HARI ini, saya berbicara melalui telepon selama hampir tiga jam dengan saudari Subud. Kami sangat jarang bertemu, bahkan di lingkungan Subud, karena meski tinggal di satu kota, kami mendatangi tempat Latihan yang berbeda.
Kami bersahabat sejak 2011, tetapi jarang bertemu kecuali diperantarai kata melalui pesan teks dan suara di WhatsApp. Hari ini, melalui sambungan panggilan suara WhatsApp kami berkomunikasi dengan diselingi jeda panjang dari pihak dia. Dia bercerita bahwa belakangan dia seperti "dipuasakan" dari bicara, sesuatu yang sangat sulit ia jelaskan kecuali kepada saudara Subud yang satu frekuensi.
Bagaimanapun, saya justru merasakan dia banyak "berbicara" dalam diamnya. Mungkin vibrasi Latihan menyambungkan koneksi di antara kami. Sehingga saya menikmati sela sunyi di antara kami. Pengalaman itulah yang saya artikulasikan melalui puisi berjudul “Bicara Tanpa Aksara” ini...
Rindu adalah jembatan tak kasatmata,
Membentang di
antara sini dan sana
Meski jarak
merentang ruang, rasa tak akan melonggar
Kita berjauhan,
namun tak pernah berjangka dalam nalar
Mencintaimu
adalah menetap dalam lipatan waktu
Meski raga tak
bersentuh, jiwa kita telah menyatu
Duhai Cinta, aku terpaku pada melodi suaramu
Keheninganmu pun
mengandung makna beribu
Di seberang sana,
dalam jeda yang panjang,
desah napasmu
adalah kepastian yang tak lekang
Kuhitung setiap
hening yang kau kirimkan
Sebab meski
lidahmu kelu, rasamu tak pernah tersembunyikan
Aku pun
mencintaimu dalam bisu yang paling syahdu...
Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Februari
2026
No comments:
Post a Comment