SAAT menjamu Manajer CSR dari perusahaan klien saya di
sebuah restoran mewah di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Mei 2026 lalu, sang
Manajer, yang sering melihat status WhatsApp atau Story Instagram saya,
berkata, “Pak Arifin suka memasak juga ya?” Saya iyakan. “Enak mana, Pak
Arifin, menulis atau memasak?” tanyanya kemudian.
Sambil memotong ikan berbalut tepung goreng dan menusuk
sepotong kentang wedges di piring di
hadapan saya, saya bercerita bahwa menulis dan memasak memiliki kesamaan.
Menulis meracik rasa jiwa agar dapat terkoneksi dengan sisi terdalam pembaca,
sedangkan memasak membuat saya meracik rasa selera pemakannya.
Bagi sebagian orang, dapur dan meja kerja adalah dua
dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu dipenuhi aroma bawang putih yang
ditumis, percikan minyak, dan denting sudit bertemu wajan. Yang lain sunyi,
hanya diiringi ketukan kibor, berhadapan dengan layar putih yang menanti untuk
diisi. Tetapi, jika Anda bersedia duduk sejenak di ambang pintu yang
menghubungkan kedua ruangan ini, Anda akan menyadari bahwa juru masak dan
penulis sebenarnya sedang melakukan ritual yang persis sama: mereka sedang
meracik mentah menjadi matang, mengubah kekacauan menjadi sebuah mahakarya yang
bisa dinikmati.
Kemiripan ini bermula sejak langkah paling awal, yaitu
saat saya berhadapan dengan bahan baku. Sebagai penulis, saya tidak langsung
melahirkan naskah; saya mengumpulkan serpihan ide, potongan memori, dan riset
mendalam. Ini sama persis dengan seorang juru masak yang berdiri di pasar,
memilih sayuran paling segar, memilah rempah-rempah, dan membayangkan bagaimana
rasa daging yang segar akan berpadu dengan ketumbar dan jintan. Bahan baku
dalam menulis adalah kata-kata, sedangkan dalam memasak adalah bahan pangan.
Keduanya menuntut kepekaan yang sama. Jika Anda terbiasa memilih kata yang
tepat agar kalimat tidak terasa hambar, Anda akan secara otomatis melatih
insting yang sama saat menakar garam agar sup tidak terasa hambar.
Keajaiban yang sesungguhnya baru terjadi saat proses
pencampuran dimulai. Di sinilah struktur mengambil alih. Dalam memasak, ada
urutan yang tidak boleh dilanggar; saya tidak bisa memasukkan daun kemangi di
awal tumisan karena aromanya akan hilang, sebagaimana saya tidak bisa
membongkar plot solusi masalah di bab pertama. Menulis mengajarkan saya tentang
ritme dan tempo, tentang bagaimana membangun kisah sebelum mencapai klimaks
cerita. Ketika insting narasi ini terlatih, saya akan terbawa ke dapur. Saya
menjadi paham kapan harus membesarkan api untuk memberi efek karamelisasi yang
dramatis pada daging, dan kapan harus mengecilkan api agar bumbu meresap
perlahan dalam kesunyian yang sabar.
Selain masalah teknis, jembatan terbesar antara menulis
dan memasak terletak pada seni menyunting. Tidak ada draf pertama yang langsung
sempurna, begitu pula tidak ada masakan yang langsung pas rasanya pada cicipan
pertama. Menulis melatih saya untuk berani “membuang bagian yang tidak perlu”—memotong
paragraf yang indah tapi tidak menggerakkan cerita. Di dapur, kemampuan
menyunting ini menjelma menjadi keberanian untuk mengoreksi rasa. Saat sup
terlalu asin, saya yang terbiasa memecahkan masalah dalam plot akan berpikir
kreatif, menambahkan sedikit gula atau sejumput garam untuk menyeimbangkannya,
bukan malah menyerah dan membuang seluruh masakan.
Pada akhirnya, kedua aktivitas ini melatih satu otot
spiritual yang sama, yaitu empati. Juru masak yang baik tidak memasak untuk
dirinya sendiri; ia memasak dengan membayangkan senyum di wajah orang yang
menyantapnya. Penulis yang baik pun menulis dengan membayangkan bagaimana
pembaca akan terhanyut dalam emosi di setiap lembarnya.
Oleh karena itu, saat saya merasa buntu di depan
komputer dan kata-kata seolah enggan mengalir, beranjaklah saya ke dapur.
Mengiris sebatang daun bawang, mendengarkan desis minyak saat menyentuh wajan,
dan membiarkan indra saya beristirahat dari logika kata. Begitu pula
sebaliknya, saat eksperimen dapur saya gagal, saya akan duduk dan menulis apa
yang salah. Dengan membiarkan kedua dunia ini saling mengisi, saya tidak hanya
sedang belajar menjadi juru masak yang lebih peka, tetapi juga seorang penulis
yang menyajikan cerita dengan bumbu kehidupan yang jauh lebih kaya.©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Mei 2026