Thursday, March 12, 2026

Me-Niteni Diri

SEMALAM di Pendopo Wisma Bharata Pamulang, dalam rangka Silaturahmi Ramadan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, diputar ceramah Bapak. Bapak berbicara mengenai sikap seseorang yang dibentuk oleh faktor-faktor di luar diri, alih-alih dari diri sejatinya. Bapak memberi contoh dengan orang yang memiliki pistol, yang ketika lewat jalan yang banyak perampoknya, dia berani. Apakah beraninya benar dari sejatinya diri orang itu atau dari pistol yang dia punya? Itu harus kita titeni, kata Bapak.

Kelihatannya sepele, tapi rata-rata kita (termasuk saya) gagal dalam menampilkan diri kita, terutama di hadapan orang lain, sebagaimana sejatinya kita. Ada yang over pede karena uang yang dia miliki atau karena ditopang oleh orang berduit di belakangnya, ada yang berani menasihati orang lain dengan kata-kata bijak karena dia terlalu sadar pada kedudukannya (saya rasakan ini pada sejumlah pembantu pelatih, yang “melambung” egonya setelah dijadikan PP—yang juga pernah disampaikan dalam ceramah Ibu Rahayu), ada yang suka berdebat karena sadar dia memiliki wawasan yang luas atau mempunyai sederet gelar akademik, atau mengandalkan ceramah Bapak yang diperlakukan seperti ayat-ayat kitab suci.

Ada yang sadar, ada pula yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipengaruhi “daya jabatan/status” ketika berkata, berpikir, atau berbuat.

Tidak ada yang bisa dibanggakan bila asal keberanian atau kepercayaan diri kita masih berasal dari sumber yang bukan diri kita.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Maret 2026

No comments: