Sunday, May 31, 2026

Momen Tenang Seorang Murid Sekolah

DUA kali sudah (sekali seminggu) saya memberi workshop Copywriting kepada lima Gen Z yang bekerja di bagian Pemasaran sebuah biro perjalanan umroh dan haji. Dua-duanya memberi saya sakit kepala—akibat menyerap para peserta yang suka overthinking, tapi baru di kali kedua saya terpikir untuk mengajak para peserta melakukan pengheningan cipta. Pengheningan cipta bersinonim dengan “penenangan diri” atau “menenteramkan akal pikir” seperti yang biasa dilakukan anggota Subud sebelum memulai Latihan.

Para anak muda kelahiran awal 2000an itu menatap saya dengan bingung. Mereka baru pertama kali mendengar istilah “mengheningkan cipta”. Ironisnya, ada lagu berjudul Mengheningkan Cipta yang diciptakan pada tahun 1958 oleh seorang komponis Indonesia asal Surakarta, Jawa Tengah. Lagu itu diperdengarkan kepada atau dinyanyikan oleh para murid sekolah dasar hingga menengah atas di Indonesia ketika upacara bendera, dalam rangka merenungkan jasa para pahlawan bangsa. Artinya, anak-anak Gen Z Indonesia familiar dengan lagu itu tapi tidak tahu apa dan bagaimana melakukan pengheningan cipta.

Generasi saya, kaum Gen X Indonesia, selain tahu lagu itu juga tahu praktik pengheningan cipta—meski mungkin sebagian besar tidak tahu manfaatnya, kecuali Anda aktif di aliran kebatinan atau menekuni spiritualitas. Saya sendiri baru merasakan manfaatnya setelah masuk Subud.

Selama 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru Soeharto, pengheningan cipta dilakukan murid dan guru di kelas di semua tingkatan pendidikan dasar dan menengah sebelum memulai pelajaran. Karena tidak pernah diajarkan mengenai apa manfaat pengheningan cipta, maka para murid pun memanfaatkan momen penenangan diri itu dengan saling mengusili, melirik sana sini, atau diam-diam bercanda. Setelah mengalami sendiri, sejak saya masuk Subud, saya jadi agak menyesali mengapa dulu ketika masih remaja saya tidak menyeriusi pengheningan cipta sebelum pelajaran dimulai. Meneliti diri (niteni) saya sejak dibuka—bisa dengan cepat memahami kajian akademik apapun, bisa jadi ketika bersekolah hingga berkuliah di universitas dulu saya tidak melulu menjadi “underdog”.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 31 Mei 2026

No comments: