SAYA pagi ini membagi cerita yang lucu tapi nyata—pengalaman saya ketika mengenal Subud pertama kali dan dua tahun pertama saya sejak dibuka—kepada satu saudari Subud dari Semarang, Jawa Tengah. Ia rupanya meneruskan cerita yang saya bagi lewat WhatsApp itu ke grup WhatsApp Subud Semarang, sehingga satu anggota menghubungi saya lewat jalur pribadi, menanyakan kebenaran cerita tersebut. Saya tertawa membaca reaksinya dalam pesan WhatsAppnya.
Memang banyak yang mengira saya bercanda tiap kali saya menceritakan bahwa awal mula saya mengenal Subud adalah karena minat saya yang begitu besar terhadap makanan lezat. Bila saja rekan kerja saya yang seorang pembantu pelatih di Subud Cabang Surabaya tidak mengumpan saya dengan cerita bahwa di Subud banyak makanan enak, saya mungkin tidak pernah tertuntun ke Subud.
Ketika saya baru satu tahun di Subud, saya ikut serta dalam kunjungan Pembantu Pelatih Nasional (PPN) Pria Komisariat Wilayah VI (Jawa Timur, Bali dan Sulawesi), yang kebetulan berdomisili di Surabaya, ke rumah seorang anggota baru di Kabupaten Kediri di Jawa Timur, sekitar 125 km dari Surabaya. Anggota yang sudah berusia lanjut itu tergolong anggota terisolasi karena Cabang Kediri sudah bubar dan pembantu pelatihnya pindah ke kota lain, tetapi si anggota pria itu sangat bersemangat dengan Subud hingga ia membangun tempat Latihan di sebelah rumahnya. Istri dan ipar-iparnya pun akhirnya juga masuk Subud.
Menyambut PPN dan rombongan dari Surabaya, si anggota telah menyiapkan sambutan yang istimewa, tak ubahnya pesta pernikahan. Ia menghidangkan banyak sekali makanan enak dan buah-buahan, kopi dan teh free flow. Setelah Latihan bersama, kami mengadakan sarasehan disambi menikmati makanan dan minuman yang berlimpah. Seorang pembantu pelatih sepuh dari Surabaya berbisik ke saya, “Subud ya seperti ini... Subud itu LSM!”
Saya sempat kaget mendengar perkataan beliau bahwa Subud itu LSM. Secara umum di Indonesia, LSM adalah padanan dari NGO (non-governmental organization) dalam bahasa Inggris, yang kepanjangannya adalah “lembaga swadaya masyarakat”. Tetapi, rupanya LSM yang dimaksud si pembantu pelatih sepuh tersebut adalah singkatan dari Latihan, Sarasehan (gathering), dan Makan. Setelah beberapa tahun di Subud, saya setuju dengan beliau: Ke cabang, ranting atau kelompok manapun di Indonesia saya berkunjung, makanan enak selalu ada di depan mata. ©2026
Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Maret 2026
No comments:
Post a Comment