Monday, October 26, 2026

Apakah Tuhan Hanya Bisa Ditemui dalam Agama?

SESEORANG bisa rajin beribadah, hafal berbagai doa, menjalankan ritual dengan tertib, dan menjadi bagian dari komunitas keagamaan yang taat. Bagaimanapun, apakah semua itu dengan sendirinya membuatnya menjadi manusia yang lebih spiritual? Sebaliknya, seseorang mungkin tidak menganut agama apa pun. Ia tidak menjalankan ritual keagamaan, tidak menghadiri tempat ibadah, bahkan mungkin tidak yakin apakah Tuhan benar-benar ada. Tetapi ia hidup dengan penuh kesadaran, memperlakukan sesama dengan kasih, menjaga kejujuran, dan berusaha memahami makna keberadaannya di dunia. Apakah ia lantas tidak memiliki spiritualitas?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada sebuah kemungkinan yang patut direnungkan: barangkali agama dan spiritualitas bukanlah dua hal yang selalu harus berjalan beriringan.

Agama dan spiritualitas memang memiliki titik temu, tetapi keduanya tidak sepenuhnya identik. Agama umumnya menyediakan ajaran, tradisi, ritual, dan komunitas yang membantu manusia memahami hubungannya dengan Tuhan serta kehidupan. Spiritualitas, di sisi lain, berkaitan dengan pencarian makna, pengenalan diri, pengalaman batin, dan kesadaran akan sesuatu yang melampaui kepentingan ego pribadi.

Bagi banyak orang, agama merupakan jalan yang sangat berarti untuk mengembangkan kehidupan spiritual. Melalui doa, meditasi, ibadah, dan ajaran moral, mereka menemukan kedamaian, arah hidup, serta hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan. Agama juga dapat memberikan disiplin dan komunitas yang membantu seseorang bertumbuh.

Tetapi apakah sebuah jalan harus menjadi satu-satunya jalan yang mungkin?

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Kita sering kali begitu terbiasa dengan kerangka berpikir yang menempatkan agama sebagai pintu utama, bahkan terkadang satu-satunya pintu, menuju spiritualitas. Akibatnya, seseorang yang tidak beragama mudah dianggap tidak memiliki kehidupan spiritual, seolah-olah kedalaman batin hanya dapat tumbuh di dalam batas-batas keyakinan yang terorganisasi.

Padahal, pengalaman manusia jauh lebih luas daripada kategori yang kita gunakan untuk menjelaskannya. Seseorang dapat menemukan kedalaman melalui keheningan, ketika ia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan mulai mengamati pikiran serta perasaannya sendiri. Ia mungkin menyadari betapa banyak tindakannya selama ini didorong oleh ketakutan, ambisi, kebutuhan akan pengakuan, atau keinginan untuk selalu dianggap benar. Kesadaran semacam ini dapat menjadi awal dari perubahan batin yang mendasar.

Orang lain mungkin menemukan pengalaman serupa ketika berdiri di tepi laut, menyaksikan matahari terbit, atau memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Di hadapan alam semesta yang begitu luas, ia merasakan kekaguman sekaligus kerendahan hati. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupannya sendiri.

Ada pula orang yang menemukan kedalaman spiritual melalui tindakan sederhana: menolong seseorang tanpa mengharapkan balasan, mendengarkan orang lain tanpa buru-buru menghakimi, atau memilih untuk tetap jujur ketika kebohongan akan lebih menguntungkan dirinya. Semua pengalaman itu tidak harus didahului oleh pernyataan iman tertentu. Ia dapat tumbuh dari kesediaan manusia untuk memperhatikan kehidupan secara lebih sungguh-sungguh.

Lalu, apakah spiritualitas tanpa agama berarti seseorang tidak percaya kepada Tuhan? Tidak selalu.

Ada orang yang tetap percaya kepada Tuhan, tetapi merasa tidak harus mengidentifikasikan seluruh pengalaman spiritualnya dengan satu institusi keagamaan. Ada pula yang terbuka terhadap kemungkinan adanya realitas yang lebih besar daripada kemampuan manusia untuk memahaminya, tetapi memilih untuk tidak membuat kesimpulan yang tergesa-gesa. Sementara itu, ada orang yang tidak percaya kepada Tuhan personal, tetapi tetap berusaha menjalani kehidupan dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa pencarian spiritual tidak selalu dimulai dari jawaban yang sama. Bagi sebagian orang, ia berawal dari keyakinan. Bagi yang lain, justru dari pertanyaan. Dan bagi sebagian lainnya, ia tumbuh dari pengakuan jujur bahwa ada banyak hal mendasar tentang kehidupan yang belum mereka ketahui. Mungkin, justru di situlah salah satu kualitas penting spiritualitas: kesediaan untuk tidak selalu merasa memiliki seluruh jawaban.

Tetapi kita juga perlu berhati-hati agar spiritualitas tidak menjadi sekadar label baru yang membuat seseorang merasa lebih unggul daripada orang lain. Menganggap diri lebih tercerahkan karena tidak beragama sama kelirunya dengan menganggap diri lebih suci semata-mata karena beragama. Sebab, pengalaman batin yang mendalam belum tentu membuat seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Seseorang dapat berbicara tentang kesadaran, energi, kedamaian, atau pencerahan, tetapi tetap dikuasai kesombongan, manipulasi, dan kepentingan pribadi.

Karena itu, kedalaman spiritual barangkali lebih tepat dinilai dari buahnya daripada dari klaimnya. Apakah seseorang menjadi lebih jujur terhadap dirinya sendiri? Apakah ia semakin mampu menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan kejernihan? Apakah ia lebih rendah hati dalam memahami keterbatasannya? Apakah ia semakin peka terhadap penderitaan orang lain? Dan yang tidak kalah penting, apakah ia mampu memperlakukan orang yang berbeda keyakinan dengan rasa hormat yang sama seperti yang ia harapkan dari orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak secara otomatis membuktikan atau mengukur spiritualitas seseorang. Bagaimanapun, semuanya dapat menjadi cermin untuk melihat apakah pencarian batin benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, kita tidak perlu mempertentangkan agama dengan spiritualitas. Agama dapat menjadi jalan yang mendalam, kaya, dan bermakna bagi mereka yang menjalaninya dengan kesadaran. Tradisi keagamaan dapat memberikan bahasa, disiplin, dan kebijaksanaan untuk memahami pengalaman batin. Akan tetapi, mengakui nilai sebuah jalan tidak berarti kita harus menutup kemungkinan adanya jalan lain.

Barangkali persoalan sesungguhnya bukan apakah seseorang beragama atau tidak, melainkan bagaimana ia menjalani kehidupan dan memahami keberadaannya di dunia.

Jika spiritualitas adalah pencarian terhadap makna, kebenaran, dan sesuatu yang melampaui ego, maka pencarian itu semestinya tidak membuat manusia semakin sempit dalam memandang dunia. Sebaliknya, ia seharusnya menumbuhkan kerendahan hati untuk menyadari bahwa pengalaman orang lain mungkin berbeda, dan bahwa pemahaman kita sendiri selalu memiliki keterbatasan.

Maka, pertanyaan “Apakah Tuhan hanya bisa ditemui di dalam agama?” mungkin tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Jawabannya akan bergantung, antara lain, pada apa yang kita maksud dengan Tuhan, pengalaman spiritual, dan agama itu sendiri. Tetapi pertanyaan tersebut dapat membuka ruang perenungan yang lebih luas: apakah kita sungguh-sungguh sedang mencari kebenaran, atau sekadar mempertahankan keyakinan bahwa jalan kitalah satu-satunya jalan yang benar?

Sebab, bisa jadi, pencarian spiritual yang paling mendalam bukanlah tentang seberapa dekat kita merasa dengan Tuhan, seberapa tinggi kita menilai kesadaran diri, atau seberapa kuat kita mempertahankan identitas keagamaan. Bisa jadi, pencarian itu justru terlihat dari kesediaan kita untuk terus belajar, mengoreksi diri, dan memperlakukan kehidupan dengan lebih bijaksana.

Agama bisa menjadi jalan menuju spiritualitas, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya jalan. Dan siapa pun yang sungguh-sungguh mencari kedalaman batin barangkali perlu memulai dengan satu sikap sederhana: kerendahan hati untuk mengakui bahwa jalan menuju pemahaman tidak selalu sama bagi setiap manusia.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Oktober 2026                                                                                             

Tuesday, October 20, 2026

Keseimbangan vs. Kejumbuhan

PERNAHKAH Anda merasa lelah karena terus-menerus mencoba membagi hidup menjadi dua paruh yang seimbang? Antara kerja dan istirahat, antara urusan dunia dan panggilan jiwa? Bagaimana jika selama ini perjuangan kita menyeimbangkan hidup justru membendung harmoni yang lebih sejati?

Banyak dari kita terjebak dalam obsesi menyeimbangkan dua kutub kehidupan. Kita terus berusaha membagi garis yang tegas antara kewajiban dan kesenangan, antara hiruk-pikuk kesibukan duniawi dan ketenangan spiritualitas. Seakan-akan, kedua hal tersebut adalah musuh bebuyutan yang harus dipaksa berdiri sejajar di atas timbangan. Padahal, alih-alih menguras energi demi menciptakan keseimbangan buatan, ada cara yang jauh lebih menentramkan: menjumbuhkan keduanya.

Kejumbuhan bukan sekadar kompromi. Diserap dari bahasa Jawa, jumbuh bermakna keselarasan yang mendalam. Kata ini menggambarkan sebuah keadaan elegan di mana dua hal yang tampak bertolak belakang, tumpang tindih, atau berseberangan, justru berpadu secara harmonis tanpa meleburkan identitas masing-masing.

Kesadaran akan indahnya kejumbuhan ini menyapa saya secara mendalam melalui Subud. Wejangan legendaris dari Bapak bahwa “Subud adalah saudara, saudara adalah Subud” menjadi pintu pembuka nurani. Pernyataan sederhana tetapi sarat makna ini menyadarkan saya: di semesta ini, tidak ada realitas yang benar-benar berseberangan jika kita tahu cara menjumbuhkannya.

Latihan Kejiwaan Subud bukanlah hiasan luar, melainkan daya hidup yang meresap dan mengaliri seluruh rongga jiwa seseorang sejak ia dibuka, lalu ditekuni dengan setia. Tidak ada jarak atau sekat antara seorang anggota Subud dengan Latihannya. Daya ilahi dari Latihan senantiasa bekerja aktif—mengarahkan langkah, membisikkan petunjuk, dan membimbing setiap gerak hidup kita.

Sangat disayangkan jika Latihan Kejiwaan hanya diperlakukan sebagai agenda sampingan yang dilakukan saat ada waktu senggang, atau sekadar suplemen pelengkap ibadah semata.

Pada hakikatnya, pesan Bapak menggarisbawahi satu kebenaran utuh: ke mana pun kita melangkah, apa pun yang kita kerjakan, dan di mana pun kita berada, Latihan Kejiwaan senantiasa menyertai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi kita. Kita tidak lagi perlu bersusah payah menyeimbangkan Latihan dengan hiruk-pikuk aktivitas lain, sebab Latihan itu sendiri telah menyatu—telah jumbuh—dengan seluruh diri kita.

Selama kita masih memandang spiritualitas dan kesibukan dunia sebagai dua hal yang harus ditimbang, selama itu pula hidup akan terasa membebani. Tetapi saat kita berhenti memisahkan dan mulai menjumbuhkan, setiap embusan napas dan setiap langkah kaki kita akan berubah menjadi bakti yang mengalir tanpa henti. Sudahkah jiwa dan raga kita berjalan serasi hari ini?©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Oktober 2026, pukul 22.08 WIB

Wednesday, October 7, 2026

Keheningan: Bukan Sebuah Jalan Pulang

 

“Latihan Kejiwaan Subud itu benar-benar merupakan ‘inti’ daripada segala apa yang menjadi kebutuhan saudara. Apa sebab demikian? Karena Latihan Kejiwaan Subud itu ada bukan karena diadakan, tapi ada dengan sendirinya, yang berarti pada hakikatnya ada dari kekuasaan Tuhan.” 

~RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo,

Aneka Subud No. 125/hlm. 180, Cilandak, Indonesia, 14 Juni 1986

 

BANYAK tradisi menempatkan diam sebagai sarana yang intim untuk berdoa, bermeditasi, atau berzikir. Kita mengenal tafakkur dalam Islam sebagai upaya meraih sakinah—kedamaian hati yang terbebas dari cengkeraman ego. Begitu pula dalam tradisi Hindu Bali dan filsafat Timur, di mana keheningan atau maunam dihayati sebagai sirnanya dominasi ego agar jiwa dapat menyatu kembali dengan realitas murni yang melampaui dualitas.

Selama ini, kita percaya bahwa mematikan kebisingan pikiran, ambisi, dan kecemasan sehari-hari melalui diam akan otomatis membukakan pintu untuk mendengar suara batin yang paling jujur. Tetapi, benarkah keheningan yang kita usahakan selama ini benar-benar menuntun kita kembali ke “rumah”?

Kenyataannya, keheningan kerap gagal menjadi jalan pulang ketika ia sejatinya dicapai melalui rekayasa akal pikir dan dorongan nafsu pribadi. Saat kita duduk dalam diam hanya untuk menghindari masalah, menekan emosi, atau melarikan diri dari kenyataan hidup, kita sesungguhnya tidak sedang masuk ke dalam solitude yang sadar, melainkan tengah menjebak diri dalam bentuk mati rasa. Sering kali, di balik tubuh yang tampak tenang dan tak bersuara, pikiran justru terus merutuk, menyalahkan diri, atau terombang-ambing oleh kecemasan masa lalu dan masa depan. Keheningan yang kosong tanpa kesadaran jujur seperti ini tidak akan pernah mampu mendamaikan riak logika dan emosi yang berkecamuk di dalam diri.

Pengalaman saya selama menekuni Latihan Kejiwaan Subud membukakan perspektif yang sama sekali berbeda mengenai hal ini. Di Subud, keheningan bukanlah sebuah pencapaian yang harus dikejar dengan strategi pikiran, melainkan sebuah kondisi yang hadir secara alami ketika kita berhenti memaksakan kehendak. Anda hanya diminta untuk menerima dan mengikuti (receive and follow) apa pun yang datang, baik dari dalam batin maupun dari luar, setelah menempatkan diri dalam kepasrahan yang dipenuhi rasa sabar, tawakal, dan ikhlas. Segala bentuk usaha keras yang digerakkan oleh logika atau ambisi pribadi justru menjadi ganjalan utama yang menghalangi bekerjanya Kekuasaan Tuhan atas diri kita.

Keheningan yang sejati dan sempurna baru akan bertamu saat kita benar-benar rileks dan ikhlas menyerahkan seluruh keberadaan diri untuk dibimbing oleh kehendakNya. Ketika keheningan itu hadir bukan sebagai hasil paksaan melainkan sebagai anugerah bimbingan Ilahi, ia tidak lagi bersifat sementara atau meletihkan. Di sinilah kita benar-benar “pulang” menjadi diri sendiri yang seutuhnya—diri yang menjadikan Kekuasaan Tuhan sebagai satu-satunya Guru dalam membimbing pikiran, perasaan, perkataan, hingga perbuatan, demi memancarkan budi pekerti utama dalam kehidupan sehari-hari.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Oktober 2026

Saturday, October 3, 2026

Kiri Sementara

Mungkin inilah lelucon paling kejam

dari kiri sementara kami:

 

Kami mengira sedang melawan kekuasaan

padahal mungkin kami hanya

menunggu giliran untuk memilikinya

Kampus mengajari kami

cara mengenali wajah penindasan

Tapi kampus tidak selalu mengajari kami

cara mengenali wajah itu

ketika muncul di cermin kami sendiri

 

Maka foto-foto lama itu tetap ada:

wajah-wajah muda,

kepalan tangan terangkat,

keyakinan yang indah,

kata-kata tentang kebebasan

ditulis dengan tinta permanen

 

Dan di suatu tempat di bawahnya

terdapat kebenaran yang lebih sunyi—

sebagian revolusi hanyalah

persiapan karier

 

Sebagian pemberontak hanyalah

penguasa yang sedang berlatih

Dan sebagian kaum kiri

hanyalah kaum kiri

sampai kelulusan...

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Oktober 2026

Saturday, September 26, 2026

Sisi Tidak Menguntungkan Dari Awet Muda

 

SALAH satu hal yang, entah kenapa, cukup menyebalkan dalam hidup saya adalah: saya sering dianggap masih muda. Yang lebih lucu lagi, orang-orang yang menganggap saya muda itu kadang justru usianya jauh di bawah saya. Jadi, dalam situasi tertentu, saya merasa seperti korban salah identifikasi umur.

Awalnya, saya mencoba melawan keadaan. Saya biarkan uban tumbuh dengan penuh tanggung jawab. Kerutan di wajah saya juga saya biarkan apa adanya. Saya bahkan lebih sering bergaul dengan orang-orang yang usianya lebih tua.

Logikanya sederhana: kalau penampilan saya masih dianggap terlalu muda, setidaknya lingkungan pergaulan saya bisa membantu mengoreksi persepsi itu.

Ternyata gagal total.

Belum lama ini, seorang saudara Subud yang usianya malah dua tahun lebih muda dari saya berkata dengan penuh keyakinan, “Ini nih Mas Arifin yang masih muda, tumpuan masa depan Subud!”

Saya cuma bisa tersenyum. Saya membatin, “Masa depan? Saya ini sudah masuk kategori bonus track kali…”

Pengalaman lain terjadi ketika seorang klien tertawa terbahak-bahak setelah saya menyebutkan usia saya yang sebenarnya. Dia mengira saya sedang bercanda. Saya sampai harus mengeluarkan KTP untuk membuktikan bahwa saya serius. Bagaimanapun, setelah melihat KTP, dia masih tidak percaya. Menurutnya, saya terlihat sekitar 20 tahun lebih muda daripada usia yang tercantum di sana.

Hah?!

Sebetulnya, bukankah saya harus bangga?

Mungkin iya. Tetapi ada sisi lain dari cerita “awet muda” ini yang kadang terasa tidak terlalu lucu.

Dalam sejumlah budaya, dunia kerja, maupun komunitas, “muda” tidak selalu berarti segar, energik, dan penuh potensi. Kadang “muda” berarti “belum tahu apa-apa”, “masih hijau”, “belum penting”, atau—yang paling berbahaya—“belum pantas disejajarkan dengan yang senior”.

Saya pernah mengalami sendiri bagaimana label “anak muda” terasa seperti sebuah jabatan yang otomatis datang bersama tambahan pekerjaan.

Ada seorang kenalan saya, berusia sekitar akhir 70an, yang setiap kali berpapasan dengan saya selalu berkata, “Nah, ini nih anak muda!”

Tentu saja saya tersenyum. Tetapi entah kenapa, yang terdengar di telinga saya kadang bukan “anak muda”, melainkan: “Nah, ini nih orang yang masih bisa dikasih tugas.” Atau lebih ekstrem lagi: “Nah, ini nih orang yang belum cukup penting untuk menolak tugas.”

Mungkin saya terlalu sensitif. Atau mungkin saya memang sudah terlalu tua untuk disebut anak muda, tetapi masih terlalu muda untuk dianggap senior. Sebuah posisi yang cukup unik: umur senior, tampilan junior, dan beban kerja… universal.

Itulah sebabnya saya cukup kukuh meminta orang memanggil saya Arifin—nama Subud saya—daripada Anto. Bukan karena saya tidak suka nama Anto. Tetapi “Anto” berasal dari “ananda”, yang berarti anak. Dan entah kenapa, label “anak” itu terasa terlalu mudah bergeser menjadi “kekanak-kanakan”.

Yang lebih menarik, dalam konteks spiritual, seseorang bisa saja dianggap masih “anak” bukan karena usianya, tetapi karena kematangan batinnya. Nah, di titik ini saya tidak bisa protes terlalu banyak. Jangan-jangan memang ada benarnya.

Mungkin persoalannya bukan apakah saya terlihat muda atau tua. Bukan pula apakah rambut saya sudah beruban atau wajah saya sudah dipenuhi kerutan. Barangkali yang lebih penting adalah: apakah saya terus bertumbuh?

Karena menjadi tua ternyata bukan prestasi. Semua orang akan sampai ke sana, kalau diberi cukup waktu.

Yang jauh lebih menarik adalah menjadi semakin matang tanpa kehilangan rasa ingin tahu, semakin berpengalaman tanpa merasa paling tahu, dan semakin tua tanpa kehilangan kemampuan untuk tertawa melihat diri sendiri.

Jadi, kalau besok ada yang berkata, “Mas Arifin, wah, masih muda!”, saya mungkin akan tersenyum dan menjawab: “Terima kasih. Tapi kalau ada pekerjaan tambahan, coba tanyakan dulu umur saya.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 September 2026

Wednesday, September 9, 2026

Spontanitas yang Senyap

SEJAK 26 Juli 2026, saya mulai melaksanakan kegiatan sukarela saya sebagai pelaksana proyek dari Arsip WSA (WSA Archives) Pusat Washington DC, Amerika Serikat. Proyek yang saya juduli “Indonesia Interviews” ini dalam rangka mengumpulkan rekaman audiovisual wawancara-wawancara saya dengan para anggota Subud di Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987 maupun mereka yang tetap aktif di Subud minimal 30 tahun. Video wawancaranya segera dikirim ke Daniela Moneta, Arsiparis WSA yang berbasis di Santa Monica, AS, melalui Google Drive.                                        

Ketika diminta kesediaan saya untuk melaksanakan wawancara-wawancara tersebut, oleh Daniela, saya spontan menyanggupi. Saya hanya minta dana 50 dolar AS untuk pembelian lampu dan tiangnya, mikropon nirkabel dan lengan penyangga ponsel dan tablet. Ponsel dan tabletnya dimiliki saudara Subud yang sukarela pula membantu saya—dia pula yang mengoperasikan peralatannya.

Hingga saat ini, sudah sepuluh narasumber yang saya wawancarai, bertempat di studio siniar Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak No. 22C (bekas rumah Prio Hartono) dan di Hall Latihan Jakarta Pusat, Jl. Johar Baru V No. 1, Jakarta Pusat. Semua terlaksana berkat bantuan tim saya yang terdiri dari dua anggota Jakarta Selatan.

Dalam pengerjaan proyek ini, saya tidak berkoordinasi dengan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, Pengurus Cabang Jakarta Selatan maupun Dewan Pembantu Pelatih Nasional Subud Indonesia, meski saya pernah menceritakannya via telepon ke Koordinator DPPN Pria, Luthfie Hadiyin. Pekerjaan saya ini untuk Subud, bukan untuk mencari perhatian, dan lahir dari spontanitas yang senyap. Ketika akhirnya orang tahu pun itu disebabkan oleh para narasumber yang bercerita kepada khalayak Subud bahwa mereka pernah diwawancarai saya untuk kepentingan Arsip WSA. Pengalaman saya selama ini, baik di Subud maupun di luar Subud, segala sesuatu yang dibahas berlarut-larut, direncanakan, dibegini-begitukan, malah tidak pernah jadi kenyataan atau jadi berantakan.

Prinsip saya dalam pelaksanaan proyek Indonesia Interviews dalam hal meminta kesediaan narasumber untuk diwawancara adalah “take it or leave it” (terima atau tidak sama sekali). Ada yang menolak karena merasa pengalamannya tidak ada nilainya, dan tidak perlu dibagikan ke orang lain, meski dari sudut pandang saya berbeda. Ada yang mensyaratkan agar saya meminta izin terlebih dahulu ke pengurus dan dewan pembantu pelatih, baru mereka bersedia. Yang banyak tuntutan seperti ini saya coret dari daftar narasumber prospektif saya. Menolak adalah hak narasumber, dan saya tidak akan mengemis kesediaan mereka. Take it or leave it!

Baru-baru ini, seorang pembantu pelatih wanita Jakarta Selatan, berinisial AS, melalui satu saudara Subud yang adalah anggota tim Indonesia Interviews, meminta Surat Penunjukan saya sebagai pelaksana proyek. Ini permintaan yang aneh bin lucu, mengingat (screenshot emailnya dikirim AS ke saudara Subud itu yang kemudian ia teruskan ke saya) bahwa Daniela pernah mengirim email ke AS, bahwa Arsip WSA mengharapkannya mengirimkan memorabilia peninggalan almarhum suaminya untuk dipreservasi Arsip WSA dan meminta kesediaannya untuk diwawancarai oleh saya (nama saya disebut dalam email tersebut).

Permintaan akan Surat Penunjukan itu didasari saran AS: “Saran pribadi, dan tolong disampaikan ke Mas Arifin. Untuk perlindungan bagi Mas Arifin dan tim, mitigasi kesalahpahaman, ada baiknya Mas Arifin minta surat penunjukan resmi sebagai seorang relawan yang bekerja untuk WSA ya...”

Meski keberatan dan merasa lucu, saya tetap merancang naskah surat penunjukan itu dan mengirimnya ke Daniela via email untuk meminta agar dia mengisi bagian yang perlu diisi, ditandatangani dan dikirim kembali ke saya. Email balasannya seperti dugaan saya; Daniela pun bekerja atas dasar spontanitas yang senyap, yang lumrah di Subud, paling tidak ketika Bapak masih ada. Email balasan Daniela itu menunjukkan bedanya anggota Subud di luar negeri dengan yang di Indonesia, yang kebanyakan birokratis dan feodalistik. Anggota Subud luar negeri selalu mengambil inisiatif sendiri dan berani mempertanggungjawabkannya. Seperti yang diceritakan beberapa anggota lama, tidak perlu meminta izin, melainkan restu, kepada Bapak. Bapak pun mengharapkan anggota lebih mandiri.

Berikut cuplikan email balasan Daniela:

“Oh, Arifin, tulisan itu (naskah Surat Penunjukan yang saya rancang—ADS) indah sekali. Akan bagus jika ketua proyek WSA Archives yang menandatanganinya. Jika demikian, beliau akan membuat dokumen itu jadi jauh lebih singkat. Saya tidak punya kewenangan untuk menandatanganinya.

Saya hanya melakukan sesuatu tanpa meminta izin. Jika saya melalui jalur yang resmi, tidak akan ada yang terselesaikan dan saya akan merasa frustrasi sepanjang waktu.

Ini adalah kesempatan untuk menjadikannya sesuatu yang nyata. Saya biasanya mulai melakukan hal-hal secara mandiri dan pada akhirnya, hal-hal tersebut menjadi bagian dari sistem. Seperti basis data WSA Archives. Saya tidak pernah bertanya apakah boleh membuatnya, saya langsung saja mulai kerjakan.”

Ini adalah sistem kerja orang yang telah menerima bimbingan Tuhan melalui Latihan Kejiwaan. Jika segala sesuatu dimulai dengan rasa khawatir akan ini-itu, sebagaimana kesan yang muncul dalam pesan AS yang ia titipkan untuk saya, dipastikan akan berakhir gagal. Saya memilih untuk tetap spontan dan senyap. Take it or leave it!©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 September 2026

Tabu Untuk Berkumpul

BERKUMPUL pasca Latihan merupakan kebiasaan yang sulit dihindari di Indonesia. Berkumpul dengan teman atau keluarga besar adalah hal yang lumrah baik di Subud maupun di luar lingkaran keanggotaan Subud. Dan selalu ada makanan, camilan, tapi yang pasti harus ada kopi.

Selama hampir 23 tahun di Subud, saya belum pernah mendengar ucapan pembantu pelatih Indonesia yang melarang berkumpul untuk berbagi pengalaman dengan atau selama Latihan. Hanya ada satu cabang di Indonesia yang pernah saya kunjungi mencantumkan imbauan agar anggota “TIDAK MEMBICARAKAN HAL-HAL YANG BERSIFAT KEJIWAAN” di papan pengumuman di Hall Latihannya, yaitu cabang di Semarang, Jawa Tengah—tapi itu 18 tahun lalu; terakhir saya ke Wisma Subud Semarang dua tahun lalu, seingat saya imbauan tertulis itu sudah tidak ada.

Ada satu pembantu pelatih asing yang bermukim di Indonesia pernah menyampaikan ke saya mengenai tabu untuk berkumpul atau nongkrong setelah Latihan—yang lantas membuat saya bertanya-tanya mengapa para pembantu pelatih Indonesia, termasuk yang sudah jadi pembantu pelatih ketika Bapak masih ada, tidak pernah mengatakan apapun tentang itu?

Di teras timur Hall Cilandak pernah ada insiden beberapa tahun lalu, sebelum pandemi, dimana seorang pembantu pelatih asal Amerika marah dan menegur keras para anggota Indonesia yang nongkrong pasca Latihan. Karena ucapan Inggrisnya tidak ada yang dimengerti anggota Indonesia, mereka mengabaikan pembantu pelatih pria itu. Lalu datanglah pembantu pelatih lainnya yang juga orang Amerika tapi telah lebih lama dari dia bermukim di Indonesia. Si pembantu pelatih Amerika kedua ini memperingatkan si pembantu pelatih Amerika pertama agar tidak bersikap seperti itu terhadap anggota Indonesia dan dijelaskan kepadanya bahwa berkumpul atau nongkrong pasca Latihan merupakan hal yang biasa di cabang-cabang manapun di Indonesia.

Ada bahkan wisma-wisma Subud di Jawa yang terbuka 24 jam untuk dikunjungi anggota kapan saja dia mau. Di Jawa Timur dikenal istilah PH, singkatan dari “penghuni hall”, yaitu mereka yang karena krisis inginnya berada di lingkungan hall bersama anggota-anggota lainnya yang sedang melalui jenis krisis yang sama. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol di antara mereka, atau bengong sambil ngoceh sendirian, atau Latihan sepanjang hari.

Ada berbagai hal yang diceritakan saat berkumpul, bukan hanya masalah kejiwaan tetapi juga (dan paling banyak dan sering) hal-hal keduniaan. Kadang memang terselip cerita bagaimana Latihan membimbing seseorang dalam urusan keduniaan itu, atau apa pandangan Bapak mengenai hal itu, jika memang ada di ceramah beliau. Kadang yang disampaikan seseorang (biasanya dia pembantu pelatih atau mantan pembantu pelatih atau hanya seseorang yang ingin mencari perhatian) adalah hal-hal yang “menakutkan”, seperti akibat yang akan kita terima bila melakukan perbuatan buruk—khas cara ajaran agama tertentu dalam menegakkan keimanan umat.

Belakangan, berbagai bencana alam melanda Indonesia; ini menjadi topik obrolan hangat di antara para anggota yang nongkrong setelah Latihan, beberapa di antara mereka mengaitkannya dengan mitos-mitos Jawa kuno tentang “akhir zaman” atau “kutukan Hidup Besar” dan bahwa yang belum menerima Latihan akan digulung ombak bencana. Lalu ada anggota yang mencari perhatian dengan mencuplik ceramah Bapak atau Ibu Rahayu seolah itu ajaran yang harus dipatuhi; konyolnya, mereka selalu mengakhirinya dengan ucapan bahwa hal itu gampang dikatakan, tapi sulit dilakukan. Atau dia bercerita pengalaman Bapak, dan ditandasi olehnya bahwa “hanya Bapak yang bisa, sedangkan kita masih jauh karena diri kita masih kotor”.

Kalau anggota Subud di Barat diberi tabu untuk berkumpul setelah Latihan, saya rasa itu eksklusif untuk mereka, karena otak Barat mereka terkenal berisik.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 September 2026