Tuesday, April 21, 2026

Kritik Kartini Terhadap Agama

RADEN Ajeng Kartini (1879-1904) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkemuka dan pelopor gerakan hak-hak perempuan serta pendidikan. Lahir pada 21 April 1879—karena itulah setiap tanggal 21 April diperingati oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Kartini—dalam keluarga bangsawan Jawa di masa kolonial Belanda, ia paling dikenal melalui kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut merinci pemikirannya tentang reformasi sosial, penderitaan perempuan Jawa, dan perjuangan kemerdekaan nasional.                   

Kartini dirayakan secara luas sebagai perintis hak-hak perempuan dan pendidikan di Indonesia. Namun, di balik advokasi sekolah dan kesetaraan sosial, terdapat pemikiran analitis yang mendalam—pemikiran yang berani mengkritisi fondasi praktik keagamaan di zamannya. Kartini bukan sekadar seorang reformator; ia adalah seorang beragama yang kritis. Surat-suratnya mengungkap sosok wanita yang menolak menerima tradisi begitu saja, melainkan mencari keyakinan yang berakar pada logika dan kasih sayang.

Kritik Terhadap Pemahaman Agama

Salah satu kritik Kartini yang paling terkenal adalah mengenai cara Alquran diajarkan pada masanya. Ia mempertanyakan mengapa para murid diharapkan untuk menghafal dan melantunkan kitab suci dalam bahasa Arab tanpa diwajibkan memahami maknanya. Bagi Kartini, pertumbuhan spiritual mustahil terjadi tanpa pemahaman. Ia melihat praktik melantunkan kata-kata tanpa tahu definisinya sebagai sebuah latihan yang hampa. Keinginannya adalah agar agama berbicara kepada hati melalui pikiran—sebuah sikap radikal dalam masyarakat di mana otoritas agama jarang sekali dipertanyakan.

Kritik Kartini pun meluas hingga ke luar ruang kelas. Ia membayangkan sebuah dunia yang melampaui batas-batas agama terorganisir, menyiratkan bahwa dunia akan jauh lebih damai jika agama-agama tidak menonjolkan perbedaan mereka atau terlibat dalam penghinaan dan konflik timbal balik. Observasinya yang paling tajam tetap terasa sangat relevan hingga saat ini: “Agama seharusnya menjaga kita dari dosa, namun seringkali, dosa justru dilakukan atas nama agama!”

Kejujuran Intelektual

Apa yang membuat Kartini benar-benar “keren” menurut standar modern adalah kejujuran intelektualnya. Ia tidak meninggalkan agamanya; sebaliknya, ia menjunjung agamanya ke standar yang lebih tinggi. Ia membuktikan bahwa mencintai budaya atau agama seseorang bukan berarti mengabaikan kekurangannya. Ia menantang para pemimpin agama untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai jembatan menuju perdamaian, bukan senjata untuk perpecahan.

Dengan menuntut untuk memahami kitab suci bagi dirinya sendiri, ia merebut kembali kedaulatan spiritualnya. Kartini tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa menjadi orang yang beragama dan menjadi pemikir kritis bukanlah dua hal yang saling eksklusif. Faktanya, seperti yang ia tunjukkan, iman yang paling mendalam sering kali adalah iman yang tidak takut untuk bertanya, “Mengapa?”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 April 2026

No comments: