Monday, February 16, 2026

Pro dan Kontra

HARI Minggu siang, 15 Februari 2026, saya nongkrong sebelum dan sesudah Latihan di teras sisi timur Hall Cilandak. Ada seorang anggota pria (dibuka awal tahun 2020) yang berbicara dengan nada berapi-api, sepertinya mempertahankan habis-habisan idenya—yang telah ia jalankan dalam enam bulan terakhir—untuk mengadakan pertemuan tiga bulan sekali, yang menampilkan para anggota dan/atau pembantu pelatih yang pernah mengalami zaman Bapak, atau bahkan dekat dengan Bapak, untuk menceritakan pengalaman mereka dengan Bapak kepada para anggota yang tidak pernah bertemu Bapak, atau karena dibuka ketika Bapak sudah tiada.

Dia bercerita ke saya dan beberapa anggota lainnya yang duduk mengitari dia, bahwa kegiatan tersebut menimbulkan pro dan kontra. Kontranya, salah satunya dari saya, terkait dengan konsep pertemuannya dimana seorang pembantu pelatih wanita bercerita kepada anggota-anggota pria, yang tidak pantas. Apalagi, menurut si anggota pria yang bercerita ke saya tersebut, si pembantu pelatih mengklaim dirinya bisa “berubah jenis kelamin” secara kejiwaan, tergantung jenis kelamin lawan bicaranya.

 

Saya menyoroti soal “pro dan kontra”-nya alih-alih tentang pertemuan tersebut. Pro dan kontra adalah hal yang sangat lumrah di Subud, dan yang selalu sarankan kepada anggota yang merasa bingung harus berbuat apa jika dirinya terjepit di antara pro dan kontra, adalah: “Lakukan saja apa yang menurut Anda benar. Tidak perlu buang-buang tenaga membela diri atau mempertahankan diri dari serangan orang-orang yang tidak menyetujui tindakan Anda!”

 

Kepada pria yang bercerita itu pun saya katakan, “Saya memang termasuk yang kontra, Pak. Tapi Bapak seharusnya tidak perlu mempedulikan apa tanggapan saya. Lakukan saja, nanti Bapak toh mendapat pengertian sendiri.”©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Februari 2026

Sunday, February 15, 2026

Merengkuh Malam

 

Ia telah tiba di ambang pelupuk,

datang tanpa ketukan, namun gema tandanya telanjur masuk

Meredam riuh di dada yang biasanya meledak

menjinakkan amarah, mematung nafsu yang kerap bergejolak

                                                 

Ramadantelaga suci bagi jiwa yang dahaga,

sebulan penuh membasuh noda, meluruhkan sisa-sisa baka

Mengikis kerak khilaf yang mengeras di dinding kalbu,

memungut kepingan diri yang selama ini berserak ditiup abu

Kini kususun kembali hingga utuh berpadu,

menjelma hamba yang tunduk dalam tawadu

 

Ya Tuhan, dekaplah aku dalam hening sembah,

meski punggungku legam memikul tumpukan salah

Mampukan aku melintasi gerbang sebulan ini,

biar tertatih, asal langkahku tegak menuju rida-Mu yang abadi

Izinkan aku menapak jalan yang penuh cahaya tuntunan,

dengan pasrah yang meluas dan ikhlas yang tak berkesudahan

Maka, biarkan aku merengkuh malam,

hingga fajar fitrah mencium keningku dengan tenang...

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 16 Februari 2026

Thursday, February 12, 2026

Menjadi Diri Sendiri Melalui Bahasa Asing

SAYA berkunjung ke rumah seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, di Citayam, Depok, Jawa Barat, dari pagi hingga tengah hari, Jumat ini. Meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Indonesia, kemampuan bahasa Indonesianya minim, sehingga pembicaraan kami berlangsung dalam bahasa Inggris (American English).                                                                                           

Selama perbincangan kami, saya baru menyadari sesuatu terkait pengucapan kata-kata dalam bahasa Inggris: Bahwa sebagai orang Indonesia, meskipun fasih berbahasa Inggris, sebaiknya pengucapannya alami saja, sesuai kodrat lidah kita sebagai orang Indonesia, yang bukan penutur asli bahasa Inggris. Tidak perlu dibuat-buat seolah lidah kita lidah penutur asli. Karena ternyata terdengar “tidak pas” di telinga penutur asli.

 

Harris Roberts, pembantu pelatih Subud Jakarta Selatan yang juga berkebangsaan Amerika Serikat, dalam salah satu sesi Subud Practical English Conversation (SPEC) pernah berujar bahwa saran dari para guru kursus bahasa Inggris berkebangsaan Indonesia agar pengucapan beberapa huruf ditiadakan—seperti huruf “t”, misalnya pada kata “dating” (dei-ting) jadi “dei-ing”—jangan diikuti, malah sebaliknya (sebaiknya) dilafalkan dengan jelas.

 

Dari obrolan saya tadi dengan si pembantu pelatih Amerika, dia bisa lebih menangkap, tidak salah mengerti, ucapan saya jika saya turut mengucapkan huruf yang oleh rata-rata guru kursus bukan penutur asli disarankan agar dihilangkan. Kesimpulan saya, lebih baik menjadi diri sendiri yang asli Indonesia dalam berbicara bahasa asing.©2026

 

 

Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 13 Februari 2026

Sunday, February 8, 2026

Hidup Tanpa Bekerja

SAYA baru-baru ini mendengar cerita tentang kenalan saya, seorang wanita yang oleh suaminya disarankan tidak perlu bekerja, karena sang suami bisa menafkahinya dengan memuaskan lantaran gajinya sebagai pejabat Eselon II di sebuah BUMN sangat besar. Si wanita, meski sarjana lulusan sebuah universitas negeri ternama dengan senang hati mengikuti saran itu. Dia di rumah saja, tidak punya anak, dan segala pekerjaan rumah tangga dilakukan dua pembantunya.

Saya tidak dapat membayangkan keadaan “tidak bekerja”. Meski mendapat kucuran dana tidak kecil dan dimanja fasilitas, saya merasa “tidak bekerja” bukanlah pilihan saya. Hidup itu senantiasa bekerja dan manusia di dalamnya terus menerus bertransformasi. Perubahan pun, sekalipun bersifat spiritual, adalah kerja. Tuhan pun bekerja. Kalau Tuhan tidak bekerja, habislah riwayat alam semesta.

 

Bekerja yang saya maksud di sini adalah aktivitas mengerahkan tenaga (fisik atau pikiran) untuk menghasilkan sesuatu; tidak melulu terkait memperoleh penghasilan, tetapi memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, sebagai cara untuk merasa berguna dan terhubung.

 

Tidak bekerja menghambat bangkitnya energi kreatif, membuat otak mengecil yang mengakibatkan gampang pikun, dan mempercepat kematian. Hidup tanpa bekerja tidak memiliki makna, dan akhirnya menjadikan hidup tiada guna.

 

Saya bilang pada istri saya, yang menceritakan tentang si wanita bersuamikan pejabat Eselon II BUMN itu, “Kalau aku, aku mau terus bekerja, nggak penting gaji atau uangnya. Yang penting aku bisa menyaksikan bagaimana begitu banyak potensi yang Tuhan berikan pada ciptaanNya termanifestasikan. Itu caraku bersyukur kepada nikmatNya.” ©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Februari 2026

Saturday, February 7, 2026

Pemikiran Sejarah Seorang Arsitek Merek

BAGI kebanyakan orang, logo hanyalah sebuah grafis dan slogan hanyalah rangkaian kata yang menarik. Namun bagi saya, sebuah brand (merek) adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah sebuah artefak yang hidup.

Meski saya menghabiskan masa-masa formatif di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dengan mendalami Ilmu Sejarah, karya hidup saya tidak ditemukan di arsip berdebu atau penggalian arkeologis. Sebaliknya, saya telah menghabiskan lebih dari 30 tahun mengarungi “medan tempur” dunia periklanan dan branding Jakarta dan Surabaya yang serba cepat.

 

Perjalanan saya tidak dimulai dengan poin-poin data, melainkan dengan narasi. Sebagai sarjana Ilmu Sejarah, saya belajar bahwa dunia dibangun di atas cerita-cerita yang kita sampaikan pada diri sendiri tentang siapa kita sebenarnya. Hal ini ternyata menjadi fondasi utama bagi karier di bidang persuasi.

·       Era Copywriter: Saya memulainya dari tempat di mana semua ide besar bermula—lewat kata-kata tertulis. Di dunia agensi periklanan yang penuh tekanan, saya menerjemahkan keinginan manusia menjadi headline. Latar belakang sejarah memberi saya keunggulan unik; saya memahami konteks budaya dan alasan di balik perilaku konsumen.

·       Peralihan ke Perencana Strategi: Lambat laun, aspek “apa” dalam copywriting berganti menjadi “bagaimana” dan “mengapa” dalam branding. Saya bertransisi menjadi seorang Perencana Strategi Merek, beralih dari sekadar menulis baris kalimat menjadi perancang seluruh “jiwa” sebuah perusahaan.

 

Bagi saya, sebuah merek bukan sekadar identitas korporat—ia adalah sebuah warisan yang sedang dibangun. Latar belakang akademis memungkinkan saya melihat branding melalui lensa yang berbeda:

·       Konteks adalah Raja: Sama seperti seorang sejarawan menganalisis masa kekuasaan seorang raja dalam konteks zamannya, saya menganalisis sebuah merek di dalam jalinan sosial-ekonomi Indonesia.

·       Permainan Jangka Panjang: Di saat banyak pemasar mengejar momen “viral”, pemikiran sejarah saya berfokus pada umur panjang. Saya membangun merek yang diniatkan untuk bertahan selama berdekade-dekade, bukan hanya sekadar untuk kuartal fiskal.

·       Mitologi Autentik: Saya paham bahwa merek yang paling kuat (seperti halnya peradaban yang paling kuat) dibangun di atas nilai-nilai inti dan “mitos pendiri” yang konsisten.

 

Dalam sejarah, Anda mencari kebenaran di balik peristiwa. Dalam branding, Anda membangun sebuah kebenaran yang membuat orang ingin menjadi bagian di dalamnya.

 

Setelah 30 tahun, saya tetap terobsesi dengan branding sama seperti hari pertama saya memulainya. Baik saat membedah rebranding terbaru atau membantu startup lokal menemukan suaranya, saya menghadapi setiap proyek dengan ketelitian seorang sarjana dan kecerdasan seorang praktisi iklan kawakan.

 

Saya adalah bukti nyata bahwa gelar Humaniora bukan hanya soal masa lalu—ia adalah alat yang ampuh untuk membentuk masa depan tentang cara kita mengonsumsi, terhubung, dan berkomunikasi.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Februari 2026

Friday, February 6, 2026

Menginsafi Latihan

SATU saudara Subud dari Cabang Jakarta Selatan melakukan perbuatan yang melanggar hukum sehingga ia dikeluarkan dari keanggotaan Subud dan dilarang berada di lingkungan Wisma Subud Cilandak. Banyak anggota yang bertanya ke saya, mengapa seseorang yang sudah lama di Subud dan tergolong rajin Latihan dapat berbuat hal memalukan tersebut.

Saya asal menjawab saja—karena saya enggan memberi jawaban yang ujung-ujungnya menimbulkan perdebatan berkepanjangan atau pertanyaan-pertanyaan selanjutnya: “Ada orang yang menginsafi Latihannya, dan ada yang tidak. Yang menginsafinya pasti akan tekun me-niteni dirinya, membuatnya selalu mawas diri. Yang tidak menginsafinya ya Latihan saja, seperti sudah mekanis, asal menggugurkan kewajiban. Seperti orang sembahyang, ada yang mengikuti jadwal yang sudah ditentukan dan ada yang menyertakan Tuhan dalam segala tindakannya, sehingga ia selalu berhati-hati dalam pikiran dan perasaannya, perkataan dan perbuatannya.”

 

Karena malas menjawab setiap orang yang me-WhatsApp saya dengan pertanyaan yang sama, jawaban saya kepada satu penanya hanya copy-paste dari jawaban saya ke penanya sebelumnya.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 Februari 2026

Thursday, February 5, 2026

Gerakan Spiritual dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

SAYA pada 14 Januari 2026 lalu, bersama enam alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) dan satu alumnus Jurusan Sastra Belanda FSUI, menandatangani akte pendirian Yayasan Indonesia Berkibar Lestari yang bergerak dalam pengkajian sejarah Indonesia dan diseminasi hasil kajiannya secara multimedia. Saya memosisikan diri khusus untuk kajian militer dan pertahanan serta sejarah gerakan spiritual.

Peran gerakan spiritual/kebatinan khususnya di Jawa kurang mendapat perhatian sejarawan Indonesia masa kini. Para sejarawan itu hanya menyorot ranah politik dan sosialnya. Padahal para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ternyata bergelut dengan spiritualitas untuk memantapkan mental mereka dalam berjuang.

Senior saya di Jurusan Sejarah FSUI, Iskandar P. Nugraha (kini sedang merampungkan program doktor di School of History, University of New South Wales) dalam bukunya tentang Perhimpunan Teosofi di Indonesia (berjudul: Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia) menyebutkan bahwa Sukarno, Hatta, Achmad Soebardjo (Menteri Luar Negeri pertama RI dan kelak juga menjadi Ketua Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia), Cipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, Radjiman Wedyodiningrat, dan Douwes Dekker pernah aktif atau terpengaruh oleh ajaran Teosofi. Mereka tertarik karena gagasan pluralisme dan persaudaraan universal. Hatta, Sutan Sjahrir dan Achmad Subardjo, antara lain, bahkan dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda berkat beasiswa dari Teosofi.

Ketika membaca buku History of Subud Jilid 1, yang secara ringkas menggambarkan suasana masyarakat, pergerakan, dan perjuangan kemerdekaan di Jawa pada 1920an dan 1940an, muncul penasaran saya: Mengapa gerakan-gerakan spiritual asli Nusantara baru bermunculan pada tiga dekade terakhir masa pemerintahan Hindia Belanda. Mulailah saya serius meneliti, terlebih setelah bukunya Iskandar Nugraha diluncurkan tahun 2011.

Fenomena menjamurnya gerakan spiritual atau kebatinan di akhir masa kolonial (sekitar awal abad ke-20 hingga 1942) bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah respons psiko-sosial yang mendalam terhadap tekanan politik dan pergeseran zaman.

Pada dekade terakhir Hindia Belanda, masyarakat pribumi mengalami “gegar budaya”. Masuknya sistem pendidikan Barat, kapitalisme industri, dan birokrasi kolonial yang kaku membuat banyak orang merasa tercerabut dari akar tradisinya. Banyak tokoh (terutama di Jawa) kembali ke ajaran kebatinan untuk mencari ketenangan di tengah dunia yang berubah terlalu cepat dan terasa makin materialistis. Gerakan spiritual menjadi cara untuk mempertahankan martabat diri di hadapan diskriminasi rasial yang sistematis oleh pemerintah kolonial.

Gerakan kebatinan sering kali menggunakan interpretasi ramalan kuno untuk memberi harapan bahwa kekuasaan kulit putih akan segera berakhir (sering digambarkan dengan analogi “seumur jagung”). Secara tradisional, masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan pada datangnya sosok penyelamat atau Ratu Adil. Semakin berat beban pajak dan kerja paksa, semakin kuat keyakinan bahwa “zaman edan” (zaman kegilaan/kekacauan) sedang mencapai puncaknya.

Pemerintah Hindia Belanda sangat represif terhadap organisasi politik yang terang-terangan menuntut kemerdekaan. Tetapi, gerakan spiritual sering kali dianggap tidak berbahaya oleh intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID) karena fokus pada olah rasa dan meditasi. Padahal, di balik itu, mereka membangun jaringan solidaritas dan rasa kebangsaan yang kuat. Dengan meyakini kekuatan batin, masyarakat merasa secara moral lebih tinggi daripada penjajah, meskipun secara fisik mereka ditindas.

Apakah ini terkait dengan kemerdekaan? Sangat terkait.

Gerakan spiritual adalah bentuk nasionalisme kultural. Sebelum bangsa ini berdaulat secara politik, mereka terlebih dahulu berdaulat secara batiniah. Banyak tokoh pergerakan nasional (termasuk Sukarno dan tokoh-tokoh Taman Siswa) memiliki kedekatan dengan nilai-nilai kebatinan. Mereka menggunakan simbol-simbol budaya dan spiritual untuk menyatukan rakyat yang heterogen. Gerakan seperti Subud, Paguyuban Hardopusoro atau Sumarah menyediakan basis massa yang memiliki kedisiplinan mental. Mereka tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga menyiapkan “mentalitas merdeka” sebelum kemerdekaan fisik tercapai.

Kebatinan mengajarkan konsep kepemimpinan Manunggaling Kawula Gusti, yang dalam konteks politik diartikan sebagai penyatuan antara pemimpin dan rakyat dalam satu cita-cita luhur.

Salah satu tokoh paling ikonik yang menggabungkan kedalaman spiritual (kebatinan) dengan radikalisme politik melawan Belanda adalah Ki Ageng Suryomentaram. Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang memilih menanggalkan gelar pangerannya demi menjadi rakyat jelata dan mencari hakikat kebahagiaan.

 

Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962)

Suryomentaram menciptakan sistem pemikiran yang disebut Kawruh Begja (Ilmu Kebahagiaan). Mengapa ia penting dalam konteks perjuangan kemerdekaan? Ia mengajarkan konsep Kramadangsa (ego). Menurutnya, rasa takut kepada Belanda muncul karena orang terlalu melekat pada jabatan atau rasa rendah diri. Jika seseorang sudah mengenal dirinya sendiri, rasa takut terhadap bedil atau penjara kolonial akan sirna.

Bagi Suryomentaram, tidak ada gunanya merdeka secara politik jika mentalitasnya masih “budak”. Ia menyiapkan rakyat untuk menjadi manusia yang merdeka secara psikis terlebih dahulu.

Meskipun tidak memimpin pasukan, ajaran “Rasa Merdeka”-nya menyebar di kalangan rakyat bawah dan kaum intelektual, membuat otoritas Belanda bingung karena ia tidak bisa ditangkap hanya karena mengajarkan orang untuk “bahagia”.

Tokoh lainnya adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Berbeda dengan Suryomentaram yang lebih meditatif, Dr. Tjipto adalah contoh perpaduan antara mistisisme Jawa (Jawa-Dipo) dengan politik modern. Ia memandang perjuangan kemerdekaan sebagai tugas suci seorang “Satria”. Baginya, melawan ketidakadilan Belanda bukan sekadar strategi politik, melainkan kewajiban moral-spiritual. Ia sering memakai sorban atau pakaian tradisional sebagai pernyataan spiritual bahwa identitas pribumi sejajar dengan peradaban Barat.

 

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (1886-1943)

Para tokoh ini berbahaya karena mereka menciptakan solidaritas organik. Jika organisasi politik bisa dibubarkan atau dilarang, ajaran kebatinan masuk ke dalam ruang-ruang privat rakyat (ruang tamu, sawah, pasar) dan tidak bisa dideteksi oleh intelijen kolonial.©2026

Perbandingan Singkat

Tokoh

Fokus Utama

Dampak ke Pergerakan

Ki Ageng Suryomentaram

Pembersihan ego (Kramadangsa)

Menghilangkan rasa takut rakyat terhadap penguasa.

 

Haji Misbach

Islam-Komunisme (mistik Islam)

Menggerakkan massa petani dengan narasi spiritual perlawanan.

 

Ki Hajar Dewantara

Pendidikan dan kebudayaan

Membangun “pagar spiritual” bangsa melalui pendidikan karakter.

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 6 Februari 2026