Monday, August 3, 2026

Daya yang Tertinggal

SATU pembantu pelatih muda dari Cabang Jakarta Selatan (tapi sejak 2023 pindah ke Cabang Jakarta Pusat) memberitahu saya beberapa tahun lalu bahwa ia diberi tugas oleh satu pembantu pelatih tua untuk “mengawasi anak-anak Teras Timur”, terutama karena “tempat itu menarik minat anggota baru untuk setia nongkrong di situ dan mendengarkan penjelasan mereka yang bukan pembantu pelatih”. Pembantu pelatih muda itu menolak penugasan yang dianggapnya konyol nan lucu itu, karena dia kenal baik dengan saya bukan sebagai seseorang yang berpotensi menimbulkan keonaran, tetapi hanya suka usil membuat lelucon sarkastis tentang berbagai hal di Subud.                          

Teras Timur maupun Teras Barat, Utara dan Selatan terbuka bagi siapapun yang ingin nongkrong di situ. Teras Timur menjadi strategis karena di sisi Hall Cilandak itulah terletak baik toilet wanita maupun toilet pria, dan kini menjadi satu-satunya tempat di seputar Hall dimana merokok tidak dilarang. (Stiker “Dilarang Merokok” pernah dipasang di dindingnya tetapi dicabut oleh satu pembantu pelatih berkebangsaan Amerika yang suka merokok.)

Yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka yang di Teras Barat hanya berdasarkan prasangka, dan tidak pernah ada niat untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi di Teras Timur—mereka nyaman dengan prasangka mereka. Beberapa anggota baru tahun 2016 menyampaikan ke saya, ketika mereka mulai nongkrong di Teras Timur, bahwa ketika melalui masa kandidatan tiga bulan mereka mereka telah diwanti-wanti oleh Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Jakarta Selatan kala itu agar tidak bergaul dengan Teras Timur atau ikut grup WhatsApp “Subud 4G” (grup WhatsApp yang saya ciptakan sebagai tempat nongkrong digital dengan semangat seperti Teras Timur). Padahal si PPD tidak pernah nongkrong di teras timur, kecuali sesekali karena ditawari rokok, kopi dan camilan gratis.

Saya pernah selama dua tahun, pasca pandemi, selalu menghabiskan waktu setelah Latihan nongkrong di Teras Barat. Terasa sekali kekakuan mereka yang nongkrong di situ; terasa mereka menahan diri dari bercanda atau mengobrol santai, seolah tempat itu sakral. Saya telah berusaha membuat suasananya lebih hidup, tetapi perubahannya hanya sedikit dan sebentar. Saya belum pernah, hingga kini, menemukan penyebab kekakuan itu.

Mungkin suasana feodalistik (meminjam istilah dari beberapa anggota yang pernah lama menjadi bagian dari Teras Barat sebelum akhirnya pindah ke Teras Timur) itu disebabkan oleh kenyataan bahwa hingga sebelum pandemi, Ibu Rahayu selalu menunggu waktu Latihan wanita di situ. Banyak anggota terlalu sungkan pada Ibu, tidak berani “banyak tingkah” di hadapan beliau. Mungkin daya Ibu tertinggal di Teras Barat, yang menyebabkan siapapun yang nongkrong di situ tetap tidak bisa sesantai Teras Barat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026

Monday, July 27, 2026

Merasakan Kehadiran Bapak dalam Sesi Wawancara

 


KEMARIN siang, 26 Juli 2026, saya melakukan perdana wawancara dengan anggota Subud Indonesia, di studio siniar (podcast) yang dinaungi bangunan Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di kompleks Wisma Subud Cilandak. Dibantu oleh alat-alat yang telah saya beli dengan dana US$50 yang telah ditransfer oleh WSA Archives di Amerika Serikat dan satu saudara Subud, Dino, yang mampu set up dan mengoperasikan alat-alat itu. Ada dua anggota pria yang saya wawancara kemarin, satu dibuka di Surabaya tahun 1984 dan satunya lagi di Cilandak tahun 1988.

Khusus di Wisma Subud Cilandak, saya hanya bisa mewawancarai pada hari Minggu siang, hari dimana Latihan dihadiri oleh lebih banyak anggota dan pembantu pelatih. Wawancara saya lakukan setelah saya maupun narasumber melakukan Latihan. Kemarin, karena perdana, saya melihat beberapa hal harus saya benahi dan saya terapkan seterusnya:

1.      Bahwa sebelum wawancara, kami harus menenangkan diri dulu, dan setelah wawancara dan setelah narasumber pamit, saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan.

2.     Wawancara harus saya lakukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang spontan, yang keluar dari jiwa saya, dan tidak mempersiapkan daftar pertanyaan terlebih dulu—agar saya dan narasumber senantiasa berada dalam keadaan Latihan. Tapi, dalam kasus kemarin, kepada kedua narasumber saya minta mereka “Ceritakan perjalanan Anda ke Subud”, “Apa yang membuat Anda bertahan sekian lama di Subud?”, dan “Apa pesan Anda kepada generasi muda anggota Subud?”

Mengapa dua hal ini? Saya merenungkan bersama Dino apa yang terjadi selama wawancara-wawancara tersebut, yang tadi malam saya bicarakan per telepon dengan pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya dan pagi ini saya konsultasikan dengan Koordinator Dewan Pembantu Pelatih Nasional (DPPN) Subud Indonesia, Luthfie Hadiyin. Kedua narasumber tampil secara terpisah, benar-benar dalam keaslian mereka, dimana mereka bercerita bukan saja pengalaman Latihan mereka tetapi juga masalah-masalah pribadi mereka, yang di luar studio siniar itu belum pernah mereka ceritakan ke siapapun! Tetapi karena sudah membaca dan menandatangani surat persetujuan wawancara dan menyetujui bilamana videonya disiarkan ke publik Subud, maka saya tidak memperingatkan mereka agar tidak kebablasan dalam bercerita.

Selain itu, saya dan Dino juga sempat “terbawa perasaan” mendengar kisah mereka (saya sempat menahan air mata), yang mana seharusnya tidak boleh karena akan menyerap daya rendah mereka atau sesuatu yang bukan milik saya. Narasumber yang dibuka tahun 1988 ketika ditanya pengalamannya malah selalu menangis, sehingga ada jeda dalam wawancaranya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya dengan Latihan Kejiwaan yang ia terima, melalui uraian air mata. Ia mengatakan bahwa ia merasakan kehadiran jiwa Bapak dalam ruangan di mana wawancara berlangsung.

Dari situlah saya merasa bahwa pasca wawancara saya dan Dino harus melakukan Latihan pembersihan. Ada pemikiran dari pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya agar wawancara didampingi seorang pembantu pelatih, tetapi ia sendiri mengkhawatirkan jika kehadiran pembantu pelatih malah membuat narasumber tidak akan mau bercerita dengan “apa adanya”. Kalau menyangkut narasumber pria, saya masih bisa mengatasi “serangan daya” ke diri saya; yang saya khawatirkan jika narasumbernya wanita—untuk itu, saya rasa perlu pendampingan pembantu pelatih wanita di luar studio. Koordinator DPPN juga menyarankan begitu.

Secara keseluruhan, proyek ini bagi saya dan Dino sungguh menarik, sangat berguna bagi kami secara kejiwaan, dan membawa kami ke pengalaman Latihan next level. Sesuatu yang sama sekali baru bagi kami maupun kebanyakan orang. Ketika saya menceritakan pengalaman itu ke dua pembantu pelatih yang saya telepon tadi malam dan pagi saja, mereka berkomentar bahwa “sekadar” obrolan empat mata dapat menghadirkan suatu energi maha besar, sesuatu yang bahkan jarang terjadi ketika mereka melayani gathering anggota atau saat bertemu dengan para kandidat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Juli 2026

Saturday, July 25, 2026

Memorabilia Awal Karier

SAYA masuk dunia periklanan di era ketika belum ada ponsel, apalagi ponsel berkamera, dan kamera analog tergolong barang mewah, sehingga saya tidak memiliki memorabilia visual yang dapat menceritakan masa-masa awal karier saya sebagai copywriter di biro iklan.

Puji Tuhan, 24 Juli 2026, Iksaka Banu memposting di linimasanya foto-foto dari sejumlah insan Citra Lintas dan Lintas Link yang diambil dari video buatan Bimoyadi Markam tahun 1995 (saya tahu tahunnya dengan pasti karena saya bergabung dengan Lintas Link sebagai copywriter pada Juli 1995). Di videonya, saya tampil di detik ke-28, dan ini foto yang diambil dari video tersebut.

Sudah 31 tahun saya mengulik naskah komunikasi pemasaran dan korporat—dan belum bosan!©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Juli 2026

Wednesday, July 15, 2026

Mistifikasi Pembantu Pelatih

TANGGAL 15 Juli 2026 malam, sepulang dari Latihan di Wisma Barata Pamulang, saya ditelepon oleh salah satu pembantu pelatih (PP) yang menyaksikan pembukaan saya, 22 tahun lalu. Mas Heru, demikian saya memanggilnya. Tema obrolan kami adalah tentang berserah diri di kala menghadapi penderitaan. Salah satu topiknya, di bagian terakhir dari perbincangan kami selama dua jam via WhatsApp Voice Call, adalah tentang menjadi pembantu pelatih.

Saya berbagi mengenai perbedaan yang saya saksikan antara PP di Jakarta, khususnya, dengan yang di Komisariat Wilayah (Komwil) VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, terutama di Surabaya dan sekitarnya. Di Jakarta, khususnya di Cabang Jakarta Selatan, tampaknya kepembantupelatihan dimistifikasi oleh beberapa oknum PP maupun oleh anggota biasa, seolah PP itu memiliki Latihan dari jenis yang berbeda dari Latihan pada umumnya, sehingga mereka yang belum PP tidak diperkenankan mengikuti pertemuan/rapat atau kegiatan-kegiatan yang eksklusif pembantu pelatih.

Mistifikasi adalah istilah yang mengacu pada proses mengaburkan kebenaran, membuat sesuatu yang biasa atau rasional tampak misterius, sakral, atau tidak bisa dipahami oleh nalar. Tujuannya sering kali untuk menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya dan menciptakan ilusi atau kesadaran palsu demi melanggengkan kekuasaan atau status quo. Di Subud, mistifikasi kerap digunakan untuk mengagungkan PP atau lembaga tertentu yang bertanggung jawab pada aspek kejiwaan. Kepembantupelatihan tidak lagi dilihat dari kinerja, melainkan dibentuk sebagai aura sakral yang tidak boleh dikritik atau dipertanyakan oleh anggota biasa. Status sebagai “pembantu Bapak” kerap digunakan untuk memperkuat mistifikasi ini.

Pembantu pelatih yang menelepon saya itu terkejut sekaligus menertawakan para PP semacam itu. Ia membantah bahwa PP adalah golongan eksklusif dengan kemampuan tertentu yang dapat membahayakan anggota biasa secara spiritual. Ia menampik anggapan sementara PP bahwa rapat atau testing di kalangan PP hanya terbatas bagi PP semata—yang bukan PP dilarang ikut atau mengaksesnya sebagai saksi.

Saya ingat momen ketika pada Senin malam, 7 Februari 2005, Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Cabang Surabaya mengajak seluruh anggota pria masuk ke dalam hall untuk menyaksikan testing para PP terhadap seorang kandidat pembantu pelatih. Para anggota diperbolehkan berada di dalam hall saat testing berlangsung, dan menyaksikan bagaimana respons tiga PP yang di saku celananya masing-masing telah disisipkan secarik kertas bertuliskan nama kandidat PP yang ditesting. Hasilnya, sang kandidat PP belum bisa disahkan sebagai PP dan harus diperpanjang masa kandidatnya. Sebagai anggota yang belum genap setahun di Subud, pemandangan itu cukup mengejutkan saya, tetapi hal itu tidak memberi efek apapun pada saya selain ingatan akan momen tersebut.

Selain momen itu, tidak jarang saya dan beberapa anggota lainnya beberapa kali menghadiri rapat pembantu pelatih. Kami duduk di ruang rapat sebagai saksi saja, tidak mendapat hak suara. Pembantu pelatih yang menelepon saya malam ini mengatakan bahwa rapat kadang tertutup bukan karena ada efek yang dapat membahayakan anggota biasa secara kejiwaan, melainkan hanya untuk kepantasan saja—bahwa pembahasan rapat menyangkut seseorang atau masalah yang tidak patut dipublikkan.

Selama di Jakarta, apakah Cabang Jakarta Selatan, Pusat atau Timur, saya belum pernah mengalami ajakan ikut rapat atau testing pembantu pelatih. Bahkan Latihan pendampingan calon PPD saja, anggota yang bukan PP dipersilakan keluar dari ruangan Latihan. Awalnya tidak tahu mengapa, lambat laun saya mendeteksi adanya kecenderungan mistifikasi PP—oleh PP sendiri maupun oleh beberapa gelintir anggota; seolah PP adalah makhluk tingkat dewa yang pikiran dan perasaannya, pikiran dan perbuatannya dalam keadaan tertentu dapat membahayakan jiwa dan raga anggota.

Tetapi malam ini, respons PP yang menelepon saya telah mendemistifikasi para pembantu pelatih. Penjelasannya telah menghilangkan selubung mitos, kesalahpahaman, atau kesan gaib yang melekat pada pembantu pelatih.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juli 2026

The Untainted Mirror

 

We step into the quiet, side by side,

to strip the heavy mask of mind away

The dusty glass where ego used to hide

begins to clear its film of yesterday

We close our eyes to let the outer fade,

and stand before the mirror we have made

 

A sudden breath, a cry, a graceful sway—

no longer caught in thought's reflective gleam

The Latihan begins to wash away

the mirrored shadows of our waking dream

It is a glass that does not show a face,

but captures the Great Life in empty space

 

And when the stillness settles in the hall,

we find the polished surface clean and bare

No longer locked behind the ego’s wall,

the true, untainted soul is standing there

A mirror of the force that gives us breath,

reflecting life that triumphs over death

 

Wisma Bharata, Pamulang, July 15, 2026, 8:40 p.m.

Monday, June 22, 2026

Seni dan Spiritualitas

SAYA bukan pengamat maupun penikmat lukisan, tetapi demi pekerjaan saya harus turut menyelami seni lukis. Saya masuk dalam tim yang dibentuk untuk membuat katalog lukisan karya seorang maestro Indonesia, Yoes Rizal. Saya sebagai Copy Editor-nya.

 


Tim berkumpul siang ini, 22 Juni 2026, di kediaman dan studio beliau di Jl. Lingkar Kebayunan, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, untuk mengenal lebih jauh sang maestro dan karyanya. Dikenal sebagai pelukis kontemporer Indonesia, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini menggunakan mixed media untuk mewujudkan karya lukisan. Yang menarik, ujar beliau, bukan lukisan yang penting—itu hanya output—melainkan proses kreatifnya.

 


Seperti para pelukis lainnya yang pernah saya jumpai sejak tahun lalu, obrolan tentang proses kreatif pasti bersenggolan dengan spiritualitas. Yang menarik bagi saya, ketika sang maestro menyebut sekuens tarekat, hakikat dan makrifat dalam wawancara yang dilakukan dua rekan saya—yaitu dua alumni Sejarah dari Universitas Indonesia, almamater saya. Dan yang membuat saya semakin termotivasi adalah adanya kesamaan antara ekspresi spiritual Yoes Rizal dengan apa yang saya alami melalui Latihan Kejiwaan Subud, meski ia sendiri bukan anggota Subud, yaitu ketiadaan aturan, kebebasan aksi, ketidakteraturan dan spontanitas. Seorang pelukis, kata Yoes, haruslah bebas, tidak terbebani atau dibatasi. Sebebas sifat jiwa manusia!

 


Saya pun menunjukkan logo Kongres Dunia Subud ke-17 tahun 2028 di Portugal yang saya rancang dan berhasil memenangkan kompetisi desain logo event tersebut. Dengan spesialisasi Yoes Rizal sebagai pelukis abstrak ekspresionis dengan latar belakang akademik beliau di Seni Rupa dan Desain ITB, beliau menilai logo karya saya itu memenuhi syarat sebagai logo (yang harus abstrak dan memberi ruang seluas-luasnya bagi audiens untuk memiliki pengertian sendiri-sendiri—persis sifat dari Latihan Kejiwaan). Dari bahasan tentang logo itulah berkembang obrolan tentang Subud, yang harus saya akhiri karena hari kian sore dan saya harus ke Wisma Subud Cilandak untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-125 Bapak Muhammad Subuh.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Juni 2026

Sunday, June 14, 2026

Testing vs Menep

KEMARIN siang (Minggu, 14 Juni 2026), pasca Latihan pria, saya nongkrong bersama lima anggota lainnya di teras timur Hall Cilandak, menikmati kopi murni yang airnya dimasak dengan kompor portabel yang dibawa oleh salah satu anggota.

Lalu, muncullah satu pembantu pelatih pria dari Cabang Jakarta Selatan yang berkebangsaan Amerika. Beliau sangat suka kopi tubruk, kopi asli Indonesia. Saat ngopi itulah beliau bercerita bahwa beliau baru selesai menghadiri rapat dewan pembantu pelatih cabang, yang antara lain membahas tentang testing. Terungkap, kata dia, bahwa Ibu Rahayu ternyata tidak “pro testing”. Saya pun bercerita ke si pembantu pelatih dan satu anggota yang duduk di sebelah saya, bahwa pembantu pelatih dan anggota di luar negeri sangat sering melakukan testing dan dalam durasi yang sangat lama. Itu yang pernah saya dengar dari penuturan seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, dan satu pembantu pelatih dari grup Vancouver, Kanada. Juga para international helpers asal Indonesia pernah menyampaikannya ke saya. Saya mengomentari cerita saya sendiri bahwa kebiasaan testing itu mungkin untuk melatih pembantu pelatih dan anggota dalam memahami apa hakikat testing.

Di Indonesia sendiri, testing tergolong sangat jarang dilakukan dan biasanya bersifat okasional, biasanya pada event Kongres Nasional atau dalam rangka Hari Lahir Bapak di bulan Juni. Para pembantu pelatih di cabang manapun di Jawa yang pernah saya kunjungi menunjukkan keengganan ketika anggota meminta testing.

Saya kemudian menambahkan ke cerita saya kepada si pembantu pelatih dan si anggota, bahwa yang saya baca di sebuah memoar dari salah satu pembantu pelatih generasi awal, kabarnya istilah “testing” itu berasal dari John Bennett yang mencoba menerjemahkan kalimat “merasakan diri terhadap segala sesuatu” dari Bapak, yang belum ada padanannya dalam bahasa Inggris kala itu (1957, ketika Bapak pertama kali ke luar negeri). Akhirnya, Bapak pun mengadopsi istilah “testing” untuk “merasakan diri”.

Di cabang di mana saya melalui masa ngandidat tiga bulan saya dan di mana saya dibuka, yaitu Surabaya, para pembantu pelatihnya jarang sekali melakukan testing, melainkan membiasakan para anggota untuk merasakan (diri maupun keadaan atau peristiwa di dekatnya maupun jauh). Pembantu pelatih yang telaten mendampingi saya, selalu mendorong saya untuk merasakan suasana atau orang-orang di tempat kami berada, seperti misalnya di acara ruwatan putra sulung dari seorang anggota yang akan menikah, yang berlangsung di rumah si anggota di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 2005. Merasakan itu tidak bisa dipaksakan memang, tetapi akan berkembang kepekaan kita secara bertahap seiring Latihan Kejiwaan yang kita lakukan dengan rajin dan tekun.

Si anggota yang duduk dekat saya dan turut mendengarkan diskusi saya dengan si pembantu pelatih, menyeletuk, “Oh iya, Mas Arifin. Di Jawa disebutnya ‘menep’. Memang kita jarang testing ya, Mas. Karena kita sudah dibiasakan ‘menep’ oleh leluhur kita."

Dalam budaya Jawa khususnya, “merasakan diri” sudah mengakar di kalangan masyarakat tradisionalnya. Kakek dan ayah saya, dua pria Jawa tradisional dan bukan anggota Subud, sering mencontohkan ke saya secara tidak sengaja: Ketika menghadapi problem yang rumit, mereka akan berdiam diri, memejamkan mata dan membisu cukup lama. Praktik ini di Jawa disebut “menep”. Bahasa Jawa “menep” berarti diam, tenang, atau mengendap (seperti endapan kotoran yang turun ke dasar sehingga air menjadi jernih). Kata ini sering digunakan secara filosofis untuk menggambarkan kondisi batin yang tenang, waspada, dan jernih dalam menghadapi masalah. Atau proses menahan emosi, hawa nafsu, atau gejolak agar pikiran tetap jernih dan bijaksana. Ibarat segelas kopi tubruk yang sebagian ampasnya mengambang di permukaan , ia harus didiamkan sejenak agar kotorannya “menep” dan airnya kembali bening.

Si pembantu pelatih kemudian berseru, “Oh mungkin sikap tidak pro testing dari Ibu sebenarnya ditujukan ke anggota luar negeri ya. Karena beliau tahu, orang Indonesia tidak suka testing.”

Saya mengangkat bahu dan berkata, “Ya, mungkin.” Lalu kami melanjutkan menikmati kopi masing-masing.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juni 2026