BAGI kebanyakan orang, logo hanyalah sebuah grafis dan slogan hanyalah rangkaian kata yang menarik. Namun bagi saya, sebuah brand (merek) adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah sebuah artefak yang hidup.
Meski saya menghabiskan masa-masa formatif di Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dengan mendalami Ilmu
Sejarah, karya hidup saya tidak ditemukan di arsip berdebu atau penggalian
arkeologis. Sebaliknya, saya telah menghabiskan lebih dari 30 tahun mengarungi “medan
tempur” dunia periklanan dan branding
Jakarta dan Surabaya yang serba cepat.
Perjalanan saya tidak dimulai dengan poin-poin data,
melainkan dengan narasi. Sebagai sarjana Ilmu Sejarah, saya belajar bahwa dunia
dibangun di atas cerita-cerita yang kita sampaikan pada diri sendiri tentang
siapa kita sebenarnya. Hal ini ternyata menjadi fondasi utama bagi karier di
bidang persuasi.
·
Era Copywriter: Saya memulainya dari tempat di mana
semua ide besar bermula—lewat kata-kata tertulis. Di dunia agensi periklanan
yang penuh tekanan, saya menerjemahkan keinginan manusia menjadi headline.
Latar belakang sejarah memberi saya keunggulan unik; saya memahami konteks
budaya dan alasan di balik perilaku konsumen.
· Peralihan ke Perencana Strategi: Lambat laun, aspek “apa” dalam copywriting berganti
menjadi “bagaimana” dan “mengapa” dalam branding. Saya bertransisi menjadi seorang Perencana
Strategi Merek, beralih dari sekadar menulis baris kalimat menjadi perancang
seluruh “jiwa” sebuah perusahaan.
Bagi saya, sebuah merek
bukan sekadar identitas korporat—ia adalah sebuah warisan yang sedang dibangun.
Latar belakang akademis memungkinkan saya melihat branding melalui lensa yang berbeda:
·
Konteks
adalah Raja: Sama
seperti seorang sejarawan menganalisis masa kekuasaan seorang raja dalam
konteks zamannya, saya menganalisis sebuah merek di dalam jalinan sosial-ekonomi Indonesia.
· Permainan Jangka Panjang: Di saat banyak pemasar mengejar
momen “viral”, pemikiran sejarah saya berfokus pada umur panjang. Saya
membangun merek yang diniatkan
untuk bertahan selama berdekade-dekade, bukan hanya sekadar untuk kuartal
fiskal.
· Mitologi Autentik: Saya paham bahwa merek yang paling kuat (seperti
halnya peradaban yang paling kuat) dibangun di atas nilai-nilai inti dan “mitos
pendiri” yang konsisten.
Dalam sejarah, Anda mencari kebenaran di balik peristiwa.
Dalam branding, Anda membangun
sebuah kebenaran yang membuat orang ingin menjadi bagian di dalamnya.
Setelah 30 tahun, saya tetap terobsesi dengan branding sama seperti hari
pertama saya memulainya. Baik saat membedah rebranding terbaru atau membantu startup lokal menemukan
suaranya, saya menghadapi setiap proyek dengan ketelitian seorang sarjana dan
kecerdasan seorang praktisi iklan kawakan.
Saya adalah bukti nyata bahwa gelar Humaniora bukan hanya
soal masa lalu—ia adalah alat yang ampuh untuk membentuk masa depan tentang
cara kita mengonsumsi, terhubung, dan berkomunikasi.©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Februari 2026
No comments:
Post a Comment