SAYA baru-baru ini mendengar cerita tentang kenalan saya, seorang wanita yang oleh suaminya disarankan tidak perlu bekerja, karena sang suami bisa menafkahinya dengan memuaskan lantaran gajinya sebagai pejabat Eselon II di sebuah BUMN sangat besar. Si wanita, meski sarjana lulusan sebuah universitas negeri ternama dengan senang hati mengikuti saran itu. Dia di rumah saja, tidak punya anak, dan segala pekerjaan rumah tangga dilakukan dua pembantunya.
Saya tidak dapat
membayangkan keadaan “tidak bekerja”. Meski mendapat kucuran dana tidak kecil
dan dimanja fasilitas, saya merasa “tidak bekerja” bukanlah pilihan saya. Hidup
itu senantiasa bekerja dan manusia di dalamnya terus menerus bertransformasi.
Perubahan pun, sekalipun bersifat spiritual, adalah kerja. Tuhan pun bekerja.
Kalau Tuhan tidak bekerja, habislah riwayat alam semesta.
Bekerja yang saya maksud di
sini adalah aktivitas mengerahkan tenaga (fisik atau pikiran) untuk
menghasilkan sesuatu; tidak melulu terkait memperoleh penghasilan, tetapi
memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, sebagai cara untuk merasa
berguna dan terhubung.
Tidak bekerja menghambat
bangkitnya energi kreatif, membuat otak mengecil yang mengakibatkan gampang
pikun, dan mempercepat kematian. Hidup tanpa bekerja tidak memiliki makna, dan
akhirnya menjadikan hidup tiada guna.
Saya bilang pada istri saya,
yang menceritakan tentang si wanita bersuamikan pejabat Eselon II BUMN itu, “Kalau
aku, aku mau terus bekerja, nggak penting gaji atau uangnya. Yang penting aku
bisa menyaksikan bagaimana begitu banyak potensi yang Tuhan berikan pada
ciptaanNya termanifestasikan. Itu caraku bersyukur kepada nikmatNya.” ©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Februari 2026
No comments:
Post a Comment