SELAMA 22
tahun di Subud, saya telah beberapa kali mendadak mengalami ketertarikan pada
lawan jenis atau kebencian pada seseorang yang sulit saya lawan, walaupun
alasan di balik perasaan itu tidak jelas. Tetapi, perasaan itu berlangsung
tidak lama—kadang bahkan hanya satu-dua hari. Beberapa pembantu pelatih senior
menyarankan agar saya menerima kenyataan itu dengan sabar dan ikhlas, serta
menikmati momen itu sambil merasakan perasaan-perasaan itu mengalir melalui
diri saya, hingga berlalu selamanya.
Getaran
halus itu sulit didefinisikan oleh nalar. Ia datang bukan sebagai pikiran,
melainkan sebagai sebuah “perasaan historis” yang menyelinap masuk ke dalam
ruang kesadaran tanpa diundang. Kadang saya sedang duduk tenang atau sedang
melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba dada saya sesak oleh kerinduan pada tempat
yang belum pernah atau pernah saya kunjungi atau orang yang pernah saya kenal
di masa lalu saya, atau dirundung kesedihan atas peristiwa yang tidak pernah
saya alami dalam masa hidup saya yang sekarang.
Gejala kejiwaan ini sering kali
terasa asing dan membingungkan karena ia tidak memiliki akar pada memori logis.
Tetapi, bagi mereka yang akrab dengan perjalanan spiritual, fenomena ini
rupanya dipahami sebagai lapisan ingatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar
ingatan biologis. Dalam proses Latihan yang saya lalui, tabir yang membatasi
masa kini dengan masa lalu perlahan menipis. Di sanalah, jejak-jejak rasa milik
para leluhur atau sisa-sisa getaran dari pengalaman diri di masa yang amat
lampau muncul kembali ke permukaan. Ia adalah resonansi spiritual yang
membuktikan bahwa jiwa manusia membawa beban dan warisan yang melintasi batas
waktu.
Perasaan ini sering kali hadir hanya
dalam sekejap, seperti kilatan cahaya di tengah badai yang kemudian menghilang
begitu saja. Meski singkat, dampaknya mampu mengubah cara pandang saya terhadap
identitas diri saya. Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan proses pembersihan
atau penyelarasan batin di mana hal-hal yang belum tuntas di masa lalu—baik itu
kegigihan, penderitaan, maupun cinta yang tak terucap—diberi ruang untuk
dirasakan sekali lagi agar ia bisa dilepaskan dengan ikhlas.
Memahami perasaan historis ini memang
menuntut kepasrahan. Beberapa pembantu pelatih menyarankan saya agar tidak
perlu memaksakan logika untuk mencari tahu dari mana asalnya atau mengapa ia
muncul saat ini. Cukup dengan menyadari bahwa setiap getaran rasa yang muncul
adalah bagian dari perjalanan besar menuju kemurnian diri. Pada akhirnya,
perasaan-perasaan misterius itu adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan
akar spiritual yang tak kasatmata, mengingatkan bahwa kita adalah kelanjutan
dari sebuah bentangan sejarah yang panjang dan bermakna.
Secara
teoritis, jiwa manusia tidaklah kosong saat dilahirkan; ia adalah sebuah bejana
yang sudah terisi oleh endapan emosi dari generasi sebelumnya. Setiap
pengalaman batin yang sangat kuat dari para leluhur—baik itu kebahagiaan yang
meluap, ketakutan saat masa peperangan, atau kepasrahan seorang
ibu—meninggalkan jejak getaran yang menetap dalam “memori batin” keluarga.
Ketika kita berada dalam kondisi batin yang tenang dan terbuka, frekuensi rasa
dari masa lalu ini bisa beresonansi kembali. Ia seperti lagu lama yang
tiba-tiba terdengar dari radio tetangga; kita tidak sedang memutarnya, tapi
iramanya membuat jantung kita berdegup kencang karena keakraban yang tak
terjelaskan.
Fenomena ini bekerja seperti aliran
sungai bawah tanah. Di permukaan, kita melihat diri kita sebagai individu
modern yang mandiri, namun di kedalaman, kita terhubung pada arus emosi
kolektif keluarga yang sudah mengalir berabad-abad. Perasaan historis yang
muncul secara tiba-tiba itu sejatinya adalah momen di mana arus bawah tanah
tersebut merembes naik ke permukaan kesadaran. Hal ini menjelaskan mengapa
seseorang bisa merasa sangat “mengenali” sebuah penderitaan atau kejayaan
tertentu, seolah-olah sel-sel dalam tubuhnya memiliki ingatan sendiri tentang
apa yang pernah diperjuangkan oleh orang-orang sebelum dia.
Kehadiran perasaan ini dalam jangka
waktu singkat bukanlah sebuah gangguan batin, melainkan sebuah proses
penyelarasan. Jiwa sedang berusaha mengenali akar-akarnya agar tidak tercerabut
oleh arus masa kini yang serba cepat. Dengan merasakan kembali sisa-sisa emosi
leluhur tersebut, kita sebenarnya sedang melakukan dialog sunyi dengan sejarah
kita sendiri. Itu adalah cara alam semesta mengingatkan bahwa keberadaan kita
saat ini adalah hasil dari ribuan doa, air mata, dan tawa yang telah membeku
menjadi kristal-kristal rasa di dalam sanubari, menunggu momen yang tepat untuk
mencair dan menyatu dengan kesadaran kita.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Maret 2026