Wednesday, May 13, 2026

Pertama Kali Percaya Testing


DI DUA tahun pertama saya sejak dibuka di Subud, saya sama sekali tidak percaya pada testing. Hal itu berubah ketika saya “terpaksa” melakukannya, dan itu terjadi di sebuah desa di Jawa Tengah, yang saya kunjungi bersama lima saudara Subud dari Jakarta Selatan, seminggu setelah gempa besar meluluhlantakkan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Kami berenam meluncur ke Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyalurkan bantuan bagi para anggota Subud di kawasan gempa yang menjadi korban, baik yang luka-luka maupun yang sampai kehilangan tempat tinggal.

Kami singgah di Desa Paseban, di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu pembantu pelatih yang bersama kami dari Jakarta memiliki paman yang tinggal di kaki bukit di desa tersebut. Sebuah masjid—yang dikenal sebagai Masjid Gholo—berdiri kokoh di pucuk bukit. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu kabarnya dipindah dari tempatnya semula di Yogyakarta secara digeser dengan kekuatan gaib ke lokasi baru di puncak bukit itu. Meski dianggap legenda belaka, rata-rata warga lokal percaya bangunan masjid itu benar-benar dipindah dengan cara digeser oleh seorang wali Islam yang memiliki kesaktian. Untuk menguji kebenarannya, si pembantu pelatih menyuruh saya melakukan testing kejiwaan.

Awalnya, saya bersikeras menolak karena saya tidak percaya omong kosong testing dan cerita soal masjid itu. Tetapi si pembantu pelatih memastikan bahwa kejadian pemindahan masjid itu secara gaib memang benar-benar terjadi. “Kamu testing ya, cari tahu siapa orang yang telah menggeser masjid itu,” kata si pembantu pelatih ke saya. Ia menyuruh saya duduk bersila di tengah pekarangan rumah pamannya, menghadap bukit di mana masjid itu berada. Saya memejamkan mata dan memulai testing, dengan pertanyaan yang saya ucapkan dalam hati: “Siapa yang memindahkan masjid itu ke puncak bukit?”

Saya tiba-tiba merasakan suatu suasana yang asing (sulit dijelaskan), kemudian melihat sosok berjubah dan bersorban berdiri dengan kedua lengannya bersedekap, di sebelah si pembantu pelatih. Saya membatinkan pertanyaan, “Siapa Anda?”, dan memperoleh pengertian bahwa sosok itu adalah Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali Islam di tanah Jawa, atau Wali Sanga.

Saya sudahi testingnya, membuka mata saya lalu membuka mulut saya: “Saya melihat sosok Sunan Kalijaga!”

Si pembantu pelatih berkata bahwa saya berhasil mendapatkan jawaban melalui testing. Momen itu pertama kalinya saya mulai percaya testing ala Subud. Selanjutnya, bagaimanapun, saya tidak pernah lagi menggunakan testing untuk mendapatkan jawaban atas misteri-misteri atau peristiwa supranatural yang bagi saya tidak ada gunanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Mei 2026

 

 

No comments: