Wednesday, July 15, 2026

Mistifikasi Pembantu Pelatih

TANGGAL 15 Juli 2026 malam, sepulang dari Latihan di Wisma Barata Pamulang, saya ditelepon oleh salah satu pembantu pelatih (PP) yang menyaksikan pembukaan saya, 22 tahun lalu. Mas Heru, demikian saya memanggilnya. Tema obrolan kami adalah tentang berserah diri di kala menghadapi penderitaan. Salah satu topiknya, di bagian terakhir dari perbincangan kami selama dua jam via WhatsApp Voice Call, adalah tentang menjadi pembantu pelatih.

Saya berbagi mengenai perbedaan yang saya saksikan antara PP di Jakarta, khususnya, dengan yang di Komisariat Wilayah (Komwil) VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, terutama di Surabaya dan sekitarnya. Di Jakarta, khususnya di Cabang Jakarta Selatan, tampaknya kepembantupelatihan dimistifikasi oleh beberapa oknum PP maupun oleh anggota biasa, seolah PP itu memiliki Latihan dari jenis yang berbeda dari Latihan pada umumnya, sehingga mereka yang belum PP tidak diperkenankan mengikuti pertemuan/rapat atau kegiatan-kegiatan yang eksklusif pembantu pelatih.

Mistifikasi adalah istilah yang mengacu pada proses mengaburkan kebenaran, membuat sesuatu yang biasa atau rasional tampak misterius, sakral, atau tidak bisa dipahami oleh nalar. Tujuannya sering kali untuk menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya dan menciptakan ilusi atau kesadaran palsu demi melanggengkan kekuasaan atau status quo. Di Subud, mistifikasi kerap digunakan untuk mengagungkan PP atau lembaga tertentu yang bertanggung jawab pada aspek kejiwaan. Kepembantupelatihan tidak lagi dilihat dari kinerja, melainkan dibentuk sebagai aura sakral yang tidak boleh dikritik atau dipertanyakan oleh anggota biasa. Status sebagai “pembantu Bapak” kerap digunakan untuk memperkuat mistifikasi ini.

Pembantu pelatih yang menelepon saya itu terkejut sekaligus menertawakan para PP semacam itu. Ia membantah bahwa PP adalah golongan eksklusif dengan kemampuan tertentu yang dapat membahayakan anggota biasa secara spiritual. Ia menampik anggapan sementara PP bahwa rapat atau testing di kalangan PP hanya terbatas bagi PP semata—yang bukan PP dilarang ikut atau mengaksesnya sebagai saksi.

Saya ingat momen ketika pada Senin malam, 7 Februari 2005, Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Cabang Surabaya mengajak seluruh anggota pria masuk ke dalam hall untuk menyaksikan testing para PP terhadap seorang kandidat pembantu pelatih. Para anggota diperbolehkan berada di dalam hall saat testing berlangsung, dan menyaksikan bagaimana respons tiga PP yang di saku celananya masing-masing telah disisipkan secarik kertas bertuliskan nama kandidat PP yang ditesting. Hasilnya, sang kandidat PP belum bisa disahkan sebagai PP dan harus diperpanjang masa kandidatnya. Sebagai anggota yang belum genap setahun di Subud, pemandangan itu cukup mengejutkan saya, tetapi hal itu tidak memberi efek apapun pada saya selain ingatan akan momen tersebut.

Selain momen itu, tidak jarang saya dan beberapa anggota lainnya beberapa kali menghadiri rapat pembantu pelatih. Kami duduk di ruang rapat sebagai saksi saja, tidak mendapat hak suara. Pembantu pelatih yang menelepon saya malam ini mengatakan bahwa rapat kadang tertutup bukan karena ada efek yang dapat membahayakan anggota biasa secara kejiwaan, melainkan hanya untuk kepantasan saja—bahwa pembahasan rapat menyangkut seseorang atau masalah yang tidak patut dipublikkan.

Selama di Jakarta, apakah Cabang Jakarta Selatan, Pusat atau Timur, saya belum pernah mengalami ajakan ikut rapat atau testing pembantu pelatih. Bahkan Latihan pendampingan calon PPD saja, anggota yang bukan PP dipersilakan keluar dari ruangan Latihan. Awalnya tidak tahu mengapa, lambat laun saya mendeteksi adanya kecenderungan mistifikasi PP—oleh PP sendiri maupun oleh beberapa gelintir anggota; seolah PP adalah makhluk tingkat dewa yang pikiran dan perasaannya, pikiran dan perbuatannya dalam keadaan tertentu dapat membahayakan jiwa dan raga anggota.

Tetapi malam ini, respons PP yang menelepon saya telah mendemistifikasi para pembantu pelatih. Penjelasannya telah menghilangkan selubung mitos, kesalahpahaman, atau kesan gaib yang melekat pada pembantu pelatih.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juli 2026

The Untainted Mirror

 

We step into the quiet, side by side,

to strip the heavy mask of mind away

The dusty glass where ego used to hide

begins to clear its film of yesterday

We close our eyes to let the outer fade,

and stand before the mirror we have made

 

A sudden breath, a cry, a graceful sway—

no longer caught in thought's reflective gleam

The Latihan begins to wash away

the mirrored shadows of our waking dream

It is a glass that does not show a face,

but captures the Great Life in empty space

 

And when the stillness settles in the hall,

we find the polished surface clean and bare

No longer locked behind the ego’s wall,

the true, untainted soul is standing there

A mirror of the force that gives us breath,

reflecting life that triumphs over death

 

Wisma Bharata, Pamulang, July 15, 2026, 8:40 p.m.

Monday, June 22, 2026

Seni dan Spiritualitas

SAYA bukan pengamat maupun penikmat lukisan, tetapi demi pekerjaan saya harus turut menyelami seni lukis. Saya masuk dalam tim yang dibentuk untuk membuat katalog lukisan karya seorang maestro Indonesia, Yoes Rizal. Saya sebagai Copy Editor-nya.

 


Tim berkumpul siang ini, 22 Juni 2026, di kediaman dan studio beliau di Jl. Lingkar Kebayunan, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, untuk mengenal lebih jauh sang maestro dan karyanya. Dikenal sebagai pelukis kontemporer Indonesia, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini menggunakan mixed media untuk mewujudkan karya lukisan. Yang menarik, ujar beliau, bukan lukisan yang penting—itu hanya output—melainkan proses kreatifnya.

 


Seperti para pelukis lainnya yang pernah saya jumpai sejak tahun lalu, obrolan tentang proses kreatif pasti bersenggolan dengan spiritualitas. Yang menarik bagi saya, ketika sang maestro menyebut sekuens tarekat, hakikat dan makrifat dalam wawancara yang dilakukan dua rekan saya—yaitu dua alumni Sejarah dari Universitas Indonesia, almamater saya. Dan yang membuat saya semakin termotivasi adalah adanya kesamaan antara ekspresi spiritual Yoes Rizal dengan apa yang saya alami melalui Latihan Kejiwaan Subud, meski ia sendiri bukan anggota Subud, yaitu ketiadaan aturan, kebebasan aksi, ketidakteraturan dan spontanitas. Seorang pelukis, kata Yoes, haruslah bebas, tidak terbebani atau dibatasi. Sebebas sifat jiwa manusia!

 


Saya pun menunjukkan logo Kongres Dunia Subud ke-17 tahun 2028 di Portugal yang saya rancang dan berhasil memenangkan kompetisi desain logo event tersebut. Dengan spesialisasi Yoes Rizal sebagai pelukis abstrak ekspresionis dengan latar belakang akademik beliau di Seni Rupa dan Desain ITB, beliau menilai logo karya saya itu memenuhi syarat sebagai logo (yang harus abstrak dan memberi ruang seluas-luasnya bagi audiens untuk memiliki pengertian sendiri-sendiri—persis sifat dari Latihan Kejiwaan). Dari bahasan tentang logo itulah berkembang obrolan tentang Subud, yang harus saya akhiri karena hari kian sore dan saya harus ke Wisma Subud Cilandak untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-125 Bapak Muhammad Subuh.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Juni 2026

Sunday, June 14, 2026

Testing vs Menep

KEMARIN siang (Minggu, 14 Juni 2026), pasca Latihan pria, saya nongkrong bersama lima anggota lainnya di teras timur Hall Cilandak, menikmati kopi murni yang airnya dimasak dengan kompor portabel yang dibawa oleh salah satu anggota.

Lalu, muncullah satu pembantu pelatih pria dari Cabang Jakarta Selatan yang berkebangsaan Amerika. Beliau sangat suka kopi tubruk, kopi asli Indonesia. Saat ngopi itulah beliau bercerita bahwa beliau baru selesai menghadiri rapat dewan pembantu pelatih cabang, yang antara lain membahas tentang testing. Terungkap, kata dia, bahwa Ibu Rahayu ternyata tidak “pro testing”. Saya pun bercerita ke si pembantu pelatih dan satu anggota yang duduk di sebelah saya, bahwa pembantu pelatih dan anggota di luar negeri sangat sering melakukan testing dan dalam durasi yang sangat lama. Itu yang pernah saya dengar dari penuturan seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, dan satu pembantu pelatih dari grup Vancouver, Kanada. Juga para international helpers asal Indonesia pernah menyampaikannya ke saya. Saya mengomentari cerita saya sendiri bahwa kebiasaan testing itu mungkin untuk melatih pembantu pelatih dan anggota dalam memahami apa hakikat testing.

Di Indonesia sendiri, testing tergolong sangat jarang dilakukan dan biasanya bersifat okasional, biasanya pada event Kongres Nasional atau dalam rangka Hari Lahir Bapak di bulan Juni. Para pembantu pelatih di cabang manapun di Jawa yang pernah saya kunjungi menunjukkan keengganan ketika anggota meminta testing.

Saya kemudian menambahkan ke cerita saya kepada si pembantu pelatih dan si anggota, bahwa yang saya baca di sebuah memoar dari salah satu pembantu pelatih generasi awal, kabarnya istilah “testing” itu berasal dari John Bennett yang mencoba menerjemahkan kalimat “merasakan diri terhadap segala sesuatu” dari Bapak, yang belum ada padanannya dalam bahasa Inggris kala itu (1957, ketika Bapak pertama kali ke luar negeri). Akhirnya, Bapak pun mengadopsi istilah “testing” untuk “merasakan diri”.

Di cabang di mana saya melalui masa ngandidat tiga bulan saya dan di mana saya dibuka, yaitu Surabaya, para pembantu pelatihnya jarang sekali melakukan testing, melainkan membiasakan para anggota untuk merasakan (diri maupun keadaan atau peristiwa di dekatnya maupun jauh). Pembantu pelatih yang telaten mendampingi saya, selalu mendorong saya untuk merasakan suasana atau orang-orang di tempat kami berada, seperti misalnya di acara ruwatan putra sulung dari seorang anggota yang akan menikah, yang berlangsung di rumah si anggota di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 2005. Merasakan itu tidak bisa dipaksakan memang, tetapi akan berkembang kepekaan kita secara bertahap seiring Latihan Kejiwaan yang kita lakukan dengan rajin dan tekun.

Si anggota yang duduk dekat saya dan turut mendengarkan diskusi saya dengan si pembantu pelatih, menyeletuk, “Oh iya, Mas Arifin. Di Jawa disebutnya ‘menep’. Memang kita jarang testing ya, Mas. Karena kita sudah dibiasakan ‘menep’ oleh leluhur kita."

Dalam budaya Jawa khususnya, “merasakan diri” sudah mengakar di kalangan masyarakat tradisionalnya. Kakek dan ayah saya, dua pria Jawa tradisional dan bukan anggota Subud, sering mencontohkan ke saya secara tidak sengaja: Ketika menghadapi problem yang rumit, mereka akan berdiam diri, memejamkan mata dan membisu cukup lama. Praktik ini di Jawa disebut “menep”. Bahasa Jawa “menep” berarti diam, tenang, atau mengendap (seperti endapan kotoran yang turun ke dasar sehingga air menjadi jernih). Kata ini sering digunakan secara filosofis untuk menggambarkan kondisi batin yang tenang, waspada, dan jernih dalam menghadapi masalah. Atau proses menahan emosi, hawa nafsu, atau gejolak agar pikiran tetap jernih dan bijaksana. Ibarat segelas kopi tubruk yang sebagian ampasnya mengambang di permukaan , ia harus didiamkan sejenak agar kotorannya “menep” dan airnya kembali bening.

Si pembantu pelatih kemudian berseru, “Oh mungkin sikap tidak pro testing dari Ibu sebenarnya ditujukan ke anggota luar negeri ya. Karena beliau tahu, orang Indonesia tidak suka testing.”

Saya mengangkat bahu dan berkata, “Ya, mungkin.” Lalu kami melanjutkan menikmati kopi masing-masing.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juni 2026

Saturday, June 13, 2026

Bimbingannya yang Penting, Bukan Alatnya

TADI malam, saya ditelpon mantan pembantu pelatih Surabaya yang kini berdomisili di Madiun dan, seperti saya, tercatat sebagai anggota Cabang Sidoarjo, Mas Heru Iman Sayudi. Kami mengobrol dua jam 18 menit. Salah satu topik obrolannya adalah “bimbingan kekuasaan Tuhan” dalam bidang pekerjaan kami--Mas Heru dan saya sama-sama konsultan branding.

Saya cerita ke Mas Heru tentang satu job saya sebagai freelance copywriter baru-baru ini, menulis teks dwibahasa (Indonesia-Inggris) untuk coffee-table book setebal 100 halaman. Gemini AI adalah asisten setia saya dalam pengerjaannya. Nah, tidak sedikit anggota Subud antipati pada AI, alasannya karena sebuah karya jadi “tidak manusiawi, tidak ada rasanya, tidak ada ruhnya”. Tapi pengalaman saya dan tim desain coffee-table book itu maupun pengalamannya Mas Heru dan tim kerjanya, membuktikan bahwa bila “dibimbing” untuk menggunakan AI, outputnya akan ada rasa atau ruhnya. Jadi, kami berkesimpulan: Yang utama itu bimbinganNya, bukan alat yang digunakan. Alat bisa apa saja, tapi kapan baiknya menggunakan salah satu atau semua alat yang ada tergantung petunjuk yang kita terima dalam ketenangan rasa diri kita.

Seperti ucap satu anggota yang kemarin siang hingga sore nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak, terkait desain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal (2028): “Idenya kan dari bimbingan Tuhan, tapi Mas Arifin perlu daya rendah untuk mewujudkan ide itu. Mau pakai Photoshop kek, AI kek, terserah petunjuk yang Mas terima kan?!”

“Wah, benar juga,” saya membatin mendengar penjelasan si anggota.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Juni 2026

Tuesday, June 2, 2026

Merancang Dari Dalam ke Luar


TAHUN 2025 lalu, saya bertandang ke rumah seorang pembantu pelatih Amerika asal New York yang telah cukup lama tinggal di Indonesia. Dalam obrolan kami di meja makan, usai menyantap hidangan makan malam buatan istri Indonesianya yang lezat, terungkap bahwa si pembantu pelatih pernah tinggal dan bekerja selama sepuluh tahun di Shanghai, Tiongkok. Ia menggambarkan bahwa situasinya pada saat itu tidak enak bagi jiwanya tetapi berkat Latihan ia mampu bertahan.

Penggambarannya tentang situasi negara itu, melalui kata-kata, tidak cukup untuk membuat saya memahami bagaimana sebenarnya, sehingga saya bertanya padanya, “Memang bagaimana sebenarnya China itu? Apa yang kamu alami di sana?”

Si pembantu pelatih menatap saya tajam dan dengan tekanan ia berkata, “Kamu anggota Subud, kan? Pakai rasa kamu! Saya tidak perlu menjelaskan detail.”

Saya pun melakukan apa yang disarankan si pembantu pelatih. Itu seperti testing kejiwaan, dengan pertanyaan: “Apa yang dialami X selama di Shanghai yang mengganggu rasa perasaannya?”

Pengalaman seperti ini pula yang saya terapkan ketika mendesain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal. Saya belum pernah ke Portugal, apalagi Fàtima. Sulit saya membayangkan bagaimana ruh negara itu, meski saya dapat menemukan begitu banyak fotonya di Google Images. Sebagai konsultan branding, saya terbiasa dengan serangkaian proses desain logo dan pengembangan identitas merek, yang bersumbu pada riset yang mendalam. Mendesain identitas merek tidak semudah membalikkan telapak tangan; Anda harus mengerahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran untuk menggali pengetahuan dan wawasan tentang antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, arkeologi, heraldika, dan lain-lain, agar identitas yang Anda rancang menawarkan pengalaman rasa yang kuat terhadap produk/jasa/organisasi yang diwakili identitas tersebut.

Sebagai sarjana Ilmu Sejarah lulusan sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia, saya terbiasa dengan penelitian dan pengkajian multidisiplin, tetapi berkaitan dengan rasa tidak ada “sekolah” dengan kualitas pendidikan sebaik Subud. Bekerja dengan diri saya terisi Latihan Kejiwaan, membuat hasilnya selalu ada rasa yang bahkan dapat diterima oleh klien-klien saya meski mereka belum dibuka atau bukan anggota Subud.

Membuka Wikipedia tentang Fàtima, yang cukup kaya dengan foto-foto bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota itu, saya membiarkan Latihan saya untuk menunjukkan apa yang harus saya angkat sebagai Gagasan Besar (ide atau rancangan pemikiran utama yang memiliki visi luas, mendalam, dan transformatif. Gagasan ini biasanya menjadi fondasi untuk menciptakan sebuah karya iklan yang mampu menggerakkan audiens untuk beraksi, atau paling sedikit berrelasi dengan merek). Perhatian saya tercurahkan pada bangunan Basilica of Our Lady of the Rosary. Saya merasakan vibrasi yang kuat walau yang saya hadapi hanya sebuah foto, seolah bangunan itu memanggil saya.

Fotonya saya unduh, lalu saya crop hingga yang tampak adalah bentuk mahkota di pucuk menara utama basilika itu. Saya kemudian mencari foto-foto yang menampakkan berbagai sisi dari mahkota itu. Hal itu mendorong saya untuk googling foto patung Bunda Maria dengan mahkota penobatan kanoniknya. Sambil membayangkan sosoknya saya iseng membuat coretan-coretan di kertas—yang biasa dilakukan para perancang grafis maupun pengarah kreatif. Setelah sekian jam saya membuat coretan, dan tidak memberi hasil, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk mengaplikasikan satu per satu dari berbagai pilihan menu di Filter Gallery di Photoshop di komputer saya, sampai perhatian saya tertuju pada efek Note Paper, Photocopy, Plaster, Stamp dan Torn Edges, yang membuat sosok Bunda Maria dalam foto berubah menjadi laiknya “cipratan-cipratan air”.

Di ranah desain grafis, yang saya lakukan disebut Deformasi, yaitu teknik mengubah, merombak, atau menyederhanakan bentuk asli suatu objek menjadi bentuk baru yang lebih unik, ekspresif, dan komunikatif tanpa menghilangkan identitas atau makna dasarnya. Teknik ini biasanya diterapkan untuk memperkuat karakter, menyampaikan pesan visual, atau menyesuaikan elemen dengan estetika desain secara keseluruhan.

Hasil deformasi gambar Bunda Maria adalah cipratan-cipratan hitam putih. Saya lantas googling lagi, mencari ikon lainnya yang mewakili Portugal. Saya kepincut pada ayam jantan yang dikenal di Portugal sebagai Galo de Barcelos; simbol nasional tak resmi dari Portugal, yang melambangkan kepercayaan, keadilan, kejujuran dan keberuntungan. Suvenir ayam jantan ini dapat ditemukan di mana saja di Portugal dan biasanya berhiaskan gambar hati dan bunga warna-warni. Warna-warnanya yang cemerlang menginspirasi saya untuk saya tuangkan pada cipratan-cipratan air hasil dari deformasi gambar sosok Bunda Maria.

Meski mungkin terlihat saya mempersiapkan logo itu secara tekun dan serius, yang sebenarnya adalah bahwa saya malah tidak serius. Logo yang menang ini adalah Opsi #2, dari dua opsi desain yang saya kirimkan secara tidak bersamaan. Saya menjagokan Opsi #1, walaupun secara tampilan kurang “muda”, tidak merepresentasi semangat keanggotaan Subud yang dewasa ini mengalami regenerasi. Oleh karena itu, saya sangat terkejut ketika diberitahu melalui email dari Koordinator Komunikasi World Congress Organizing Team (WCOT) bahwa desain saya yang Opsi #2 dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang. Saya, bagaimanapun, akhirnya bersyukur bila opsi itu yang terpilih, karena akhirnya saya tersadarkan oleh dinamika spontanitas khas Latihan yang tergambarkan pada grafisnya.

Semoga Kongres Dunia Subud 2028 di Fàtima, Portugal, berlangsung penuh warna optimisme yang secemerlang warna-warna pada logonya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Juni 2026

Untuk rilis berita mengenai desain logo yang menang tersebut, klik URL ini:
https://subud.org/posts/logo-competition-of-the-17th-subud-world-congress-and-the-winner-is

Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026