HARI Minggu siang, 15 Februari 2026, saya nongkrong sebelum dan sesudah Latihan di teras sisi timur Hall Cilandak. Ada seorang anggota pria (dibuka awal tahun 2020) yang berbicara dengan nada berapi-api, sepertinya mempertahankan habis-habisan idenya—yang telah ia jalankan dalam enam bulan terakhir—untuk mengadakan pertemuan tiga bulan sekali, yang menampilkan para anggota dan/atau pembantu pelatih yang pernah mengalami zaman Bapak, atau bahkan dekat dengan Bapak, untuk menceritakan pengalaman mereka dengan Bapak kepada para anggota yang tidak pernah bertemu Bapak, atau karena dibuka ketika Bapak sudah tiada.
Dia bercerita ke saya dan beberapa anggota lainnya yang duduk
mengitari dia, bahwa kegiatan tersebut menimbulkan pro dan kontra. Kontranya,
salah satunya dari saya, terkait dengan konsep pertemuannya dimana seorang pembantu
pelatih wanita bercerita kepada anggota-anggota pria, yang tidak pantas.
Apalagi, menurut si anggota pria yang bercerita ke saya tersebut, si pembantu
pelatih mengklaim dirinya bisa “berubah jenis kelamin” secara kejiwaan,
tergantung jenis kelamin lawan bicaranya.
Saya menyoroti soal “pro dan kontra”-nya alih-alih tentang
pertemuan tersebut. Pro dan kontra adalah hal yang sangat lumrah di Subud, dan
yang selalu sarankan kepada anggota yang merasa bingung harus berbuat apa jika
dirinya terjepit di antara pro dan kontra, adalah: “Lakukan saja apa yang
menurut Anda benar. Tidak perlu buang-buang tenaga membela diri atau mempertahankan
diri dari serangan orang-orang yang tidak menyetujui tindakan Anda!”
Kepada pria yang bercerita itu pun saya katakan, “Saya memang
termasuk yang kontra, Pak. Tapi Bapak seharusnya tidak perlu mempedulikan apa
tanggapan saya. Lakukan saja, nanti Bapak toh mendapat pengertian sendiri.”©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Februari 2026
No comments:
Post a Comment