Wednesday, March 18, 2026

Awal Perjalanan Suci

MENYAMBUT hari terakhir bulan puasa Ramadan 1447 H./2026, saya melakukan sahur sendirian, karena istri sedang letih. Bagaimanapun, saya tidak kesepian. Dada saya serasa sesak penuh ilham, saya bahkan mendengar batin saya dipenuhi gaung suara “Allah, Allah, Allah”. Saya merasa harus menuangkan semua ini melalui kata-kata, meski saya tahu bahasa tak dapat melampaui rasa. Yang tertuang bukanlah prosa, melainkan puisi yang menangkap vibrasi alam semesta—paling tidak, begitulah yang saya rasakan.


Fajar Fitri

Ini bukanlah penghujung, melainkan fajar keberangkatan

Langkah mula bagi jiwa yang lahir dalam pembaruan

Kemenangan bukanlah garis akhir yang diam

Namun titik awal bagi pribadi yang tak lagi kelam

 

Di penghujung bulan penuh limpahan rahmat

Bakti pada Ilahi terpatri dalam khidmat

Sabar, tawakal, dan ikhlas senantiasa memayungi

Menuntun langkah suci menyambut hari yang fitri

 

Gema takbir melangit, menggetarkan jagat raya

Sujud tersungkur di bawah naungan tenteram-Mu yang kaya

Meleburkan diri dalam syahdu temaram malam

Membasuh jiwa dari segala dendam yang terpendam

 

Mari rendahkan hati, ulurkan tangan penuh ketulusan

Saling memberi dan memeluk maaf dalam keikhlasan

Biarkan khilaf dan sengketa terbang dibawa angin

Menuju hari baru yang bersih, sejuk, dan dingin...

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 19 Maret 2026

No comments: