Sunday, November 1, 2026

Ketika Perjalanan Spiritual Menolak Kata-Kata

SAYA selalu iri pada teman-teman saya yang bisa menuliskan pengalaman perjalanan batin atau pencerahan spiritual mereka ke dalam bentuk prosa yang mengalir indah atau puisi yang penuh makna. Rasa iri itu datang bukan tanpa alasan; saya justru merasa gamang karena sebagai seseorang yang akrab dengan dunia tulis-menulis, saya malah tidak mampu melakukan hal yang sama pada pengalaman saya sendiri.

Di satu sisi, saya menekuni jalan spiritual secara sungguh-sungguh, namun di sisi lain, setiap kali saya mencoba menyelami titik-titik pencerahan batin atau momen keheningan yang saya alami, alurnya terasa semakin random dan liar. Pikiran saya mendadak terasa kaku dan sulit diajak berkompromi ketika saya mencoba memaksakannya ke dalam bentuk kalimat yang terstruktur rapi.

Bagi sebagian orang, proses merangkai kata dan menulis itu sendiri merupakan sebuah jalan spiritual yang autentik. Menulis dipandang sebagai laku meditatif yang memberi ruang lapang bagi seseorang untuk kembali menjadi diri sendiri secara utuh. Aktivitas menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata kerap kali menjadi wadah kontemplatif yang menenangkan, tetapi ternyata hal itu tidak berlaku bagi semua orang. Dalam Latihan Kejiwaan yang saya jalani sebagai anggota Subud, di mana keheningan dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa memegang peranan utama, pengalaman-pengalaman spiritual sering kali melampaui batas-batas bahasa.

Kadang-kadang, bagi sebagian dari kita, “menulis mental"—yaitu meresapi, mengalami, dan merenungkan semuanya murni melalui rasa serta gejolak pikiran yang hening tanpa harus menyentuhnya dengan kata atau bahasa—sudah lebih dari cukup untuk merangkum kedalaman makna yang ada.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 November 2026

Friday, October 30, 2026

Dari Sahabat Menjadi Saudara Subud

ADA satu pernyataan dalam ceramah Bapak Muhammad Subuh (saya lupa tanggal dan tempatnya maupun kode rekamannya) yang menurut saya lucu—saya pun tertawa saat membacanya. Di dalamnya, Bapak menganjurkan agar sebelum masuk Subud kita jangan nakal.

Yang membuat pernyataan itu lucu adalah bahwa sebagian besar dari anggota Subud tidak pernah mengira bahwa pada satu titik kehidupan mereka mereka akan masuk Subud, sehingga kenakalan mungkin saja tidak bisa dihindari, karena kita rata-rata tidak menyadari perbuatan kita saat kita melakukannya.

Hal itulah yang terlintas di benak saya ketika sahabat saya semasa kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Kenny, disaksikan pembukaannya oleh tiga pembantu pelatih pria Subud Jakarta Selatan pada 30 Oktober 2026, di rumah di mana dia tinggal selama menjalani pengobatan ginjalnya, di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Saya telah berteman dengannya selama hampir empat dekade dan selama kami berkomunikasi sejak kami kerap bertemu kembali pasca reuni di rumahnya pada 13 September 2014 tidak pernah ia mengungkit-ungkit apapun tentang Subud, meski dia tahu saya anggota Subud.

 


Saya kini hanya bersyukur sahabat saya telah menjadi saudara Subud. Semoga Tuhan memurahinya dengan kesembuhan dari penyakitnya, pencerahan atas pengalaman sakitnya, dan semangat untuk terus berbakti kepada Tuhan melalui Latihan Kejiwaan Susila Budhi Dharma.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Oktober 2026

Monday, October 26, 2026

Apakah Tuhan Hanya Bisa Ditemui dalam Agama?

SESEORANG bisa rajin beribadah, hafal berbagai doa, menjalankan ritual dengan tertib, dan menjadi bagian dari komunitas keagamaan yang taat. Bagaimanapun, apakah semua itu dengan sendirinya membuatnya menjadi manusia yang lebih spiritual? Sebaliknya, seseorang mungkin tidak menganut agama apa pun. Ia tidak menjalankan ritual keagamaan, tidak menghadiri tempat ibadah, bahkan mungkin tidak yakin apakah Tuhan benar-benar ada. Tetapi ia hidup dengan penuh kesadaran, memperlakukan sesama dengan kasih, menjaga kejujuran, dan berusaha memahami makna keberadaannya di dunia. Apakah ia lantas tidak memiliki spiritualitas?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada sebuah kemungkinan yang patut direnungkan: barangkali agama dan spiritualitas bukanlah dua hal yang selalu harus berjalan beriringan.

Agama dan spiritualitas memang memiliki titik temu, tetapi keduanya tidak sepenuhnya identik. Agama umumnya menyediakan ajaran, tradisi, ritual, dan komunitas yang membantu manusia memahami hubungannya dengan Tuhan serta kehidupan. Spiritualitas, di sisi lain, berkaitan dengan pencarian makna, pengenalan diri, pengalaman batin, dan kesadaran akan sesuatu yang melampaui kepentingan ego pribadi.

Bagi banyak orang, agama merupakan jalan yang sangat berarti untuk mengembangkan kehidupan spiritual. Melalui doa, meditasi, ibadah, dan ajaran moral, mereka menemukan kedamaian, arah hidup, serta hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan. Agama juga dapat memberikan disiplin dan komunitas yang membantu seseorang bertumbuh.

Tetapi apakah sebuah jalan harus menjadi satu-satunya jalan yang mungkin?

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Kita sering kali begitu terbiasa dengan kerangka berpikir yang menempatkan agama sebagai pintu utama, bahkan terkadang satu-satunya pintu, menuju spiritualitas. Akibatnya, seseorang yang tidak beragama mudah dianggap tidak memiliki kehidupan spiritual, seolah-olah kedalaman batin hanya dapat tumbuh di dalam batas-batas keyakinan yang terorganisasi.

Padahal, pengalaman manusia jauh lebih luas daripada kategori yang kita gunakan untuk menjelaskannya. Seseorang dapat menemukan kedalaman melalui keheningan, ketika ia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan mulai mengamati pikiran serta perasaannya sendiri. Ia mungkin menyadari betapa banyak tindakannya selama ini didorong oleh ketakutan, ambisi, kebutuhan akan pengakuan, atau keinginan untuk selalu dianggap benar. Kesadaran semacam ini dapat menjadi awal dari perubahan batin yang mendasar.

Orang lain mungkin menemukan pengalaman serupa ketika berdiri di tepi laut, menyaksikan matahari terbit, atau memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Di hadapan alam semesta yang begitu luas, ia merasakan kekaguman sekaligus kerendahan hati. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupannya sendiri.

Ada pula orang yang menemukan kedalaman spiritual melalui tindakan sederhana: menolong seseorang tanpa mengharapkan balasan, mendengarkan orang lain tanpa buru-buru menghakimi, atau memilih untuk tetap jujur ketika kebohongan akan lebih menguntungkan dirinya. Semua pengalaman itu tidak harus didahului oleh pernyataan iman tertentu. Ia dapat tumbuh dari kesediaan manusia untuk memperhatikan kehidupan secara lebih sungguh-sungguh.

Lalu, apakah spiritualitas tanpa agama berarti seseorang tidak percaya kepada Tuhan? Tidak selalu.

Ada orang yang tetap percaya kepada Tuhan, tetapi merasa tidak harus mengidentifikasikan seluruh pengalaman spiritualnya dengan satu institusi keagamaan. Ada pula yang terbuka terhadap kemungkinan adanya realitas yang lebih besar daripada kemampuan manusia untuk memahaminya, tetapi memilih untuk tidak membuat kesimpulan yang tergesa-gesa. Sementara itu, ada orang yang tidak percaya kepada Tuhan personal, tetapi tetap berusaha menjalani kehidupan dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa pencarian spiritual tidak selalu dimulai dari jawaban yang sama. Bagi sebagian orang, ia berawal dari keyakinan. Bagi yang lain, justru dari pertanyaan. Dan bagi sebagian lainnya, ia tumbuh dari pengakuan jujur bahwa ada banyak hal mendasar tentang kehidupan yang belum mereka ketahui. Mungkin, justru di situlah salah satu kualitas penting spiritualitas: kesediaan untuk tidak selalu merasa memiliki seluruh jawaban.

Tetapi kita juga perlu berhati-hati agar spiritualitas tidak menjadi sekadar label baru yang membuat seseorang merasa lebih unggul daripada orang lain. Menganggap diri lebih tercerahkan karena tidak beragama sama kelirunya dengan menganggap diri lebih suci semata-mata karena beragama. Sebab, pengalaman batin yang mendalam belum tentu membuat seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Seseorang dapat berbicara tentang kesadaran, energi, kedamaian, atau pencerahan, tetapi tetap dikuasai kesombongan, manipulasi, dan kepentingan pribadi.

Karena itu, kedalaman spiritual barangkali lebih tepat dinilai dari buahnya daripada dari klaimnya. Apakah seseorang menjadi lebih jujur terhadap dirinya sendiri? Apakah ia semakin mampu menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan kejernihan? Apakah ia lebih rendah hati dalam memahami keterbatasannya? Apakah ia semakin peka terhadap penderitaan orang lain? Dan yang tidak kalah penting, apakah ia mampu memperlakukan orang yang berbeda keyakinan dengan rasa hormat yang sama seperti yang ia harapkan dari orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak secara otomatis membuktikan atau mengukur spiritualitas seseorang. Bagaimanapun, semuanya dapat menjadi cermin untuk melihat apakah pencarian batin benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, kita tidak perlu mempertentangkan agama dengan spiritualitas. Agama dapat menjadi jalan yang mendalam, kaya, dan bermakna bagi mereka yang menjalaninya dengan kesadaran. Tradisi keagamaan dapat memberikan bahasa, disiplin, dan kebijaksanaan untuk memahami pengalaman batin. Akan tetapi, mengakui nilai sebuah jalan tidak berarti kita harus menutup kemungkinan adanya jalan lain.

Barangkali persoalan sesungguhnya bukan apakah seseorang beragama atau tidak, melainkan bagaimana ia menjalani kehidupan dan memahami keberadaannya di dunia.

Jika spiritualitas adalah pencarian terhadap makna, kebenaran, dan sesuatu yang melampaui ego, maka pencarian itu semestinya tidak membuat manusia semakin sempit dalam memandang dunia. Sebaliknya, ia seharusnya menumbuhkan kerendahan hati untuk menyadari bahwa pengalaman orang lain mungkin berbeda, dan bahwa pemahaman kita sendiri selalu memiliki keterbatasan.

Maka, pertanyaan “Apakah Tuhan hanya bisa ditemui di dalam agama?” mungkin tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Jawabannya akan bergantung, antara lain, pada apa yang kita maksud dengan Tuhan, pengalaman spiritual, dan agama itu sendiri. Tetapi pertanyaan tersebut dapat membuka ruang perenungan yang lebih luas: apakah kita sungguh-sungguh sedang mencari kebenaran, atau sekadar mempertahankan keyakinan bahwa jalan kitalah satu-satunya jalan yang benar?

Sebab, bisa jadi, pencarian spiritual yang paling mendalam bukanlah tentang seberapa dekat kita merasa dengan Tuhan, seberapa tinggi kita menilai kesadaran diri, atau seberapa kuat kita mempertahankan identitas keagamaan. Bisa jadi, pencarian itu justru terlihat dari kesediaan kita untuk terus belajar, mengoreksi diri, dan memperlakukan kehidupan dengan lebih bijaksana.

Agama bisa menjadi jalan menuju spiritualitas, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya jalan. Dan siapa pun yang sungguh-sungguh mencari kedalaman batin barangkali perlu memulai dengan satu sikap sederhana: kerendahan hati untuk mengakui bahwa jalan menuju pemahaman tidak selalu sama bagi setiap manusia.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Oktober 2026                                                                                             

Tuesday, October 20, 2026

Keseimbangan vs. Kejumbuhan

PERNAHKAH Anda merasa lelah karena terus-menerus mencoba membagi hidup menjadi dua paruh yang seimbang? Antara kerja dan istirahat, antara urusan dunia dan panggilan jiwa? Bagaimana jika selama ini perjuangan kita menyeimbangkan hidup justru membendung harmoni yang lebih sejati?

Banyak dari kita terjebak dalam obsesi menyeimbangkan dua kutub kehidupan. Kita terus berusaha membagi garis yang tegas antara kewajiban dan kesenangan, antara hiruk-pikuk kesibukan duniawi dan ketenangan spiritualitas. Seakan-akan, kedua hal tersebut adalah musuh bebuyutan yang harus dipaksa berdiri sejajar di atas timbangan. Padahal, alih-alih menguras energi demi menciptakan keseimbangan buatan, ada cara yang jauh lebih menentramkan: menjumbuhkan keduanya.

Kejumbuhan bukan sekadar kompromi. Diserap dari bahasa Jawa, jumbuh bermakna keselarasan yang mendalam. Kata ini menggambarkan sebuah keadaan elegan di mana dua hal yang tampak bertolak belakang, tumpang tindih, atau berseberangan, justru berpadu secara harmonis tanpa meleburkan identitas masing-masing.

Kesadaran akan indahnya kejumbuhan ini menyapa saya secara mendalam melalui Subud. Wejangan legendaris dari Bapak bahwa “Subud adalah saudara, saudara adalah Subud” menjadi pintu pembuka nurani. Pernyataan sederhana tetapi sarat makna ini menyadarkan saya: di semesta ini, tidak ada realitas yang benar-benar berseberangan jika kita tahu cara menjumbuhkannya.

Latihan Kejiwaan Subud bukanlah hiasan luar, melainkan daya hidup yang meresap dan mengaliri seluruh rongga jiwa seseorang sejak ia dibuka, lalu ditekuni dengan setia. Tidak ada jarak atau sekat antara seorang anggota Subud dengan Latihannya. Daya ilahi dari Latihan senantiasa bekerja aktif—mengarahkan langkah, membisikkan petunjuk, dan membimbing setiap gerak hidup kita.

Sangat disayangkan jika Latihan Kejiwaan hanya diperlakukan sebagai agenda sampingan yang dilakukan saat ada waktu senggang, atau sekadar suplemen pelengkap ibadah semata.

Pada hakikatnya, pesan Bapak menggarisbawahi satu kebenaran utuh: ke mana pun kita melangkah, apa pun yang kita kerjakan, dan di mana pun kita berada, Latihan Kejiwaan senantiasa menyertai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi kita. Kita tidak lagi perlu bersusah payah menyeimbangkan Latihan dengan hiruk-pikuk aktivitas lain, sebab Latihan itu sendiri telah menyatu—telah jumbuh—dengan seluruh diri kita.

Selama kita masih memandang spiritualitas dan kesibukan dunia sebagai dua hal yang harus ditimbang, selama itu pula hidup akan terasa membebani. Tetapi saat kita berhenti memisahkan dan mulai menjumbuhkan, setiap embusan napas dan setiap langkah kaki kita akan berubah menjadi bakti yang mengalir tanpa henti. Sudahkah jiwa dan raga kita berjalan serasi hari ini?©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Oktober 2026, pukul 22.08 WIB

Wednesday, October 7, 2026

Keheningan: Bukan Sebuah Jalan Pulang

 

“Latihan Kejiwaan Subud itu benar-benar merupakan ‘inti’ daripada segala apa yang menjadi kebutuhan saudara. Apa sebab demikian? Karena Latihan Kejiwaan Subud itu ada bukan karena diadakan, tapi ada dengan sendirinya, yang berarti pada hakikatnya ada dari kekuasaan Tuhan.” 

~RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo,

Aneka Subud No. 125/hlm. 180, Cilandak, Indonesia, 14 Juni 1986

 

BANYAK tradisi menempatkan diam sebagai sarana yang intim untuk berdoa, bermeditasi, atau berzikir. Kita mengenal tafakkur dalam Islam sebagai upaya meraih sakinah—kedamaian hati yang terbebas dari cengkeraman ego. Begitu pula dalam tradisi Hindu Bali dan filsafat Timur, di mana keheningan atau maunam dihayati sebagai sirnanya dominasi ego agar jiwa dapat menyatu kembali dengan realitas murni yang melampaui dualitas.

Selama ini, kita percaya bahwa mematikan kebisingan pikiran, ambisi, dan kecemasan sehari-hari melalui diam akan otomatis membukakan pintu untuk mendengar suara batin yang paling jujur. Tetapi, benarkah keheningan yang kita usahakan selama ini benar-benar menuntun kita kembali ke “rumah”?

Kenyataannya, keheningan kerap gagal menjadi jalan pulang ketika ia sejatinya dicapai melalui rekayasa akal pikir dan dorongan nafsu pribadi. Saat kita duduk dalam diam hanya untuk menghindari masalah, menekan emosi, atau melarikan diri dari kenyataan hidup, kita sesungguhnya tidak sedang masuk ke dalam solitude yang sadar, melainkan tengah menjebak diri dalam bentuk mati rasa. Sering kali, di balik tubuh yang tampak tenang dan tak bersuara, pikiran justru terus merutuk, menyalahkan diri, atau terombang-ambing oleh kecemasan masa lalu dan masa depan. Keheningan yang kosong tanpa kesadaran jujur seperti ini tidak akan pernah mampu mendamaikan riak logika dan emosi yang berkecamuk di dalam diri.

Pengalaman saya selama menekuni Latihan Kejiwaan Subud membukakan perspektif yang sama sekali berbeda mengenai hal ini. Di Subud, keheningan bukanlah sebuah pencapaian yang harus dikejar dengan strategi pikiran, melainkan sebuah kondisi yang hadir secara alami ketika kita berhenti memaksakan kehendak. Anda hanya diminta untuk menerima dan mengikuti (receive and follow) apa pun yang datang, baik dari dalam batin maupun dari luar, setelah menempatkan diri dalam kepasrahan yang dipenuhi rasa sabar, tawakal, dan ikhlas. Segala bentuk usaha keras yang digerakkan oleh logika atau ambisi pribadi justru menjadi ganjalan utama yang menghalangi bekerjanya Kekuasaan Tuhan atas diri kita.

Keheningan yang sejati dan sempurna baru akan bertamu saat kita benar-benar rileks dan ikhlas menyerahkan seluruh keberadaan diri untuk dibimbing oleh kehendakNya. Ketika keheningan itu hadir bukan sebagai hasil paksaan melainkan sebagai anugerah bimbingan Ilahi, ia tidak lagi bersifat sementara atau meletihkan. Di sinilah kita benar-benar “pulang” menjadi diri sendiri yang seutuhnya—diri yang menjadikan Kekuasaan Tuhan sebagai satu-satunya Guru dalam membimbing pikiran, perasaan, perkataan, hingga perbuatan, demi memancarkan budi pekerti utama dalam kehidupan sehari-hari.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Oktober 2026

Saturday, October 3, 2026

Kiri Sementara

Mungkin inilah lelucon paling kejam

dari kiri sementara kami:

 

Kami mengira sedang melawan kekuasaan

padahal mungkin kami hanya

menunggu giliran untuk memilikinya

Kampus mengajari kami

cara mengenali wajah penindasan

Tapi kampus tidak selalu mengajari kami

cara mengenali wajah itu

ketika muncul di cermin kami sendiri

 

Maka foto-foto lama itu tetap ada:

wajah-wajah muda,

kepalan tangan terangkat,

keyakinan yang indah,

kata-kata tentang kebebasan

ditulis dengan tinta permanen

 

Dan di suatu tempat di bawahnya

terdapat kebenaran yang lebih sunyi—

sebagian revolusi hanyalah

persiapan karier

 

Sebagian pemberontak hanyalah

penguasa yang sedang berlatih

Dan sebagian kaum kiri

hanyalah kaum kiri

sampai kelulusan...

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Oktober 2026

Saturday, September 26, 2026

Sisi Tidak Menguntungkan Dari Awet Muda

 

SALAH satu hal yang, entah kenapa, cukup menyebalkan dalam hidup saya adalah: saya sering dianggap masih muda. Yang lebih lucu lagi, orang-orang yang menganggap saya muda itu kadang justru usianya jauh di bawah saya. Jadi, dalam situasi tertentu, saya merasa seperti korban salah identifikasi umur.

Awalnya, saya mencoba melawan keadaan. Saya biarkan uban tumbuh dengan penuh tanggung jawab. Kerutan di wajah saya juga saya biarkan apa adanya. Saya bahkan lebih sering bergaul dengan orang-orang yang usianya lebih tua.

Logikanya sederhana: kalau penampilan saya masih dianggap terlalu muda, setidaknya lingkungan pergaulan saya bisa membantu mengoreksi persepsi itu.

Ternyata gagal total.

Belum lama ini, seorang saudara Subud yang usianya malah dua tahun lebih muda dari saya berkata dengan penuh keyakinan, “Ini nih Mas Arifin yang masih muda, tumpuan masa depan Subud!”

Saya cuma bisa tersenyum. Saya membatin, “Masa depan? Saya ini sudah masuk kategori bonus track kali…”

Pengalaman lain terjadi ketika seorang klien tertawa terbahak-bahak setelah saya menyebutkan usia saya yang sebenarnya. Dia mengira saya sedang bercanda. Saya sampai harus mengeluarkan KTP untuk membuktikan bahwa saya serius. Bagaimanapun, setelah melihat KTP, dia masih tidak percaya. Menurutnya, saya terlihat sekitar 20 tahun lebih muda daripada usia yang tercantum di sana.

Hah?!

Sebetulnya, bukankah saya harus bangga?

Mungkin iya. Tetapi ada sisi lain dari cerita “awet muda” ini yang kadang terasa tidak terlalu lucu.

Dalam sejumlah budaya, dunia kerja, maupun komunitas, “muda” tidak selalu berarti segar, energik, dan penuh potensi. Kadang “muda” berarti “belum tahu apa-apa”, “masih hijau”, “belum penting”, atau—yang paling berbahaya—“belum pantas disejajarkan dengan yang senior”.

Saya pernah mengalami sendiri bagaimana label “anak muda” terasa seperti sebuah jabatan yang otomatis datang bersama tambahan pekerjaan.

Ada seorang kenalan saya, berusia sekitar akhir 70an, yang setiap kali berpapasan dengan saya selalu berkata, “Nah, ini nih anak muda!”

Tentu saja saya tersenyum. Tetapi entah kenapa, yang terdengar di telinga saya kadang bukan “anak muda”, melainkan: “Nah, ini nih orang yang masih bisa dikasih tugas.” Atau lebih ekstrem lagi: “Nah, ini nih orang yang belum cukup penting untuk menolak tugas.”

Mungkin saya terlalu sensitif. Atau mungkin saya memang sudah terlalu tua untuk disebut anak muda, tetapi masih terlalu muda untuk dianggap senior. Sebuah posisi yang cukup unik: umur senior, tampilan junior, dan beban kerja… universal.

Itulah sebabnya saya cukup kukuh meminta orang memanggil saya Arifin—nama Subud saya—daripada Anto. Bukan karena saya tidak suka nama Anto. Tetapi “Anto” berasal dari “ananda”, yang berarti anak. Dan entah kenapa, label “anak” itu terasa terlalu mudah bergeser menjadi “kekanak-kanakan”.

Yang lebih menarik, dalam konteks spiritual, seseorang bisa saja dianggap masih “anak” bukan karena usianya, tetapi karena kematangan batinnya. Nah, di titik ini saya tidak bisa protes terlalu banyak. Jangan-jangan memang ada benarnya.

Mungkin persoalannya bukan apakah saya terlihat muda atau tua. Bukan pula apakah rambut saya sudah beruban atau wajah saya sudah dipenuhi kerutan. Barangkali yang lebih penting adalah: apakah saya terus bertumbuh?

Karena menjadi tua ternyata bukan prestasi. Semua orang akan sampai ke sana, kalau diberi cukup waktu.

Yang jauh lebih menarik adalah menjadi semakin matang tanpa kehilangan rasa ingin tahu, semakin berpengalaman tanpa merasa paling tahu, dan semakin tua tanpa kehilangan kemampuan untuk tertawa melihat diri sendiri.

Jadi, kalau besok ada yang berkata, “Mas Arifin, wah, masih muda!”, saya mungkin akan tersenyum dan menjawab: “Terima kasih. Tapi kalau ada pekerjaan tambahan, coba tanyakan dulu umur saya.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 September 2026