PERNAHKAH Anda merasa lelah karena terus-menerus mencoba membagi hidup menjadi dua paruh yang seimbang? Antara kerja dan istirahat, antara urusan dunia dan panggilan jiwa? Bagaimana jika selama ini perjuangan kita menyeimbangkan hidup justru membendung harmoni yang lebih sejati?
Banyak dari kita terjebak dalam obsesi menyeimbangkan dua kutub kehidupan. Kita terus berusaha membagi garis yang tegas antara kewajiban dan kesenangan, antara hiruk-pikuk kesibukan duniawi dan ketenangan spiritualitas. Seakan-akan, kedua hal tersebut adalah musuh bebuyutan yang harus dipaksa berdiri sejajar di atas timbangan. Padahal, alih-alih menguras energi demi menciptakan keseimbangan buatan, ada cara yang jauh lebih menentramkan: menjumbuhkan keduanya.
Kejumbuhan bukan sekadar kompromi. Diserap dari bahasa Jawa, jumbuh bermakna keselarasan yang mendalam. Kata ini menggambarkan sebuah keadaan elegan di mana dua hal yang tampak bertolak belakang, tumpang tindih, atau berseberangan, justru berpadu secara harmonis tanpa meleburkan identitas masing-masing.
Kesadaran akan indahnya kejumbuhan ini menyapa saya secara mendalam melalui Subud. Wejangan legendaris dari Bapak bahwa “Subud adalah saudara, saudara adalah Subud” menjadi pintu pembuka nurani. Pernyataan sederhana tetapi sarat makna ini menyadarkan saya: di semesta ini, tidak ada realitas yang benar-benar berseberangan jika kita tahu cara menjumbuhkannya.
Latihan Kejiwaan Subud bukanlah hiasan luar, melainkan daya hidup yang meresap dan mengaliri seluruh rongga jiwa seseorang sejak ia dibuka, lalu ditekuni dengan setia. Tidak ada jarak atau sekat antara seorang anggota Subud dengan Latihannya. Daya ilahi dari Latihan senantiasa bekerja aktif—mengarahkan langkah, membisikkan petunjuk, dan membimbing setiap gerak hidup kita.
Sangat disayangkan jika Latihan Kejiwaan hanya diperlakukan sebagai agenda sampingan yang dilakukan saat ada waktu senggang, atau sekadar suplemen pelengkap ibadah semata.
Pada hakikatnya, pesan Bapak menggarisbawahi satu kebenaran utuh: ke mana pun kita melangkah, apa pun yang kita kerjakan, dan di mana pun kita berada, Latihan Kejiwaan senantiasa menyertai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi kita. Kita tidak lagi perlu bersusah payah menyeimbangkan Latihan dengan hiruk-pikuk aktivitas lain, sebab Latihan itu sendiri telah menyatu—telah jumbuh—dengan seluruh diri kita.
Selama
kita masih memandang spiritualitas dan kesibukan dunia sebagai dua hal yang
harus ditimbang, selama itu pula hidup akan terasa membebani. Tetapi saat kita
berhenti memisahkan dan mulai menjumbuhkan, setiap embusan napas dan setiap
langkah kaki kita akan berubah menjadi bakti yang mengalir tanpa henti.
Sudahkah jiwa dan raga kita berjalan serasi hari ini?©2026
Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan,
21 Oktober 2026, pukul 22.08 WIB

