Saturday, February 7, 2026

Pemikiran Sejarah Seorang Arsitek Merek

BAGI kebanyakan orang, logo hanyalah sebuah grafis dan slogan hanyalah rangkaian kata yang menarik. Namun bagi saya, sebuah brand (merek) adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah sebuah artefak yang hidup.

Meski saya menghabiskan masa-masa formatif di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dengan mendalami Ilmu Sejarah, karya hidup saya tidak ditemukan di arsip berdebu atau penggalian arkeologis. Sebaliknya, saya telah menghabiskan lebih dari 30 tahun mengarungi “medan tempur” dunia periklanan dan branding Jakarta dan Surabaya yang serba cepat.

 

Perjalanan saya tidak dimulai dengan poin-poin data, melainkan dengan narasi. Sebagai sarjana Ilmu Sejarah, saya belajar bahwa dunia dibangun di atas cerita-cerita yang kita sampaikan pada diri sendiri tentang siapa kita sebenarnya. Hal ini ternyata menjadi fondasi utama bagi karier di bidang persuasi.

·       Era Copywriter: Saya memulainya dari tempat di mana semua ide besar bermula—lewat kata-kata tertulis. Di dunia agensi periklanan yang penuh tekanan, saya menerjemahkan keinginan manusia menjadi headline. Latar belakang sejarah memberi saya keunggulan unik; saya memahami konteks budaya dan alasan di balik perilaku konsumen.

·       Peralihan ke Perencana Strategi: Lambat laun, aspek “apa” dalam copywriting berganti menjadi “bagaimana” dan “mengapa” dalam branding. Saya bertransisi menjadi seorang Perencana Strategi Merek, beralih dari sekadar menulis baris kalimat menjadi perancang seluruh “jiwa” sebuah perusahaan.

 

Bagi saya, sebuah merek bukan sekadar identitas korporat—ia adalah sebuah warisan yang sedang dibangun. Latar belakang akademis memungkinkan saya melihat branding melalui lensa yang berbeda:

·       Konteks adalah Raja: Sama seperti seorang sejarawan menganalisis masa kekuasaan seorang raja dalam konteks zamannya, saya menganalisis sebuah merek di dalam jalinan sosial-ekonomi Indonesia.

·       Permainan Jangka Panjang: Di saat banyak pemasar mengejar momen “viral”, pemikiran sejarah saya berfokus pada umur panjang. Saya membangun merek yang diniatkan untuk bertahan selama berdekade-dekade, bukan hanya sekadar untuk kuartal fiskal.

·       Mitologi Autentik: Saya paham bahwa merek yang paling kuat (seperti halnya peradaban yang paling kuat) dibangun di atas nilai-nilai inti dan “mitos pendiri” yang konsisten.

 

Dalam sejarah, Anda mencari kebenaran di balik peristiwa. Dalam branding, Anda membangun sebuah kebenaran yang membuat orang ingin menjadi bagian di dalamnya.

 

Setelah 30 tahun, saya tetap terobsesi dengan branding sama seperti hari pertama saya memulainya. Baik saat membedah rebranding terbaru atau membantu startup lokal menemukan suaranya, saya menghadapi setiap proyek dengan ketelitian seorang sarjana dan kecerdasan seorang praktisi iklan kawakan.

 

Saya adalah bukti nyata bahwa gelar Humaniora bukan hanya soal masa lalu—ia adalah alat yang ampuh untuk membentuk masa depan tentang cara kita mengonsumsi, terhubung, dan berkomunikasi.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Februari 2026

No comments: