Sunday, June 14, 2026

Testing vs Menep

KEMARIN siang (Minggu, 14 Juni 2026), pasca Latihan pria, saya nongkrong bersama lima anggota lainnya di teras timur Hall Cilandak, menikmati kopi murni yang airnya dimasak dengan kompor portabel yang dibawa oleh salah satu anggota.

Lalu, muncullah satu pembantu pelatih pria dari Cabang Jakarta Selatan yang berkebangsaan Amerika. Beliau sangat suka kopi tubruk, kopi asli Indonesia. Saat ngopi itulah beliau bercerita bahwa beliau baru selesai menghadiri rapat dewan pembantu pelatih cabang, yang antara lain membahas tentang testing. Terungkap, kata dia, bahwa Ibu Rahayu ternyata tidak “pro testing”. Saya pun bercerita ke si pembantu pelatih dan satu anggota yang duduk di sebelah saya, bahwa pembantu pelatih dan anggota di luar negeri sangat sering melakukan testing dan dalam durasi yang sangat lama. Itu yang pernah saya dengar dari penuturan seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, dan satu pembantu pelatih dari grup Vancouver, Kanada. Juga para international helpers asal Indonesia pernah menyampaikannya ke saya. Saya mengomentari cerita saya sendiri bahwa kebiasaan testing itu mungkin untuk melatih pembantu pelatih dan anggota dalam memahami apa hakikat testing.

Di Indonesia sendiri, testing tergolong sangat jarang dilakukan dan biasanya bersifat okasional, biasanya pada event Kongres Nasional atau dalam rangka Hari Lahir Bapak di bulan Juni. Para pembantu pelatih di cabang manapun di Jawa yang pernah saya kunjungi menunjukkan keengganan ketika anggota meminta testing.

Saya kemudian menambahkan ke cerita saya kepada si pembantu pelatih dan si anggota, bahwa yang saya baca di sebuah memoar dari salah satu pembantu pelatih generasi awal, kabarnya istilah “testing” itu berasal dari John Bennett yang mencoba menerjemahkan kalimat “merasakan diri terhadap segala sesuatu” dari Bapak, yang belum ada padanannya dalam bahasa Inggris kala itu (1957, ketika Bapak pertama kali ke luar negeri). Akhirnya, Bapak pun mengadopsi istilah “testing” untuk “merasakan diri”.

Di cabang di mana saya melalui masa ngandidat tiga bulan saya dan di mana saya dibuka, yaitu Surabaya, para pembantu pelatihnya jarang sekali melakukan testing, melainkan membiasakan para anggota untuk merasakan (diri maupun keadaan atau peristiwa di dekatnya maupun jauh). Pembantu pelatih yang telaten mendampingi saya, selalu mendorong saya untuk merasakan suasana atau orang-orang di tempat kami berada, seperti misalnya di acara ruwatan putra sulung dari seorang anggota yang akan menikah, yang berlangsung di rumah si anggota di Madiun, Jawa Timur, pada tahun 2005. Merasakan itu tidak bisa dipaksakan memang, tetapi akan berkembang kepekaan kita secara bertahap seiring Latihan Kejiwaan yang kita lakukan dengan rajin dan tekun.

Si anggota yang duduk dekat saya dan turut mendengarkan diskusi saya dengan si pembantu pelatih, menyeletuk, “Oh iya, Mas Arifin. Di Jawa disebutnya ‘menep’. Memang kita jarang testing ya, Mas. Karena kita sudah dibiasakan ‘menep’ oleh leluhur kita."

Dalam budaya Jawa khususnya, “merasakan diri” sudah mengakar di kalangan masyarakat tradisionalnya. Kakek dan ayah saya, dua pria Jawa tradisional dan bukan anggota Subud, sering mencontohkan ke saya secara tidak sengaja: Ketika menghadapi problem yang rumit, mereka akan berdiam diri, memejamkan mata dan membisu cukup lama. Praktik ini di Jawa disebut “menep”. Bahasa Jawa “menep” berarti diam, tenang, atau mengendap (seperti endapan kotoran yang turun ke dasar sehingga air menjadi jernih). Kata ini sering digunakan secara filosofis untuk menggambarkan kondisi batin yang tenang, waspada, dan jernih dalam menghadapi masalah. Atau proses menahan emosi, hawa nafsu, atau gejolak agar pikiran tetap jernih dan bijaksana. Ibarat segelas kopi tubruk yang sebagian ampasnya mengambang di permukaan , ia harus didiamkan sejenak agar kotorannya “menep” dan airnya kembali bening.

Si pembantu pelatih kemudian berseru, “Oh mungkin sikap tidak pro testing dari Ibu sebenarnya ditujukan ke anggota luar negeri ya. Karena beliau tahu, orang Indonesia tidak suka testing.”

Saya mengangkat bahu dan berkata, “Ya, mungkin.” Lalu kami melanjutkan menikmati kopi masing-masing.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 15 Juni 2026

Saturday, June 13, 2026

Bimbingannya yang Penting, Bukan Alatnya

TADI malam, saya ditelpon mantan pembantu pelatih Surabaya yang kini berdomisili di Madiun dan, seperti saya, tercatat sebagai anggota Cabang Sidoarjo, Mas Heru Iman Sayudi. Kami mengobrol dua jam 18 menit. Salah satu topik obrolannya adalah “bimbingan kekuasaan Tuhan” dalam bidang pekerjaan kami--Mas Heru dan saya sama-sama konsultan branding.

Saya cerita ke Mas Heru tentang satu job saya sebagai freelance copywriter baru-baru ini, menulis teks dwibahasa (Indonesia-Inggris) untuk coffee-table book setebal 100 halaman. Gemini AI adalah asisten setia saya dalam pengerjaannya. Nah, tidak sedikit anggota Subud antipati pada AI, alasannya karena sebuah karya jadi “tidak manusiawi, tidak ada rasanya, tidak ada ruhnya”. Tapi pengalaman saya dan tim desain coffee-table book itu maupun pengalamannya Mas Heru dan tim kerjanya, membuktikan bahwa bila “dibimbing” untuk menggunakan AI, outputnya akan ada rasa atau ruhnya. Jadi, kami berkesimpulan: Yang utama itu bimbinganNya, bukan alat yang digunakan. Alat bisa apa saja, tapi kapan baiknya menggunakan salah satu atau semua alat yang ada tergantung petunjuk yang kita terima dalam ketenangan rasa diri kita.

Seperti ucap satu anggota yang kemarin siang hingga sore nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak, terkait desain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal (2028): “Idenya kan dari bimbingan Tuhan, tapi Mas Arifin perlu daya rendah untuk mewujudkan ide itu. Mau pakai Photoshop kek, AI kek, terserah petunjuk yang Mas terima kan?!”

“Wah, benar juga,” saya membatin mendengar penjelasan si anggota.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Juni 2026

Tuesday, June 2, 2026

Merancang Dari Dalam ke Luar


TAHUN 2025 lalu, saya bertandang ke rumah seorang pembantu pelatih Amerika asal New York yang telah cukup lama tinggal di Indonesia. Dalam obrolan kami di meja makan, usai menyantap hidangan makan malam buatan istri Indonesianya yang lezat, terungkap bahwa si pembantu pelatih pernah tinggal dan bekerja selama sepuluh tahun di Shanghai, Tiongkok. Ia menggambarkan bahwa situasinya pada saat itu tidak enak bagi jiwanya tetapi berkat Latihan ia mampu bertahan.

Penggambarannya tentang situasi negara itu, melalui kata-kata, tidak cukup untuk membuat saya memahami bagaimana sebenarnya, sehingga saya bertanya padanya, “Memang bagaimana sebenarnya China itu? Apa yang kamu alami di sana?”

Si pembantu pelatih menatap saya tajam dan dengan tekanan ia berkata, “Kamu anggota Subud, kan? Pakai rasa kamu! Saya tidak perlu menjelaskan detail.”

Saya pun melakukan apa yang disarankan si pembantu pelatih. Itu seperti testing kejiwaan, dengan pertanyaan: “Apa yang dialami X selama di Shanghai yang mengganggu rasa perasaannya?”

Pengalaman seperti ini pula yang saya terapkan ketika mendesain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal. Saya belum pernah ke Portugal, apalagi Fàtima. Sulit saya membayangkan bagaimana ruh negara itu, meski saya dapat menemukan begitu banyak fotonya di Google Images. Sebagai konsultan branding, saya terbiasa dengan serangkaian proses desain logo dan pengembangan identitas merek, yang bersumbu pada riset yang mendalam. Mendesain identitas merek tidak semudah membalikkan telapak tangan; Anda harus mengerahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran untuk menggali pengetahuan dan wawasan tentang antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, arkeologi, heraldika, dan lain-lain, agar identitas yang Anda rancang menawarkan pengalaman rasa yang kuat terhadap produk/jasa/organisasi yang diwakili identitas tersebut.

Sebagai sarjana Ilmu Sejarah lulusan sebuah universitas negeri terkemuka di Indonesia, saya terbiasa dengan penelitian dan pengkajian multidisiplin, tetapi berkaitan dengan rasa tidak ada “sekolah” dengan kualitas pendidikan sebaik Subud. Bekerja dengan diri saya terisi Latihan Kejiwaan, membuat hasilnya selalu ada rasa yang bahkan dapat diterima oleh klien-klien saya meski mereka belum dibuka atau bukan anggota Subud.

Membuka Wikipedia tentang Fàtima, yang cukup kaya dengan foto-foto bangunan bersejarah yang menjadi landmark kota itu, saya membiarkan Latihan saya untuk menunjukkan apa yang harus saya angkat sebagai Gagasan Besar (ide atau rancangan pemikiran utama yang memiliki visi luas, mendalam, dan transformatif. Gagasan ini biasanya menjadi fondasi untuk menciptakan sebuah karya iklan yang mampu menggerakkan audiens untuk beraksi, atau paling sedikit berrelasi dengan merek). Perhatian saya tercurahkan pada bangunan Basilica of Our Lady of the Rosary. Saya merasakan vibrasi yang kuat walau yang saya hadapi hanya sebuah foto, seolah bangunan itu memanggil saya.

Fotonya saya unduh, lalu saya crop hingga yang tampak adalah bentuk mahkota di pucuk menara utama basilika itu. Saya kemudian mencari foto-foto yang menampakkan berbagai sisi dari mahkota itu. Hal itu mendorong saya untuk googling foto patung Bunda Maria dengan mahkota penobatan kanoniknya. Sambil membayangkan sosoknya saya iseng membuat coretan-coretan di kertas—yang biasa dilakukan para perancang grafis maupun pengarah kreatif. Setelah sekian jam saya membuat coretan, dan tidak memberi hasil, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk mengaplikasikan satu per satu dari berbagai pilihan menu di Filter Gallery di Photoshop di komputer saya, sampai perhatian saya tertuju pada efek Note Paper, Photocopy, Plaster, Stamp dan Torn Edges, yang membuat sosok Bunda Maria dalam foto berubah menjadi laiknya “cipratan-cipratan air”.

Di ranah desain grafis, yang saya lakukan disebut Deformasi, yaitu teknik mengubah, merombak, atau menyederhanakan bentuk asli suatu objek menjadi bentuk baru yang lebih unik, ekspresif, dan komunikatif tanpa menghilangkan identitas atau makna dasarnya. Teknik ini biasanya diterapkan untuk memperkuat karakter, menyampaikan pesan visual, atau menyesuaikan elemen dengan estetika desain secara keseluruhan.

Hasil deformasi gambar Bunda Maria adalah cipratan-cipratan hitam putih. Saya lantas googling lagi, mencari ikon lainnya yang mewakili Portugal. Saya kepincut pada ayam jantan yang dikenal di Portugal sebagai Galo de Barcelos; simbol nasional tak resmi dari Portugal, yang melambangkan kepercayaan, keadilan, kejujuran dan keberuntungan. Suvenir ayam jantan ini dapat ditemukan di mana saja di Portugal dan biasanya berhiaskan gambar hati dan bunga warna-warni. Warna-warnanya yang cemerlang menginspirasi saya untuk saya tuangkan pada cipratan-cipratan air hasil dari deformasi gambar sosok Bunda Maria.

