Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Hidup untuk Melayani



“Kekayaan, seperti halnya kebahagiaan, tidak akan dapat dicapai jika dikejar secara langsung. Ia merupakan produk tambahan dari pemberian layanan yang bermanfaat.
Henry Ford  


Bidang pekerjaan saya—komunikasi merek, yang dianggap termasuk ranah dukungan pemasaran (marketing support), acap menghadapi pemasar (marketer) atau pengiklan (advertiser) yang membagi industri mereka ke dalam dua kategori: industri manufaktur (pembuat) dan industri jasa (melayani konsumen). Sehingga, atas dasar itu, perusahaan komunikasi merek, dalam hal ini tim kreatif beserta perencana strategis dan perencana media, diharapkan membedakan bahasa dan media komunikasi yang digunakan untuk masing-masing kategori. Industri manufaktur dianggap memiliki produk yang wujud (tangible), sedangkan industri jasa dipandang sebagai penyedia produk tak-wujud (intangible).

Sesungguhnya, jika ditilik lebih jauh, kedua industri hadir hanya untuk melayani pihak lain, atau yang dewasa ini dikenal sebagai pemangku kepentingan (stakeholder). Tidak ada industri yang eksis tanpa kepentingan untuk melayani kebutuhan pihak lain. Dan hakikatnya, hidup ini pun mengharuskan segala sesuatu di dalamnya untuk melayani kebutuhan yang lain, saling menunjang, saling melengkapi, saling menghidupi! Hidup ini, sejatinya, adalah untuk melayani.

Penulis melayani kebutuhan pembaca akan bacaan yang bermutu, desainer grafis melayani kebutuhan akan penataan visual yang artistik yang pada gilirannya memuaskan pemirsa, seniman melayani penikmat seni, orang tua melayani kebutuhan anak-anak akan kasih sayang, guru melayani kebutuhan murid akan ilmu. Lebih luas lagi, angin melayani kebutuhan makhluk untuk beroleh kesejukan, menjadi sumber pembangkit listrik, membantu anak-anak bermain layangan, membantu pelayaran, dan lain-lain. Api melayani kebutuhan untuk memasak makanan, menghangatkan dunia, membuat uap dari air, dan lain-lain. Air memuaskan dahaga, menyiram tanaman yang pada gilirannya menghasilkan buah untuk melayani pemangku kepentingannya, yaitu manusia dan hewan.

Pendek kata, ada rantai layanan dalam hidup kita ini. Yang satu melayani yang lain, yang lain melayani yang lainnya lagi, hingga kembali ke yang satu itu. Berputar terus dalam pola lingkaran. Dengan demikian, tidak ada satu pun di dalam hidup ini—maupun dalam mati—yang tidak ada gunanya. Semua ada gunanya, dan saling melengkapi. Albert Einstein mengatakan bahwa Tuhan tidak melempar dadu; artinya dalam menciptakan hidup dan kehidupan di dalamnya Dia tidak melakukannya untuk kesia-siaan, untuk sekadar menebak apa keluarannya (outcome) dari segala perbuatan dan pemikiran, perkataan dan perasaan manusia beserta makhluk-makhluk lainnya.

Semua yang diciptakan Tuhan untuk hidup dan kehidupan ada maksudnya. Soal apakah maksud itu tampak nyata atau tersembunyi, sehingga kita harus menggalinya terlebih dahulu lewat berbagai laku kehidupan yang tak jarang bersifat keras dan berat, itu urusan belakangan. Jalani saja hidup ini dengan sikap berserah diri yang sabar, ikhlas dan tawakal. Terus berusaha dengan memanfaatkan segala sumber daya, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Karena hidup adalah untuk melayani, maka, sebagaimana para pekerja di industri manufaktur dan jasa, kualitas merupakan prasyarat utama. Eksistensi kita dalam hidup ini sudah pasti ada manfaatnya, tetapi agar manfaat itu memiliki karakteristik keberlanjutan (sustainability), kita pun wajib senantiasa meningkatkan kualitas dari manfaat itu. Tanaman buah, misalnya, memang memberi manfaat kepada makhluk lain lewat produknya (buah yang bisa dimakan), tetapi agar bisa melayani lebih banyak lagi pemangku kepentingan maka kualitas si tanaman buah harus ditingkatkan, misalnya dengan diberi pupuk atau dirawat secara khusus demi menghasilkan buah yang lebih banyak jumlahnya, lebih segar dan lebih banyak kandungan gizinya.

Sebagai manusia, kita dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, agar kebermanfaatan kita dapat menjangkau lebih banyak pemangku kepentingan. Tuntutan itu tidak hanya berasal dari orang lain, tetapi juga dari diri sendiri, karena masing-masing kita memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Dan pada gilirannya, dampak dari aktualisasi diri kita dapat dirasakan oleh orang lain.

Karena latar belakang saya adalah penulis naskah materi komunikasi pemasaran dan korporat (copywriter), maka saya sering mengamati tulisan-tulisan karya orang lain. Tak jarang saya menjumpai tulisan-tulisan yang menafikan perannya untuk melayani kebutuhan pembaca. Bukan hanya tulisan-tulisan yang resmi atau untuk dijual, tetapi juga tulisan-tulisan kasual dan pribadi, seperti surat cinta atau puisi atau pesan singkat lewat telepon seluler atau surat elektronik (e-mail). Maksud hati menyambung tali silaturahmi, apa daya malah memutuskannya.

Ada penulis yang mengabaikan tanda baca, susunan kalimat yang berantakan atau tidak relevan satu sama lain, penggunaan istilah yang tak jarang hanya dimengerti oleh penulisnya, pembagian alinea yang tidak jelas atau alinea yang mestinya bisa dibagi menjadi beberapa bagian malah dijadikan satu, sehingga pembaca tidak diberi kesempatan untuk istirahat sejenak dan merenungkan tulisan itu. Saran saya kepada Anda yang ingin menjadi penulis: Bila Anda tidak memiliki spirit melayani pembaca, jangan deh jadi penulis!

Ini berlaku bagi semua bidang pekerjaan; jika Anda tidak punya semangat melayani pemangku kepentingan dari pekerjaan Anda, sebaiknya jangan lakukan pekerjaan itu. Sia-sia saja, dan pada akhirnya toh Anda akan mengalami kejenuhan dengan pekerjaan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, walaupun Anda digaji. Karena tampaknya sudah menjadi kodrat bahwa kita ini makhluk yang butuh dilayani oleh orang lain, dalam wujud yang tidak melulu uang, tetapi, yang lebih penting, juga pengakuan yang sifatnya tak-wujud.(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 7 Mei 2011

Akibat Mengabaikan Peluang Yang Lewat



Ada sebuah kisah Sufi yang memikat tentang dua orang teman yang bertemu setelah berpisah sekian lama. Yang satu sudah menikah, yang lainnya masih lajang. Pria yang sudah menikah bertanya pada kawannya yang masih lajang tentang kehidupan cintanya. Kawannya yang masih lajang menjelaskan bahwa beberapa bulan yang lalu ia mengira telah menemukan wanita yang sempurna. “Ia memiliki wajah yang cantik,” katanya. “Penampilannya luar biasa.” “Lalu, kenapa kamu tidak menikahinya?” kawannya yang sudah menikah bertanya. “Hmm,” jelas si pria lajang, “ia tidak terlalu pandai.”

Ia terus bercerita bahwa beberapa minggu kemudian ia menemukan wanita lainnya yang ia kira sempurna. “Ia sama cantiknya dengan wanita pertama dan sama cerdasnya.” “Lalu kenapa kamu tidak menikahi wanita ini?” tanya kawannya. “Hmm, ia memiliki suara yang berbunyi seperti kuku yang digesek ke papan tulis.” 

Pria yang sudah menikah mengangguk, tetapi sebelum ia dapat mengatakan sesuatu kawannya yang lajang melanjutkan: “Kemudian, minggu lalu aku akhirnya bertemu dengan wanita yang sempurna. Ia cantik, ia pintar, dan suaranya begitu lembut dan menyejukkan.” “Baiklah, kapan pernikahannya dilangsungkan?” pria yang sudah menikah bertanya. “Tidak ada pernikahan,” kawannya menjelaskan. “Tampaknya ia mencari pria yang sempurna.” 

Pria yang lajang itu tetap melajang, ia memiliki banyak peluang untuk menikah tetapi ia melewatkannya.

Moral dari kisah ini adalah: Jangan pernah melewatkan peluang yang lewat di depan Anda, karena Anda takkan pernah tahu apakah peluang itu membawa rezeki bagi Anda atau tidak jika tak menangkapnya.

Menjaga Keseimbangan

Seminggu belakangan ini, saya memanfaatkan waktu luang di sela-sela kesibukan kerja maupun akhir pekan untuk membaca buku karya Iwan Santosa, Legiun Mangkunegaran (1808-1942): Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2011). Ada sesuatu yang menarik dan unik dibahas dalam buku yang mengkaji sejarah pasukan elit dari Pura Mangkunegara, Surakarta, ini, yaitu sosok Raden Mas Said, yang bergelar Mangkunegara I.

Keunikannya terletak pada kenyataan bahwa RM Said selain dikenal sebagai pemimpin militer dan ahli strategi perang yang mumpuni, dirinya juga merupakan pujangga dan seniman yang kreatif. Hasil karya seni gubahannya termasuk tarian-tarian tradisional Jawa yang dipertunjukkan di lingkungan Keraton Mangkunegaran, antara lain Tari Bedhaya Anglirmendhung Senapaten.

Membaca tentang sosok RM Said, yang pernah bergerilya selama 16 tahun melawan ketimpangan di Kerajaan Mataram, saya teringat pada para kesatria Samurai di Jepang purba. Kita telanjur mendapatkan gambaran tentang mereka kebanyakan dari film laga atau literatur hiburan, di mana para kesatria Samurai tampil sebagai jagoan pedang yang membunuh lawan-lawan mereka tanpa ampun dengan kemahiran seni bela diri.

Padahal, selain keahlian bertarung dengan senjata maupun tangan kosong, para kesatria Samurai juga hebat dalam bidang kesusastraan, kaligrafi, kuliner, bercocok tanam, astronomi, peternakan, dan lain-lain yang tak ada hubungannya dengan pertarungan bersenjata! Hal itu mencerminkan bahwa kaum Samurai menerapkan keseimbangan dalam hidup mereka. Bidang-bidang non-militer tadi mengasah rasa, emosi maupun spiritualitas mereka, sehingga ketika menghadapi lawan mereka cenderung mementaskan sikap yang penuh kasih (compassion) dan sebisa mungkin menghindari pertumpahan darah.

Memang, kekesatriaan (knighthood) bukan semata tentang mengumbar kepahlawanan dengan menaklukkan musuh yang datang menyerang, tetapi yang lebih penting adalah menumbuhkan keberanian untuk menaklukkan diri sendiri. Bidang-bidang non-militer yang saya sebutkan di atas dilakoni dalam rangka melatih kesadaran meditatif untuk mengendalikan emosi, menenteramkan diri, yang ujung-ujungnya menghasilkan keseimbangan diri yang sempurna.

Semakin modern, kehidupan kita tampaknya semakin menjauhkan diri kita dari keseimbangan. Sebagian besar manusia dewasa ini, utamanya di kota-kota besar, hidup dalam ketidakseimbangan antara keberdayaan jasmani dan rohani. Materi dikejar untuk memperkaya diri atau untuk memperoleh kepuasan semu dari kebendaan, yang pada akhirnya hanya digunakan untuk membayar harga mahal dari kesehatan jasmani dan rohani. (Ketika menulis alinea ini, saya merenungkan karir saya yang 24 Oktober ini mencapai usianya yang ke-17 maupun usaha saya mengembangkan bisnis yang saya tekuni sembilan bulan belakangan ini: Apakah worth it jika dibayar dengan stres dan sakit badan yang saya derita dalam mencapai kebahagiaan lahir dan batin yang saya dambakan?)

Praktisi periklanan kelas wahid dunia, William Bernbach, yang bersama dua orang lainnya mendirikan perusahaan periklanan bernama DDB (Doyle, Dane, Bernbach), suatu kali berujar, “Saya tidak pernah bekerja pada akhir pekan, karena saya mencintai keluarga saya.” Tahun 1997, saya menjadi Creative Group Head di sebuah biro iklan papan atas di Jakarta yang berafiliasi pada DDB, di mana presiden direkturnya justru mengharuskan para karyawan bekerja pula pada akhir pekan, jika situasinya menuntut demikian (biasanya ketika mempersiapkan presentasi pitching). Menggugat hal itu, saya pun mengemukakan kata-kata Bernbach di atas kepada creative director saya, yang pada gilirannya mengomentarinya sambil bergurau, “Makanya Bos kita tidak sesukses Bill Bernbach!”

Kehidupan kita dewasa ini dicekoki dengan gagasan-gagasan tentang kesuksesan, yang maknanya justru kabur. Para motivator dan konsultan kepemimpinan bisnis mengumbar keahlian bicara mereka untuk menggerakkan publik kepada kesuksesan, yang tumpat dengan ‘pemenuhan keinginan untuk mencapai’, bukannya malah membantu menumbuhkan kesadaran hakiki bahwa apa yang ingin dicapai sebenarnya sudah ada di tangan. Sukses yang mereka janjikan adalah suatu titik yang berada di ujung jalan perjuangan, bukan yang mengiringi perjalanan kita hingga akhir.

Baru-baru ini, saya dirayu seorang kawan untuk menekuni bisnis berkonsep pemasaran multijenjang (multi-level marketing). Empat cakram padat dan beberapa buku yang menceritakan pengalaman mereka yang ‘sudah berhasil’ diberikan ke saya secara cuma-cuma. Semuanya memberikan gambaran tentang ‘sukses pada akhirnya’, bukan ‘sukses sepanjang jalan, dari awal hingga akhir’, yang kiranya hanya dapat dicapai dengan kita melakoni kehidupan yang seimbang.

Tujuan utama bekerja, yaitu untuk memanifestasikan potensi-potensi kemanusiaan kita, telah demikian diabaikan. Tak mengherankan jika pribadi yang bekerja dengan cinta sudah amat langka sekarang, dibandingkan dengan mereka yang bekerja karena terpaksa—demi sintas di tengah kehidupan yang memuja kebendaan—lantaran bidang pekerjaan yang sungguh-sungguh mereka cintai (dan dengan demikian memperkaya batin mereka) tidak menjanjikan materi yang berkelimpahan.

Mencapai keseimbangan hidup bukanlah tidak mungkin, namun tidak mudah, selama pola pikir Anda masih terbelenggu pada paradigma bahwa bekerja saja merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, dan bahwa uang merupakan satu-satunya yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan. Kiranya Anda perlu merenungkan kembali apa tujuan Anda bekerja—apakah untuk memenuhi kebutuhan atau hanya untuk memuaskan keinginan akan kebendaan?

Sebuah kampung nelayan di pesisir Kabupaten Jayapura, Papua, yang saya kunjungi pada pertengahan tahun 2009 menghadiahi saya kearifan tentang kehidupan yang seimbang. Penduduk pria Kampung Bukisi, Distrik Yokari, Kabupaten Jayapura, sedang asik bersantai di bawah keteduhan pohon kelapa di bibir pantai yang pasirnya yang putih bersih berangkulan mesra dengan birunya air Samudra Pasifik. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Membandingkan dengan diri saya yang pada jam itu setiap hari kerja justru mulai bekerja, tentu keasikan para pria tersebut mengherankan saya. “Bapak tidak bekerja?” tanya saya pada salah satu dari mereka, mengabaikan kemungkinan pertanyaan semacam itu dianggap tidak sopan.

Jawabannya mencengangkan saya. Si bapak mengatakan kepada saya, jika tujuan bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, penduduk Bukisi sudah diberkahi dengan kekayaan alam yang hanya memerlukan waktu, pikiran dan tenaga sedikit untuk menggali dan mengolahnya. Sisa waktu dan tenaga, yang tentunya berlimpah, mereka gunakan untuk bersantai, agar mereka dapat kembali bekerja dengan riang gembira keesokan harinya!

Intinya, kita harus senantiasa menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmani/duniawi dan rohani (emosi dan spiritual), tidak njomplang (berat sebelah) salah satunya. Keduanya saling menopang; yang satu membuat yang lain terberdayakan dengan baik. Dengan keseimbangan yang sempurna, terciptalah sukses yang mengiringi sepanjang jalan, dari awal hingga akhir.©



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 22 Oktober 2011

Tuesday, September 18, 2012

Mengejar dan Dikejar


“Bagian dari hidupku ini... Bagian ini tepat di sini. Inilah yang disebut ‘kebahagiaan’.”
—Chris Gardner (diperankan oleh Will Smith) dalam film The Pursuit ofHappiness(2006)

“Kebahagiaan adalah seperti kupu-kupu yang, jika dikejar, selalu berada di luar jangkauan kita, tetapi, jika Anda duduk dengan tenang, ia akan menyinari Anda.”


Saya suka sekali melarikan diri dari masalah yang datang menghadang. Bukannya menjauh, atau tertinggal di belakang, masalah malah terus mengejar saya. Akhirnya, saya pun lelah juga berlari, dan memutuskan untuk berhenti dan berdiri tegak ditopang oleh kekuatan bernama kerendah-hatian dengan wajah tersenyum menghadap ke arah masalah. Hati saya dipenuhi keyakinan bahwa apabila saya hadapi, maka masalah itu pun akan berhenti merongrong saya. Benar saja!

Tampaknya, alam telah menetapkan bahwa akibat dari mengejar adalah dikejar, dan bahwa kita akan dikejar apabila kita melarikan diri. Kebahagiaan, kekayaan, dan kesuksesan, ungkap novelis dan cerpenis Amerika, Nathaniel Hawthorne (1804-1864), ibarat kupu-kupu yang justru akan terbang menjauh ketika kita berusaha menangkapnya, tetapi akan menghinggapi kita ketika kita berdiri diam di kekinian seperti bunga, yang memancarkan keindahan.

Artinya, tinimbang mengejar kebahagiaan, jadilah kebahagiaan itu sendiri. Jauh lebih baik apabila kebahagiaan itu kita pancarkan dari diri kita lewat perkataan dan perbuatan, pikiran dan perasaan kita yang kita bagi-bagikan kepada siapa saja yang membutuhkannya, tanpa mengharap pamrih. Hal itulah yang membuat kita hadir laksana bunga yang diselimuti keindahan.

Sebaliknya, penderitaan, kemiskinan dan kegagalan ibarat macan yang akan terus berusaha menerkam kita bila kita lari darinya. Untuk mengalahkan problema, kita harus bersikap teguh dan tegar sekaligus lemah lembut dalam menghadapinya. Pengalaman saya selama 20 tahun berlatih seni bela diri Korea, Taekwondo, menuturkan, bahwa kelembutan (baca: kerendah-hatian) mengalahkan lawan dengan lebih mudah daripada dengan kekerasan (kesombongan dan arogansi). Lari dari masalah bukan saja melelahkan kita, tetapi kita juga membuang peluang untuk memperoleh pelajaran hidup yang berharga yang terkandung dalam masalah itu!  

Kejarlah, maka dia akan melarikan diri. Larikan diri maka dia akan mengejar. Berdiam di tempat dengan rendah hati, mengada saja di kekinian, maka dunia akan menyanjung Anda!©



Mampang Prapatan IX, Jakarta Selatan, 26 Februari 2012 

Batas Tanpa Batas



“Berhentilah berpikir mengenai keterbatasan Anda dan mulai berpikir tentang segala kemungkinan.”


Delapan tahun yang lalu, bos saya, seorang pengusaha periklanan yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, yang sedang dirundung masalah penipuan ratusan juta rupiah yang diperbuat sejumlah orang—dengan berbagai kepentingan—atas dirinya, berkeluh-kesah ke saya. Dengan sengit dan bernada sinis, pemilik beberapa perusahaan yang sudah haji itu berujar ke saya, “Menurut Qur’an, Allah tidak akan menguji kita melampaui batas kemampuan kita. Lha, ujian ini, To, sudah melampaui batas kemampuanku tapi kok ya Allah masih aja mengujiku. Yang tau batas kemampuan kita kan kita sendiri, ya kan, To?!"

Saat itu, saya, yang duduk berhadap-hadapan dengan beliau di meja di ruang kerjanya yang luas dan nyaman di kantor sebuah biro iklan papan atas di Surabaya, sebenarnya punya pertanyaan yang sama: Sampai di mana batas kemampuan kita dalam menerima ujian hidup? Siapa yang sesungguhnya mengerti batas itu?

“Maaf, Pak, saya benar-benar nggak tahu jawaban atas pertanyaan Bapak barusan. Yang saya tahu, lantaran demikian disebutkan dalam Qur’an, Allah tidak pernah menyiksa hambaNya, melainkan hambaNya menganiaya dirinya sendiri,” kata saya sambil memutar otak, meraba-raba jawaban yang tepat atas pertanyaan bos saya tentang batas kemampuan manusia dalam menghadapi ujian hidup. Barangkali, di situlah batas kemampuan berpikir saya.

Ternyata itu adalah perkiraan yang terlalu dini—jika tidak bisa dikatakan sebagai “mendahului kehendak Tuhan”. Baik secara retrospektif maupun introspektif, berdasarkan pengalaman pribadi yang sudah maupun sedang saya lalui, ternyata kita tidak menyadari kemampuan kita yang sesungguhnya! Alam sudah membekali kita dengan berbagai potensi tanpa batas. Infinitas (ketakberhinggaan) inilah yang selalu saja membuat pikiran kita yang terbatas tak menyadari betapa tak terbatasnya kemampuan kita sesungguhnya. Kita tidak percaya diri, tidak mengenal diri kita yang sejati, serta menilai diri kita kelewat rendah, sehingga tanpa sadar kita mendegradasi ciptaan Tuhan yang sejatinya tidak bercacat.

Setiap manusia, paling tidak sekali dalam hidupnya, pernah berhadapan dengan kenyataan dari kemampuan pribadi yang ia tak sangka bahwa ia memilikinya. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah didaulat untuk memberikan ceramah dalam sebuah majelis taklim ibu-ibu—sebuah kelompok pengajian yang saya sendiri belum pernah menghadirinya. Saya sendiri heran, kenapa kok saya yang diminta, sementara secara lahir saja saya tidak punya tampang ustad atau orang yang berkompeten untuk menyampaikan ajaran agama Islam, lantaran saya sudah “berpindah ke lain hati”.  Tetapi, tidak ada titik balik; saya sudah telanjur berada di hadapan lima puluhan ibu-ibu yang mengharapkan pencerahan relijius dari saya. Sebelum saya mulai buka mulut, saya menenangkan diri, memohon kepada Tuhan agar diberi tuntunan.

Yang terjadi kemudian adalah kenyataan yang berada di luar jangkauan pikiran saya. Saya berceramah dengan lancar dan mudah, menyampaikan mutiara-mutiara hikmah tentang kehidupan yang Islami, lengkap dengan tuturan yang fasih tentang muatan Al Qur’an dan Hadis, sampai para peserta majelis taklim tersebut tidak berhenti memanggil saya “Pak Ustad”, meski saya berulang kali mengingatkan mereka bahwa saya bukan ustad.

Kejadian-kejadian semacam itu bukan sekali dua kali saya alami, melainkan berulang kali, hingga saya sampai pada kesimpulan, barusan ini, yang sekaligus menjawab pertanyaan saya, yang berdampak dari pertanyaan bos saya, delapan tahun lalu: Di mana batas kemampuan kita? Siapa yang tahu batas kemampuan kita?

Kemampuan kita menjadi terbatas lantaran itulah citra diri yang tercipta di pikiran kita. Tidak jarang kita sendiri sudah membatasi kemampuan kita lewat anggapan sepihak bahwa kita tidak punya ilmu dan pengetahuannya, tidak berpengalaman, tidak punya sarana pendukungnya, takut gagal, malu, tidak yakin, khawatir jadi bahan tertawaan, dan lain sebagainya. Semuanya bersumber dari pikiran negatif tentang diri kita sendiri. Sedangkan pengalaman pribadi saya membuktikan bahwa Tuhan saja yakin bahwa kita mampu, sehingga Dia memberi kita ujian hidup “sebatas” kemampuan kita, dan kemampuan itu tanpa batas!

Pikiran, atau citra diri negatif yang diciptakan olehnya, seringkali membuat kita cenderung menyanjung-sanjung orang lain, yang kita pandang memiliki kemampuan melebihi kita, sampai tidak menyadari bahwa itu semua karunia Tuhan untuk manusia. Perhatikan, deh, kelompok-kelompok spiritual yang berlebihan memuja tokoh pendiri atau pencetusnya, yang tak jarang membuat para pengikutnya cenderung melupakan Tuhan yang berada di balik kemampuan istimewa dari sang tokoh. Doktor Myles Monroe, dalam bukunya, Releasing Your Potential: Exposing the Hidden You (2007), mengungkapkan bahwa potensi yang dibekali Tuhan dalam diri kita itu melampaui apa yang kita sadari tentangnya, sehingga seringkali manusia telanjur mati tanpa pernah memaksimalkan kemampuan dirinya yang sejati. Kita cenderung percaya pada citra diri negatif yang diciptakan pikiran kita ketimbang pada janji Tuhan yang akan menyelamatkan kita dengan kasih-sayangNya.

Kelebihan mereka yang kita anggap manusia super hanya satu: Mereka tidak membiarkan diri terperangkap oleh citra diri yang menyatakan bahwa mereka tidak mampu. Mereka memuja Tuhan mereka dengan memanifestasi sebanyak mungkin potensi yang mereka miliki. Saya pernah menceritakan pengalaman spiritual saya kepada seorang kawan, yang serta-merta mengejek saya, “Emangnya lu nabi apa, sampai Tuhan ngasih lu kemampuan kayak gitu?!”

Anggapan dangkal dari kawan ini sempat menjerumuskan mental saya sampai ke dasar lubang nan gelap. Tetapi tidak lama kemudian, saya beroleh pemahaman: Bila Tuhan menghendaki maka jadilah; tidak peduli tukang becak atau pengusaha, orang melarat atau konglomerat, maling atau cendekiawan, kemampuan yang melampaui pikiran pribadi tentang citra dirinya dapat menjadi miliknya!

Jadi, di mana batas kemampuan kita? Batasnya adalah di mana citra diri negatif itu bercokol: Pikiran kita!©


Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 16 Agustus 2012, pukul 06.07 WIB 

Wednesday, May 11, 2011

Kasih Spontan Berkat Mie Instan


Mengenang ibuku, Animah binti Radjab (1933-1996)


“Hati seorang ibu adalah jurang yang dalam yang di dasarnya Anda akan selalu menemukan pengampunan.”

Honoré de Balzac



Belakangan ini, saya kerap terkenang akan mendiang ibu saya, yang meninggal lebih dari empat belas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 September 1996. Dari sekian banyak kenangan yang saya miliki bersama beliau, ada satu yang sungguh berkesan, yang selalu muncul pertama kali dalam ingatan saya setiap kali kini saya terkenang kembali akan beliau.


Suatu ketika, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, sekitar tahun 1992-1993, saya dimarahi ibu saya lantaran hal sepele: Beliau menanyakan saya jam berapa. Saat itu sore, dan Mama, demikian saya memanggil beliau, sedang menekuni kebiasaannya hampir setiap sore, yaitu duduk merajut di teras rumah ditemani segelas teh hangat. Saya yang sedang berada di dalam rumah bergegas ke teras untuk menanyakan apa yang Mama tanyakan ke saya, karena saya tidak terlalu jelas mendengarnya.


Bukannya jawaban yang lembut yang saya terima dari Mama, melainkan omelan. Saya disangka Mama tidak tahu jam. Saya memang ketika masih sekolah dasar tidak mengerti hitungan waktu, yang diajarkan dalam pelajaran berhitung; dengan kata lain, saya buta waktu! Tetapi seiring perkembangan kecerdasan saya, saya pun dapat mengerti. Hanya saja, rupanya Mama tidak mengikuti perkembangan itu, sehingga ketika putra semata wayangnya (saya anak kedua dari empat bersaudara dan satu-satunya laki-laki) tidak mendengar jelas pertanyaan beliau tentang jam, dikira beliau saya tetap belum mengerti hitungan waktu. “Sudah kuliah kok tetap nggak ngerti jam?!” kata Mama, yang di telinga saya terdengar sinis.


Mama tidak mau menerima penjelasan saya, dan bersikukuh bahwa saya ‘memalukan’ lantaran tidak mengerti hitungan waktu. Terdorong oleh emosi lantaran sakit hati diejek sedemikian rupa oleh sosok yang sangat saya cintai dan hormati itu, saya membentak Mama hingga beliau terdiam. Lalu saya bergegas menuju kamar saya dan mengepak pakaian ke dalam tas ransel saya. Saya berniat untuk tidak berada serumah dengan ibu saya yang tentunya memendam amarah terhadap putra semata wayangnya yang telah durhaka ini.


Keesokan harinya, saya berangkat kuliah ke Depok, Jawa Barat, tanpa berpamitan ke Mama terlebih dahulu. Telah menjadi kebiasaan saya dan saudara-saudara kandung saya untuk mencium punggung tangan kanan kedua orang tua kami ketika akan bepergian, tetapi hari itu saya mengingkarinya. Saya bertekad untuk menghindari Mama dengan tinggal di kos saya di Margonda, Depok, sekitar sepuluh meter dari Stasiun Universitas Indonesia, di mana saya menempuh pendidikan sarjana saya.


Saya tinggal di kos itu selama sebulan, dengan uang saku hanya sedikit karena saya malu minta uang pada Mama ketika minggat dari rumah, dan seiring waktu jumlahnya terus menipis. Uang saku yang ada pada saya saat itu adalah honor saya dari menulis artikel di majalah. Dalam rangka berhemat, maka setiap hari selama ‘masa minggat’, untuk sarapan, makan siang dan malam saya hanya menyantap semangkuk mie instan dengan telur dan sawi, yang kala itu masih seharga Rp 700 per porsi. Sebulan penuh, perut saya hanya diisi mie instan!


Di penghujung bulan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua saya, karena uang saku saya sudah ludes, sementara saya harus membayar uang sewa kamar kos sebesar Rp 25.000 per bulan. Setibanya di rumah, saya menjumpai orang tua dan saudara-saudara kandung saya sedang berkumpul di ruang keluarga, bersantai, dan masing-masing anak menceritakan pengalaman hari itu kepada kedua orang tua saya. Hal semacam itu telah menjadi tradisi di keluarga kami.


Mama tidak mau menegur saya, begitu pula saya tidak mau bertegur sapa dengan beliau. Dengan santainya dan sedikit bangga, saya bercerita ke saudara-saudara kandung saya bahwa selama di kos saya hanya makan mie instan, pagi-siang-malam, sebulan penuh. Saya perhatikan, tiba-tiba Mama beranjak dari kursi di mana ia duduk dan beringsut ke kamar tidur beliau, disusul ayah saya.


Beberapa jenak kemudian, Bapak, panggilan saya untuk ayah saya, keluar dari kamar dan memanggil saya. Beliau menegur saya dengan berbisik, “Mama-mu sedih tuh... Cepat minta maaf sana!”


Dengan agak enggan saya beranjak menuju kamar orang tua saya, di mana saya menjumpai Mama sedang membaca Al Qur’an sambil duduk di atas ranjang. Saya pun bersujud sungkem di hadapan Mama dan memegang tangan kanan beliau seraya mengucapkan permintaan maaf dengan sungguh-sungguh karena saya telah menyakiti hati beliau. Berurai air mata, Mama menarik saya ke dalam pelukan beliau dan mendekap saya erat, penuh kasih. “Lupakan kejadian waktu itu, Anto. Mama nggak marah sama kamu. Mama sayang sama kamu. Dan Mama sedih mendengar kamu makan mie instan sebulan,” kata Mama, terisak. Saya pun ikut menangis.


Sungguh besar kasih sayang Mama kepada saya, walaupun saya telah berdurhaka kepada beliau. Kasihnya spontan, tak mengenal batas, dan tak berpamrih. Seperti kasih yang dicurahkan Tuhan kepada ciptaanNya. Berkat makan mie instan selama sebulan, saya menemukan kenyataan bahwa kasih ibu bersifat alami dan spontan.Ó




Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 6 Mei 2011


Saturday, March 26, 2011

Pujian Yang Menidurkan, Kritik Yang Membangunkan


“Ada empat jenis pembunuhan: kejahatan, pemaafan, pembenaran dan pujian.”

—Ambrose Gwinett Bierce



Percaya atau tidak, senjata paling ampuh untuk menundukkan lawan adalah pujian. Saya pernah punya beberapa musuh—bukan karena saya memusuhi mereka, melainkan sebaliknya mereka yang memusuhi saya, lantaran saya kelewat blak-blakan melontarkan sinisme terhadap perilaku mereka. Di milis, mereka menjelek-jelekkan saya, dan terus-terang saya merasa sakit hati.


Sampai suatu saat, seorang saudara Subud saya menasihati, bahwa hal semacam itu sesungguhnya melatih pengertian saya; bahwa hal itu akan banyak membantu dalam meneguhkan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan saya dalam berserah diri. Tidak mudah memang, tetapi karena itulah saya mesti berlatih terus dengan menerima hantaman kritik-kritik yang tidak jarang bersifat tidak konstruktif.


Bila kita melakukan sesuatu yang unik, orang-orang akan menyerang kita. Motivasi diri tergantung pada ‘ketebalan muka’ kita; daya tahan kita meski dikritik habis-habisan. Tetapi yang sama pentingnya adalah kemampuan untuk membuat pujian tidak menidurkan kita pula. Karena, pujian dan kritikan adalah sekadar bayangan cermin dari masing-masing.


Agar dapat menghadapi kritik dengan tepat, kita juga perlu menghadapi pujian dengan tepat. Jika seseorang memuji Anda secara berlebihan untuk suatu keberhasilan yang tidak terlalu berarti, Anda perlu menginternalisasinya dengan cara yang sama dengan cara Anda menginternalisasi ejekan yang pedas. Orang yang mudah tersanjung karena pujian biasanya juga mudah dikritik.


Pada akhirnya, hanya Anda sendiri yang dapat mengarahkan hidup Anda. Jika Anda membiarkan diri Anda disesatkan oleh kritikan atau pujian, Anda takkan bisa mencapai tujuan Anda.


Suatu ketika, saya mendapat pemahaman bahwa justru pujianlah yang menidurkan, sedangkan kritik malah membangunkan kesadaran diri kita. Pemahaman itu saya peroleh ketika suatu kali saya kembali dihadapkan pada kritik dan kecaman yang cukup mengguncang harga diri saya. Bukannya terpancing amarah, saya malah memuji para pengeritik dan pengecam saya sedemikian bombastis. Akhirnya, mereka malah tertidur pulas: mereka berbalik memuji kesabaran saya, berubah menjadi sahabat dan sering mendukung gagasan-gagasan saya yang saya lontarkan di forum di mana kami saling melontarkan pemikiran dan kritikan.


Sejak saat itu, dalam berbagai kesempatan, saya selalu menerapkan pendekatan itu, utamanya dalam meredakan ketegangan-ketegangan yang mengemuka dalam hubungan pertemanan atau kekerabatan. Ada baiknya kita berlaku laksana pohon atau tanaman, sebagaimana para pendekar yudo atau aikido, keduanya seni bela diri asal Jepang.


Pencipta yudo, Kano Jigoro, mendapat ilham untuk menciptakan seni bela diri yang telah mendunia itu setelah mengamati bagaimana salju yang menumpuk di ujung ranting sebuah pohon dapat dengan mudahnya diruntuhkan ketika ranting semakin menekuk. Kano mendapat pemahaman tentang bagaimana menaklukkan lawan tanpa tenaga, atau memanfaatkan tenaga lawannya.


Seni bela diri aikido yang diciptakan oleh Morihei Ueshiba amat dipengaruhi oleh falsafah cinta dan kasih sayang, utamanya kepada mereka yang ingin menyakiti orang lain. Aikido mengemukakan falsafah ini dalam tekanannya pada penguasaan seni bela diri sehingga pendekar dapat menerima serangan dan mengembalikannya tanpa melukai si penyerang. Idealnya, baik yang diserang maupun penyerang tidak menderita luka.


Berdasarkan prinsip tersebut di ataslah hendaknya kita memperlakukan orang-orang yang tidak menyukai kita atau suka menyerang kita dengan kritikan atau kecaman, yang boleh jadi tidak konstruktif, dengan kasih sayang yang direpresentasi dengan pujian yang ‘menidurkan’. Sebaliknya, dalam hal diri kita, tak apa kita mendapat kritikan terus-menerus, bahkan mensyukurinya, lantaran kritik cenderung membangunkan kesadaran kita dan seyogianya menjadi energi pendorong kita untuk terus melangkah maju.(AD)



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 26 Maret 2011

Tuesday, October 26, 2010

Bekerja Dengan Cinta


“Setiap hal kecil yang kita lakukan dengan cinta pasti akan memberi hasil yang lebih baik.”

—Anonim

“Kamu bisa hidup di jalanan, kamu bisa menguasai seluruh dunia/Tapi kamu tidak punya arti/Apa yang kamu dapatkan, kalau kamu tidak punya cinta…/Kalau kamu tidak punya cinta, buat apa kita melakukannya...”

“What Do You Got”, Bon Jovi, 2010



Memasuki gerbang tol Cikampek, dalam perjalanan dari Jawa Tengah kembali ke Jakarta, kawan saya memberi tebakan ke saya: Pekerjaan apa yang paling tidak kreatif? Saya berpikir keras. Apa gerangan pekerjaan yang tidak ada unsur kreativitasnya? Saya benar-benar tidak tahu.


“Penjaga pintu tol,” kata kawan saya. “Itu pekerjaan paling tidak kreatif, cuma duduk saja, membagi-bagikan karcis masuk tol.”


Tentu saja saya membantah anggapan itu. Setiap pekerjaan, halal atau tidak, disadari atau tidak oleh pelakunya, pasti ada unsur kreativitasnya. Dalam prosesnya, suatu pekerjaan pasti menuntut pelakunya untuk mencari atau menciptakan cara-cara yang memudahkannya atau membantunya untuk membuat perubahan pada kerja atau caranya bekerja. Penjaga pintu tol mungkin akan memasang tape di gardunya agar ia bisa mendengarkan musik, yang pada gilirannya akan menaikkan semangat kerjanya. Itu saja sudah merupakan tindakan kreatif.


Menurut hemat saya, kreativitas dalam bekerja hanya merupakan hasil (outcome) dari rasa cinta yang kita tumbuhkan tatkala melakukan pekerjaan. Melakukan pekerjaan dengan cinta berbeda dengan mencintai pekerjaan, yang berkonotasi negatif, lantaran mengesankan workaholic, yang tidak saja merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain, utamanya keluarga.


Bekerja dengan cinta cenderung menyemburatkan nilai-nilai positif, seperti kualitas, kerja tim, profesionalisme dan kreativitas. Hasilnya bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan kerja. Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tempat kerja atau perusahaan akan mengental, karena kita merasa tempat itulah yang memberi kita peluang untuk tumbuh dan berkembang. Kalau sudah begini, konsep ‘bekerja’ pun bergeser ke ‘berkarya’.


Kalau Anda bekerja di sektor jasa, misalnya industri komunikasi pemasaran, yang terkait dengan penyediaan layanan kepada klien, dan dari klien ke konsumen, unsur cinta akan membangkitkan energi penjiwaan dalam berkarya. Saat itulah, diri kita tidak lagi dikuasai nafsu akan materi, sebab karya yang terisi jiwa tak ternilai harganya.


Sejumlah kawan saya mengutarakan keheranan mereka, mengetahui bahwa kegiatan menulis catatan di Facebook atau blog saya, yang tidak ada upahnya, saya lakukan sama seriusnya, sama menjiwainya, sebagaimana saya menulis naskah iklan, naskah audio-visual dan artikel wisata yang berdasarkan pesanan, dan tentu saja ada imbalan materinya. Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa yang satu menunjang yang lainnya. Bapak periklanan modern, David Ogilvy, mengatakan bahwa untuk menjadi hebat dalam membuat iklan, buatlah iklan setiap hari—dengan atau tanpa adanya pesanan dari klien. Dengan saya menulis tentang apa saja, setiap waktu mengizinkan, saya menjadi kian mahir menulis dan kian menjiwai pekerjaan saya sebagai penulis.


Pengalaman saya menuturkan, sekalinya kita bekerja demi uang—memperhitungkan tenaga, waktu atau keahlian yang kita miliki semata demi memperoleh keuntungan materi—saat itulah luntur penjiwaan dan komitmen kita atas pekerjaan itu. Sudah pasti, kualitas pekerjaan itu akan berkurang, bahkan lenyap.


Bekerja juga merupakan momen untuk mengenal diri kita sendiri: seberapa tinggi kemampuan kita, seberapa baik kita memperhatikan kepentingan perusahaan dan hubungan kita dengan orang lain, dalam hal ini rekan-rekan kerja, atasan dan klien. Tak jarang saya alami suasana kerja di mana pada awal bulan para pekerjanya justru berfokus pada akhir bulan—yaitu hari gajian—ketimbang mengerahkan segenap upaya untuk membuat pekerjaan mereka berkualitas tinggi. Mereka lupa bahwa gaji yang mereka terima bukanlah dari kekayaan bos atau perusahaan.


Gaji mereka merupakan hasil dari kerja keras yang berkualitas, kerja yang dilandasi cinta sehingga menghasilkan komitmen, dan dampaknya akan membuat semakin banyak klien atau pesanan berdatangan, dan dengan demikian perusahaan mengalami peningkatan pemasukan, yang sebagian dipakai untuk menggaji karyawan. Jadi, menurut saya, sangat tidak pantas dan tidak bermoral jika karyawan hanya menuntut gajinya, sementara ia mengabaikan atau meminimalkan kontribusinya bagi perusahaan.


Bekerja dengan atau tanpa cinta adalah pilihan bebas Anda. Tidak salah mengerahkan potensi Anda demi mendapat penghargaan materi. Tetapi bila Anda menginginkan peningkatan materi sekaligus kualitas diri, bekerjalah dengan cinta.(AD)



Met Liefde Café, Jl. Pangrango No. 16, Bogor 16151, Jawa Barat, 23 Oktober 2010.