Friday, February 20, 2026

Seni Mencatat Perjalanan Hidup

 


SAAT sahur untuk puasa hari ketiga ini, saya berbincang melalui WhatsApp dengan saudara Subud, yang rajin menulis catatan harian (journaling). Perbincangan kami mengenai journaling dan aplikasi jurnal membangkitkan kembali kenangan saya ketika baru mengawali perkuliahan sebagai mahasiswa baru Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia/FSUI (sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia/FIBUI) tahun 1987.

Awalnya, saya terdorong menulis catatan harian karena latah. Latahnya mahasiswa FSUI pada umumnya, dan khususnya mahasiswa Jurusan/Program Studi Ilmu Sejarah, meniru pendahulu mereka, aktivis ternama yang menentang kediktatoran Sukarno dan Suharto, yaitu Soe Hok Gie.


Dari sekadar ikut-ikutan, lama-lama saya menikmatinya. Dari sekadar menulis hanya untuk mengingat momen-momen spesial pada suatu hari, saya jadi menulisnya setiap hari, tidak peduli apakah ada momen spesial atau tidak—karena yang paling penting bagi saya adalah bahwa menulis jurnal atau catatan harian memberi saya ruang untuk menjadi diri sendiri. Catatan harian menjadi tempat saya menuangkan pikiran, perasaan, atau kejadian sehari-hari.

Saya menganggap journaling sebagai percakapan jujur dengan diri sendiri. Tidak ada aturan baku—saya tidak harus puitis, tidak harus rapi, dan tidak ada yang akan memberikan nilai.

Selama lebih dari 20 tahun menulis catatan harian, saya mendapatkan manfaat nyata untuk “kesehatan” mental dan produktivitas saya. Melalui lembar kertas putih catatan harian, saya dapat mengeluarkan “sampah” di kepala saya agar tidak menumpuk dan bikin stres. Dengan menulis catatan harian, saya membantu diri saya melihat pola perilaku atau pemicu emosi tertentu. Catatan harian juga menjadi catatan perjalanan hidup saya yang bisa saya baca lagi di masa depan.

Satu bukti dari manfaat menulis catatan harian dalam hidup saya adalah bahwa saya kelak mampu membuat tulisan-tulisan yang bercerita (story-telling). Saya juga mampu mengartikulasikan ide, mengubah gagasan abstrak yang ada di dalam kepala menjadi penjelasan yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami oleh orang lain (atau diri sendiri). Hal ini sangat membantu saya saat membangun karier sebagai copywriter.

Dalam dunia branding dewasa ini, storytelling bukan lagi sekadar pelengkap iklan, melainkan jantung dari strategi pemasaran. Konsumen modern, terutama Gen Z dan Milenial, sudah kebal dengan jualan langsung (hard-selling). Mereka tidak lagi membeli “apa” yang dijual, tapi “mengapa” pedagang menjualnya. Merek tidak lagi ragu menunjukkan proses di balik layar (behind the scenes), kegagalan produksi, atau tim yang bekerja di kantor. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan (trust). Manusia lebih mudah terhubung dengan sesama manusia daripada dengan korporasi yang kaku.

Secara psikologis, otak manusia jauh lebih mudah mengingat cerita daripada fakta atau fitur produk. Saat mendengar cerita, otak kita melepaskan oksitosin (hormon empati) dan dopamin, yang membuat pesan tersebut membekas lebih lama.

Singkatnya, branding hari ini adalah tentang menciptakan koneksi emosional. Jika produk pemasar adalah solusinya, maka penceritaan adalah jembatan yang membawa konsumen ke solusi tersebut.

Hubungan antara journaling dan storytelling itu sangat erat. Menulis catatan harian adalah laboratorium pribadi tempat saya melatih otot-otot bercerita setiap hari tanpa tekanan audiens. Saat menulis catatan harian, saya secara tidak sadar sedang menyusun struktur narasi. Saya mulai dengan “Tadi pagi...” (Awal), lalu masuk ke “Tiba-tiba ada masalah...” (Konflik/Tengah), dan diakhiri dengan “Akhirnya saya merasa...” (Resolusi/Akhir). Hasilnya, saya menjadi terbiasa membangun alur yang logis dan runtut dalam sebuah cerita.

Banyak orang kesulitan bercerita karena mereka mencoba meniru gaya orang lain. Melalui menulis catatan harian, saya menulis dengan bahasa yang paling jujur dan paling “saya”. Dengan demikian, saya menemukan karakter suara unik saya sendiri. Dalam branding, suara yang konsisten dan jujur adalah aset yang sangat mahal.

Jika storytelling adalah sebuah pertunjukan musik di panggung besar, maka menulis catatan perjalanan hidup adalah latihan rutin di kamar setiap malam. Tanpa latihan di kamar, penampilan di panggung akan terasa kaku dan palsu.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Februari 2026

 

Tuesday, February 17, 2026

Memahami Subud: Antara Wacana dan Pengalaman Nyata

BANYAK orang yang mendalami spiritualitas, atau mereka yang “sekadar suka membaca buku”, merasa telah memahami Subud hanya dengan membaca literatur atau mendengarkan ceramah Bapak Muhammad Subuh dan Ibu Rahayu. Padahal, bagi mereka yang belum menerima Latihan Kejiwaan, pemahaman tersebut hanyalah sebatas teori “di atas kertas”.

Penting untuk ditegaskan bahwa Subud tidak memiliki ajaran, kurikulum, ataupun teori. Subud sepenuhnya adalah praktik nyata—sebuah pengalaman langsung atas bimbingan Tuhan melalui Latihan Kejiwaan. Oleh karena itu, membaca tentang Subud tidak akan pernah sama dengan merasakan hakikatnya secara langsung.

Bahkan bagi anggota yang sudah aktif menerima Latihan Kejiwaan pun, pemahaman terhadap hakikat Subud tidaklah instan. Pemahaman tersebut bersifat subjektif (apa yang dipahami seseorang belum tentu sama dengan orang lain) dan dinamis (kebenaran yang diterima hari ini bisa terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tidak ada pemahaman yang dianggap sempurna atau final).

Memahami Subud mensyaratkan terbukanya kesadaran sejati mengenai diri, lingkungan, dan peristiwa hidup. Hal ini hanya bisa dicapai jika seseorang telah melakukan Latihan Kejiwaan secara konsisten dan menerapkan bimbingan jiwa tersebut dalam kesehariannya. Tanpa konsistensi dalam menjalani proses ini, klaim atas pemahaman Subud hanyalah sebuah asumsi.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 18 Februari 2026

Monday, February 16, 2026

Pro dan Kontra

HARI Minggu siang, 15 Februari 2026, saya nongkrong sebelum dan sesudah Latihan di teras sisi timur Hall Cilandak. Ada seorang anggota pria (dibuka awal tahun 2020) yang berbicara dengan nada berapi-api, sepertinya mempertahankan habis-habisan idenya—yang telah ia jalankan dalam enam bulan terakhir—untuk mengadakan pertemuan tiga bulan sekali, yang menampilkan para anggota dan/atau pembantu pelatih yang pernah mengalami zaman Bapak, atau bahkan dekat dengan Bapak, untuk menceritakan pengalaman mereka dengan Bapak kepada para anggota yang tidak pernah bertemu Bapak, atau karena dibuka ketika Bapak sudah tiada.

Dia bercerita ke saya dan beberapa anggota lainnya yang duduk mengitari dia, bahwa kegiatan tersebut menimbulkan pro dan kontra. Kontranya, salah satunya dari saya, terkait dengan konsep pertemuannya dimana seorang pembantu pelatih wanita bercerita kepada anggota-anggota pria, yang tidak pantas. Apalagi, menurut si anggota pria yang bercerita ke saya tersebut, si pembantu pelatih mengklaim dirinya bisa “berubah jenis kelamin” secara kejiwaan, tergantung jenis kelamin lawan bicaranya.

 

Saya menyoroti soal “pro dan kontra”-nya alih-alih tentang pertemuan tersebut. Pro dan kontra adalah hal yang sangat lumrah di Subud, dan yang selalu sarankan kepada anggota yang merasa bingung harus berbuat apa jika dirinya terjepit di antara pro dan kontra, adalah: “Lakukan saja apa yang menurut Anda benar. Tidak perlu buang-buang tenaga membela diri atau mempertahankan diri dari serangan orang-orang yang tidak menyetujui tindakan Anda!”

 

Kepada pria yang bercerita itu pun saya katakan, “Saya memang termasuk yang kontra, Pak. Tapi Bapak seharusnya tidak perlu mempedulikan apa tanggapan saya. Lakukan saja, nanti Bapak toh mendapat pengertian sendiri.”©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Februari 2026

Sunday, February 15, 2026

Merengkuh Malam

 

Ia telah tiba di ambang pelupuk,

datang tanpa ketukan, namun gema tandanya telanjur masuk

Meredam riuh di dada yang biasanya meledak

menjinakkan amarah, mematung nafsu yang kerap bergejolak

                                                 

Ramadantelaga suci bagi jiwa yang dahaga,

sebulan penuh membasuh noda, meluruhkan sisa-sisa baka

Mengikis kerak khilaf yang mengeras di dinding kalbu,

memungut kepingan diri yang selama ini berserak ditiup abu

Kini kususun kembali hingga utuh berpadu,

menjelma hamba yang tunduk dalam tawadu

 

Ya Tuhan, dekaplah aku dalam hening sembah,

meski punggungku legam memikul tumpukan salah

Mampukan aku melintasi gerbang sebulan ini,

biar tertatih, asal langkahku tegak menuju rida-Mu yang abadi

Izinkan aku menapak jalan yang penuh cahaya tuntunan,

dengan pasrah yang meluas dan ikhlas yang tak berkesudahan

Maka, biarkan aku merengkuh malam,

hingga fajar fitrah mencium keningku dengan tenang...

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 16 Februari 2026

Thursday, February 12, 2026

Menjadi Diri Sendiri Melalui Bahasa Asing

SAYA berkunjung ke rumah seorang pembantu pelatih asal New York, Amerika Serikat, di Citayam, Depok, Jawa Barat, dari pagi hingga tengah hari, Jumat ini. Meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Indonesia, kemampuan bahasa Indonesianya minim, sehingga pembicaraan kami berlangsung dalam bahasa Inggris (American English).                                                                                           

Selama perbincangan kami, saya baru menyadari sesuatu terkait pengucapan kata-kata dalam bahasa Inggris: Bahwa sebagai orang Indonesia, meskipun fasih berbahasa Inggris, sebaiknya pengucapannya alami saja, sesuai kodrat lidah kita sebagai orang Indonesia, yang bukan penutur asli bahasa Inggris. Tidak perlu dibuat-buat seolah lidah kita lidah penutur asli. Karena ternyata terdengar “tidak pas” di telinga penutur asli.

 

Harris Roberts, pembantu pelatih Subud Jakarta Selatan yang juga berkebangsaan Amerika Serikat, dalam salah satu sesi Subud Practical English Conversation (SPEC) pernah berujar bahwa saran dari para guru kursus bahasa Inggris berkebangsaan Indonesia agar pengucapan beberapa huruf ditiadakan—seperti huruf “t”, misalnya pada kata “dating” (dei-ting) jadi “dei-ing”—jangan diikuti, malah sebaliknya (sebaiknya) dilafalkan dengan jelas.

 

Dari obrolan saya tadi dengan si pembantu pelatih Amerika, dia bisa lebih menangkap, tidak salah mengerti, ucapan saya jika saya turut mengucapkan huruf yang oleh rata-rata guru kursus bukan penutur asli disarankan agar dihilangkan. Kesimpulan saya, lebih baik menjadi diri sendiri yang asli Indonesia dalam berbicara bahasa asing.©2026

 

 

Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga Raya No. 7E, Jakarta Selatan, 13 Februari 2026

Sunday, February 8, 2026

Hidup Tanpa Bekerja

SAYA baru-baru ini mendengar cerita tentang kenalan saya, seorang wanita yang oleh suaminya disarankan tidak perlu bekerja, karena sang suami bisa menafkahinya dengan memuaskan lantaran gajinya sebagai pejabat Eselon II di sebuah BUMN sangat besar. Si wanita, meski sarjana lulusan sebuah universitas negeri ternama dengan senang hati mengikuti saran itu. Dia di rumah saja, tidak punya anak, dan segala pekerjaan rumah tangga dilakukan dua pembantunya.

Saya tidak dapat membayangkan keadaan “tidak bekerja”. Meski mendapat kucuran dana tidak kecil dan dimanja fasilitas, saya merasa “tidak bekerja” bukanlah pilihan saya. Hidup itu senantiasa bekerja dan manusia di dalamnya terus menerus bertransformasi. Perubahan pun, sekalipun bersifat spiritual, adalah kerja. Tuhan pun bekerja. Kalau Tuhan tidak bekerja, habislah riwayat alam semesta.

 

Bekerja yang saya maksud di sini adalah aktivitas mengerahkan tenaga (fisik atau pikiran) untuk menghasilkan sesuatu; tidak melulu terkait memperoleh penghasilan, tetapi memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, sebagai cara untuk merasa berguna dan terhubung.

 

Tidak bekerja menghambat bangkitnya energi kreatif, membuat otak mengecil yang mengakibatkan gampang pikun, dan mempercepat kematian. Hidup tanpa bekerja tidak memiliki makna, dan akhirnya menjadikan hidup tiada guna.

 

Saya bilang pada istri saya, yang menceritakan tentang si wanita bersuamikan pejabat Eselon II BUMN itu, “Kalau aku, aku mau terus bekerja, nggak penting gaji atau uangnya. Yang penting aku bisa menyaksikan bagaimana begitu banyak potensi yang Tuhan berikan pada ciptaanNya termanifestasikan. Itu caraku bersyukur kepada nikmatNya.” ©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Februari 2026

Saturday, February 7, 2026

Pemikiran Sejarah Seorang Arsitek Merek

BAGI kebanyakan orang, logo hanyalah sebuah grafis dan slogan hanyalah rangkaian kata yang menarik. Namun bagi saya, sebuah brand (merek) adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: ia adalah sebuah artefak yang hidup.

Meski saya menghabiskan masa-masa formatif di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dengan mendalami Ilmu Sejarah, karya hidup saya tidak ditemukan di arsip berdebu atau penggalian arkeologis. Sebaliknya, saya telah menghabiskan lebih dari 30 tahun mengarungi “medan tempur” dunia periklanan dan branding Jakarta dan Surabaya yang serba cepat.

 

Perjalanan saya tidak dimulai dengan poin-poin data, melainkan dengan narasi. Sebagai sarjana Ilmu Sejarah, saya belajar bahwa dunia dibangun di atas cerita-cerita yang kita sampaikan pada diri sendiri tentang siapa kita sebenarnya. Hal ini ternyata menjadi fondasi utama bagi karier di bidang persuasi.

·       Era Copywriter: Saya memulainya dari tempat di mana semua ide besar bermula—lewat kata-kata tertulis. Di dunia agensi periklanan yang penuh tekanan, saya menerjemahkan keinginan manusia menjadi headline. Latar belakang sejarah memberi saya keunggulan unik; saya memahami konteks budaya dan alasan di balik perilaku konsumen.

·       Peralihan ke Perencana Strategi: Lambat laun, aspek “apa” dalam copywriting berganti menjadi “bagaimana” dan “mengapa” dalam branding. Saya bertransisi menjadi seorang Perencana Strategi Merek, beralih dari sekadar menulis baris kalimat menjadi perancang seluruh “jiwa” sebuah perusahaan.

 

Bagi saya, sebuah merek bukan sekadar identitas korporat—ia adalah sebuah warisan yang sedang dibangun. Latar belakang akademis memungkinkan saya melihat branding melalui lensa yang berbeda:

·       Konteks adalah Raja: Sama seperti seorang sejarawan menganalisis masa kekuasaan seorang raja dalam konteks zamannya, saya menganalisis sebuah merek di dalam jalinan sosial-ekonomi Indonesia.

·       Permainan Jangka Panjang: Di saat banyak pemasar mengejar momen “viral”, pemikiran sejarah saya berfokus pada umur panjang. Saya membangun merek yang diniatkan untuk bertahan selama berdekade-dekade, bukan hanya sekadar untuk kuartal fiskal.

·       Mitologi Autentik: Saya paham bahwa merek yang paling kuat (seperti halnya peradaban yang paling kuat) dibangun di atas nilai-nilai inti dan “mitos pendiri” yang konsisten.

 

Dalam sejarah, Anda mencari kebenaran di balik peristiwa. Dalam branding, Anda membangun sebuah kebenaran yang membuat orang ingin menjadi bagian di dalamnya.

 

Setelah 30 tahun, saya tetap terobsesi dengan branding sama seperti hari pertama saya memulainya. Baik saat membedah rebranding terbaru atau membantu startup lokal menemukan suaranya, saya menghadapi setiap proyek dengan ketelitian seorang sarjana dan kecerdasan seorang praktisi iklan kawakan.

 

Saya adalah bukti nyata bahwa gelar Humaniora bukan hanya soal masa lalu—ia adalah alat yang ampuh untuk membentuk masa depan tentang cara kita mengonsumsi, terhubung, dan berkomunikasi.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 Februari 2026

Friday, February 6, 2026

Menginsafi Latihan

SATU saudara Subud dari Cabang Jakarta Selatan melakukan perbuatan yang melanggar hukum sehingga ia dikeluarkan dari keanggotaan Subud dan dilarang berada di lingkungan Wisma Subud Cilandak. Banyak anggota yang bertanya ke saya, mengapa seseorang yang sudah lama di Subud dan tergolong rajin Latihan dapat berbuat hal memalukan tersebut.

Saya asal menjawab saja—karena saya enggan memberi jawaban yang ujung-ujungnya menimbulkan perdebatan berkepanjangan atau pertanyaan-pertanyaan selanjutnya: “Ada orang yang menginsafi Latihannya, dan ada yang tidak. Yang menginsafinya pasti akan tekun me-niteni dirinya, membuatnya selalu mawas diri. Yang tidak menginsafinya ya Latihan saja, seperti sudah mekanis, asal menggugurkan kewajiban. Seperti orang sembahyang, ada yang mengikuti jadwal yang sudah ditentukan dan ada yang menyertakan Tuhan dalam segala tindakannya, sehingga ia selalu berhati-hati dalam pikiran dan perasaannya, perkataan dan perbuatannya.”

 

Karena malas menjawab setiap orang yang me-WhatsApp saya dengan pertanyaan yang sama, jawaban saya kepada satu penanya hanya copy-paste dari jawaban saya ke penanya sebelumnya.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 Februari 2026

Thursday, February 5, 2026

Gerakan Spiritual dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

SAYA pada 14 Januari 2026 lalu, bersama enam alumni Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) dan satu alumnus Jurusan Sastra Belanda FSUI, menandatangani akte pendirian Yayasan Indonesia Berkibar Lestari yang bergerak dalam pengkajian sejarah Indonesia dan diseminasi hasil kajiannya secara multimedia. Saya memosisikan diri khusus untuk kajian militer dan pertahanan serta sejarah gerakan spiritual.

Peran gerakan spiritual/kebatinan khususnya di Jawa kurang mendapat perhatian sejarawan Indonesia masa kini. Para sejarawan itu hanya menyorot ranah politik dan sosialnya. Padahal para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ternyata bergelut dengan spiritualitas untuk memantapkan mental mereka dalam berjuang.

Senior saya di Jurusan Sejarah FSUI, Iskandar P. Nugraha (kini sedang merampungkan program doktor di School of History, University of New South Wales) dalam bukunya tentang Perhimpunan Teosofi di Indonesia (berjudul: Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia) menyebutkan bahwa Sukarno, Hatta, Achmad Soebardjo (Menteri Luar Negeri pertama RI dan kelak juga menjadi Ketua Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia), Cipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, Radjiman Wedyodiningrat, dan Douwes Dekker pernah aktif atau terpengaruh oleh ajaran Teosofi. Mereka tertarik karena gagasan pluralisme dan persaudaraan universal. Hatta, Sutan Sjahrir dan Achmad Subardjo, antara lain, bahkan dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda berkat beasiswa dari Teosofi.

Ketika membaca buku History of Subud Jilid 1, yang secara ringkas menggambarkan suasana masyarakat, pergerakan, dan perjuangan kemerdekaan di Jawa pada 1920an dan 1940an, muncul penasaran saya: Mengapa gerakan-gerakan spiritual asli Nusantara baru bermunculan pada tiga dekade terakhir masa pemerintahan Hindia Belanda. Mulailah saya serius meneliti, terlebih setelah bukunya Iskandar Nugraha diluncurkan tahun 2011.

Fenomena menjamurnya gerakan spiritual atau kebatinan di akhir masa kolonial (sekitar awal abad ke-20 hingga 1942) bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah respons psiko-sosial yang mendalam terhadap tekanan politik dan pergeseran zaman.

Pada dekade terakhir Hindia Belanda, masyarakat pribumi mengalami “gegar budaya”. Masuknya sistem pendidikan Barat, kapitalisme industri, dan birokrasi kolonial yang kaku membuat banyak orang merasa tercerabut dari akar tradisinya. Banyak tokoh (terutama di Jawa) kembali ke ajaran kebatinan untuk mencari ketenangan di tengah dunia yang berubah terlalu cepat dan terasa makin materialistis. Gerakan spiritual menjadi cara untuk mempertahankan martabat diri di hadapan diskriminasi rasial yang sistematis oleh pemerintah kolonial.

Gerakan kebatinan sering kali menggunakan interpretasi ramalan kuno untuk memberi harapan bahwa kekuasaan kulit putih akan segera berakhir (sering digambarkan dengan analogi “seumur jagung”). Secara tradisional, masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan pada datangnya sosok penyelamat atau Ratu Adil. Semakin berat beban pajak dan kerja paksa, semakin kuat keyakinan bahwa “zaman edan” (zaman kegilaan/kekacauan) sedang mencapai puncaknya.

Pemerintah Hindia Belanda sangat represif terhadap organisasi politik yang terang-terangan menuntut kemerdekaan. Tetapi, gerakan spiritual sering kali dianggap tidak berbahaya oleh intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID) karena fokus pada olah rasa dan meditasi. Padahal, di balik itu, mereka membangun jaringan solidaritas dan rasa kebangsaan yang kuat. Dengan meyakini kekuatan batin, masyarakat merasa secara moral lebih tinggi daripada penjajah, meskipun secara fisik mereka ditindas.

Apakah ini terkait dengan kemerdekaan? Sangat terkait.

Gerakan spiritual adalah bentuk nasionalisme kultural. Sebelum bangsa ini berdaulat secara politik, mereka terlebih dahulu berdaulat secara batiniah. Banyak tokoh pergerakan nasional (termasuk Sukarno dan tokoh-tokoh Taman Siswa) memiliki kedekatan dengan nilai-nilai kebatinan. Mereka menggunakan simbol-simbol budaya dan spiritual untuk menyatukan rakyat yang heterogen. Gerakan seperti Subud, Paguyuban Hardopusoro atau Sumarah menyediakan basis massa yang memiliki kedisiplinan mental. Mereka tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga menyiapkan “mentalitas merdeka” sebelum kemerdekaan fisik tercapai.

Kebatinan mengajarkan konsep kepemimpinan Manunggaling Kawula Gusti, yang dalam konteks politik diartikan sebagai penyatuan antara pemimpin dan rakyat dalam satu cita-cita luhur.

Salah satu tokoh paling ikonik yang menggabungkan kedalaman spiritual (kebatinan) dengan radikalisme politik melawan Belanda adalah Ki Ageng Suryomentaram. Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang memilih menanggalkan gelar pangerannya demi menjadi rakyat jelata dan mencari hakikat kebahagiaan.

 

Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962)

Suryomentaram menciptakan sistem pemikiran yang disebut Kawruh Begja (Ilmu Kebahagiaan). Mengapa ia penting dalam konteks perjuangan kemerdekaan? Ia mengajarkan konsep Kramadangsa (ego). Menurutnya, rasa takut kepada Belanda muncul karena orang terlalu melekat pada jabatan atau rasa rendah diri. Jika seseorang sudah mengenal dirinya sendiri, rasa takut terhadap bedil atau penjara kolonial akan sirna.

Bagi Suryomentaram, tidak ada gunanya merdeka secara politik jika mentalitasnya masih “budak”. Ia menyiapkan rakyat untuk menjadi manusia yang merdeka secara psikis terlebih dahulu.

Meskipun tidak memimpin pasukan, ajaran “Rasa Merdeka”-nya menyebar di kalangan rakyat bawah dan kaum intelektual, membuat otoritas Belanda bingung karena ia tidak bisa ditangkap hanya karena mengajarkan orang untuk “bahagia”.

Tokoh lainnya adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Berbeda dengan Suryomentaram yang lebih meditatif, Dr. Tjipto adalah contoh perpaduan antara mistisisme Jawa (Jawa-Dipo) dengan politik modern. Ia memandang perjuangan kemerdekaan sebagai tugas suci seorang “Satria”. Baginya, melawan ketidakadilan Belanda bukan sekadar strategi politik, melainkan kewajiban moral-spiritual. Ia sering memakai sorban atau pakaian tradisional sebagai pernyataan spiritual bahwa identitas pribumi sejajar dengan peradaban Barat.

 

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (1886-1943)

Para tokoh ini berbahaya karena mereka menciptakan solidaritas organik. Jika organisasi politik bisa dibubarkan atau dilarang, ajaran kebatinan masuk ke dalam ruang-ruang privat rakyat (ruang tamu, sawah, pasar) dan tidak bisa dideteksi oleh intelijen kolonial.©2026

Perbandingan Singkat

Tokoh

Fokus Utama

Dampak ke Pergerakan

Ki Ageng Suryomentaram

Pembersihan ego (Kramadangsa)

Menghilangkan rasa takut rakyat terhadap penguasa.

 

Haji Misbach

Islam-Komunisme (mistik Islam)

Menggerakkan massa petani dengan narasi spiritual perlawanan.

 

Ki Hajar Dewantara

Pendidikan dan kebudayaan

Membangun “pagar spiritual” bangsa melalui pendidikan karakter.

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 6 Februari 2026

Sunday, February 1, 2026

Apa yang Tidak Berhubungan Dengan Subud?

BEBERAPA kali saya menemukan postingan artikel/video atau tautan ke artikel/video di sejumlah akun grup Facebook atau WhatsApp yang dipandang tidak relevan dengan Subud. Selalu saja akan muncul komentar “Adakah hubungannya dengan Subud?”

Bapak mengatakan, Subud adalah representasi dari hidup itu sendiri. Nah, jika Subud merepresentasi kehidupan manusia di bumi saat ini tentunya tidak ada yang tidak ada relevansinya dengan Subud. Subud tidak membatasi keanggotaannya terhadap mereka yang tidak memiliki kepentingan dengan penyembahan kepada Tuhan YME.

Semua orang, dari segala bidang kehidupan, bisa menjadi anggota Subud, dan bisa menerima serta melakukan Latihan Kejiwaan. Karena Latihan tidak pilih-pilih orang. Dia menghampiri anggota parliamen maupun masyarakat yang berdemo di depan gedung parliamen. Latihan menghinggapi dosen yang mengajar di ruang kuliah maupun mahasiswa yang mengikuti kuliahnya. Dia mengisi diri seorang miskin yang disedekahi seorang kaya yang dirinya juga terisi Latihan.

Kejiwaan adalah ibarat wilayah tak berbatas, tidak berpagar dan setiap orang yang memasukinya tidak dianggap sebagai pelanggar. Yang kabur dari wilayah ini juga bukan buronan. Semua bebas keluar masuk wilayah tak bertuan bernama “kejiwaan”.

Beberapa belas tahun lalu, di sebuah hall Latihan di Jawa Tengah, saya menunggu waktunya Latihan bersama di lobi hall tersebut. Ada poster mungil bertuliskan peringatan kepada para anggota, agar sebelum Latihan jangan membicarakan hal-hal di luar kejiwaan. Saya berkerenyit dalam tanda tanya: Apa saja hal-hal di luar kejiwaan? Apakah membicarakan ponsel cerdas terbaru atau tren musik terkini termasuk di antara yang bukan kejiwaan?

Saya pernah beberapa kali diminta untuk menjadi fasilitator dalam seminar dan workshop terkait pekerjaan saya di dunia komunikasi, kepada audiens anggota Pemuda Subud. Apakah branding, copywriting, dan advertising ada hubungannya dengan kejiwaan? Saya jelaskan ke forum, ada. Saya tidak akan mampu mengerjakannya, meski pengalaman saya di bidang ini sudah melampaui tiga dekade, bila tidak mendapat bimbingan dari jiwa saya. Sebuah cuplikan dari ceramah Bapak, terkait Reputasi, saya cantumkan pada salah satu halaman dari presentasi Powerpoint saya.

Di tengah diskusi politik atau konflik bersenjata yang sedang berlangsung di dunia, di antara teman-teman non Subud saya, saya mendapat pengertian-pengertian dari dalam yang kadang saya ungkapkan sebagai opini saya di ajang diskusi tersebut. Kadang pula wujudnya prediksi-prediksi kejadian, yang kelak terbukti kebenarannya.

Intinya, dengan diri kita sudah terisi Latihan, apapun yang ada di dunia manusia tak luput dari ranah kejiwaan. Itulah asyiknya Subud bagi saya. Pernah teman saya dari jalan spiritual lain, yang entah bagaimana dapat mengakses ceramah-ceramah Bapak, mempertanyakan mengapa Bapak menganjurkan enterprise—yang bagi teman saya merupakan urusan duniawi—menjadi bagian dari laku spiritual Subud. Saya menjawab singkat saja, “Ya, itulah kerennya Subud. Memang Tuhan dan ibadah terhadapNya hanya ada di agama?”©2026

 

Darmin Kopi, Jl. Duren Tiga No. 7E, Jakarta Selatan, 2 Februari 2026

Monday, January 26, 2026

Kapan?

MINGGU lalu, selama seminggu penuh, hujan deras mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya. Ada dua hari dalam pekan itu dimana hujan turun selama hampir sepuluh jam, yang menyebabkan banjir melanda sejumlah titik di Jakarta—bahkan kawasan-kawasan yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran tiba-tiba harus mengalaminya.

Yang paling menyebalkan bagi banyak warga masyarakat adalah kesulitan dalam mengeringkan cucian mereka. Mencuci bagi sebagian besar warga Jakarta dan sekitarnya merupakan hal yang mudah, karena rata-rata telah memiliki mesin cuci. Kesulitannya terletak pada jarangnya matahari menampakkan wajahnya, membuat jemuran tidak bisa cepat kering sehingga menimbulkan bau apek dan kain menjadi berjamur. Akibatnya, warga masyarakat berbondong-bondong ke gerai-gerai penatu swalayan yang menyediakan bukan saja mesin cuci tetapi juga mesin pengering.

Bagaimanapun, hal ini tidak serta merta menyelesaikan masalah. Banyak warga yang tidak memiliki mobil akan kehujanan dalam perjalanan mereka ke gerai-gerai penatu itu. Istri saya mendesak saya untuk bangun lebih pagi agar bisa terhindar dari kehujanan (meskipun kenyataannya, terkadang hujan pun turun sejak subuh), tetapi saya mengabaikannya. Saya hanya menjawab, “Nantilah.”

“Kapan itu nanti?” tanya istri saya.

“Ketika Tuhan menghendakinya,” jawab saya seenaknya. Istri saya, meskipun Subud juga, masih suka menganggap jawaban saya seperti itu sebagai lelucon. Karena menganggap saya tidak serius, ia pergi sendiri ke gerai penatu langganan kami, tetapi menolak membawa serta pakaian kotor saya—maksud dia, agar saya jera dengan akibat dari membiarkan pakaian kotor menumpuk terlalu lama.

Hari Minggu, 25 Januari, saya terbangun dengan penerimaan bahwa hari itu cuaca akan cerah dan saya terdorong untuk mencuci pakaian saya dalam dua giliran: Hari itu khusus pakaian atasan, dan hari berikutnya pakaian bawahan. Mengetahui bahwa saya akan mencuci pakaian, istri saya mengingatkan bahwa waktunya tidak tepat. “Hujan bisa turun kapan saja! Jemuran kamu tidak akan kering dan bau apek!” katanya. Tetapi saya tidak peduli dengan omongannya dan dengan santai meneruskan mencuci pakaian saya dengan mesin cuci.

 

Pemandangan dari balkon belakang tempat saya menjemur pakaian. Bisa dilihat awan mendung tebal di ufuk utara—tepat di perbatasan Jakarta Selatan—yang seolah sudah tidak sabar ingin tumpah. Entah bagaimana, hujan tertahan cukup lama sampai cucian saya kering. Benar-benar waktu yang pas!

Ajaibnya, hari itu memang tidak hujan sepanjang pagi hingga sore, memberi kesempatan pada jemuran saya untuk mengering sempurna. Hujan baru turun beberapa saat setelah saya memasukkan jemuran.

Senin ini, saya mencuci lagi, giliran pakaian bawahan saya, meski diperingatkan oleh istri saya bahwa langit sudah tertutup awan mendung hitam dan tebal. Ketika saya menjemur cucian saya, perlahan awan-awan mendung itu menyingkir, memberi jalan bagi masuknya sinar matahari.

Saat sarapan, saya berkata kepada istri saya, “Tuhan menciptakan waktu, manusia menciptakan jam. Kalau aku terima sekaranglah saat yang tepat untuk mencuci, maka akan aku lakukan. Jangan tanyakan kapan—aku tidak tahu, Dialah Yang Maha Tahu!”

Istri saya hanya mencibir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

Sunday, January 25, 2026

Tujuh Turunan

MEMBACA ceramah-ceramah Bapak mengenai pengaruh Latihan Kejiwaan terhadap leluhur kita, saya sering menjumpai gagasan beliau tentang “tujuh turunan ke atas dan tujuh turunan ke bawah”. Karena tumbuh besar di Indonesia, ungkapan “tujuh turunan” sudah sangat tertanam dalam diri saya. Namun, saya—dan banyak orang Indonesia lainnya dalam hal ini—tidak pernah benar-benar mempertanyakan mengapa harus tujuh turunan, atau mengapa angka tujuh yang dipilih sejak awal.

Dalam konteks Indonesia, “tujuh turunan” merupakan idiom yang memiliki signifikansi budaya, yang digunakan untuk menggambarkan skala waktu, kekayaan, atau konsekuensi yang luar biasa—menyiratkan bahwa sesuatu memiliki dampak yang sangat besar sehingga akan bertahan (atau telah bertahan) selama tujuh generasi berturut-turut dalam suatu keluarga.


Penggunaan yang paling umum terdapat dalam kalimat “Kekayaan yang tidak habis tujuh turunan”. Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang kekayaannya tak terbayangkan. Hal ini menyiratkan bahwa meskipun keturunan mereka ceroboh atau malas, kekayaan tersebut begitu besar sehingga akan terus menghidupi keluarga itu selama lebih dari satu abad.

 

Karena budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai garis keturunan dan silsilah, istilah tersebut sering kali mengandung bobot spiritual atau moral. “Sumpah tujuh turunan” adalah kutukan yang sangat mendalam. Jika seseorang melakukan dosa besar atau pengkhianatan, sang korban mungkin menyatakan bahwa konsekuensinya akan menghantui garis keturunan pelaku hingga tujuh generasi. Demikian pula, “dendam tujuh turunan” merujuk pada perseteruan darah atau kebencian mendalam yang diwariskan dari para leluhur.


Dalam lingkaran sosial tradisional, khususnya dalam budaya Jawa, konsep “Bibit, Bebet, Bobot (Garis Keturunan, Status Ekonomi/Kekayaan, dan Kualitas Diri) sangatlah krusial. Menjadi “bersih” selama tujuh turunan berarti sebuah keluarga tidak memiliki riwayat kejahatan, skandal, atau aib sosial, sehingga membuat mereka sangat diidamkan untuk hubungan pernikahan.

Mengapa Tujuh?

UNTUK memahami mengapa tujuh menjadi angka keramat dalam tradisi Indonesia, kita harus melihat pada persilangan yang menarik antara kosmologi, biologi, dan filosofi spiritual kuno.


Di berbagai budaya Indonesia (terutama Jawa dan Sunda), alam semesta dipandang memiliki tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Struktur numerologi ini menyiratkan bahwa “tujuh” adalah batas dari alam semesta yang nyata maupun alam spiritual. Mempengaruhi “tujuh turunan” berarti mempengaruhi keseluruhan garis keturunan seseorang di dalam ranah fisik dan spiritual.

Dalam pandangan dunia masyarakat Indonesia, angka tujuh bukanlah angka yang sembarangan; angka ini melambangkan keutuhan dan siklus eksistensi yang lengkap. Angka tujuh tertanam dalam upacara peralihan (rites of passage) yang paling sakral di Indonesia:

  • Mitoni (Pitonan): Upacara tradisional Jawa yang diadakan pada bulan ketujuh kehamilan untuk memastikan kelahiran yang sehat dan karakter yang baik bagi sang anak.
  • Tedhak Siten: Upacara saat seorang anak pertama kali menyentuh tanah pada usia tujuh lapan (satu lapan adalah 35 hari).
  • Ritual Berkabung: Doa-doa tradisional bagi orang yang meninggal sering kali diadakan pada hari ketujuh setelah kematian, yang menandai tahapan tertentu dalam perjalanan ruh.

Sebelum adanya genetika modern, terdapat pemahaman intuitif bahwa sifat-sifat pada akhirnya akan “luntur” atau menjadi tidak dikenali seiring berjalannya waktu. Tujuh generasi (kira-kira 150–200 tahun) secara tradisional dipandang sebagai batas pengaruh “langsung”. Melampaui tujuh generasi, Anda bukan lagi merupakan garis keluarga yang spesifik; Anda telah melebur kembali menjadi “leluhur” secara umum atau menjadi “tanah” bagi masyarakat.

Angka tujuh memiliki signifikansi mistis dan simbolis dalam banyak tradisi Indonesia (maupun secara global). Angka ini melambangkan kelengkapan atau sebuah siklus yang penuh. Dalam pola pikir orang Indonesia, “tujuh turunan” secara efektif berarti “selamanya” atau “secara permanen”.

Rincian Silsilah Keturunan:

1.      Anak

2.     Cucu

3.     Cicit (atau Buyut)

4.     Piut (atau Canggah)

5.     Anggas (atau Wareng)

6.    Ubung-ubung (atau Udheg-udheg)

7.     Gantung Siwur

 

Catatan: Istilah lokal untuk generasi ke-4 hingga ke-7 bervariasi di seluruh Indonesia, tetapi Gantung Siwur adalah istilah tradisional Jawa untuk generasi ketujuh.

Dalam budaya Indonesia, konsep “tujuh turunan” lebih dari sekadar ungkapan; ia merupakan filosofi mendalam mengenai keberlanjutan hidup, karma, dan tanggung jawab. Konsep ini menunjukkan bahwa tindakan kita hari ini tidak lenyap begitu saja ke masa lalu, melainkan beriak melintasi waktu, mempengaruhi tujuh turunan sebelum kita dan tujuh turunan yang akan datang.

Memahami silsilah ini dapat menjadi katalisator yang kuat bagi pertumbuhan pribadi dan perubahan masyarakat.

Warisan Keadaan

DALAM pengertian materi, “tujuh turunan” bermanifestasi sebagai lingkungan fisik dan finansial yang kita warisi dan kita teruskan. Hal ini sering dibahas dalam hal kekayaan antargenerasi atau kemiskinan antargenerasi. Ketika kita melihat sumber daya kita melalui lensa tujuh turunan, kita berhenti mengonsumsi untuk hari ini dan mulai melestarikan untuk hari esok. Pergeseran ini mendorong pola hidup berkelanjutan dan investasi yang bertanggung jawab.

Sains modern (epigenetika) menunjukkan bahwa trauma dan kebiasaan kesehatan dapat meninggalkan “tanda” pada DNA kita. Dengan meningkatkan kesejahteraan fisik kita dan memutus rantai kecanduan atau pengabaian, kita secara harfiah sedang meningkatkan “materi” biologis dari keturunan kita di masa depan.

Secara intelektual, konsep ini mengatur aliran pengetahuan, pola pikir, dan pandangan dunia. Kita sering kali “terprogram” oleh bias intelektual dari buyut-buyut kita tanpa kita menyadarinya.

Banyak dari kita membawa “beban” intelektual—seperti anggapan bahwa kita tidak cukup pintar, atau bahwa jalan-jalan tertentu tertutup bagi kita. Mengenali hal-hal ini sebagai “pikiran warisan” memungkinkan kita untuk menyaring apa yang bermanfaat dan membuang apa yang sudah usang. Untuk memberi dampak pada tujuh turunan secara intelektual, seseorang harus memprioritaskan pendidikan dan berbagi kearifan. Hal ini mendorong kita untuk menjadi “leluhur pikiran”, dengan mendokumentasikan pelajaran hidup kita sehingga dapat menjadi peta jalan bagi mereka yang tidak akan pernah kita temui.

Dalam konteks kejiwaan, “tujuh turunan” menyiratkan keterhubungan mistis yang saling bertautan. Dalam banyak tradisi Indonesia, dipercaya bahwa “kemurnian” atau “bobot” spiritual seseorang dapat mengangkat derajat leluhur mereka dan melindungi keturunan mereka. Praktik spiritual pribadi kita bukan lagi merupakan upaya individual. Jika kita menemukan kedamaian, kita dipandang membawa cahaya bagi garis keturunan yang mungkin telah diselimuti oleh “kegelapan” atau “penderitaan” selama berpuluh-puluh tahun.

Dengan menyelesaikan konflik internal dan meningkatkan sikap memaafkan, kita “membersihkan” garis keluarga kita. Hal ini mencegah “hutang” spiritual masa lalu—seperti dendam atau trauma yang belum sembuh—diwariskan sebagai beban kepada generasi muda.

Perubahan Menuju yang Lebih Baik


KEKUATAN dari filosofi “tujuh turunan” terletak pada pertanggungjawaban. Ketika kita hidup hanya untuk diri sendiri, cakrawala kita menjadi sempit. Akan tetapi, ketika kita hidup untuk tujuh turunan, perspektif kita menjadi “cathedral thinking (pola pikir jangka panjang yang visioner, dimana sebuah tujuan ambisius direncanakan dan dikerjakan saat ini, meskipun penyelesaiannya mungkin memakan waktu beberapa generasi atau melampaui umur pembuatnya)—sebuah praktik menanam benih pohon yang keteduhannya tidak akan pernah kita nikmati sendiri.

 

Cara menerapkannya saat ini:

·        Tanyalah pada diri sendiri, “Jika cicit-cicit saya mewarisi kebiasaan saya saat ini, apakah mereka akan berkembang atau malah menderita?”

·        Hadapi “rahasia keluarga” atau trauma yang selama ini dipendam. Menyembuhkan diri sendiri adalah hadiah terbesar yang bisa Anda berikan kepada leluhur Anda.

·        Buatlah satu keputusan minggu ini—baik itu investasi keuangan, perubahan gaya hidup, atau kata-kata yang baik—yang secara khusus ditujukan untuk memberi manfaat bagi seseorang di 100 tahun yang akan datang.

 

Jangan hanya mewarisi tujuh turunan tersebut—ubahlah mereka. Karena pilihan-pilihan yang Anda buat pagi ini akan tetap berbisik di telinga keturunan Anda satu abad dari sekarang. Dengan merangkul konsep tujuh turunan, kita beralih dari sekadar penerima sejarah yang pasif menjadi arsitek masa depan yang aktif.©2026

 

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

Monday, January 19, 2026

Cukuran dalam Rangka Syukuran

MUNGKIN bukan sesuatu yang luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya berarti. Selama hampir 22 tahun menjadi anggota Subud, saya tidak memiliki kartu tanda anggota. Mungkin karena aktivitas saya di media sosial, yang di semua platform saya jelas-jelas mencantumkan informasi bahwa saya anggota Subud Indonesia, tidak sedikit anggota dalam dan luar negeri yang mengenal saya, sehingga setiap kali saya mendatangi cabang manapun untuk melakukan Latihan pengurus atau pembantu pelatih setempat tidak menanyakan kartu tanda anggota saya.

 




Saya melalui masa kandidat tiga bulan saya hingga dibuka di Subud Cabang Surabaya, sehingga otomatis secara administratif saya tercatat sebagai anggota Cabang Surabaya. Ketika saya pindah ke Jakarta, saya memantapkan diri untuk tidak memindahkan keanggotaan saya ke Cabang Jakarta Selatan. Bahkan setelah saya aktif Latihan di Cilandak selama lebih dari 12 tahun keanggotaan saya masih diakui di Cabang Surabaya. Tahun ke-12 masa saya di Subud, terjadi konflik di tubuh Cabang Surabaya yang berakibat sejumlah besar anggota dan pembantu pelatih kehilangan keterkaitan dengan cabang tersebut dan keleleran tanpa kejelasan keanggotaan dari cabang mana. Saya salah satunya.

 


Pada 14 Januari 2025, saya mendapat kabar sejuk bahwa Cabang Sidoarjo akan membantu membuatkan dokumen resmi mutasi empat anggota—saya di antaranya—dan satu pembantu pelatih bekas Cabang Surabaya untuk menjadi anggota resmi Cabang Sidoarjo. Dalam sehari, baik kartu tanda anggota saya dan surat pemberitahuan mutasi telah dirilis—dengan tanda tangan Komisaris Wilayah VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, Pak Seno Prasodjo—yang kemudian, pada 19 Januari 2026, membatalkannya karena dianggap saya telah mutasi ke Cabang Jakarta Selatan. Bagaimanapun, saya resmi terdaftar sebagai anggota Cabang Sidoarjo. Untuk itu, pada 15 Januari 2026, saya memangkas rambut saya sebagai tanda syukur.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, 20 Januari 2025