Thursday, March 12, 2026

Me-Niteni Diri

SEMALAM di Pendopo Wisma Bharata Pamulang, dalam rangka Silaturahmi Ramadan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, diputar ceramah Bapak. Bapak berbicara mengenai sikap seseorang yang dibentuk oleh faktor-faktor di luar diri, alih-alih dari diri sejatinya. Bapak memberi contoh dengan orang yang memiliki pistol, yang ketika lewat jalan yang banyak perampoknya, dia berani. Apakah beraninya benar dari sejatinya diri orang itu atau dari pistol yang dia punya? Itu harus kita titeni, kata Bapak.

Kelihatannya sepele, tapi rata-rata kita (termasuk saya) gagal dalam menampilkan diri kita, terutama di hadapan orang lain, sebagaimana sejatinya kita. Ada yang over pede karena uang yang dia miliki atau karena ditopang oleh orang berduit di belakangnya, ada yang berani menasihati orang lain dengan kata-kata bijak karena dia terlalu sadar pada kedudukannya (saya rasakan ini pada sejumlah pembantu pelatih, yang “melambung” egonya setelah dijadikan PP—yang juga pernah disampaikan dalam ceramah Ibu Rahayu), ada yang suka berdebat karena sadar dia memiliki wawasan yang luas atau mempunyai sederet gelar akademik, atau mengandalkan ceramah Bapak yang diperlakukan seperti ayat-ayat kitab suci.

Ada yang sadar, ada pula yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipengaruhi “daya jabatan/status” ketika berkata, berpikir, atau berbuat.

Tidak ada yang bisa dibanggakan bila asal keberanian atau kepercayaan diri kita masih berasal dari sumber yang bukan diri kita.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Maret 2026

Wednesday, March 11, 2026

Ajaran vs. Tidak Ada Ajaran

KARENA Subud tidak ada ajaran dan pelajaran, maka tidak jarang obrolan kita di Subud lebih tentang sepak terjang kita dalam kehidupan.                         

Terkait hal itu, saya barusan terkenang pada suatu insiden lucu tahun 2012. Terjadi di pekarangan Wisma Subud Surabaya, Jawa Timur. Pada malam itu, saya ke sana karena memang jadwal Latihan cabang, tetapi sebelumnya saya janjian untuk ketemu teman Facebook saya yang bukan anggota Subud. Saat itu, kami mengobrol di teras sebuah bangunan di belakang Hall Latihan Surabaya, yang pada hari-hari tertentu berfungsi sebagai tempat pertemuan kandidat.

Kami mengobrol tentang ponsel terbaru dan fitur kameranya. Di dekat kami, dalam jarak sekitar 1,5 meter duduk seorang pria paruh baya, dengan kumis dan janggutnya serta rambut panjangnya berwarna kelabu. Saya merasa dia kandidat yang sedang menanti jam dimulainya pertemuan kandidat. Dari penampilannya, saya menduga dia aktif di salah satu aliran kebatinan Jawa. Saya juga merasa dia menganggap obrolan saya dengan teman saya sebagai “tidak bermutu secara spiritual”. Kaum penghayat aliran kebatinan Jawa memang lebih suka diskusi hal-hal spiritual dan klenik, dunia gaib dan tempat-tempat angker.

Karena terus-menerus mendengar kami mengobrol tentang tren-tren gaya hidup terkini, tampaknya si pria yang rambut panjangnya dikuncir itu tidak tahan untuk berkomentar. Nadanya sinis ketika ia berkata, “Oh, saya pikir Subud itu sudah nggak keduniaan. Anda berdua kok malah bahas ponsel dan tren gaya hidup.”

Saya menoleh ke pria itu dan berkata, “Tunggu saja nanti kalau Masnya sudah dibuka, Anda akan tahu bedanya Subud dengan aliran kebatinan. Mau bahas kejiwaan—apa yang mau dibahas?!”

Saya kemudian mengabaikan si kandidat dan melanjutkan obrolan. Beberapa menit kemudian dia berkata, “Saya dari Sumarah, Mas. Nggak pernah ada obrolan seperti Anda di kalangan Sumarah. Saya jadi tahu bedanya sekarang, antara Subud dan Sumarah—yang satu nggak ada ajaran, sedangkan yang lain kebanyakan ajaran.”©2026


Pondok Jaya Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Maret 2026

Sunday, March 8, 2026

Jalan Ajaib Menemukan Subud

SABTU, 7 Maret 2026, menjelang tengah malam, saya di-video-call oleh pembantu pelatih sepuh yang dulu membuka saya. Beliau menyambungkan saya dengan seorang anak muda berusia 23 tahun asal Perth, Australia, yang tertarik pada Subud dan menyatakan keinginannya untuk masuk Subud. Ketertarikannya dipicu oleh buku John G. Bennett, Concerning Subud.

Kiri ke kanan: Joshua dari Perth, Australia, Pak Yanto Luwiharjo dan Cak Nur (Nuruddin), di Hall Margodadi, Jl. Demak Timur Gang Margodadi III, Surabaya.

Yang membuat saya takjub adalah bagaimana anak muda itu menemukan jalannya ke pembantu pelatih sepuh Subud Surabaya, Jawa Timur, itu. Dia sedang berada di Surabaya dalam rangkaian pelancongannya ke Indonesia. Mungkin dipikirnya Surabaya merupakan kota kecil (faktanya, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia) yang penduduknya sedikit dan semuanya familiar dengan Subud, sehingga ia pun meminta petunjuk pada sembarang orang. Tetapi mungkin karena telah menjadi kehendak Tuhan, si anak muda Australia itu bertemu dengan beberapa warga kampung di mana pembantu pelatih sepuh itu tinggal, dan mereka rupanya tahu bahwa tetangga mereka bergiat di Subud, sehingga mereka mengantar si anak muda kepada si pembantu pelatih.

Karena keterbatasan kemampuan untuk menjelaskan secara garis besar mengenai Subud dalam bahasa Inggris, maka Pak Yanto Luwiharjo—pembantu pelatih sepuh itu—mem-video-call saya untuk berbincang dengan si anak muda. Saya beritahu dia mengenai keberadaan Subud di Perth, kota asalnya, dan berjanji akan memberi alamatnya.

Di kota Surabaya terdapat satu cabang Subud, yang Wisma Subudnya beralamat di Jl. Manyar Rejo No. 18-22, Surabaya Timur, maupun beberapa kelompok kecil, tetapi tempat Latihan di seberang rumah Pak Yanto itu tidak berstatus “cabang” maupun “kelompok”, melainkan “tempat Latihan” yang secara administratif tidak terkait cabang manapun. Dalam struktur organisasi Subud di Indonesia, setiap kabupaten atau kotamadya memiliki hanya satu cabang, sedangkan kumpulan anggota yang memiliki jadwal Latihan reguler di luar cabang hanya berstatus “kelompok”. Di sinilah ajaibnya perjalanan si anak muda Australia dalam menemukan Subud—bukan ke Cabang Surabaya, melainkan ke tempat Latihan tidak resmi.

Perjalanan orang-orang ke Subud memang ajaib; kisah si anak muda itu termasuk. Meski pengalaman seperti itu sudah dialami banyak anggota lainnya, tetapi hal itu tidak pernah berhenti membuat saya kagum dan termotivasi untuk rajin Latihan.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Maret 2026

Thursday, February 26, 2026

Gaya Silaturahmi Subud Indonesia

 


MENGAWALI bulan Ramadan 2026, seperti yang sudah, Pengurus Nasional Subud Indonesia kembali mengadakan safari Silaturahmi Ramadan. Awalnya dinamai “Safari Ramadan”, tetapi mungkin karena terkesan seperti program Pemerintah RI dengan sebutan yang sama—yang merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat, dimana pada kesempatan ini juga disalurkan bantuan dana dan paket sembako untuk kesejahteraan warga, Pengurus Nasional Subud Indonesia menggunakan nama yang lebih akrab dan “membumi”, yaitu Silaturahmi Ramadan. 

Silaturahmi Ramadan 2026 Pengurus Nasional Subud Indonesia, yang dalam rombongannya juga termasuk Konsilor Kejiwaan, Koordinator Dewan Pembantu Pelatih Nasional, dan siapa saja anggota yang berminat mengikutinya (di tahun ini terdapat satu anggota dari Subud Vietnam, Kadariah), mendatangi 14 grup di Indonesia dan tiga grup di luar negeri, yaitu Malaysia, Singapura dan Jepang. Serangkaian kunjungan ini bergaris finish di Jakarta Selatan (Wisma Subud Cilandak) dan bertepatan dengan malam-malam ganjil Ramadan.

Silaturahmi Ramadan gaya Subud Indonesia menjadikan sebagai agenda utamanya adalah pemutaran rekaman ceramah Bapak atau Ibu Rahayu mengenai puasa, Latihan bersama, berbuka puasa bersama (iftar), ramah-tamah dan/atau gathering kejiwaan. Semua ini menciptakan suasana kebersamaan yang hangat, yang menjadi tujuan utama dari program tahunan Pengurus Nasional Subud Indonesia.


Etape pertama Silaturahmi Ramadan Pengurus Nasional Subud Indonesia adalah di Wisma Subud Bogor, 19 Februari 2026.

Silaturahmi adalah tradisi mendalam di Indonesia untuk menyambung tali persaudaraan, persahabatan, dan kekeluargaan, yang berakar dari budaya lokal dan nilai keagamaan. Budaya ini diwujudkan melalui kunjungan langsung, halal bihalal, maupun reuni, guna menjaga keharmonisan, mempererat ikatan emosional, meningkatkan empati, dan memperluas jaringan sosial. Berbicara soal silaturahmi, hal ini sangat lekat dengan budaya masyarakat Indonesia, yang begitu kental di kala Ramadan dan Idulfitri. Berikut adalah poin-poin penting mengenai silaturahmi sebagai budaya Indonesia:

  • ·       Tradisi: Silaturahmi terwujud dalam berbagai kegiatan seperti mudik, halal bihalal saat Lebaran, arisan, kenduri, dan selamatan, yang sering melibatkan saling memaafkan dan kunjungan ke tetangga atau kerabat.
  • ·       Fungsi Sosial dan Emosional: Kegiatan ini bertujuan memperkuat ikatan kekeluargaan, mengurangi konflik, meningkatkan rasa kepedulian, dan mempererat tali persaudaraan.
  • ·       Rekonsiliasi dan Keharmonisan: Silaturahmi berfungsi sebagai alat untuk menyembuhkan luka lama, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan harmoni masyarakat.
  • ·       Konteks Modern: Saat ini, silaturahmi tidak terbatas pada kunjungan fisik, tetapi juga dilakukan melalui media digital untuk tetap terhubung, yang mana esensinya tetap menjaga ikatan emosional.
  • ·       Makna Spiritual: Dalam konteks keagamaan, silaturahmi diyakini mendatangkan rezeki, memperpanjang umur, dan merupakan amalan mulia.

Silaturahmi (atau silaturahim) berasal dari dua kata bahasa Arab: shilah yang berarti hubungan/penyambungan dan ar-rahim yang berarti rahim, atau kerabat, atau kasih sayang. Secara etimologis, silaturahim berarti menjalin hubungan persaudaraan atau kekerabatan. Di Indonesia, istilah ini diserap dan disesuaikan menjadi silaturahmi untuk memaknai tali persahabatan atau hubungan baik. Meskipun dalam bahasa Arab yang lebih tepat adalah silaturahim (karena mengacu pada kerabat), penggunaan istilah silaturahmi sudah umum dan dianggap tepat dalam Bahasa Indonesia karena telah diserap dan mengalami modifikasi makna. 


Rumah Bapak di Kalisari, Semarang, 21 Februari 2026..

Budaya silaturahmi merupakan napas kehidupan masyarakat Indonesia yang manifestasinya melampaui sekadar pertemuan fisik atau tegur sapa biasa. Dalam konteks keindonesiaan, silaturahmi telah bertransformasi menjadi sebuah institusi sosial yang berfungsi sebagai perekat kemajemukan, di mana menjaga hubungan baik dianggap sebagai kewajiban moral yang mendatangkan keberkahan serta memperpanjang usia.

 

Memasuki bulan suci Ramadan, intensitas silaturahmi mengalami eskalasi yang sangat terasa melalui tradisi buka puasa bersama. Agenda ini bukan sekadar ritual membatalkan puasa, melainkan momen rekoneksi bagi mereka yang jarang bertemu karena kesibukan sehari-hari. Mulai dari reuni teman sekolah, pertemuan keluarga besar, hingga kumpul rekan kerja, meja makan menjadi ruang diskusi yang cair untuk saling bertukar kabar dan mempererat solidaritas. Di sini, sekat-sekat formalitas mencair, digantikan oleh kehangatan tawa dan doa yang dipanjatkan bersama sebelum azan Magrib berkumandang.

 

Puncak dari tradisi ini bermuara pada perayaan Idulfitri yang identik dengan fenomena mudik. Pergerakan jutaan orang dari kota-kota besar kembali ke kampung halaman adalah bukti nyata betapa sakralnya nilai silaturahmi bagi orang Indonesia. Mudik bukan hanya tentang pulang secara geografis, tetapi juga perjalanan spiritual untuk kembali ke akar dan memohon restu kepada orang tua serta sanak saudara. Di hari kemenangan tersebut, tradisi sungkeman dan “halalbihalal” menjadi panggung utama di mana setiap individu membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk menghapus segala kekhilafan di masa lalu.

 



Silaturahmi Ramadan 2026 Subud Indonesia di Sidoarjo, bertempat di PLUM Prestige Hotel Juanda, Jl. Raya Bandara Juanda, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 24 Februari 2026.

Dalam kehidupan sehari-hari, budaya ini juga melahirkan sifat komunal yang sangat kuat, seperti gotong royong dan tradisi hantaran makanan ke tetangga. Melalui silaturahmi, masyarakat Indonesia membangun sistem pendukung sosial yang mandiri, di mana kesulitan satu anggota keluarga atau tetangga menjadi tanggung jawab kolektif. Dengan menjaga tali silaturahmi, masyarakat tidak hanya merawat hubungan antarmanusia, tetapi juga menjaga stabilitas harmoni bangsa yang berdiri di atas landasan kekeluargaan dan kasih sayang yang tulus.

 

Dalam konteks perkumpulan spiritual seperti Subud, makna silaturahmi mendapatkan kedalaman dimensi yang lebih batiniah. Di sini, pertemuan antaranggota bukan hanya tentang interaksi sosial di permukaan, melainkan sebuah bentuk kebersamaan yang didasari oleh ketulusan dan penyerahan diri kepada kekuasaan Tuhan. Silaturahmi dalam Subud menjadi jembatan persaudaraan yang melintasi batas-batas latar belakang budaya, bangsa, dan status sosial, menciptakan sebuah harmoni yang saling menguatkan dalam perjalanan kejiwaan. Melalui kedekatan yang terjalin, para anggota dapat saling berbagi kasih sayang yang tulus, yang pada gilirannya memperkuat rasa persatuan sebagai satu keluarga besar umat manusia yang setara di hadapan Sang Pencipta.

