SAYA pada 14 Januari 2026 lalu, bersama enam alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) dan satu alumnus Jurusan Sastra Belanda FSUI, menandatangani akte pendirian Yayasan Indonesia Berkibar Lestari yang bergerak dalam pengkajian sejarah Indonesia dan diseminasi hasil kajiannya secara multimedia. Saya memosisikan diri khusus untuk kajian militer dan pertahanan serta sejarah gerakan spiritual.
Peran gerakan spiritual/kebatinan khususnya di Jawa kurang mendapat perhatian sejarawan Indonesia masa kini. Para sejarawan itu hanya menyorot ranah politik dan sosialnya. Padahal para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ternyata bergelut dengan spiritualitas untuk memantapkan mental mereka dalam berjuang.
Senior saya di Jurusan Sejarah FSUI, Iskandar P. Nugraha (kini sedang merampungkan program doktor di School of History, University of New South Wales) dalam bukunya tentang Perhimpunan Teosofi di Indonesia (berjudul: Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia) menyebutkan bahwa Sukarno, Hatta, Achmad Soebardjo (Menteri Luar Negeri pertama RI dan kelak juga menjadi Ketua Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia), Cipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, Radjiman Wedyodiningrat, dan Douwes Dekker pernah aktif atau terpengaruh oleh ajaran Teosofi. Mereka tertarik karena gagasan pluralisme dan persaudaraan universal. Hatta, Sutan Sjahrir dan Achmad Subardjo, antara lain, bahkan dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda berkat beasiswa dari Teosofi.
Ketika membaca buku History of Subud Jilid 1, yang secara ringkas menggambarkan suasana masyarakat, pergerakan, dan perjuangan kemerdekaan di Jawa pada 1920an dan 1940an, muncul penasaran saya: Mengapa gerakan-gerakan spiritual asli Nusantara baru bermunculan pada tiga dekade terakhir masa pemerintahan Hindia Belanda. Mulailah saya serius meneliti, terlebih setelah bukunya Iskandar Nugraha diluncurkan tahun 2011.
Fenomena menjamurnya gerakan spiritual atau kebatinan di akhir masa kolonial (sekitar awal abad ke-20 hingga 1942) bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah respons psiko-sosial yang mendalam terhadap tekanan politik dan pergeseran zaman.
Pada dekade terakhir Hindia Belanda, masyarakat pribumi mengalami “gegar budaya”. Masuknya sistem pendidikan Barat, kapitalisme industri, dan birokrasi kolonial yang kaku membuat banyak orang merasa tercerabut dari akar tradisinya. Banyak tokoh (terutama di Jawa) kembali ke ajaran kebatinan untuk mencari ketenangan di tengah dunia yang berubah terlalu cepat dan terasa makin materialistis. Gerakan spiritual menjadi cara untuk mempertahankan martabat diri di hadapan diskriminasi rasial yang sistematis oleh pemerintah kolonial.
Gerakan kebatinan sering kali menggunakan interpretasi ramalan kuno untuk memberi harapan bahwa kekuasaan kulit putih akan segera berakhir (sering digambarkan dengan analogi “seumur jagung”). Secara tradisional, masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan pada datangnya sosok penyelamat atau Ratu Adil. Semakin berat beban pajak dan kerja paksa, semakin kuat keyakinan bahwa “zaman edan” (zaman kegilaan/kekacauan) sedang mencapai puncaknya.
Pemerintah Hindia Belanda sangat represif terhadap organisasi politik yang terang-terangan menuntut kemerdekaan. Tetapi, gerakan spiritual sering kali dianggap tidak berbahaya oleh intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID) karena fokus pada olah rasa dan meditasi. Padahal, di balik itu, mereka membangun jaringan solidaritas dan rasa kebangsaan yang kuat. Dengan meyakini kekuatan batin, masyarakat merasa secara moral lebih tinggi daripada penjajah, meskipun secara fisik mereka ditindas.
Apakah ini terkait dengan kemerdekaan? Sangat terkait.
Gerakan spiritual adalah bentuk nasionalisme kultural. Sebelum bangsa ini berdaulat secara politik, mereka terlebih dahulu berdaulat secara batiniah. Banyak tokoh pergerakan nasional (termasuk Sukarno dan tokoh-tokoh Taman Siswa) memiliki kedekatan dengan nilai-nilai kebatinan. Mereka menggunakan simbol-simbol budaya dan spiritual untuk menyatukan rakyat yang heterogen. Gerakan seperti Subud, Paguyuban Hardopusoro atau Sumarah menyediakan basis massa yang memiliki kedisiplinan mental. Mereka tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga menyiapkan “mentalitas merdeka” sebelum kemerdekaan fisik tercapai.
Kebatinan mengajarkan konsep kepemimpinan Manunggaling Kawula Gusti, yang dalam konteks politik diartikan sebagai penyatuan antara pemimpin dan rakyat dalam satu cita-cita luhur.
Salah satu
tokoh paling ikonik yang menggabungkan kedalaman spiritual (kebatinan) dengan
radikalisme politik melawan Belanda adalah Ki Ageng Suryomentaram. Ia adalah
putra Sultan Hamengkubuwono VII yang memilih menanggalkan gelar pangerannya
demi menjadi rakyat jelata dan mencari hakikat kebahagiaan.

Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962)
Suryomentaram menciptakan sistem pemikiran yang disebut Kawruh Begja (Ilmu Kebahagiaan). Mengapa ia penting dalam konteks perjuangan kemerdekaan? Ia mengajarkan konsep Kramadangsa (ego). Menurutnya, rasa takut kepada Belanda muncul karena orang terlalu melekat pada jabatan atau rasa rendah diri. Jika seseorang sudah mengenal dirinya sendiri, rasa takut terhadap bedil atau penjara kolonial akan sirna.
Bagi Suryomentaram, tidak ada gunanya merdeka secara politik jika mentalitasnya masih “budak”. Ia menyiapkan rakyat untuk menjadi manusia yang merdeka secara psikis terlebih dahulu.
Meskipun tidak memimpin pasukan, ajaran “Rasa Merdeka”-nya menyebar di kalangan rakyat bawah dan kaum intelektual, membuat otoritas Belanda bingung karena ia tidak bisa ditangkap hanya karena mengajarkan orang untuk “bahagia”.
Tokoh
lainnya adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Berbeda dengan Suryomentaram yang lebih
meditatif, Dr. Tjipto adalah contoh perpaduan antara mistisisme Jawa (Jawa-Dipo) dengan politik modern. Ia
memandang perjuangan kemerdekaan sebagai tugas suci seorang “Satria”. Baginya,
melawan ketidakadilan Belanda bukan sekadar strategi politik, melainkan
kewajiban moral-spiritual. Ia sering memakai sorban atau pakaian tradisional
sebagai pernyataan spiritual bahwa identitas pribumi sejajar dengan peradaban
Barat.

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (1886-1943)
Para tokoh ini berbahaya karena mereka menciptakan solidaritas organik. Jika organisasi politik bisa dibubarkan atau dilarang, ajaran kebatinan masuk ke dalam ruang-ruang privat rakyat (ruang tamu, sawah, pasar) dan tidak bisa dideteksi oleh intelijen kolonial.©2026
Perbandingan Singkat
|
Tokoh |
Fokus Utama |
Dampak ke
Pergerakan |
|
Ki
Ageng Suryomentaram |
Pembersihan
ego (Kramadangsa) |
Menghilangkan
rasa takut rakyat terhadap penguasa. |
|
Haji
Misbach |
Islam-Komunisme
(mistik Islam) |
Menggerakkan
massa petani dengan narasi spiritual perlawanan. |
|
Ki
Hajar Dewantara |
Pendidikan
dan kebudayaan |
Membangun
“pagar spiritual” bangsa melalui pendidikan karakter. |
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 6 Februari 2026
No comments:
Post a Comment