Thursday, February 5, 2026

Gerakan Spiritual dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

SAYA pada 14 Januari 2026 lalu, bersama enam alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) dan satu alumnus Jurusan Sastra Belanda FSUI, menandatangani akte pendirian Yayasan Indonesia Berkibar Lestari yang bergerak dalam pengkajian sejarah Indonesia dan diseminasi hasil kajiannya secara multimedia. Saya memosisikan diri khusus untuk kajian militer dan pertahanan serta sejarah gerakan spiritual.

Peran gerakan spiritual/kebatinan khususnya di Jawa kurang mendapat perhatian sejarawan Indonesia masa kini. Para sejarawan itu hanya menyorot ranah politik dan sosialnya. Padahal para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ternyata bergelut dengan spiritualitas untuk memantapkan mental mereka dalam berjuang.

Senior saya di Jurusan Sejarah FSUI, Iskandar P. Nugraha (kini sedang merampungkan program doktor di School of History, University of New South Wales) dalam bukunya tentang Perhimpunan Teosofi di Indonesia (berjudul: Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia) menyebutkan bahwa Sukarno, Hatta, Achmad Soebardjo (Menteri Luar Negeri pertama RI dan kelak juga menjadi Ketua Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia), Cipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, Radjiman Wedyodiningrat, dan Douwes Dekker pernah aktif atau terpengaruh oleh ajaran Teosofi. Mereka tertarik karena gagasan pluralisme dan persaudaraan universal. Hatta, Sutan Sjahrir dan Achmad Subardjo, antara lain, bahkan dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda berkat beasiswa dari Teosofi.

Ketika membaca buku History of Subud Jilid 1, yang secara ringkas menggambarkan suasana masyarakat, pergerakan, dan perjuangan kemerdekaan di Jawa pada 1920an dan 1940an, muncul penasaran saya: Mengapa gerakan-gerakan spiritual asli Nusantara baru bermunculan pada tiga dekade terakhir masa pemerintahan Hindia Belanda. Mulailah saya serius meneliti, terlebih setelah bukunya Iskandar Nugraha diluncurkan tahun 2011.

Fenomena menjamurnya gerakan spiritual atau kebatinan di akhir masa kolonial (sekitar awal abad ke-20 hingga 1942) bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah respons psiko-sosial yang mendalam terhadap tekanan politik dan pergeseran zaman.

Pada dekade terakhir Hindia Belanda, masyarakat pribumi mengalami “gegar budaya”. Masuknya sistem pendidikan Barat, kapitalisme industri, dan birokrasi kolonial yang kaku membuat banyak orang merasa tercerabut dari akar tradisinya. Banyak tokoh (terutama di Jawa) kembali ke ajaran kebatinan untuk mencari ketenangan di tengah dunia yang berubah terlalu cepat dan terasa makin materialistis. Gerakan spiritual menjadi cara untuk mempertahankan martabat diri di hadapan diskriminasi rasial yang sistematis oleh pemerintah kolonial.

Gerakan kebatinan sering kali menggunakan interpretasi ramalan kuno untuk memberi harapan bahwa kekuasaan kulit putih akan segera berakhir (sering digambarkan dengan analogi “seumur jagung”). Secara tradisional, masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan pada datangnya sosok penyelamat atau Ratu Adil. Semakin berat beban pajak dan kerja paksa, semakin kuat keyakinan bahwa “zaman edan” (zaman kegilaan/kekacauan) sedang mencapai puncaknya.

Pemerintah Hindia Belanda sangat represif terhadap organisasi politik yang terang-terangan menuntut kemerdekaan. Tetapi, gerakan spiritual sering kali dianggap tidak berbahaya oleh intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID) karena fokus pada olah rasa dan meditasi. Padahal, di balik itu, mereka membangun jaringan solidaritas dan rasa kebangsaan yang kuat. Dengan meyakini kekuatan batin, masyarakat merasa secara moral lebih tinggi daripada penjajah, meskipun secara fisik mereka ditindas.

Apakah ini terkait dengan kemerdekaan? Sangat terkait.

Gerakan spiritual adalah bentuk nasionalisme kultural. Sebelum bangsa ini berdaulat secara politik, mereka terlebih dahulu berdaulat secara batiniah. Banyak tokoh pergerakan nasional (termasuk Sukarno dan tokoh-tokoh Taman Siswa) memiliki kedekatan dengan nilai-nilai kebatinan. Mereka menggunakan simbol-simbol budaya dan spiritual untuk menyatukan rakyat yang heterogen. Gerakan seperti Subud, Paguyuban Hardopusoro atau Sumarah menyediakan basis massa yang memiliki kedisiplinan mental. Mereka tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga menyiapkan “mentalitas merdeka” sebelum kemerdekaan fisik tercapai.

Kebatinan mengajarkan konsep kepemimpinan Manunggaling Kawula Gusti, yang dalam konteks politik diartikan sebagai penyatuan antara pemimpin dan rakyat dalam satu cita-cita luhur.

Salah satu tokoh paling ikonik yang menggabungkan kedalaman spiritual (kebatinan) dengan radikalisme politik melawan Belanda adalah Ki Ageng Suryomentaram. Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang memilih menanggalkan gelar pangerannya demi menjadi rakyat jelata dan mencari hakikat kebahagiaan.

 

Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962)

Suryomentaram menciptakan sistem pemikiran yang disebut Kawruh Begja (Ilmu Kebahagiaan). Mengapa ia penting dalam konteks perjuangan kemerdekaan? Ia mengajarkan konsep Kramadangsa (ego). Menurutnya, rasa takut kepada Belanda muncul karena orang terlalu melekat pada jabatan atau rasa rendah diri. Jika seseorang sudah mengenal dirinya sendiri, rasa takut terhadap bedil atau penjara kolonial akan sirna.

Bagi Suryomentaram, tidak ada gunanya merdeka secara politik jika mentalitasnya masih “budak”. Ia menyiapkan rakyat untuk menjadi manusia yang merdeka secara psikis terlebih dahulu.

Meskipun tidak memimpin pasukan, ajaran “Rasa Merdeka”-nya menyebar di kalangan rakyat bawah dan kaum intelektual, membuat otoritas Belanda bingung karena ia tidak bisa ditangkap hanya karena mengajarkan orang untuk “bahagia”.

Tokoh lainnya adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Berbeda dengan Suryomentaram yang lebih meditatif, Dr. Tjipto adalah contoh perpaduan antara mistisisme Jawa (Jawa-Dipo) dengan politik modern. Ia memandang perjuangan kemerdekaan sebagai tugas suci seorang “Satria”. Baginya, melawan ketidakadilan Belanda bukan sekadar strategi politik, melainkan kewajiban moral-spiritual. Ia sering memakai sorban atau pakaian tradisional sebagai pernyataan spiritual bahwa identitas pribumi sejajar dengan peradaban Barat.

 

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (1886-1943)

Para tokoh ini berbahaya karena mereka menciptakan solidaritas organik. Jika organisasi politik bisa dibubarkan atau dilarang, ajaran kebatinan masuk ke dalam ruang-ruang privat rakyat (ruang tamu, sawah, pasar) dan tidak bisa dideteksi oleh intelijen kolonial.©2026

Perbandingan Singkat

Tokoh

Fokus Utama

Dampak ke Pergerakan

Ki Ageng Suryomentaram

Pembersihan ego (Kramadangsa)

Menghilangkan rasa takut rakyat terhadap penguasa.

 

Haji Misbach

Islam-Komunisme (mistik Islam)

Menggerakkan massa petani dengan narasi spiritual perlawanan.

 

Ki Hajar Dewantara

Pendidikan dan kebudayaan

Membangun “pagar spiritual” bangsa melalui pendidikan karakter.

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 6 Februari 2026

Sunday, February 1, 2026

Apa yang Tidak Berhubungan Dengan Subud?

BEBERAPA kali saya menemukan postingan artikel/video atau tautan ke artikel/video di sejumlah akun grup Facebook atau WhatsApp yang dipandang tidak relevan dengan Subud. Selalu saja akan muncul komentar “Adakah hubungannya dengan Subud?”

Bapak mengatakan, Subud adalah representasi dari hidup itu sendiri. Nah, jika Subud merepresentasi kehidupan manusia di bumi saat ini tentunya tidak ada yang tidak ada relevansinya dengan Subud. Subud tidak membatasi keanggotaannya terhadap mereka yang tidak memiliki kepentingan dengan penyembahan kepada Tuhan YME.

Semua orang, dari segala bidang kehidupan, bisa menjadi anggota Subud, dan bisa menerima serta melakukan Latihan Kejiwaan. Karena Latihan tidak pilih-pilih orang. Dia menghampiri anggota parliamen maupun masyarakat yang berdemo di depan gedung parliamen. Latihan menghinggapi dosen yang mengajar di ruang kuliah maupun mahasiswa yang mengikuti kuliahnya. Dia mengisi diri seorang miskin yang disedekahi seorang kaya yang dirinya juga terisi Latihan.

Kejiwaan adalah ibarat wilayah tak berbatas, tidak berpagar dan setiap orang yang memasukinya tidak dianggap sebagai pelanggar. Yang kabur dari wilayah ini juga bukan buronan. Semua bebas keluar masuk wilayah tak bertuan bernama “kejiwaan”.

Beberapa belas tahun lalu, di sebuah hall Latihan di Jawa Tengah, saya menunggu waktunya Latihan bersama di lobi hall tersebut. Ada poster mungil bertuliskan peringatan kepada para anggota, agar sebelum Latihan jangan membicarakan hal-hal di luar kejiwaan. Saya berkerenyit dalam tanda tanya: Apa saja hal-hal di luar kejiwaan? Apakah membicarakan ponsel cerdas terbaru atau tren musik terkini termasuk di antara yang bukan kejiwaan?

Saya pernah beberapa kali diminta untuk menjadi fasilitator dalam seminar dan workshop terkait pekerjaan saya di dunia komunikasi, kepada audiens anggota Pemuda Subud. Apakah branding, copywriting, dan advertising ada hubungannya dengan kejiwaan? Saya jelaskan ke forum, ada. Saya tidak akan mampu mengerjakannya, meski pengalaman saya di bidang ini sudah melampaui tiga dekade, bila tidak mendapat bimbingan dari jiwa saya. Sebuah cuplikan dari ceramah Bapak, terkait Reputasi, saya cantumkan pada salah satu halaman dari presentasi Powerpoint saya.

Di tengah diskusi politik atau konflik bersenjata yang sedang berlangsung di dunia, di antara teman-teman non Subud saya, saya mendapat pengertian-pengertian dari dalam yang kadang saya ungkapkan sebagai opini saya di ajang diskusi tersebut. Kadang pula wujudnya prediksi-prediksi kejadian, yang kelak terbukti kebenarannya.

Intinya, dengan diri kita sudah terisi Latihan, apapun yang ada di dunia manusia tak luput dari ranah kejiwaan. Itulah asyiknya Subud bagi saya. Pernah teman saya dari jalan spiritual lain, yang entah bagaimana dapat mengakses ceramah-ceramah Bapak, mempertanyakan mengapa Bapak menganjurkan enterprise—yang bagi teman saya merupakan urusan duniawi—menjadi bagian dari laku spiritual Subud. Saya menjawab singkat saja, “Ya, itulah kerennya Subud. Memang Tuhan dan ibadah terhadapNya hanya ada di agama?”©2026

 

Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga No. 7E, Jakarta Selatan, 2 Februari 2026

Monday, January 26, 2026

Kapan?

MINGGU lalu, selama seminggu penuh, hujan deras mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya. Ada dua hari dalam pekan itu dimana hujan turun selama hampir sepuluh jam, yang menyebabkan banjir melanda sejumlah titik di Jakarta—bahkan kawasan-kawasan yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran tiba-tiba harus mengalaminya.

Yang paling menyebalkan bagi banyak warga masyarakat adalah kesulitan dalam mengeringkan cucian mereka. Mencuci bagi sebagian besar warga Jakarta dan sekitarnya merupakan hal yang mudah, karena rata-rata telah memiliki mesin cuci. Kesulitannya terletak pada jarangnya matahari menampakkan wajahnya, membuat jemuran tidak bisa cepat kering sehingga menimbulkan bau apek dan kain menjadi berjamur. Akibatnya, warga masyarakat berbondong-bondong ke gerai-gerai penatu swalayan yang menyediakan bukan saja mesin cuci tetapi juga mesin pengering.

Bagaimanapun, hal ini tidak serta merta menyelesaikan masalah. Banyak warga yang tidak memiliki mobil akan kehujanan dalam perjalanan mereka ke gerai-gerai penatu itu. Istri saya mendesak saya untuk bangun lebih pagi agar bisa terhindar dari kehujanan (meskipun kenyataannya, terkadang hujan pun turun sejak subuh), tetapi saya mengabaikannya. Saya hanya menjawab, “Nantilah.”

“Kapan itu nanti?” tanya istri saya.

“Ketika Tuhan menghendakinya,” jawab saya seenaknya. Istri saya, meskipun Subud juga, masih suka menganggap jawaban saya seperti itu sebagai lelucon. Karena menganggap saya tidak serius, ia pergi sendiri ke gerai penatu langganan kami, tetapi menolak membawa serta pakaian kotor saya—maksud dia, agar saya jera dengan akibat dari membiarkan pakaian kotor menumpuk terlalu lama.

Hari Minggu, 25 Januari, saya terbangun dengan penerimaan bahwa hari itu cuaca akan cerah dan saya terdorong untuk mencuci pakaian saya dalam dua giliran: Hari itu khusus pakaian atasan, dan hari berikutnya pakaian bawahan. Mengetahui bahwa saya akan mencuci pakaian, istri saya mengingatkan bahwa waktunya tidak tepat. “Hujan bisa turun kapan saja! Jemuran kamu tidak akan kering dan bau apek!” katanya. Tetapi saya tidak peduli dengan omongannya dan dengan santai meneruskan mencuci pakaian saya dengan mesin cuci.

 

Pemandangan dari balkon belakang tempat saya menjemur pakaian. Bisa dilihat awan mendung tebal di ufuk utara—tepat di perbatasan Jakarta Selatan—yang seolah sudah tidak sabar ingin tumpah. Entah bagaimana, hujan tertahan cukup lama sampai cucian saya kering. Benar-benar waktu yang pas!

Ajaibnya, hari itu memang tidak hujan sepanjang pagi hingga sore, memberi kesempatan pada jemuran saya untuk mengering sempurna. Hujan baru turun beberapa saat setelah saya memasukkan jemuran.

Senin ini, saya mencuci lagi, giliran pakaian bawahan saya, meski diperingatkan oleh istri saya bahwa langit sudah tertutup awan mendung hitam dan tebal. Ketika saya menjemur cucian saya, perlahan awan-awan mendung itu menyingkir, memberi jalan bagi masuknya sinar matahari.

Saat sarapan, saya berkata kepada istri saya, “Tuhan menciptakan waktu, manusia menciptakan jam. Kalau aku terima sekaranglah saat yang tepat untuk mencuci, maka akan aku lakukan. Jangan tanyakan kapan—aku tidak tahu, Dialah Yang Maha Tahu!”

Istri saya hanya mencibir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

Sunday, January 25, 2026

Tujuh Turunan

MEMBACA ceramah-ceramah Bapak mengenai pengaruh Latihan Kejiwaan terhadap leluhur kita, saya sering menjumpai gagasan beliau tentang “tujuh turunan ke atas dan tujuh turunan ke bawah”. Karena tumbuh besar di Indonesia, ungkapan “tujuh turunan” sudah sangat tertanam dalam diri saya. Namun, saya—dan banyak orang Indonesia lainnya dalam hal ini—tidak pernah benar-benar mempertanyakan mengapa harus tujuh turunan, atau mengapa angka tujuh yang dipilih sejak awal.

Dalam konteks Indonesia, “tujuh turunan” merupakan idiom yang memiliki signifikansi budaya, yang digunakan untuk menggambarkan skala waktu, kekayaan, atau konsekuensi yang luar biasa—menyiratkan bahwa sesuatu memiliki dampak yang sangat besar sehingga akan bertahan (atau telah bertahan) selama tujuh generasi berturut-turut dalam suatu keluarga.


Penggunaan yang paling umum terdapat dalam kalimat “Kekayaan yang tidak habis tujuh turunan”. Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang kekayaannya tak terbayangkan. Hal ini menyiratkan bahwa meskipun keturunan mereka ceroboh atau malas, kekayaan tersebut begitu besar sehingga akan terus menghidupi keluarga itu selama lebih dari satu abad.

 

Karena budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai garis keturunan dan silsilah, istilah tersebut sering kali mengandung bobot spiritual atau moral. “Sumpah tujuh turunan” adalah kutukan yang sangat mendalam. Jika seseorang melakukan dosa besar atau pengkhianatan, sang korban mungkin menyatakan bahwa konsekuensinya akan menghantui garis keturunan pelaku hingga tujuh generasi. Demikian pula, “dendam tujuh turunan” merujuk pada perseteruan darah atau kebencian mendalam yang diwariskan dari para leluhur.


Dalam lingkaran sosial tradisional, khususnya dalam budaya Jawa, konsep “Bibit, Bebet, Bobot (Garis Keturunan, Status Ekonomi/Kekayaan, dan Kualitas Diri) sangatlah krusial. Menjadi “bersih” selama tujuh turunan berarti sebuah keluarga tidak memiliki riwayat kejahatan, skandal, atau aib sosial, sehingga membuat mereka sangat diidamkan untuk hubungan pernikahan.

Mengapa Tujuh?

UNTUK memahami mengapa tujuh menjadi angka keramat dalam tradisi Indonesia, kita harus melihat pada persilangan yang menarik antara kosmologi, biologi, dan filosofi spiritual kuno.


Di berbagai budaya Indonesia (terutama Jawa dan Sunda), alam semesta dipandang memiliki tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Struktur numerologi ini menyiratkan bahwa “tujuh” adalah batas dari alam semesta yang nyata maupun alam spiritual. Mempengaruhi “tujuh turunan” berarti mempengaruhi keseluruhan garis keturunan seseorang di dalam ranah fisik dan spiritual.

Dalam pandangan dunia masyarakat Indonesia, angka tujuh bukanlah angka yang sembarangan; angka ini melambangkan keutuhan dan siklus eksistensi yang lengkap. Angka tujuh tertanam dalam upacara peralihan (rites of passage) yang paling sakral di Indonesia:

  • Mitoni (Pitonan): Upacara tradisional Jawa yang diadakan pada bulan ketujuh kehamilan untuk memastikan kelahiran yang sehat dan karakter yang baik bagi sang anak.
  • Tedhak Siten: Upacara saat seorang anak pertama kali menyentuh tanah pada usia tujuh lapan (satu lapan adalah 35 hari).
  • Ritual Berkabung: Doa-doa tradisional bagi orang yang meninggal sering kali diadakan pada hari ketujuh setelah kematian, yang menandai tahapan tertentu dalam perjalanan ruh.

Sebelum adanya genetika modern, terdapat pemahaman intuitif bahwa sifat-sifat pada akhirnya akan “luntur” atau menjadi tidak dikenali seiring berjalannya waktu. Tujuh generasi (kira-kira 150–200 tahun) secara tradisional dipandang sebagai batas pengaruh “langsung”. Melampaui tujuh generasi, Anda bukan lagi merupakan garis keluarga yang spesifik; Anda telah melebur kembali menjadi “leluhur” secara umum atau menjadi “tanah” bagi masyarakat.

Angka tujuh memiliki signifikansi mistis dan simbolis dalam banyak tradisi Indonesia (maupun secara global). Angka ini melambangkan kelengkapan atau sebuah siklus yang penuh. Dalam pola pikir orang Indonesia, “tujuh turunan” secara efektif berarti “selamanya” atau “secara permanen”.

Rincian Silsilah Keturunan:

1.      Anak

2.     Cucu

3.     Cicit (atau Buyut)

4.     Piut (atau Canggah)

5.     Anggas (atau Wareng)

6.    Ubung-ubung (atau Udheg-udheg)

7.     Gantung Siwur

 

Catatan: Istilah lokal untuk generasi ke-4 hingga ke-7 bervariasi di seluruh Indonesia, tetapi Gantung Siwur adalah istilah tradisional Jawa untuk generasi ketujuh.

Dalam budaya Indonesia, konsep “tujuh turunan” lebih dari sekadar ungkapan; ia merupakan filosofi mendalam mengenai keberlanjutan hidup, karma, dan tanggung jawab. Konsep ini menunjukkan bahwa tindakan kita hari ini tidak lenyap begitu saja ke masa lalu, melainkan beriak melintasi waktu, mempengaruhi tujuh turunan sebelum kita dan tujuh turunan yang akan datang.

Memahami silsilah ini dapat menjadi katalisator yang kuat bagi pertumbuhan pribadi dan perubahan masyarakat.

Warisan Keadaan

DALAM pengertian materi, “tujuh turunan” bermanifestasi sebagai lingkungan fisik dan finansial yang kita warisi dan kita teruskan. Hal ini sering dibahas dalam hal kekayaan antargenerasi atau kemiskinan antargenerasi. Ketika kita melihat sumber daya kita melalui lensa tujuh turunan, kita berhenti mengonsumsi untuk hari ini dan mulai melestarikan untuk hari esok. Pergeseran ini mendorong pola hidup berkelanjutan dan investasi yang bertanggung jawab.

Sains modern (epigenetika) menunjukkan bahwa trauma dan kebiasaan kesehatan dapat meninggalkan “tanda” pada DNA kita. Dengan meningkatkan kesejahteraan fisik kita dan memutus rantai kecanduan atau pengabaian, kita secara harfiah sedang meningkatkan “materi” biologis dari keturunan kita di masa depan.

Secara intelektual, konsep ini mengatur aliran pengetahuan, pola pikir, dan pandangan dunia. Kita sering kali “terprogram” oleh bias intelektual dari buyut-buyut kita tanpa kita menyadarinya.

Banyak dari kita membawa “beban” intelektual—seperti anggapan bahwa kita tidak cukup pintar, atau bahwa jalan-jalan tertentu tertutup bagi kita. Mengenali hal-hal ini sebagai “pikiran warisan” memungkinkan kita untuk menyaring apa yang bermanfaat dan membuang apa yang sudah usang. Untuk memberi dampak pada tujuh turunan secara intelektual, seseorang harus memprioritaskan pendidikan dan berbagi kearifan. Hal ini mendorong kita untuk menjadi “leluhur pikiran”, dengan mendokumentasikan pelajaran hidup kita sehingga dapat menjadi peta jalan bagi mereka yang tidak akan pernah kita temui.

Dalam konteks kejiwaan, “tujuh turunan” menyiratkan keterhubungan mistis yang saling bertautan. Dalam banyak tradisi Indonesia, dipercaya bahwa “kemurnian” atau “bobot” spiritual seseorang dapat mengangkat derajat leluhur mereka dan melindungi keturunan mereka. Praktik spiritual pribadi kita bukan lagi merupakan upaya individual. Jika kita menemukan kedamaian, kita dipandang membawa cahaya bagi garis keturunan yang mungkin telah diselimuti oleh “kegelapan” atau “penderitaan” selama berpuluh-puluh tahun.

Dengan menyelesaikan konflik internal dan meningkatkan sikap memaafkan, kita “membersihkan” garis keluarga kita. Hal ini mencegah “hutang” spiritual masa lalu—seperti dendam atau trauma yang belum sembuh—diwariskan sebagai beban kepada generasi muda.

Perubahan Menuju yang Lebih Baik


KEKUATAN dari filosofi “tujuh turunan” terletak pada pertanggungjawaban. Ketika kita hidup hanya untuk diri sendiri, cakrawala kita menjadi sempit. Akan tetapi, ketika kita hidup untuk tujuh turunan, perspektif kita menjadi “cathedral thinking (pola pikir jangka panjang yang visioner, dimana sebuah tujuan ambisius direncanakan dan dikerjakan saat ini, meskipun penyelesaiannya mungkin memakan waktu beberapa generasi atau melampaui umur pembuatnya)—sebuah praktik menanam benih pohon yang keteduhannya tidak akan pernah kita nikmati sendiri.

 

Cara menerapkannya saat ini:

·        Tanyalah pada diri sendiri, “Jika cicit-cicit saya mewarisi kebiasaan saya saat ini, apakah mereka akan berkembang atau malah menderita?”

·        Hadapi “rahasia keluarga” atau trauma yang selama ini dipendam. Menyembuhkan diri sendiri adalah hadiah terbesar yang bisa Anda berikan kepada leluhur Anda.

·        Buatlah satu keputusan minggu ini—baik itu investasi keuangan, perubahan gaya hidup, atau kata-kata yang baik—yang secara khusus ditujukan untuk memberi manfaat bagi seseorang di 100 tahun yang akan datang.

 

Jangan hanya mewarisi tujuh turunan tersebut—ubahlah mereka. Karena pilihan-pilihan yang Anda buat pagi ini akan tetap berbisik di telinga keturunan Anda satu abad dari sekarang. Dengan merangkul konsep tujuh turunan, kita beralih dari sekadar penerima sejarah yang pasif menjadi arsitek masa depan yang aktif.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

Monday, January 19, 2026

Cukuran dalam Rangka Syukuran

MUNGKIN bukan sesuatu yang luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya berarti. Selama hampir 22 tahun menjadi anggota Subud, saya tidak memiliki kartu tanda anggota. Mungkin karena aktivitas saya di media sosial, yang di semua platform saya jelas-jelas mencantumkan informasi bahwa saya anggota Subud Indonesia, tidak sedikit anggota dalam dan luar negeri yang mengenal saya, sehingga setiap kali saya mendatangi cabang manapun untuk melakukan Latihan pengurus atau pembantu pelatih setempat tidak menanyakan kartu tanda anggota saya.

 




Saya melalui masa kandidat tiga bulan saya hingga dibuka di Subud Cabang Surabaya, sehingga otomatis secara administratif saya tercatat sebagai anggota Cabang Surabaya. Ketika saya pindah ke Jakarta, saya memantapkan diri untuk tidak memindahkan keanggotaan saya ke Cabang Jakarta Selatan. Bahkan setelah saya aktif Latihan di Cilandak selama lebih dari 12 tahun keanggotaan saya masih diakui di Cabang Surabaya. Tahun ke-12 masa saya di Subud, terjadi konflik di tubuh Cabang Surabaya yang berakibat sejumlah besar anggota dan pembantu pelatih kehilangan keterkaitan dengan cabang tersebut dan keleleran tanpa kejelasan keanggotaan dari cabang mana. Saya salah satunya.

 


Pada 14 Januari 2025, saya mendapat kabar sejuk bahwa Cabang Sidoarjo akan membantu membuatkan dokumen resmi mutasi empat anggota—saya di antaranya—dan satu pembantu pelatih bekas Cabang Surabaya untuk menjadi anggota resmi Cabang Sidoarjo. Dalam sehari, baik kartu tanda anggota saya dan surat pemberitahuan mutasi telah dirilis—dengan tanda tangan Komisaris Wilayah VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, Pak Seno Prasodjo—yang kemudian, pada 19 Januari 2026, membatalkannya karena dianggap saya telah mutasi ke Cabang Jakarta Selatan. Bagaimanapun, saya resmi terdaftar sebagai anggota Cabang Sidoarjo. Untuk itu, pada 15 Januari 2026, saya memangkas rambut saya sebagai tanda syukur.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, 20 Januari 2025

Saturday, January 17, 2026

Kebiasaan Gundul

 


SEBELUM tahun 1990/1991, saya tidak pernah berani tampil di depan umum dengan kepala gundul. Saya lebih menyukai rambut panjang melebihi kerah baju dan belah tengah yang membuat saya tampak berantakan dan kumuh.

Sebagai tentara, ayah saya tidak suka melihat potongan rambut saya. Waktu kecil, saya memang pasrah pada kehendak beliau yang menggunduli kepala saya di kedai cukur. Kala itu, akhir dekade 1960an dan awal 1970an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memang memberlakukan penertiban terhadap rambut gondrong. Dengan kenyataan itu, ayah saya selalu menakut-nakuti saya, bahwa saya bakal ditangkap polisi jika menolak ajakan beliau ke kedai cukur.

Saya mulai suka memangkas rambut saya bergaya crew cut (potongan rambut militer) saat media massa diramaikan berita-berita mengenai Operasi Desert Shield, fase awal dari Perang Teluk (1990-1991), yaitu operasi militer multinasional pimpinan Amerika Serikat untuk mengerahkan pasukan besar-besaran ke Arab Saudi sebagai respons terhadap invasi Irak ke Kuwait, bertujuan untuk mempertahankan Arab Saudi dan mempersiapkan serangan balasan yang kemudian dikenal sebagai Operasi Desert Storm. Kemunculan foto-foto tentara AS dengan rambut crew cut menginspirasi saya untuk mulai meniru gaya itu. Dan makin lama, saya makin menipiskannya hingga gundul sama sekali—yang memberi saya rasa seolah rekrutan tentara pada fase latihan dasar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Januari 2026

Thursday, January 15, 2026

Kesembuhan Melalui BEP

FLU dan batuk saya benar-benar parah Senin lalu, 12 Januari. Sudah enam hari berturut-turut saya terus-terusan minum obat flu dan tablet isap anti radang tenggorokan, tapi tidak ada yang mempan. Beruntung, sehari sebelumnya saya mendapat penerimaan untuk mencoba Bio Energy Power (BEP)—sebuah kombinasi latihan olah gerak dan pernapasan. Bisa dibilang itu adalah upaya terakhir saya.

Ternyata, penerimaan itu tepat sekali. Setelah melakukan 30 set (setiap set terdiri dari tiga gerakan berkelanjutan), saya mulai merasa lebih baik di hari yang sama. Ini benar-benar pengubah keadaan.

Saya pertama kali mendengar tentang BEP pada Maret 2009 melalui satu saudara Subud. Ia memperkenalkan saya kepada penciptanya, Pak Harry Angga, seorang dokter dari Bandung yang sangat mumpuni baik di bidang kedokteran Barat maupun Timur.

Beliau menggabungkan latar belakang medisnya dengan keahlian di bidang energi prana dan akupunktur untuk menciptakan cara yang sangat mudah dalam memicu proses penyembuhan alami tubuh.

Pertama kali saya bertemu Pak Harry, saya sedang mengalami masalah pencernaan selama dua minggu. Sakit itu langsung hilang setelah sesi latihan bersama beliau di Jakarta. Hal yang menarik adalah kelompok tersebut diikuti oleh berbagai usia, mulai dari anak delapan tahun hingga lansia 80 tahun—memang semudah itu untuk dipelajari.

Di video ini, Anda akan melihat latihan BEP versi berdiri, tapi saya biasanya melakukannya sambil duduk di kursi. Jika Anda ingin melihat hasil yang nyata, cobalah targetkan setidaknya 15 set.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 16 Januari 2026