Sunday, May 10, 2026

Gorengan dan Kesesatan

SEJAK pertengahan Desember 2022 saya reguler Latihan di Ranting Pamulang yang berjarak sekitar 5 km dari rumah saya, dan sangat jarang ke Wisma Subud Cilandak—hampir 10 km dari rumah saya. Kalau hari Minggu, 10 Mei 2026, saya Latihan di Cilandak, adalah karena selama seminggu ini saya kehilangan kesempatan Latihan di Pamulang lantaran saya sakit dan cuaca buruk.

Kalau ke Cilandak, tempat nongkrong saya adalah di “Teras Timur”, teras di sisi timur Hall Latihan Cilandak, yang disangka dan mendapat julukan “Kelompok Subud Sesat” oleh mereka yang tidak pernah nongkrong di situ, dan selalu tersebut nama saya di samping dua anggota lainnya (salah satunya meninggal pertengahan Desember 2024) sebagai “pentolan kelompok”. Anggapan yang tentu saja salah, karena geng Teras Timur terbentuk secara organik, tanpa pernah saya rencanakan atau inginkan. Mengapa disebut “sesat”, karena mereka yang menganggap begitu hanya mendengar selentingan bahwa obrolan kejiwaan dari orang-orang yang nongkrong di situ “keluar dari arus utama”. Padahal kami hanya suka mencandai penerimaan atau pengalaman masing-masing dengan Latihan.

Jarang sekali ada wanita yang ikut gathering tidak resmi di situ, kecuali mereka yang kenal baik dengan kami, dan kebetulan lewat dalam perjalanan mereka ke toilet wanita, yang memang berlokasi di sisi timur hall Latihan. Para pembantu pelatih telah mencegah para anggota baru untuk bergabung di geng Teras Timur agar tidak cepat “terganggu”. Tidak pernah pula pengurus Cabang Jakarta Selatan ataupun Nasional yang dengan sadar mau meluangkan waktu untuk nongkrong di Teras Timur, sehingga agak mengejutkan kami, geng Teras Timur, ketika siang kemarin, pasca Latihan, Ketua Umum Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia 2025-2027, Muhammad Ridwan, dan satu pembantu pelatih senior dari Cabang Jakarta Selatan tiba-tiba bergabung dengan kami. Sontak semua diam, padahal sebelumnya obrolan kami ramai.

Ketua Umum Pengurus Nasional memancing kami untuk mau buka mulut, berbagi cerita pengalaman atau pemahaman, tetapi semua membisu. Dengan cuek saya pun berkata, “Asyiknya ngobrol itu kalau ada gorengan, Mas!” Ketua Umum Pengurus Nasional pun membeli gorengan secara daring dan menelepon salah satu dari para anggota wanita yang berjualan makanan dan minuman di pekarangan depan Hall Cilandak. Ketua Umum Pengurus Nasional memborong semua jualan mereka dan meminta agar dibawa ke Teras Timur. Barulah suasana cair. Di antara topik pembicaraan pertama, saya tertarik pada pertanyaan Ketua Umum Pengurus Nasional: “Kalau bertanya, apa alasan seseorang masuk Subud, itu sudah biasa. Coba, tanya dong mengapa seseorang bertahan di Subud.”

Saya menyeletuk, “Itu yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri... mengingat saya di awal mengenal Subud saya bukanlah orang yang berminat pada spiritualitas. Kalau tidak dipancing dengan makanan enak, mungkin saya tidak pernah masuk Subud.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Mei 2026

No comments: