Saturday, April 4, 2026

Merasa Positif vs Berpikir Positif

SAYA barusan ditelpon satu anggota wanita dari Cabang Jakarta Selatan yang telah bermukim di kota lain di Jawa. Dia mau berkonsultasi tentang proses dari Latihan Kejiwaan; ya sudah, saya tampung saja. Saya ingin mengatakan padanya agar menelepon pembantu pelatih wanita saja atau anggota lain yang lebih senior daripada saya, dan berjenis kelamin wanita. Tetapi rasa diri saya mencegah saya untuk berkata begitu, dan sebaliknya menyuruh saya untuk mendengarkan dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

Dalam gathering-per-telepon tersebut, terungkap melalui ucapan anggota itu, yang menginspirasi saya—meski saya pernah menerima pemahaman tersebut sebelumnya: “Saya nggak percaya dengan positive thinking atau negative thinking, Mas Arifin. Saya cenderung mengikuti positive atau negative feeling saya.”

Saya merespons dia, “Iyalah! Subud kan pakai feeling, alih-alih thinking. Kalau kita melihat orang dengan mengandalkan akal pikir saja, yang terlihat adalah yang lahiriah saja. Di tataran Rasa, yang terlihat belum tentu benar. Seseorang bisa saja kelihatan jahat, dari penampilan, perbuatan atau ucapan, tapi belum tentu ‘isi’ dirinya jahat.”

“Wah, benaarr kalau begitu perasaan saya tadi sebelum menelpon Mas,” kata si anggota. “Kalau mengandalkan akal pikir, seharusnya saya curhat ke PP wanita. Tapi nyatanya rasa saya mengarahkan saya ke Mas Arifin, yang PP bukan, wanita juga bukan.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Bangsa yang (Tidak Lagi) Bercerita

SEBAGAI konsultan branding, saya rajin mengamati perkembangan-perkembangan terbaru di industri komunikasi pemasaran, korporat dan keberlanjutan. Tren terkini dalam branding adalah penceritaan (storytelling). Penceritaan sebagai strategi branding bukan sesuatu yang baru sebenarnya. John Simmons dalam bukunya, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Captivate Audiences, yang terbit tahun 2003, sudah mengemukakan hal itu.

Dahulu, Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas fondasi narasi yang kokoh. Dari ujung barat hingga timur, setiap jengkal tanah memiliki guratan pada batu prasasti atau lontar atau tuturan lisan yang diwariskan dengan penuh khidmat. Tradisi ini menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pengamat yang tajam sekaligus penyusun strategi kebudayaan yang ulung lewat kata-kata.

Tetapi bangsa Indonesia kontemporer tampaknya kepayahan dalam mengantisipasi tren penceritaan yang merebak di industri komunikasi domestik saat ini. Dengan kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat, seharusnya tradisi penceritaan bangsa Indonesia semakin kuat. Nyatanya, tidak!

Meskipun berpengalaman lebih dari 30 tahun di branding, dan keahlian teknis saya adalah copywriting, tetapi kemampuan penceritaan saya justru dibangun dan dibiasakan di Subud. Dan keberadaan saya di Subud belumlah selama karir saya di branding. Baru mencapai 22 tahun pada 11 Maret 2026 lalu.

Saya mencermati, sekian banyak ceramah Bapak sarat cerita pengalaman beliau sendiri maupun parabel-parabel dari kisah perwayangan, karena hal itu memang merupakan cara paling sederhana untuk menyampaikan kedalaman spiritual yang tidak sederhana. Novel The Light of the Inner Self juga merupakan salah satu “strategi” komunikasi Bapak kepada anggota dengan cara yang menghibur. Fiksi yang imajinatif lebih kena ke pikiran pembaca daripada nonfiksi yang akademik.

Selain kisah perwayangan dan karya tulis fiksi—sebagaimana yang digunakan Bapak dalam menjelaskan aspek kejiwaan, Indonesia memiliki kekayaan media komunikasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad untuk menyampaikan pesan moral, informasi sosial, hingga kritik politik kepada masyarakat. Media-media ini sangat efektif karena bersifat partisipatif—masyarakat tidak hanya menonton, tetapi sering kali terlibat langsung dalam dialog atau merespons pesan yang diberikan.

Dalam ranah spiritualitas yang tidak bersandar pada doktrin, buku teks, atau otoritas guru yang mengajar, tradisi penceritaan bertransformasi menjadi jembatan komunikasi yang sangat vital. Fenomena ini terlihat jelas di Subud, di mana tidak ada ajaran yang perlu dihafal atau pelajaran yang harus dipelajari secara intelektual. Di sini, cerita bukan digunakan untuk mendikte kebenaran, melainkan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman murni yang bersifat personal namun universal.

Membumikan Pengalaman

Beberapa waktu lalu, pada hari Minggu pagi saya memarkirkan sepeda motor saya di sebelah selatan Hall Latihan Cilandak. Dari pelataran parkir saya dapat melihat Tatap Muka—sebuah kegiatan yang mempertemukan anggota baru dengan para pembantu pelatih, di mana para pembantu pelatih biasanya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan para anggota baru yang belum sempat tersampaikan ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka. Tatap Muka digelar hanya sekali seminggu, tiap Minggu pagi mulai pukul 10.00 hingga 11.30 waktu Jakarta.

Sambil mengucapkan permisi, saya melewati ajang Tatap Muka itu untuk menuju tempat nongkrong rutin saya di teras timur Hall Latihan Cilandak. Tetapi dua dari tiga pembantu pelatih yang tengah bertugas melayani tanya-jawab dengan para anggota itu serempak memanggil saya, dan mempersilakan saya duduk di antara para pembantu pelatih. Saya bukan pembantu pelatih, tetapi saya didaulat untuk menceritakan pengalaman saya dengan bimbingan Latihan. Menurut para pembantu pelatih itu, saya adalah “gudang cerita pengalaman”. Entah dari mana mereka mendapat informasinya, tetapi saya memang kerap menuliskan pengalaman saya di blog saya—sebuah blog yang tidak saya harapkan untuk dibaca, tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang telah mengaksesnya, dan berbuntut dengan mereka akhirnya masuk Subud.

Komunikasi antar anggota Subud sering kali berpusat pada apa yang disebut dengan kesaksian atau penuturan pengalaman pribadi. Karena jalan ini bersifat pengalaman langsung (empiris), maka satu-satunya cara untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam diri adalah melalui narasi. Seorang pembantu pelatih tidak berceramah kepada anggota tentang bagaimana cara mencapai kedamaian; sebaliknya, mereka menceritakan momen ketika kedamaian itu hadir secara tiba-tiba dalam keseharian mereka. Penceritaan ini berfungsi sebagai cermin bagi orang lain, di mana pendengar sering kali menemukan resonansi atau konfirmasi atas pengalaman mereka sendiri tanpa merasa digurui.

Selain itu, tradisi penceritaan di sini berperan sebagai alat untuk membumikan pengalaman spiritual yang abstrak menjadi sesuatu yang manusiawi. Dalam jalan yang menekankan pada perkembangan jiwa secara alami, cerita tentang kegagalan, perjuangan, atau perubahan karakter yang halus menjadi lebih berharga daripada teori-teori filosofis yang muluk. Melalui cerita, para anggota membangun sebuah konsensus kolektif yang longgar tentang bagaimana Latihan Kejiwaan bekerja dalam kehidupan nyata, mulai dari hubungan keluarga hingga pekerjaan profesional.

Bahasa Universal

Fungsi lain dari penceritaan dalam konteks ini adalah sebagai pelindung dari kristalisasi ajaran. Karena cerita bersifat subjektif dan dinamis, ia tidak mudah dibakukan menjadi hukum yang kaku. Sebuah cerita tentang pengalaman seseorang pada hari ini bisa jadi berbeda dengan pengalamannya tahun depan. Hal ini menjaga agar Subud tetap cair dan hidup, sesuai dengan prinsip bahwa pertumbuhan jiwa adalah proses yang berkelanjutan dan unik bagi setiap individu.

Pada akhirnya, penceritaan menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan latar belakang budaya dan intelektual para anggota Subud. Tanpa adanya pelajaran formal, setiap orang berdiri sejajar sebagai pencerita sekaligus pendengar. Komunikasi ini menciptakan sebuah ruang persaudaraan yang organik, di mana pemahaman tidak datang dari instruksi lisan, melainkan dari getaran makna yang terselip di antara baris-baris kisah hidup yang dibagikan secara jujur dan rendah hati.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026

Friday, April 3, 2026

Membaca Literatur Sejarah Subud

BERIKUT terjemahan dari email balasan saya kepada Daniela Moneta, Administrator dan Arsiparis Utama WSA Archives, tadi pagi—merespons permintaannya agar saya mewawancarai anggota-anggota lama Indonesia, yang pernah mengalami era ketika Bapak Muhammad Subuh masih ada.


Dear Daniela,

Jika yang dimaksud “masa-masa awal” adalah ketika Subud sebagai organisasi baru diresmikan pada Februari 1947 atau era sebelumnya, tentu akan sulit bagi saya untuk melakukan wawancara. Karena sebagian besar—kalau tidak bisa dikatakan “semuanya”—orang-orangnya sudah meninggal. Paling banter saya bisa mewawancarai mereka yang masuk Subud selama dekade 1960an, itupun hanya orang asing yang telah lama tinggal di Indonesia, seperti Harris Roberts dan Stuart Cooke (saya lebih sering ketemu mereka. Sebulan sekali saya acap bertandang ke rumah Stuart, yang tinggal lebih dari 25 km dari rumah saya). Para anggota Indonesia tampaknya sangat enggan diwawancarai perihal pengalaman Subud mereka—lebih karena rendah hati, tidak merasa bahwa pengalaman itu hebat, tidak setara dengan Bapak (ciri orang Jawa yang secara adat harus “merendahkan diri” di hadapan raja).

Beberapa bulan lalu, saya mendapat permintaan dari Ridwan Lowther untuk copy editing naskah Bahasa Indonesia dari History of Subud Jilid 1 dan 2. Cetakan pertama dari terjemahan Indonesia History of Subud saya terima dari Rashidah Pope yang ia titipkan pada satu anggota Indonesia yang menghadiri Kongres Dunia 2024 di Kalimantan, yang tidak saya hadiri. Saya merasa sangat terbantukan dalam hal pemahaman saya mengenai berbagai aspek Subud oleh buku itu—maupun buku-buku memoar anggota lainnya yang pernah saya terjemahkan. Misalnya tentang “daya rendah dan daya tinggi”, yang ternyata bukan sebutan kualitas—sebagaimana yang dipahami banyak pembantu pelatih generasi masa kini—melainkan istilah dari Bapak untuk membedakan daya-daya yang ada bumi dan daya-daya yang ada di “langit”. Dan tentang “testing”, yang ternyata bermakna “merasakan diri sendiri terhadap segala jenis karakter orang dan kejadian-kejadian” yang merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan orang Jawa tradisional.

Selain membaca ceramah, saya paling suka membaca buku-buku sejarah Subud, terutama karena saya—yang dibuka tahun 2000an awal—mendapat pengertian yang komprehensif bagaimana Subud yang azali, yang belum terdistorsi oleh “penjelasan-penjelasan menyimpang” dan “praktik-praktik mengada-ada” dari para pembantu pelatih terkini, yang jangankan membaca ceramah, mengenal Bapak saja tidak, karena mereka dibuka di zaman ketika Bapak sudah tidak ada. Saya kerap bertemu anggota-anggota baru di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang sepertinya “terputus” dari Subud yang Bapak visikan. Setiap kali Latihan bersama di Cilandak, yang kini diikuti oleh banyak anggota baru, saya merasakan “sentuhan yang mengganggu perasaan saya”, yang kemudian saya konfirmasikan ke Harris Roberts, yang ternyata juga merasakan hal yang sama.

Agar tidak menjadi fitnah, saya kemudian akan bertanya-jawab dengan beberapa anggota baru, dan menemukan fakta bahwa mereka ternyata tidak mengerti bagaimana melakukan Latihan. Hal itu disebabkan tidak memadainya penjelasan pembantu pelatih ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka, serta mendapatkan pendampingan dari pembantu pelatih yang bahkan belum bisa menginsafi Latihannya sendiri.

Stuart Cooke pernah berkata ke saya, “Siapa yang bisa menjelaskan Latihan Kejiwaan selain Bapak? Kamu bisa? Saya? Tidak ada, Arifin. Hanya Bapak yang bisa! Maka satu-satunya cara saat ini adalah rajin membaca ceramah di samping tekun Latihan!”

Itu memotivasi saya untuk terus membaca ceramah, literatur sejarah Subud, dan, jika memungkinkan, menggali lebih dalam melalui obrolan saya dengan para pembantu pelatih atau anggota yang pernah mengalami masa ketika Bapak masih ada.©2026


Salam,

Arifin


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 April 2026

Tuesday, March 31, 2026

Semesta Mendukung Bubur Ayam

 


KEMARIN malam, saya berkata ke istri kalau saya kangen makan bubur ayam ala Warkop Kuningan 24 Jam yang menyediakan bubur ayam khas Cirebon (menggunakan kuah kaldu ayam yang kental). Sudah setahun lebih saya tidak makan bubur ayam. Jawaban istri: “Jangan jajan melulu, hemat doong. Makan yang ada di rumah!”

Tadi pagi, ketika mau berangkat ke halalbihalal dengan rekan-rekan pendiri Yayasan Indonesia Berkibar Lestari di Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, lagi-lagi saya berkata ke istri bahwa saya ingin makan bubur ayam. Malah tidak direspons olehnya. Begitu saya cek grup WhatsApp SERASI (Sejarah Itu Asik), satu pendiri posting: “Yang datang pagi di Darmin, gue beliin bubur ayam Sukabumi. Siapa yang mau?”

“Yang datang pagi, ada yang mau dibungkusin bubur ayam Sukabumi Tebet, nggak? Ada dua pilihan: biasa dan spesial (pakai kuning telor).”

Saya menjawab: “Mauuuu! Nggak pakai kacang yaa! Spesial.”

Saya melihat bahwa di atas saya sudah ada yang menjawab “mau”. Terbayang oleh saya acara makan bubur ayam bersama di Darmin Kopi.

Saya dan Dino sampai duluan di Darmin Kopi, sekitar jam 09.30. Teman yang mau membelikan bubur ayam menyusul kira-kira setengah jam kemudian... dan hanya menenteng SATU bungkus bubur ayam Sukabumi (ciri khasnya adalah pakai kuning telur mentah dipendam bubur panas). “Lhoo, kok cuma bawa satu? Buat siapa?” tanya saya.

 


Teman saya menjawab bahwa itu bubur ayam buat saya, karena respons saya di grup SERASI yang terbaca oleh dia, sedangkan respons dari yang lain baru masuk setelah dia meninggalkan rumah makan Bubur Ayam Sukabumi di Jl. Tebet Barat. Mestakung—semesta mendukung.©2026


Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 1 April 2026

Thursday, March 26, 2026

Masuk Subud Tertuntun Makanan

SAYA pagi ini membagi cerita yang lucu tapi nyata—pengalaman saya ketika mengenal Subud pertama kali dan dua tahun pertama saya sejak dibuka—kepada satu saudari Subud dari Semarang, Jawa Tengah. Ia rupanya meneruskan cerita yang saya bagi lewat WhatsApp itu ke grup WhatsApp Subud Semarang, sehingga satu anggota menghubungi saya lewat jalur pribadi, menanyakan kebenaran cerita tersebut. Saya tertawa membaca reaksinya dalam pesan WhatsAppnya.

Memang banyak yang mengira saya bercanda tiap kali saya menceritakan bahwa awal mula saya mengenal Subud adalah karena minat saya yang begitu besar terhadap makanan lezat. Bila saja rekan kerja saya yang seorang pembantu pelatih di Subud Cabang Surabaya tidak mengumpan saya dengan cerita bahwa di Subud banyak makanan enak, saya mungkin tidak pernah tertuntun ke Subud.

Ketika saya baru satu tahun di Subud, saya ikut serta dalam kunjungan Pembantu Pelatih Nasional (PPN) Pria Komisariat Wilayah VI (Jawa Timur, Bali dan Sulawesi), yang kebetulan berdomisili di Surabaya, ke rumah seorang anggota baru di Kabupaten Kediri di Jawa Timur, sekitar 125 km dari Surabaya. Anggota yang sudah berusia lanjut itu tergolong anggota terisolasi karena Cabang Kediri sudah bubar dan pembantu pelatihnya pindah ke kota lain, tetapi si anggota pria itu sangat bersemangat dengan Subud hingga ia membangun tempat Latihan di sebelah rumahnya. Istri dan ipar-iparnya pun akhirnya juga masuk Subud.

Menyambut PPN dan rombongan dari Surabaya, si anggota telah menyiapkan sambutan yang istimewa, tak ubahnya pesta pernikahan. Ia menghidangkan banyak sekali makanan enak dan buah-buahan, kopi dan teh free flow. Setelah Latihan bersama, kami mengadakan sarasehan disambi menikmati makanan dan minuman yang berlimpah. Seorang pembantu pelatih sepuh dari Surabaya berbisik ke saya, “Subud ya seperti ini... Subud itu LSM!”

Saya sempat kaget mendengar perkataan beliau bahwa Subud itu LSM. Secara umum di Indonesia, LSM adalah padanan dari NGO (non-governmental organization) dalam bahasa Inggris, yang kepanjangannya adalah “lembaga swadaya masyarakat”. Tetapi, rupanya LSM yang dimaksud si pembantu pelatih sepuh tersebut adalah singkatan dari Latihan, Sarasehan (gathering), dan Makan. Setelah beberapa tahun di Subud, saya setuju dengan beliau: Ke cabang, ranting atau kelompok manapun di Indonesia saya berkunjung, makanan enak selalu ada di depan mata. ©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Maret 2026

Tuesday, March 24, 2026

Dialektika Bahasa dan Narasi Jenama

 


DI tengah rimba komunikasi digital yang bising, banyak jenama (brand) terjebak dalam teknis algoritma namun melupakan satu elemen fundamental: kemanusiaan. John Simmons, melalui karyanya yang provokatif, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Engage with Audiences, mengajak kita melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang bahasa dalam dunia bisnis. Simmons tidak menawarkan formula pemasaran yang kaku, melainkan sebuah tesis bahwa kata-kata adalah instrumen utama untuk menemukan kembali “cawan suci” yang hilang dalam identitas sebuah organisasi—yakni kejujuran dan koneksi emosional.

Simmons berargumen bahwa bahasa korporat yang kering, penuh jargon, dan impersonal justru menjadi penghalang utama antara jenama dan audiensnya. Ia menekankan pentingnya kreativitas sastrawi yang diaplikasikan ke dalam strategi komunikasi. Baginya, sebuah jenama bukan sekadar logo atau palet warna, melainkan kumpulan cerita yang diceritakan secara konsisten. Buku ini mengupas bagaimana kekuatan narasi mampu mengubah persepsi konsumen dari sekadar pembeli menjadi pengikut setia yang merasa memiliki keterikatan batin dengan nilai yang diusung oleh perusahaan.

Kekuatan utama dari tinjauan Simmons terletak pada pendekatannya yang humanis. Ia meyakini bahwa setiap orang dalam organisasi, dari level eksekutif hingga operasional, memiliki peran sebagai pencerita. Dengan menggunakan gaya penulisan yang elegan namun praktis, Simmons memberikan kerangka kerja bagi siapa pun yang ingin mengasah kepekaan linguistik mereka.

Bagi saya, membaca buku ini adalah sebuah perjalanan intelektual untuk menyadari bahwa di balik setiap transaksi sukses, selalu ada kata-kata yang mampu menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan kita. Ini adalah bacaan esensial bagi para komunikator yang percaya bahwa bahasa adalah fondasi dari setiap bentuk kepercayaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Maret 2026

Monday, March 23, 2026

Membedah Anatomi Kepemimpinan Montgomery

 


BUKU memoar panglima perang pertama yang saya baca, ketika saya masih kelas 1 Sekolah Menengah Pertama, adalah tentang Marsekal Mandala (Field Marshal) Bernard Law Montgomery. Saya langsung merasakan kekaguman pada sosok jenderal Inggris ini, terinspirasi oleh apa yang saya baca dalam memoar itu. Buku berjudul The Memoirs of Field Marshal Montgomery itu terjepit di antara koleksi buku nonfiksi dan fiksi milik ayah dan ibu saya—saya mewarisi kesukaan membaca dari orang tua saya, puji Tuhan.

Di belantara literatur biografi militer, hanya sedikit karya yang mampu memicu perdebatan sehebat memoar Montgomery ini. Buku bersampul klasik keluaran Signet ini bukan sekadar catatan harian seorang serdadu, melainkan sebuah manifesto strategi yang dibalut dengan rasa percaya diri yang nyaris absolut. Montgomery, sang “Pahlawan El Alamein”, tidak menulis buku ini untuk meminta maaf atau bersikap rendah hati; ia menulisnya untuk memaku posisinya dalam sejarah sebagai arsitek kemenangan Sekutu yang paling presisi.

Montgomery membedah setiap kemenangannya dengan ketajaman seorang ahli bedah. Dari padang pasir Afrika Utara hingga pendaratan di Normandia, ia menekankan satu tesis utama: kemenangan adalah hasil dari perencanaan logistik yang rigid dan moril pasukan yang tak tergoyahkan. Bagi pembaca yang mencari analisis mendalam tentang bagaimana sebuah organisasi raksasa digerakkan di bawah tekanan maut, bab-bab mengenai persiapan Operasi Overlord adalah tambang emas informasi. Ia secara terbuka mengkritik koleganya, termasuk Dwight D. Eisenhower, dengan kejujuran yang provokatif, menciptakan sebuah narasi yang menantang hegemoni historiografi populer Amerika.

Namun, di balik detail teknis mengenai divisi dan pergerakan tank, esensi sejati dari buku ini terletak pada psikologi kepemimpinan. Montgomery menunjukkan bahwa seorang pemimpin besar harus memiliki keberanian untuk menjadi tidak populer demi efektivitas komando. Ia tidak peduli dengan sentimen; ia hanya peduli pada hasil. Membaca memoar ini di era modern memberikan perspektif unik mengenai manajemen krisis dan pengambilan keputusan strategis yang melampaui batas-batas kemiliteran. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah visi tunggal dapat mengubah jalannya sejarah, meskipun harus dibayar dengan gesekan ego di meja perundingan.

Meskipun buku ini sering dianggap sebagai upaya glorifikasi diri, saya menemukan bahwa kejujuran Montgomery tentang “kemenangan dan kekeliruan” (triumphs and blunders) memberikan ruang bagi refleksi kritis. Ia tidak menyembunyikan kontroversi, ia justru menempatkannya di depan agar publik bisa melihat logika di baliknya. Bagi saya, karya ini tetap menjadi referensi krusial yang menolak untuk dilupakan, memaksa kita untuk kembali bertanya: sejauh mana seorang individu dapat menentukan nasib sebuah peradaban?©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 24 Maret 2025