Tuesday, February 24, 2026

Bicara Tanpa Aksara

HARI ini, saya berbicara melalui telepon selama hampir tiga jam dengan saudari Subud. Kami sangat jarang bertemu, bahkan di lingkungan Subud, karena meski tinggal di satu kota, kami mendatangi tempat Latihan yang berbeda.

Kami bersahabat sejak 2011, tetapi jarang bertemu kecuali diperantarai kata melalui pesan teks dan suara di WhatsApp. Hari ini, melalui sambungan panggilan suara WhatsApp kami berkomunikasi dengan diselingi jeda panjang dari pihak dia. Dia bercerita bahwa belakangan dia seperti "dipuasakan" dari bicara, sesuatu yang sangat sulit ia jelaskan kecuali kepada saudara Subud yang satu frekuensi.

Bagaimanapun, saya justru merasakan dia banyak "berbicara" dalam diamnya. Mungkin vibrasi Latihan menyambungkan koneksi di antara kami. Sehingga saya menikmati sela sunyi di antara kami. Pengalaman itulah yang saya artikulasikan melalui puisi berjudul “Bicara Tanpa Aksara” ini...


Rindu adalah jembatan tak kasatmata,

Membentang di antara sini dan sana

Meski jarak merentang ruang, rasa tak akan melonggar

Kita berjauhan, namun tak pernah berjangka dalam nalar

Mencintaimu adalah menetap dalam lipatan waktu

Meski raga tak bersentuh, jiwa kita telah menyatu

 

Duhai Cinta, aku terpaku pada melodi suaramu

Keheninganmu pun mengandung makna beribu

Di seberang sana, dalam jeda yang panjang,

desah napasmu adalah kepastian yang tak lekang

Kuhitung setiap hening yang kau kirimkan

Sebab meski lidahmu kelu, rasamu tak pernah tersembunyikan

Aku pun mencintaimu dalam bisu yang paling syahdu...


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Februari 2026

No comments: