Sunday, April 19, 2026

Melampaui Bayang-Bayang Inferioritas Anggota Subud Indonesia di Kancah Global

PENGALAMAN spiritual dalam wadah Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma atau Subud telah berkembang secara global sejak pertengahan abad ke-20. Fenomena ini menciptakan sebuah dinamika yang unik karena secara historis dan esensial, Latihan Kejiwaan ini berakar dari pengalaman spiritual seorang putra Indonesia, yakni RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, atau “Bapak”. Namun, terdapat sebuah paradoks yang cukup nyata di dalam tubuh organisasi ini di tanah air. Meskipun Indonesia merupakan rahim kelahiran Subud, interaksi dan keterlibatan anggota domestik dalam kancah internasional sering kali dirasakan masih sangat minim. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis atau kendala bahasa, melainkan sebuah persoalan psikologis yang mendalam dan berakar pada sejarah kolektif bangsa yang panjang.

Ketertinggalan dalam keterlibatan global ini sering kali berakar pada apa yang disebut oleh para psikolog dan sosiolog sebagai inferiority complex atau rasa rendah diri kolektif. Bagi bangsa yang pernah mengalami kolonialisme selama lebih dari tiga abad, sisa-sisa mentalitas terjajah tidak hilang begitu saja hanya dengan proklamasi kemerdekaan. Struktur kolonial yang selama berabad-abad menempatkan penduduk pribumi pada strata sosial terbawah telah meninggalkan jejak traumatis dalam alam bawah sadar. Hal ini memicu pandangan bahwa segala sesuatu yang datang dari Barat atau dunia luar memiliki kualitas yang lebih unggul, lebih modern, dan lebih kredibel dibandingkan dengan apa yang ada di dalam negeri. Dalam konteks Subud Indonesia, mentalitas ini sering kali mewujud dalam bentuk rasa sungkan atau keraguan untuk berdiri sejajar dengan anggota dari negara-negara maju.

Padahal, jika kita menilik kembali sejarah perjalanan Bapak ke mancanegara, beliau memberikan teladan yang sangat kuat mengenai martabat dan kepercayaan diri. Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai sosok yang perlu menyesuaikan diri dengan standar kebudayaan Barat demi mendapatkan pengakuan. Beliau tetap tampil apa adanya sebagai orang Jawa dengan kesahajaan dan keteguhan prinsip spiritualnya. Di hadapan para cendekiawan, ilmuwan, dan tokoh masyarakat di Inggris, Amerika Serikat, hingga Eropa daratan, beliau tidak pernah merasa rendah diri. Sebaliknya, cara beliau membawakan diri justru mengundang rasa hormat yang mendalam dari masyarakat Subud luar negeri. Beliau membuktikan bahwa otoritas spiritual dan kematangan jiwa tidak ditentukan oleh asal-usul bangsa atau latar belakang ekonomi, melainkan oleh keikhlasan dan kejernihan dalam menjalani Latihan Kejiwaan.

Ketimpangan eksposur internasional bagi anggota di Indonesia sering kali bermula dari hambatan psikologis dalam berkomunikasi. Banyak anggota yang merasa bahwa kemampuan bahasa mereka yang terbatas menjadi penghalang mutlak untuk berkontribusi dalam komite-komite internasional atau menghadiri kongres dunia. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kendala bahasa hanyalah manifestasi permukaan dari ketakutan akan penilaian orang lain. Ada ketakutan bahwa ide atau gagasan yang disampaikan dari perspektif Indonesia akan dianggap tidak relevan atau kurang canggih. Pola pikir inilah yang harus segera didekonstruksi. Subud adalah organisasi yang berbasis pada persaudaraan kejiwaan yang melampaui sekat-sekat budaya, sehingga setiap anggota sebenarnya memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk bersuara di panggung dunia.

Untuk memecahkan belenggu rasa rendah diri ini, diperlukan sebuah pergeseran paradigma yang dimulai dari tingkat individu. Anggota Subud Indonesia perlu menyadari kembali kekayaan nilai yang mereka miliki sebagai pemegang tongkat estafet tradisi spiritual asli Indonesia ini. Indonesia memiliki modal sosial berupa keramah-tamahan, gotong royong, dan ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam dinamika organisasi global yang sering kali terlalu kaku atau bersifat administratif. Dengan memahami bahwa perspektif Indonesia adalah aset berharga bagi keragaman internasional, maka rasa percaya diri akan mulai tumbuh secara alami. Kita tidak perlu menjadi “kebarat-baratan” untuk diterima, melainkan cukup menjadi diri sendiri yang berdaya dan berwawasan luas.

Strategi pertama dalam memperluas eksposur internasional adalah dengan memanfaatkan teknologi digital secara proaktif. Di era konektivitas saat ini, jarak geografis bukan lagi hambatan utama. Anggota Subud Indonesia dapat mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan virtual, webinar, atau kelompok diskusi internasional yang sering diselenggarakan oleh World Subud Council atau zona-zona lainnya. Keterlibatan ini tidak harus dimulai dengan peran yang besar. Menjadi pendengar aktif dan sesekali memberikan opini singkat dalam diskusi daring dapat menjadi latihan yang baik untuk membiasakan diri berinteraksi dengan dialek dan budaya yang berbeda. Konsistensi dalam kehadiran digital ini akan perlahan-lahan menghapus rasa asing dan membangun kedekatan emosional dengan saudara-saudara sejiwa di belahan bumi lain.

Selanjutnya, peningkatan literasi organisasi menjadi sangat krusial. Sering kali, anggota merasa kurang percaya diri karena mereka tidak sepenuhnya memahami struktur dan mekanisme kerja organisasi di tingkat internasional. Dengan mempelajari laporan-laporan dari lembaga-lembaga (wing bodies) internasional seperti Susila Dharma International Association (SDIA) untuk bidang sosial, Subud International Cultural Association (SICA) untuk bidang budaya, Subud Education Association (SEA) untuk pendidikan, atau Subud Enterprise Services (SES) untuk enterprise, anggota akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sedang terjadi di dunia luar. Pengetahuan ini memberikan basis yang kuat saat melakukan percakapan. Ketika seseorang berbicara berdasarkan data dan pemahaman konteks yang jelas, rasa rendah diri akan terkikis karena fokus perhatian beralih dari kekurangan pribadi menuju substansi permasalahan yang sedang dibahas.

Langkah strategis lainnya adalah melalui pengembangan kemitraan proyek antarnegara. Anggota di Indonesia yang memiliki keahlian di bidang tertentu, baik itu dalam manajemen, seni, pendidikan, maupun kewirausahaan, dapat menawarkan kolaborasi dengan anggota dari negara lain. Misalnya, seorang pengusaha di Indonesia bisa berdiskusi dengan sesama anggota Subud di Eropa mengenai peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Kolaborasi berbasis proyek ini menciptakan hubungan yang setara dan profesional. Dalam proses kerja sama tersebut, interaksi yang intens akan terjadi secara alami, yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan adaptasi lintas budaya. Pengalaman sukses dalam proyek kecil akan menjadi batu loncatan yang efektif untuk mengambil peran yang lebih besar di kemudian hari.

Pendidikan dan pelatihan bahasa tetap merupakan hal yang penting, namun harus didekati dengan motivasi yang benar. Belajar bahasa asing bukan bertujuan untuk meniru identitas bangsa lain, melainkan sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan spiritual dan kemanusiaan yang universal. Organisasi di tingkat nasional dapat memfasilitasi kursus bahasa atau lokakarya komunikasi internasional yang dikhususkan bagi anggota yang memiliki minat untuk melayani di tingkat global. Dengan adanya dukungan kolektif dari sesama anggota di dalam negeri, individu akan merasa lebih berani untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka. Dukungan moral dari komunitas lokal sangat berperan dalam memvalidasi bahwa keberangkatan seseorang ke ranah internasional adalah representasi dari kemajuan bersama.

Selain itu, penting bagi anggota Indonesia untuk aktif mendokumentasikan dan membagikan pengalaman kejiwaan serta kegiatan sosial mereka dalam format yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Penulisan artikel, pembuatan video pendek, atau pengelolaan blog dalam bahasa Inggris mengenai perkembangan Subud di daerah-daerah di Indonesia dapat menarik perhatian anggota global. Sering kali, dunia luar merasa penasaran dengan bagaimana Subud dipraktikkan di tanah kelahirannya. Dengan menjadi narator bagi diri sendiri, kita tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi menjadi subjek yang aktif membentuk opini dan berbagi inspirasi. Inisiatif seperti ini akan menempatkan anggota Indonesia sebagai mitra dialog yang inspiratif bagi dunia.

Kehadiran fisik dalam acara-acara besar seperti Kongres Dunia atau pertemuan tingkat zona juga harus diupayakan secara terencana. Meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit, manfaat dari pertemuan tatap muka tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Interaksi langsung melalui makan bersama, berbincang santai di sela-sela acara, dan mengikuti Latihan Kejiwaan bersama akan meruntuhkan tembok-tembok prasangka yang mungkin selama ini terbangun di dalam pikiran. Anggota akan menyadari bahwa saudara-saudara dari luar negeri juga memiliki tantangan, pergumulan, dan keraguan yang sama. Kesadaran akan kemanusiaan yang setara ini adalah obat mujarab bagi penyakit inferiority complex. Setiap anggota Indonesia yang pulang dari acara internasional biasanya akan membawa energi baru dan perspektif yang lebih segar untuk dibagikan kepada anggota lain di tanah air.

Mentalitas sebagai pemberi, bukan hanya penerima, juga perlu ditanamkan. Dalam hubungan internasional, sering ada kecenderungan untuk memposisikan Indonesia sebagai pihak yang membutuhkan bantuan atau bimbingan. Kita harus mulai mengubah posisi tersebut dengan menawarkan kontribusi nyata. Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan pengalaman dalam menjaga keharmonisan dalam keberagaman yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang penuh konflik. Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan bagi kemajuan Subud dunia, martabat kita sebagai bangsa akan terjaga. Hal ini sejalan dengan teladan Bapak yang selalu menekankan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri dan berkarya secara nyata di masyarakat.

Penting juga untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional tanpa harus menjadi chauvinistik. Mengenalkan budaya Indonesia, mulai dari cara berpakaian yang sopan namun elegan hingga kuliner yang kaya rasa saat berinteraksi dengan anggota luar negeri, adalah bentuk diplomasi budaya yang halus. Ketika kita menghargai identitas kita sendiri, orang lain pun akan belajar untuk menghargai kita. Rasa bangga yang sehat ini akan menjadi perisai yang kuat terhadap serangan rasa rendah diri. Anggota Subud Indonesia harus menyadari bahwa mereka adalah duta dari sebuah bangsa yang besar dengan sejarah peradaban yang tua dan mulia.

Pada akhirnya, perluasan eksposur internasional adalah sebuah proses transformasi jiwa yang sejalan dengan tujuan dari Latihan Kejiwaan itu sendiri. Latihan Kejiwaan mengajarkan kita untuk mengelola segala nafsu dan daya rendah, termasuk rasa takut dan rasa rendah diri yang menghambat potensi kemanusiaan kita. Jika setiap anggota benar-benar berserah diri kepada kekuasaan Tuhan, maka identitas kebangsaan tidak akan menjadi beban, melainkan menjadi warna-warni yang memperindah kebun persaudaraan dunia. Dengan mengikuti jejak langkah Bapak yang rendah hati namun berwibawa, anggota Subud Indonesia dapat melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak, siap untuk belajar, bekerja sama, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemanusiaan universal. Transformasi ini bukan hanya akan menguntungkan individu yang bersangkutan, tetapi juga akan memperkuat posisi Subud Indonesia sebagai pilar utama dalam perkembangan Subud di masa depan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 20 April 2026

Wednesday, April 8, 2026

Sukun Berkejiwaan

TADI malam, saya mau Latihan di Wisma Barata Pamulang, tetapi Nuansa melarang saya pergi. Terutama karena hari ini saya harus pergi lagi untuk meeting dengan calon investor di Serpong. Saya membujuk putri saya yang berumur sembilan tahun itu, salah satunya dengan janji bahwa saya akan membawakan suguhan yang biasanya tersedia bagi anggota Subud yang datang Latihan di Wisma Barata.

Saya asal sebut saja bahwa saya akan bawakan sukun buat dia. Yang terlintas di pikiran saya adalah gorengan, tetapi mulut saya berucap “sukun kukus”. Akhirnya, Nuansa membolehkan saya pergi—bukan karena janji saya akan membawakan kue tapi daripada hari Minggu saya pergi ke Wisma Subud Cilandak sebagai gantinya.

Yang membuat saya kaget ketika tiba di Wisma Barata adalah bahwa suguhannya memang sukun kukus yang ditaburi kelapa parut. “Yang spontan itulah yang dari jiwa,” kata Bapak, bukan yang terpikirkan, apalagi pikiran yang terisi nafsu belaka.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 April 2026

Monday, April 6, 2026

Jejak Langkah di Rumah Kenangan

 


RUMAH itu masih berdiri kokoh di sebuah ruas jalan yang menyimpan sejarah panjang keluarga kami. Ayah saya, seorang perwira menengah TNI Angkatan Darat, mulai menempati rumah papan sederhana tersebut pada tahun 1963. Saat itu, kawasan ini masih dikenal sebagai Kompleks Perumahan Angkatan Darat Jaya—merujuk pada nama Komando Daerah Militer Jayakarta. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini lebih populer disebut Pondok Jaya, sebuah permukiman militer yang berbatasan langsung dengan Kompleks Kepolisian RI, Pondok Karya, di sisi utara.

Secara administratif, Kompleks Pondok Jaya terletak di Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan. Kawasan strategis ini dulunya merupakan area penyangga pemukiman yang kemudian berkembang menjadi hunian padat. Sayangnya, kepadatan tersebut sempat membuat Pondok Jaya identik dengan banjir; genangan air kiriman sering kali mencapai ketinggian 60 hingga 150 sentimeter. Wajah kawasan ini baru bersolek ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Melalui kebijakan betonisasi jalan setebal 30 cm, risiko banjir yang menghantui selama puluhan tahun akhirnya berhasil ditekan secara signifikan.

Pondok Jaya adalah saksi bisu pertumbuhan saya. Kecuali masa empat tahun saat saya bermukim di Belanda, seluruh masa kecil saya habiskan di sini. Saya memulai langkah pendidikan di TK Jaya Baru (sebelumnya TK Persit Kartika Chandra Kirana) di Jl. Pondok Jaya VIII, lalu berlanjut ke SD Paripurna (kini SDN Pela Mampang 05 Pagi/06 Petang) di Jalan Pondok Jaya VI, hingga menamatkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 141. Hanya saat masa SMA dan kuliah saya akhirnya “merantau” ke luar lingkungan kompleks.

Hingga saat ini, saya masih rutin berkunjung ke rumah peninggalan mendiang Ayah dan Ibu saya. Meski waktu terus bergerak maju, bagi saya, jejak kehidupan dan memori kebahagiaan bersama orang tua serta saudara kandung tetap tertinggal di sana, abadi di antara dinding-dindingnya.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 April 2026

Saturday, April 4, 2026

Merasa Positif vs Berpikir Positif

SAYA barusan ditelpon satu anggota wanita dari Cabang Jakarta Selatan yang telah bermukim di kota lain di Jawa. Dia mau berkonsultasi tentang proses dari Latihan Kejiwaan; ya sudah, saya tampung saja. Saya ingin mengatakan padanya agar menelepon pembantu pelatih wanita saja atau anggota lain yang lebih senior daripada saya, dan berjenis kelamin wanita. Tetapi rasa diri saya mencegah saya untuk berkata begitu, dan sebaliknya menyuruh saya untuk mendengarkan dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

Dalam gathering-per-telepon tersebut, terungkap melalui ucapan anggota itu, yang menginspirasi saya—meski saya pernah menerima pemahaman tersebut sebelumnya: “Saya nggak percaya dengan positive thinking atau negative thinking, Mas Arifin. Saya cenderung mengikuti positive atau negative feeling saya.”

Saya merespons dia, “Iyalah! Subud kan pakai feeling, alih-alih thinking. Kalau kita melihat orang dengan mengandalkan akal pikir saja, yang terlihat adalah yang lahiriah saja. Di tataran Rasa, yang terlihat belum tentu benar. Seseorang bisa saja kelihatan jahat, dari penampilan, perbuatan atau ucapan, tapi belum tentu ‘isi’ dirinya jahat.”

“Wah, benaarr kalau begitu perasaan saya tadi sebelum menelpon Mas,” kata si anggota. “Kalau mengandalkan akal pikir, seharusnya saya curhat ke PP wanita. Tapi nyatanya rasa saya mengarahkan saya ke Mas Arifin, yang PP bukan, wanita juga bukan.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Bangsa yang (Tidak Lagi) Bercerita

SEBAGAI konsultan branding, saya rajin mengamati perkembangan-perkembangan terbaru di industri komunikasi pemasaran, korporat dan keberlanjutan. Tren terkini dalam branding adalah penceritaan (storytelling). Penceritaan sebagai strategi branding bukan sesuatu yang baru sebenarnya. John Simmons dalam bukunya, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Captivate Audiences, yang terbit tahun 2003, sudah mengemukakan hal itu.

Dahulu, Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas fondasi narasi yang kokoh. Dari ujung barat hingga timur, setiap jengkal tanah memiliki guratan pada batu prasasti atau lontar atau tuturan lisan yang diwariskan dengan penuh khidmat. Tradisi ini menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pengamat yang tajam sekaligus penyusun strategi kebudayaan yang ulung lewat kata-kata.

Tetapi bangsa Indonesia kontemporer tampaknya kepayahan dalam mengantisipasi tren penceritaan yang merebak di industri komunikasi domestik saat ini. Dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat, seharusnya tradisi penceritaan bangsa Indonesia semakin kuat. Nyatanya, tidak!

Meskipun berpengalaman lebih dari 30 tahun di branding, dan keahlian teknis saya adalah copywriting, tetapi kemampuan penceritaan saya justru dibangun dan dibiasakan di Subud. Dan keberadaan saya di Subud belumlah selama karir saya di branding. Baru mencapai 22 tahun pada 11 Maret 2026 lalu.

Saya mencermati, sekian banyak ceramah Bapak sarat cerita pengalaman beliau sendiri maupun parabel-parabel dari kisah perwayangan, karena hal itu memang merupakan cara paling sederhana untuk menyampaikan kedalaman spiritual yang tidak sederhana. Novel The Light of the Inner Self juga merupakan salah satu “strategi” komunikasi Bapak kepada anggota dengan cara yang menghibur. Fiksi yang imajinatif lebih kena ke pikiran pembaca daripada nonfiksi yang akademik.

Selain kisah perwayangan dan karya tulis fiksi—sebagaimana yang digunakan Bapak dalam menjelaskan aspek kejiwaan, Indonesia memiliki kekayaan media komunikasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan moral, informasi sosial, hingga kritik politik kepada masyarakat. Media-media ini sangat efektif karena bersifat partisipatif—masyarakat tidak hanya menonton, tetapi sering kali terlibat langsung dalam dialog atau merespons pesan yang diberikan.

Dalam ranah spiritualitas yang tidak bersandar pada doktrin, buku teks, atau otoritas guru yang mengajar, tradisi penceritaan bertransformasi menjadi jembatan komunikasi yang sangat vital. Fenomena ini terlihat jelas di Subud, di mana tidak ada ajaran yang perlu dihafal atau pelajaran yang harus dipelajari secara intelektual. Di sini, cerita bukan digunakan untuk mendikte kebenaran, melainkan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman murni yang bersifat personal namun universal.

Membumikan Pengalaman

Beberapa waktu lalu, pada hari Minggu pagi saya memarkirkan sepeda motor saya di sebelah selatan Hall Latihan Cilandak. Dari pelataran parkir saya dapat melihat Tatap Muka—sebuah kegiatan yang mempertemukan anggota baru dengan para pembantu pelatih, di mana para pembantu pelatih biasanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan para anggota baru yang belum sempat tersampaikan ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka. Tatap Muka digelar hanya sekali seminggu, tiap Minggu pagi mulai pukul 10.00 hingga 11.30 waktu Jakarta.

Sambil mengucapkan permisi, saya melewati ajang Tatap Muka itu untuk menuju tempat nongkrong rutin saya di teras timur Hall Latihan Cilandak. Tetapi dua dari tiga pembantu pelatih yang tengah bertugas melayani tanya-jawab dengan para anggota itu serempak memanggil saya, dan mempersilakan saya duduk di antara para pembantu pelatih. Saya bukan pembantu pelatih, tetapi saya didaulat untuk menceritakan pengalaman saya dengan bimbingan Latihan. Menurut para pembantu pelatih itu, saya adalah “gudang cerita pengalaman”. Entah dari mana mereka mendapat informasinya, tetapi saya memang kerap menuliskan pengalaman saya di blog saya—sebuah blog yang tidak saya harapkan untuk dibaca, tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang telah mengaksesnya, dan berbuntut dengan mereka akhirnya masuk Subud.

Komunikasi antar anggota Subud sering kali berpusat pada apa yang disebut dengan kesaksian atau penuturan pengalaman pribadi. Karena jalan ini bersifat pengalaman langsung (empiris), maka satu-satunya cara untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam diri adalah melalui narasi. Seorang pembantu pelatih tidak berceramah kepada anggota tentang bagaimana cara mencapai kedamaian; sebaliknya, mereka menceritakan momen ketika kedamaian itu hadir secara tiba-tiba dalam keseharian mereka. Penceritaan ini berfungsi sebagai cermin bagi orang lain, di mana pendengar sering kali menemukan resonansi atau konfirmasi atas pengalaman mereka sendiri tanpa merasa digurui.

Selain itu, tradisi penceritaan di sini berperan sebagai alat untuk membumikan pengalaman spiritual yang abstrak menjadi sesuatu yang manusiawi. Dalam jalan yang menekankan pada perkembangan jiwa secara alami, cerita tentang kegagalan, perjuangan, atau perubahan karakter yang halus menjadi lebih berharga daripada teori-teori filosofis yang muluk. Melalui cerita, para anggota membangun sebuah konsensus kolektif yang longgar tentang bagaimana Latihan Kejiwaan bekerja dalam kehidupan nyata, mulai dari hubungan keluarga hingga pekerjaan profesional.

Bahasa Universal

Fungsi lain dari penceritaan dalam konteks ini adalah sebagai pelindung dari kristalisasi ajaran. Karena cerita bersifat subjektif dan dinamis, ia tidak mudah dibakukan menjadi hukum yang kaku. Sebuah cerita tentang pengalaman seseorang pada hari ini bisa jadi berbeda dengan pengalamannya tahun depan. Hal ini menjaga agar Subud tetap cair dan hidup, sesuai dengan prinsip bahwa pertumbuhan jiwa adalah proses yang berkelanjutan dan unik bagi setiap individu.

Pada akhirnya, penceritaan menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan latar belakang budaya dan intelektual para anggota Subud. Tanpa adanya pelajaran formal, setiap orang berdiri sejajar sebagai pencerita sekaligus pendengar. Komunikasi ini menciptakan sebuah ruang persaudaraan yang organik, di mana pemahaman tidak datang dari instruksi lisan, melainkan dari getaran makna yang terselip di antara baris-baris kisah hidup yang dibagikan secara jujur dan rendah hati.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Friday, April 3, 2026

Membaca Literatur Sejarah Subud

BERIKUT terjemahan dari email balasan saya kepada Daniela Moneta, Administrator dan Arsiparis Utama WSA Archives, tadi pagi—merespons permintaannya agar saya mewawancarai anggota-anggota lama Indonesia, yang pernah mengalami era ketika Bapak Muhammad Subuh masih ada.


Dear Daniela,

Jika yang dimaksud “masa-masa awal” adalah ketika Subud sebagai organisasi baru diresmikan pada Februari 1947 atau era sebelumnya, tentu akan sulit bagi saya untuk melakukan wawancara. Karena sebagian besar—kalau tidak bisa dikatakan “semuanya”—orang-orangnya sudah meninggal. Paling banter saya bisa mewawancarai mereka yang masuk Subud selama dekade 1960an, itupun hanya orang asing yang telah lama tinggal di Indonesia, seperti Harris Roberts dan Stuart Cooke (saya lebih sering ketemu mereka. Sebulan sekali saya acap bertandang ke rumah Stuart, yang tinggal lebih dari 25 km dari rumah saya). Para anggota Indonesia tampaknya sangat enggan diwawancarai perihal pengalaman Subud mereka—lebih karena rendah hati, tidak merasa bahwa pengalaman itu hebat, tidak setara dengan Bapak (ciri orang Jawa yang secara adat harus “merendahkan diri” di hadapan raja).

Beberapa bulan lalu, saya mendapat permintaan dari Ridwan Lowther untuk copy editing naskah Bahasa Indonesia dari History of Subud Jilid 1 dan 2. Cetakan pertama dari terjemahan Indonesia History of Subud saya terima dari Rashidah Pope yang ia titipkan pada satu anggota Indonesia yang menghadiri Kongres Dunia 2024 di Kalimantan, yang tidak saya hadiri. Saya merasa sangat terbantukan dalam hal pemahaman saya mengenai berbagai aspek Subud oleh buku itu—maupun buku-buku memoar anggota lainnya yang pernah saya terjemahkan. Misalnya tentang “daya rendah dan daya tinggi”, yang ternyata bukan sebutan kualitas—sebagaimana yang dipahami banyak pembantu pelatih generasi masa kini—melainkan istilah dari Bapak untuk membedakan daya-daya yang ada bumi dan daya-daya yang ada di “langit”. Dan tentang “testing”, yang ternyata bermakna “merasakan diri sendiri terhadap segala jenis karakter orang dan kejadian-kejadian” yang merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan orang Jawa tradisional.

Selain membaca ceramah, saya paling suka membaca buku-buku sejarah Subud, terutama karena saya—yang dibuka tahun 2000an awal—mendapat pengertian yang komprehensif bagaimana Subud yang azali, yang belum terdistorsi oleh “penjelasan-penjelasan menyimpang” dan “praktik-praktik mengada-ada” dari para pembantu pelatih terkini, yang jangankan membaca ceramah, mengenal Bapak saja tidak, karena mereka dibuka di zaman ketika Bapak sudah tidak ada. Saya kerap bertemu anggota-anggota baru di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang sepertinya “terputus” dari Subud yang Bapak visikan. Setiap kali Latihan bersama di Cilandak, yang kini diikuti oleh banyak anggota baru, saya merasakan “sentuhan yang mengganggu perasaan saya”, yang kemudian saya konfirmasikan ke Harris Roberts, yang ternyata juga merasakan hal yang sama.

Agar tidak menjadi fitnah, saya kemudian akan bertanya-jawab dengan beberapa anggota baru, dan menemukan fakta bahwa mereka ternyata tidak mengerti bagaimana melakukan Latihan. Hal itu disebabkan tidak memadainya penjelasan pembantu pelatih ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka, serta mendapatkan pendampingan dari pembantu pelatih yang bahkan belum bisa menginsafi Latihannya sendiri.

Stuart Cooke pernah berkata ke saya, “Siapa yang bisa menjelaskan Latihan Kejiwaan selain Bapak? Kamu bisa? Saya? Tidak ada, Arifin. Hanya Bapak yang bisa! Maka satu-satunya cara saat ini adalah rajin membaca ceramah di samping tekun Latihan!”

Itu memotivasi saya untuk terus membaca ceramah, literatur sejarah Subud, dan, jika memungkinkan, menggali lebih dalam melalui obrolan saya dengan para pembantu pelatih atau anggota yang pernah mengalami masa ketika Bapak masih ada.©2026


Salam,

Arifin


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 April 2026

Tuesday, March 31, 2026

Semesta Mendukung Bubur Ayam

 


KEMARIN malam, saya berkata ke istri kalau saya kangen makan bubur ayam ala Warkop Kuningan 24 Jam yang menyediakan bubur ayam khas Cirebon (menggunakan kuah kaldu ayam yang kental). Sudah setahun lebih saya tidak makan bubur ayam. Jawaban istri: “Jangan jajan melulu, hemat doong. Makan yang ada di rumah!”

Tadi pagi, ketika mau berangkat ke halalbihalal dengan rekan-rekan pendiri Yayasan Indonesia Berkibar Lestari di Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, lagi-lagi saya berkata ke istri bahwa saya ingin makan bubur ayam. Malah tidak direspons olehnya. Begitu saya cek grup WhatsApp SERASI (Sejarah Itu Asik), satu pendiri posting: “Yang datang pagi di Darmin, gue beliin bubur ayam Sukabumi. Siapa yang mau?”

“Yang datang pagi, ada yang mau dibungkusin bubur ayam Sukabumi Tebet, nggak? Ada dua pilihan: biasa dan spesial (pakai kuning telor).”

Saya menjawab: “Mauuuu! Nggak pakai kacang yaa! Spesial.”

Saya melihat bahwa di atas saya sudah ada yang menjawab “mau”. Terbayang oleh saya acara makan bubur ayam bersama di Darmin Kopi.

Saya dan Dino sampai duluan di Darmin Kopi, sekitar jam 09.30. Teman yang mau membelikan bubur ayam menyusul kira-kira setengah jam kemudian... dan hanya menenteng SATU bungkus bubur ayam Sukabumi (ciri khasnya adalah pakai kuning telur mentah dipendam bubur panas). “Lhoo, kok cuma bawa satu? Buat siapa?” tanya saya.

 


Teman saya menjawab bahwa itu bubur ayam buat saya, karena respons saya di grup SERASI yang terbaca oleh dia, sedangkan respons dari yang lain baru masuk setelah dia meninggalkan rumah makan Bubur Ayam Sukabumi di Jl. Tebet Barat. Mestakung—semesta mendukung.©2026


Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 1 April 2026