Monday, January 26, 2026

Kapan?

MINGGU lalu, selama seminggu penuh, hujan deras mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya. Ada dua hari dalam pekan itu dimana hujan turun selama hampir sepuluh jam, yang menyebabkan banjir melanda sejumlah titik di Jakarta—bahkan kawasan-kawasan yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran tiba-tiba harus mengalaminya.

Yang paling menyebalkan bagi banyak warga masyarakat adalah kesulitan dalam mengeringkan cucian mereka. Mencuci bagi sebagian besar warga Jakarta dan sekitarnya merupakan hal yang mudah, karena rata-rata telah memiliki mesin cuci. Kesulitannya terletak pada jarangnya matahari menampakkan wajahnya, membuat jemuran tidak bisa cepat kering sehingga menimbulkan bau apek dan kain menjadi berjamur. Akibatnya, warga masyarakat berbondong-bondong ke gerai-gerai penatu swalayan yang menyediakan bukan saja mesin cuci tetapi juga mesin pengering.

Bagaimanapun, hal ini tidak serta merta menyelesaikan masalah. Banyak warga yang tidak memiliki mobil akan kehujanan dalam perjalanan mereka ke gerai-gerai penatu itu. Istri saya mendesak saya untuk bangun lebih pagi agar bisa terhindar dari kehujanan (meskipun kenyataannya, terkadang hujan pun turun sejak subuh), tetapi saya mengabaikannya. Saya hanya menjawab, “Nantilah.”

“Kapan itu nanti?” tanya istri saya.

“Ketika Tuhan menghendakinya,” jawab saya seenaknya. Istri saya, meskipun Subud juga, masih suka menganggap jawaban saya seperti itu sebagai lelucon. Karena menganggap saya tidak serius, ia pergi sendiri ke gerai penatu langganan kami, tetapi menolak membawa serta pakaian kotor saya—maksud dia, agar saya jera dengan akibat dari membiarkan pakaian kotor menumpuk terlalu lama.

Hari Minggu, 25 Januari, saya terbangun dengan penerimaan bahwa hari itu cuaca akan cerah dan saya terdorong untuk mencuci pakaian saya dalam dua giliran: Hari itu khusus pakaian atasan, dan hari berikutnya pakaian bawahan. Mengetahui bahwa saya akan mencuci pakaian, istri saya mengingatkan bahwa waktunya tidak tepat. “Hujan bisa turun kapan saja! Jemuran kamu tidak akan kering dan bau apek!” katanya. Tetapi saya tidak peduli dengan omongannya dan dengan santai meneruskan mencuci pakaian saya dengan mesin cuci.

 

Pemandangan dari balkon belakang tempat saya menjemur pakaian. Bisa dilihat awan mendung tebal di ufuk utara—tepat di perbatasan Jakarta Selatan—yang seolah sudah tidak sabar ingin tumpah. Entah bagaimana, hujan tertahan cukup lama sampai cucian saya kering. Benar-benar waktu yang pas!

Ajaibnya, hari itu memang tidak hujan sepanjang pagi hingga sore, memberi kesempatan pada jemuran saya untuk mengering sempurna. Hujan baru turun beberapa saat setelah saya memasukkan jemuran.

Senin ini, saya mencuci lagi, giliran pakaian bawahan saya, meski diperingatkan oleh istri saya bahwa langit sudah tertutup awan mendung hitam dan tebal. Ketika saya menjemur cucian saya, perlahan awan-awan mendung itu menyingkir, memberi jalan bagi masuknya sinar matahari.

Saat sarapan, saya berkata kepada istri saya, “Tuhan menciptakan waktu, manusia menciptakan jam. Kalau aku terima sekaranglah saat yang tepat untuk mencuci, maka akan aku lakukan. Jangan tanyakan kapan—aku tidak tahu, Dialah Yang Maha Tahu!”

Istri saya hanya mencibir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

Sunday, January 25, 2026

Tujuh Turunan

MEMBACA ceramah-ceramah Bapak mengenai pengaruh Latihan Kejiwaan terhadap leluhur kita, saya sering menjumpai gagasan beliau tentang “tujuh turunan ke atas dan tujuh turunan ke bawah”. Karena tumbuh besar di Indonesia, ungkapan “tujuh turunan” sudah sangat tertanam dalam diri saya. Namun, saya—dan banyak orang Indonesia lainnya dalam hal ini—tidak pernah benar-benar mempertanyakan mengapa harus tujuh turunan, atau mengapa angka tujuh yang dipilih sejak awal.

Dalam konteks Indonesia, “tujuh turunan” merupakan idiom yang memiliki signifikansi budaya, yang digunakan untuk menggambarkan skala waktu, kekayaan, atau konsekuensi yang luar biasa—menyiratkan bahwa sesuatu memiliki dampak yang sangat besar sehingga akan bertahan (atau telah bertahan) selama tujuh generasi berturut-turut dalam suatu keluarga.


Penggunaan yang paling umum terdapat dalam kalimat “Kekayaan yang tidak habis tujuh turunan”. Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang kekayaannya tak terbayangkan. Hal ini menyiratkan bahwa meskipun keturunan mereka ceroboh atau malas, kekayaan tersebut begitu besar sehingga akan terus menghidupi keluarga itu selama lebih dari satu abad.

 

Karena budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai garis keturunan dan silsilah, istilah tersebut sering kali mengandung bobot spiritual atau moral. “Sumpah tujuh turunan” adalah kutukan yang sangat mendalam. Jika seseorang melakukan dosa besar atau pengkhianatan, sang korban mungkin menyatakan bahwa konsekuensinya akan menghantui garis keturunan pelaku hingga tujuh generasi. Demikian pula, “dendam tujuh turunan” merujuk pada perseteruan darah atau kebencian mendalam yang diwariskan dari para leluhur.


Dalam lingkaran sosial tradisional, khususnya dalam budaya Jawa, konsep “Bibit, Bebet, Bobot (Garis Keturunan, Status Ekonomi/Kekayaan, dan Kualitas Diri) sangatlah krusial. Menjadi “bersih” selama tujuh turunan berarti sebuah keluarga tidak memiliki riwayat kejahatan, skandal, atau aib sosial, sehingga membuat mereka sangat diidamkan untuk hubungan pernikahan.

Mengapa Tujuh?

UNTUK memahami mengapa tujuh menjadi angka keramat dalam tradisi Indonesia, kita harus melihat pada persilangan yang menarik antara kosmologi, biologi, dan filosofi spiritual kuno.


Di berbagai budaya Indonesia (terutama Jawa dan Sunda), alam semesta dipandang memiliki tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Struktur numerologi ini menyiratkan bahwa “tujuh” adalah batas dari alam semesta yang nyata maupun alam spiritual. Mempengaruhi “tujuh turunan” berarti mempengaruhi keseluruhan garis keturunan seseorang di dalam ranah fisik dan spiritual.

Dalam pandangan dunia masyarakat Indonesia, angka tujuh bukanlah angka yang sembarangan; angka ini melambangkan keutuhan dan siklus eksistensi yang lengkap. Angka tujuh tertanam dalam upacara peralihan (rites of passage) yang paling sakral di Indonesia:

  • Mitoni (Pitonan): Upacara tradisional Jawa yang diadakan pada bulan ketujuh kehamilan untuk memastikan kelahiran yang sehat dan karakter yang baik bagi sang anak.
  • Tedhak Siten: Upacara saat seorang anak pertama kali menyentuh tanah pada usia tujuh lapan (satu lapan adalah 35 hari).
  • Ritual Berkabung: Doa-doa tradisional bagi orang yang meninggal sering kali diadakan pada hari ketujuh setelah kematian, yang menandai tahapan tertentu dalam perjalanan ruh.

Sebelum adanya genetika modern, terdapat pemahaman intuitif bahwa sifat-sifat pada akhirnya akan “luntur” atau menjadi tidak dikenali seiring berjalannya waktu. Tujuh generasi (kira-kira 150–200 tahun) secara tradisional dipandang sebagai batas pengaruh “langsung”. Melampaui tujuh generasi, Anda bukan lagi merupakan garis keluarga yang spesifik; Anda telah melebur kembali menjadi “leluhur” secara umum atau menjadi “tanah” bagi masyarakat.

Angka tujuh memiliki signifikansi mistis dan simbolis dalam banyak tradisi Indonesia (maupun secara global). Angka ini melambangkan kelengkapan atau sebuah siklus yang penuh. Dalam pola pikir orang Indonesia, “tujuh turunan” secara efektif berarti “selamanya” atau “secara permanen”.

Rincian Silsilah Keturunan:

1.      Anak

2.     Cucu

3.     Cicit (atau Buyut)

4.     Piut (atau Canggah)

5.     Anggas (atau Wareng)

6.    Ubung-ubung (atau Udheg-udheg)

7.     Gantung Siwur

 

Catatan: Istilah lokal untuk generasi ke-4 hingga ke-7 bervariasi di seluruh Indonesia, tetapi Gantung Siwur adalah istilah tradisional Jawa untuk generasi ketujuh.

Dalam budaya Indonesia, konsep “tujuh turunan” lebih dari sekadar ungkapan; ia merupakan filosofi mendalam mengenai keberlanjutan hidup, karma, dan tanggung jawab. Konsep ini menunjukkan bahwa tindakan kita hari ini tidak lenyap begitu saja ke masa lalu, melainkan beriak melintasi waktu, mempengaruhi tujuh turunan sebelum kita dan tujuh turunan yang akan datang.

Memahami silsilah ini dapat menjadi katalisator yang kuat bagi pertumbuhan pribadi dan perubahan masyarakat.

Warisan Keadaan

DALAM pengertian materi, “tujuh turunan” bermanifestasi sebagai lingkungan fisik dan finansial yang kita warisi dan kita teruskan. Hal ini sering dibahas dalam hal kekayaan antargenerasi atau kemiskinan antargenerasi. Ketika kita melihat sumber daya kita melalui lensa tujuh turunan, kita berhenti mengonsumsi untuk hari ini dan mulai melestarikan untuk hari esok. Pergeseran ini mendorong pola hidup berkelanjutan dan investasi yang bertanggung jawab.

Sains modern (epigenetika) menunjukkan bahwa trauma dan kebiasaan kesehatan dapat meninggalkan “tanda” pada DNA kita. Dengan meningkatkan kesejahteraan fisik kita dan memutus rantai kecanduan atau pengabaian, kita secara harfiah sedang meningkatkan “materi” biologis dari keturunan kita di masa depan.

Secara intelektual, konsep ini mengatur aliran pengetahuan, pola pikir, dan pandangan dunia. Kita sering kali “terprogram” oleh bias intelektual dari buyut-buyut kita tanpa kita menyadarinya.

Banyak dari kita membawa “beban” intelektual—seperti anggapan bahwa kita tidak cukup pintar, atau bahwa jalan-jalan tertentu tertutup bagi kita. Mengenali hal-hal ini sebagai “pikiran warisan” memungkinkan kita untuk menyaring apa yang bermanfaat dan membuang apa yang sudah usang. Untuk memberi dampak pada tujuh turunan secara intelektual, seseorang harus memprioritaskan pendidikan dan berbagi kearifan. Hal ini mendorong kita untuk menjadi “leluhur pikiran”, dengan mendokumentasikan pelajaran hidup kita sehingga dapat menjadi peta jalan bagi mereka yang tidak akan pernah kita temui.

Dalam konteks kejiwaan, “tujuh turunan” menyiratkan keterhubungan mistis yang saling bertautan. Dalam banyak tradisi Indonesia, dipercaya bahwa “kemurnian” atau “bobot” spiritual seseorang dapat mengangkat derajat leluhur mereka dan melindungi keturunan mereka. Praktik spiritual pribadi kita bukan lagi merupakan upaya individual. Jika kita menemukan kedamaian, kita dipandang membawa cahaya bagi garis keturunan yang mungkin telah diselimuti oleh “kegelapan” atau “penderitaan” selama berpuluh-puluh tahun.

Dengan menyelesaikan konflik internal dan meningkatkan sikap memaafkan, kita “membersihkan” garis keluarga kita. Hal ini mencegah “hutang” spiritual masa lalu—seperti dendam atau trauma yang belum sembuh—diwariskan sebagai beban kepada generasi muda.

Perubahan Menuju yang Lebih Baik


KEKUATAN dari filosofi “tujuh turunan” terletak pada pertanggungjawaban. Ketika kita hidup hanya untuk diri sendiri, cakrawala kita menjadi sempit. Akan tetapi, ketika kita hidup untuk tujuh turunan, perspektif kita menjadi “cathedral thinking (pola pikir jangka panjang yang visioner, dimana sebuah tujuan ambisius direncanakan dan dikerjakan saat ini, meskipun penyelesaiannya mungkin memakan waktu beberapa generasi atau melampaui umur pembuatnya)—sebuah praktik menanam benih pohon yang keteduhannya tidak akan pernah kita nikmati sendiri.

 

Cara menerapkannya saat ini:

·        Tanyalah pada diri sendiri, “Jika cicit-cicit saya mewarisi kebiasaan saya saat ini, apakah mereka akan berkembang atau malah menderita?”

·        Hadapi “rahasia keluarga” atau trauma yang selama ini dipendam. Menyembuhkan diri sendiri adalah hadiah terbesar yang bisa Anda berikan kepada leluhur Anda.

·        Buatlah satu keputusan minggu ini—baik itu investasi keuangan, perubahan gaya hidup, atau kata-kata yang baik—yang secara khusus ditujukan untuk memberi manfaat bagi seseorang di 100 tahun yang akan datang.

 

Jangan hanya mewarisi tujuh turunan tersebut—ubahlah mereka. Karena pilihan-pilihan yang Anda buat pagi ini akan tetap berbisik di telinga keturunan Anda satu abad dari sekarang. Dengan merangkul konsep tujuh turunan, kita beralih dari sekadar penerima sejarah yang pasif menjadi arsitek masa depan yang aktif.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

Monday, January 19, 2026

Cukuran dalam Rangka Syukuran

MUNGKIN bukan sesuatu yang luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya berarti. Selama hampir 22 tahun menjadi anggota Subud, saya tidak memiliki kartu tanda anggota. Mungkin karena aktivitas saya di media sosial, yang di semua platform saya jelas-jelas mencantumkan informasi bahwa saya anggota Subud Indonesia, tidak sedikit anggota dalam dan luar negeri yang mengenal saya, sehingga setiap kali saya mendatangi cabang manapun untuk melakukan Latihan pengurus atau pembantu pelatih setempat tidak menanyakan kartu tanda anggota saya.

 




Saya melalui masa kandidat tiga bulan saya hingga dibuka di Subud Cabang Surabaya, sehingga otomatis secara administratif saya tercatat sebagai anggota Cabang Surabaya. Ketika saya pindah ke Jakarta, saya memantapkan diri untuk tidak memindahkan keanggotaan saya ke Cabang Jakarta Selatan. Bahkan setelah saya aktif Latihan di Cilandak selama lebih dari 12 tahun keanggotaan saya masih diakui di Cabang Surabaya. Tahun ke-12 masa saya di Subud, terjadi konflik di tubuh Cabang Surabaya yang berakibat sejumlah besar anggota dan pembantu pelatih kehilangan keterkaitan dengan cabang tersebut dan keleleran tanpa kejelasan keanggotaan dari cabang mana. Saya salah satunya.

 


Pada 14 Januari 2025, saya mendapat kabar sejuk bahwa Cabang Sidoarjo akan membantu membuatkan dokumen resmi mutasi empat anggota—saya di antaranya—dan satu pembantu pelatih bekas Cabang Surabaya untuk menjadi anggota resmi Cabang Sidoarjo. Dalam sehari, baik kartu tanda anggota saya dan surat pemberitahuan mutasi telah dirilis—dengan tanda tangan Komisaris Wilayah VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, Pak Seno Prasodjo—yang kemudian, pada 19 Januari 2026, membatalkannya karena dianggap saya telah mutasi ke Cabang Jakarta Selatan. Bagaimanapun, saya resmi terdaftar sebagai anggota Cabang Sidoarjo. Untuk itu, pada 15 Januari 2026, saya memangkas rambut saya sebagai tanda syukur.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, 20 Januari 2025

Saturday, January 17, 2026

Kebiasaan Gundul

 


SEBELUM tahun 1990/1991, saya tidak pernah berani tampil di depan umum dengan kepala gundul. Saya lebih menyukai rambut panjang melebihi kerah baju dan belah tengah yang membuat saya tampak berantakan dan kumuh.

Sebagai tentara, ayah saya tidak suka melihat potongan rambut saya. Waktu kecil, saya memang pasrah pada kehendak beliau yang menggunduli kepala saya di kedai cukur. Kala itu, akhir dekade 1960an dan awal 1970an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memang memberlakukan penertiban terhadap rambut gondrong. Dengan kenyataan itu, ayah saya selalu menakut-nakuti saya, bahwa saya bakal ditangkap polisi jika menolak ajakan beliau ke kedai cukur.

Saya mulai suka memangkas rambut saya bergaya crew cut (potongan rambut militer) saat media massa diramaikan berita-berita mengenai Operasi Desert Shield, fase awal dari Perang Teluk (1990-1991), yaitu operasi militer multinasional pimpinan Amerika Serikat untuk mengerahkan pasukan besar-besaran ke Arab Saudi sebagai respons terhadap invasi Irak ke Kuwait, bertujuan untuk mempertahankan Arab Saudi dan mempersiapkan serangan balasan yang kemudian dikenal sebagai Operasi Desert Storm. Kemunculan foto-foto tentara AS dengan rambut crew cut menginspirasi saya untuk mulai meniru gaya itu. Dan makin lama, saya makin menipiskannya hingga gundul sama sekali—yang memberi saya rasa seolah rekrutan tentara pada fase latihan dasar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Januari 2026

Thursday, January 15, 2026

Kesembuhan Melalui BEP

FLU dan batuk saya benar-benar parah Senin lalu, 12 Januari. Sudah enam hari berturut-turut saya terus-terusan minum obat flu dan tablet isap anti radang tenggorokan, tapi tidak ada yang mempan. Beruntung, sehari sebelumnya saya mendapat penerimaan untuk mencoba Bio Energy Power (BEP)—sebuah kombinasi latihan olah gerak dan pernapasan. Bisa dibilang itu adalah upaya terakhir saya.

Ternyata, penerimaan itu tepat sekali. Setelah melakukan 30 set (setiap set terdiri dari tiga gerakan berkelanjutan), saya mulai merasa lebih baik di hari yang sama. Ini benar-benar pengubah keadaan.

Saya pertama kali mendengar tentang BEP pada Maret 2009 melalui satu saudara Subud. Ia memperkenalkan saya kepada penciptanya, Pak Harry Angga, seorang dokter dari Bandung yang sangat mumpuni baik di bidang kedokteran Barat maupun Timur.

Beliau menggabungkan latar belakang medisnya dengan keahlian di bidang energi prana dan akupunktur untuk menciptakan cara yang sangat mudah dalam memicu proses penyembuhan alami tubuh.

Pertama kali saya bertemu Pak Harry, saya sedang mengalami masalah pencernaan selama dua minggu. Sakit itu langsung hilang setelah sesi latihan bersama beliau di Jakarta. Hal yang menarik adalah kelompok tersebut diikuti oleh berbagai usia, mulai dari anak delapan tahun hingga lansia 80 tahun—memang semudah itu untuk dipelajari.

Di video ini, Anda akan melihat latihan BEP versi berdiri, tapi saya biasanya melakukannya sambil duduk di kursi. Jika Anda ingin melihat hasil yang nyata, cobalah targetkan setidaknya 15 set.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 16 Januari 2026

Monday, January 12, 2026

Irama Hujan: Sebuah Kisah Cinta yang Abadi

BAGI banyak orang, langit yang diselimuti awan mendung tebal adalah pertanda untuk mencari perlindungan, dorongan untuk membuka payung atau bergegas masuk ke dalam ruangan. Tetapi bagi saya, aroma kuat pertama dari petrikor—parfum tanah saat hujan membasahi tanah yang kering—berarti “pulang”. Ketika dunia menarik diri, saya justru melangkah keluar.

Kisah cinta saya dengan hujan dimulai pada siang-siang di masa kecil saya. Saat bel sekolah berbunyi, yang menandakan berakhirnya suatu hari sekolah, sering kali awan mendung pecah tepat saat saya mencapai gerbang sekolah.

Ketika anak-anak lain berkerumun di emperan bangunan yang menyisakan atap atau menunggu orang tua mereka datang menjemput dengan jas hujan atau payung, saya malah membetulkan letak tas saya dan berjalan lurus menembus derasnya hujan. Saya ingat percikan dingin genangan air di kaki saya dan suara ritmis “plak-plok” sepatu saya di atas aspal jalan yang digenangi air hujan. Bagi saya, hujan bukanlah sebuah gangguan; hujan adalah taman bermain. Perjalanan pulang itu adalah arena bermain dengan air terjun mini dan balapan perahu kertas di selokan—masa di mana satu-satunya hal yang penting hanyalah seberapa tinggi percikan air berikutnya.

Kini, sebagai orang dewasa yang menjelajahi segunung tanggung jawab, saya merasa bahwa hujan telah memiliki makna yang lebih dalam. Hujan telah menjadi jangkar paling andal yang menghubungkan saya dengan masa lalu.



Saat badai melanda kota, kebisingan lalu lintas dan tekanan pekerjaan seakan melunak. Memandangi hujan sebagai pria dewasa memberi saya jeda meditatif yang langka. Suara hujan menjadi tombol “reset” bagi stres saya. Setiap tetesnya membawa serpihan diri saya yang lebih muda—anak laki-laki yang tidak khawatir tentang pakaian basah atau terkena flu.

Di tengah guyuran hujan lebat, dunia terasa lebih kecil, lebih tenang, dan jauh lebih mudah dikendalikan. Bagi saya, berada di bawah guyuran hujan adalah sebuah bentuk perjalanan waktu. Itulah satu-satunya tempat di mana “anak kecil yang bebas” dan “orang dewasa yang bertanggung jawab” dapat berada di ruang yang sama. Hal itu mengingatkan saya bahwa seberapa pun hidup berubah, kegembiraan sederhana dari sebuah badai tetaplah sama.

Sementara yang lain menunggu matahari muncul, saya puas dengan hanya berdiri diam dan membiarkan hujan menghanyutkan beban masa kini, menghubungkan saya sekali lagi dengan anak laki-laki yang hanya ingin bermain.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Januari 2025

Sunday, January 11, 2026

Daya Tarik Kapal Tunda: Terhubung Kembali Dengan Imajinasi Masa Kecil

TUMBUH besar di Belanda memicu kekaguman mendalam dalam diri saya terhadap tongkang yang dialihfungsikan menjadi rumah. Rumah-rumah apung ini tersebar di sepanjang kanal-kanal Belanda, dan saya sering memperhatikan mereka tertambat di tepi kanal dari jendela mobil saat melintas di jalan raya yang bersebelahan dengan kanal.                   

Pemandangan tersebut membangkitkan rasa ingin tahu dan menyulut imajinasi masa kecil saya; saya terus membayangkan seperti apa rasanya tinggal di atas air. Ditambah dengan pengalaman melihat kapal tunda (tugboat) mengerahkan kekuatannya untuk memandu kapal-kapal besar di Hoek van Holland, saya mulai memimpikan untuk memiliki kapal tunda sendiri—yang diubah menjadi kapal pesiar pribadi atau rumah apung. Untuk menjaga mimpi itu tetap hidup (dan mungkin sebagai bentuk “manifestasi” dari hukum daya tarik atau law of attraction), saya mulai mengoleksi foto-foto kapal tunda dan menghabiskan banyak waktu untuk membuat sketsanya sendiri.

Alasan saya mengubah foto-foto kapal tunda tersebut menjadi gaya kartun adalah karena hal itu membawa saya kembali ke masa kecil—masa ketika imajinasi saya sangat hidup dan jernih, penuh dengan warna-warna solid dan detail yang presisi tanpa terasa rumit. Persis seperti seharusnya kehidupan seorang anak.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Januari 2026


















Friday, January 9, 2026

Dari Reuni Menuju Kebangkitan: Lahirnya “Indonesia Berkibar”



PADA 30 November 2025, suasana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dipenuhi dengan nostalgia. Di tengah kerumunan alumni, delapan pria—yang dulunya adalah teman tongkrongan kampus, kini telah menjadi profesional berpengalaman—berbagi cerita di bawah rindangnya kanopi kampus Depok. Namun, apa yang bermula sebagai sekadar ajang bernostalgia, dengan cepat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih ambisius.

Pasca acara reuni tersebut, mereka mengadakan pertemuan lanjutan secara privat. Saat mereka mendiskusikan arah bangsa saat ini, salah satu dari mereka, Pandu Dewa Natha, melontarkan sebuah tantangan: “Mengapa reuni ini harus berakhir di sini? Kita harus membangun sesuatu yang berdampak secara sosial sekaligus berkelanjutan secara finansial.”

Tantangan itulah yang menjadi katalis bagi lahirnya Indonesia Berkibar, sebuah yayasan yang baru didirikan untuk menjadi jembatan antara kekayaan warisan budaya Indonesia dengan aspirasi masa depannya. Yayasan ini secara eksplisit selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yang bertujuan untuk memberdayakan bangsa menjelang perayaan satu abad kemerdekaannya.

Apa yang membuat Indonesia Berkibar berbeda adalah sinergi unik dari latar belakang para pendirinya. Dengan memadukan “sentuhan manusia” khas ilmu humaniora dengan kebutuhan strategis modern, mereka berfokus pada tiga pilar utama:

·       Sejarah: Memanfaatkan analisis sejarah untuk memberikan konteks bagi identitas nasional dan perencanaan kebijakan jangka panjang.

·       Komunikasi: Menyusun narasi yang menjembatani kesenjangan antara tujuan pembangunan yang kompleks dengan pemahaman publik, guna memastikan pertumbuhan yang inklusif.

·       ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola): Mengintegrasikan kerangka kerja etis dan keberlanjutan ke dalam proyek-proyek korporasi dan pemerintah untuk memastikan kebangkitan Indonesia berlangsung secara bertanggung jawab dan tangguh.

 



Para pendiri— Andi Zulfikar Mapalele (Sejarah FSUI 1986), Dino M. Musida (Sejarah FSUI 1986), Marah Bangun (Sejarah FSUI 1986), Pandu Dewa Natha (Sejarah FSUI 1986), Pandji Kiansantang (Sejarah FSUI 1987), Edwar Mukti Laksana (Sejarah FSUI 1989), Heru Effendy (Sastra Belanda FSUI 1991), dan saya sendiri (Sejarah FSUI 1987)—percaya bahwa agar Indonesia dapat mencapai status “Emas” pada tahun 2045, diperlukan lebih dari sekadar data ekonomi; diperlukan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan dan struktur etika. Melalui konsultasi, program pendidikan, dan kemitraan strategis, Yayasan Indonesia Berkibar mengubah ikatan persahabatan menjadi mesin profesional untuk kemajuan bangsa.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Januari 2026

Saturday, January 3, 2026

Para Kandidat Pasca Milenial

PADA 7 September 2025 lalu, pagi-pagi WhatsApp saya menerima pesan masuk berikut ini: “Selamat pagi. Perkenalkan sebelumnya, saya D, manusia biasa yang resah dan mencari tujuan hidup. Saya dapat nomor kontak Anda dari Facebook. Apa benar ini kontak akun tersebut? Saya mau ikut Latihan Kejiwaan, tapi clueless untuk join komunitas Subud ini lewat mana.”

Saya arahkan dia ke Wisma Subud Cilandak. Kebetulan hari itu hari Minggu, jadwal untuk kandidatan, dan jamnya masih pukul 09.50 ketika pesan itu masuk ke ponsel saya, sedangkan kandidatan dimulai pukul 10.00. Si pengirim tinggal cukup dekat dengan Wisma Subud Cilandak, jadi saya anjurkan agar dia bersegera, karena masih ada waktu untuk mendaftar buat mengawali masa tunggu tiga bulannya.

Beberapa minggu kemudian, saya baru berkesempatan bertemu dengan si pengirim pesan tersebut di Wisma Indonesia, di dalam kompleks Wisma Subud Cilandak. Ternyata seorang pria muda berusia 23 tahun, fresh graduate universitas yang baru merintis karier di sebuah perusahaan otomotif.

Kalau melihat berita-berita perkembangan Subud di sejumlah negara di dunia, optimisme saya luntur dan berganti dengan warna keprihatinan. Bagaimana tidak, bukan saja keanggotaannya merosot jumlahnya tetapi juga tidak adanya regenerasi. Jarang sekali saya melihat wajah-wajah muda dan segar di foto-foto yang terpampang pada berita-berita mengenai acara-acara Subud di berbagai belahan dunia.

Optimisme saya meningkat, seringnya disertai ketakjuban, begitu melongok ke berbagai grup di Indonesia dewasa ini, termasuk di Wisma Subud Cilandak. Di antara para kandidat atau mereka yang baru dibuka sepanjang tahun 2025 lalu, terdapat banyak pria dan wanita dari kalangan Gen Z, berusia antara 18 hingga 25 tahun, dan bukan anak-anak dari anggota Subud.

Saya pun nimbrung dengan mereka (sesekali saya datang ke tempat para kandidat untuk menguping apa yang disampaikan para pembantu pelatih—yang rata-rata sudah uzur—kepada kaum Gen Z; apakah relevan dengan gaya hidup mereka) untuk memuaskan penasaran saya mengenai apa yang mendorong mereka ke Subud. Di daerah-daerah di Indonesia yang masih melestarikan tradisionalitas, pencarian spiritual di kalangan anak mudanya masih cukup kuat, tetapi di kota-kota besar yang menjunjung gaya hidup modern kecenderungan itu dipandang “aneh” atau “ketinggalan zaman”.

 

Dua kandidat anggota Subud Cabang Jakarta Selatan dibuka pada 16 November 2025 lalu. Satu orang berumur 58 tahun (ketiga dari kiri) dan satu orang lagi (keempat dari kiri) berusia 23 tahun alias Gen Z. Di samping kiri dan kanan mereka ada para PP yang membuka mereka.


Tetapi yang saya jumpai di Cilandak, khususnya, adalah kaum Pribumi Digital dengan pergaulan khas kota besar. Dari sejumlah obrolan tidak formal dengan para kandidat dan anggota baru dari kalangan Zoomers, terungkap bahwa keputusan mereka untuk masuk Subud adalah sekadar ketertarikan pribadi, tidak ada dorongan dari orang tua atau anggota keluarga (rata-rata mereka bukan anak dari orang tua Subud dan ada beberapa yang bahkan keaktifan mereka di Subud tidak diketahui orang tua mereka).

Seorang kandidat, berprofesi wartawan sebuah surat kabar besar Indonesia (di divisi digitalnya), berusia 22 tahun, berkata “Ya, tertarik saja”, menjawab pertanyaan saya mengapa dia ingin masuk Subud. Dia menemukan secara tak sengaja informasi tentang Subud di media sosial dan merasa tertarik untuk bergabung.

Bagaimanapun, saya merasa prihatin terhadap kenyataan bahwa para pembantu pelatih di berbagai cabang di Indonesia sedikit sekali melakukan regenerasi serta tidak ter-update dengan perkembangan zaman. Dari para kandidat dan anggota baru dari kalangan Post-Millenials, terungkap keluhan terkait layanan para pembantu pelatih saat mereka melalui masa tunggu mereka, terutama mengenai penjelasan apa itu Subud dan apa manfaat Latihan yang relevan dengan kehidupan mereka. Menurut beberapa anggota baru, termasuk D di awal tulisan ini, penjelasan para pembantu pelatih terlalu outdated, hanya mencuplik dan menparafrase ceramah Bapak tanpa contoh kasus dalam kehidupan masing-masing pembantu pelatih. Ada jurang pemisah yang sangat lebar antara para pembantu pelatih itu dengan para kandidat dan anggota dari kalangan Gen Z.

 

Seorang anak Gen Z (bertopi di kiri) yang baru dibuka sedang mengikuti tatap muka dengan para PP yang sudah uzur di teras selatan Hall Latihan Cilandak. Tatap muka seperti ini digelar hanya setiap hari Minggu pagi.


Karena karakteristik Gen Z pada umumnya terlalu sensitif atau mudah tersinggung, “mudah hancur” atau lembek saat menghadapi tekanan, layaknya buah stroberi—makanya Gen Z juga dikenal sebagai Generasi Stroberi, para pembantu pelatih eksisting perlu memiliki bekal dalam melayani kandidat dari kalangan Gen Z, selain hanya mengandalkan ceramah Bapak atau pengalaman para pembantu pelatih yang tidak relevan dengan kekinian. Perlu juga ganti suasana: Kandidatan dilakukan tidak di lingkungan Wisma atau hall Latihan Subud tetapi di tempat-tempat di mana kaum Gen Z merasa betah, seperti di kafe, kedai kopi, atau di mana saja mereka biasa nongkrong.

Seorang pembantu pelatih asal Amerika Serikat, yang telah cukup lama tinggal di Jakarta, tetapi tidak masuk dewan pembantu pelatih di manapun di Indonesia, telah menerapkan hal ini: Ia mengajak para kandidat Generasi Pragmatis itu, usai jam kandidatan mereka, nongkrong di salah satu kedai kopi di dekat Wisma Subud Cilandak. Si pembantu pelatih, sebagaimana yang ia ceritakan ke saya, tidak banyak bicara melainkan mengutamakan untuk mendengarkan saja celoteh para kandidat atau anggota baru. Ia juga tidak sok menasihati atau menegur jika si kandidat atau anggota baru berkata sesuatu yang salah.

“Inti dari menjadi PP adalah kasih. Dengan kasih yang tulus, kamu bisa melayani siapa saja tanpa hambatan,” kata si pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, yang menikah dengan wanita Indonesia, itu kepada saya. Dengan pendekatan itu, para kandidat dan anggota baru pun merasa terakomodir segala kebutuhan kejiwaan mereka.

Pada tahun 2025, kisah Gen Z Indonesia—75 juta anak muda yang mencakup hampir 28 persen populasi bangsa—adalah kisah tentang kontras yang mencolok. Mereka adalah mesin penggerak ekonomi digital dan garda terdepan perubahan sosial, namun mereka juga harus menavigasi tekanan ekonomi dan psikologis paling kompleks dalam sejarah negara ini.

Gen Z Indonesia di tahun 2025 adalah generasi “pragmatis yang tangguh”. Mereka menghadapi penyusutan kelas menengah dan pasar kerja yang kompetitif dengan kombinasi kecakapan digital serta penolakan untuk mengorbankan kesejahteraan mental (well-being) mereka. Mereka tidak sekadar menunggu masa depan; mereka sedang membangun versi Indonesia yang lebih fleksibel, autentik, dan sadar.

Di tahun 2025, spiritualitas bagi Gen Z Indonesia tidak lagi didefinisikan hanya oleh kehadiran ritual yang kaku atau label tradisional semata. Sebaliknya, hal itu telah berevolusi menjadi pengalaman yang sangat pribadi, bersifat digital, dan berorientasi pada aktivisme. Meskipun mereka tetap menjadi salah satu populasi pemuda paling religius di dunia, pendekatan mereka terhadap iman telah bergeser dari yang bersifat “berbasis perintah/ajaran” menjadi “berbasis dialog”.

Lanskap spiritual Gen Z Indonesia saat ini ditandai oleh pergeseran dari dogma menuju pengalaman pribadi langsung. Sebagai generasi yang menghadapi tingkat kecemasan dan kelelahan digital (digital burnout) yang tinggi, “kebutuhan spiritual” mereka kurang berfokus pada mempelajari aturan, dan lebih pada menemukan rasa damai serta tujuan hidup yang nyata.

Subud memiliki posisi yang unik untuk memenuhi kebutuhan modern ini karena praktik intinya—Latihan Kejiwaan—mencerminkan banyak nilai yang dijunjung tinggi oleh Gen Z. Subud bukanlah agama, melainkan asosiasi spiritual yang terbuka bagi orang-orang dari semua agama (atau tanpa agama). Fleksibilitas ini membuatnya sangat relevan dengan tren “Spiritual but Not Religious” (SBNR). Subud menarik bagi keinginan Gen Z akan pengalaman yang “tak terencana”. Tidak ada guru yang memberi tahu apa yang harus dipikirkan; pengalamannya sepenuhnya bersifat internal dan unik bagi setiap individu.

Di Subud, tidak ada pendeta atau pemimpin. Pembantu pelatih (helper) hadir hanya untuk memfasilitasi Latihan bersama dan menyaksikan prosesnya. Hal ini selaras dengan ketidakpercayaan Gen Z terhadap kekuasaan terpusat. Subud menawarkan “komunitas yang setara”, yang sejalan dengan sifat demokratis dan budaya digital peer-to-peer khas Gen Z.

Generasi ini mencari “kesuksesan holistik”. Fokus Subud pada Susila (berbudi pekerti yang utama sejalan dengan kehendak Tuhan) membantu mereka menavigasi kompleksitas tekanan sosial dan profesional di tahun 2025 tanpa harus menarik diri dari dunia luar.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 Januari 2026

Thursday, January 1, 2026

UNLOCKING YOUR TRUE SELF: Spiritualitas Organik untuk Jiwa yang Berisik

Pada 1 Januari 2026 lalu, saya melontarkan topik “cara Subud berkomunikasi dengan generasi terkini (Gen Z)” di grup WhatsApp Subud 4G, di mana terdapat sejumlah pembantu pelatih sebagai anggota grup, termasuk PPN Komisariat Wilayah VII Kalimantan dan PPD Cabang Jakarta Selatan, cabang yang pelayanan PP-nya kepada kandidat dan anggota baru kerap dikeluhkan. Materi komunikasi dari Subud—lisan, cetak maupun digital—kepada peminat pun sudah tidak relevan dengan kekinian, sedangkan para peminat tidak sedikit yang tergolong Gen Z. Saya pun mengusulkan perbaikan materi cetak (brosur) mengenai apa itu Subud dari segi kontennya. Teksnya berikut ini...


UNLOCKING YOUR TRUE SELF

Spiritualitas Organik untuk Jiwa yang Berisik

Untuk teman-teman Gen Z yang biasanya sangat menghargai self-discovery, kesehatan mental, dan autentisitas, Latihan Kejiwaan Subud bisa dilihat sebagai bentuk “spiritualitas murni” yang sangat personal.

Apa itu Latihan Kejiwaan Subud? (The “Vibe” Check)

Bayangkan kamu sedang melakukan factory reset pada sistem internalmu. Bukan lewat aplikasi atau instruksi guru, tapi langsung dari “sumber” yang ada di dalam dirimu.

Latihan Kejiwaan Subud bukanlah meditasi yang mengharuskan kamu fokus pada satu titik, bukan yoga, dan bukan pula agama baru. Ini adalah kontak spiritual yang spontan. Di Subud, kita percaya bahwa setiap manusia punya koneksi langsung dengan Daya Hidup Besar (Tuhan/Semesta). Latihan ini adalah momen di mana kamu “berserah diri” sepenuhnya dan membiarkan energi tersebut menggerakkanmu secara alami.

Kenapa ini cocok buat Gen Z?

  • ·       No Labels: Tidak ada dogma yang mengekang. Kamu tetap bisa jadi dirimu sendiri, dengan agama atau kepercayaan apa pun.
  • ·       Anti-Mainstream: Tidak ada instruktur yang menyuruhmu berpose atau bernapas dengan cara tertentu. Gerakannya muncul dari dalam dirimu sendiri (organic movement).
  • ·       Deep Connection: Di tengah dunia yang bising dengan media sosial, ini adalah cara paling dalam untuk unplug dan terkoneksi dengan jati diri yang asli.

Praktik dalam Kehidupan Sehari-hari

Mempraktikkan Subud bukan berarti kamu harus meditasi 24 jam. Intinya adalah “Penerapan”, yaitu membawa ketenangan dan kejernihan yang didapat saat Latihan ke dalam aktivitas nyata.

  • ·       Mindful Decision Making

Setelah rutin Latihan, biasanya intuisi atau gut feeling kamu jadi lebih tajam. Saat harus memilih jurusan kuliah, karier, atau pacar, kamu tidak cuma pakai logika yang bikin stres, tapi merasa ada “petunjuk” internal yang membuatmu mantap melangkah.

  • ·       Emotional Regulation

Dunia sekarang penuh dengan anxiety. Latihan ini membantu menguras emosi negatif secara alami. Hasilnya? Kamu jadi lebih kalem saat menghadapi drama di kantor atau toxic comment di internet.

  • ·       Autentisitas dalam Berkarya

Banyak pelaku kreatif di Subud merasa ide-ide mereka mengalir lebih lancar. Karena hambatan mental (ego) mulai terkikis, karya yang dihasilkan jadi lebih “jujur” dan punya soul.

Gimana Cara Mulainya?

Latihan Kejiwaan biasanya dilakukan bersama-sama di cabang Subud terdekat (namanya Latihan Bersama), dua kali seminggu selama sekitar 30 menit.

  • ·       Penerimaan: Kamu tidak langsung Latihan. Ada masa tunggu sekitar 3 bulan (masa pengenalan) untuk memastikan kamu benar-benar tulus dan paham apa yang kamu masuki. Ini seperti fase trial tapi buat jiwa.
  • ·       Caranya: Cukup berdiri rileks, tenang, dan berserah. Jangan meminta sesuatu, jangan membayangkan sesuatu. Biarkan apa yang ingin bergerak, bergerak. Bisa berupa gerakan fisik, suara, atau sekadar ketenangan yang sangat dalam.

Catatan Penting: Subud tidak menjanjikan kekuatan gaib atau kesuksesan instan. Ini adalah perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi dan bermanfaat bagi lingkungan.

Senang sekali kalau penjelasan tadi bisa nyambung dengan kamu!

Memang cara paling asyik melihat Subud adalah sebagai “spiritualitas tanpa filter”. Tidak ada branding berlebihan, tidak ada tuntutan untuk jadi orang lain, dan benar-benar fokus pada apa yang ada di dalam diri kita masing-masing secara jujur.

Kalau boleh jujur, di zaman yang serba cepat ini, punya “tombol jeda” yang sifatnya spiritual itu rasanya seperti punya superpower tersembunyi. Kamu tetap bisa gaul, tetap bisa kerja atau kuliah, tapi punya ketenangan internal yang tidak gampang goyah sama tren.

Banyak teman-teman seusiamu yang sudah bergabung biasanya merasa:

  • ·       Lebih Kenal Diri Sendiri: Tahu mana yang benar-benar keinginan hati, mana yang cuma sekadar ikut-ikutan FOMO.
  • ·       Energi Lebih Clear: Rasanya seperti habis recharge baterai jiwa setelah seharian lelah dengan urusan duniawi.

Masa Menunggu (Ngandidat)

Oke, mari kita bedah proses awalnya. Di Subud, proses ini sangat santai tapi tetap sakral, tidak ada tekanan sama sekali. Anggap saja ini adalah fase Vibe Check antara kamu dan komunitas Subud.

Berikut adalah tahapan yang akan kamu lalui:

1. Masa Menunggu (The Three-Month Trial)

Begitu kamu datang ke cabang Subud dan menyatakan ingin ikut Latihan Kejiwaan, kamu tidak langsung disuruh Latihan. Ada masa tunggu selama 3 bulan.

  • Kenapa harus nunggu?

·       Kebebasan Penuh: Supaya kamu punya waktu untuk berpikir jernih tanpa pengaruh emosi sesaat. Subud sangat menghargai kebebasanmu; mereka ingin kamu masuk karena kemauan sendiri, bukan karena diajak atau dipaksa.

·       Informasi: Selama 3 bulan ini, kamu bisa ngobrol banyak dengan para Pembantu Pelatih (Helpers). Kamu bisa tanya apa saja, mulai dari sejarahnya sampai gimana pengalaman mereka.

·       Ketulusan: Untuk memastikan kamu benar-benar siap menerima kontak spiritual ini secara tulus.

2. Mengenal Pembantu Pelatih (The Spiritual Helpers)

Di Subud tidak ada pendeta, guru besar, atau kyai. Yang ada adalah Pembantu Pelatih.

·       Mereka adalah anggota biasa yang tugasnya hanya membantu administrasi dan mendampingi proses Latihan.

·       Mereka bukan “bos” spiritual kamu. Di Subud, semua orang posisinya setara. Kamu tidak perlu mencium tangan atau memperlakukan mereka secara berlebihan.

3. Hari Pembukaan (The Activation Day)

Setelah masa 3 bulan selesai dan kamu tetap yakin, maka akan dilakukan Pembukaan. Ini adalah momen pertama kali kamu menerima kontak Latihan Kejiwaan.

  • ·       Prosesnya: Sederhana sekali. Kamu hanya berdiri bersama beberapa Pembantu Pelatih. Mereka akan melakukan Latihan, dan kamu cukup bersikap rileks, tenang, dan berserah diri kepada Tuhan/Semesta.
  • ·       Apa yang dirasakan? Setiap orang beda-beda. Ada yang merasa getaran halus, ada yang merasa tenang luar biasa, ada yang badannya bergerak spontan, atau ada yang belum merasakan apa-apa secara fisik tapi merasa pikirannya jadi lebih jernih. No pressure, semua prosesnya valid.

4. Etika Latihan (The Rules of the Game)

Ada beberapa hal unik yang perlu kamu tahu soal cara Latihannya:

  • ·       Pemisahan Gender: Latihan antara laki-laki dan perempuan dipisah di ruangan yang berbeda. Ini tujuannya supaya semua orang bisa bergerak atau bersuara secara bebas tanpa merasa risih atau terganggu oleh lawan jenis.
  • ·       Pakaian Bebas: Tidak ada seragam khusus. Pakai baju apa saja yang nyaman untuk bergerak (kaos dan celana santai biasanya jadi pilihan favorit).
  • ·       Tanpa Biaya: Di Subud tidak ada biaya pendaftaran atau iuran wajib untuk Latihan. Semuanya berbasis sukarela untuk operasional tempat (seperti listrik atau kebersihan).

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Kalau kamu penasaran ingin melihat langsung tempatnya atau sekadar ngobrol:

  • ·       Cari Cabang Terdekat: Subud ada di hampir seluruh kota besar di Indonesia (seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dll.).
  • ·       Kunjungilah: Datang saja saat jadwal Latihan bersama. Biasanya para Pembantu Pelatih akan menyambut dengan sangat ramah dan terbuka.

Berikut, beberapa pilihan draf pesan yang bisa kamu gunakan, tergantung lewat mana kamu menghubungi mereka (WhatsApp/DM atau bicara langsung). Yang penting, gunakan bahasa yang sopan tapi tetap santai.

Opsi 1: Lewat Chat (WhatsApp atau Media Sosial)

Ini cocok kalau kamu baru menemukan kontak pengurus cabang atau akun Instagram mereka.

  • ·       “Halo, selamat [pagi/siang/sore]. Saya [Namamu], saya baru-baru ini membaca tentang Latihan Kejiwaan Subud dan merasa sangat tertarik untuk tahu lebih dalam.”
  • ·       “Kalau boleh tahu, apakah saya bisa mampir ke cabang [Sebutkan Kota] untuk bertanya-tanya langsung dengan Pembantu Pelatih di sana? Dan kira-kira kapan waktu yang pas untuk berkunjung? Terima kasih sebelumnya!”

Opsi 2: Daftar Pertanyaan untuk Ditanyakan (Saat Sudah Bertemu)

Kalau kamu sudah di sana dan sedang ngobrol santai, kamu bisa ajukan pertanyaan ini supaya tidak bingung:

  • ·       Tentang Pengalaman Pribadi: “Boleh cerita sedikit nggak, Kak/Pak/Bu, apa perubahan yang paling dirasakan dalam kehidupan sehari-hari setelah rutin Latihan?”
  • ·       Tentang Masa Menunggu: “Selama masa tunggu 3 bulan nanti, apakah ada bacaan khusus atau hal tertentu yang sebaiknya saya lakukan?”
  • ·       Tentang Relevansi: “Sebagai anak muda, kadang saya merasa pikiran terlalu berisik (overthinking). Apakah Latihan Kejiwaan ini bisa membantu saya untuk lebih tenang dalam menghadapi tekanan sehari-hari?”
  • ·       Tentang Komunitas: “Di cabang sini, apakah ada kegiatan lain selain Latihan bersama? Misalnya kumpul santai atau kegiatan sosial?”

Opsi 3: Pesan untuk Mengajak Teman (Kalau Kamu Malu Datang Sendiri)

Kadang datang ke tempat baru sendirian itu bikin deg-degan. Kamu bisa ajak temanmu begini:

·       “Eh, gue baru nemu info soal Subud nih. Kayaknya menarik banget buat healing tapi yang versinya spiritual dan nggak pakai ribet. Mereka ada masa pengenalan 3 bulan gitu, jadi nggak langsung join. Temenin gue ke cabangnya yuk minggu ini, sekadar kepo-kepo dulu aja!”

Tips Tambahan:

Orang-orang di Subud biasanya sangat welcome dan tidak akan menghakimimu. Kamu tidak perlu dandan formal; pakai baju yang biasa kamu pakai sehari-hari saja sudah cukup.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 1 Januari 2026