KEMARIN siang, 26 Juli 2026, saya melakukan perdana wawancara dengan anggota Subud Indonesia, di studio siniar (podcast) yang dinaungi bangunan Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di kompleks Wisma Subud Cilandak. Dibantu oleh alat-alat yang telah saya beli dengan dana US$50 yang telah ditransfer oleh WSA Archives di Amerika Serikat dan satu saudara Subud, Dino, yang mampu set up dan mengoperasikan alat-alat itu. Ada dua anggota pria yang saya wawancara kemarin, satu dibuka di Surabaya tahun 1984 dan satunya lagi di Cilandak tahun 1988.
Khusus di
Wisma Subud Cilandak, saya hanya bisa mewawancarai pada hari Minggu siang, hari
dimana Latihan dihadiri oleh lebih banyak anggota dan pembantu pelatih.
Wawancara saya lakukan setelah saya maupun narasumber melakukan Latihan.
Kemarin, karena perdana, saya melihat beberapa hal harus saya benahi dan saya terapkan
seterusnya:
1. Bahwa sebelum wawancara, kami harus
menenangkan diri dulu, dan setelah wawancara dan setelah narasumber pamit, saya
dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan.
2. Wawancara harus saya lakukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang spontan, yang keluar dari jiwa saya, dan tidak mempersiapkan daftar pertanyaan terlebih dulu—agar saya dan narasumber senantiasa berada dalam keadaan Latihan. Tapi, dalam kasus kemarin, kepada kedua narasumber saya minta mereka “Ceritakan perjalanan Anda ke Subud”, “Apa yang membuat Anda bertahan sekian lama di Subud?”, dan “Apa pesan Anda kepada generasi muda anggota Subud?”
Mengapa dua hal ini? Saya merenungkan bersama Dino apa yang terjadi selama wawancara-wawancara tersebut, yang tadi malam saya bicarakan per telepon dengan pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya dan pagi ini saya konsultasikan dengan Koordinator Dewan Pembantu Pelatih Nasional (DPPN) Subud Indonesia, Luthfie Hadiyin. Kedua narasumber tampil secara terpisah, benar-benar dalam keaslian mereka, dimana mereka bercerita bukan saja pengalaman Latihan mereka tetapi juga masalah-masalah pribadi mereka, yang di luar studio siniar itu belum pernah mereka ceritakan ke siapapun! Tetapi karena sudah membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara dan menyetujui bilamana videonya disiarkan ke publik Subud, maka saya tidak memperingatkan mereka agar tidak kebablasan dalam bercerita.
Selain itu, saya dan Dino juga sempat “terbawa perasaan” mendengar kisah mereka (saya sempat menahan air mata), yang mana seharusnya tidak boleh karena akan menyerap daya rendah mereka atau sesuatu yang bukan milik saya. Narasumber yang dibuka tahun 1988 ketika ditanya pengalamannya malah selalu menangis, sehingga ada jeda dalam wawancaranya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya dengan Latihan Kejiwaan yang ia terima, melalui uraian air mata. Ia mengatakan bahwa ia merasakan kehadiran jiwa Bapak dalam ruangan di mana wawancara berlangsung.
Dari situlah saya merasa bahwa pasca wawancara saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan. Ada pemikiran dari pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya agar wawancara didampingi seorang pembantu pelatih, tetapi ia sendiri mengkhawatirkan jika kehadiran pembantu pelatih malah membuat narasumber tidak akan mau bercerita dengan “apa adanya”. Kalau menyangkut narasumber pria, saya masih bisa mengatasi “serangan daya” ke diri saya; yang saya khawatirkan jika narasumbernya wanita—untuk itu, saya rasa perlu pendampingan pembantu pelatih wanita di luar studio. Koordinator DPPN juga menyarankan begitu.
Secara
keseluruhan, proyek ini bagi saya dan Dino sungguh menarik, sangat berguna bagi
kami secara kejiwaan, dan membawa kami ke pengalaman Latihan next level. Sesuatu yang sama sekali
baru bagi kami maupun kebanyakan orang. Ketika saya menceritakan pengalaman itu
ke dua pembantu pelatih yang saya telepon tadi malam dan pagi saja, mereka
berkomentar bahwa “sekadar” obrolan empat mata dapat menghadirkan suatu energi
maha besar, sesuatu yang bahkan jarang terjadi ketika mereka melayani gathering anggota atau saat bertemu
dengan para kandidat.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Juli 2026




.jpeg)
