BERIKUT terjemahan dari email balasan saya kepada Daniela Moneta, Administrator dan Arsiparis Utama WSA Archives, tadi pagi—merespons permintaannya agar saya mewawancarai anggota-anggota lama Indonesia, yang pernah mengalami era ketika Bapak Muhammad Subuh masih ada.
Dear Daniela,
Jika yang dimaksud “masa-masa awal” adalah ketika Subud sebagai organisasi baru diresmikan pada Februari 1947 atau era sebelumnya, tentu akan sulit bagi saya untuk melakukan wawancara. Karena sebagian besar—kalau tidak bisa dikatakan “semuanya”—orang-orangnya sudah meninggal. Paling banter saya bisa mewawancarai mereka yang masuk Subud selama dekade 1960an, itupun hanya orang asing yang telah lama tinggal di Indonesia, seperti Harris Roberts dan Stuart Cooke (saya lebih sering ketemu mereka. Sebulan sekali saya acap bertandang ke rumah Stuart, yang tinggal lebih dari 25 km dari rumah saya). Para anggota Indonesia tampaknya sangat enggan diwawancarai perihal pengalaman Subud mereka—lebih karena rendah hati, tidak merasa bahwa pengalaman itu hebat, tidak setara dengan Bapak (ciri orang Jawa yang secara adat harus “merendahkan diri” di hadapan raja).
Beberapa bulan lalu, saya mendapat permintaan dari Ridwan Lowther untuk copy editing naskah Bahasa Indonesia dari History of Subud Jilid 1 dan 2. Cetakan pertama dari terjemahan Indonesia History of Subud saya terima dari Rashidah Pope yang ia titipkan pada satu anggota Indonesia yang menghadiri Kongres Dunia 2024 di Kalimantan, yang tidak saya hadiri. Saya merasa sangat terbantukan dalam hal pemahaman saya mengenai berbagai aspek Subud oleh buku itu—maupun buku-buku memoar anggota lainnya yang pernah saya terjemahkan. Misalnya tentang “daya rendah dan daya tinggi”, yang ternyata bukan sebutan kualitas—sebagaimana yang dipahami banyak pembantu pelatih generasi masa kini—melainkan istilah dari Bapak untuk membedakan daya-daya yang ada bumi dan daya-daya yang ada di “langit”. Dan tentang “testing”, yang ternyata bermakna “merasakan diri sendiri terhadap segala jenis karakter orang dan kejadian-kejadian” yang merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan orang Jawa tradisional.
Selain membaca ceramah, saya paling suka membaca buku-buku sejarah Subud, terutama karena saya—yang dibuka tahun 2000an awal—mendapat pengertian yang komprehensif bagaimana Subud yang azali, yang belum terdistorsi oleh “penjelasan-penjelasan menyimpang” dan “praktik-praktik mengada-ada” dari para pembantu pelatih terkini, yang jangankan membaca ceramah, mengenal Bapak saja tidak, karena mereka dibuka di zaman ketika Bapak sudah tidak ada. Saya kerap bertemu anggota-anggota baru di Cabang Jakarta Selatan khususnya, yang sepertinya “terputus” dari Subud yang Bapak visikan. Setiap kali Latihan bersama di Cilandak, yang kini diikuti oleh banyak anggota baru, saya merasakan “sentuhan yang mengganggu perasaan saya”, yang kemudian saya konfirmasikan ke Harris Roberts, yang ternyata juga merasakan hal yang sama.
Agar tidak menjadi fitnah, saya kemudian akan bertanya-jawab dengan beberapa anggota baru, dan menemukan fakta bahwa mereka ternyata tidak mengerti bagaimana melakukan Latihan. Hal itu disebabkan tidak memadainya penjelasan pembantu pelatih ketika mereka melalui masa tunggu tiga bulan mereka, serta mendapatkan pendampingan dari pembantu pelatih yang bahkan belum bisa menginsafi Latihannya sendiri.
Stuart Cooke pernah berkata ke saya, “Siapa yang bisa menjelaskan Latihan Kejiwaan selain Bapak? Kamu bisa? Saya? Tidak ada, Arifin. Hanya Bapak yang bisa! Maka satu-satunya cara saat ini adalah rajin membaca ceramah di samping tekun Latihan!”
Itu memotivasi saya untuk terus membaca ceramah, literatur sejarah Subud, dan, jika memungkinkan, menggali lebih dalam melalui obrolan saya dengan para pembantu pelatih atau anggota yang pernah mengalami masa ketika Bapak masih ada.©2026
Salam,
Arifin
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 April 2026
No comments:
Post a Comment