TERKENAL di kalangan para pencari spiritual di Indonesia ekspresi bahwa “berserah diri” merupakan “pendidikan tingkat universitas”. Saya ingat suatu insiden di tahun 2006, ketika petugas satuan pengamanan (Satpam) di kantor saya menyampaikan ke guru tarekatnya bahwa ia ingin belajar berserah diri, setelah ia tak sengaja menguping obrolan saya dengan manajer SDM saat merokok di luar bangunan kantor. Si manajer SDM, seperti saya, juga anggota Subud.
Ia pun nimbrung dengan kami dan bercerita bahwa ia pengikut sebuah tarekat tradisional yang menggunakan jenjang-jenjang ilmu hikmah dalam pengajarannya. Ia menceritakan salah satu pengalamannya dengan ilmu mimpi yang diajarkan gurunya. Dengan ilmu itu, ia bisa memimpikan siapa saja yang dia kehendaki, terutama untuk mengetahui apa yang dipikirkan atau apa yang menjadi niat-niat dari orang yang ia mimpikan terhadap diri si Satpam. “Semua orang di kantor ini pernah saya mimpikan, kecuali tiga orang tidak bisa saya tembus,” tutur si Satpam, seorang pria muda usia 20an. Dia blak-blakan menyampaikan ke saya dan si Manajer SDM bahwa ketiga orang itu adalah saya, si Manajer SDM dan salah satu General Manager yang juga anggota Subud. “Saya terhalang kabut putih yang tebal setiap kali saya berusaha memimpikan kalian,” katanya. “Mengapa begitu ya, Pak?”
Alih-alih menjawab pertanyaan dia, saya persilakan dia datang ke pertemuan pembantu pelatih dan anggota Subud pada hari Jumat malam. Sebuah kelompok Latihan kecil telah diadakan di kantor saya sejak sepuluh karyawannya masuk Subud—bermula dari saya dan si General Manager yang kala itu baru kurang dari tiga tahun di Subud. Di pertemuan itu, saya perkenalkan si Satpam dengan dua pembantu pelatih pria—Pak Mulyono Hardjopramono dan Mas Achmad Asad Luthfie, yang salah satunya juga pernah berguru di tarekat sebelum ia masuk Subud. Kedua pembantu pelatih menjelaskan perihal berserah diri.
Si Satpam menyatakan akan minta izin kepada gurunya dulu sebelum memutuskan untuk masuk Subud. Beberapa waktu kemudian, ia menemui si Manajer SDM untuk menyampaikan bahwa gurunya melarang dia ikut Subud, dengan alasan yang menurut saya lucu: “Jangan! Berserah diri itu ilmunya profesor universitas. Kamu masih SD!”
Meskipun alasan itu terkesan menggelikan, menurut saya Subud memang layaknya lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi. Saat pertama kali menjadi mahasiswa perguruan tinggi, saya mengalami kejutan budaya yang sangat dahsyat, lantaran kehidupan mahasiswa universitas sangat berbeda dengan kehidupan siswa sekolah menengah atas (SMA). Di SMA, saya masih didampingi orang tua dan guru yang penuh perhatian dalam mengasuh saya, agar saya tidak “salah jalan”. Ada berbagai aturan dan petunjuk harus saya terapkan agar bisa naik kelas atau lulus, dan segala perkataan dan perbuatan saya dimonitor oleh guru-guru bekerja sama dengan orang tua. Tentu saja, saya merasa nyaman dengan adanya “teman seperjalanan”, yaitu guru dan orang tua saya.
Di
universitas, model pengajarannya bersifat mandiri. Mahasiswa harus merencanakan
sendiri semua kerangka pendidikannya, apakah mau ambil jalur cepat lulus,
lambat lulusnya, atau mau melanjutkan ke strata berikutnya setelah meraih
Sarjana. Semua menjadi tanggung jawab individu mahasiswa; dosen hanya memberi
paket pengajaran dan sekadar pengantar. Persis di Subud—atau di semua jalan
spiritual di level hakikat, dimana tidak ada ajaran, pelajaran, dan guru,
membuat kita senantiasa harus waspada tiap saat. Salah sedikit bisa terperosok
atau bahkan celaka. Di saat lelah, putus asa atau berduka, satu-satunya tempat
sandaran kita bukan orang tua atau guru, tetapi diri kita sendiri yang bersedia
berserah diri.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Maret 2026
No comments:
Post a Comment