Monday, October 11, 2010

Aturan Emas


“Sejarah dibuat bukan dengan mengikuti aturan, tetapi dengan melihat peluang.”

—Dr. Sebastian Caine (tokoh megalomaniak yang diperankan oleh Kevin Bacon dalam film The Hollow Man, 2000)


Pada tahun-tahun pertama saya berkarir sebagai penulis naskah iklan (copywriter), segudang aturan dicamkan di benak saya oleh para senior saya maupun pengarah kreatif (creative director), yang konon dapat membantu saya dalam menciptakan iklan yang bagus, tepat sasaran dan menjual.

Kepala naskah (headline, H/L) merupakan bagian dari penulisan naskah iklan (copywriting) yang paling tumpat dengan perdebatan mengenai aturannya. Ada yang bilang, sebaiknya H/L menggunakan huruf besar semua agar tampak tegas. Ada yang mengatur H/L itu huruf besarnya hanya pada awal kata agar kelihatan artistik. Ada yang tidak setuju kalau sebuah H/L diakhiri dengan titik, lantaran pembaca harus ‘diundang’ untuk membaca badan naskah (bodycopy). Rekannya sependapat dengan dia, tetapi mengusulkan tanda seru agar dianggap bahwa pernyataan dalam H/L serius. Saya memilih tidak menggunakan H/L jika saya harus menerapkan semua aturan itu.

Saya sempat dibingungkan dengan semua aturan itu. Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa dalam praktiknya banyak iklan cetak, utamanya yang dari luar negeri justru tidak menerapkan salah satu dari aturan yang saya urai di atas. Bahkan ada H/L yang dalam tata letak desain iklan cetaknya tidak berada di kepala naskah sebagaimana istilah itu menjelaskannya (head = kepala), melainkan di kaki naskah – yang mestinya dinamai ‘footline’ atau ‘kaki naskah’ – seperti mengisyaratkan sebuah caption yang menjelaskan, baik secara langsung (straight) atau tidak langsung (bent) gambar yang terpampang di iklan. Saya pun berpikir, “Wah, headline-nya berupa visual. Bagus juga idenya!”

Sebuah buku klasik tentang copywriting karya Alastair Crompton, berjudul The Craft of Copywriting (1979), yang saya temukan terjepit di antara dua buku lainnya yang lebih baru di perpustakaan Matari Advertising, tempat saya pertama kali mengenal dunia periklanan pada tahun 1994, menyajikan satu aturan emas yang sebaiknya diterapkan jika saya (buku itu serasa berbicara kepada saya yang begitu terpukaunya ketika menemukan aturan emas itu): Lupakan semua aturan! Tiga kata itu seolah mengajarkan saya lebih banyak hikmah kebijaksanaan, yang kiranya bisa saya pakai untuk apa saja: “Jadilah diri sendiri, pakai gayamu atau apa pun yang kamu suka, biarkan karya mengungkapkan siapa dirimu sebenarnya!”

Satu hal pasti yang saya pelajari dalam hidup ini adalah bahwa tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Segala sesuatu tampaknya berjalan menurut sebuah sistem hukum atau prinsip, padahal nyatanya masih terdapat anomali-anomali yang membuat kita berpikir mengapa kok bisa begitu. Artinya, dengan keteguhan prinsip yang kita coba pertahankan seolah itu alami, alam sendiri tidak selalu sepakat dengan kita. Banyak hal, yang atasnya diberlakukan aturan, nyatanya tak jarang melanggar aturan itu sendiri. Berarti ketidakaturan memang sesuatu yang alami!

Setelah enam belas tahun berkarir di industri komunikasi pemasaran, saya berani tandaskan bahwa pemasaran dan bisnis maupun komunikasinya bukanlah matematika, di mana satu ditambah satu sama dengan dua. Satu strategi bisa sukses besar untuk satu merek di satu kategori produk, namun belum tentu untuk merek lain di kategori produk yang sama. Saya membayangkan, seandainya pendekatan pemasaran dan komunikasi untuk laptop Apple MacBook sama dengan yang dipakai untuk menyukseskan laptop berbasis Windows, apakah konsumen akan pernah memilih untuk membeli MacBook yang harganya di atas rata-rata laptop berbasis Windows itu? Kalau sama saja, demikian pemikiran saya sebagai pemakai MacBook dan penggila Apple, saya tidak perlu repot-repot memilih. Dan ini melanggar kodrat bahwa hidup adalah pilihan.

Baru-baru ini, kawan saya yang sama-sama berkecimpung di organisasi mengemukakan sesuatu yang menurut rekan-rekan kami yang kelewat organisatoris merupakan gagasan yang bodoh. Tahun depan, organisasi ini akan menggelar kongres nasionalnya, dan dalam kerangka itu kawan tadi mengusulkan agar pemilihan ketua umum dilakukan terlebih dahulu, baru kemudian digelar sidang-sidang dengan ketumbar (ketua umum baru) duduk sebagai pemimpinnya. Dengan demikian, dalihnya, banyak waktu yang bisa dihemat.

Rekan kami, seseorang dengan pengalaman organisasi yang banyak, mengungkapkan kepada saya bahwa itu adalah gagasan terbodoh yang pernah ia dengar dari mulut seseorang yang terpelajar. Saya membatin, “Apa salahnya dengan gagasan itu? Bukankah semua kemajuan yang dialami manusia bersumber dari kebodohannya sendiri?” Tanpa pernah bodoh, dan hanya orang bodohlah yang suka melanggar aturan, kita takkan pernah menjadi pandai. Dan itu berlaku bagi apa saja.

Untuk menjadi kreatif diperlukan menjadi bodoh terlebih dahulu. Orang pintar takkan mempertanyakan apa pun. Sebaliknya, orang bodoh tak henti-hentinya mempertanyakan: Mengapa begini? Mengapa begitu? Segala sesuatu perlu dipertanyakan. Apabila bertanya itu merupakan sesuatu yang menyiratkan kebodohan, pastilah National Geographic Channel dengan tema Everything Deserves a Why-nya merupakan saluran televisi terbodoh yang pernah dikenal!

Kebodohan mendorong penasaran (curiosity), penelusuran (exploration), lalu berakhir pada penemuan (discovery)*. Ban berjalan ini tidak mengharamkan aturan emas. Tahun 2002 lalu, dalam kapasitas sebagai pengarah kreatif di sebuah biro iklan papan atas di Surabaya, saya ditugasi mengarahkan kreatif iklan cetak berukuran setengah halaman majalah Cosmopolitan Indonesia. Ukurannya saya perkirakan tidak akan begitu berefek menyemburatkan kekuatan penghenti (stopping power) bagi pembaca, sehingga saya memutuskan untuk menerapkan aturan emas. Produk yang diiklankan adalah sebuah stasiun radio swasta di Surabaya yang disukai kaum wanita lantaran acara-acaranya yang menarik dan sajian lagu-lagunya yang memikat. Sayang bila diganti ke saluran lain.

Hasilnya, sebuah iklan cetak mungil dengan H/L yang mampu menghentikan pembaca majalah lantaran posisi tulisan H/L-nya yang terbalik (upside down), berbunyi: “Some things are better left unturned” (Beberapa hal sebaiknya dibiarkan tak terbalik). Secara harfiah, ‘unturned’ berarti ‘tidak dibalik’, tetapi bisa juga bermakna ‘tidak diganti’ dalam kaitannya dengan tombol saluran di radio. H/L itu juga menyindir pembaca secara halus dan simpatik, apabila ia membalik halaman majalahnya demi bisa membaca H/L-nya, yang malah membuatnya tidak mampu membaca badan naskah yang sesungguhnya menjelaskan mengapa posisi H/L tersebut dibalik. Tindakan itu akan membuat pembaca membatin, “Salah sendiri mengapa dibalik. Akibatnya kan sekarang kamu tidak bisa baca badan naskahnya!”

Pengalaman yang lumayan konyol dan bodoh ini memberitahu saya sejak itu betapa cemerlangnya aturan emas itu. Aturan emas berlaku bagi segala tindakan, tak terkecuali. Kawan saya, seorang pilot pada sebuah maskapai penerbangan swasta berbiaya rendah, lebih suka menyebut dirinya ‘penerbang’ (aviator) ketimbang ‘pilot’. Pilot bekerja menurut apa kata buku panduan (by the book), katanya, sedangkan pengalamannya bertutur, banyak hal yang ia hadapi ketika menerbangkan pesawat tidak ada panduannya di buku, sehingga ia tertuntut untuk berimprovisasi. Seorang aviator mempraktikkan seni terbang, bukan ilmu terbang. Bukankah demikian pula dengan hidup?(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 9 Oktober 2010.


*) Menurut Lionel Bender, dalam bukunya, Invention (2005), discovery beda dengan invention yang sama-sama diindonesiakan menjadi ‘penemuan’. Discovery mengacu pada penemuan sesuatu yang sudah diketahui atau sudah ada sebelumnya. Benua Amerika ditemukan (discovered by) Christopher Columbus sedangkan mesin uap merupakan penemuan (invented by) James Watt.

Menilai Dalam Sekejap Mata


Pagi itu (22 Juli 2010), saya membaca koran yang memberitakan tentang ditemukannya endapan di pompa bahan bakar pada ribuan taksi Blue Bird, yang menandakan bahwa bensin premium yang mereka gunakan rendah kualitasnya. Sebaliknya, gejala ini tidak terdapat pada mobil-mobil yang disewakan perusahaan taksi tersebut lantaran menggunakan Pertamax.

Entah mengapa saya tidak sepenuhnya percaya bahwa berita itu murni berita, yang dilaporkan wartawan yang secara tak sengaja menjumpainya di lapangan. Sebagai penulis materi komunikasi pemasaran dan korporat, yang mengantongi pengalaman menulis artikel pesanan dan press release, saya segera dapat menilai bahwa berita tadi merupakan bagian dari aksi kehumasan, dalam rangka sosialisasi pemakaian Pertamax yang belakangan ini merebak.

Saya tidak dapat menjelaskan detil teknisnya mengapa saya mampu melakukan penilaian tersebut. Juga tidak dalam kasus kawan saya, seorang pengarah seni (art director) yang diberi tugas oleh pembina usaha (account executive, AE), di sebuah perusahaan komunikasi pemasaran dan korporat di mana kami pernah bekerja dahulu, untuk merancang sejumlah merchandise untuk event turnamen golf klien kami. Walaupun tak tercantum dalam dokumen permintaan pekerjaan (job request), kawan saya ‘merasa dirinya’ harus mendesain trofi buat turnamen tersebut, yang berbentuk sedemikian rupa yang membuat sang AE terpana lantaran pada detik terakhir klien tiba-tiba teringat untuk memesan trofi dengan desain yang mirip dengan yang telah dirancang oleh kawan saya!

Fenomena semacam ini tergolong sering terjadi dalam pekerjaan saya sebagai penulis naskah iklan (copywriter). Pernah saya diorder untuk membuat konsep kreatif dan naskah buat laporan tahunan sebuah stasiun televisi swasta, yang kerangka acuan (terms of reference, TOR) pekerjaan dan taklimat (brief)-nya sempat saya baca sekilas (tidak sampai lima menit) dan kemudian dibawa pergi oleh AE-nya lantaran akan difotokopi. Saking padatnya jadwal saya, saya meninggalkan agency pemberi order itu dengan mendadak, lupa bahwa salinan TOR maupun taklimatnya belum saya terima. Sampai di rumah, saya panik. Pasalnya, tenggat waktu penyerahan konsep kreatif dan naskah dari laporan tahunan yang diorderkan ke saya adalah keesokan paginya.

Akhirnya, saya terapkan prinsip salah seorang penulis naskah iklan top dunia, James Lowther: Lupakan brief-nya! Saya tidak perlu melupakan taklimatnya, karena saya toh tidak memiliki salinannya lantaran lupa saya bawa dari agency yang menugaskan saya, juga tidak ingat apa isinya. Baik AE-nya maupun saya sendiri terkejut keesokan harinya, karena saya muncul dengan konsep kreatif dan naskah yang benar-benar sesuai dengan TOR dan taklimat dari klien!

Semuanya terjadi secara otomatis, dan di bawah sadar saya. Fenomena inilah yang oleh Malcolm Gladwell disebut ‘cuplikan tipis’ (thin-slicing) dalam bukunya Blink – Metode Berpikir Tanpa Berpikir (Jakarta: Gramedia, 2008).

Dalam buku setebal 123 halaman itu, Gladwell mengemukakan sejumlah kejadian yang melibatkan cuplikan tipis, dimulai dengan kasus patung kouros (patung pualam laki-laki muda telanjang yang pertama kali muncul pada zaman Arkaik di Yunani, 800-480 SM) yang dibeli museum ternama di Kalifornia, Museum Paul J. Getty. Diyakini di seluruh dunia hanya ada sekitar 200 kouros yang sebagian besar sudah ditemukan dalam kondisi rusak berat atau terpotong-potong dari hasil penggalian di berbagai situs arkeologi.

Pakar-pakar sejarah, seni patung hingga ahli kimia diundang pihak museum untuk menguji apakah patung itu asli atau palsu. Setelah empat belas bulan dilakukan pemeriksaan, pihak museum mengumumkan bahwa patung itu asli dan memutuskan membelinya dari pedagang barang seni yang menawarkannya. Empat belas bulan dibutuhkan para pakar untuk memastikan keaslian patung itu. Tetapi dua orang pakar berani mengatakan bahwa patung itu palsu hanya dengan melihatnya sekilas! Dan belakangan, setelah patung itu berada di tangan Museum Paul J. Getty, terbukti kepalsuannya. Apa yang menyebabkan kedua pakar itu dapat mengungkapkan palsu tidaknya patung kouros itu dalam waktu singkat, sementara banyak pakar lainnya memerlukan waktu hingga empat belas bulan?

Gladwell tidak menjelaskan secara pasti apa saja kiatnya untuk dapat memiliki kemampuan menilai dalam sekejap mata. Ia hanya mengungkapkan sejumlah fenomena blink (kedipan mata) pada beberapa peristiwa yang dicatat sejarah. Buku ini mengungkap rahasia bahwa orang-orang yang pandai mengambil keputusan yang tepat ternyata bukanlah mereka yang mengolah informasi sebanyak-banyaknya dengan menggunakan waktu yang paling lama. Mereka yang tersebut pertama adalah orang-orang yang telah melatih diri untuk menyempurnakan thin-slicing, yaitu kemampuan menyaring sesedikit mungkin faktor terpenting dari sejumlah kemungkinan yang berlimpah.

Kemampuan blink tersebut melibatkan dua aspek penting dalam otak kita, yaitu aspek psikologi kognitif yang oleh psikolog berkebangsaan Jerman, Gerd Gigerenzer, disebut sebagai fast and frugal (cepat dan murah). Sedangkan aspek lainnya adalah pemanfaatan bawah sadar bersesuaian (adaptive unconscious) yang ada dalam otak kita. Kemampuan fast and frugal dapat digambarkan sebagai kemampuan psikologi kognitif dalam pikiran kita di mana pada saat berhadapan dengan suatu obyek, kita akan membiarkan bagian tertentu dalam otak melaksanakan serangkaian kalkulasi cepat sebelum pikiran sadar mana pun muncul.

Dalam kondisi tersebut mereka seperti merasakan sesuatu, seperti, misalnya, munculnya komentar aneh segar secara tiba-tiba dalam benak atau adanya gelombang penolakan naluriah atau kondisi yang sederhana, seperti, contohnya, telapak tangan yang tiba-tiba basah oleh keringat.

Blink cukup bagus untuk dipelajari oleh mereka yang berkecimpung di dunia pemasaran atau periklanan. Dalam buku ini, Malcolm Gladwell memberikan gambaran tentang pemasar yang mampu memanipulasi kesan pertama konsumen. Tetapi ada bahayanya juga, apabila diterapkan dalam jenis-jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan. Gladwell mengungkapkan di Bab 6 bukunya, yang berjudul (versi saduran Bahasa Indonesia-nya yang diterbitkan oleh Gramedia) “Tujuh Detik di Bronx: Seni Membaca Pikiran” tentang polisi yang salah tembak dan mengakibatkan kematian Amadou Diallo, pemuda 22 tahun berkulit hitam. Gerak-gerik Diallo yang duduk sendirian di depan rumahnya memancing kecurigaan polisi yang sedang berpatroli. Lantaran ketakutan ketika didatangi polisi, Diallo bergerak refleks, dan kala tangan kanannya merogoh saku untuk mengambil dompet gerakan tersebut membuat polisi menyangka Diallo akan mengeluarkan senjata api. Akibatnya, polisi memuntahkan peluru ke tubuh anak muda tak berdosa itu.

Gladwell juga mengutarakan tentang Warren Harding, presiden AS ke-29, yang dianggap tidak becus. Kok bisa orang yang tidak becus terpilih menjadi presiden negara adidaya? Belakangan terungkap bahwa peserta pemilihan presiden salah coblos, karena sekadar terpesona pada kegantengannya, padahal sesungguhnya sang presiden tidak mampu bekerja!

Buku Blink ini mengajak kita untuk berpikir ulang tentang pola pikir yang sudah terbentuk selama ini. Pola pikir yang mengajarkan bahwa kualitas sebuah keputusan berbanding lurus dengan lamanya waktu dan kerasnya usaha yang kita lakukan. Blink menggugah kesadaran kita bahwa seringkali keputusan yang diambil dalam sekejap dapat memiliki kualitas yang minimalnya sama dengan keputusan yang dilakukan dalam waktu yang lama dan usaha yang keras. Mudah-mudahan Note ini cukup untuk membantu Anda membuat cuplikan tipis tentang buku Blink dari Malcolm Gladwell!(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 7 Oktober 2010.

Sunday, September 26, 2010

Sisi Lain


“Dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jugalah Yang Mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.”

—Al Baqarah: 216



Tampaknya telah menjadi kebiasaan umum untuk melihat segala sesuatu dari satu sisi saja, yaitu sebagaimana adanya. Kegagalan semata dipandang sebagai kegagalan, yang berseberangan dengan kesuksesan. Kita tak pernah sedia untuk melihat sisi lain dari kegagalan.


Hidup ini ibarat koin mata uang, yang memiliki dua sisi. Apa pun sisi yang muncul ke permukaan tak berarti bahwa koin mata uang itu kehilangan nilainya. Ia justru bernilai karena memiliki dua sisi; satu sisi saja akan membuat sebuah mata uang dikira palsu.


Demikian pula dengan hidup kita. Ia tak lengkap tanpa salah satu sisinya. Bagaimana kita bisa menyebut diri kita sukses apabila tak ada padanan pembandingnya yang dinamai ‘gagal’? Dengan adanya siang dan malam maka ada hari, lantun Rumi dalam salah satu syairnya. Yang satu melengkapi yang lainnya untuk mewujudkan keutuhan. Yang satu menopang yang lainnya laksana pondasi bangunan yang tanpanya bangunan bakal roboh.


Ditilik dari sisi lain, masalah bukanlah masalah. Ia adalah guru yang baik dan teman belajar cerdas yang cergas dalam menghidangkan mutiara hikmah. Setiap masalah, seberapa pun kadarnya, membawa bersamanya momen pembelajaran bagi kita untuk menggapai kualitas lebih baik dari yang ada sekarang. Relasi saya, seorang pengusaha properti yang sukses, yang menunjuk saya untuk menulis buku tentang pengalamannya berwirausaha, merasa bahwa kegagalanlah yang membuatnya kini dapat merangkul kesuksesan. Hubungan kemitraan yang gagal, misalnya, memberinya peluang untuk belajar tentang pentingnya silaturahmi dan menjaga kepercayaan, hal mana di kemudian hari membantunya membukakan pintu ke mitra-mitra yang siap berinvestasi di bisnis pengembangan propertinya. Pengalaman ini membuatnya senantiasa melihat sisi lain dari segala sesuatu sebelum telanjur menghakimi.


Masalah tidak usah dimusuhi, melainkan seharusnya dijadikan sahabat sejati kita dalam mengarungi kehidupan ini. Kegagalan, misalnya, dalam berbagai aspek kehidupan, terkadang diperlukan untuk mencapai kesuksesan. Dalam banyak cerita kehidupan dari orang-orang sukses, kegagalan menjadi semacam faktor pembeda dengan sukses, yang diturunkan guna menguatkan dorongan untuk sukses dalam diri seseorang.


Bayangkan, jika perjalanan hidup kita ini tidak pernah berhadapan dengan aral dan rintangan. Berjalan lurus saja, tanpa sekalipun berinteraksi dengan hal-hal yang menyulitkan. Tentu tidak indah dan sangat menjenuhkan, bukan? Kita hanya akan menemukan satu irama hidup yang monoton, dan lama-kelamaan akan membosankan. Saya baru dapat merasakan betapa nikmatnya memiliki kondisi badan yang sehat, setelah delapan hari terkapar di rumah sakit dengan infeksi lambung yang sangat menyiksa? Kenikmatan yang sangat berlebih, baru saya rasakan kembali, ketika badan terasa bugar, kemudian berpengaruh kepada kesegaran pikiran saya, dan serta-merta seluruh organ tubuh saya pun menjadi sangat berfungsi.


Di sini terbukti bahwa masalah sesungguhnya membantu kita menemukan makna kenikmatan atau kesuksesan. Masalah diciptakan sebagai sisi lain dari kebahagiaan atau kesuksesan. Selalu ada sisi lain dari segala sesuatu. Kesediaan untuk melihatnya merupakan peluang untuk membuat hidup kita lebih mulia.(AD)



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 26 September 2010, pukul 7.26 WIB.

Tuesday, September 21, 2010

Maksud Hati Beri Berkah, Apa Daya Bawa Musibah


“Beri dia ikan dan engkau memberinya makan untuk sehari.

Ajari dia memancing ikan dan engkau memberinya makan untuk selamanya.”

—Konfusius




Tak jarang saya diminta untuk mengajak teman atau sanak-saudara terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang saya tekuni, berhubung mereka menganggur. Mengajak sih bukan soal bagi saya. Persoalannya, saya tidak tahu apa keahlian yang mereka miliki. Kalaupun tahu, saya tidak mengerti bagaimana keahlian mereka itu bisa dipadankan dengan pekerjaan saya di bidang penulisan materi komunikasi pemasaran dan korporat. Bila tidak membantu, nanti saya dianggap hanya mau kaya sendiri. Tetapi, bila membantu, nanti bukan berkah yang saya beri, malah musibah. Bayangkan saja, apa iya orang yang ahli dalam bidang konstruksi bangunan, misalnya, mau saya ajak menulis naskah audio-visual untuk, misalnya, profil video klinik perawatan kecantikan? Saya kira, ia akan malah ketiban stres.


Banyak orang yang tidak menyadari keahlian maupun potensi yang mereka miliki. Potensi adalah sesuatu yang masih laten, yang jika dimanifestasikan melalui kerja akan melahirkan keahlian. Banyak orang lebih suka mengemis pekerjaan, atau bahkan mengemis upah tanpa mau bekerja, dan membiarkan orang lain menggali keahlian mereka. Tak sedikit orang yang dengan pasrah berkata, “Pekerjaan apa aja deh, terserah. Yang penting saya bisa mendapatkan uang.” Mereka tergolong kaum fatalis, menyerah pada nasib, menafikan kesejatian bahwa pada dasarnya setiap manusia berguna untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya melalui segenap potensi yang mendiami dirinya, yang menanti untuk dimanifestasi.


Di penghujung upaya yang terus-menerus gagal untuk mendapatkan pekerjaan yang melaluinya mereka dapat memperoleh kesejahteraan, alih-alih menciptakan sendiri pekerjaan, mereka malah mengemis. Percaya atau tidak, mengemis adalah dosa besar lantaran pelakunya menafikan karunia Yang Kuasa yang telah membekali setiap manusia dengan berbagai kemampuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi dirinya.


Memberi uang kepada peminta-minta pun sesungguhnya juga merupakan dosa, karena tanpa kita sadari kita telah mencelakainya. Alih-alih memberikan uang, lebih baik ajari dia mencari uang, sehingga tatkala tak ada orang yang mau memberinya uang, dia dapat mengerahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk mencetak uang melalui keahliannya yang direalisasi lewat pekerjaan.


Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), Indonesia melaporkan angka kemiskinan sebesar 13,3 persen atau berkisar 31,02 juta jiwa (Kompas 22/9/2010, hlm. 1). Di sekitar kita ada lebih dari 30 juta orang yang sebaiknya mulai diajari memancing ikan alih-alih dibantu dengan memberinya ikan, yang bukannya membuat kemiskinan terentaskan, malah menjadikan kurvanya semakin menanjak. Maksud hati beri berkah, apa daya malah bawa musibah.(AD)



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 22 September 2010



Monday, September 13, 2010

Bunglon Lingkungan

“Lampu-lampu itu berbeda-beda, tetapi cahayanya sama, berasal dari sumber yang satu.”

—Jalaluddin Rumi

“Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.”

—Peribahasa



Seorang pria Arab bergegas mengambil sajadahnya begitu tetangganya menyambangi rumahnya di Mekah untuk mengajaknya salat Jum'at. Saat itu bulan Ramadan, dan seperti umat Islam lainnya ia pun berpuasa, membayar zakat pada Hari Raya Idul Fitri dan mengerjakan salat sendirian maupun berjamaah. Pokoknya, tidak ada yang janggal atau berbeda pada pria itu kecuali bahwa ia sebenarnya non-muslim. Tanpa sepengetahuan keluarga dan lingkungannya ia telah meninggalkan agamanya semula dan memeluk agama lain. Lantas, mengapa ia mau saja diajak mengerjakan syari'at Islam? Ia lakukan itu dalam rangka harmonisasi dirinya dengan lingkungan di mana ia tinggal. Tetangga, kerabat dan sahabatnya belum tentu akan menerima, bahkan mungkin akan merasa sakit hati bila mengetahui dirinya telah berganti agama, walaupun keimanan dan keyakinan merupakan urusan hati yang hanya Yang Kuasa dapat mengaturnya. Ia menjadi laksana bunglon yang mampu mengharmonisasi warna kulitnya dengan tempat di mana ia hinggap.


Kisah itu diceritakan ke saya oleh saudara Subud saya yang sehari-harinya seorang ustad dan dosen matakuliah akidah akhlak di Universitas Muhammadiyah Jakarta, setelah saya bertanya padanya bilamana saya menyampirkan keyakinan tertentu di hati saya, yang berbeda dari yang dianut keluarga saya. Saya dinasihati agar senantiasa menjadi bunglon lingkungan di tengah kondisi masyarakat yang masih sulit menerima kenyataan bahwa anggotanya telah berganti agama.


Menjadi bunglon lingkungan, menurut hemat saya, bukan cuma untuk urusan agama saja, melainkan untuk berbagai hal lainnya yang berpotensi menimbulkan kesenjangan atau ketidaksesuaian. Memang kesannya menipu diri sendiri, bertentangan dengan hati nurani, tetapi berusaha menjadi bunglon lingkungan merupakan sarana untuk belajar rendah hati dan menghormati orang lain. Jika kita kaya-raya -- setelah sebelumnya miskin -- tak ada salahnya untuk menjadi bunglon di lingkungan tak berpunya di mana kita sebelumnya bersumber, untuk menghindari kedengkian dan kecemburuan sosial. Pada intinya, toh antara kaya dan miskin tidak ada bedanya, kecuali pelakunya merasa harus membedakan dirinya demi gengsi belaka.


Tenggang rasa dan berbagi yang dilandasi respek dan kesediaan untuk menerima perbedaan dengan sabar dan ikhlas merupakan rem yang dapat menjauhkan kita dari kecenderungan untuk membedakan diri secara berlebihan dari lingkungan yang mungkin tidak sesuai dengan cara hidup atau cara pandang kita. Yang kaya dapat menjadikan dirinya tidak kelewat menonjolkan harta benda atau sebaiknya menyamai kedudukannya dengan yang miskin. Yang pandai dapat membagi ilmunya agar yang bodoh tidak tertinggal, dan mengajaknya berdiri sama tinggi dalam bidang keilmuan. Zakat, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad, hakikatnya bermakna mengisi kekurangan orang lain agar kesejahteraan dapat merata. Dan itu bukan hanya menyangkut harta atau bahan pangan, tetapi juga segala sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, sedangkan kita memilikinya secara berlebihan. Bila tetangga kita, misalnya, susah tertawa lantaran mengalami derita batin, kita dapat menzakatinya dengan aksi yang mampu membuatnya tertawa, seperti menceritakan kisah jenaka atau memberinya motivasi.


Yang beragama tertentu dapat menghapus perbedaan dengan penganut agama lainnya dengan tidak memaksakan kebenaran ajaran agamanya dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Kemajemukan dalam keberagamaan bukan soal mendorong kerukunan antar umat beragama, melainkan menciptakan kerukunan antar umat bertuhan yang dilandasi keinsafan bahwa Tuhan esa adanya. Ajaran agama boleh berbeda-beda, tetapi Tuhan tetap satu -- kecuali Anda menganut politeisme.


Ketidaksesuaian pendapat atau pandangan atau sikap yang berdampak pada pergesekan umumnya disebabkan oleh ketidaksudian individu atau kelompok untuk menyesuaikan warna kulit dengan lingkungan di mana ia atau mereka hinggap, dan bersikap rendah hati terhadap perbedaan. Bukannya menjadi berbeda itu dosa atau terlarang, tetapi adakalanya kita perlu bersikap sama atau sesuai dengan lingkungan di mana kita hidup demi terciptanya harmonisasi, yang menguntungkan kedua belah pihak. Toh hanya sementara. Lagipula kesejatian kita terdapatnya di dalam, secara batiniah, dan tidak perlu kita munculkan ke permukaan lahiriah kita. Nurani saya bisa saja berkeyakinan berbeda, tetapi berhubung kerabat dan masyarakat belum sepenuhnya bisa menerima, saya pun memilih menjadi bunglon lingkungan.(AD)



Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, 13 September 2010

Wednesday, September 8, 2010

Maaf, Nikmatnya Luar Biasa!


“Orang bodoh tidak pernah memaafkan dan melupakan, orang lugu bersedia memaafkan dan melupakan,

orang yang bijak memaafkan tetapi tidak melupakan.”

—Thomas Szasz, The Second Sin (1973), “Personal Conduct”.



Tahun 2009 lalu, saya berselisih dengan salah seorang rekan lantaran sebuah tanggung jawab yang dilalaikannya, tetapi ia tidak terima dipersalahkan karenanya, dan menuduh saya sok kuasa. Parahnya, ia menggalang pendukung dari para anggota seksi dari organisasi di mana kami bernaung, yang dikoordinatorinya, untuk bersama-sama menyerang saya. Kami perang kata-kata di milis, yang makin lama makin menyadarkan saya bahwa itu konyol. Sehingga akhirnya saya meminta maaf kepada rekan ini.


Rupanya itu belum cukup baginya, walaupun ia menyambut baik permintaan maaf saya. Dalam rapat yang digelar kemudian antara seksi itu dengan jajaran pengurus pusat yang menaunginya si koordinator menuntut saya meminta maaf kepada seluruh anggota seksi, karena kata-kata saya dianggap telah menyinggung perasaan mereka. Tentu saja, saya merasa dipermalukan di depan umum, tetapi saya turuti permintaan mereka, demi agar persoalan itu tidak menjadi berkepanjangan dan membuat kami semua tampak konyol. Disaksikan oleh sekian banyak peserta yang berjubel di ruang rapat itu, dengan tegar dan rendah hati saya ucapkan kata-kata maaf. Dampaknya, saya merasakan sesuatu yang luar biasa menyelimuti diri saya. Sesuatu yang sulit digambarkan, tetapi rasanya nikmat sekali. Diri saya serasa membesar, lebih besar dari alam semesta; serasa duduk di singgasana dan orang-orang yang saya hadapi itu mengecil, menjadi tak berarti sama sekali.


Meminta maaf dengan tulus, walaupun kita berada di pihak yang tidak bersalah, ternyata menyejukkan hati kita maupun orang yang kepadanya kita meminta maaf. Permintaan maaf mendudukkan kita di singgasana kemuliaan. Melalui maaf, kita memuliakan orang yang kepadanya kita minta maaf, tetapi sekaligus memuliakan diri kita di atas segalanya. Saya tidak punya teori tentang bagaimana kata maaf dapat berdampak menyehatkan secara fisik maupun emosional, namun pengalaman saya membuktikan demikian adanya.


Bagi kebanyakan orang, ternyata, meminta maaf itu sulit. Dan telah menjadi mitos yang melegenda bahwa permintaan maaf secara tulus merupakan pekerjaan terberat yang pernah ada. Grup musik yang populer di era 1970an hingga 1980an, Chicago, melantunkan dalam tembang mereka “It’s hard for me to say I'm sorry”, juga Elton John bilang “Oh it seems to me, sorry seems to be the hardest word...” dalam salah satu lagunya yang berjudul Sorry Seems to Be the Hardest Word (1976). Apa iya meminta maaf sesulit itu?


Kesulitan itu utamanya disebabkan lantaran kita sukanya merasa di pihak yang benar, tidak sudi disalahkan. Walaupun mungkin kita yang benar, tidak ada salahnya sesekali kita rela untuk mengalah dan merasa diri sebagai yang salah. Di dunia di mana banyak orang mengklaim dirinya benar, menjadi orang yang salah serasa berkuasa atas dunia. "Di negeri orang buta, orang yang bermata satu adalah raja," demikian bunyi sebuah pepatah kuno. Dengan memposisikan diri kita sebagai yang salah, kita punya lebih banyak kesempatan untuk melihat kebenaran yang sejati; kita tak terbutakan oleh kebenaran kita sendiri yang lebih mengacu pada pembenaran. Paling tidak, pengalaman saya menuturkan begitu.


Permintaan maaf tidak kenal waktu dan ruang. Tidak perlu menunggu Lebaran untuk memohon maaf. Kapan saja ada kesempatan mintalah maaf terlebih dahulu apabila Anda sedang terlibat dalam perselisihan dengan orang lain. Mengesampingkan dampak sosialnya, perselisihan berkepanjangan nyatanya menurunkan derajat kesehatan psikis dan, akhirnya, juga fisik kita. Orang-orang yang didera depresi disebabkan oleh prasangka-prasangka berlebihan yang ditimbulkan oleh konflik pribadi yang berkepanjangan dengan orang lain atau acap menyalahkan lingkungan atas derita yang kita terima. Obatnya hanya satu: memaafkan diri sendiri dengan memaafkan orang lain atau lingkungan di mana kita berada, dengan tulus ikhlas, lahir dan batin. Buktikan sendiri, jika tidak di lain waktu ya di saat kita sambut Hari Raya Idul Fitri ini, bahwa meminta maaf nikmatnya luar biasa.©



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, 9 September 2010.

Sunday, September 5, 2010

Puasa Setiap Hari, Selamanya


"Dengan pendisiplinan diri dan pengendalian diri Anda bisa mengembangkan karakter yang hebat."

--Grenville Kleiser



Tanggal 30 Agustus 2010 lalu, saya mendengar keponakan saya bertanya, "Puasa berapa hari lagi, sih?" Mengetahui kemudian bahwa bulan Ramadhan masih tersisa sepuluh hari lagi, ia bersorak, "Horee, puasa udah mau abis!"

Di lain pihak, ada orang-orang, kaum muslim, yang merasa akan merindukan bulan Ramadhan, karena mereka anggap bulan inilah satu-satunya momen di mana spiritualitas mereka menjadi lebih kaya. Di luar Ramadhan, mereka pikir, kerohanian sulit dikembangkan, apalagi dengan godaan duniawi yang demikian gencar lantaran cahaya Ramadhan tidak lagi memancar. Justru dengan 'godaan duniawi' itu puasa menjadi kian bermakna, lantaran kita tertantang untuk mulai mengendalikan diri dan hawa nafsu.

Secara umum, puasa memang dianggap merupakan ritual periodik yang mensyaratkan waktu-waktu tertentu untuk menjalankannya. Tetapi yang kerap dilupakan adalah bahwa puasa bukanlah dominasi Islam. Saya pernah beberapa tahun berturut-turut berpuasa selama seratus hari, yang tak pelak menimbulkan pertanyaan dari sekitar mengenai dalihnya dalam ajaran Islam. Padahal puasa merupakan tradisi asketisme (berzuhud, menjauhkan diri dari keduniaan) yang terdapat pada berbagai agama dan jalan spiritual.

Secara historis, masa berpuasa diadakan, tidak saja dalam agama Islam, tetapi juga pada berbagai agama lainnya, baik yang lahir di Asia Barat maupun Asia Selatan dan Timur, untuk menegakkan latihan pengendalian diri secara fisik, mental dan emosional, yang bukan cuma menahan lapar dan haus, tetapi juga aspek-aspek kebutuhan dasar manusia lainnya. Jadi, esensi puasa bukan terletak pada pengendalian diri agar tidak makan dan minum selama jangka waktu tertentu, melainkan pada pengelolaan nafsu-nafsu, baik pada masa yang ditentukan maupun sebelum dan setelah lewat masa itu.

Tampaknya banyak yang hanya tahu puasa sekadar menahan lapar dan haus, bukannya mengendalikan diri secara mental dan emosional, sehingga Nabi Muhammad pun bersabda bahwa selama bulan Ramadhan banyak yang menahan lapar dan haus, namun sedikit sekali yang sesungguhnya berpuasa. Tak mengherankan, jika ketika waktu berbuka puasa tiba kebanyakan kita tak ubahnya hewan liar yang baru dilepas dari kandangnya.

Puasa seharusnya menjinakkan hewan di dalam diri kita, bukannua mengikatnya untuk dilecuti hingga menjadi kian beringas. Ketika saya tahu bahwa para sufi tak sedikit yang melakoni puasa setiap hari untuk selamanya, saya sempat heran: Lha kok boleh? Kok bisa? Itu lantaran pengetahuan saya tentang puasa hanya terbatas pada upaya menahan lapar dan haus selama kurun waktu tertentu; tidak mengerti bahwa puasa bertujuan untuk melatih pengendalian diri, setiap hari untuk selamanya.

Dan itu yang sesungguhnya dilakoni para sufi, juga para biksu yang hidup selibat di wihara-wihara Buddhis, dan para asketik lainnya: bukan berpuasa sebagaimana pada bulan Ramadhan, yang mensyaratkan makan sahur sebelum waktu subuh tiba, dan menyantap sajian 'yang manis-manis' pada waktu magrib, melainkan mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan dosa, yang merugikan orang lain dan, akhirnya, diri sendiri. Makan-minumnya tidak berlebihan, sukanya tidak melampaui dukanya dan sebaliknya, segala sesuatu tidak dilebih-lebihkan sehingga memabukkan diri, membuat diri lupa bahwa 'arah dan tujuan' tindakan dan pemikiran bukanlah tindakan dan pemikiran itu sendiri, melainkan hasil atau kegunaan daripadanya. Dan hal itu melampaui ruang dan waktu; di mana saja dan kapan saja!

Tidak banyak orang yang menjalankan puasa secara hakiki. Banyak yang hanya menahan lapar dan haus belaka, sebagaimana ditandaskan Nabi Muhammad. Secara hakiki, puasa bermakna pengheningan diri, bersahabat dengan kekinian (yang kadang penuh suka, kadang sarat duka), sebagaimana semadi yang bernuansa pembebasan dari kemelekatan terhadap ego, dan (seyogianya) berlangsung sepanjang masa. Tanpa keinsafan akan hal ini, maka puasa akan turun derajatnya, menjadi sekadar ritual tahunan, sebagai 'syarat' untuk sampai pada hari yang penuh fitrah. Jika demikian, Ramadhan akan kehilangan kesyahduannya, kedamaiannya yang khusyuk. Bagi sebagian kita bahkan melewati bulan suci ini (bukan bulannya yang suci, melainkan kitanya yang mesti menyucikan diri selama bulan ini) sekadar sebagai tindakan menggugurkan kewajiban.

Tak mengejutkan, sesungguhnya, apabila di antara mereka yang berpuasa selama bulan Ramadhan masih ada yang suka menzalimi sesamanya, sesama saudara kandung bermusuhan, merendahkan kaum papa, berkata fitnah, bersikap tidak sabar dan tidak ikhlas, mengeluhkan keadaan yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya, mencelakakan orang lain, dan lain-lain perbuatan yang tergolong dosa. Kalau Anda mengira mentang-mentang sudah sanggup menahan lapar dan haus maka dosa-dosa Anda bakal diampuni, Anda salah besar! Bila kesalahan kita termasuk menyakiti orang lain, coba renungkan bagaimana doa orang itu terhadap kita. Dan doa orang yang teraniaya senantiasa dikabulkanNya. Tak peduli walaupun kita sudah susah-payah menahan lapar dan haus.(ad)


Cilandak Barat, Jakarta Selatan, 6 September 2010