BANYAK orang yang mendalami spiritualitas, atau mereka yang “sekadar suka membaca buku”, merasa telah memahami Subud hanya dengan membaca literatur atau mendengarkan ceramah Bapak Muhammad Subuh dan Ibu Rahayu. Padahal, bagi mereka yang belum menerima Latihan Kejiwaan, pemahaman tersebut hanyalah sebatas teori “di atas kertas”.
Penting untuk ditegaskan bahwa Subud tidak memiliki ajaran, kurikulum, ataupun teori. Subud sepenuhnya adalah praktik nyata—sebuah pengalaman langsung atas bimbingan Tuhan melalui Latihan Kejiwaan. Oleh karena itu, membaca tentang Subud tidak akan pernah sama dengan merasakan hakikatnya secara langsung.
Bahkan bagi anggota yang sudah aktif menerima Latihan Kejiwaan pun, pemahaman terhadap hakikat Subud tidaklah instan. Pemahaman tersebut bersifat subjektif (apa yang dipahami seseorang belum tentu sama dengan orang lain) dan dinamis (kebenaran yang diterima hari ini bisa terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tidak ada pemahaman yang dianggap sempurna atau final).
Memahami Subud mensyaratkan
terbukanya kesadaran sejati mengenai diri, lingkungan, dan peristiwa hidup. Hal
ini hanya bisa dicapai jika seseorang telah melakukan Latihan Kejiwaan secara
konsisten dan menerapkan bimbingan jiwa tersebut dalam kesehariannya. Tanpa
konsistensi dalam menjalani proses ini, klaim atas pemahaman Subud hanyalah
sebuah asumsi.©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Februari 2026
No comments:
Post a Comment