Monday, March 16, 2026

Tanggung Jawab Kejiwaan

SEMALAM, likuran malam ke-27 Ramadan, saya ke Wisma Subud untuk buka puasa bersama. Seperti likuran-likuran pada 10, 12 dan 14 Maret, rangkaian acaranya terdiri dari buka puasa bersama, mendengarkan rekaman audio ceramah Bapak atau Ibu Rahayu, dan Latihan bersama. Tadi malam, saya tidak menghadiri pemutaran ceramah di dalam Hall, melainkan duduk di luar Hall bersama Pak Harris Roberts, seorang pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan.

Volume suara rekaman dinaikkan sehingga dari luar Hall suara Ibu Rahayu yang lemah lembut dapat terdengar jelas sekali.

Di luar Hall, duduk di teras sisi timur Hall saya mengobrol dengan Pak Harris tentang ulang tahun ke-98 Ibu, 13 Maret lalu, bahwa Ibu sudah sangat tua dan lemah, dan agak pikun. Pak Harris berkata bahwa di kondisi seperti Ibu itu seseorang biasanya sudah tidak ingat hidupnya di dunia, dan seperti berada di dua alam.

Ibu Rahayu di rumah Wisma Bharata Pamulang, 13 Maret 2026 saat memperingati ulang tahun ke-98.

Teras sisi timur Hall Latihan Cilandak pada 16 Maret 2026, kurang lebih setengah jam sebelum waktu berbuka puasa di Jakarta.

“Tapi mengapa tidak segera meninggalkan dunia ini ya?” tanya saya dan Pak Harris hampir bersamaan. Dan kami agak kaget lantas terdiam karena, seolah menjawab pertanyaan kami, bersamaan dengan itu suara Ibu di rekaman ceramah itu terdengar berkata, “...karena menjadi tanggung jawab saya secara kejiwaan...”©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Maret 2026

No comments: