SEJAK 26 Juli 2026, saya mulai melaksanakan kegiatan sukarela saya sebagai pelaksana proyek dari Arsip WSA (WSA Archives) Pusat Washington DC, Amerika Serikat. Proyek yang saya juduli “Indonesia Interviews” ini dalam rangka mengumpulkan rekaman audiovisual wawancara-wawancara saya dengan para anggota Subud di Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987 maupun mereka yang tetap aktif di Subud minimal 30 tahun. Video wawancaranya segera dikirim ke Daniela Moneta, Arsiparis WSA yang berbasis di Santa Monica, AS, melalui Google Drive.
Ketika diminta kesediaan saya untuk melaksanakan wawancara-wawancara tersebut, oleh Daniela, saya spontan menyanggupi. Saya hanya minta dana 50 dolar AS untuk pembelian lampu dan tiangnya, mikropon nirkabel dan lengan penyangga ponsel dan tablet. Ponsel dan tabletnya dimiliki saudara Subud yang sukarela pula membantu saya—dia pula yang mengoperasikan peralatannya.
Hingga saat ini, sudah sepuluh narasumber yang saya wawancarai, bertempat di studio siniar Rumah Wing Bodies Subud Indonesia di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak No. 22C (bekas rumah Prio Hartono) dan di Hall Latihan Jakarta Pusat, Jl. Johar Baru V No. 1, Jakarta Pusat. Semua terlaksana berkat bantuan tim saya yang terdiri dari dua anggota Jakarta Selatan.
Dalam pengerjaan proyek ini, saya tidak berkoordinasi dengan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, Pengurus Cabang Jakarta Selatan maupun Dewan Pembantu Pelatih Nasional Subud Indonesia, meski saya pernah menceritakannya via telepon ke Koordinator DPPN Pria, Luthfie Hadiyin. Pekerjaan saya ini untuk Subud, bukan untuk mencari perhatian, dan lahir dari spontanitas yang senyap. Ketika akhirnya orang tahu pun itu disebabkan oleh para narasumber yang bercerita kepada khalayak Subud bahwa mereka pernah diwawancarai saya untuk kepentingan Arsip WSA. Pengalaman saya selama ini, baik di Subud maupun di luar Subud, segala sesuatu yang dibahas berlarut-larut, direncanakan, dibegini-begitukan, malah tidak pernah jadi kenyataan atau jadi berantakan.
Prinsip saya dalam pelaksanaan proyek Indonesia Interviews dalam hal meminta kesediaan narasumber untuk diwawancara adalah “take it or leave it” (terima atau tidak sama sekali). Ada yang menolak karena merasa pengalamannya tidak ada nilainya, dan tidak perlu dibagikan ke orang lain, meski dari sudut pandang saya berbeda. Ada yang mensyaratkan agar saya meminta izin terlebih dahulu ke pengurus dan dewan pembantu pelatih, baru mereka bersedia. Yang banyak tuntutan seperti ini saya coret dari daftar narasumber prospektif saya. Menolak adalah hak narasumber, dan saya tidak akan mengemis kesediaan mereka. Take it or leave it!
Baru-baru ini, seorang pembantu pelatih wanita Jakarta Selatan, berinisial AS, melalui satu saudara Subud yang adalah anggota tim Indonesia Interviews, meminta Surat Penunjukan saya sebagai pelaksana proyek. Ini permintaan yang aneh bin lucu, mengingat (screenshot emailnya dikirim AS ke saudara Subud itu yang kemudian ia teruskan ke saya) bahwa Daniela pernah mengirim email ke AS, bahwa Arsip WSA mengharapkannya mengirimkan memorabilia peninggalan almarhum suaminya untuk dipreservasi Arsip WSA dan meminta kesediaannya untuk diwawancarai oleh saya (nama saya disebut dalam email tersebut).
Permintaan akan Surat Penunjukan itu didasari saran AS: “Saran pribadi, dan tolong disampaikan ke Mas Arifin. Untuk perlindungan bagi Mas Arifin dan tim, mitigasi kesalahpahaman, ada baiknya Mas Arifin minta surat penunjukan resmi sebagai seorang relawan yang bekerja untuk WSA ya...”
Meski keberatan dan merasa lucu, saya tetap merancang naskah surat penunjukan itu dan mengirimnya ke Daniela via email untuk meminta agar dia mengisi bagian yang perlu diisi, ditandatangani dan dikirim kembali ke saya. Email balasannya seperti dugaan saya; Daniela pun bekerja atas dasar spontanitas yang senyap, yang lumrah di Subud, paling tidak ketika Bapak masih ada. Email balasan Daniela itu menunjukkan bedanya anggota Subud di luar negeri dengan yang di Indonesia, yang kebanyakan birokratis dan feodalistik. Anggota Subud luar negeri selalu mengambil inisiatif sendiri dan berani mempertanggungjawabkannya. Seperti yang diceritakan beberapa anggota lama, tidak perlu meminta izin, melainkan restu, kepada Bapak. Bapak pun mengharapkan anggota lebih mandiri.
Berikut cuplikan email balasan Daniela:
“Oh, Arifin, tulisan itu (naskah Surat Penunjukan yang saya rancang—ADS) indah sekali. Akan bagus jika ketua proyek WSA Archives yang menandatanganinya. Jika demikian, beliau akan membuat dokumen itu jadi jauh lebih singkat. Saya tidak punya kewenangan untuk menandatanganinya.
Saya hanya melakukan sesuatu tanpa meminta izin. Jika saya melalui jalur yang resmi, tidak akan ada yang terselesaikan dan saya akan merasa frustrasi sepanjang waktu.
Ini adalah kesempatan untuk menjadikannya sesuatu yang nyata. Saya biasanya mulai melakukan hal-hal secara mandiri dan pada akhirnya, hal-hal tersebut menjadi bagian dari sistem. Seperti basis data WSA Archives. Saya tidak pernah bertanya apakah boleh membuatnya, saya langsung saja mulai kerjakan.”
Ini adalah sistem kerja orang yang telah menerima bimbingan Tuhan
melalui Latihan Kejiwaan. Jika segala sesuatu dimulai dengan rasa khawatir akan
ini-itu, sebagaimana kesan yang muncul dalam pesan AS yang ia titipkan untuk
saya, dipastikan akan berakhir gagal. Saya memilih untuk tetap spontan dan
senyap. Take it or leave it!©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 10 September 2026

