SATU pembantu pelatih muda dari Cabang Jakarta Selatan (tapi sejak 2023 pindah ke Cabang Jakarta Pusat) memberitahu saya beberapa tahun lalu bahwa ia diberi tugas oleh satu pembantu pelatih tua untuk “mengawasi anak-anak Teras Timur”, terutama karena “tempat itu menarik minat anggota baru untuk setia nongkrong di situ dan mendengarkan penjelasan mereka yang bukan pembantu pelatih”. Pembantu pelatih muda itu menolak penugasan yang dianggapnya konyol nan lucu itu, karena dia kenal baik dengan saya bukan sebagai seseorang yang berpotensi menimbulkan keonaran, tetapi hanya suka usil membuat lelucon sarkastis tentang berbagai hal di Subud.
Teras Timur maupun Teras Barat, Utara dan Selatan terbuka bagi siapapun yang ingin nongkrong di situ. Teras Timur menjadi strategis karena di sisi Hall Cilandak itulah terletak baik toilet wanita maupun toilet pria, dan kini menjadi satu-satunya tempat di seputar Hall dimana merokok tidak dilarang. (Stiker “Dilarang Merokok” pernah dipasang di dindingnya tetapi dicabut oleh satu pembantu pelatih berkebangsaan Amerika yang suka merokok.)
Yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka yang di Teras Barat hanya berdasarkan prasangka, dan tidak pernah ada niat untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi di Teras Timur—mereka nyaman dengan prasangka mereka. Beberapa anggota baru tahun 2016 menyampaikan ke saya, ketika mereka mulai nongkrong di Teras Timur, bahwa ketika melalui masa kandidatan tiga bulan mereka mereka telah diwanti-wanti oleh Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Jakarta Selatan kala itu agar tidak bergaul dengan Teras Timur atau ikut grup WhatsApp “Subud 4G” (grup WhatsApp yang saya ciptakan sebagai tempat nongkrong digital dengan semangat seperti Teras Timur). Padahal si PPD tidak pernah nongkrong di teras timur, kecuali sesekali karena ditawari rokok, kopi dan camilan gratis.
Saya pernah selama dua tahun, pasca pandemi, selalu menghabiskan waktu setelah Latihan nongkrong di Teras Barat. Terasa sekali kekakuan mereka yang nongkrong di situ; terasa mereka menahan diri dari bercanda atau mengobrol santai, seolah tempat itu sakral. Saya telah berusaha membuat suasananya lebih hidup, tetapi perubahannya hanya sedikit dan sebentar. Saya belum pernah, hingga kini, menemukan penyebab kekakuan itu.
Mungkin
suasana feodalistik (meminjam istilah dari beberapa anggota yang pernah lama
menjadi bagian dari Teras Barat sebelum akhirnya pindah ke Teras Timur) itu
disebabkan oleh kenyataan bahwa hingga sebelum pandemi, Ibu Rahayu selalu
menunggu waktu Latihan wanita di situ. Banyak anggota terlalu sungkan pada Ibu,
tidak berani “banyak tingkah” di hadapan beliau. Mungkin daya Ibu tertinggal di
Teras Barat, yang menyebabkan siapapun yang nongkrong di situ tetap tidak bisa
sesantai Teras Barat.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026





.jpeg)