Saturday, September 26, 2026

Sisi Tidak Menguntungkan Dari Awet Muda

 

SALAH satu hal yang, entah kenapa, cukup menyebalkan dalam hidup saya adalah: saya sering dianggap masih muda. Yang lebih lucu lagi, orang-orang yang menganggap saya muda itu kadang justru usianya jauh di bawah saya. Jadi, dalam situasi tertentu, saya merasa seperti korban salah identifikasi umur.

Awalnya, saya mencoba melawan keadaan. Saya biarkan uban tumbuh dengan penuh tanggung jawab. Kerutan di wajah saya juga saya biarkan apa adanya. Saya bahkan lebih sering bergaul dengan orang-orang yang usianya lebih tua.

Logikanya sederhana: kalau penampilan saya masih dianggap terlalu muda, setidaknya lingkungan pergaulan saya bisa membantu mengoreksi persepsi itu.

Ternyata gagal total.

Belum lama ini, seorang saudara Subud yang usianya malah dua tahun lebih muda dari saya berkata dengan penuh keyakinan, “Ini nih Mas Arifin yang masih muda, tumpuan masa depan Subud!”

Saya cuma bisa tersenyum. Saya membatin, “Masa depan? Saya ini sudah masuk kategori bonus track kali…”

Pengalaman lain terjadi ketika seorang klien tertawa terbahak-bahak setelah saya menyebutkan usia saya yang sebenarnya. Dia mengira saya sedang bercanda. Saya sampai harus mengeluarkan KTP untuk membuktikan bahwa saya serius. Bagaimanapun, setelah melihat KTP, dia masih tidak percaya. Menurutnya, saya terlihat sekitar 20 tahun lebih muda daripada usia yang tercantum di sana.

Hah?!

Sebetulnya, bukankah saya harus bangga?

Mungkin iya. Tetapi ada sisi lain dari cerita “awet muda” ini yang kadang terasa tidak terlalu lucu.

Dalam sejumlah budaya, dunia kerja, maupun komunitas, “muda” tidak selalu berarti segar, energik, dan penuh potensi. Kadang “muda” berarti “belum tahu apa-apa”, “masih hijau”, “belum penting”, atau—yang paling berbahaya—“belum pantas disejajarkan dengan yang senior”.

Saya pernah mengalami sendiri bagaimana label “anak muda” terasa seperti sebuah jabatan yang otomatis datang bersama tambahan pekerjaan.

Ada seorang kenalan saya, berusia sekitar akhir 70an, yang setiap kali berpapasan dengan saya selalu berkata, “Nah, ini nih anak muda!”

Tentu saja saya tersenyum. Tetapi entah kenapa, yang terdengar di telinga saya kadang bukan “anak muda”, melainkan: “Nah, ini nih orang yang masih bisa dikasih tugas.” Atau lebih ekstrem lagi: “Nah, ini nih orang yang belum cukup penting untuk menolak tugas.”

Mungkin saya terlalu sensitif. Atau mungkin saya memang sudah terlalu tua untuk disebut anak muda, tetapi masih terlalu muda untuk dianggap senior. Sebuah posisi yang cukup unik: umur senior, tampilan junior, dan beban kerja… universal.

Itulah sebabnya saya cukup kukuh meminta orang memanggil saya Arifin—nama Subud saya—daripada Anto. Bukan karena saya tidak suka nama Anto. Tetapi “Anto” berasal dari “ananda”, yang berarti anak. Dan entah kenapa, label “anak” itu terasa terlalu mudah bergeser menjadi “kekanak-kanakan”.

Yang lebih menarik, dalam konteks spiritual, seseorang bisa saja dianggap masih “anak” bukan karena usianya, tetapi karena kematangan batinnya. Nah, di titik ini saya tidak bisa protes terlalu banyak. Jangan-jangan memang ada benarnya.

Mungkin persoalannya bukan apakah saya terlihat muda atau tua. Bukan pula apakah rambut saya sudah beruban atau wajah saya sudah dipenuhi kerutan. Barangkali yang lebih penting adalah: apakah saya terus bertumbuh?

Karena menjadi tua ternyata bukan prestasi. Semua orang akan sampai ke sana, kalau diberi cukup waktu.

Yang jauh lebih menarik adalah menjadi semakin matang tanpa kehilangan rasa ingin tahu, semakin berpengalaman tanpa merasa paling tahu, dan semakin tua tanpa kehilangan kemampuan untuk tertawa melihat diri sendiri.

Jadi, kalau besok ada yang berkata, “Mas Arifin, wah, masih muda!”, saya mungkin akan tersenyum dan menjawab: “Terima kasih. Tapi kalau ada pekerjaan tambahan, coba tanyakan dulu umur saya.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 September 2026

Wednesday, September 9, 2026

Spontanitas yang Senyap

SEJAK 26 Juli 2026, saya mulai melaksanakan kegiatan sukarela saya sebagai pelaksana proyek dari Arsip WSA (WSA Archives) Pusat Washington DC, Amerika Serikat. Proyek yang saya juduli “Indonesia Interviews” ini dalam rangka mengumpulkan rekaman audiovisual wawancara-wawancara saya dengan para anggota Subud di Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987 maupun mereka yang tetap aktif di Subud minimal 30 tahun. Video wawancaranya segera dikirim ke Daniela Moneta, Arsiparis WSA yang berbasis di Santa Monica, AS, melalui Google Drive.                                        

Ketika diminta kesediaan saya untuk melaksanakan wawancara-wawancara tersebut, oleh Daniela, saya spontan menyanggupi. Saya hanya minta dana 50 dolar AS untuk pembelian lampu dan tiangnya, mikropon nirkabel dan lengan penyangga ponsel dan tablet. Ponsel dan tabletnya dimiliki saudara Subud yang sukarela pula membantu saya—dia pula yang mengoperasikan peralatannya.

Hingga saat ini, sudah sepuluh narasumber yang saya wawancarai, bertempat di studio siniar Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak No. 22C (bekas rumah Prio Hartono) dan di Hall Latihan Jakarta Pusat, Jl. Johar Baru V No. 1, Jakarta Pusat. Semua terlaksana berkat bantuan tim saya yang terdiri dari dua anggota Jakarta Selatan.

Dalam pengerjaan proyek ini, saya tidak berkoordinasi dengan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, Pengurus Cabang Jakarta Selatan maupun Dewan Pembantu Pelatih Nasional Subud Indonesia, meski saya pernah menceritakannya via telepon ke Koordinator DPPN Pria, Luthfie Hadiyin. Pekerjaan saya ini untuk Subud, bukan untuk mencari perhatian, dan lahir dari spontanitas yang senyap. Ketika akhirnya orang tahu pun itu disebabkan oleh para narasumber yang bercerita kepada khalayak Subud bahwa mereka pernah diwawancarai saya untuk kepentingan Arsip WSA. Pengalaman saya selama ini, baik di Subud maupun di luar Subud, segala sesuatu yang dibahas berlarut-larut, direncanakan, dibegini-begitukan, malah tidak pernah jadi kenyataan atau jadi berantakan.

Prinsip saya dalam pelaksanaan proyek Indonesia Interviews dalam hal meminta kesediaan narasumber untuk diwawancara adalah “take it or leave it” (terima atau tidak sama sekali). Ada yang menolak karena merasa pengalamannya tidak ada nilainya, dan tidak perlu dibagikan ke orang lain, meski dari sudut pandang saya berbeda. Ada yang mensyaratkan agar saya meminta izin terlebih dahulu ke pengurus dan dewan pembantu pelatih, baru mereka bersedia. Yang banyak tuntutan seperti ini saya coret dari daftar narasumber prospektif saya. Menolak adalah hak narasumber, dan saya tidak akan mengemis kesediaan mereka. Take it or leave it!

Baru-baru ini, seorang pembantu pelatih wanita Jakarta Selatan, berinisial AS, melalui satu saudara Subud yang adalah anggota tim Indonesia Interviews, meminta Surat Penunjukan saya sebagai pelaksana proyek. Ini permintaan yang aneh bin lucu, mengingat (screenshot emailnya dikirim AS ke saudara Subud itu yang kemudian ia teruskan ke saya) bahwa Daniela pernah mengirim email ke AS, bahwa Arsip WSA mengharapkannya mengirimkan memorabilia peninggalan almarhum suaminya untuk dipreservasi Arsip WSA dan meminta kesediaannya untuk diwawancarai oleh saya (nama saya disebut dalam email tersebut).

Permintaan akan Surat Penunjukan itu didasari saran AS: “Saran pribadi, dan tolong disampaikan ke Mas Arifin. Untuk perlindungan bagi Mas Arifin dan tim, mitigasi kesalahpahaman, ada baiknya Mas Arifin minta surat penunjukan resmi sebagai seorang relawan yang bekerja untuk WSA ya...”

Meski keberatan dan merasa lucu, saya tetap merancang naskah surat penunjukan itu dan mengirimnya ke Daniela via email untuk meminta agar dia mengisi bagian yang perlu diisi, ditandatangani dan dikirim kembali ke saya. Email balasannya seperti dugaan saya; Daniela pun bekerja atas dasar spontanitas yang senyap, yang lumrah di Subud, paling tidak ketika Bapak masih ada. Email balasan Daniela itu menunjukkan bedanya anggota Subud di luar negeri dengan yang di Indonesia, yang kebanyakan birokratis dan feodalistik. Anggota Subud luar negeri selalu mengambil inisiatif sendiri dan berani mempertanggungjawabkannya. Seperti yang diceritakan beberapa anggota lama, tidak perlu meminta izin, melainkan restu, kepada Bapak. Bapak pun mengharapkan anggota lebih mandiri.

Berikut cuplikan email balasan Daniela:

“Oh, Arifin, tulisan itu (naskah Surat Penunjukan yang saya rancang—ADS) indah sekali. Akan bagus jika ketua proyek WSA Archives yang menandatanganinya. Jika demikian, beliau akan membuat dokumen itu jadi jauh lebih singkat. Saya tidak punya kewenangan untuk menandatanganinya.

Saya hanya melakukan sesuatu tanpa meminta izin. Jika saya melalui jalur yang resmi, tidak akan ada yang terselesaikan dan saya akan merasa frustrasi sepanjang waktu.

Ini adalah kesempatan untuk menjadikannya sesuatu yang nyata. Saya biasanya mulai melakukan hal-hal secara mandiri dan pada akhirnya, hal-hal tersebut menjadi bagian dari sistem. Seperti basis data WSA Archives. Saya tidak pernah bertanya apakah boleh membuatnya, saya langsung saja mulai kerjakan.”

Ini adalah sistem kerja orang yang telah menerima bimbingan Tuhan melalui Latihan Kejiwaan. Jika segala sesuatu dimulai dengan rasa khawatir akan ini-itu, sebagaimana kesan yang muncul dalam pesan AS yang ia titipkan untuk saya, dipastikan akan berakhir gagal. Saya memilih untuk tetap spontan dan senyap. Take it or leave it!©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 September 2026

Tabu Untuk Berkumpul

BERKUMPUL pasca Latihan merupakan kebiasaan yang sulit dihindari di Indonesia. Berkumpul dengan teman atau keluarga besar adalah hal yang lumrah baik di Subud maupun di luar lingkaran keanggotaan Subud. Dan selalu ada makanan, camilan, tapi yang pasti harus ada kopi.

Selama hampir 23 tahun di Subud, saya belum pernah mendengar ucapan pembantu pelatih Indonesia yang melarang berkumpul untuk berbagi pengalaman dengan atau selama Latihan. Hanya ada satu cabang di Indonesia yang pernah saya kunjungi mencantumkan imbauan agar anggota “TIDAK MEMBICARAKAN HAL-HAL YANG BERSIFAT KEJIWAAN” di papan pengumuman di Hall Latihannya, yaitu cabang di Semarang, Jawa Tengah—tapi itu 18 tahun lalu; terakhir saya ke Wisma Subud Semarang dua tahun lalu, seingat saya imbauan tertulis itu sudah tidak ada.

Ada satu pembantu pelatih asing yang bermukim di Indonesia pernah menyampaikan ke saya mengenai tabu untuk berkumpul atau nongkrong setelah Latihan—yang lantas membuat saya bertanya-tanya mengapa para pembantu pelatih Indonesia, termasuk yang sudah jadi pembantu pelatih ketika Bapak masih ada, tidak pernah mengatakan apapun tentang itu?

Di teras timur Hall Cilandak pernah ada insiden beberapa tahun lalu, sebelum pandemi, dimana seorang pembantu pelatih asal Amerika marah dan menegur keras para anggota Indonesia yang nongkrong pasca Latihan. Karena ucapan Inggrisnya tidak ada yang dimengerti anggota Indonesia, mereka mengabaikan pembantu pelatih pria itu. Lalu datanglah pembantu pelatih lainnya yang juga orang Amerika tapi telah lebih lama dari dia bermukim di Indonesia. Si pembantu pelatih Amerika kedua ini memperingatkan si pembantu pelatih Amerika pertama agar tidak bersikap seperti itu terhadap anggota Indonesia dan dijelaskan kepadanya bahwa berkumpul atau nongkrong pasca Latihan merupakan hal yang biasa di cabang-cabang manapun di Indonesia.

Ada bahkan wisma-wisma Subud di Jawa yang terbuka 24 jam untuk dikunjungi anggota kapan saja dia mau. Di Jawa Timur dikenal istilah PH, singkatan dari “penghuni hall”, yaitu mereka yang karena krisis inginnya berada di lingkungan hall bersama anggota-anggota lainnya yang sedang melalui jenis krisis yang sama. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol di antara mereka, atau bengong sambil ngoceh sendirian, atau Latihan sepanjang hari.

Ada berbagai hal yang diceritakan saat berkumpul, bukan hanya masalah kejiwaan tetapi juga (dan paling banyak dan sering) hal-hal keduniaan. Kadang memang terselip cerita bagaimana Latihan membimbing seseorang dalam urusan keduniaan itu, atau apa pandangan Bapak mengenai hal itu, jika memang ada di ceramah beliau. Kadang yang disampaikan seseorang (biasanya dia pembantu pelatih atau mantan pembantu pelatih atau hanya seseorang yang ingin mencari perhatian) adalah hal-hal yang “menakutkan”, seperti akibat yang akan kita terima bila melakukan perbuatan buruk—khas cara ajaran agama tertentu dalam menegakkan keimanan umat.

Belakangan, berbagai bencana alam melanda Indonesia; ini menjadi topik obrolan hangat di antara para anggota yang nongkrong setelah Latihan, beberapa di antara mereka mengaitkannya dengan mitos-mitos Jawa kuno tentang “akhir zaman” atau “kutukan Hidup Besar” dan bahwa yang belum menerima Latihan akan digulung ombak bencana. Lalu ada anggota yang mencari perhatian dengan mencuplik ceramah Bapak atau Ibu Rahayu seolah itu ajaran yang harus dipatuhi; konyolnya, mereka selalu mengakhirinya dengan ucapan bahwa hal itu gampang dikatakan, tapi sulit dilakukan. Atau dia bercerita pengalaman Bapak, dan ditandasi olehnya bahwa “hanya Bapak yang bisa, sedangkan kita masih jauh karena diri kita masih kotor”.

Kalau anggota Subud di Barat diberi tabu untuk berkumpul setelah Latihan, saya rasa itu eksklusif untuk mereka, karena otak Barat mereka terkenal berisik.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 September 2026

Monday, September 7, 2026

Beban Penderitaan

KEMARIN siang hingga magrib, saya nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak bersama sembilan anggota lainnya. Beberapa di antaranya berbagi wawasan dan pengetahuan yang sebagian dipetik dari ceramah Bapak dan Ibu Rahayu. Sebagian terdengar cukup menakutkan. Saya me-niteni diri, menyaksikan bagaimana diri saya berreaksi terhadap semua yang saya dengar, tetapi suara diri saya berkata, “Jangan percaya semua yang kamu dengar, jangan diingat apapun yang mereka katakan atau pernah kamu baca. Sebaiknya, kamu buang semua kalau itu membebanimu.”                                       

Alhasil, ketika kami bubar dan berjalan ke kendaraan masing-masing untuk pulang, saya perhatikan bahwa tidak ada satupun dari yang di-sharing tadi tersisa jejaknya di pikiran saya. Saya tidak pula berusaha mengingatnya, melainkan hanya let go (merelakannya pergi).

Pagi ini, saya menemukan parabel berikut di Facebook:

Dua orang biksu sedang berjalan bersama ketika mereka tiba di tepi sungai. Di pinggir air, berdiri seorang wanita yang takut untuk menyeberang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, biksu yang lebih tua menggendongnya, membawanya menyeberangi sungai dengan selamat, dan menurunkannya di seberang.

Kemudian kedua biksu tersebut melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa jam kemudian, biksu yang lebih muda tidak tahan lagi untuk tetap diam. “Bagaimana bisa Anda melakukan itu?” tanyanya. “Kita tidak seharusnya menyentuh wanita.”

Biksu yang lebih tua menatapnya dengan tenang dan menjawab: “Aku sudah meninggalkannya di pinggir sungai tadi. Kamu masih membawanya sampai sekarang.”

Kadang-kadang seseorang mengucapkan satu kalimat yang menyakitkan lalu melupakannya begitu saja. Namun kita membawanya terus selama bertahun-tahun. Kita memutarnya kembali dalam pikiran.

Kita menjadikannya sebagai bukti.

Kita mengubahnya menjadi rasa sakit.

Kita menyimpannya di dalam diri seperti batu yang enggan kita letakkan.

Dan jauh setelah momen itu berlalu, kita masih membiarkannya terus berjalan bersama kita.

Beberapa beban tidak bertahan karena bentuknya yang berat. Beban itu bertahan karena kita terus membawanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 September 2026

Friday, August 28, 2026

Lolos Dari Lubang Jarum UI: Sebuah Kisah Kesintasan

 


TEPAT 28 Agustus, 33 tahun yang lalu, saya resmi menyandang gelar Sarjana Sastra (S.S.) dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI; sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB). Detik itu, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Jujur saja, dengan Indeks Prestasi yang sekadar cukup dan bukan tergolong mahasiswa jenius ala standar ketat UI, saya sendiri heran bisa melenggang sintas hingga garis akhir.                                

​Saya menuntaskan petualangan akademis ini tepat di batas napas terakhir: semester 12—batas maksimal di FSUI. Namun, keajaiban justru terjadi di babak penutup. Hanya butuh waktu enam bulan bagi saya untuk merampungkan dan mempertahankan skripsi setelah berhasil melewati ujian komprehensif. Ujian lisan legendaris itu benar-benar memeras isi kepala, menguras air mata, dan memancing keringat dingin, terutama karena diuji langsung oleh jajaran dosen sejarah paling killer.

​Begitu lolos dari "lubang jarum" kompre, perjuangan belum usai. Saya harus pontang-panting bimbingan dengan seorang dosen pembimbing yang merupakan kombinasi unik: sejarawan kawakan sekaligus Kolonel Infanteri TNI AD yang berkantor di Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

​Masa penyusunan skripsi itu benar-benar melelahkan. Meski riset bahan dan penelusuran narasumber sudah saya cicil dua tahun sebelumnya, hari-hari saya tetap diwarnai lembur hingga larut malam. Parahnya lagi, di tengah tensi akademis yang membakar, saya dihantam badai asmara: patah hati terhebat yang pernah ada, hingga membuat saya berada di titik tergelap kehidupan. Beruntung, dua sahabat karib—yang sudah lulus lima bulan lebih awal—hadir menjadi pelipur lara. Merangkak bersama mereka, saya berhasil keluar dari lorong gersang keputusasaan dan menyelesaikan lembar-lembar akhir skripsi saya.

​Ketika dinyatakan lulus dalam ujian skripsi pada 7 Juli 1993, orang tua saya—terutama Ibu—terperangah tak percaya. Saya pun sama terkejutnya. Bagi saya, diterima di Kampus Kuning adalah sebuah mukjizat, tetapi keluar dari sana sebagai seorang sarjana adalah sebentuk penyerapan takdir yang luar biasa.

UI mengajarkan saya cara meneliti masa lalu, tetapi perjuangan 12 semester dan patah hati itulah yang mengajari saya cara bertahan hidup di masa kini dan masa depan.©2026

                           

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 28 Agustus 2026

Saturday, August 8, 2026

Sejarah, Masa Lalu, dan Latihan

MESKIPUN saya lulusan Jurusan Sejarah dari Universitas Indonesia, kecintaan saya pada sejarah justru baru benar-benar tumbuh ketika saya mengenal Subud. Salah satu gagasan yang kemudian begitu melekat dalam diri saya adalah bahwa kita menjadi seperti sekarang ini karena siapa dan apa yang telah dilakukan oleh leluhur kita.

Gagasan sederhana itu perlahan membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya masuki. Saya mulai menggali masa lalu saya sendiri: siapa orang tua saya, bagaimana kehidupan mereka, siapa kakek-nenek saya, apa yang mereka alami, keputusan-keputusan apa yang mereka ambil, dan bagaimana semua itu, sadar atau tidak, ikut membentuk diri saya hari ini. Dalam proses pencarian tersebut, saya menemukan begitu banyak hal menarik—hal-hal yang bukan hanya memperkaya pemahaman saya tentang keluarga dan diri sendiri, tetapi juga justru semakin mendorong saya untuk rajin dan tekun Latihan.

Sebab, pada akhirnya, Latihanlah yang memungkinkan semua itu terbuka.

Keterlibatan saya dalam copy editing naskah terjemahan bahasa Indonesia dari karya Harlinah Longcroft, History of Subud, semakin memperdalam ketertarikan tersebut. Kini, melalui keterlibatan saya membantu WSA Archives melanjutkan pewawancaraan para anggota Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987, serta mereka yang telah setidaknya tiga puluh tahun berada di Subud, energi kecintaan saya terhadap sejarah terasa semakin hidup.

Ada sesuatu yang istimewa dalam mendengarkan seseorang menceritakan kembali perjalanan hidupnya. Dari cerita-cerita para narasumber, pengalaman yang selama puluhan tahun tersimpan dalam ingatan tiba-tiba memperoleh ruang untuk hidup kembali. Peristiwa-peristiwa yang mungkin bagi mereka dahulu terasa biasa, bahkan sepele, ternyata ketika dilihat dari jarak waktu yang panjang dapat memperlihatkan makna yang sama sekali berbeda.

Dari sana saya semakin menyadari bahwa sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang telah terjadi. Sejarah adalah kumpulan pengalaman manusia yang terus berbicara kepada manusia yang datang kemudian. Di dalamnya ada keberanian dan ketakutan, keberhasilan dan kegagalan, kebijaksanaan dan kekeliruan. Semuanya dapat menjadi cermin—bukan untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana kita sampai di tempat kita berdiri sekarang.

Dan mungkin justru di situlah letak kekuatan sejarah.

Masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi cara kita memahaminya dapat mengubah masa depan.

Bagi saya, semakin jauh menggali sejarah, semakin jelas pula hubungan antara masa lalu, diri saya, dan Latihan. Karena Latihan memberi kemungkinan bagi seseorang untuk tidak sekadar mengetahui dari mana ia berasal, tetapi juga merasakan apa yang sedang tumbuh di dalam dirinya ketika ia berhadapan dengan masa lalu itu.

Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang mereka yang telah pergi. Sejarah juga tentang kita—tentang bagaimana kita menerima warisan yang ditinggalkan, apa yang kita lakukan dengannya, dan apa yang kelak kita tinggalkan bagi mereka yang datang sesudah kita.

Karena setiap manusia adalah sejarah yang sedang berlangsung. Dan setiap pilihan yang kita buat hari ini sedang menulis sejarah bagi generasi yang belum lahir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Agustus 2026

Monday, August 3, 2026

Daya yang Tertinggal

SATU pembantu pelatih muda dari Cabang Jakarta Selatan (tapi sejak 2023 pindah ke Cabang Jakarta Pusat) memberitahu saya beberapa tahun lalu bahwa ia diberi tugas oleh satu pembantu pelatih tua untuk “mengawasi anak-anak Teras Timur”, terutama karena “tempat itu menarik minat anggota baru untuk setia nongkrong di situ dan mendengarkan penjelasan mereka yang bukan pembantu pelatih”. Pembantu pelatih muda itu menolak penugasan yang dianggapnya konyol nan lucu itu, karena dia kenal baik dengan saya bukan sebagai seseorang yang berpotensi menimbulkan keonaran, tetapi hanya suka usil membuat lelucon sarkastis tentang berbagai hal di Subud.                          

Teras Timur maupun Teras Barat, Utara dan Selatan terbuka bagi siapapun yang ingin nongkrong di situ. Teras Timur menjadi strategis karena di sisi Hall Cilandak itulah terletak baik toilet wanita maupun toilet pria, dan kini menjadi satu-satunya tempat di seputar Hall dimana merokok tidak dilarang. (Stiker “Dilarang Merokok” pernah dipasang di dindingnya tetapi dicabut oleh satu pembantu pelatih berkebangsaan Amerika yang suka merokok.)

Yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka yang di Teras Barat hanya berdasarkan prasangka, dan tidak pernah ada niat untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi di Teras Timur—mereka nyaman dengan prasangka mereka. Beberapa anggota baru tahun 2016 menyampaikan ke saya, ketika mereka mulai nongkrong di Teras Timur, bahwa ketika melalui masa kandidatan tiga bulan mereka mereka telah diwanti-wanti oleh Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Jakarta Selatan kala itu agar tidak bergaul dengan Teras Timur atau ikut grup WhatsApp “Subud 4G” (grup WhatsApp yang saya ciptakan sebagai tempat nongkrong digital dengan semangat seperti Teras Timur). Padahal si PPD tidak pernah nongkrong di teras timur, kecuali sesekali karena ditawari rokok, kopi dan camilan gratis.

Saya pernah selama dua tahun, pasca pandemi, selalu menghabiskan waktu setelah Latihan nongkrong di Teras Barat. Terasa sekali kekakuan mereka yang nongkrong di situ; terasa mereka menahan diri dari bercanda atau mengobrol santai, seolah tempat itu sakral. Saya telah berusaha membuat suasananya lebih hidup, tetapi perubahannya hanya sedikit dan sebentar. Saya belum pernah, hingga kini, menemukan penyebab kekakuan itu.

Mungkin suasana feodalistik (meminjam istilah dari beberapa anggota yang pernah lama menjadi bagian dari Teras Barat sebelum akhirnya pindah ke Teras Timur) itu disebabkan oleh kenyataan bahwa hingga sebelum pandemi, Ibu Rahayu selalu menunggu waktu Latihan wanita di situ. Banyak anggota terlalu sungkan pada Ibu, tidak berani “banyak tingkah” di hadapan beliau. Mungkin daya Ibu tertinggal di Teras Barat, yang menyebabkan siapapun yang nongkrong di situ tetap tidak bisa sesantai Teras Barat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026