MESKIPUN saya lulusan Jurusan Sejarah dari Universitas Indonesia, kecintaan saya pada sejarah justru baru benar-benar tumbuh ketika saya mengenal Subud. Salah satu gagasan yang kemudian begitu melekat dalam diri saya adalah bahwa kita menjadi seperti sekarang ini karena siapa dan apa yang telah dilakukan oleh leluhur kita.
Gagasan sederhana itu perlahan membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya masuki. Saya mulai menggali masa lalu saya sendiri: siapa orang tua saya, bagaimana kehidupan mereka, siapa kakek-nenek saya, apa yang mereka alami, keputusan-keputusan apa yang mereka ambil, dan bagaimana semua itu, sadar atau tidak, ikut membentuk diri saya hari ini. Dalam proses pencarian tersebut, saya menemukan begitu banyak hal menarik—hal-hal yang bukan hanya memperkaya pemahaman saya tentang keluarga dan diri sendiri, tetapi juga justru semakin mendorong saya untuk rajin dan tekun Latihan.
Sebab, pada akhirnya, Latihanlah yang memungkinkan semua itu terbuka.
Keterlibatan saya dalam copy editing naskah terjemahan bahasa Indonesia dari karya Harlinah Longcroft, History of Subud, semakin memperdalam ketertarikan tersebut. Kini, melalui keterlibatan saya membantu WSA Archives melanjutkan pewawancaraan para anggota Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987, serta mereka yang telah setidaknya tiga puluh tahun berada di Subud, energi kecintaan saya terhadap sejarah terasa semakin hidup.
Ada sesuatu yang istimewa dalam mendengarkan seseorang menceritakan kembali perjalanan hidupnya. Dari cerita-cerita para narasumber, pengalaman yang selama puluhan tahun tersimpan dalam ingatan tiba-tiba memperoleh ruang untuk hidup kembali. Peristiwa-peristiwa yang mungkin bagi mereka dahulu terasa biasa, bahkan sepele, ternyata ketika dilihat dari jarak waktu yang panjang dapat memperlihatkan makna yang sama sekali berbeda.
Dari sana saya semakin menyadari bahwa sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang telah terjadi. Sejarah adalah kumpulan pengalaman manusia yang terus berbicara kepada manusia yang datang kemudian. Di dalamnya ada keberanian dan ketakutan, keberhasilan dan kegagalan, kebijaksanaan dan kekeliruan. Semuanya dapat menjadi cermin—bukan untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana kita sampai di tempat kita berdiri sekarang.
Dan mungkin justru di situlah letak kekuatan sejarah.
Masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi cara kita memahaminya dapat mengubah masa depan.
Bagi saya, semakin jauh menggali sejarah, semakin jelas pula hubungan antara masa lalu, diri saya, dan Latihan. Karena Latihan memberi kemungkinan bagi seseorang untuk tidak sekadar mengetahui dari mana ia berasal, tetapi juga merasakan apa yang sedang tumbuh di dalam dirinya ketika ia berhadapan dengan masa lalu itu.
Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang mereka yang telah pergi. Sejarah juga tentang kita—tentang bagaimana kita menerima warisan yang ditinggalkan, apa yang kita lakukan dengannya, dan apa yang kelak kita tinggalkan bagi mereka yang datang sesudah kita.
Karena setiap manusia adalah sejarah yang sedang berlangsung. Dan
setiap pilihan yang kita buat hari ini sedang menulis sejarah bagi generasi
yang belum lahir.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Agustus 2026





.jpeg)