SALAH satu hal yang, entah kenapa, cukup
menyebalkan dalam hidup saya adalah: saya sering dianggap masih muda. Yang
lebih lucu lagi, orang-orang yang menganggap saya muda itu kadang justru
usianya jauh di bawah saya. Jadi, dalam situasi tertentu, saya merasa seperti
korban salah identifikasi umur.
Awalnya, saya mencoba melawan keadaan. Saya biarkan
uban tumbuh dengan penuh tanggung jawab. Kerutan di wajah saya juga saya
biarkan apa adanya. Saya bahkan lebih sering bergaul dengan orang-orang yang
usianya lebih tua.
Logikanya sederhana: kalau penampilan saya masih
dianggap terlalu muda, setidaknya lingkungan pergaulan saya bisa membantu
mengoreksi persepsi itu.
Ternyata gagal total.
Belum lama ini, seorang saudara Subud yang usianya
malah dua tahun lebih muda dari saya berkata dengan penuh keyakinan, “Ini nih
Mas Arifin yang masih muda, tumpuan masa depan Subud!”
Saya cuma bisa tersenyum. Saya membatin, “Masa
depan? Saya ini sudah masuk kategori bonus
track kali…”
Pengalaman lain terjadi ketika seorang klien
tertawa terbahak-bahak setelah saya menyebutkan usia saya yang sebenarnya. Dia
mengira saya sedang bercanda. Saya sampai harus mengeluarkan KTP untuk
membuktikan bahwa saya serius. Bagaimanapun, setelah melihat KTP, dia masih
tidak percaya. Menurutnya, saya terlihat sekitar 20 tahun lebih muda daripada
usia yang tercantum di sana.
Hah?!
Sebetulnya, bukankah saya harus bangga?
Mungkin iya. Tetapi ada sisi lain dari cerita “awet
muda” ini yang kadang terasa tidak terlalu lucu.
Dalam sejumlah budaya, dunia kerja, maupun
komunitas, “muda” tidak selalu berarti segar, energik, dan penuh potensi.
Kadang “muda” berarti “belum tahu apa-apa”, “masih hijau”, “belum penting”,
atau—yang paling berbahaya—“belum pantas disejajarkan dengan yang senior”.
Saya pernah mengalami sendiri bagaimana label “anak
muda” terasa seperti sebuah jabatan yang otomatis datang bersama tambahan
pekerjaan.
Ada seorang kenalan saya, berusia sekitar akhir
70an, yang setiap kali berpapasan dengan saya selalu berkata, “Nah, ini nih
anak muda!”
Tentu saja saya tersenyum. Tetapi entah kenapa,
yang terdengar di telinga saya kadang bukan “anak muda”, melainkan: “Nah, ini
nih orang yang masih bisa dikasih tugas.” Atau lebih ekstrem lagi: “Nah, ini
nih orang yang belum cukup penting untuk menolak tugas.”
Mungkin saya terlalu sensitif. Atau mungkin saya
memang sudah terlalu tua untuk disebut anak muda, tetapi masih terlalu muda
untuk dianggap senior. Sebuah posisi yang cukup unik: umur senior, tampilan
junior, dan beban kerja… universal.
Itulah sebabnya saya cukup kukuh meminta orang
memanggil saya Arifin—nama Subud saya—daripada Anto. Bukan karena saya tidak
suka nama Anto. Tetapi “Anto” berasal dari “ananda”, yang berarti anak. Dan
entah kenapa, label “anak” itu terasa terlalu mudah bergeser menjadi
“kekanak-kanakan”.
Yang lebih menarik, dalam konteks spiritual,
seseorang bisa saja dianggap masih “anak” bukan karena usianya, tetapi karena
kematangan batinnya. Nah, di titik ini saya tidak bisa protes terlalu banyak.
Jangan-jangan memang ada benarnya.
Mungkin persoalannya bukan apakah saya terlihat
muda atau tua. Bukan pula apakah rambut saya sudah beruban atau wajah saya
sudah dipenuhi kerutan. Barangkali yang lebih penting adalah: apakah saya terus
bertumbuh?
Karena menjadi tua ternyata bukan prestasi. Semua
orang akan sampai ke sana, kalau diberi cukup waktu.
Yang jauh lebih menarik adalah menjadi semakin
matang tanpa kehilangan rasa ingin tahu, semakin berpengalaman tanpa merasa
paling tahu, dan semakin tua tanpa kehilangan kemampuan untuk tertawa melihat
diri sendiri.
Jadi, kalau besok ada yang berkata, “Mas Arifin,
wah, masih muda!”, saya mungkin akan tersenyum dan menjawab: “Terima kasih.
Tapi kalau ada pekerjaan tambahan, coba tanyakan dulu umur saya.”©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 27 September 2026