Meski mungkin terlihat saya mempersiapkan logo itu secara tekun dan serius, yang sebenarnya adalah bahwa saya malah tidak serius. Logo yang menang ini adalah Opsi #2, dari dua opsi desain yang saya kirimkan secara tidak bersamaan. Saya menjagokan Opsi #1, walaupun secara tampilan kurang “muda”, tidak merepresentasi semangat keanggotaan Subud yang dewasa ini mengalami regenerasi. Oleh karena itu, saya sangat terkejut ketika diberitahu melalui email dari Koordinator Komunikasi World Congress Organizing Team (WCOT) bahwa desain saya yang Opsi #2 dipilih oleh dewan juri sebagai pemenang. Saya, bagaimanapun, akhirnya bersyukur bila opsi itu yang terpilih, karena akhirnya saya tersadarkan oleh dinamika spontanitas khas Latihan yang tergambarkan pada grafisnya.

Semoga Kongres Dunia Subud 2028 di Fàtima, Portugal, berlangsung penuh warna optimisme yang secemerlang warna-warna pada logonya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Juni 2026

Untuk rilis berita mengenai desain logo yang menang tersebut, klik URL ini:
https://subud.org/posts/logo-competition-of-the-17th-subud-world-congress-and-the-winner-is

Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026

Saturday, May 30, 2026

Bagaimana Masa Kecil Bersama Tintin Mengubah Cara Pandang Terhadap Perkeretaapian Indonesia

 


ADA keajaiban sunyi yang terjadi ketika dunia yang Anda lihat di luar jendela Anda bertabrakan dengan dunia yang telanjur Anda cintai di dalam sebuah buku. Bagi saya, titik temu itu sepenuhnya berada di atas rel kereta api Indonesia, yang dibayangkan kembali melalui goresan tinta yang bersih dan tegas dari gaya seni ligne claire (garis jelas). Melihat kereta Eksekutif yang ramping meliuk di jalur pegunungan Jawa Barat, atau lokomotif diesel klasik yang merayap masuk ke stasiun sibuk di Jawa Tengah—yang digambarkan dengan garis-garis kuat dan warna-warna datar yang cerah—seperti melihat masa kecil saya dan warisan budaya saya akhirnya berbicara dalam bahasa yang persis sama.

Tumbuh dewasa, imajinasi saya tidak dibentuk oleh bentang alam yang luas, melainkan oleh panel-panel presisi yang tertata rapi dalam komik Petualangan Tintin karya Hergé. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri halaman-halaman itu dengan jari saya. Yang memikat saya bukan hanya misteri penjelajahan dunianya; melainkan bagaimana gaya ligne claire membawa kejelasan mutlak pada dunia tersebut. Dalam semesta Tintin, segala hal memiliki bobot yang sama. Dinding bata, mantel, mobil antik, dan lokomotif uap semuanya digambar dengan ketebalan garis yang persis sama dan kokoh. Tidak ada bayangan pekat untuk bersembunyi, tidak ada gradasi berantakan yang mengalihkan pandangan. Itu adalah gaya yang mengupas kekacauan realitas, menyisakan kebenaran yang ideal dan tertata indah. Gaya itu mengajari saya untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa dipahami, diatur, dan sangat dihargai bentuk serta strukturnya.

Bertahun-tahun kemudian, kosakata visual yang tertanam jauh di dalam benak saya itu menemukan subjek sempurnanya pada perkeretaapian Indonesia. Jaringan rel Indonesia pada dasarnya memang dramatis dan kaya akan cerita. Jalur ini membelah jajaran gunung berapi yang terjal, membentang di atas viaduk baja raksasa peninggalan era kolonial, dan memotong langsung di jantung hamparan sawah hijau zamrud. Pada kenyataannya, ini adalah sebuah kelebihan beban sensorik dari panas tropis, raungan mesin, dan bayang-bayang yang bergeser. Bagaimanapun, ketika Anda menerapkan gaya ligne claire di atasnya, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Gaya kartun ini mengikis debu dari kelembapan tropis dan kilau kacau matahari siang, menyisakan esensi perjalanan yang murni dan puitis. Warna khas oranye dan biru pada lokomotif berubah menjadi pernyataan geometris yang berani di tengah latar padang hijau yang sempurna dan solid. Kisi-kisi baja yang rumit pada jembatan seperti Cikubang ditransformasikan menjadi pola garis yang memukau, bersih, dan sempurna. Gaya ini tidak mengurangi realitas lanskap Indonesia; sebaliknya, ia mengangkatnya, mengubah perjalanan komuter sehari-hari menjadi sebuah petualangan bernostalgia yang epik.

Mencintai gambar-gambar ini adalah sebuah pengingat bahwa kita tidak harus meninggalkan gairah masa kecil kita saat beranjak dewasa; sebaliknya, kita bisa menggunakannya sebagai lensa untuk mengapresiasi budaya dan lingkungan kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak harus datang dari galeri termegah atau filosofi paling rumit. Terkadang, cara Anda memandang dunia ditentukan oleh buku komik yang Anda baca di lantai kamar Anda puluhan tahun yang lalu. Dengan melihat kereta api Indonesia melalui garis-garis jelas dari masa kecil saya, saya diingatkan bahwa ada keindahan dan keteraturan yang melekat, yang menunggu untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita—kita hanya harus menemukan bingkai yang tepat untuk melihatnya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Wawasan Minim Kaum Gen Z

JADI, kemarin, saya kembali memberikan workshop kepada para tenaga pemasaran dari sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Kali ini, topiknya adalah platform dari “story-telling untuk branding”, yaitu copywriting. Saya memberikan dasar-dasarnya dengan presentasi Powerpoint sebanyak 39 slide (terbanyak adalah visual contoh materi komunikasi cetak, audio-visual dan audio) yang pernah saya buat tahun 2020.

Slide 13 menampilkan semboyan tiga kata bahasa Prancis ini. Empat Gen Z yang mengikuti workshop, yang semuanya berstatus mahasiswa dari dua universitas negeri dan swasta ternama di Tangerang Selatan (masing-masing dari jurusan Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Informatika), berkerut kening. Saya menangkap kebingungan mereka sebelum saya berkata apa-apa, lalu saya bertanya, “Anda semua pernah tahu ini? Semboyan Revolusi Prancis 1789-1799.”

 


Semua peserta workshop menyatakan tidak tahu dan belum pernah tahu. “Nggak diajarkan di sekolah, juga nggak di pelajaran Sejarah,” kata salah satu peserta. Jadi, saya terpaksa mengisi workshop Periklanan dengan sesi pengajaran Sejarah Dunia selama kurang lebih lima menit. Kasihan nasib studi sejarah dewasa ini.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Friday, May 22, 2026

Mengajar Dengan Bimbingan Latihan

DULU, saya pernah kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta selama dua semester, karena diterima di pilihan kedua saya di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1986. Saya pindah (lolos Sipenmaru 1987) ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia salah satunya karena saya tidak suka mengajar kelas—saya gampang demam panggung.

Anehnya, setelah masuk Subud, saya malah suka sekali jika diminta mengajar di depan kelas, terutama dalam bidang pekerjaan saya—copywriting, periklanan dan strategi branding. Bisa dibilang saya kecanduan berbicara di depan publik, yang untuk itu saya tidak pakai persiapan sama sekali, atau tidak over-prepared, melainkan hanya mengandalkan bimbingan Latihan.

Jumat siang ini, saya kembali mendapat kesempatan itu, dan lagi-lagi—kecuali materi Powerpoint 17 halaman yang hanya berisi poin-poin singkat—tanpa persiapan. Saya hanya rileks, sedari rumah ke lokasi pengajaran saya tidak memikirkan sama sekali apa yang akan saya sampaikan, melainkan hanya menikmati perjalanan sejauh 11 km dengan bersepeda motor.

 





Yang saya ajar (saya menyebutnya “momen berbagi”) adalah empat staf pemasaran dan satu desainer grafis sebuah biro perjalanan umroh dan haji, yang semuanya dari Gen Z, dalam hal “copywriting dengan teknik story-telling untuk branding”. Ibarat keran air, segala ucapan saya dengan bimbingan Latihan mengalir begitu saja, hingga saya sendiri mendapat pengertian baru. Saya perhatikan pula bahwa saya dapat dengan mudah membaur dengan audiens saya, seolah saya dan mereka sudah saling mengenal lama.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Mei 2026