Sunday, February 8, 2026

Hidup Tanpa Bekerja

SAYA baru-baru ini mendengar cerita tentang kenalan saya, seorang wanita yang oleh suaminya disarankan tidak perlu bekerja, karena sang suami bisa menafkahinya dengan memuaskan lantaran gajinya sebagai pejabat Eselon II di sebuah BUMN sangat besar. Si wanita, meski sarjana lulusan sebuah universitas negeri ternama dengan senang hati mengikuti saran itu. Dia di rumah saja, tidak punya anak, dan segala pekerjaan rumah tangga dilakukan dua pembantunya.

Saya tidak dapat membayangkan keadaan “tidak bekerja”. Meski mendapat kucuran dana tidak kecil dan dimanja fasilitas, saya merasa “tidak bekerja” bukanlah pilihan saya. Hidup itu senantiasa bekerja dan manusia di dalamnya terus menerus bertransformasi. Perubahan pun, sekalipun bersifat spiritual, adalah kerja. Tuhan pun bekerja. Kalau Tuhan tidak bekerja, habislah riwayat alam semesta.

 

Bekerja yang saya maksud di sini adalah aktivitas mengerahkan tenaga (fisik atau pikiran) untuk menghasilkan sesuatu; tidak melulu terkait memperoleh penghasilan, tetapi memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, sebagai cara untuk merasa berguna dan terhubung.

 

Tidak bekerja menghambat bangkitnya energi kreatif, membuat otak mengecil yang mengakibatkan gampang pikun, dan mempercepat kematian. Hidup tanpa bekerja tidak memiliki makna, dan akhirnya menjadikan hidup tiada guna.

 

Saya bilang pada istri saya, yang menceritakan tentang si wanita bersuamikan pejabat Eselon II BUMN itu, “Kalau aku, aku mau terus bekerja, nggak penting gaji atau uangnya. Yang penting aku bisa menyaksikan bagaimana begitu banyak potensi yang Tuhan berikan pada ciptaanNya termanifestasikan. Itu caraku bersyukur kepada nikmatNya.” ©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Februari 2026

No comments: