Saturday, August 8, 2026

Sejarah, Masa Lalu, dan Latihan

MESKIPUN saya lulusan Jurusan Sejarah dari Universitas Indonesia, kecintaan saya pada sejarah justru baru benar-benar tumbuh ketika saya mengenal Subud. Salah satu gagasan yang kemudian begitu melekat dalam diri saya adalah bahwa kita menjadi seperti sekarang ini karena siapa dan apa yang telah dilakukan oleh leluhur kita.

Gagasan sederhana itu perlahan membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya masuki. Saya mulai menggali masa lalu saya sendiri: siapa orang tua saya, bagaimana kehidupan mereka, siapa kakek-nenek saya, apa yang mereka alami, keputusan-keputusan apa yang mereka ambil, dan bagaimana semua itu, sadar atau tidak, ikut membentuk diri saya hari ini. Dalam proses pencarian tersebut, saya menemukan begitu banyak hal menarik—hal-hal yang bukan hanya memperkaya pemahaman saya tentang keluarga dan diri sendiri, tetapi juga justru semakin mendorong saya untuk rajin dan tekun Latihan.

Sebab, pada akhirnya, Latihanlah yang memungkinkan semua itu terbuka.

Keterlibatan saya dalam copy editing naskah terjemahan bahasa Indonesia dari karya Harlinah Longcroft, History of Subud, semakin memperdalam ketertarikan tersebut. Kini, melalui keterlibatan saya membantu WSA Archives melanjutkan pewawancaraan para anggota Indonesia yang dibuka sebelum tahun 1987, serta mereka yang telah setidaknya tiga puluh tahun berada di Subud, energi kecintaan saya terhadap sejarah terasa semakin hidup.

Ada sesuatu yang istimewa dalam mendengarkan seseorang menceritakan kembali perjalanan hidupnya. Dari cerita-cerita para narasumber, pengalaman yang selama puluhan tahun tersimpan dalam ingatan tiba-tiba memperoleh ruang untuk hidup kembali. Peristiwa-peristiwa yang mungkin bagi mereka dahulu terasa biasa, bahkan sepele, ternyata ketika dilihat dari jarak waktu yang panjang dapat memperlihatkan makna yang sama sekali berbeda.

Dari sana saya semakin menyadari bahwa sejarah bukan sekadar catatan tentang apa yang telah terjadi. Sejarah adalah kumpulan pengalaman manusia yang terus berbicara kepada manusia yang datang kemudian. Di dalamnya ada keberanian dan ketakutan, keberhasilan dan kegagalan, kebijaksanaan dan kekeliruan. Semuanya dapat menjadi cermin—bukan untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk memahami bagaimana kita sampai di tempat kita berdiri sekarang.

Dan mungkin justru di situlah letak kekuatan sejarah.

Masa lalu memang tidak dapat diubah. Tetapi cara kita memahaminya dapat mengubah masa depan.

Bagi saya, semakin jauh menggali sejarah, semakin jelas pula hubungan antara masa lalu, diri saya, dan Latihan. Karena Latihan memberi kemungkinan bagi seseorang untuk tidak sekadar mengetahui dari mana ia berasal, tetapi juga merasakan apa yang sedang tumbuh di dalam dirinya ketika ia berhadapan dengan masa lalu itu.

Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang mereka yang telah pergi. Sejarah juga tentang kita—tentang bagaimana kita menerima warisan yang ditinggalkan, apa yang kita lakukan dengannya, dan apa yang kelak kita tinggalkan bagi mereka yang datang sesudah kita.

Karena setiap manusia adalah sejarah yang sedang berlangsung. Dan setiap pilihan yang kita buat hari ini sedang menulis sejarah bagi generasi yang belum lahir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Agustus 2026

Monday, August 3, 2026

Daya yang Tertinggal

SATU pembantu pelatih muda dari Cabang Jakarta Selatan (tapi sejak 2023 pindah ke Cabang Jakarta Pusat) memberitahu saya beberapa tahun lalu bahwa ia diberi tugas oleh satu pembantu pelatih tua untuk “mengawasi anak-anak Teras Timur”, terutama karena “tempat itu menarik minat anggota baru untuk setia nongkrong di situ dan mendengarkan penjelasan mereka yang bukan pembantu pelatih”. Pembantu pelatih muda itu menolak penugasan yang dianggapnya konyol nan lucu itu, karena dia kenal baik dengan saya bukan sebagai seseorang yang berpotensi menimbulkan keonaran, tetapi hanya suka usil membuat lelucon sarkastis tentang berbagai hal di Subud.                          

Teras Timur maupun Teras Barat, Utara dan Selatan terbuka bagi siapapun yang ingin nongkrong di situ. Teras Timur menjadi strategis karena di sisi Hall Cilandak itulah terletak baik toilet wanita maupun toilet pria, dan kini menjadi satu-satunya tempat di seputar Hall dimana merokok tidak dilarang. (Stiker “Dilarang Merokok” pernah dipasang di dindingnya tetapi dicabut oleh satu pembantu pelatih berkebangsaan Amerika yang suka merokok.)

Yang dipikirkan dan dirasakan oleh mereka yang di Teras Barat hanya berdasarkan prasangka, dan tidak pernah ada niat untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi di Teras Timur—mereka nyaman dengan prasangka mereka. Beberapa anggota baru tahun 2016 menyampaikan ke saya, ketika mereka mulai nongkrong di Teras Timur, bahwa ketika melalui masa kandidatan tiga bulan mereka mereka telah diwanti-wanti oleh Pembantu Pelatih Daerah (PPD) Jakarta Selatan kala itu agar tidak bergaul dengan Teras Timur atau ikut grup WhatsApp “Subud 4G” (grup WhatsApp yang saya ciptakan sebagai tempat nongkrong digital dengan semangat seperti Teras Timur). Padahal si PPD tidak pernah nongkrong di teras timur, kecuali sesekali karena ditawari rokok, kopi dan camilan gratis.

Saya pernah selama dua tahun, pasca pandemi, selalu menghabiskan waktu setelah Latihan nongkrong di Teras Barat. Terasa sekali kekakuan mereka yang nongkrong di situ; terasa mereka menahan diri dari bercanda atau mengobrol santai, seolah tempat itu sakral. Saya telah berusaha membuat suasananya lebih hidup, tetapi perubahannya hanya sedikit dan sebentar. Saya belum pernah, hingga kini, menemukan penyebab kekakuan itu.

Mungkin suasana feodalistik (meminjam istilah dari beberapa anggota yang pernah lama menjadi bagian dari Teras Barat sebelum akhirnya pindah ke Teras Timur) itu disebabkan oleh kenyataan bahwa hingga sebelum pandemi, Ibu Rahayu selalu menunggu waktu Latihan wanita di situ. Banyak anggota terlalu sungkan pada Ibu, tidak berani “banyak tingkah” di hadapan beliau. Mungkin daya Ibu tertinggal di Teras Barat, yang menyebabkan siapapun yang nongkrong di situ tetap tidak bisa sesantai Teras Barat.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 Agustus 2026