PENGALAMAN spiritual dalam wadah Perkumpulan
Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma atau Subud telah berkembang secara
global sejak pertengahan abad ke-20. Fenomena ini menciptakan sebuah dinamika
yang unik karena secara historis dan esensial, Latihan Kejiwaan ini berakar
dari pengalaman spiritual seorang putra Indonesia, yakni RM Muhammad Subuh
Sumohadiwidjojo, atau “Bapak”. Namun, terdapat sebuah paradoks yang cukup nyata
di dalam tubuh organisasi ini di tanah air. Meskipun Indonesia merupakan rahim
kelahiran Subud, interaksi dan keterlibatan anggota domestik dalam kancah
internasional sering kali dirasakan masih sangat minim. Fenomena ini bukan
sekadar masalah teknis atau kendala bahasa, melainkan sebuah persoalan
psikologis yang mendalam dan berakar pada sejarah kolektif bangsa yang panjang.
Ketertinggalan dalam keterlibatan global ini sering
kali berakar pada apa yang disebut oleh para psikolog dan sosiolog sebagai inferiority complex atau rasa rendah
diri kolektif. Bagi bangsa yang pernah mengalami kolonialisme selama lebih dari
tiga abad, sisa-sisa mentalitas terjajah tidak hilang begitu saja hanya dengan
proklamasi kemerdekaan. Struktur kolonial yang selama berabad-abad menempatkan
penduduk pribumi pada strata sosial terbawah telah meninggalkan jejak traumatis
dalam alam bawah sadar. Hal ini memicu pandangan bahwa segala sesuatu yang
datang dari Barat atau dunia luar memiliki kualitas yang lebih unggul, lebih
modern, dan lebih kredibel dibandingkan dengan apa yang ada di dalam negeri.
Dalam konteks Subud Indonesia, mentalitas ini sering kali mewujud dalam bentuk
rasa sungkan atau keraguan untuk berdiri sejajar dengan anggota dari
negara-negara maju.
Padahal, jika kita menilik kembali sejarah perjalanan
Bapak ke mancanegara, beliau memberikan teladan yang sangat kuat mengenai
martabat dan kepercayaan diri. Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai
sosok yang perlu menyesuaikan diri dengan standar kebudayaan Barat demi
mendapatkan pengakuan. Beliau tetap tampil apa adanya sebagai orang Jawa dengan
kesahajaan dan keteguhan prinsip spiritualnya. Di hadapan para cendekiawan,
ilmuwan, dan tokoh masyarakat di Inggris, Amerika Serikat, hingga Eropa
daratan, beliau tidak pernah merasa rendah diri. Sebaliknya, cara beliau
membawakan diri justru mengundang rasa hormat yang mendalam dari masyarakat
Subud luar negeri. Beliau membuktikan bahwa otoritas spiritual dan kematangan
jiwa tidak ditentukan oleh asal-usul bangsa atau latar belakang ekonomi,
melainkan oleh keikhlasan dan kejernihan dalam menjalani Latihan Kejiwaan.
Ketimpangan eksposur internasional bagi anggota di
Indonesia sering kali bermula dari hambatan psikologis dalam berkomunikasi.
Banyak anggota yang merasa bahwa kemampuan bahasa mereka yang terbatas menjadi
penghalang mutlak untuk berkontribusi dalam komite-komite internasional atau
menghadiri kongres dunia. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kendala bahasa
hanyalah manifestasi permukaan dari ketakutan akan penilaian orang lain. Ada
ketakutan bahwa ide atau gagasan yang disampaikan dari perspektif Indonesia
akan dianggap tidak relevan atau kurang canggih. Pola pikir inilah yang harus
segera didekonstruksi. Subud adalah organisasi yang berbasis pada persaudaraan
kejiwaan yang melampaui sekat-sekat budaya, sehingga setiap anggota sebenarnya
memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk bersuara di panggung dunia.
Untuk memecahkan belenggu rasa rendah diri ini,
diperlukan sebuah pergeseran paradigma yang dimulai dari tingkat individu.
Anggota Subud Indonesia perlu menyadari kembali kekayaan nilai yang mereka miliki
sebagai pemegang tongkat estafet tradisi spiritual asli Indonesia ini.
Indonesia memiliki modal sosial berupa keramah-tamahan, gotong royong, dan
ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam dinamika organisasi global yang sering
kali terlalu kaku atau bersifat administratif. Dengan memahami bahwa perspektif
Indonesia adalah aset berharga bagi keragaman internasional, maka rasa percaya
diri akan mulai tumbuh secara alami. Kita tidak perlu menjadi “kebarat-baratan”
untuk diterima, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang berdaya dan
berwawasan luas.
Strategi pertama dalam memperluas eksposur
internasional adalah dengan memanfaatkan teknologi digital secara proaktif. Di
era konektivitas saat ini, jarak geografis bukan lagi hambatan utama. Anggota
Subud Indonesia dapat mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan virtual,
webinar, atau kelompok diskusi internasional yang sering diselenggarakan oleh World Subud Council atau zona-zona
lainnya. Keterlibatan ini tidak harus dimulai dengan peran yang besar. Menjadi
pendengar aktif dan sesekali memberikan opini singkat dalam diskusi daring
dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan diri berinteraksi dengan
dialek dan budaya yang berbeda. Konsistensi dalam kehadiran digital ini akan
perlahan-lahan menghapus rasa asing dan membangun kedekatan emosional dengan
saudara-saudara sejiwa di belahan bumi lain.
Selanjutnya, peningkatan literasi organisasi menjadi
sangat krusial. Sering kali, anggota merasa kurang percaya diri karena mereka
tidak sepenuhnya memahami struktur dan mekanisme kerja organisasi di tingkat
internasional. Dengan mempelajari laporan-laporan dari lembaga-lembaga (wing bodies) internasional seperti Susila Dharma International Association
(SDIA) untuk bidang sosial, Subud
International Cultural Association (SICA) untuk bidang budaya, Subud Education Association (SEA) untuk
pendidikan, atau Subud Enterprise
Services (SES) untuk enterprise,
anggota akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sedang
terjadi di dunia luar. Pengetahuan ini memberikan basis yang kuat saat
melakukan percakapan. Ketika seseorang berbicara berdasarkan data dan pemahaman
konteks yang jelas, rasa rendah diri akan terkikis karena fokus perhatian beralih
dari kekurangan pribadi menuju substansi permasalahan yang sedang dibahas.
Langkah strategis lainnya adalah melalui pengembangan
kemitraan proyek antarnegara. Anggota di Indonesia yang memiliki keahlian di
bidang tertentu, baik itu dalam manajemen, seni, pendidikan, maupun
kewirausahaan, dapat menawarkan kolaborasi dengan anggota dari negara lain.
Misalnya, seorang pengusaha di Indonesia bisa berdiskusi dengan sesama anggota
Subud di Eropa mengenai peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Kolaborasi
berbasis proyek ini menciptakan hubungan yang setara dan profesional. Dalam
proses kerja sama tersebut, interaksi yang intens akan terjadi secara alami,
yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan adaptasi lintas budaya.
Pengalaman sukses dalam proyek kecil akan menjadi batu loncatan yang efektif
untuk mengambil peran yang lebih besar di kemudian hari.
Pendidikan dan pelatihan bahasa tetap merupakan hal
yang penting, namun harus didekati dengan motivasi yang benar. Belajar bahasa
asing bukan bertujuan untuk meniru identitas bangsa lain, melainkan sebagai
jembatan untuk menyampaikan pesan spiritual dan kemanusiaan yang universal.
Organisasi di tingkat nasional dapat memfasilitasi kursus bahasa atau lokakarya
komunikasi internasional yang dikhususkan bagi anggota yang memiliki minat
untuk melayani di tingkat global. Dengan adanya dukungan kolektif dari sesama
anggota di dalam negeri, individu akan merasa lebih berani untuk melangkah
keluar dari zona nyaman mereka. Dukungan moral dari komunitas lokal sangat
berperan dalam memvalidasi bahwa keberangkatan seseorang ke ranah internasional
adalah representasi dari kemajuan bersama.
Selain itu, penting bagi anggota Indonesia untuk aktif
mendokumentasikan dan membagikan pengalaman kejiwaan serta kegiatan sosial
mereka dalam format yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Penulisan
artikel, pembuatan video pendek, atau pengelolaan blog dalam bahasa Inggris
mengenai perkembangan Subud di daerah-daerah di Indonesia dapat menarik
perhatian anggota global. Sering kali, dunia luar merasa penasaran dengan
bagaimana Subud dipraktikkan di tanah kelahirannya. Dengan menjadi narator bagi
diri sendiri, kita tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi menjadi
subjek yang aktif membentuk opini dan berbagi inspirasi. Inisiatif seperti ini
akan menempatkan anggota Indonesia sebagai mitra dialog yang inspiratif bagi
dunia.
Kehadiran fisik dalam acara-acara besar seperti Kongres
Dunia atau pertemuan tingkat zona juga harus diupayakan secara terencana.
Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, manfaat dari pertemuan tatap
muka tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Interaksi langsung melalui
makan bersama, berbincang santai di sela-sela acara, dan mengikuti Latihan
Kejiwaan bersama akan meruntuhkan tembok-tembok prasangka yang mungkin selama
ini terbangun di dalam pikiran. Anggota akan menyadari bahwa saudara-saudara
dari luar negeri juga memiliki tantangan, pergumulan, dan keraguan yang sama.
Kesadaran akan kemanusiaan yang setara ini adalah obat mujarab bagi penyakit inferiority complex. Setiap anggota
Indonesia yang pulang dari acara internasional biasanya akan membawa energi
baru dan perspektif yang lebih segar untuk dibagikan kepada anggota lain di
tanah air.
Mentalitas sebagai pemberi, bukan hanya penerima, juga
perlu ditanamkan. Dalam hubungan internasional, sering ada kecenderungan untuk
memposisikan Indonesia sebagai pihak yang membutuhkan bantuan atau bimbingan.
Kita harus mulai mengubah posisi tersebut dengan menawarkan kontribusi nyata.
Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan pengalaman dalam menjaga
keharmonisan dalam keberagaman yang sangat relevan dengan situasi dunia saat
ini yang penuh konflik. Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki
sesuatu untuk disumbangkan bagi kemajuan Subud dunia, martabat kita sebagai
bangsa akan terjaga. Hal ini sejalan dengan teladan Bapak yang selalu
menekankan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan berkarya secara nyata di
masyarakat.
Penting juga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas
nasional tanpa harus menjadi chauvinistik. Mengenalkan budaya Indonesia, mulai
dari cara berpakaian yang sopan namun elegan hingga kuliner yang kaya rasa saat
berinteraksi dengan anggota luar negeri, adalah bentuk diplomasi budaya yang
halus. Ketika kita menghargai identitas kita sendiri, orang lain pun akan
belajar untuk menghargai kita. Rasa bangga yang sehat ini akan menjadi perisai
yang kuat terhadap serangan rasa rendah diri. Anggota Subud Indonesia harus
menyadari bahwa mereka adalah duta dari sebuah bangsa yang besar dengan sejarah
peradaban yang tua dan mulia.
Pada akhirnya, perluasan eksposur internasional adalah
sebuah proses transformasi jiwa yang sejalan dengan tujuan dari Latihan
Kejiwaan itu sendiri. Latihan Kejiwaan mengajarkan kita untuk mengelola segala
nafsu dan daya rendah, termasuk rasa takut dan rasa rendah diri yang menghambat
potensi kemanusiaan kita. Jika setiap anggota benar-benar berserah diri kepada
kekuasaan Tuhan, maka identitas kebangsaan tidak akan menjadi beban, melainkan
menjadi warna-warni yang memperindah kebun persaudaraan dunia. Dengan mengikuti
jejak langkah Bapak yang rendah hati namun berwibawa, anggota Subud Indonesia
dapat melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak, siap untuk belajar,
bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan universal.
Transformasi ini bukan hanya akan menguntungkan individu yang bersangkutan,
tetapi juga akan memperkuat posisi Subud Indonesia sebagai pilar utama dalam
perkembangan Subud di masa depan.©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 20 April 2026