Showing posts with label Wawasan. Show all posts
Showing posts with label Wawasan. Show all posts

Friday, January 14, 2011

Petaka Perkataan


"Setiap hari dari hidup kita kita menabung di bank pikiran anak-anak kita."
--Charles R. Swindoll, The Strong Family


Kawan saya adalah seorang pria yang sopan dalam bertutur kata dan bertindak. Dengan latar belakang pendidikan di bidang akuntansi yang gelar akademisnya ia raih di sebuah universitas di Inggris, ia menjabat direktur external relations dari sebuah perusahaan pertambangan minyak bumi yang berbasis di Jakarta.

Dengan perilaku dan jabatan semacam itu, kawan saya seharusnya tak mengalami kendala dalam berhubungan dengan orang lain serta mengambil keputusan atau inisiatif. Seharusnya!

Tetapi, ternyata tidak demikian kenyataannya. Saya sendiri heran. Dengan gelar akademis dari universitas di luar negeri, dalam persepsi saya, seharusnya ia mewujud sosok yang tangguh, cerdas dan cergas serta tak ragu dalam memotori orang banyak dengan keberanian mengambil inisiatif dan keputusan lantaran berani bertanggung jawab. Yang saya lihat malah dirinya selalu diliputi keraguan dan tidak bergerak kalau ‘pantatnya tidak ditendang’. Ada apa? Mengapa bisa begitu?

Baru-baru ini, saya memperoleh jawabannya. Ia bercerita bahwa di keluarganya ia merupakan anak yang diremehkan kemampuannya, bukan saja oleh saudara-saudaranya, tetapi bahkan oleh orang tuanya, terutama ayahnya. Dan itu sudah berlangsung sejak ia masih kecil. Ia bahkan sempat mengalami depresi sebagai akibatnya. Terbukti dari ceritanya, perkataan saja bisa membawa petaka.

Ketika kepadanya dipercayakan tanggung jawab pelaksanaan tugas di organisasi di mana kami berdua menjalankan fungsi sebagai pengurus nasionalnya, dengan disertai dorongan semangat bahwa dirinya tidak seperti yang dikatakan keluarganya, ternyata ia dapat memenuhinya dengan baik, bahkan mengagumkan. Ketua umum organisasi yang menugaskan kawan saya itu berujar bahwa kondisi dirinya tidak ditentukan oleh apa yang dikatakan orang lain padanya. “Jangan biarkan penilaian orang menghambat kemajuan lu,” kata si ketua umum.

Kita menjadi apa yang kita pikirkan tentang diri kita, demikian ungkapan orang bijak. Karena itu, jangan diperburuk oleh apa yang menjadi pikiran orang lain terhadap diri kita.

Perkataan memang terkesan sepele, tetapi dayanya ternyata dapat berdampak pada psikologi orang ke mana perkataan itu ditujukan. Bukan saja kepada anak-anak, namun juga kepada orang dewasa. Apalagi kepada anak-anak, yang sedang dalam masa pertumbuhan, di mana apa saja yang ditawarkan oleh lingkungannya, baik secara sadar maupun tidak, bakal terserap olehnya. Katakanlah hal-hal buruk pada anak Anda, niscaya ia akan cepat mempercayainya dan bahkan tercamkan di pikirannya, seolah hal-hal itu merupakan kebenaran yang mutlak.

Waktu saya kecil, kepada saya dikatakan oleh orang tua saya bahwa berimajinasi itu tidak baik dan buang-buang waktu saja. Saya memang suka melamunkan hal-hal yang di luar jangkauan saya. Untungnya, saya mengabaikan perkataan orang tua saya, karena setamat kuliah saya menekuni profesi di mana berimajinasi justru merupakan salah satu syarat utama untuk berhasil, yaitu sebagai praktisi kreatif periklanan.

Dari pengalaman ini, saya menyadari betapa beratnya tugas sebagai orang tua. Apa pun yang dikatakannya kepada anak-anaknya akan menentukan masa depan mereka. Jika yang dikatakannya baik, niscaya anak-anaknya akan tumbuh sesuai perkataannya. Sebaliknya, bila yang dikatakannya buruk, anak-anaknya akan menjadi pula sesuai yang dikatakannya.

Wahai para calon ayah, berhati-hatilah dengan apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda kelak. Jangan sampai perkataan Anda membawa petaka bagi hidupnya.


Tulisan ini merupakan artikel saya untuk rubrik "Calon Ayah" di tabloid Gen@.

Sunday, September 5, 2010

Puasa Setiap Hari, Selamanya


"Dengan pendisiplinan diri dan pengendalian diri Anda bisa mengembangkan karakter yang hebat."

--Grenville Kleiser



Tanggal 30 Agustus 2010 lalu, saya mendengar keponakan saya bertanya, "Puasa berapa hari lagi, sih?" Mengetahui kemudian bahwa bulan Ramadhan masih tersisa sepuluh hari lagi, ia bersorak, "Horee, puasa udah mau abis!"

Di lain pihak, ada orang-orang, kaum muslim, yang merasa akan merindukan bulan Ramadhan, karena mereka anggap bulan inilah satu-satunya momen di mana spiritualitas mereka menjadi lebih kaya. Di luar Ramadhan, mereka pikir, kerohanian sulit dikembangkan, apalagi dengan godaan duniawi yang demikian gencar lantaran cahaya Ramadhan tidak lagi memancar. Justru dengan 'godaan duniawi' itu puasa menjadi kian bermakna, lantaran kita tertantang untuk mulai mengendalikan diri dan hawa nafsu.

Secara umum, puasa memang dianggap merupakan ritual periodik yang mensyaratkan waktu-waktu tertentu untuk menjalankannya. Tetapi yang kerap dilupakan adalah bahwa puasa bukanlah dominasi Islam. Saya pernah beberapa tahun berturut-turut berpuasa selama seratus hari, yang tak pelak menimbulkan pertanyaan dari sekitar mengenai dalihnya dalam ajaran Islam. Padahal puasa merupakan tradisi asketisme (berzuhud, menjauhkan diri dari keduniaan) yang terdapat pada berbagai agama dan jalan spiritual.

Secara historis, masa berpuasa diadakan, tidak saja dalam agama Islam, tetapi juga pada berbagai agama lainnya, baik yang lahir di Asia Barat maupun Asia Selatan dan Timur, untuk menegakkan latihan pengendalian diri secara fisik, mental dan emosional, yang bukan cuma menahan lapar dan haus, tetapi juga aspek-aspek kebutuhan dasar manusia lainnya. Jadi, esensi puasa bukan terletak pada pengendalian diri agar tidak makan dan minum selama jangka waktu tertentu, melainkan pada pengelolaan nafsu-nafsu, baik pada masa yang ditentukan maupun sebelum dan setelah lewat masa itu.

Tampaknya banyak yang hanya tahu puasa sekadar menahan lapar dan haus, bukannya mengendalikan diri secara mental dan emosional, sehingga Nabi Muhammad pun bersabda bahwa selama bulan Ramadhan banyak yang menahan lapar dan haus, namun sedikit sekali yang sesungguhnya berpuasa. Tak mengherankan, jika ketika waktu berbuka puasa tiba kebanyakan kita tak ubahnya hewan liar yang baru dilepas dari kandangnya.

Puasa seharusnya menjinakkan hewan di dalam diri kita, bukannua mengikatnya untuk dilecuti hingga menjadi kian beringas. Ketika saya tahu bahwa para sufi tak sedikit yang melakoni puasa setiap hari untuk selamanya, saya sempat heran: Lha kok boleh? Kok bisa? Itu lantaran pengetahuan saya tentang puasa hanya terbatas pada upaya menahan lapar dan haus selama kurun waktu tertentu; tidak mengerti bahwa puasa bertujuan untuk melatih pengendalian diri, setiap hari untuk selamanya.

Dan itu yang sesungguhnya dilakoni para sufi, juga para biksu yang hidup selibat di wihara-wihara Buddhis, dan para asketik lainnya: bukan berpuasa sebagaimana pada bulan Ramadhan, yang mensyaratkan makan sahur sebelum waktu subuh tiba, dan menyantap sajian 'yang manis-manis' pada waktu magrib, melainkan mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan dosa, yang merugikan orang lain dan, akhirnya, diri sendiri. Makan-minumnya tidak berlebihan, sukanya tidak melampaui dukanya dan sebaliknya, segala sesuatu tidak dilebih-lebihkan sehingga memabukkan diri, membuat diri lupa bahwa 'arah dan tujuan' tindakan dan pemikiran bukanlah tindakan dan pemikiran itu sendiri, melainkan hasil atau kegunaan daripadanya. Dan hal itu melampaui ruang dan waktu; di mana saja dan kapan saja!

Tidak banyak orang yang menjalankan puasa secara hakiki. Banyak yang hanya menahan lapar dan haus belaka, sebagaimana ditandaskan Nabi Muhammad. Secara hakiki, puasa bermakna pengheningan diri, bersahabat dengan kekinian (yang kadang penuh suka, kadang sarat duka), sebagaimana semadi yang bernuansa pembebasan dari kemelekatan terhadap ego, dan (seyogianya) berlangsung sepanjang masa. Tanpa keinsafan akan hal ini, maka puasa akan turun derajatnya, menjadi sekadar ritual tahunan, sebagai 'syarat' untuk sampai pada hari yang penuh fitrah. Jika demikian, Ramadhan akan kehilangan kesyahduannya, kedamaiannya yang khusyuk. Bagi sebagian kita bahkan melewati bulan suci ini (bukan bulannya yang suci, melainkan kitanya yang mesti menyucikan diri selama bulan ini) sekadar sebagai tindakan menggugurkan kewajiban.

Tak mengejutkan, sesungguhnya, apabila di antara mereka yang berpuasa selama bulan Ramadhan masih ada yang suka menzalimi sesamanya, sesama saudara kandung bermusuhan, merendahkan kaum papa, berkata fitnah, bersikap tidak sabar dan tidak ikhlas, mengeluhkan keadaan yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya, mencelakakan orang lain, dan lain-lain perbuatan yang tergolong dosa. Kalau Anda mengira mentang-mentang sudah sanggup menahan lapar dan haus maka dosa-dosa Anda bakal diampuni, Anda salah besar! Bila kesalahan kita termasuk menyakiti orang lain, coba renungkan bagaimana doa orang itu terhadap kita. Dan doa orang yang teraniaya senantiasa dikabulkanNya. Tak peduli walaupun kita sudah susah-payah menahan lapar dan haus.(ad)


Cilandak Barat, Jakarta Selatan, 6 September 2010

Saturday, March 28, 2009

Berkirim Surat Kepada Tuhan

“Hidup ini tidak lebih dari rangkaian jejaring yang saling terhubung.”
—Fritjof Capra (1936- ), The Web of Life – A New Scientific Understanding of Living Systems (1997)



Saat saya masih bersekolah dasar di Negeri Belanda antara tahun 1974-1978, setiap kali menjelang hari Sinterklaas, pada 5 Desember setiap tahunnya, para murid (utamanya kelas 1-3, sedangkan kelas 4-6 dianggap sudah tidak percaya Sinterklaas) diminta untuk menulis surat kepada Sinterklaas, dalam rangka untuk menyampaikan permintaan masing-masing murid. Pada 5 Desember, Sinterklaas (yang diperankan oleh guru atau orang tua murid dengan kostum uskup berwarna serba merah dan berjenggot putih) akan datang ke kelas 1-3 diiringi dua Piet Hitam, dan memberi pemenuhan atas masing-masing permintaan selama itu dapat dipenuhi – jika tidak dapat, Sinterklaas akan menggantinya dengan wejangan.

Ingatan akan masa kecil saya yang masih sangat percaya dengan tokoh Sinterklaas kembali terlintas di benak saya ketika saya membaca buku Robert Scheinfeld, The 11th Element (Unsur Ke-11) – Mengaktifkan Kekuatan Batin Anda untuk Menderaskan Kesuksesan dan Kekayaan (Jakarta: Serambi, 2005). Melalui bukunya yang berjudul asli The 11th Element: The Key to Unlocking Your Master Blueprint for Wealth and Success (New Jersey: Wiley & Sons, Inc., 2003), Scheinfeld menyingkap rahasia bahwa, seperti kata fisikawan Fritjof Capra di atas, hidup ini merupakan rangkaian jejaring tak kasat mata (invisible network), yang akan membukakan bagi kita akses kepada orang-orang, gagasan, sumber daya, teknik dan strategi yang relevan dengan apa yang kita kehendaki untuk terwujud.

Melalui buku setebal – versi terjemahan Indonesianya – 295 halaman (termasuk lampiran, catatan kaki, ucapan terima kasih dan profil pengarangnya) ini, pebisnis yang membagi-bagi rahasia Unsur Ke-11-nya setelah ia berhasil bangkit kembali pasca kebangkrutannya dengan terlilit hutang 153.000 dolar mengajak kita mengenal sang eksekutif-puncak-batin serta berkontak secara berkelanjutan dengannya melalui surat. ‘Eksekutif-puncak-batin’ adalah sebutan subyektif Scheinfeld bagi apa yang kita identifikasi sebagai ‘Tuhan’, karena dalam suatu interviu terungkap bahwa pembangun Blue Ocean Software ini tidak sependapat dengan konsepsi Tuhan dari kalangan agama, tetapi mengakui bahwa hubungan langit dan bumi tidak sesederhana bayangan kita. Penggambaran Scheinfeld mengenai eksekutif-puncak-batin (inner CEO) memberi saya kesan bahwa ia sedang berbicara mengenai Tuhan yang saya kenal melalui ajaran agama saya maupun lewat pengalaman-pengalaman spiritual saya. Coba lihat penjelasannya di halaman 33: “[E]ksekutif-puncak-batin Anda punya akses ke pengetahuan dan sumber daya yang jauh melampaui pengetahuan dan sumber daya yang ada dalam kesadaran Anda. Anda tidak pernah sendirian dalam usaha menggapai bisnis yang sukses dan kekayaan, meskipun Anda kerap merasa demikian. Eksekutif-puncak-batin dan jaringan tak kasat mata Anda membentuk suatu sistem pendukung yang bisa Anda masuki untuk membagi beban Anda. Anda akan mendapat bantuan di setiap langkah tersebut.”

Apakah hakikat dari Unsur Ke-11 itu? Dan bagaimana Unsur Ke-11 itu dapat membantu kita menggapai kesuksesan dan kekayaan? Menurut Scheinfeld, selama ini kita terbiasa dengan ekspresi bahwa yang dapat mewujudkan keberhasilan usaha adalah niat dan keyakinan semata, hingga muncul ungkapan “di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, yang diterima sebagai kebenaran mutlak. Namun, ketika zaman terus berkembang dan persaingan pasar semakin keras, niat dan keyakinan saja tidaklah cukup. Ungkapan para guru Rahasia yang pesan-pesannya terangkum dalam buku The Secret – Rahasia (2007)-nya Rhonda Byrne menegaskan tentang berlakunya hukum daya tarik. Hukum ini ditetapkan Scheinfeld sebagai unsur ketiga – yang sekaligus ia ragukan khasiatnya. “Hukum daya tarik menjamin bahwa Anda akan selalu menarik orang-orang dan situasi ke kehidupan Anda, selaras dengan pemikiran dominan Anda. Tetapi, seperti juga niat dan keyakinan, kita semua punya sangat banyak pemikiran-pemikiran dominan dan harapan-harapan (positif dan negatif) yang tidak tertarik ke kehidupan kita,” tulis Scheinfeld di halaman 54.

‘Menetapkan tujuan’ diletakkan Scheinfeld sebagai unsur ke-4. Pada saat yang sama ia mengutarakan keraguannya bahwa unsur ini memiliki keampuhan tinggi, karena kenyataannya tingkat kegagalan untuk menetapkan tujuan sangat tinggi. Keteladanan, penciptaan rencana yang jelas dan terperinci, tindakan besar, ketekunan, visualisasi, dan ketegasan secara berurutan menjelaskan unsur-unsur ke-5 hingga ke-10. Semuanya dirasa Scheinfeld belum cukup tanpa ada peran Unsur Ke-11 pada masing-masing unsur. Yang dimaksud Scheinfeld dengan Unsur Ke-11 adalah peran luas dan mendalam dari eksekutif-puncak-batin dan jaringan tak kasat mata.

Sejak permintaan Anda diajukan kepada eksekutif-puncak-batin hingga terwujud harus melalui langkah-langkah bertahap yang memberi gambaran bahwa kontak dengan Tuhan (atau apa pun yang Anda percayai) dapat ditempuh dengan cara yang sangat sederhana, sebagaimana Anda berhubungan dengan atasan Anda di tempat kerja Anda – bagaimanapun, Anda harus tetap memelihara tata krama. Scheinfeld menganjurkan tujuh langkah berikut ini untuk Anda tempuh, agar Anda bisa mencapai hasil yang mencengangkan: 1) Memperluas dan memastikan ‘hasil ideal’ Anda; 2) Menyusun permohonan bantuan untuk menciptakan hasil yang optimal; 3) Mengirimkan permohonan Anda kepada eksekutif-puncak-batin Anda untuk disetujui; 4) Menerima persetujuan; 5) Menggunakan jaringan tak kasat mata untuk meminta bantuan; 6) Melaksanakan tanggung jawab dan membuat keputusan serta rencana; dan 7) Menunjukkan hasil.

Untuk berkontak secara berkelanjutan dan nyambung Scheinfeld menganjurkan metode yang serupa dengan kisah saya dengan Sinterklaas di atas. Anda dipersilakan menulis surat kepada eksekutif-puncak-batin, yang lewat hal itu Anda mengajukan permohonan agar Dia, sang eksekutif-puncak-batin, mengabulkannya. Contoh-contoh surat permohonan yang menurut Scheinfeld berpotensi besar untuk diterima dan memperoleh pengabulan ia berikan pada halaman 98 hingga 121. Seperti halnya surat permohonan, maka Anda harus memberi latar belakang yang menggambarkan misi dan tujuan hidup Anda, serta maksud dan tujuan Anda mengajukan permohonan tertentu. Keinginan Anda harus jelas. Tandas Scheinfeld di halaman 81: “Semua permohonan diterima apa adanya. Jadi, Anda harus membuat permintaan dengan tepat. Kalau tidak, eksekutif-puncak-batin Anda akan melihat permohonan Anda (sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain) dan secara tidak langsung mengatakan, ‘Saya tidak tahu hal yang sedang Anda bicarakan,’ dan melemparkan permohonan Anda ke keranjang sampah.”

The 11th Element – Unsur Ke-11 cukup mencerahkan, membangkitkan semangat berusaha yang mungkin telah pudar karena apa yang diusahakan tak kunjung mewujud. Bagi yang penasaran ingin sekali membacanya, namun belum memiliki dana cukup untuk membelinya, barangkali bisa mulai dengan berkirim surat kepada Tuhan dengan mengajukan permohonan tersebut. Mudah-mudahan dikabulkan.©

Friday, March 13, 2009

Berlatih Mendengarkan Intuisi*

Ibu Katrin, guru kelas enam, sedang menimbang-nimbang, apakah akan menerima atau menolak promosi menjadi kepala sekolah. Pekerjaan itu jelas menantang, namun ia khawatir waktu bagi keluarga akan semakin tersita.

Lisna, manajer Pengembangan Sumber Daya Manusia di sebuah perusahaan, sudah berminggu-minggu mengangankan pekerjaan baru yang lebih 'menggairahkan'.

Anton yang baru di-PHK berpikir, barangkali ini saat terbaik untuk memulai berwirausaha. Lalu Bimantoro, seorang insinyur, berniat coba-coba bekerja di bidang lain namun tetap bisa memanfaatkan keahliannya di bidang teknik.

"Ketika akan membuat keputusan sangat penting, entah dalam menentukan pasangan hidup atau pilihan profesi, keputusan harus datang dari bawah sadar," demikian nasihat tokoh psikoanalisis legendaris, Sigmund Freud.

Intuisi ternyata merupakan sarana ampuh untuk memecahkan masalah, baik karier maupun kehidupan pribadi. Terbukti, para pengambil keputusan jitu, yang berhasil mengambil keputusan secara efisien, efektif dan bijaksana, selalu mengombinasi kekuatan intuisi dengan daya pikir analitisnya.

Masalahnya, bagaimana membina kekuatan intuitif ini sehingga dapat didayagunakan?


Kembangkan kemampuan intuisi dasar

Rupanya, awal dari segalanya adalah keyakinan. Yakini bahwa Anda mempunyai intuisi dan menghargai intuisi itu. Yakini Anda mampu mengetuk intuisi itu, dan benar-benar berniat mengembangkannya. Yakini, informasi yang diperlukan akan Anda peroleh dari intuisi Anda.

Berlatih relaksasi. Ketika tubuh dalam keadaan santai, pikiran pun akan mengendur. Ini memungkinkan frekuensi gelombang otak diperlambat, sehingga pikiran bawah sadar akan berfungsi lebih aktif.

Cari waktu dan tempat untuk menyendiri pada saat-saat tertentu supaya 'suara hati' bisa lebih terdengar. Lepaskan segala perasaan dan pikiran negatif yang memblokade energi. Buat diri Anda berpikir positif. Ganti pikiran negatif dengan pernyataan atau khayalan yang lebih positif.

Bersemadi. Ini membantu Anda memasuki kondisi kesadaran yang lebih dalam, di mana jawaban-jawaban atas pertanyaan Anda akan datang lebih mudah. Anda bisa bersemadi lewat berbagai sarana, misal api lilin, mantra, ungkapan tanpa arti, atau bahkan nama Anda sendiri.

Intuisi menghubungkan kita ke suatu database raksasa. Karenanya, untuk memperoleh jawaban spesifik, pertanyaan yang diajukan pun harus spesifik.

Sebagai contoh, Tiur sedang bertanya-tanya dalam hati, apakah sebaiknya ia pindah ke Surabaya saja menyusul tunangannya?

Maka janganlah ia bertanya, "Haruskah saya pindah?", namun "Haruskah saya pindah ke Surabaya?" Kalau jawabannya 'ya', baru informasi berikutnya ditanyakan. "Haruskah saya pindah bulan ini atau akhir tahun?"


Beberapa teknik pemecahan masalah

Memrogram mimpi. Katakan pada diri sendiri, "Saya ingin bermimpi tentang informasi yang akan memecahkan masalah ini" dan "Saya akan bermimpi tentang itu, akan mengingatnya dan memahaminya."

Mimpi biasanya datang dalam bahasa atau perlambang yang dapat dimengerti. Amati rangkaian peristiwa dalam mimpi itu, dan perasaan Anda di saat mimpi itu berakhir dan Anda terjaga.

Catat pertanda-pertanda yang terjadi dalam diri Anda maupun yang eksternal, yang terjadi keesokan harinya.

Bikin gambar coretan. Tuliskan pertanyaan yang ingin Anda ketahui jawabannya. Di bawah pertanyaan itu, gambarlah apa pun yang terlintas pada pikiran Anda dan yang mengalir begitu saja lewat tangan Anda.

Teruslah menggambar hingga tak ada lagi yang ingin ditambahkan. Kini lihat makna di balik gambar dan simbol itu.

Catat urutan pembuatan gambar dan simbol itu. Perhatikan pikiran dan perasaan Anda saat mengamati gambar.

Olahraga. Ajukan satu pertanyaan pada intuisi Anda sebelum berolahraga. Kemudian fokuskan diri pada olahraga. Perhatikan berbagai isyarat yang muncul selama dan setelah berolahraga.

Bikin catatan mimpi. Luangkan waktu sekitar 20 menit untuk menuliskan segala sesuatu yang ingin, telah, atau sedang dikerjakan. Ciptakan orang, perasaan, dan tempat yang ingin dikunjungi.

Anggap semuanya serba mungkin. Tak perlu mempertimbangkan soal keamanan atau finansial. Perhatikan apa tema-tema besar yang muncul dalam mimpi Anda setelah itu.

Memrogram sukses sehari. Santai di tempat tidur sebelum bangun pagi. Bayangkan di layar batin, sehari yang penuh dengan kesuksesan. Pasang jam pada layar itu dan secara batin gerakkan jarumnya jam demi jam dari pagi hingga hari berakhir.

Mainkan 'bioskop batin' itu, dengan Anda sebagai sutradaranya. Dalam bioskop digambarkan bagaimana segala sesuatu berjalan dengan lancar dan sukses.

Gunakan teknik ini untuk berlatih secara mental sebelum menjalani wawancara untuk suatu pekerjaan atau hal lain yang diidamkan.

Buat catatan harian. Setiap hari catatlah gagasan, perasaan, dan firasat Anda. Perhatikan apa yang ditulis dan perasaan Anda saat menulisnya.

Catat pikiran dan perasaan yang muncul saat Anda selesai. Anda akan mengetahui beda antara firasat berdasarkan intuisi dan gagasan berdasarkan perhitungan.

Latihan amat perlu. Makin banyak Anda berusaha mendengarkan dan memperhatikan intuisi, semakin tinggi kemampuan Anda untuk mendengarnya. Maka luangkan waktu barang lima menit setiap hari untuk mendengarkan intuisi.

Mintalah bantuan, dukungan, petunjuk apa pun, kepada intuisi Anda. Percayalah, Anda akan memperoleh jawaban.β


*) Diambil dari "Pengobatan Alternatif," © 2004 PT Intisari Mediatama.

Wednesday, July 25, 2007

Kisah-Kisah Yang Menyembuhkan

"DE nobis fabula narratur," ungkap filsuf dan sejarawan Romawi Kuno, Cicero, yang berarti "kisah mereka adalah kisah kita juga". Kisah-kisah yang kerap digunakan untuk mengidentifikasi diri dan keadaan pada hakikatnya adalah suatu sistem simbol yang bersifat inspirasional. Karenanya, kisah-kisah sering digunakan dalam metode penyembuhan jiwa. Banyak sistem spiritual menyingkirkan doktrin-doktrin agama yang dogmatis dan non-kompromis. Gantinya adalah penyampaian (sharing) kisah-kisah para utusan Tuhan dan pencari spiritual terdahulu.

Para terapis psikologi spiritual (bidang yang dipelopori oleh psikolog Amerika, William James, ini mengkaji jiwa sebagai spirit, bukan sebagai psyche) biasanya menyampaikan kisah secara tulisan maupun lisan yang sesuai kebutuhan penderita. Pada tingkat tertentu, sebuah kisah membantu penderita membangun momentum yang diperlukan untuk bergerak menuju sesuatu yang ia identifikasi dengan keadaan dirinya. Kisah-kisah yang inspiratif mendorong penderita untuk melihat sedikit lebih jauh dari apa yang ia lihat di hadapannya. Kisah-kisah mengilhaminya untuk menjadikan sesuatu yang tidak kentara menjadi dapat dirasakan secara intuitif. Kisah-kisah membantunya melihat, berpikir dan merasakan hal-hal dan situasi yang biasanya mungkin tidak ia perhatikan.

Tugas terapis dalam hal ini adalah sekadar membuka cakrawala pandangan penderita dan menjajaki nilai-nilai yang memungkinkan dapat ditemukannya makna hidup, yaitu nilai-nilai kritis, kreatif dan sikap bertuhan. Sebagai metode penyembuhan, kisah-kisah dipandang psikologi sebagai terapi yang bercorak orientasi masa depan (future-oriented), yang efektif terhadap kasus-kasus dengan kesadaran diri dan intelejensi yang cukup baik.

Menghidupkan kebenaran

Lama sebelum kelahiran agama-agama resmi, kisah lisan menjadi wahana untuk memelihara kebijaksanaan yang berabad-abad usianya. Dalam kisah-kisah, legenda, sejarah dan perumpamaan, kebenaran tentang kehidupan menemukan ekspresinya. Kisah-kisah memperkenalkan pendengarnya pada sebuah dunia magis dan misteri, pada kemungkinan yang lain-lain. Kisah-kisah yang mempesonakan dan menenangkan pikiran yang penat di akhir sebuah hari yang melelahkan.

Kisah-kisah juga sudah lama menjadi medium pendidikan dan pengajaran tradisional. Koentjaraningrat dalam Beberapa Pokok Antropologi Sosial (cetakan ke-4, 1980) menyatakan bahwa pengkisahan beberapa peristiwa dari kehidupan tokoh-tokoh keramat atau dewa-dewa melalui upacara seni drama bisa menimbulkan suatu suasana keramat juga, yang seolah-olah bisa memberi kekuatan kepada orang untuk tahan kepada penderitaan yang akan datang.

Yesus dan Buddha sangat menonjol dalam hal menyampaikan ajaran melalui kisah-kisah. Kaum shaman serta para tetua dari setiap tradisi menangkap kearifan para guru agung dalam kisah-kisah di sekitar perapian dan pada pertemuan anggota suku, menorehkan dalam dunia pendengarnya sebuah visi kehidupan yang lebih dalam dengan berbagai gambaran dan simbol-simbol.

Masyarakat Arab pra-Islam tidak memiliki tradisi baca-tulis, sehingga kisah-kisah (tradisi lisan) menjadi metode Nabi Muhammad untuk menyampaikan kebenaran wahyu Tuhan dengan bersandar kepada kitab-kitab sebelumnya (lihat QS Faathir [35]: 3). Penyusunan Al Qur'an menjadi kitab tertulis/tercetak justru baru terwujud lama setelah Nabi Muhammad wafat, yaitu pada masa kekhalifahan Utsman ibn 'Affan.

Literatur teologi dan filsafat Zaman Baru acapkali memakai kisah-kisah yang mampu menciptakan pemahaman praktikal, ketimbang gagasan-gagasan konseptual yang membuat pembaca berhenti pada teori. Psikologi sufi yang diklaim sebagai metode penyembuhan holistik mengedepankan kisah-kisah dan perumpamaan untuk menyampaikan kebenaran yang subtil.

Buku Heart, Self and Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony (1999) karya Robert Frager, misalnya, menyelipkan cukup banyak kisah semi-mitologis untuk memudahkan pembaca mengerti tentang topik-topik tasawuf yang kompleks. Maulana Wahiduddin Khan dalam karyanya, An Islamic Treasury of Virtues -- A Collection of Inspiring Thoughts, Stories, Quotes and Sayings of the Prophet Muhammad and His Companions (1999), mengumpulkan kisah-kisah tentang perbuatan dan perkataan yang terpilih untuk diteladani; tujuan Khan adalah untuk memberikan gambaran otentik tentang pandangan hidup Islami.

Karya populer Christina Feldman dan Jack Kornfield, Stories of the Spirit, Stories of the Heart--Parables of the Spiritual Path From Around the World (1991), adalah kumpulan kisah-kisah pengajaran yang sifat muatannya melampaui batas-batas agama dan budaya, dari tradisi agung di Timur dan Barat, dari Kristen, Buddha, Sufi, Zen, Chassid, Hindu, suku Indian, Afrika dan sumber-sumber lainnya. Diungkap oleh kedua penulis buku tersebut, "Setiap kisah terus hidup, terisi dengan hati dan inspirasi dari tradisi-tradisi ini."

Logoterapi

Berdasarkan penjelasan di atas, kisah-kisah yang berpotensi menyembuhkan tersebut termasuk ranah logoterapi, sebuah corak psikoterapi yang dikemukakan dan dikembangkan oleh Victor Frankl (1905), seorang ahli penyakit syaraf dari Austria.

Logoterapi menggunakan metode retrospektif (mengenang kembali) dan introspeksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan lain-lain melalui, antara lain, kisah-kisah yang dengannya penderita dapat mengidentifikasi dirinya. Kisah-kisah yang tergolong sejarah itu, bagaimanapun, terfokus pada masa depan dan kewajiban serta makna hidup yang harus dipenuhi oleh seseorang.

Dalam kehidupan, mungkin hasrat hidup bermakna sebagai motif utama tidak dapat terpenuhi, karena ketidakmampuan kita melihat, bahwa dalam kehidupan itu sendiri terkandung makna hidup yang sifatnya potensial, yang perlu disadari dan ditemukan. Keadaan ini menimbulkan semacam frustrasi yang disebut frustrasi eksistensial, yang pada umumnya diliputi oleh penghayatan tanpa makna. Gejala-gejalanya sering tidak terungkapkan secara nyata, karena umumnya bersifat laten dan terselubung.
Pendekatan kisah-kisah membantu pribadi untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya dan menyadarkan akan tanggung jawabnya, baik terhadap diri sendiri, hati nurani, keluarga, masyarakat maupun terhadap Tuhan. Kisah-kisah menjawab dan menyelesaikan berbagai problem, krisis dan keluhan manusia masa kini, yang intinya adalah seputar hasrat untuk hidup secara bermakna.

Kisah-kisah mencitrakan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam upaya menemukan makna hidup, yakni melalui hal-hal yang dialami dan dihayati. Kisah-kisah menuntun pikiran bawah sadar (sub-conscious mind) untuk mengambil sikap terhadap keadaan dan penderitaan yang tidak mungkin dielakkan. Kisah-kisah menunjukkan suatu jalan, memancarkan cahaya di jalan kita, mengajari kita bagaimana kita melihat, menyingkap kenyataan psikologis dan kejiwaan kita, menerangi kenyataan dan kesulitan-kesulitan yang tak terhindarkan dalam keseluruhan perjalanan kita. Seperti dinyatakan oleh Cicero pula: "Historia vitae magistra -- kisah sejarah adalah guru kehidupan."(AD)