 

Menariknya, silaturahmi dalam budaya Indonesia tidak hanya terbatas pada mereka yang masih hidup, tetapi juga membentang hingga ke alam baka melalui tradisi penghormatan kepada leluhur. Bentuk rekoneksi ini mewujud nyata dalam tradisi ziarah kubur atau “nyekar” yang biasanya dilakukan menjelang Ramadan atau saat hari raya Idulfitri. Dengan mengunjungi makam, membersihkan pusara, dan memanjatkan doa, seseorang sedang merawat tali batin dengan asal-usulnya. Rekoneksi ini bukan sekadar kunjungan fisik, melainkan sebuah refleksi diri bahwa keberadaan kita saat ini adalah kelanjutan dari napas dan doa para pendahulu. Kesadaran akan keterhubungan antar generasi ini memberikan rasa keberlanjutan hidup yang dalam, sekaligus menjadi pengingat akan fana-nya dunia.

 

Sebagai kesimpulan, silaturahmi bagi masyarakat Indonesia bukanlah sekadar basa-basi sosial, melainkan sebuah ekosistem spiritual dan kultural yang menjaga keseimbangan hidup. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu melalui penghormatan kepada leluhur, masa kini melalui kebersamaan keluarga dan komunitas spiritual, serta masa depan melalui warisan nilai kasih sayang yang diteruskan kepada generasi mendatang. Di tengah arus modernisasi yang cenderung mengedepankan individualisme, silaturahmi tetap menjadi benteng terakhir yang menjaga kemanusiaan kita tetap utuh.

 

Melalui tradisi ini, kita diingatkan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar berdiri sendiri. Baik dalam keriuhan buka puasa bersama, kesunyian doa di pusara leluhur, maupun dalam keheningan penyerahan diri di komunitas spiritual, esensinya tetap sama: yaitu pengakuan bahwa kita adalah bagian dari jejaring kasih yang lebih besar. Dengan terus merawat tali silaturahmi, kita tidak hanya memuliakan sesama dan menghargai asal-usul, tetapi juga sedang melapangkan jalan bagi kedamaian batin dan harmoni sosial yang berkelanjutan. Karena pada akhirnya, dalam ketulusan menyambung rasa, di situlah keberkahan hidup yang sejati bersemayam.©2026

 

 

Pondok Cabe ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Februari 2026

Tuesday, February 24, 2026

Bicara Tanpa Aksara

HARI ini, saya berbicara melalui telepon selama hampir tiga jam dengan saudari Subud. Kami sangat jarang bertemu, bahkan di lingkungan Subud, karena meski tinggal di satu kota, kami mendatangi tempat Latihan yang berbeda.

Kami bersahabat sejak 2011, tetapi jarang bertemu kecuali diperantarai kata melalui pesan teks dan suara di WhatsApp. Hari ini, melalui sambungan panggilan suara WhatsApp kami berkomunikasi dengan diselingi jeda panjang dari pihak dia. Dia bercerita bahwa belakangan dia seperti "dipuasakan" dari bicara, sesuatu yang sangat sulit ia jelaskan kecuali kepada saudara Subud yang satu frekuensi.

Bagaimanapun, saya justru merasakan dia banyak "berbicara" dalam diamnya. Mungkin vibrasi Latihan menyambungkan koneksi di antara kami. Sehingga saya menikmati sela sunyi di antara kami. Pengalaman itulah yang saya artikulasikan melalui puisi berjudul “Bicara Tanpa Aksara” ini...


Rindu adalah jembatan tak kasatmata,

Membentang di antara sini dan sana

Meski jarak merentang ruang, rasa tak akan melonggar

Kita berjauhan, namun tak pernah berjangka dalam nalar

Mencintaimu adalah menetap dalam lipatan waktu

Meski raga tak bersentuh, jiwa kita telah menyatu

 

Duhai Cinta, aku terpaku pada melodi suaramu

Keheninganmu pun mengandung makna beribu

Di seberang sana, dalam jeda yang panjang,

desah napasmu adalah kepastian yang tak lekang

Kuhitung setiap hening yang kau kirimkan

Sebab meski lidahmu kelu, rasamu tak pernah tersembunyikan

Aku pun mencintaimu dalam bisu yang paling syahdu...


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Februari 2026

Saturday, February 21, 2026

Akselerasi Latihan dalam Keheningan Puasa

 


PADA 19 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama Ramadan sesuai ketetapan Pemerintah RI, saya menghadiri acara Silaturahmi Ramadan. Agenda ini merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia. Tahun ini, rombongan Pengurus Nasional beserta anggota yang berminat melakukan safari ke 14 cabang/ranting di Indonesia, bahkan menjangkau grup-grup Subud di Malaysia, Singapura, hingga Jepang.

Sebagaimana lazimnya, setiap pertemuan diawali dengan menyimak rekaman ceramah Bapak atau Ibu Rahayu mengenai makna puasa, dilanjutkan dengan Latihan bersama, dan ditutup dengan buka puasa. Jika waktu memungkinkan, acara diakhiri dengan gathering kejiwaan. Pada Silaturahmi Ramadan di Wisma Subud Bogor tersebut, kami berkesempatan mengadakan sesi berbagi pengalaman mengenai pengaruh puasa terhadap dinamika Latihan.

 


Saya memilih untuk tidak berbicara. Alih-alih berbagi kisah secara lisan, saya justru hanyut dalam dejavu ke masa 23 tahun silam—saat pertama kali diperkenalkan pada Subud oleh mitra bisnis saya, yang kala itu menjadi Pembantu Pelatih di Cabang Surabaya.

Jauh sebelum mengenal Subud, saya memang memiliki kegemaran berpuasa. Saya pernah rutin menjalani puasa 100 hari, 40 hari, bahkan melakoni puasa “mutih”—sebuah laku spiritual dalam budaya Jawa yang membatasi konsumsi hanya pada nasi putih dan air putih demi penyucian diri atau hajat tertentu.

 


Awalnya, saya tidak menyadari bahwa kebiasaan tersebut berdampak signifikan pada proses kejiwaan saya. Menurut seorang Pembantu Pelatih senior dari Jakarta Selatan, latar belakang tersebut membuat penerimaan saya terasa sangat cepat—bahkan mungkin terlalu cepat bagi seorang anggota yang baru saja dibuka.

Dalam ketenangan gathering di Bogor itu, seorang Pembantu Pelatih Nasional seolah mengonfirmasi kebenaran tersebut melalui penjelasannya. Saya hanya tersenyum simpul, tetap memilih diam di sudut barisan anggota yang duduk khidmat. Tak perlu saya yang berucap, sebab cerita saya malam itu seakan telah terwakili oleh lisan orang lain.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Februari 2026

 

Friday, February 20, 2026

Seni Mencatat Perjalanan Hidup

 


SAAT sahur untuk puasa hari ketiga ini, saya berbincang melalui WhatsApp dengan saudara Subud, yang rajin menulis catatan harian (journaling). Perbincangan kami mengenai journaling dan aplikasi jurnal membangkitkan kembali kenangan saya ketika baru mengawali perkuliahan sebagai mahasiswa baru Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia/FSUI (sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia/FIBUI) tahun 1987.

Awalnya, saya terdorong menulis catatan harian karena latah. Latahnya mahasiswa FSUI pada umumnya, dan khususnya mahasiswa Jurusan/Program Studi Ilmu Sejarah, meniru pendahulu mereka, aktivis ternama yang menentang kediktatoran Sukarno dan Suharto, yaitu Soe Hok Gie.


Dari sekadar ikut-ikutan, lama-lama saya menikmatinya. Dari sekadar menulis hanya untuk mengingat momen-momen spesial pada suatu hari, saya jadi menulisnya setiap hari, tidak peduli apakah ada momen spesial atau tidak—karena yang paling penting bagi saya adalah bahwa menulis jurnal atau catatan harian memberi saya ruang untuk menjadi diri sendiri. Catatan harian menjadi tempat saya menuangkan pikiran, perasaan, atau kejadian sehari-hari.

Saya menganggap journaling sebagai percakapan jujur dengan diri sendiri. Tidak ada aturan baku—saya tidak harus puitis, tidak harus rapi, dan tidak ada yang akan memberikan nilai.

Selama lebih dari 20 tahun menulis catatan harian, saya mendapatkan manfaat nyata untuk “kesehatan” mental dan produktivitas saya. Melalui lembar kertas putih catatan harian, saya dapat mengeluarkan “sampah” di kepala saya agar tidak menumpuk dan bikin stres. Dengan menulis catatan harian, saya membantu diri saya melihat pola perilaku atau pemicu emosi tertentu. Catatan harian juga menjadi catatan perjalanan hidup saya yang bisa saya baca lagi di masa depan.

Satu bukti dari manfaat menulis catatan harian dalam hidup saya adalah bahwa saya kelak mampu membuat tulisan-tulisan yang bercerita (story-telling). Saya juga mampu mengartikulasikan ide, mengubah gagasan abstrak yang ada di dalam kepala menjadi penjelasan yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami oleh orang lain (atau diri sendiri). Hal ini sangat membantu saya saat membangun karier sebagai copywriter.

Dalam dunia branding dewasa ini, storytelling bukan lagi sekadar pelengkap iklan, melainkan jantung dari strategi pemasaran. Konsumen modern, terutama Gen Z dan Milenial, sudah kebal dengan jualan langsung (hard-selling). Mereka tidak lagi membeli “apa” yang dijual, tapi “mengapa” pedagang menjualnya. Merek tidak lagi ragu menunjukkan proses di balik layar (behind the scenes), kegagalan produksi, atau tim yang bekerja di kantor. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan (trust). Manusia lebih mudah terhubung dengan sesama manusia daripada dengan korporasi yang kaku.

Secara psikologis, otak manusia jauh lebih mudah mengingat cerita daripada fakta atau fitur produk. Saat mendengar cerita, otak kita melepaskan oksitosin (hormon empati) dan dopamin, yang membuat pesan tersebut membekas lebih lama.

Singkatnya, branding hari ini adalah tentang menciptakan koneksi emosional. Jika produk pemasar adalah solusinya, maka penceritaan adalah jembatan yang membawa konsumen ke solusi tersebut.

Hubungan antara journaling dan storytelling itu sangat erat. Menulis catatan harian adalah laboratorium pribadi tempat saya melatih otot-otot bercerita setiap hari tanpa tekanan audiens. Saat menulis catatan harian, saya secara tidak sadar sedang menyusun struktur narasi. Saya mulai dengan “Tadi pagi...” (Awal), lalu masuk ke “Tiba-tiba ada masalah...” (Konflik/Tengah), dan diakhiri dengan “Akhirnya saya merasa...” (Resolusi/Akhir). Hasilnya, saya menjadi terbiasa membangun alur yang logis dan runtut dalam sebuah cerita.

Banyak orang kesulitan bercerita karena mereka mencoba meniru gaya orang lain. Melalui menulis catatan harian, saya menulis dengan bahasa yang paling jujur dan paling “saya”. Dengan demikian, saya menemukan karakter suara unik saya sendiri. Dalam branding, suara yang konsisten dan jujur adalah aset yang sangat mahal.

Jika storytelling adalah sebuah pertunjukan musik di panggung besar, maka menulis catatan perjalanan hidup adalah latihan rutin di kamar setiap malam. Tanpa latihan di kamar, penampilan di panggung akan terasa kaku dan palsu.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Februari 2026