SEORANG managing director dari sebuah butik kreatif tempat saya bekerja sebagai freelance copywriter dulu, menyampaikan kekagumannya pada cara bekerja saya. Menurut dia, saya bukan tipe copywriter yang hanya patuh pada brief, melainkan saya akan melakukan pendalaman materi terkait jenama (brand) yang akan dikomunikasikan.
Barangkali latar belakang akademik saya sebagai lulusan Jurusan Sejarah yang berperan dalam hal itu. Sejarawan itu, sesuai yang pernah saya alami berkali-kali, adalah ibarat detektif dan pengembara, yang tidak berhenti pada penemuan fakta pertama. Ia akan terus menggali dan menggali lebih dalam hingga ke inti. Karena seringkali bahkan pemilik jenama tidak mengetahui detail dari penciptaan produk/jasa yang ia tawarkan ke pasar.
Saya bukan tipe copywriter yang semata mengolah kata-kata menjadi komunikasi jualan. Bagi saya, copywriter itu tugasnya bukan “menulis naskah”, melainkan menemukan ide. Kadang, output idenya bukan merupakan jalinan kalimat yang cerewet tentang produk yang ditawarkan, melainkan hanya visual yang begitu kuat konsepnya sampai tidak perlu “berkata-kata” lagi.
Menurut sang managing director pula, sekarang ini sudah sangat langka copywriter yang mau meluangkan waktu untuk melakukan pendalaman atau meneliti lebih jauh. Para copywriter Gen Z cukup puas dengan apa yang tampak di permukaan, sehingga dewasa ini banyak jenama kehilangan spirit kompetisi, menjadi produk yang puas di zona nyaman meski kenyataannya ia terkungkung dalam perangkap paritas.
Mungkin
sekarang jenama-jenama memang tidak mau lagi bermain di luar ajang paritas—yang
penting bagi mereka jualannya laris manis, meski tak seorang konsumen pun ingat
nama jenamanya. Barangkali itu yang menyebabkan pemilik jenama, pemasar atau
produsen tidak mau menggunakan jasa copywriter
berpengalaman lebih dari tiga dekade seperti saya.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Maret 2026
No comments:
Post a Comment