hati dan bunga warna-warni.
Warna-warnanya yang cemerlang menginspirasi saya untuk saya tuangkan pada
cipratan-cipratan air hasil dari deformasi gambar sosok Bunda Maria.
Meski
mungkin terlihat saya mempersiapkan logo itu secara tekun dan serius, yang
sebenarnya adalah bahwa saya malah tidak serius. Logo yang menang ini adalah Opsi
#2, dari dua opsi desain yang saya kirimkan secara tidak bersamaan. Saya
menjagokan Opsi #1, walaupun secara tampilan kurang “muda”, tidak
merepresentasi semangat keanggotaan Subud yang dewasa ini mengalami regenerasi.
Oleh karena itu, saya sangat terkejut ketika diberitahu melalui email dari Koordinator
Komunikasi World Congress Organizing Team
(WCOT) bahwa desain saya yang Opsi #2 dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang.
Saya, bagaimanapun, akhirnya bersyukur bila opsi itu yang terpilih, karena akhirnya
saya tersadarkan oleh dinamika spontanitas khas Latihan yang tergambarkan pada
grafisnya.
Semoga
Kongres Dunia Subud 2028 di Fàtima, Portugal, berlangsung penuh warna optimisme
yang secemerlang warna-warna pada logonya.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Juni 2026
Untuk rilis berita mengenai desain logo yang menang tersebut, klik URL ini:
https://subud.org/posts/logo-competition-of-the-17th-subud-world-congress-and-the-winner-is