Saturday, February 21, 2026

Akselerasi Latihan dalam Keheningan Puasa

 


PADA 19 Februari 2026, bertepatan dengan hari pertama Ramadan sesuai ketetapan Pemerintah RI, saya menghadiri acara Silaturahmi Ramadan. Agenda ini merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia. Tahun ini, rombongan Pengurus Nasional beserta anggota yang berminat melakukan safari ke 14 cabang/ranting di Indonesia, bahkan menjangkau grup-grup Subud di Malaysia, Singapura, hingga Jepang.

Sebagaimana lazimnya, setiap pertemuan diawali dengan menyimak rekaman ceramah Bapak atau Ibu Rahayu mengenai makna puasa, dilanjutkan dengan Latihan bersama, dan ditutup dengan buka puasa. Jika waktu memungkinkan, acara diakhiri dengan gathering kejiwaan. Pada Silaturahmi Ramadan di Wisma Subud Bogor tersebut, kami berkesempatan mengadakan sesi berbagi pengalaman mengenai pengaruh puasa terhadap dinamika Latihan.

 


Saya memilih untuk tidak berbicara. Alih-alih berbagi kisah secara lisan, saya justru hanyut dalam dejavu ke masa 23 tahun silam—saat pertama kali diperkenalkan pada Subud oleh mitra bisnis saya, yang kala itu menjadi Pembantu Pelatih di Cabang Surabaya.

Jauh sebelum mengenal Subud, saya memang memiliki kegemaran berpuasa. Saya pernah rutin menjalani puasa 100 hari, 40 hari, bahkan melakoni puasa “mutih”—sebuah laku spiritual dalam budaya Jawa yang membatasi konsumsi hanya pada nasi putih dan air putih demi penyucian diri atau hajat tertentu.

 


Awalnya, saya tidak menyadari bahwa kebiasaan tersebut berdampak signifikan pada proses kejiwaan saya. Menurut seorang Pembantu Pelatih senior dari Jakarta Selatan, latar belakang tersebut membuat penerimaan saya terasa sangat cepat—bahkan mungkin terlalu cepat bagi seorang anggota yang baru saja dibuka.

Dalam ketenangan gathering di Bogor itu, seorang Pembantu Pelatih Nasional seolah mengonfirmasi kebenaran tersebut melalui penjelasannya. Saya hanya tersenyum simpul, tetap memilih diam di sudut barisan anggota yang duduk khidmat. Tak perlu saya yang berucap, sebab cerita saya malam itu seakan telah terwakili oleh lisan orang lain.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 22 Februari 2026

 

No comments: