Sunday, May 17, 2026

Bagaimana Menulis dan Memasak Saling Membantu

SAAT menjamu Manajer CSR dari perusahaan klien saya di sebuah restoran mewah di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Mei 2026 lalu, sang Manajer, yang sering melihat status WhatsApp atau Story Instagram saya, berkata, “Pak Arifin suka memasak juga ya?” Saya iyakan. “Enak mana, Pak Arifin, menulis atau memasak?” tanyanya kemudian.

Sambil memotong ikan berbalut tepung goreng dan menusuk sepotong kentang wedges di piring di hadapan saya, saya bercerita bahwa menulis dan memasak memiliki kesamaan. Menulis meracik rasa jiwa agar dapat terkoneksi dengan sisi terdalam pembaca, sedangkan memasak membuat saya meracik rasa selera pemakannya.

Bagi sebagian orang, dapur dan meja kerja adalah dua dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu dipenuhi aroma bawang putih yang ditumis, percikan minyak, dan denting sudit bertemu wajan. Yang lain sunyi, hanya diiringi ketukan kibor, berhadapan dengan layar putih yang menanti untuk diisi. Tetapi, jika Anda bersedia duduk sejenak di ambang pintu yang menghubungkan kedua ruangan ini, Anda akan menyadari bahwa juru masak dan penulis sebenarnya sedang melakukan ritual yang persis sama: mereka sedang meracik mentah menjadi matang, mengubah kekacauan menjadi sebuah mahakarya yang bisa dinikmati.

Kemiripan ini bermula sejak langkah paling awal, yaitu saat saya berhadapan dengan bahan baku. Sebagai penulis, saya tidak langsung melahirkan naskah; saya mengumpulkan serpihan ide, potongan memori, dan riset mendalam. Ini sama persis dengan seorang juru masak yang berdiri di pasar, memilih sayuran paling segar, memilah rempah-rempah, dan membayangkan bagaimana rasa daging yang segar akan berpadu dengan ketumbar dan jintan. Bahan baku dalam menulis adalah kata-kata, sedangkan dalam memasak adalah bahan pangan. Keduanya menuntut kepekaan yang sama. Jika Anda terbiasa memilih kata yang tepat agar kalimat tidak terasa hambar, Anda akan secara otomatis melatih insting yang sama saat menakar garam agar sup tidak terasa hambar.

Keajaiban yang sesungguhnya baru terjadi saat proses pencampuran dimulai. Di sinilah struktur mengambil alih. Dalam memasak, ada urutan yang tidak boleh dilanggar; saya tidak bisa memasukkan daun kemangi di awal tumisan karena aromanya akan hilang, sebagaimana saya tidak bisa membongkar plot solusi masalah di bab pertama. Menulis mengajarkan saya tentang ritme dan tempo, tentang bagaimana membangun kisah sebelum mencapai klimaks cerita. Ketika insting narasi ini terlatih, saya akan terbawa ke dapur. Saya menjadi paham kapan harus membesarkan api untuk memberi efek karamelisasi yang dramatis pada daging, dan kapan harus mengecilkan api agar bumbu meresap perlahan dalam kesunyian yang sabar.

Selain masalah teknis, jembatan terbesar antara menulis dan memasak terletak pada seni menyunting. Tidak ada draf pertama yang langsung sempurna, begitu pula tidak ada masakan yang langsung pas rasanya pada cicipan pertama. Menulis melatih saya untuk berani “membuang bagian yang tidak perlu”—memotong paragraf yang indah tapi tidak menggerakkan cerita. Di dapur, kemampuan menyunting ini menjelma menjadi keberanian untuk mengoreksi rasa. Saat sup terlalu asin, saya yang terbiasa memecahkan masalah dalam plot akan berpikir kreatif, menambahkan sedikit gula atau sejumput garam untuk menyeimbangkannya, bukan malah menyerah dan membuang seluruh masakan.

Pada akhirnya, kedua aktivitas ini melatih satu otot spiritual yang sama, yaitu empati. Juru masak yang baik tidak memasak untuk dirinya sendiri; ia memasak dengan membayangkan senyum di wajah orang yang menyantapnya. Penulis yang baik pun menulis dengan membayangkan bagaimana pembaca akan terhanyut dalam emosi di setiap lembarnya.

Oleh karena itu, saat saya merasa buntu di depan komputer dan kata-kata seolah enggan mengalir, beranjaklah saya ke dapur. Mengiris sebatang daun bawang, mendengarkan desis minyak saat menyentuh wajan, dan membiarkan indra saya beristirahat dari logika kata. Begitu pula sebaliknya, saat eksperimen dapur saya gagal, saya akan duduk dan menulis apa yang salah. Dengan membiarkan kedua dunia ini saling mengisi, saya tidak hanya sedang belajar menjadi juru masak yang lebih peka, tetapi juga seorang penulis yang menyajikan cerita dengan bumbu kehidupan yang jauh lebih kaya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Mei 2026

Wednesday, May 13, 2026

Pertama Kali Percaya Testing


DI DUA tahun pertama saya sejak dibuka di Subud, saya sama sekali tidak percaya pada testing. Hal itu berubah ketika saya “terpaksa” melakukannya, dan itu terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah, yang saya kunjungi bersama lima saudara Subud dari Jakarta Selatan, seminggu setelah gempa besar meluluhlantakkan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kami berenam meluncur ke Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyalurkan bantuan bagi para anggota Subud di kawasan gempa yang menjadi korban, baik yang luka-luka maupun yang sampai kehilangan tempat tinggal.

Kami singgah di Desa Paseban, di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu pembantu pelatih yang bersama kami dari Jakarta memiliki paman yang tinggal di kaki bukit di desa tersebut. Sebuah masjid—yang dikenal sebagai Masjid Gholo—berdiri kokoh di pucuk bukit. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu kabarnya dipindah dari tempatnya semula di Yogyakarta secara digeser dengan kekuatan gaib ke lokasi baru di puncak bukit itu. Meski dianggap legenda belaka, rata-rata warga lokal percaya bangunan masjid itu benar-benar dipindah dengan cara digeser oleh seorang wali Islam yang memiliki kesaktian. Untuk menguji kebenarannya, si pembantu pelatih menyuruh saya melakukan testing kejiwaan.

Awalnya, saya bersikeras menolak karena saya tidak percaya omong kosong testing dan cerita soal masjid itu. Tetapi si pembantu pelatih memastikan bahwa kejadian pemindahan masjid itu secara gaib memang benar-benar terjadi. “Kamu testing ya, cari tahu siapa orang yang telah menggeser masjid itu,” kata si pembantu pelatih ke saya. Ia menyuruh saya duduk bersila di tengah pekarangan rumah pamannya, menghadap bukit di mana masjid itu berada. Saya memejamkan mata dan memulai testing, dengan pertanyaan yang saya ucapkan dalam hati: “Siapa yang memindahkan masjid itu ke puncak bukit?”

Saya tiba-tiba merasakan suatu suasana yang asing (sulit dijelaskan), kemudian melihat sosok berjubah dan bersorban berdiri dengan kedua lengannya bersedekap, di sebelah si pembantu pelatih. Saya membatinkan pertanyaan, “Siapa Anda?”, dan memperoleh pengertian bahwa sosok itu adalah Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali Islam di tanah Jawa, atau Wali Sanga.

Saya sudahi testingnya, membuka mata saya lalu membuka mulut saya: “Saya melihat sosok Sunan Kalijaga!”

Si pembantu pelatih berkata bahwa saya berhasil mendapatkan jawaban melalui testing. Momen itu pertama kalinya saya mulai percaya testing ala Subud. Selanjutnya, bagaimanapun, saya tidak pernah lagi menggunakan testing untuk mendapatkan jawaban atas misteri-misteri atau peristiwa supranatural yang bagi saya tidak ada gunanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Mei 2026

 

 

Sunday, May 10, 2026

Gorengan dan Kesesatan

SEJAK pertengahan Desember 2022 saya reguler Latihan di Ranting Pamulang yang berjarak sekitar 5 km dari rumah saya, dan sangat jarang ke Wisma Subud Cilandak—hampir 10 km dari rumah saya. Kalau hari Minggu, 10 Mei 2026, saya Latihan di Cilandak, adalah karena selama seminggu ini saya kehilangan kesempatan Latihan di Pamulang lantaran saya sakit dan cuaca buruk.

Kalau ke Cilandak, tempat nongkrong saya adalah di “Teras Timur”, teras di sisi timur Hall Latihan Cilandak, yang disangka dan mendapat julukan “Kelompok Subud Sesat” oleh mereka yang tidak pernah nongkrong di situ, dan selalu tersebut nama saya di samping dua anggota lainnya (salah satunya meninggal pertengahan Desember 2024) sebagai “pentolan kelompok”. Anggapan yang tentu saja salah, karena geng Teras Timur terbentuk secara organik, tanpa pernah saya rencanakan atau inginkan. Mengapa disebut “sesat”, karena mereka yang menganggap begitu hanya mendengar selentingan bahwa obrolan kejiwaan dari orang-orang yang nongkrong di situ “keluar dari arus utama”. Padahal kami hanya suka mencandai penerimaan atau pengalaman masing-masing dengan Latihan.

Jarang sekali ada wanita yang ikut gathering tidak resmi di situ, kecuali mereka yang kenal baik dengan kami, dan kebetulan lewat dalam perjalanan mereka ke toilet wanita, yang memang berlokasi di sisi timur hall Latihan. Para pembantu pelatih telah mencegah para anggota baru untuk bergabung di geng Teras Timur agar tidak cepat “terganggu”. Tidak pernah pula pengurus Cabang Jakarta Selatan ataupun Nasional yang dengan sadar mau meluangkan waktu untuk nongkrong di Teras Timur, sehingga agak mengejutkan kami, geng Teras Timur, ketika siang kemarin, pasca Latihan, Ketua Umum Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia 2025-2027, Muhammad Ridwan, dan satu pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tiba-tiba bergabung dengan kami. Sontak semua diam, padahal sebelumnya obrolan kami ramai.

Ketua Umum Pengurus Nasional memancing kami untuk mau buka mulut, berbagi cerita pengalaman atau pemahaman, tetapi semua membisu. Dengan cuek saya pun berkata, “Asyiknya ngobrol itu kalau ada gorengan, Mas!” Ketua Umum Pengurus Nasional pun membeli gorengan secara daring dan menelepon salah satu dari para anggota wanita yang berjualan makanan dan minuman di pekarangan depan Hall Cilandak. Ketua Umum Pengurus Nasional memborong semua jualan mereka dan meminta agar dibawa ke Teras Timur. Barulah suasana cair. Di antara topik pembicaraan pertama, saya tertarik pada pertanyaan Ketua Umum Pengurus Nasional: “Kalau bertanya, apa alasan seseorang masuk Subud, itu sudah biasa. Coba, tanya dong mengapa seseorang bertahan di Subud.”

Saya menyeletuk, “Itu yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri... mengingat saya di awal mengenal Subud saya bukanlah orang yang berminat pada spiritualitas. Kalau tidak dipancing dengan makanan enak, mungkin saya tidak pernah masuk Subud.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Mei 2026

Saturday, May 9, 2026

Modal Lain

TAHUN 2009, lantaran diare tidak kunjung berhenti selama lebih dari dua minggu—karena stres yang disebabkan oleh pekerjaan, saya dikenalkan oleh almarhum Pak Otjo Wiroreno (anggota Subud Jakarta Selatan) ke dr. Harry Angga, seorang dokter asal Bandung yang berhenti berpraktik dokter medis, beralih ke alternatif. Berbekal ilmu kedokteran Barat dari Jerman dan ilmu penyembuhan Timur dari Tiongkok, beliau menciptakan metode penyembuhan diri sendiri (auto-therapy) yang beliau namakan senam olah napas dan gerak Bio Energy Power atau BEP. Dilatih langsung oleh dr. Harry, pada pelatihan pertama itu diare saya langsung reda.

Disarankan oleh dr. Harry, agar saya BEP sehari dua kali, pagi dan sore, masing-masing 15 sampai 30 seri. Satu seri terdiri dari tiga jurus yang sangat mudah gerakannya, bisa dilakukan anak-anak maupun orang tua, dalam posisi duduk atau berdiri. Selain saya dan Pak Otjo, anggota Subud lainnya yang ikut pelatihan BEP tahun 2009 itu adalah istri saya, Mas Luthfie, dan Pak Isa Anshori (dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta yang menderita tumor tenggorokan). Yang ajaib, tiap kali berlatih BEP bersama di kompleks Bank Mandiri Cipete, Jakarta Selatan, di mata dr. Harry Angga dan para peserta lainnya, yang dari Subud itu “tampak berbeda” dan efek kesembuhannya serta kesehatannya juga cepat, dalam sekejap. Seperti diare saya dan tumor tenggorokannya Pak Isa, reda atau hilang segera pada pelatihan pertama.

Dan menurut kesaksian para peserta lainnya, para praktisi BEP dari Subud gerakannya serasi, selalu bersemangat dan pasca latihan BEP selalu kelihatan lebih segar dan bugar. Dokter Harry sendiri beberapa kali mengungkapkan kekagumannya, karena sebagai kreator BEP beliau belum pernah mengalami atau merasakan efek sekejap dari BEP seperti halnya yang dialami atau dirasakan oleh praktisi yang dari Subud.

Saya terpikir untuk berbagi cerita ini, setelah barusan seorang praktisi BEP lama, yang tidak saya kenal, mengirim pesan WhatsApp ke saya (nomor saya dia dapat dari mailing list BEP yang sudah tidak aktif), menanyakan apa saya punya modal lain selain BEP kok bisa “sukses” dalam latihan BEP, sedangkan dia sudah bertahun-tahun belum merasakan manfaatnya. Ya, saya sampaikan apa adanya... mungkin karena saya barengi dengan Latihan Kejiwaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 Mei 2026

Thursday, May 7, 2026

Menguasai Teknik Penceritaan Melalui LDR

SEORANG relasi bisnis meminta kesediaan saya untuk mengajari para staf pemasaran di perusahaannya dalam teknik penceritaan sebagai cara untuk meningkatkan penjualan. Saya bersedia, tentu saja. Saya bercanda—ketika ditanya berapa sesi yang dibutuhkan untuk seseorang bisa jago dalam penceritaan—bahwa menulis membutuhkan pembelajaran seumur hidup.

Sebagai pendahuluan, saya bercerita bahwa kemampuan saya menulis narasi pemasaran dengan teknik penceritaan dipicu oleh hubungan jarak jauh (long-distance relationship/LDR) saya dengan pacar saya (yang kini telah menjadi istri saya). Alkisah, pada tahun 1994, ketika saya menjalankan LDR itu, saya menulis surat cinta berlembar-lembar untuk menyambungkan jarak rindu kami. Setiap minggu saya menulis dan mengirim surat berstempel Kilat Khusus ke pacar saya. Suatu hari, ketika saya tengah menulis surat, teman saya datang. Ia membaca suratnya dan berkomentar, “Tulisan lo mengalir, enak dibacanya. Lo pintar bercerita. Lo seharusnya jadi copywriter.”

Saat itu, saya belum tahu apa itu “copywriter”. Saya baru tahu ketika pada akhir Oktober 1994 saya diterima bekerja di Matari Advertising dan mendapat ruang kerja sementara di perpustakaan biro iklan raksasa Indonesia itu, dimana saya menemukan delapan buku tentang copywriting.

Salah satu kiat untuk copywriting yang hebat ternyata ditawarkan kedelapan buku tersebut: “Menulislah seolah Anda sedang menulis surat kepada kekasih Anda.” Itulah teknik terkuat penceritaan yang selalu saya sampaikan kepada para peserta workshop copywriting yang saya saya berikan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Mei 2026

Friday, May 1, 2026

Menghidupkan Sebuah Karya

SATU saudara Subud di Jakarta tidak suka bila sebuah karya tulis dibuat dengan bantuan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Tidak ada rasanya, tidak ada jiwanya, kalau pakai AI,” kata dia.

Tahun lalu dia dan saya menghadiri acara peluncuran buku karya teman kami (dia bukan anggota Subud). Dalam bedah bukunya, si penulis berterus terang bahwa ia menggunakan bantuan Gemini AI untuk merangkai kalimat-kalimat dalam bukunya. Parahnya, di testimoni dari salah satu peninjau buku tersebut, di cover belakangnya, tertulis bahwa penulis buku adalah seorang “spiritualis”, yang bagi saudara Subud itu terasa konyol. Bagi dia, seorang spiritualis seharusnya mengandalkan rasa, alih-alih teknologi.

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan saudara Subud itu, karena pengalaman telah menunjukkan ke saya bahwa bukan apa alatnya melainkan ketenangan batin kitalah yang dapat “menghidupkan” sebuah karya. Pengalaman baru-baru ini lagi-lagi membuktikan kebenaran itu.

Saat ini, saya sedang menjadi freelance copywriter di sebuah firma kehumasan yang menggarap proyek penulisan coffee-table book dalam rangka ulang tahun ke-25 sebuah perusahaan. Fee yang tidak sesuai dengan tingkat kerepotannya serta waktu yang kelewat mepet membuat saya mengambil jalan pintas: Menggunakan AI untuk merancang bangun teksnya. Saya tulis prompt sesuai dengan apa-apa yang disyaratkan klien dalam hal penulisan.

Ada satu hal lain yang menginspirasi saya untuk menggunakan bantuan AI, yaitu cerita dari “kalangan dalam” Pamulang, bahwa nama Subud yang diberikan Ibu Rahayu kepada anggota bukanlah hasil dari penerimaan spontan, melainkan dengan melakukan testing terhadap sejumlah nama yang diambil dari buku tentang “nama dan artinya”, yang bisa dibeli di toko buku. Nama Subud tetap akan memiliki vibrasi karena dicomot dengan bimbingan Latihan.

Hasilnya saya baca dan edit dengan diri saya dalam keadaan Latihan, kemudian saya serahkan ke klien. Kliennya berkomentar bahwa tulisan saya (yang aslinya dibuat oleh AI) memancarkan vibrasi yang membuatnya merasa dirinya berada di dalam tulisan itu dan menilai saya mampu membangun emosional pembaca. Kesimpulan saya, energi Latihan dapat menembus segala ciptaan manusia dan memberinya jiwa.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Mei 2026

Tuesday, April 21, 2026

Kritik Kartini Terhadap Agama

RADEN Ajeng Kartini (1879-1904) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkemuka dan pelopor gerakan hak-hak perempuan serta pendidikan. Lahir pada 21 April 1879—karena itulah setiap tanggal 21 April diperingati oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini—dalam keluarga bangsawan Jawa di masa kolonial Belanda, ia paling dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut merinci pemikirannya tentang reformasi sosial, penderitaan perempuan Jawa, dan perjuangan kemerdekaan nasional.                   

Kartini dirayakan secara luas sebagai perintis hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Namun, di balik advokasi sekolah dan kesetaraan sosial, terdapat pemikiran analitis yang mendalam—pemikiran yang berani mengkritisi fondasi praktik keagamaan di zamannya. Kartini bukan sekadar seorang reformator; ia adalah seorang beragama yang kritis. Surat-suratnya mengungkap sosok wanita yang menolak menerima tradisi begitu saja, melainkan mencari keyakinan yang berakar pada logika dan kasih sayang.

Kritik Terhadap Pemahaman Agama

Salah satu kritik Kartini yang paling terkenal adalah mengenai cara Alquran diajarkan pada masanya. Ia mempertanyakan mengapa para murid diharapkan untuk menghafal dan melantunkan kitab suci dalam bahasa Arab tanpa diwajibkan memahami maknanya. Bagi Kartini, pertumbuhan spiritual mustahil terjadi tanpa pemahaman. Ia melihat praktik melantunkan kata-kata tanpa tahu definisinya sebagai sebuah latihan yang hampa. Keinginannya adalah agar agama berbicara kepada hati melalui pikiran—sebuah sikap radikal dalam masyarakat di mana otoritas agama jarang sekali dipertanyakan.

Kritik Kartini pun meluas hingga ke luar ruang kelas. Ia membayangkan sebuah dunia yang melampaui batas-batas agama terorganisir, menyiratkan bahwa dunia akan jauh lebih damai jika agama-agama tidak menonjolkan perbedaan mereka atau terlibat dalam penghinaan dan konflik timbal balik. Observasinya yang paling tajam tetap terasa sangat relevan hingga saat ini: “Agama seharusnya menjaga kita dari dosa, namun seringkali, dosa justru dilakukan atas nama agama!”

Kejujuran Intelektual

Apa yang membuat Kartini benar-benar “keren” menurut standar modern adalah kejujuran intelektualnya. Ia tidak meninggalkan agamanya; sebaliknya, ia menjunjung agamanya ke standar yang lebih tinggi. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya atau agama seseorang bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Ia menantang para pemimpin agama untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai jembatan menuju perdamaian, bukan senjata untuk perpecahan.

Dengan menuntut untuk memahami kitab suci bagi dirinya sendiri, ia merebut kembali kedaulatan spiritualnya. Kartini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa menjadi orang yang beragama dan menjadi pemikir kritis bukanlah dua hal yang saling eksklusif. Faktanya, seperti yang ia tunjukkan, iman yang paling mendalam sering kali adalah iman yang tidak takut untuk bertanya, “Mengapa?”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 April 2026