MENYAMBUT hari terakhir bulan puasa Ramadan 1447 H./2026, saya melakukan sahur sendirian, karena istri sedang letih. Bagaimanapun, saya tidak kesepian. Dada saya serasa sesak penuh ilham, saya bahkan mendengar batin saya dipenuhi gaung suara “Allah, Allah, Allah”. Saya merasa harus menuangkan semua ini melalui kata-kata, meski saya tahu bahasa tak dapat melampaui rasa. Yang tertuang bukanlah prosa, melainkan puisi yang menangkap vibrasi alam semesta—paling tidak, begitulah yang saya rasakan.
Fajar Fitri
Ini bukanlah penghujung, melainkan
fajar keberangkatan
Langkah mula
bagi jiwa yang lahir dalam pembaruan
Kemenangan
bukanlah garis akhir yang diam
Namun titik
awal bagi pribadi yang tak lagi kelam
Di penghujung bulan penuh limpahan
rahmat
Bakti pada
Ilahi terpatri dalam khidmat
Sabar,
tawakal, dan ikhlas senantiasa memayungi
Menuntun
langkah suci menyambut hari yang fitri
Gema takbir melangit, menggetarkan
jagat raya
Sujud
tersungkur di bawah naungan tenteram-Mu yang kaya
Meleburkan
diri dalam syahdu temaram malam
Membasuh
jiwa dari segala dendam yang terpendam
Mari rendahkan hati, ulurkan tangan
penuh ketulusan
Saling
memberi dan memeluk maaf dalam keikhlasan
Biarkan
khilaf dan sengketa terbang dibawa angin
Menuju hari
baru yang bersih, sejuk, dan dingin...
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 19 Maret 2026
No comments:
Post a Comment