TADI malam, saya mendapat pesan WhatsApp dari seorang pembantu pelatih wanita di grup Subud Amsterdam, Belanda, yang menanyakan tentang bagaimana melayani kandidat yang tunarungu, apakah ada ceramah/petunjuk Bapak mengenai hal itu atau ada pengalaman saya terkait hal itu. Saya baru menjawab pagi ini, karena semalam saya sudah sangat mengantuk.
Berikut jawaban saya—aslinya dalam bahasa Belanda:
Saya belum pernah membaca ceramah Bapak mengenai penerangan kepada kandidat dengan disabilitas pendengaran, tetapi saya mempunyai pengalaman pribadi dengan seorang tunarungu. Dia bukan kandidat dan bukan pula anggota Subud, melainkan putri dari rekan kerja saya yang saat itu (2005) diajak ibunya ke kantor dan diperkenalkan ke saya. (Saat itu, kantor saya beralamat di Jl. Raya Tenggilis, Surabaya.)
Si gadis yang saat itu berumur 22 tahun sedang mengalami gejala yang di Subud disebut “krisis”. Ibunya kebingungan; dia sudah membawa putrinya ke banyak psikolog, psikiater, ustaz dan dukun, tetapi mereka semua tidak berhasil mengatasi masalahnya. Saya mengobrol saja berdua dengan si putri, di ruang rapat kantor. Terungkap bahwa si gadis mengalami hal-hal gaib: Dia tiba-tiba dapat melihat makhluk halus dan telinga tulinya dapat “mendengar” azan. Dengan sabar dan mengandalkan Latihan saya yang sedang kuat-kuatnya (saya baru satu tahun di Subud saat itu), saya berdialog dengan putri dari rekan kerja saya itu. Karena saya tidak paham bahasa isyarat, perbincangan kami berlangsung melalui tulisan saya di secarik kertas berselang seling dengan ucapan pelan-pelan yang dapat dipahami si gadis dengan membaca bibir saya.
Saya tidak menjelaskan Subud saat itu, melainkan tentang gejala-gejala spiritual universal. Yang disukai si gadis adalah sikap ramah saya terhadapnya—tidak menghakimi dia sebagaimana yang dilakukan ibunya, saudara-saudara kandungnya dan banyak orang lainnya. Saya minta dia menenangkan dirinya dan menikmati keadaan dirinya, lalu saya tinggal dia sendirian di ruang rapat itu, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Beberapa belas menit kemudian, saya kembali ke ruang rapat dan menjumpai si gadis tunarungu itu sedang menari dengan mata terpejam. Saya panik, karena menganggap bahwa saya telah tidak sengaja membuka dia, tetapi saya biarkan dia terus menari karena dia tampaknya bahagia—dan saya merasakan ruangan itu menjadi “terang dan ringan”.
Saya kemudian menelepon pembantu pelatih yang membuka saya—Pak Yanto Luwiharjo, dan saya ceritakan apa yang terjadi. Beliau menyarankan agar saya jangan panik, malah sebaliknya tenang dan tenteram, duduk menenangkan diri dan memohon kepada Tuhan agar si gadis dapat dihentikan aksi menarinya atau “Latihan tak disengaja” itu. Beliau juga memastikan bahwa saya tidak membukanya, melainkan bahwa si gadis hanya mengalami “sentuhan Latihan” saya.
Bertahun-tahun kemudian, saya memahami bahwa terhadap semua jenis kandidat, “normal” atau “berkebutuhan khusus”, hanya diperlukan keadaan diri si pembantu pelatih selalu dalam keadaan sabar, tawakal dan ikhlas serta berani ketika melayani. Karena dalam hal itu, adalah kekuasaan Tuhan yang bekerja—tidak dibutuhkan campur tangan manusia.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 24 Maret 2026
No comments:
Post a Comment