Thursday, February 26, 2026

Gaya Silaturahmi Subud Indonesia

 


MENGAWALI bulan Ramadan 2026, seperti yang sudah, Pengurus Nasional Subud Indonesia kembali mengadakan safari Silaturahmi Ramadan. Awalnya dinamai “Safari Ramadan”, tetapi mungkin karena terkesan seperti program Pemerintah RI dengan sebutan yang sama—yang merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat, dimana pada kesempatan ini juga disalurkan bantuan dana dan paket sembako untuk kesejahteraan warga, Pengurus Nasional Subud Indonesia menggunakan nama yang lebih akrab dan “membumi”, yaitu Silaturahmi Ramadan. 

Silaturahmi Ramadan 2026 Pengurus Nasional Subud Indonesia, yang dalam rombongannya juga termasuk Konsilor Kejiwaan, Koordinator Dewan Pembantu Pelatih Nasional, dan siapa saja anggota yang berminat mengikutinya (di tahun ini terdapat satu anggota dari Subud Vietnam, Kadariah), mendatangi 14 grup di Indonesia dan tiga grup di luar negeri, yaitu Malaysia, Singapura dan Jepang. Serangkaian kunjungan ini bergaris finish di Jakarta Selatan (Wisma Subud Cilandak) dan bertepatan dengan malam-malam ganjil Ramadan.

Silaturahmi Ramadan gaya Subud Indonesia menjadikan sebagai agenda utamanya adalah pemutaran rekaman ceramah Bapak atau Ibu Rahayu mengenai puasa, Latihan bersama, berbuka puasa bersama (iftar), ramah-tamah dan/atau gathering kejiwaan. Semua ini menciptakan suasana kebersamaan yang hangat, yang menjadi tujuan utama dari program tahunan Pengurus Nasional Subud Indonesia.


Etape pertama Silaturahmi Ramadan Pengurus Nasional Subud Indonesia adalah di Wisma Subud Bogor, 19 Februari 2026.

Silaturahmi adalah tradisi mendalam di Indonesia untuk menyambung tali persaudaraan, persahabatan, dan kekeluargaan, yang berakar dari budaya lokal dan nilai keagamaan. Budaya ini diwujudkan melalui kunjungan langsung, halal bihalal, maupun reuni, guna menjaga keharmonisan, mempererat ikatan emosional, meningkatkan empati, dan memperluas jaringan sosial. Berbicara soal silaturahmi, hal ini sangat lekat dengan budaya masyarakat Indonesia, yang begitu kental di kala Ramadan dan Idulfitri. Berikut adalah poin-poin penting mengenai silaturahmi sebagai budaya Indonesia:

  • ·       Tradisi: Silaturahmi terwujud dalam berbagai kegiatan seperti mudik, halal bihalal saat Lebaran, arisan, kenduri, dan selamatan, yang sering melibatkan saling memaafkan dan kunjungan ke tetangga atau kerabat.
  • ·       Fungsi Sosial dan Emosional: Kegiatan ini bertujuan memperkuat ikatan kekeluargaan, mengurangi konflik, meningkatkan rasa kepedulian, dan mempererat tali persaudaraan.
  • ·       Rekonsiliasi dan Keharmonisan: Silaturahmi berfungsi sebagai alat untuk menyembuhkan luka lama, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan harmoni masyarakat.
  • ·       Konteks Modern: Saat ini, silaturahmi tidak terbatas pada kunjungan fisik, tetapi juga dilakukan melalui media digital untuk tetap terhubung, yang mana esensinya tetap menjaga ikatan emosional.
  • ·       Makna Spiritual: Dalam konteks keagamaan, silaturahmi diyakini mendatangkan rezeki, memperpanjang umur, dan merupakan amalan mulia.

Silaturahmi (atau silaturahim) berasal dari dua kata bahasa Arab: shilah yang berarti hubungan/penyambungan dan ar-rahim yang berarti rahim, atau kerabat, atau kasih sayang. Secara etimologis, silaturahim berarti menjalin hubungan persaudaraan atau kekerabatan. Di Indonesia, istilah ini diserap dan disesuaikan menjadi silaturahmi untuk memaknai tali persahabatan atau hubungan baik. Meskipun dalam bahasa Arab yang lebih tepat adalah silaturahim (karena mengacu pada kerabat), penggunaan istilah silaturahmi sudah umum dan dianggap tepat dalam Bahasa Indonesia karena telah diserap dan mengalami modifikasi makna. 


Rumah Bapak di Kalisari, Semarang, 21 Februari 2026..

Budaya silaturahmi merupakan napas kehidupan masyarakat Indonesia yang manifestasinya melampaui sekadar pertemuan fisik atau tegur sapa biasa. Dalam konteks keindonesiaan, silaturahmi telah bertransformasi menjadi sebuah institusi sosial yang berfungsi sebagai perekat kemajemukan, di mana menjaga hubungan baik dianggap sebagai kewajiban moral yang mendatangkan keberkahan serta memperpanjang usia.

 

Memasuki bulan suci Ramadan, intensitas silaturahmi mengalami eskalasi yang sangat terasa melalui tradisi buka puasa bersama. Agenda ini bukan sekadar ritual membatalkan puasa, melainkan momen rekoneksi bagi mereka yang jarang bertemu karena kesibukan sehari-hari. Mulai dari reuni teman sekolah, pertemuan keluarga besar, hingga kumpul rekan kerja, meja makan menjadi ruang diskusi yang cair untuk saling bertukar kabar dan mempererat solidaritas. Di sini, sekat-sekat formalitas mencair, digantikan oleh kehangatan tawa dan doa yang dipanjatkan bersama sebelum azan Magrib berkumandang.

 

Puncak dari tradisi ini bermuara pada perayaan Idulfitri yang identik dengan fenomena mudik. Pergerakan jutaan orang dari kota-kota besar kembali ke kampung halaman adalah bukti nyata betapa sakralnya nilai silaturahmi bagi orang Indonesia. Mudik bukan hanya tentang pulang secara geografis, tetapi juga perjalanan spiritual untuk kembali ke akar dan memohon restu kepada orang tua serta sanak saudara. Di hari kemenangan tersebut, tradisi sungkeman dan “halalbihalal” menjadi panggung utama di mana setiap individu membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk menghapus segala kekhilafan di masa lalu.

 



Silaturahmi Ramadan 2026 Subud Indonesia di Sidoarjo, bertempat di PLUM Prestige Hotel Juanda, Jl. Raya Bandara Juanda, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 24 Februari 2026.

Dalam kehidupan sehari-hari, budaya ini juga melahirkan sifat komunal yang sangat kuat, seperti gotong royong dan tradisi hantaran makanan ke tetangga. Melalui silaturahmi, masyarakat Indonesia membangun sistem pendukung sosial yang mandiri, di mana kesulitan satu anggota keluarga atau tetangga menjadi tanggung jawab kolektif. Dengan menjaga tali silaturahmi, masyarakat tidak hanya merawat hubungan antarmanusia, tetapi juga menjaga stabilitas harmoni bangsa yang berdiri di atas landasan kekeluargaan dan kasih sayang yang tulus.

 

Dalam konteks perkumpulan spiritual seperti Subud, makna silaturahmi mendapatkan kedalaman dimensi yang lebih batiniah. Di sini, pertemuan antaranggota bukan hanya tentang interaksi sosial di permukaan, melainkan sebuah bentuk kebersamaan yang didasari oleh ketulusan dan penyerahan diri kepada kekuasaan Tuhan. Silaturahmi dalam Subud menjadi jembatan persaudaraan yang melintasi batas-batas latar belakang budaya, bangsa, dan status sosial, menciptakan sebuah harmoni yang saling menguatkan dalam perjalanan kejiwaan. Melalui kedekatan yang terjalin, para anggota dapat saling berbagi kasih sayang yang tulus, yang pada gilirannya memperkuat rasa persatuan sebagai satu keluarga besar umat manusia yang setara di hadapan Sang Pencipta.

 

Menariknya, silaturahmi dalam budaya Indonesia tidak hanya terbatas pada mereka yang masih hidup, tetapi juga membentang hingga ke alam baka melalui tradisi penghormatan kepada leluhur. Bentuk rekoneksi ini mewujud nyata dalam tradisi ziarah kubur atau “nyekar” yang biasanya dilakukan menjelang Ramadan atau saat hari raya Idulfitri. Dengan mengunjungi makam, membersihkan pusara, dan memanjatkan doa, seseorang sedang merawat tali batin dengan asal-usulnya. Rekoneksi ini bukan sekadar kunjungan fisik, melainkan sebuah refleksi diri bahwa keberadaan kita saat ini adalah kelanjutan dari napas dan doa para pendahulu. Kesadaran akan keterhubungan antar generasi ini memberikan rasa keberlanjutan hidup yang dalam, sekaligus menjadi pengingat akan fana-nya dunia.

 

Sebagai kesimpulan, silaturahmi bagi masyarakat Indonesia bukanlah sekadar basa-basi sosial, melainkan sebuah ekosistem spiritual dan kultural yang menjaga keseimbangan hidup. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu melalui penghormatan kepada leluhur, masa kini melalui kebersamaan keluarga dan komunitas spiritual, serta masa depan melalui warisan nilai kasih sayang yang diteruskan kepada generasi mendatang. Di tengah arus modernisasi yang cenderung mengedepankan individualisme, silaturahmi tetap menjadi benteng terakhir yang menjaga kemanusiaan kita tetap utuh.

 

Melalui tradisi ini, kita diingatkan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar berdiri sendiri. Baik dalam keriuhan buka puasa bersama, kesunyian doa di pusara leluhur, maupun dalam keheningan penyerahan diri di komunitas spiritual, esensinya tetap sama: yaitu pengakuan bahwa kita adalah bagian dari jejaring kasih yang lebih besar. Dengan terus merawat tali silaturahmi, kita tidak hanya memuliakan sesama dan menghargai asal-usul, tetapi juga sedang melapangkan jalan bagi kedamaian batin dan harmoni sosial yang berkelanjutan. Karena pada akhirnya, dalam ketulusan menyambung rasa, di situlah keberkahan hidup yang sejati bersemayam.©2026

 

 

Pondok Cabe ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Februari 2026

Tuesday, February 24, 2026

Bicara Tanpa Aksara

HARI ini, saya berbicara melalui telepon selama hampir tiga jam dengan saudari Subud. Kami sangat jarang bertemu, bahkan di lingkungan Subud, karena meski tinggal di satu kota, kami mendatangi tempat Latihan yang berbeda.

Kami bersahabat sejak 2011, tetapi jarang bertemu kecuali diperantarai kata melalui pesan teks dan suara di WhatsApp. Hari ini, melalui sambungan panggilan suara WhatsApp kami berkomunikasi dengan diselingi jeda panjang dari pihak dia. Dia bercerita bahwa belakangan dia seperti "dipuasakan" dari bicara, sesuatu yang sangat sulit ia jelaskan kecuali kepada saudara Subud yang satu frekuensi.

Bagaimanapun, saya justru merasakan dia banyak "berbicara" dalam diamnya. Mungkin vibrasi Latihan menyambungkan koneksi di antara kami. Sehingga saya menikmati sela sunyi di antara kami. Pengalaman itulah yang saya artikulasikan melalui puisi berjudul “Bicara Tanpa Aksara” ini...


Rindu adalah jembatan tak kasatmata,

Membentang di antara sini dan sana

Meski jarak merentang ruang, rasa tak akan melonggar

Kita berjauhan, namun tak pernah berjangka dalam nalar

Mencintaimu adalah menetap dalam lipatan waktu

Meski raga tak bersentuh, jiwa kita telah menyatu

 

Duhai Cinta, aku terpaku pada melodi suaramu

Keheninganmu pun mengandung makna beribu

Di seberang sana, dalam jeda yang panjang,

desah napasmu adalah kepastian yang tak lekang

Kuhitung setiap hening yang kau kirimkan

Sebab meski lidahmu kelu, rasamu tak pernah tersembunyikan

Aku pun mencintaimu dalam bisu yang paling syahdu...


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Februari 2026

Saturday, February 21, 2026

Akselerasi Latihan dalam Keheningan Puasa

 


PADA 19 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama Ramadan sesuai ketetapan Pemerintah RI, saya menghadiri acara Silaturahmi Ramadan. Agenda ini merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia. Tahun ini, rombongan Pengurus Nasional beserta anggota yang berminat melakukan safari ke 14 cabang/ranting di Indonesia, bahkan menjangkau grup-grup Subud di Malaysia, Singapura, hingga Jepang.

Sebagaimana lazimnya, setiap pertemuan diawali dengan menyimak rekaman ceramah Bapak atau Ibu Rahayu mengenai makna puasa, dilanjutkan dengan Latihan bersama, dan ditutup dengan buka puasa. Jika waktu memungkinkan, acara diakhiri dengan gathering kejiwaan. Pada Silaturahmi Ramadan di Wisma Subud Bogor tersebut, kami berkesempatan mengadakan sesi berbagi pengalaman mengenai pengaruh puasa terhadap dinamika Latihan.

 


Saya memilih untuk tidak berbicara. Alih-alih berbagi kisah secara lisan, saya justru hanyut dalam dejavu ke masa 23 tahun silam—saat pertama kali diperkenalkan pada Subud oleh mitra bisnis saya, yang kala itu menjadi Pembantu Pelatih di Cabang Surabaya.

Jauh sebelum mengenal Subud, saya memang memiliki kegemaran berpuasa. Saya pernah rutin menjalani puasa 100 hari, 40 hari, bahkan melakoni puasa “mutih”—sebuah laku spiritual dalam budaya Jawa yang membatasi konsumsi hanya pada nasi putih dan air putih demi penyucian diri atau hajat tertentu.

 


Awalnya, saya tidak menyadari bahwa kebiasaan tersebut berdampak signifikan pada proses kejiwaan saya. Menurut seorang Pembantu Pelatih senior dari Jakarta Selatan, latar belakang tersebut membuat penerimaan saya terasa sangat cepat—bahkan mungkin terlalu cepat bagi seorang anggota yang baru saja dibuka.

Dalam ketenangan gathering di Bogor itu, seorang Pembantu Pelatih Nasional seolah mengonfirmasi kebenaran tersebut melalui penjelasannya. Saya hanya tersenyum simpul, tetap memilih diam di sudut barisan anggota yang duduk khidmat. Tak perlu saya yang berucap, sebab cerita saya malam itu seakan telah terwakili oleh lisan orang lain.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Februari 2026

 

Friday, February 20, 2026

Seni Mencatat Perjalanan Hidup

 


SAAT sahur untuk puasa hari ketiga ini, saya berbincang melalui WhatsApp dengan saudara Subud, yang rajin menulis catatan harian (journaling). Perbincangan kami mengenai journaling dan aplikasi jurnal membangkitkan kembali kenangan saya ketika baru mengawali perkuliahan sebagai mahasiswa baru Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia/FSUI (sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia/FIBUI) tahun 1987.

Awalnya, saya terdorong menulis catatan harian karena latah. Latahnya mahasiswa FSUI pada umumnya, dan khususnya mahasiswa Jurusan/Program Studi Ilmu Sejarah, meniru pendahulu mereka, aktivis ternama yang menentang kediktatoran Sukarno dan Suharto, yaitu Soe Hok Gie.


Dari sekadar ikut-ikutan, lama-lama saya menikmatinya. Dari sekadar menulis hanya untuk mengingat momen-momen spesial pada suatu hari, saya jadi menulisnya setiap hari, tidak peduli apakah ada momen spesial atau tidak—karena yang paling penting bagi saya adalah bahwa menulis jurnal atau catatan harian memberi saya ruang untuk menjadi diri sendiri. Catatan harian menjadi tempat saya menuangkan pikiran, perasaan, atau kejadian sehari-hari.

Saya menganggap journaling sebagai percakapan jujur dengan diri sendiri. Tidak ada aturan baku—saya tidak harus puitis, tidak harus rapi, dan tidak ada yang akan memberikan nilai.

Selama lebih dari 20 tahun menulis catatan harian, saya mendapatkan manfaat nyata untuk “kesehatan” mental dan produktivitas saya. Melalui lembar kertas putih catatan harian, saya dapat mengeluarkan “sampah” di kepala saya agar tidak menumpuk dan bikin stres. Dengan menulis catatan harian, saya membantu diri saya melihat pola perilaku atau pemicu emosi tertentu. Catatan harian juga menjadi catatan perjalanan hidup saya yang bisa saya baca lagi di masa depan.

Satu bukti dari manfaat menulis catatan harian dalam hidup saya adalah bahwa saya kelak mampu membuat tulisan-tulisan yang bercerita (story-telling). Saya juga mampu mengartikulasikan ide, mengubah gagasan abstrak yang ada di dalam kepala menjadi penjelasan yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami oleh orang lain (atau diri sendiri). Hal ini sangat membantu saya saat membangun karier sebagai copywriter.

Dalam dunia branding dewasa ini, storytelling bukan lagi sekadar pelengkap iklan, melainkan jantung dari strategi pemasaran. Konsumen modern, terutama Gen Z dan Milenial, sudah kebal dengan jualan langsung (hard-selling). Mereka tidak lagi membeli “apa” yang dijual, tapi “mengapa” pedagang menjualnya. Merek tidak lagi ragu menunjukkan proses di balik layar (behind the scenes), kegagalan produksi, atau tim yang bekerja di kantor. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan (trust). Manusia lebih mudah terhubung dengan sesama manusia daripada dengan korporasi yang kaku.

Secara psikologis, otak manusia jauh lebih mudah mengingat cerita daripada fakta atau fitur produk. Saat mendengar cerita, otak kita melepaskan oksitosin (hormon empati) dan dopamin, yang membuat pesan tersebut membekas lebih lama.

Singkatnya, branding hari ini adalah tentang menciptakan koneksi emosional. Jika produk pemasar adalah solusinya, maka penceritaan adalah jembatan yang membawa konsumen ke solusi tersebut.

Hubungan antara journaling dan storytelling itu sangat erat. Menulis catatan harian adalah laboratorium pribadi tempat saya melatih otot-otot bercerita setiap hari tanpa tekanan audiens. Saat menulis catatan harian, saya secara tidak sadar sedang menyusun struktur narasi. Saya mulai dengan “Tadi pagi...” (Awal), lalu masuk ke “Tiba-tiba ada masalah...” (Konflik/Tengah), dan diakhiri dengan “Akhirnya saya merasa...” (Resolusi/Akhir). Hasilnya, saya menjadi terbiasa membangun alur yang logis dan runtut dalam sebuah cerita.

Banyak orang kesulitan bercerita karena mereka mencoba meniru gaya orang lain. Melalui menulis catatan harian, saya menulis dengan bahasa yang paling jujur dan paling “saya”. Dengan demikian, saya menemukan karakter suara unik saya sendiri. Dalam branding, suara yang konsisten dan jujur adalah aset yang sangat mahal.

Jika storytelling adalah sebuah pertunjukan musik di panggung besar, maka menulis catatan perjalanan hidup adalah latihan rutin di kamar setiap malam. Tanpa latihan di kamar, penampilan di panggung akan terasa kaku dan palsu.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Februari 2026

 

Tuesday, February 17, 2026

Memahami Subud: Antara Wacana dan Pengalaman Nyata

BANYAK orang yang mendalami spiritualitas, atau mereka yang “sekadar suka membaca buku”, merasa telah memahami Subud hanya dengan membaca literatur atau mendengarkan ceramah Bapak Muhammad Subuh dan Ibu Rahayu. Padahal, bagi mereka yang belum menerima Latihan Kejiwaan, pemahaman tersebut hanyalah sebatas teori “di atas kertas”.

Penting untuk ditegaskan bahwa Subud tidak memiliki ajaran, kurikulum, ataupun teori. Subud sepenuhnya adalah praktik nyata—sebuah pengalaman langsung atas bimbingan Tuhan melalui Latihan Kejiwaan. Oleh karena itu, membaca tentang Subud tidak akan pernah sama dengan merasakan hakikatnya secara langsung.

Bahkan bagi anggota yang sudah aktif menerima Latihan Kejiwaan pun, pemahaman terhadap hakikat Subud tidaklah instan. Pemahaman tersebut bersifat subjektif (apa yang dipahami seseorang belum tentu sama dengan orang lain) dan dinamis (kebenaran yang diterima hari ini bisa terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tidak ada pemahaman yang dianggap sempurna atau final).

Memahami Subud mensyaratkan terbukanya kesadaran sejati mengenai diri, lingkungan, dan peristiwa hidup. Hal ini hanya bisa dicapai jika seseorang telah melakukan Latihan Kejiwaan secara konsisten dan menerapkan bimbingan jiwa tersebut dalam kesehariannya. Tanpa konsistensi dalam menjalani proses ini, klaim atas pemahaman Subud hanyalah sebuah asumsi.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Februari 2026

Monday, February 16, 2026

Pro dan Kontra

HARI Minggu siang, 15 Februari 2026, saya nongkrong sebelum dan sesudah Latihan di teras sisi timur Hall Cilandak. Ada seorang anggota pria (dibuka awal tahun 2020) yang berbicara dengan nada berapi-api, sepertinya mempertahankan habis-habisan idenya—yang telah ia jalankan dalam enam bulan terakhir—untuk mengadakan pertemuan tiga bulan sekali, yang menampilkan para anggota dan/atau pembantu pelatih yang pernah mengalami zaman Bapak, atau bahkan dekat dengan Bapak, untuk menceritakan pengalaman mereka dengan Bapak kepada para anggota yang tidak pernah bertemu Bapak, atau karena dibuka ketika Bapak sudah tiada.

Dia bercerita ke saya dan beberapa anggota lainnya yang duduk mengitari dia, bahwa kegiatan tersebut menimbulkan pro dan kontra. Kontranya, salah satunya dari saya, terkait dengan konsep pertemuannya dimana seorang pembantu pelatih wanita bercerita kepada anggota-anggota pria, yang tidak pantas. Apalagi, menurut si anggota pria yang bercerita ke saya tersebut, si pembantu pelatih mengklaim dirinya bisa “berubah jenis kelamin” secara kejiwaan, tergantung jenis kelamin lawan bicaranya.

 

Saya menyoroti soal “pro dan kontra”-nya alih-alih tentang pertemuan tersebut. Pro dan kontra adalah hal yang sangat lumrah di Subud, dan yang selalu sarankan kepada anggota yang merasa bingung harus berbuat apa jika dirinya terjepit di antara pro dan kontra, adalah: “Lakukan saja apa yang menurut Anda benar. Tidak perlu buang-buang tenaga membela diri atau mempertahankan diri dari serangan orang-orang yang tidak menyetujui tindakan Anda!”

 

Kepada pria yang bercerita itu pun saya katakan, “Saya memang termasuk yang kontra, Pak. Tapi Bapak seharusnya tidak perlu mempedulikan apa tanggapan saya. Lakukan saja, nanti Bapak toh mendapat pengertian sendiri.”©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Februari 2026

Sunday, February 15, 2026

Merengkuh Malam

 

Ia telah tiba di ambang pelupuk,

datang tanpa ketukan, namun gema tandanya telanjur masuk

Meredam riuh di dada yang biasanya meledak

menjinakkan amarah, mematung nafsu yang kerap bergejolak

                                                 

Ramadantelaga suci bagi jiwa yang dahaga,

sebulan penuh membasuh noda, meluruhkan sisa-sisa baka

Mengikis kerak khilaf yang mengeras di dinding kalbu,

memungut kepingan diri yang selama ini berserak ditiup abu

Kini kususun kembali hingga utuh berpadu,

menjelma hamba yang tunduk dalam tawadu

 

Ya Tuhan, dekaplah aku dalam hening sembah,

meski punggungku legam memikul tumpukan salah

Mampukan aku melintasi gerbang sebulan ini,

biar tertatih, asal langkahku tegak menuju rida-Mu yang abadi

Izinkan aku menapak jalan yang penuh cahaya tuntunan,

dengan pasrah yang meluas dan ikhlas yang tak berkesudahan

Maka, biarkan aku merengkuh malam,

hingga fajar fitrah mencium keningku dengan tenang...

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 16 Februari 2026