KEMARIN malam, saya berkata ke istri kalau saya kangen makan bubur ayam ala Warkop Kuningan 24 Jam yang menyediakan bubur ayam khas Cirebon (menggunakan kuah kaldu ayam yang kental). Sudah setahun lebih saya tidak makan bubur ayam. Jawaban istri: “Jangan jajan melulu, hemat doong. Makan yang ada di rumah!”
Tadi pagi, ketika mau berangkat ke halalbihalal dengan rekan-rekan pendiri Yayasan Indonesia Berkibar Lestari di Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, lagi-lagi saya berkata ke istri bahwa saya ingin makan bubur ayam. Malah tidak direspons olehnya. Begitu saya cek grup WhatsApp SERASI (Sejarah Itu Asik), satu pendiri posting: “Yang datang pagi di Darmin, gue beliin bubur ayam Sukabumi. Siapa yang mau?”
“Yang datang pagi, ada yang mau dibungkusin bubur ayam Sukabumi Tebet, nggak? Ada dua pilihan: biasa dan spesial (pakai kuning telor).”
Saya menjawab: “Mauuuu! Nggak pakai kacang yaa! Spesial.”
Saya melihat bahwa di atas saya sudah ada yang menjawab “mau”. Terbayang oleh saya acara makan bubur ayam bersama di Darmin Kopi.
Saya dan Dino sampai duluan di Darmin Kopi,
sekitar jam 09.30. Teman yang mau membelikan bubur ayam menyusul kira-kira
setengah jam kemudian... dan hanya menenteng SATU bungkus bubur ayam Sukabumi
(ciri khasnya adalah pakai kuning telur mentah dipendam bubur panas). “Lhoo, kok
cuma bawa satu? Buat siapa?” tanya saya.
Teman saya menjawab bahwa itu bubur ayam buat
saya, karena respons saya di grup SERASI yang terbaca oleh dia, sedangkan
respons dari yang lain baru masuk setelah dia meninggalkan rumah makan Bubur
Ayam Sukabumi di Jl. Tebet Barat. Mestakung—semesta mendukung.©2026
Darmin
Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 1 April 2026


No comments:
Post a Comment