Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026

Saturday, May 30, 2026

Bagaimana Masa Kecil Bersama Tintin Mengubah Cara Pandang Terhadap Perkeretaapian Indonesia

 


ADA keajaiban sunyi yang terjadi ketika dunia yang Anda lihat di luar jendela Anda bertabrakan dengan dunia yang telanjur Anda cintai di dalam sebuah buku. Bagi saya, titik temu itu sepenuhnya berada di atas rel kereta api Indonesia, yang dibayangkan kembali melalui goresan tinta yang bersih dan tegas dari gaya seni ligne claire (garis jelas). Melihat kereta Eksekutif yang ramping meliuk di jalur pegunungan Jawa Barat, atau lokomotif diesel klasik yang merayap masuk ke stasiun sibuk di Jawa Tengah—yang digambarkan dengan garis-garis kuat dan warna-warna datar yang cerah—seperti melihat masa kecil saya dan warisan budaya saya akhirnya berbicara dalam bahasa yang persis sama.

Tumbuh dewasa, imajinasi saya tidak dibentuk oleh bentang alam yang luas, melainkan oleh panel-panel presisi yang tertata rapi dalam komik Petualangan Tintin karya Hergé. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri halaman-halaman itu dengan jari saya. Yang memikat saya bukan hanya misteri penjelajahan dunianya; melainkan bagaimana gaya ligne claire membawa kejelasan mutlak pada dunia tersebut. Dalam semesta Tintin, segala hal memiliki bobot yang sama. Dinding bata, mantel, mobil antik, dan lokomotif uap semuanya digambar dengan ketebalan garis yang persis sama dan kokoh. Tidak ada bayangan pekat untuk bersembunyi, tidak ada gradasi berantakan yang mengalihkan pandangan. Itu adalah gaya yang mengupas kekacauan realitas, menyisakan kebenaran yang ideal dan tertata indah. Gaya itu mengajari saya untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang bisa dipahami, diatur, dan sangat dihargai bentuk serta strukturnya.

Bertahun-tahun kemudian, kosakata visual yang tertanam jauh di dalam benak saya itu menemukan subjek sempurnanya pada perkeretaapian Indonesia. Jaringan rel Indonesia pada dasarnya memang dramatis dan kaya akan cerita. Jalur ini membelah jajaran gunung berapi yang terjal, membentang di atas viaduk baja raksasa peninggalan era kolonial, dan memotong langsung di jantung hamparan sawah hijau zamrud. Pada kenyataannya, ini adalah sebuah kelebihan beban sensorik dari panas tropis, raungan mesin, dan bayang-bayang yang bergeser. Bagaimanapun, ketika Anda menerapkan gaya ligne claire di atasnya, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Gaya kartun ini mengikis debu dari kelembapan tropis dan kilau kacau matahari siang, menyisakan esensi perjalanan yang murni dan puitis. Warna khas oranye dan biru pada lokomotif berubah menjadi pernyataan geometris yang berani di tengah latar padang hijau yang sempurna dan solid. Kisi-kisi baja yang rumit pada jembatan seperti Cikubang ditransformasikan menjadi pola garis yang memukau, bersih, dan sempurna. Gaya ini tidak mengurangi realitas lanskap Indonesia; sebaliknya, ia mengangkatnya, mengubah perjalanan komuter sehari-hari menjadi sebuah petualangan bernostalgia yang epik.

Mencintai gambar-gambar ini adalah sebuah pengingat bahwa kita tidak harus meninggalkan gairah masa kecil kita saat beranjak dewasa; sebaliknya, kita bisa menggunakannya sebagai lensa untuk mengapresiasi budaya dan lingkungan kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak harus datang dari galeri termegah atau filosofi paling rumit. Terkadang, cara Anda memandang dunia ditentukan oleh buku komik yang Anda baca di lantai kamar Anda puluhan tahun yang lalu. Dengan melihat kereta api Indonesia melalui garis-garis jelas dari masa kecil saya, saya diingatkan bahwa ada keindahan dan keteraturan yang melekat, yang menunggu untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita—kita hanya harus menemukan bingkai yang tepat untuk melihatnya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Wawasan Minim Kaum Gen Z

JADI, kemarin, saya kembali memberikan workshop kepada para tenaga pemasaran dari sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Kali ini, topiknya adalah platform dari “story-telling untuk branding”, yaitu copywriting. Saya memberikan dasar-dasarnya dengan presentasi Powerpoint sebanyak 39 slide (terbanyak adalah visual contoh materi komunikasi cetak, audio-visual dan audio) yang pernah saya buat tahun 2020.

Slide 13 menampilkan semboyan tiga kata bahasa Prancis ini. Empat Gen Z yang mengikuti workshop, yang semuanya berstatus mahasiswa dari dua universitas negeri dan swasta ternama di Tangerang Selatan (masing-masing dari jurusan Ilmu Komunikasi, Manajemen dan Informatika), berkerut kening. Saya menangkap kebingungan mereka sebelum saya berkata apa-apa, lalu saya bertanya, “Anda semua pernah tahu ini? Semboyan Revolusi Prancis 1789-1799.”

 


Semua peserta workshop menyatakan tidak tahu dan belum pernah tahu. “Nggak diajarkan di sekolah, juga nggak di pelajaran Sejarah,” kata salah satu peserta. Jadi, saya terpaksa mengisi workshop Periklanan dengan sesi pengajaran Sejarah Dunia selama kurang lebih lima menit. Kasihan nasib studi sejarah dewasa ini.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Mei 2026

Friday, May 22, 2026

Mengajar Dengan Bimbingan Latihan

DULU, saya pernah kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Jakarta selama dua semester, karena diterima di pilihan kedua saya di Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1986. Saya pindah (lolos Sipenmaru 1987) ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia salah satunya karena saya tidak suka mengajar kelas—saya gampang demam panggung.

Anehnya, setelah masuk Subud, saya malah suka sekali jika diminta mengajar di depan kelas, terutama dalam bidang pekerjaan saya—copywriting, periklanan dan strategi branding. Bisa dibilang saya kecanduan berbicara di depan publik, yang untuk itu saya tidak pakai persiapan sama sekali, atau tidak over-prepared, melainkan hanya mengandalkan bimbingan Latihan.

Jumat siang ini, saya kembali mendapat kesempatan itu, dan lagi-lagi—kecuali materi Powerpoint 17 halaman yang hanya berisi poin-poin singkat—tanpa persiapan. Saya hanya rileks, sedari rumah ke lokasi pengajaran saya tidak memikirkan sama sekali apa yang akan saya sampaikan, melainkan hanya menikmati perjalanan sejauh 11 km dengan bersepeda motor.

 





Yang saya ajar (saya menyebutnya “momen berbagi”) adalah empat staf pemasaran dan satu desainer grafis sebuah biro perjalanan umroh dan haji, yang semuanya dari Gen Z, dalam hal “copywriting dengan teknik story-telling untuk branding”. Ibarat keran air, segala ucapan saya dengan bimbingan Latihan mengalir begitu saja, hingga saya sendiri mendapat pengertian baru. Saya perhatikan pula bahwa saya dapat dengan mudah membaur dengan audiens saya, seolah saya dan mereka sudah saling mengenal lama.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Mei 2026

Sunday, May 17, 2026

Bagaimana Menulis dan Memasak Saling Membantu

SAAT menjamu Manajer CSR dari perusahaan klien saya di sebuah restoran mewah di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Mei 2026 lalu, sang Manajer, yang sering melihat status WhatsApp atau Story Instagram saya, berkata, “Pak Arifin suka memasak juga ya?” Saya iyakan. “Enak mana, Pak Arifin, menulis atau memasak?” tanyanya kemudian.

Sambil memotong ikan berbalut tepung goreng dan menusuk sepotong kentang wedges di piring di hadapan saya, saya bercerita bahwa menulis dan memasak memiliki kesamaan. Menulis meracik rasa jiwa agar dapat terkoneksi dengan sisi terdalam pembaca, sedangkan memasak membuat saya meracik rasa selera pemakannya.

Bagi sebagian orang, dapur dan meja kerja adalah dua dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu dipenuhi aroma bawang putih yang ditumis, percikan minyak, dan denting sudit bertemu wajan. Yang lain sunyi, hanya diiringi ketukan kibor, berhadapan dengan layar putih yang menanti untuk diisi. Tetapi, jika Anda bersedia duduk sejenak di ambang pintu yang menghubungkan kedua ruangan ini, Anda akan menyadari bahwa juru masak dan penulis sebenarnya sedang melakukan ritual yang persis sama: mereka sedang meracik mentah menjadi matang, mengubah kekacauan menjadi sebuah mahakarya yang bisa dinikmati.

Kemiripan ini bermula sejak langkah paling awal, yaitu saat saya berhadapan dengan bahan baku. Sebagai penulis, saya tidak langsung melahirkan naskah; saya mengumpulkan serpihan ide, potongan memori, dan riset mendalam. Ini sama persis dengan seorang juru masak yang berdiri di pasar, memilih sayuran paling segar, memilah rempah-rempah, dan membayangkan bagaimana rasa daging yang segar akan berpadu dengan ketumbar dan jintan. Bahan baku dalam menulis adalah kata-kata, sedangkan dalam memasak adalah bahan pangan. Keduanya menuntut kepekaan yang sama. Jika Anda terbiasa memilih kata yang tepat agar kalimat tidak terasa hambar, Anda akan secara otomatis melatih insting yang sama saat menakar garam agar sup tidak terasa hambar.

Keajaiban yang sesungguhnya baru terjadi saat proses pencampuran dimulai. Di sinilah struktur mengambil alih. Dalam memasak, ada urutan yang tidak boleh dilanggar; saya tidak bisa memasukkan daun kemangi di awal tumisan karena aromanya akan hilang, sebagaimana saya tidak bisa membongkar plot solusi masalah di bab pertama. Menulis mengajarkan saya tentang ritme dan tempo, tentang bagaimana membangun kisah sebelum mencapai klimaks cerita. Ketika insting narasi ini terlatih, saya akan terbawa ke dapur. Saya menjadi paham kapan harus membesarkan api untuk memberi efek karamelisasi yang dramatis pada daging, dan kapan harus mengecilkan api agar bumbu meresap perlahan dalam kesunyian yang sabar.

Selain masalah teknis, jembatan terbesar antara menulis dan memasak terletak pada seni menyunting. Tidak ada draf pertama yang langsung sempurna, begitu pula tidak ada masakan yang langsung pas rasanya pada cicipan pertama. Menulis melatih saya untuk berani “membuang bagian yang tidak perlu”—memotong paragraf yang indah tapi tidak menggerakkan cerita. Di dapur, kemampuan menyunting ini menjelma menjadi keberanian untuk mengoreksi rasa. Saat sup terlalu asin, saya yang terbiasa memecahkan masalah dalam plot akan berpikir kreatif, menambahkan sedikit gula atau sejumput garam untuk menyeimbangkannya, bukan malah menyerah dan membuang seluruh masakan.

Pada akhirnya, kedua aktivitas ini melatih satu otot spiritual yang sama, yaitu empati. Juru masak yang baik tidak memasak untuk dirinya sendiri; ia memasak dengan membayangkan senyum di wajah orang yang menyantapnya. Penulis yang baik pun menulis dengan membayangkan bagaimana pembaca akan terhanyut dalam emosi di setiap lembarnya.

Oleh karena itu, saat saya merasa buntu di depan komputer dan kata-kata seolah enggan mengalir, beranjaklah saya ke dapur. Mengiris sebatang daun bawang, mendengarkan desis minyak saat menyentuh wajan, dan membiarkan indra saya beristirahat dari logika kata. Begitu pula sebaliknya, saat eksperimen dapur saya gagal, saya akan duduk dan menulis apa yang salah. Dengan membiarkan kedua dunia ini saling mengisi, saya tidak hanya sedang belajar menjadi juru masak yang lebih peka, tetapi juga seorang penulis yang menyajikan cerita dengan bumbu kehidupan yang jauh lebih kaya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Mei 2026

Wednesday, May 13, 2026

Pertama Kali Percaya Testing


DI DUA tahun pertama saya sejak dibuka di Subud, saya sama sekali tidak percaya pada testing. Hal itu berubah ketika saya “terpaksa” melakukannya, dan itu terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah, yang saya kunjungi bersama lima saudara Subud dari Jakarta Selatan, seminggu setelah gempa besar meluluhlantakkan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kami berenam meluncur ke Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyalurkan bantuan bagi para anggota Subud di kawasan gempa yang menjadi korban, baik yang luka-luka maupun yang sampai kehilangan tempat tinggal.

Kami singgah di Desa Paseban, di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu pembantu pelatih yang bersama kami dari Jakarta memiliki paman yang tinggal di kaki bukit di desa tersebut. Sebuah masjid—yang dikenal sebagai Masjid Gholo—berdiri kokoh di pucuk bukit. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu kabarnya dipindah dari tempatnya semula di Yogyakarta secara digeser dengan kekuatan gaib ke lokasi baru di puncak bukit itu. Meski dianggap legenda belaka, rata-rata warga lokal percaya bangunan masjid itu benar-benar dipindah dengan cara digeser oleh seorang wali Islam yang memiliki kesaktian. Untuk menguji kebenarannya, si pembantu pelatih menyuruh saya melakukan testing kejiwaan.

Awalnya, saya bersikeras menolak karena saya tidak percaya omong kosong testing dan cerita soal masjid itu. Tetapi si pembantu pelatih memastikan bahwa kejadian pemindahan masjid itu secara gaib memang benar-benar terjadi. “Kamu testing ya, cari tahu siapa orang yang telah menggeser masjid itu,” kata si pembantu pelatih ke saya. Ia menyuruh saya duduk bersila di tengah pekarangan rumah pamannya, menghadap bukit di mana masjid itu berada. Saya memejamkan mata dan memulai testing, dengan pertanyaan yang saya ucapkan dalam hati: “Siapa yang memindahkan masjid itu ke puncak bukit?”

Saya tiba-tiba merasakan suatu suasana yang asing (sulit dijelaskan), kemudian melihat sosok berjubah dan bersorban berdiri dengan kedua lengannya bersedekap, di sebelah si pembantu pelatih. Saya membatinkan pertanyaan, “Siapa Anda?”, dan memperoleh pengertian bahwa sosok itu adalah Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali Islam di tanah Jawa, atau Wali Sanga.

Saya sudahi testingnya, membuka mata saya lalu membuka mulut saya: “Saya melihat sosok Sunan Kalijaga!”

Si pembantu pelatih berkata bahwa saya berhasil mendapatkan jawaban melalui testing. Momen itu pertama kalinya saya mulai percaya testing ala Subud. Selanjutnya, bagaimanapun, saya tidak pernah lagi menggunakan testing untuk mendapatkan jawaban atas misteri-misteri atau peristiwa supranatural yang bagi saya tidak ada gunanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Mei 2026

 

 

Sunday, May 10, 2026

Gorengan dan Kesesatan

SEJAK pertengahan Desember 2022 saya reguler Latihan di Ranting Pamulang yang berjarak sekitar 5 km dari rumah saya, dan sangat jarang ke Wisma Subud Cilandak—hampir 10 km dari rumah saya. Kalau hari Minggu, 10 Mei 2026, saya Latihan di Cilandak, adalah karena selama seminggu ini saya kehilangan kesempatan Latihan di Pamulang lantaran saya sakit dan cuaca buruk.

Kalau ke Cilandak, tempat nongkrong saya adalah di “Teras Timur”, teras di sisi timur Hall Latihan Cilandak, yang disangka dan mendapat julukan “Kelompok Subud Sesat” oleh mereka yang tidak pernah nongkrong di situ, dan selalu tersebut nama saya di samping dua anggota lainnya (salah satunya meninggal pertengahan Desember 2024) sebagai “pentolan kelompok”. Anggapan yang tentu saja salah, karena geng Teras Timur terbentuk secara organik, tanpa pernah saya rencanakan atau inginkan. Mengapa disebut “sesat”, karena mereka yang menganggap begitu hanya mendengar selentingan bahwa obrolan kejiwaan dari orang-orang yang nongkrong di situ “keluar dari arus utama”. Padahal kami hanya suka mencandai penerimaan atau pengalaman masing-masing dengan Latihan.

Jarang sekali ada wanita yang ikut gathering tidak resmi di situ, kecuali mereka yang kenal baik dengan kami, dan kebetulan lewat dalam perjalanan mereka ke toilet wanita, yang memang berlokasi di sisi timur hall Latihan. Para pembantu pelatih telah mencegah para anggota baru untuk bergabung di geng Teras Timur agar tidak cepat “terganggu”. Tidak pernah pula pengurus Cabang Jakarta Selatan ataupun Nasional yang dengan sadar mau meluangkan waktu untuk nongkrong di Teras Timur, sehingga agak mengejutkan kami, geng Teras Timur, ketika siang kemarin, pasca Latihan, Ketua Umum Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia 2025-2027, Muhammad Ridwan, dan satu pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tiba-tiba bergabung dengan kami. Sontak semua diam, padahal sebelumnya obrolan kami ramai.

Ketua Umum Pengurus Nasional memancing kami untuk mau buka mulut, berbagi cerita pengalaman atau pemahaman, tetapi semua membisu. Dengan cuek saya pun berkata, “Asyiknya ngobrol itu kalau ada gorengan, Mas!” Ketua Umum Pengurus Nasional pun membeli gorengan secara daring dan menelepon salah satu dari para anggota wanita yang berjualan makanan dan minuman di pekarangan depan Hall Cilandak. Ketua Umum Pengurus Nasional memborong semua jualan mereka dan meminta agar dibawa ke Teras Timur. Barulah suasana cair. Di antara topik pembicaraan pertama, saya tertarik pada pertanyaan Ketua Umum Pengurus Nasional: “Kalau bertanya, apa alasan seseorang masuk Subud, itu sudah biasa. Coba, tanya dong mengapa seseorang bertahan di Subud.”

Saya menyeletuk, “Itu yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri... mengingat saya di awal mengenal Subud saya bukanlah orang yang berminat pada spiritualitas. Kalau tidak dipancing dengan makanan enak, mungkin saya tidak pernah masuk Subud.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Mei 2026

Saturday, May 9, 2026

Modal Lain

TAHUN 2009, lantaran diare tidak kunjung berhenti selama lebih dari dua minggu—karena stres yang disebabkan oleh pekerjaan, saya dikenalkan oleh almarhum Pak Otjo Wiroreno (anggota Subud Jakarta Selatan) ke dr. Harry Angga, seorang dokter asal Bandung yang berhenti berpraktik dokter medis, beralih ke alternatif. Berbekal ilmu kedokteran Barat dari Jerman dan ilmu penyembuhan Timur dari Tiongkok, beliau menciptakan metode penyembuhan diri sendiri (auto-therapy) yang beliau namakan senam olah napas dan gerak Bio Energy Power atau BEP. Dilatih langsung oleh dr. Harry, pada pelatihan pertama itu diare saya langsung reda.

Disarankan oleh dr. Harry, agar saya BEP sehari dua kali, pagi dan sore, masing-masing 15 sampai 30 seri. Satu seri terdiri dari tiga jurus yang sangat mudah gerakannya, bisa dilakukan anak-anak maupun orang tua, dalam posisi duduk atau berdiri. Selain saya dan Pak Otjo, anggota Subud lainnya yang ikut pelatihan BEP tahun 2009 itu adalah istri saya, Mas Luthfie, dan Pak Isa Anshori (dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta yang menderita tumor tenggorokan). Yang ajaib, tiap kali berlatih BEP bersama di kompleks Bank Mandiri Cipete, Jakarta Selatan, di mata dr. Harry Angga dan para peserta lainnya, yang dari Subud itu “tampak berbeda” dan efek kesembuhannya serta kesehatannya juga cepat, dalam sekejap. Seperti diare saya dan tumor tenggorokannya Pak Isa, reda atau hilang segera pada pelatihan pertama.

Dan menurut kesaksian para peserta lainnya, para praktisi BEP dari Subud gerakannya serasi, selalu bersemangat dan pasca latihan BEP selalu kelihatan lebih segar dan bugar. Dokter Harry sendiri beberapa kali mengungkapkan kekagumannya, karena sebagai kreator BEP beliau belum pernah mengalami atau merasakan efek sekejap dari BEP seperti halnya yang dialami atau dirasakan oleh praktisi yang dari Subud.

Saya terpikir untuk berbagi cerita ini, setelah barusan seorang praktisi BEP lama, yang tidak saya kenal, mengirim pesan WhatsApp ke saya (nomor saya dia dapat dari mailing list BEP yang sudah tidak aktif), menanyakan apa saya punya modal lain selain BEP kok bisa “sukses” dalam latihan BEP, sedangkan dia sudah bertahun-tahun belum merasakan manfaatnya. Ya, saya sampaikan apa adanya... mungkin karena saya barengi dengan Latihan Kejiwaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 10 Mei 2026

Thursday, May 7, 2026

Menguasai Teknik Penceritaan Melalui LDR

SEORANG relasi bisnis meminta kesediaan saya untuk mengajari para staf pemasaran di perusahaannya dalam teknik penceritaan sebagai cara untuk meningkatkan penjualan. Saya bersedia, tentu saja. Saya bercanda—ketika ditanya berapa sesi yang dibutuhkan untuk seseorang bisa jago dalam penceritaan—bahwa menulis membutuhkan pembelajaran seumur hidup.

Sebagai pendahuluan, saya bercerita bahwa kemampuan saya menulis narasi pemasaran dengan teknik penceritaan dipicu oleh hubungan jarak jauh (long-distance relationship/LDR) saya dengan pacar saya (yang kini telah menjadi istri saya). Alkisah, pada tahun 1994, ketika saya menjalankan LDR itu, saya menulis surat cinta berlembar-lembar untuk menyambungkan jarak rindu kami. Setiap minggu saya menulis dan mengirim surat berstempel Kilat Khusus ke pacar saya. Suatu hari, ketika saya tengah menulis surat, teman saya datang. Ia membaca suratnya dan berkomentar, “Tulisan lo mengalir, enak dibacanya. Lo pintar bercerita. Lo seharusnya jadi copywriter.”

Saat itu, saya belum tahu apa itu “copywriter”. Saya baru tahu ketika pada akhir Oktober 1994 saya diterima bekerja di Matari Advertising dan mendapat ruang kerja sementara di perpustakaan biro iklan raksasa Indonesia itu, dimana saya menemukan delapan buku tentang copywriting.

Salah satu kiat untuk copywriting yang hebat ternyata ditawarkan kedelapan buku tersebut: “Menulislah seolah Anda sedang menulis surat kepada kekasih Anda.” Itulah teknik terkuat penceritaan yang selalu saya sampaikan kepada para peserta workshop copywriting yang saya saya berikan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Mei 2026

Friday, May 1, 2026

Menghidupkan Sebuah Karya

SATU saudara Subud di Jakarta tidak suka bila sebuah karya tulis dibuat dengan bantuan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Tidak ada rasanya, tidak ada jiwanya, kalau pakai AI,” kata dia.

Tahun lalu dia dan saya menghadiri acara peluncuran buku karya teman kami (dia bukan anggota Subud). Dalam bedah bukunya, si penulis berterus terang bahwa ia menggunakan bantuan Gemini AI untuk merangkai kalimat-kalimat dalam bukunya. Parahnya, di testimoni dari salah satu peninjau buku tersebut, di cover belakangnya, tertulis bahwa penulis buku adalah seorang “spiritualis”, yang bagi saudara Subud itu terasa konyol. Bagi dia, seorang spiritualis seharusnya mengandalkan rasa, alih-alih teknologi.

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan saudara Subud itu, karena pengalaman telah menunjukkan ke saya bahwa bukan apa alatnya melainkan ketenangan batin kitalah yang dapat “menghidupkan” sebuah karya. Pengalaman baru-baru ini lagi-lagi membuktikan kebenaran itu.

Saat ini, saya sedang menjadi freelance copywriter di sebuah firma kehumasan yang menggarap proyek penulisan coffee-table book dalam rangka ulang tahun ke-25 sebuah perusahaan. Fee yang tidak sesuai dengan tingkat kerepotannya serta waktu yang kelewat mepet membuat saya mengambil jalan pintas: Menggunakan AI untuk merancang bangun teksnya. Saya tulis prompt sesuai dengan apa-apa yang disyaratkan klien dalam hal penulisan.

Ada satu hal lain yang menginspirasi saya untuk menggunakan bantuan AI, yaitu cerita dari “kalangan dalam” Pamulang, bahwa nama Subud yang diberikan Ibu Rahayu kepada anggota bukanlah hasil dari penerimaan spontan, melainkan dengan melakukan testing terhadap sejumlah nama yang diambil dari buku tentang “nama dan artinya”, yang bisa dibeli di toko buku. Nama Subud tetap akan memiliki vibrasi karena dicomot dengan bimbingan Latihan.

Hasilnya saya baca dan edit dengan diri saya dalam keadaan Latihan, kemudian saya serahkan ke klien. Kliennya berkomentar bahwa tulisan saya (yang aslinya dibuat oleh AI) memancarkan vibrasi yang membuatnya merasa dirinya berada di dalam tulisan itu dan menilai saya mampu membangun emosional pembaca. Kesimpulan saya, energi Latihan dapat menembus segala ciptaan manusia dan memberinya jiwa.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 Mei 2026