TADI malam, saya ditelpon mantan pembantu pelatih Surabaya yang kini berdomisili di Madiun dan, seperti saya, tercatat sebagai anggota Cabang Sidoarjo, Mas Heru Iman Sayudi. Kami mengobrol dua jam 18 menit. Salah satu topik obrolannya adalah “bimbingan kekuasaan Tuhan” dalam bidang pekerjaan kami--Mas Heru dan saya sama-sama konsultan branding.
Saya cerita ke Mas Heru tentang satu job saya sebagai freelance copywriter baru-baru ini, menulis teks dwibahasa (Indonesia-Inggris) untuk coffee-table book setebal 100 halaman. Gemini AI adalah asisten setia saya dalam pengerjaannya. Nah, tidak sedikit anggota Subud antipati pada AI, alasannya karena sebuah karya jadi “tidak manusiawi, tidak ada rasanya, tidak ada ruhnya”. Tapi pengalaman saya dan tim desain coffee-table book itu maupun pengalamannya Mas Heru dan tim kerjanya, membuktikan bahwa bila “dibimbing” untuk menggunakan AI, outputnya akan ada rasa atau ruhnya. Jadi, kami berkesimpulan: Yang utama itu bimbinganNya, bukan alat yang digunakan. Alat bisa apa saja, tapi kapan baiknya menggunakan salah satu atau semua alat yang ada tergantung petunjuk yang kita terima dalam ketenangan rasa diri kita.
Seperti ucap satu anggota yang kemarin siang hingga sore nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak, terkait desain logo Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal (2028): “Idenya kan dari bimbingan Tuhan, tapi Mas Arifin perlu daya rendah untuk mewujudkan ide itu. Mau pakai Photoshop kek, AI kek, terserah petunjuk yang Mas terima kan?!”
“Wah, benar
juga,” saya membatin mendengar penjelasan si anggota.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Juni 2026
No comments:
Post a Comment