Wednesday, September 19, 2012
Hidup untuk Melayani
Akibat Mengabaikan Peluang Yang Lewat
Menjaga Keseimbangan
Keunikannya terletak pada kenyataan bahwa RM Said selain dikenal sebagai pemimpin militer dan ahli strategi perang yang mumpuni, dirinya juga merupakan pujangga dan seniman yang kreatif. Hasil karya seni gubahannya termasuk tarian-tarian tradisional Jawa yang dipertunjukkan di lingkungan Keraton Mangkunegaran, antara lain Tari Bedhaya Anglirmendhung Senapaten.
Membaca tentang sosok RM Said, yang pernah bergerilya selama 16 tahun melawan ketimpangan di Kerajaan Mataram, saya teringat pada para kesatria Samurai di Jepang purba. Kita telanjur mendapatkan gambaran tentang mereka kebanyakan dari film laga atau literatur hiburan, di mana para kesatria Samurai tampil sebagai jagoan pedang yang membunuh lawan-lawan mereka tanpa ampun dengan kemahiran seni bela diri.
Padahal, selain keahlian bertarung dengan senjata maupun tangan kosong, para kesatria Samurai juga hebat dalam bidang kesusastraan, kaligrafi, kuliner, bercocok tanam, astronomi, peternakan, dan lain-lain yang tak ada hubungannya dengan pertarungan bersenjata! Hal itu mencerminkan bahwa kaum Samurai menerapkan keseimbangan dalam hidup mereka. Bidang-bidang non-militer tadi mengasah rasa, emosi maupun spiritualitas mereka, sehingga ketika menghadapi lawan mereka cenderung mementaskan sikap yang penuh kasih (compassion) dan sebisa mungkin menghindari pertumpahan darah.
Memang, kekesatriaan (knighthood) bukan semata tentang mengumbar kepahlawanan dengan menaklukkan musuh yang datang menyerang, tetapi yang lebih penting adalah menumbuhkan keberanian untuk menaklukkan diri sendiri. Bidang-bidang non-militer yang saya sebutkan di atas dilakoni dalam rangka melatih kesadaran meditatif untuk mengendalikan emosi, menenteramkan diri, yang ujung-ujungnya menghasilkan keseimbangan diri yang sempurna.
Semakin modern, kehidupan kita tampaknya semakin menjauhkan diri kita dari keseimbangan. Sebagian besar manusia dewasa ini, utamanya di kota-kota besar, hidup dalam ketidakseimbangan antara keberdayaan jasmani dan rohani. Materi dikejar untuk memperkaya diri atau untuk memperoleh kepuasan semu dari kebendaan, yang pada akhirnya hanya digunakan untuk membayar harga mahal dari kesehatan jasmani dan rohani. (Ketika menulis alinea ini, saya merenungkan karir saya yang 24 Oktober ini mencapai usianya yang ke-17 maupun usaha saya mengembangkan bisnis yang saya tekuni sembilan bulan belakangan ini: Apakah worth it jika dibayar dengan stres dan sakit badan yang saya derita dalam mencapai kebahagiaan lahir dan batin yang saya dambakan?)
Praktisi periklanan kelas wahid dunia, William Bernbach, yang bersama dua orang lainnya mendirikan perusahaan periklanan bernama DDB (Doyle, Dane, Bernbach), suatu kali berujar, “Saya tidak pernah bekerja pada akhir pekan, karena saya mencintai keluarga saya.” Tahun 1997, saya menjadi Creative Group Head di sebuah biro iklan papan atas di Jakarta yang berafiliasi pada DDB, di mana presiden direkturnya justru mengharuskan para karyawan bekerja pula pada akhir pekan, jika situasinya menuntut demikian (biasanya ketika mempersiapkan presentasi pitching). Menggugat hal itu, saya pun mengemukakan kata-kata Bernbach di atas kepada creative director saya, yang pada gilirannya mengomentarinya sambil bergurau, “Makanya Bos kita tidak sesukses Bill Bernbach!”
Kehidupan kita dewasa ini dicekoki dengan gagasan-gagasan tentang kesuksesan, yang maknanya justru kabur. Para motivator dan konsultan kepemimpinan bisnis mengumbar keahlian bicara mereka untuk menggerakkan publik kepada kesuksesan, yang tumpat dengan ‘pemenuhan keinginan untuk mencapai’, bukannya malah membantu menumbuhkan kesadaran hakiki bahwa apa yang ingin dicapai sebenarnya sudah ada di tangan. Sukses yang mereka janjikan adalah suatu titik yang berada di ujung jalan perjuangan, bukan yang mengiringi perjalanan kita hingga akhir.
Baru-baru ini, saya dirayu seorang kawan untuk menekuni bisnis berkonsep pemasaran multijenjang (multi-level marketing). Empat cakram padat dan beberapa buku yang menceritakan pengalaman mereka yang ‘sudah berhasil’ diberikan ke saya secara cuma-cuma. Semuanya memberikan gambaran tentang ‘sukses pada akhirnya’, bukan ‘sukses sepanjang jalan, dari awal hingga akhir’, yang kiranya hanya dapat dicapai dengan kita melakoni kehidupan yang seimbang.
Tujuan utama bekerja, yaitu untuk memanifestasikan potensi-potensi kemanusiaan kita, telah demikian diabaikan. Tak mengherankan jika pribadi yang bekerja dengan cinta sudah amat langka sekarang, dibandingkan dengan mereka yang bekerja karena terpaksa—demi sintas di tengah kehidupan yang memuja kebendaan—lantaran bidang pekerjaan yang sungguh-sungguh mereka cintai (dan dengan demikian memperkaya batin mereka) tidak menjanjikan materi yang berkelimpahan.
Mencapai keseimbangan hidup bukanlah tidak mungkin, namun tidak mudah, selama pola pikir Anda masih terbelenggu pada paradigma bahwa bekerja saja merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, dan bahwa uang merupakan satu-satunya yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan. Kiranya Anda perlu merenungkan kembali apa tujuan Anda bekerja—apakah untuk memenuhi kebutuhan atau hanya untuk memuaskan keinginan akan kebendaan?
Sebuah kampung nelayan di pesisir Kabupaten Jayapura, Papua, yang saya kunjungi pada pertengahan tahun 2009 menghadiahi saya kearifan tentang kehidupan yang seimbang. Penduduk pria Kampung Bukisi, Distrik Yokari, Kabupaten Jayapura, sedang asik bersantai di bawah keteduhan pohon kelapa di bibir pantai yang pasirnya yang putih bersih berangkulan mesra dengan birunya air Samudra Pasifik. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Membandingkan dengan diri saya yang pada jam itu setiap hari kerja justru mulai bekerja, tentu keasikan para pria tersebut mengherankan saya. “Bapak tidak bekerja?” tanya saya pada salah satu dari mereka, mengabaikan kemungkinan pertanyaan semacam itu dianggap tidak sopan.
Jawabannya mencengangkan saya. Si bapak mengatakan kepada saya, jika tujuan bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, penduduk Bukisi sudah diberkahi dengan kekayaan alam yang hanya memerlukan waktu, pikiran dan tenaga sedikit untuk menggali dan mengolahnya. Sisa waktu dan tenaga, yang tentunya berlimpah, mereka gunakan untuk bersantai, agar mereka dapat kembali bekerja dengan riang gembira keesokan harinya!
Intinya, kita harus senantiasa menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmani/duniawi dan rohani (emosi dan spiritual), tidak njomplang (berat sebelah) salah satunya. Keduanya saling menopang; yang satu membuat yang lain terberdayakan dengan baik. Dengan keseimbangan yang sempurna, terciptalah sukses yang mengiringi sepanjang jalan, dari awal hingga akhir.©
Tuesday, September 18, 2012
Mengejar dan Dikejar
Batas Tanpa Batas
Wednesday, May 11, 2011
Kasih Spontan Berkat Mie Instan

Mengenang ibuku, Animah binti Radjab (1933-1996)
“Hati seorang ibu adalah jurang yang dalam yang di dasarnya Anda akan selalu menemukan pengampunan.”
—Honoré de Balzac
Belakangan ini, saya kerap terkenang akan mendiang ibu saya, yang meninggal lebih dari empat belas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 September 1996. Dari sekian banyak kenangan yang saya miliki bersama beliau, ada satu yang sungguh berkesan, yang selalu muncul pertama kali dalam ingatan saya setiap kali kini saya terkenang kembali akan beliau.
Suatu ketika, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, sekitar tahun 1992-1993, saya dimarahi ibu saya lantaran hal sepele: Beliau menanyakan saya jam berapa. Saat itu sore, dan Mama, demikian saya memanggil beliau, sedang menekuni kebiasaannya hampir setiap sore, yaitu duduk merajut di teras rumah ditemani segelas teh hangat. Saya yang sedang berada di dalam rumah bergegas ke teras untuk menanyakan apa yang Mama tanyakan ke saya, karena saya tidak terlalu jelas mendengarnya.
Bukannya jawaban yang lembut yang saya terima dari Mama, melainkan omelan. Saya disangka Mama tidak tahu jam. Saya memang ketika masih sekolah dasar tidak mengerti hitungan waktu, yang diajarkan dalam pelajaran berhitung; dengan kata lain, saya buta waktu! Tetapi seiring perkembangan kecerdasan saya, saya pun dapat mengerti. Hanya saja, rupanya Mama tidak mengikuti perkembangan itu, sehingga ketika putra semata wayangnya (saya anak kedua dari empat bersaudara dan satu-satunya laki-laki) tidak mendengar jelas pertanyaan beliau tentang jam, dikira beliau saya tetap belum mengerti hitungan waktu. “Sudah kuliah kok tetap nggak ngerti jam?!” kata Mama, yang di telinga saya terdengar sinis.
Mama tidak mau menerima penjelasan saya, dan bersikukuh bahwa saya ‘memalukan’ lantaran tidak mengerti hitungan waktu. Terdorong oleh emosi lantaran sakit hati diejek sedemikian rupa oleh sosok yang sangat saya cintai dan hormati itu, saya membentak Mama hingga beliau terdiam. Lalu saya bergegas menuju kamar saya dan mengepak pakaian ke dalam tas ransel saya. Saya berniat untuk tidak berada serumah dengan ibu saya yang tentunya memendam amarah terhadap putra semata wayangnya yang telah durhaka ini.
Keesokan harinya, saya berangkat kuliah ke Depok, Jawa Barat, tanpa berpamitan ke Mama terlebih dahulu. Telah menjadi kebiasaan saya dan saudara-saudara kandung saya untuk mencium punggung tangan kanan kedua orang tua kami ketika akan bepergian, tetapi hari itu saya mengingkarinya. Saya bertekad untuk menghindari Mama dengan tinggal di kos saya di Margonda, Depok, sekitar sepuluh meter dari Stasiun Universitas Indonesia, di mana saya menempuh pendidikan sarjana saya.
Saya tinggal di kos itu selama sebulan, dengan uang saku hanya sedikit karena saya malu minta uang pada Mama ketika minggat dari rumah, dan seiring waktu jumlahnya terus menipis. Uang saku yang ada pada saya saat itu adalah honor saya dari menulis artikel di majalah. Dalam rangka berhemat, maka setiap hari selama ‘masa minggat’, untuk sarapan, makan siang dan malam saya hanya menyantap semangkuk mie instan dengan telur dan sawi, yang kala itu masih seharga Rp 700 per porsi. Sebulan penuh, perut saya hanya diisi mie instan!
Di penghujung bulan, saya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua saya, karena uang saku saya sudah ludes, sementara saya harus membayar uang sewa kamar kos sebesar Rp 25.000 per bulan. Setibanya di rumah, saya menjumpai orang tua dan saudara-saudara kandung saya sedang berkumpul di ruang keluarga, bersantai, dan masing-masing anak menceritakan pengalaman hari itu kepada kedua orang tua saya. Hal semacam itu telah menjadi tradisi di keluarga kami.
Mama tidak mau menegur saya, begitu pula saya tidak mau bertegur sapa dengan beliau. Dengan santainya dan sedikit bangga, saya bercerita ke saudara-saudara kandung saya bahwa selama di kos saya hanya makan mie instan, pagi-siang-malam, sebulan penuh. Saya perhatikan, tiba-tiba Mama beranjak dari kursi di mana ia duduk dan beringsut ke kamar tidur beliau, disusul ayah saya.
Beberapa jenak kemudian, Bapak, panggilan saya untuk ayah saya, keluar dari kamar dan memanggil saya. Beliau menegur saya dengan berbisik, “Mama-mu sedih tuh... Cepat minta maaf sana!”
Dengan agak enggan saya beranjak menuju kamar orang tua saya, di mana saya menjumpai Mama sedang membaca Al Qur’an sambil duduk di atas ranjang. Saya pun bersujud sungkem di hadapan Mama dan memegang tangan kanan beliau seraya mengucapkan permintaan maaf dengan sungguh-sungguh karena saya telah menyakiti hati beliau. Berurai air mata, Mama menarik saya ke dalam pelukan beliau dan mendekap saya erat, penuh kasih. “Lupakan kejadian waktu itu, Anto. Mama nggak marah sama kamu. Mama sayang sama kamu. Dan Mama sedih mendengar kamu makan mie instan sebulan,” kata Mama, terisak. Saya pun ikut menangis.
Sungguh besar kasih sayang Mama kepada saya, walaupun saya telah berdurhaka kepada beliau. Kasihnya spontan, tak mengenal batas, dan tak berpamrih. Seperti kasih yang dicurahkan Tuhan kepada ciptaanNya. Berkat makan mie instan selama sebulan, saya menemukan kenyataan bahwa kasih ibu bersifat alami dan spontan.Ó
Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 6 Mei 2011
Saturday, March 26, 2011
Pujian Yang Menidurkan, Kritik Yang Membangunkan

“Ada empat jenis pembunuhan: kejahatan, pemaafan, pembenaran dan pujian.”
—Ambrose Gwinett Bierce
Percaya atau tidak, senjata paling ampuh untuk menundukkan lawan adalah pujian. Saya pernah punya beberapa musuh—bukan karena saya memusuhi mereka, melainkan sebaliknya mereka yang memusuhi saya, lantaran saya kelewat blak-blakan melontarkan sinisme terhadap perilaku mereka. Di milis, mereka menjelek-jelekkan saya, dan terus-terang saya merasa sakit hati.
Sampai suatu saat, seorang saudara Subud saya menasihati, bahwa hal semacam itu sesungguhnya melatih pengertian saya; bahwa hal itu akan banyak membantu dalam meneguhkan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan saya dalam berserah diri. Tidak mudah memang, tetapi karena itulah saya mesti berlatih terus dengan menerima hantaman kritik-kritik yang tidak jarang bersifat tidak konstruktif.
Bila kita melakukan sesuatu yang unik, orang-orang akan menyerang kita. Motivasi diri tergantung pada ‘ketebalan muka’ kita; daya tahan kita meski dikritik habis-habisan. Tetapi yang sama pentingnya adalah kemampuan untuk membuat pujian tidak menidurkan kita pula. Karena, pujian dan kritikan adalah sekadar bayangan cermin dari masing-masing.
Agar dapat menghadapi kritik dengan tepat, kita juga perlu menghadapi pujian dengan tepat. Jika seseorang memuji Anda secara berlebihan untuk suatu keberhasilan yang tidak terlalu berarti, Anda perlu menginternalisasinya dengan cara yang sama dengan cara Anda menginternalisasi ejekan yang pedas. Orang yang mudah tersanjung karena pujian biasanya juga mudah dikritik.
Pada akhirnya, hanya Anda sendiri yang dapat mengarahkan hidup Anda. Jika Anda membiarkan diri Anda disesatkan oleh kritikan atau pujian, Anda takkan bisa mencapai tujuan Anda.
Suatu ketika, saya mendapat pemahaman bahwa justru pujianlah yang menidurkan, sedangkan kritik malah membangunkan kesadaran diri kita. Pemahaman itu saya peroleh ketika suatu kali saya kembali dihadapkan pada kritik dan kecaman yang cukup mengguncang harga diri saya. Bukannya terpancing amarah, saya malah memuji para pengeritik dan pengecam saya sedemikian bombastis. Akhirnya, mereka malah tertidur pulas: mereka berbalik memuji kesabaran saya, berubah menjadi sahabat dan sering mendukung gagasan-gagasan saya yang saya lontarkan di forum di mana kami saling melontarkan pemikiran dan kritikan.
Sejak saat itu, dalam berbagai kesempatan, saya selalu menerapkan pendekatan itu, utamanya dalam meredakan ketegangan-ketegangan yang mengemuka dalam hubungan pertemanan atau kekerabatan. Ada baiknya kita berlaku laksana pohon atau tanaman, sebagaimana para pendekar yudo atau aikido, keduanya seni bela diri asal Jepang.
Pencipta yudo, Kano Jigoro, mendapat ilham untuk menciptakan seni bela diri yang telah mendunia itu setelah mengamati bagaimana salju yang menumpuk di ujung ranting sebuah pohon dapat dengan mudahnya diruntuhkan ketika ranting semakin menekuk. Kano mendapat pemahaman tentang bagaimana menaklukkan lawan tanpa tenaga, atau memanfaatkan tenaga lawannya.
Seni bela diri aikido yang diciptakan oleh Morihei Ueshiba amat dipengaruhi oleh falsafah cinta dan kasih sayang, utamanya kepada mereka yang ingin menyakiti orang lain. Aikido mengemukakan falsafah ini dalam tekanannya pada penguasaan seni bela diri sehingga pendekar dapat menerima serangan dan mengembalikannya tanpa melukai si penyerang. Idealnya, baik yang diserang maupun penyerang tidak menderita luka.
Berdasarkan prinsip tersebut di ataslah hendaknya kita memperlakukan orang-orang yang tidak menyukai kita atau suka menyerang kita dengan kritikan atau kecaman, yang boleh jadi tidak konstruktif, dengan kasih sayang yang direpresentasi dengan pujian yang ‘menidurkan’. Sebaliknya, dalam hal diri kita, tak apa kita mendapat kritikan terus-menerus, bahkan mensyukurinya, lantaran kritik cenderung membangunkan kesadaran kita dan seyogianya menjadi energi pendorong kita untuk terus melangkah maju.(AD)
Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 26 Maret 2011
Tuesday, October 26, 2010
Bekerja Dengan Cinta

“Setiap hal kecil yang kita lakukan dengan cinta pasti akan memberi hasil yang lebih baik.”
—Anonim
“Kamu bisa hidup di jalanan, kamu bisa menguasai seluruh dunia/Tapi kamu tidak punya arti/Apa yang kamu dapatkan, kalau kamu tidak punya cinta…/Kalau kamu tidak punya cinta, buat apa kita melakukannya...”
—“What Do You Got”, Bon Jovi, 2010
Memasuki gerbang tol Cikampek, dalam perjalanan dari Jawa Tengah kembali ke Jakarta, kawan saya memberi tebakan ke saya: Pekerjaan apa yang paling tidak kreatif? Saya berpikir keras. Apa gerangan pekerjaan yang tidak ada unsur kreativitasnya? Saya benar-benar tidak tahu.
“Penjaga pintu tol,” kata kawan saya. “Itu pekerjaan paling tidak kreatif, cuma duduk saja, membagi-bagikan karcis masuk tol.”
Tentu saja saya membantah anggapan itu. Setiap pekerjaan, halal atau tidak, disadari atau tidak oleh pelakunya, pasti ada unsur kreativitasnya. Dalam prosesnya, suatu pekerjaan pasti menuntut pelakunya untuk mencari atau menciptakan cara-cara yang memudahkannya atau membantunya untuk membuat perubahan pada kerja atau caranya bekerja. Penjaga pintu tol mungkin akan memasang tape di gardunya agar ia bisa mendengarkan musik, yang pada gilirannya akan menaikkan semangat kerjanya. Itu saja sudah merupakan tindakan kreatif.
Menurut hemat saya, kreativitas dalam bekerja hanya merupakan hasil (outcome) dari rasa cinta yang kita tumbuhkan tatkala melakukan pekerjaan. Melakukan pekerjaan dengan cinta berbeda dengan mencintai pekerjaan, yang berkonotasi negatif, lantaran mengesankan workaholic, yang tidak saja merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain, utamanya keluarga.
Bekerja dengan cinta cenderung menyemburatkan nilai-nilai positif, seperti kualitas, kerja tim, profesionalisme dan kreativitas. Hasilnya bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan kerja. Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tempat kerja atau perusahaan akan mengental, karena kita merasa tempat itulah yang memberi kita peluang untuk tumbuh dan berkembang. Kalau sudah begini, konsep ‘bekerja’ pun bergeser ke ‘berkarya’.
Kalau Anda bekerja di sektor jasa, misalnya industri komunikasi pemasaran, yang terkait dengan penyediaan layanan kepada klien, dan dari klien ke konsumen, unsur cinta akan membangkitkan energi penjiwaan dalam berkarya. Saat itulah, diri kita tidak lagi dikuasai nafsu akan materi, sebab karya yang terisi jiwa tak ternilai harganya.
Sejumlah kawan saya mengutarakan keheranan mereka, mengetahui bahwa kegiatan menulis catatan di Facebook atau blog saya, yang tidak ada upahnya, saya lakukan sama seriusnya, sama menjiwainya, sebagaimana saya menulis naskah iklan, naskah audio-visual dan artikel wisata yang berdasarkan pesanan, dan tentu saja ada imbalan materinya. Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa yang satu menunjang yang lainnya. Bapak periklanan modern, David Ogilvy, mengatakan bahwa untuk menjadi hebat dalam membuat iklan, buatlah iklan setiap hari—dengan atau tanpa adanya pesanan dari klien. Dengan saya menulis tentang apa saja, setiap waktu mengizinkan, saya menjadi kian mahir menulis dan kian menjiwai pekerjaan saya sebagai penulis.
Pengalaman saya menuturkan, sekalinya kita bekerja demi uang—memperhitungkan tenaga, waktu atau keahlian yang kita miliki semata demi memperoleh keuntungan materi—saat itulah luntur penjiwaan dan komitmen kita atas pekerjaan itu. Sudah pasti, kualitas pekerjaan itu akan berkurang, bahkan lenyap.
Bekerja juga merupakan momen untuk mengenal diri kita sendiri: seberapa tinggi kemampuan kita, seberapa baik kita memperhatikan kepentingan perusahaan dan hubungan kita dengan orang lain, dalam hal ini rekan-rekan kerja, atasan dan klien. Tak jarang saya alami suasana kerja di mana pada awal bulan para pekerjanya justru berfokus pada akhir bulan—yaitu hari gajian—ketimbang mengerahkan segenap upaya untuk membuat pekerjaan mereka berkualitas tinggi. Mereka lupa bahwa gaji yang mereka terima bukanlah dari kekayaan bos atau perusahaan.
Gaji mereka merupakan hasil dari kerja keras yang berkualitas, kerja yang dilandasi cinta sehingga menghasilkan komitmen, dan dampaknya akan membuat semakin banyak klien atau pesanan berdatangan, dan dengan demikian perusahaan mengalami peningkatan pemasukan, yang sebagian dipakai untuk menggaji karyawan. Jadi, menurut saya, sangat tidak pantas dan tidak bermoral jika karyawan hanya menuntut gajinya, sementara ia mengabaikan atau meminimalkan kontribusinya bagi perusahaan.
Bekerja dengan atau tanpa cinta adalah pilihan bebas Anda. Tidak salah mengerahkan potensi Anda demi mendapat penghargaan materi. Tetapi bila Anda menginginkan peningkatan materi sekaligus kualitas diri, bekerjalah dengan cinta.(AD)
Met Liefde Café, Jl. Pangrango No. 16, Bogor 16151, Jawa Barat, 23 Oktober 2010.

