Showing posts with label Perenungan. Show all posts
Showing posts with label Perenungan. Show all posts

Thursday, July 9, 2020

Pengaruh Pekerjaan

SEJAK tahun 2012, saya menjadi konsultan komunikasi untuk proyek pembuatan buku mengenai lima peraih PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup (mulai tahun 2015 menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Awalnya, secara tak sadar, saya tiba-tiba memiliki kepedulian pada pelestarian lingkungan, mulai dari hal-hal kecil, seperti mematikan lampu bila tidak digunakan, menutup keran air bila tidak dipakai, membuang sampah pada tempatnya, dan mudah trenyuh melihat pohon-pohon ditebangi. Dan, tentu saja, dalam waktu relatif singkat saya mengerti proses-proses kerja pengelolaan lingkungan dari diskusi-diskusi dengan para insinyur lingkungan yang mewakili kelima perusahaan peraih PROPER Emas itu.

Hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Sejak menerima Latihan Kejiwaan, saya terbimbing untuk me-niteni bagaimana “energi” dari pekerjaan-pekerjaan yang saya tangani sebagai konsultan komunikasi dan branding mempengaruhi diri saya, mengisi diri saya dengan pengetahuan mendalam mengenai seluk-beluk bisnis atau bidang yang ditekuni organisasi dari klien-klien saya. Apakah hal itu baik atau buruk? Saya tidak terlalu memikirkan pengaruhnya. Yang jelas, yang saya dapatkan berdampak baik bagi klien-klien saya, karena dengan demikian mereka dapat mengandalkan saya (dan tim LI9HT) untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar.

Saya tidak mengkhawatirkan pengaruh pekerjaan itu, karena saya yakin—dan juga dipastikan dalam ceramah Bapak Subuh—adanya zat kekuasaan Tuhan dalam diri saya, yang membentengi saya dari dampak negatif atau buruk yang mungkin diberikan oleh segala gerak hidup saya. Bagaimanapun, adalah kekuasaan Tuhan pula yang membimbing pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan saya sejak menekuni Latihan Kejiwaan. Saya saksikan sendiri bagaimana mulut dan pikiran saya bekerja otomatis, setiap kali diri saya tenang, saat tampil memerankan pekerjaan saya sebagai konsultan; bagaimana jari jemari saya bergerak di papan kunci komputer saat menulis; dan bagaimana keadaan diri saya saat menyikapi respons klien-klien terhadap pekerjaan saya dan tim LI9HT.

Apa pun pengaruh yang saya terima dari semua pekerjaan yang saya tangani, bagaimanapun, Latihan Kejiwaan yang telah mengisi diri saya membersihkannya secara bertahap, mengatur mana yang boleh tinggal dan mana yang tidak boleh terus melekat pada diri saya. Positifnya, saya jadi mengalami perubahan kebisaan-kebisaan saya secara dinamis, sehingga sebagai profesional dan pebisnis saya tidak berjalan di tempat. Puji Tuhan!©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 9 Juli 2020

Monday, September 24, 2012

Nama Besar


“Di dunia kita yang penuh dengan nama-nama besar ini, anehnya, para pahlawan sejati kita cenderung anonim. Dalam kehidupan yang penuh ilusi dan kuasi-ilusi ini, orang yang memiliki kebajikan penuh yang bisa dikagumi untuk sesuatu yang lebih besar daripada kebesaran namanya seringkali terbukti merupakan pahlawan tanpa tanda jasa: guru, perawat, ibu, polisi yang jujur, serta para pekerja keras yang seorang diri melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bergaji rendah dan tidak menarik.”


TAHUN 1995-1996, saya berkesempatan bekerja sebagai junior copywriter di sebuah biro iklan multinasional yang dijuluki “Biro Iklan No.1 Indonesia”. Lepas dari situ, dengan penuh percaya diri saya mengirim lamaran ke 20 biro iklan berskala besar, menengah dan kecil di Jakarta, dengan 16 di antaranya memanggil saya untuk wawancara. Kepercayaan diri saya lebih didorong oleh kesadaran bahwa saya mendompleng nama besar dari biro iklan tersebut.

Kenomorsatuan biro iklan tempat saya bekerja itu terbukti dengan bagaimana para creative director, ekspat maupun lokal, menyambut saya: Mereka semua segan, lantaran saya menyandang nama besar biro iklan multinasional tersebut. Bahkan satu creative director asal Australia yang mewawancarai saya, ketika saya tawari untuk memeriksa portofolio karya-karya iklan yang pernah saya buat selama bekerja di biro iklan multinasional tersebut, menepis sambil berkata, “Tidak perlu. Saya sudah tahu kualitas orang-orang dari biro iklan tempat Anda bekerja itu.”

Mendompleng nama besar memang banyak enaknya, tetapi saya tidak memungkiri bahwa tidak enaknya juga banyak. Saya jadi merasa tidak nyaman, lantaran semua orang di biro-biro iklan tempat saya bekerja kemudian selalu mengharapkan yang terbaik dari diri saya. Giliran saya tidak dapat memberikan hasil yang baik, mereka mengait-kaitkan saya dengan nama besar itu: “Mantan biro iklan besar kok nggak mutu idenya?!”

Sebaik-baiknya dan seenak-enaknya mendompleng nama besar, masih jauh lebih asik menjadi diri sendiri. Selama lima tahun pertama berkarir di industri periklanan, saya belum begitu yakin pada kemampuan diri sendiri, sehingga merasa perlu mendompleng pada nama besar sederet biro iklan multinasional yang saya singgahi dalam kurun waktu 1994-1999. Sesudah itu, barulah saya memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat saya andalkan untuk menghasilkan pekerjaan-pekerjaan yang bermutu.

Tidak sedikit orang yang memanfaatkan nama besar orang lain, organisasi sosial dan/atau bisnis untuk mencapai tujuannya atau untuk memuaskan kepentingannya. Bila orang-orang tersebut bertindak dan bersikap sebesar nama besar yang disandangnya, tentu hal itu tidak menimbulkan masalah bagi dirinya maupun orang lain. Yang menjadi masalah adalah apabila sikap dan tindakan mereka tidak sejalan dengan nama besar yang padanya mereka mendompleng.

Para alumni akademi militer terbaik Amerika Serikat di West Point, New York, mengenal kebiasaan yang dinamai “mengetuk cincin” (knocking the ring) untuk mempertegas kepada pihak lain bahwa mereka membawa nama besar USMA (United States Military Academy) West Point, sehingga jangan coba-coba berhadapan dengan mereka. Istilah “mengetuk cincin” itu muncul dari kebiasaan para alumni West Point ketika berdebat dengan sesama perwira yang asal sekolahnya bukan West Point, tapi ROTC (Reserve Officers’ Training Corps, Korps Latihan Perwira Cadangan) atau OCS (Officer Candidate School, Sekolah Calon Perwira). Ketika perdebatan memanas dan seorang alumnus West Point tampaknya mulai terdesak, dia akan mengetukkan cincin almamaternya ke meja, seakan berkata, “Lu jangan macem-macem deh sama gue. Gue ini lulusan West Point tau!”   

Membaca tentang hal “mengetuk cincin” itu di buku karya Hans Halberstadt, Army: The U.S. Army Today (Kent: Grange Books, 2003), saya sempat bertekad dalam hati, jangan sampai saya mempermalukan diri saat berbeda pendapat dengan orang lain dengan mengatakan, “Jangan macem-macem ya sama gue, gue ini lulusan UI dan anggota SUBUD lho!”

Kesadaran akan nama besar yang kita sandang, entah dari nama orang tua atau leluhur kita, organisasi di mana kita bernaung atau perusahaan tempat kita bekerja, bagaimanapun memiliki sisi positif, yaitu apabila hal tersebut dapat mendayai usaha kita untuk menjaga dan meningkatkan kualitas diri. Jangan sampai, mentang-mentang menyandang nama besar, kita lantas bertindak dan bersikap semaunya atau tidak sesuai kualitas sejati dari nama tersebut, karena hal itu malah akan menurunkan derajat dari orang atau organisasi yang namanya kita sandang dengan bangga. Saya memahami satu hal dari menyandang nama ayah saya, walaupun beliau sudah tiada: Hal tersebut bermakna saya mendoakan beliau melalui tindakan dan sikap saya; kalau tindakan dan sikap saya tidak sesuai atau mencemari nama ayah saya, maka saya telah membiarkan beliau menderita di alam baka!

Mendompleng nama besar memang tidak mudah, walaupun tak jarang tindakan itu menguntungkan kita secara material maupun sosial. Daripada keberatan beban menyandang nama besar orang lain atau organisasi, alangkah baiknya kita membangun nama besar untuk diri kita sendiri melalui pembentukan citra yang baik dengan senantiasa melakukan hal-hal positif bagi kepentingan kita sendiri maupun sesama kita.©


Mampang Prapatan XV, Jakarta Selatan, 24 September 2012











Wednesday, September 19, 2012

Sebagai Apa



“Jangan meletakkan keakuan Anda dalam jabatan, karena begitu jabatan Anda hilang, diri Anda hilang bersamanya.”
—Pernyataan Colin L. Powell sebagai pensiunan jendral bintang empat, mantan ketua Gabungan Kepala Staf dan menteri nuar negeri Amerika Serikat


Kenalan saya menjabat sebagai ketua umum sebuah organisasi massa (ormas) yang cakupannya nasional, tetapi merupakan bagian dari sebuah entitas internasional. “Sebagai ketua umum, saya awali rapat ini dengan agenda...,” ucapnya setiap kali rapat dengan jajaran pengurus ormas itu. Setiap pendapat maupun instruksi yang ia lontarkan selama rapat hampir selalu ia awali dengan penegasan "sebagai ketua umum", seolah tanpa pernyataan itu ia tak berhak menyatakan pendapat.

Ia juga dipercaya untuk memegang jabatan direktur pengelola sebuah perusahaan yang pengalaman stafnya secara profesional justru jauh melampaui dirinya—yang barangkali ia sadari betul sehingga setiap kali rapat manajemen ia merasa perlu menyatakan, “Sebagai managing director, perkenankan saya membuka rapat ini.” Sebegitu seringnya hingga para staf merasa sang direktur pengelola tidak percaya diri jika dirinya tidak diembel-embeli jabatannya.

Pengalaman saya menuturkan, bahwa orang-orang yang benar-benar ahli malah tidak pernah mengutamakan maupun mengutarakan dirinya sebagai apa. Apalagi di era di mana multi-tasking memainkan peran yang menonjol di dalam jalannya perusahaan seperti dewasa ini, kiranya sebagai apa Anda tampil di lingkungan kerja Anda tidak lagi relevan. ‘Sebagai apa’ malah cenderung membebani diri Anda sendiri maupun menyusahkan orang lain.

Baru-baru ini, menyadari bahwa sejak pertengahan Februari 2011 saya dipercaya menjadi sekretaris pengurus nasional Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK SUBUD) Indonesia, sejumlah pengurus cabang dari organisasi nasional yang beranggotakan lebih dari 5.000 orang di sebelas daerah dari negara kesatuan Republik Indonesia itu menghubungi atau mendatangi saya menyangkut berbagai urusan administratif. Ketika saya menyatakan bahwa sejak 12 Juli saya telah mengundurkan diri—dengan pertimbangan utama bahwa posisi tersebut malah menghalangi saya untuk bersikap apa adanya dalam mengutarakan pendapat—mereka kebingungan, tidak tahu harus berhubungan dengan siapa untuk menyelesaikan masalah-masalah administratif.

Tetapi, seorang saudara SUBUD saya dengan bijak menyatakan, “Perlukah Anda menjabat sebagai apa untuk melayani kebutuhan mereka?” Kata-katanya membangunkan sesuatu di dalam diri saya. 

Para nabi dan utusan Tuhan di masa lalu tidak pernah mengklaim diri mereka sebagai apa—yang dewasa ini malah acap digunakan sebagian orang untuk menandaskan identitas diri mereka untuk tujuan-tujuan yang merugikan banyak orang. Tanda-tanda kenabian mereka malah disaksikan oleh orang lain, bukan oleh keinsafan mereka sendiri.

Saya meragukan setiap ucapan Nabi Muhammad SAW di sejumlah literatur yang menyatakan “sebagai Nabi, saya putuskan” atau “sebagai Utusan Allah, maka saya”, lantaran beliau di lain pihak digambarkan sebagai pribadi yang rendah hati, sabar, ikhlas dan tawakal. Saking rendah hati dan sabarnya, Muhammad tidak marah ketika diri beliau diludahi pengemis Yahudi buta yang membenci dirinya atau mulutnya terkena lemparan batu hingga berdarah dalam suatu pertempuran melawan kaum musyrik. Beliau malah mendoakan mereka dengan tulus!

Siddhartha Gautama, Sang Buddha ke-24, mengimbau para pengikutnya agar tidak segera mempercayai apa pun yang dikatakannya sebelum pengikutnya mengalami sendiri kebenaran kata-katanya. Mentang-mentang mendapat Penerangan Sempurna tidak serta-merta ia menyatakan, “Sebagai Yang Tercerahkan, maka semua yang Aku katakan itu benar!”

Sebaliknya, dengan rendah hati ia menyatakan, “Jika dalam semadimu engkau masih melihat aku, bunuhlah aku!” Ia bermaksud mengajarkan kepada para pengikutnya agar tidak bergantung pada dirinya, lantaran dirinya bukan siapa-siapa; ia mengajarkan mereka agar percaya pada kemampuan diri sendiri. Oleh karena pernyataan Siddhartha Gautama agar para pengikutnya tidak segera percaya pada kebenaran yang disampaikannya, agama Buddha terkenal sebagai agama dengan lebih dari 80.000 sekte, bahkan membolehkan penganut Buddhisme tidak menganut sekte apa pun (non-sektarian), juga tidak memurtadkan penganut agama Buddha yang berpindah agama.

Para guru spiritual terkemuka dunia merupakan pribadi-pribadi yang sejalan dengan kedua tokoh yang saya utarakan di atas. Mereka dianggap guru oleh orang-orang yang percaya bahwa mereka mengajarkan sesuatu atau memberi obat atas permasalahan hidup orang banyak.

Mahaguru tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak pernah merilis kitab apa pun. Beliau hanya membagi kearifan beliau dalam mempelajari Al Qur’an dan kitab-kitab para pendahulunya. Beliau juga tidak berkoar-koar di alun-alun kota atau masjid agung bahwa dirinya utusan Tuhan atau wali Allah atau menyatakan ‘sebagai apa’ untuk menggalang pengikut sebanyak mungkin guna menopang bangunan kekuasaan politik.

Kebijaksanaanlah yang membuat beliau disegani dan dihormati layaknya guru, sehingga hanya setelah beliau wafat orang-orang mendirikan tarekat yang menggunakan nama beliau (Tarekat Qadiriah) serta menuliskan kitab yang menghimpun nasihat-nasihat beliau.

Ini mirip dengan sejarah ‘kitab lahiriah’ Al Qur’an yang dituliskan dalam susunan yang kita kenal sekarang setelah penerima wahyu—Nabi Muhammad SAW—wafat. (Tolong, jangan berpikir seperti keponakan saya ketika berusia enam tahun, yang mengira satu kitab setebal buku telepon jatuh dari langit ke pangkuan Nabi Muhammad ketika beliau pertama kali menerima wahyu dari Tuhan.)

Intinya, jangan sampai posisi, pengetahuan atau pengalaman menahan Anda dari berbuat sebaik mungkin bagi kemaslahatan orang banyak. Itu menurut saya lho—tidak perlu Anda ikuti. Karena sebagai saya, saya bukan siapa-siapa.Ó


Gang Garuda, Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 4 Agustus 2011

Kembali ke Dasar


“Mundur selangkah untuk maju dua langkah.”
—Anonim


Baru-baru ini, melihat saya menenteng buku Kleppner’s Advertising Procedure, seorang kawan berkomentar, “Lu kan udah jago, pengalamannya banyak. Masak masih harus baca buku advertising?”

Buku tersebut didaulat sebagai kitab sucinya insan periklanan Indonesia karena isinya, yang mencakup bidang-bidang pokok dari spektrum periklanan modern, membahas dasar-dasar bisnis periklanan, walaupun di negeri asalnya, Amerika Serikat, buku yang terbit pertama kali pada tahun 1925 itu merupakan diktat kuliah mahasiswa jurusan periklanan dan pemasaran.

Kepada kawan itu, saya mengingatkan saat kami masih aktif berlatih seni bela diri Korea, Taekwondo, di bangku sekolah menengah atas. Walau kami sudah menyandang sabuk di atas sabuk putih, yang dikenakan para pemula, sekalipun setiap kali latihan saya harus kembali ke dasar, yaitu berlatih teknik-teknik pukulan, tangkisan dan tendangan yang diperuntukkan bagi pemegang sabuk putih.

Proses kembali ke dasar (back to basics) itu, dalam Taekwondo, adalah untuk mengetahui asal-usul sebuah teknik atau jurus sehingga kita dapat mengembangkannya atau berimprovisasi dengannya, maupun untuk mengasah kecepatan dan ketepatan. Tanpa mengenal dasar-dasarnya kita tak mungkin melakukan teknik/jurus lanjutan dengan baik dan benar.

Ini berlaku pula dalam berbagai bidang pekerjaan maupun kehidupan. Ekspresi ‘melanggar aturan’ yang kerap dipraktikkan oleh para pakar di bidang masing-masing tidak bisa serta-merta diterapkan sebelum kita memahami aturan-aturan dasarnya. Tanpa mengetahui aturan-aturannya, dengan mengamalkannya, tidak bisa disebut ‘melanggar aturan’, bukan? Proses kembali ke dasar ini pada hakikatnya melambangkan bahwa manusia seyogianya tidak melupakan asal-usul segala sesuatu, termasuk dirinya.

Konon, kesejatian manusia terletak pada sifat-sifatnya ketika ia masih bayi dan kanak-kanak antara usia 0 hingga 7 tahun. Dalam usia itu, manusia umumnya belum terkontaminasi dunia yang serba materialistis, memuja kebendaan, serta sarat nilai-nilai yang tidak hakiki. Usia 0 sampai 7 tahun dianggap usia yang suci, di mana manusia belum mengalami kemelekatan. Diyakini bahwa ketika masih bayi manusia dituntun oleh jiwanya, bukan akal pikirnya atau nafsunya, sehingga tak seorang pun dapat mengingat masa ketika dirinya masih bayi.

Sukses atau kaya bukan atribut sejati manusia; ia tidak dilahirkan dengan bekal untuk menjadi sukses dalam menjalani hidupnya—ia dilahirkan hanya dengan bekal untuk menjalani hidup, lantaran sukses atau gagal merupakan nilai-nilai dunia yang ditempelkan (diajarkan) oleh lingkungan budaya di mana ia dilahirkan, yang lambat-laun akan membuat ia meyakini bahwa itulah kebenaran hakiki dari hidupnya sebagai manusia, sehingga itulah yang senantiasa ia kejar.

Kebahagiaan pun demikian. Dalam Buddhisme diajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dikejar. Diajarkan kepada penempuh jalan sang Buddha bahwa manusia itu seharusnya menjadi bunga, yang berdiam diri (semadi) dalam kekinian, jumbuh dengan keadaan dan kondisi, sehingga keindahan dirinya yang terpancar dari sikap seperti itu akan mengundang kupu-kupu kebahagiaan menghinggapinya.

Kebahagiaan datang pada mereka yang tidak mencarinya atau mengejarnya. Hal ini melambangkan bahwa kebahagiaan itu sudah tertanam dalam diri manusia sejak awal penciptaannya, sehingga tidak diperlukan unsur-unsur dari luar untuk membangunkan kebahagiaan pada dirinya.

Keadaan kosong, Titik Nol, yang kita capai melalui berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal kepada kehendak Yang Maha Kuasa, mewujudkan wihdatul iradah (berjodohnya kehendak manusia dengan kehendak Tuhan) yang sempurna, merupakan retribusi manusia dalam upayanya kembali ke dasar, meraih kembali kesejatian dirinya yang tertuntun oleh jiwanya. Ini bukan sikap pasif, yang fatalistik (menyerah pada nasib), melainkan sikap proaktif kita untuk menapaktilasi asal-usul kita sebagai makhluk yang dalam menjalani hidup sejatinya harus senantiasa sejalan dengan lingkungan di mana kita berada dalam suatu waktu.

Setiap orang perlu sekali waktu atau setiap waktu kembali ke dasar untuk menggali dan menemukan hakikat dirinya dan peristiwa atau keadaan yang melingkupi dirinya, yang dengan demikian dapat mengungkap hikmah-hikmah yang tersembunyi di baliknya. Itulah momen kita untuk menggapai hakikat kemanusiaan kita—bahwa kita sejatinya makhluk fitrah.©


Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 22 Agustus 2011

Tergantung Niatnya


“Yang paling penting dalam hidup adalah niat.”
—Andrea Bocelli


Tujuh tahun lalu, seorang kawan yang sedang ditimpa ujian hidup yang berat suatu malam mengajak saya berkontemplasi di Masjid Sunan Ampel, SurabayaJawa Timur. Saya gemar berkontemplasi, tetapi untuk itu saya tidak melulu melakukannya di tempat ibadah, tetapi juga di tempat-tempat lain, termasuk di kantor saya, lantaran keyakinan saya bahwa Tuhan ada di mana-mana. Namun kali itu, karena saya tidak mau mengecewakann kawan saya yang ingin bertafakur di masjid, saya mengikuti saja kehendaknya.

Selama berada di masjid bersejarah di tengah perkampungan bernuansa Timur Tengah itu, selain berkontemplasi kawan saya juga menunaikan salat tahajud, sedangkan saya hanya celingak-celinguk kegerahan, yang bukan diakibatkan oleh cuaca panas, melainkan pemandangan pemujaan berhala yang sarat di dalam maupun di seputaran masjid, seperti salat menghadap makam Sunan Ampel dan keluarganya dengan terlebih dahulu membakar dupa serta berdoa sambil memegangi pilar-pilar kayu yang menopang atap masjid bercorak tradisional Jawa itu.

Ketika tiba saatnya salat Subuh, saya dan kawan saya bergabung dengan jemaah pria yang hendak menunaikan salat Subuh. Karena bingung mau menaruhnya di mana, kawan saya, yang bersama saya berposisi di barisan terdepan, akhirnya menyandarkan tas ranselnya di dinding masjid yang dihadapi barisan terdepan dari jemaah salat Subuh itu.

Usai salat, kawan saya ditegur pengurus masjid lantaran tas ransel itu mengganggu jemaah salat, karena dianggap ‘merintangi’ penghambaan mereka kepada Tuhan. Kawan saya bersikukuh bahwa semua itu tergantung niatnya. Logikanya, katanya, jika kita berniat hanya menghadap Allah, tentu kehadiran tas ransel itu seyogianya tidak mengganggu. Jika dianggap merintangi penghambaan, walaupun tas itu disingkirkan masih ada dinding yang sebenarnya juga merintangi, demikian kawan saya berpendapat sambil ngeloyor pergi, mengacuhkan si pengurus masjid yang hanya berdiri melongo sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Beberapa tahun lalu, sepupu saya minta diantarkan kepada kenalan saya, seorang ulama Muhammadiyah, lantaran ia gundah dengan pekerjaannya sebagai juru racik minuman beralkohol di sebuah kapal pesiar asing, sedangkan dalam agama yang dianut sepupu saya minuman yang memabukkan itu haram hukumnya. Ulama itu menanyakan niat sepupu saya dalam bekerja: Apakah mencari nafkah untuk menghidupi keluarga—yang dalam hal itu justru diberkahi Tuhan—atau berniat dengan sengaja mau membuat orang mabuk?

 Tentu saja sepupu saya menegaskan yang pertama, makanya ia gundah dan memerlukan bantuan solusi dari sudut pandang ahli agama. “Ya sudah, jalankan saja pekerjaan kamu. Tenang saja. Apabila ada orang yang mencap pekerjaan kamu haram, minta dia mencarikan pekerjaan yang halal. Kalau tidak bisa, suruh dia tutup mulut!” ujar sang ulama dengan tegas. Ulama yang lain pernah menyampaikan kepada saya bahwa dalam apa pun yang kita lakukan, dan kiranya bertentangan dengan nurani, jadilah seperti ikan di laut. Laut itu asin, tetapi ikan yang hidup di dalamnya tidak ikut menjadi asin, bahkan memberi banyak manfaat.

Niat itu melampaui sekadar kata dan bicara. Apalagi ucapan dalam bahasa yang tidak dimengerti peniat. Ucapan tanpa niat saja tak ada artinya, apalagi tindakan atau perbuatan yang tidak dilandasi niat, yang cenderung tidak mengarah ke mana-mana.

Niat itu dasar dari segala perkataan dan perasaan, pikiran dan perbuatan kita yang dilakukan secara sadar. Dan niat itu hanya berasal dari orang-orang yang menggunakan akalnya. Jika kita berbuat tanpa niat, itu tak ada bedanya dengan tindakan yang dikerjakan orang yang pikirannya tidak bekerja.

Niat itu ketetapan diri yang diteguhkan oleh hati, baik yang dilisankan maupun hanya dibatinkan. Kawan saya suatu ketika menyatakan pendapatnya bahwa sembahyang yang tidak didasari niat itu tidak ada gunanya. “Daripada tidak niat mending tidak sembahyang. Lha, kita sedang membohongi siapa kalau tidak niat tapi memaksakan diri untuk sembahyang karena khawatir dicerca orang lain? Kita mungkin bisa mengelabui sesama manusia, tapi bukankah Allah Maha Mengetahui isi hati?” ujar kawan saya.

Eratnya niat dengan perkataan dan perasaan, pikiran dan perbuatan sama eratnya dengan gula dan rasa manisnya. Manis gula segera terasa—dalam hitungan nanodetik—begitu kita menyentuhkan lidah kita pada gula. Jika perbuatan tanpa niat menjadi tak tentu arah, maka niat tanpa dibarengi tindakan menjadi tak ada gunanya. Niat itu seperti gagasan, yang akhirnya akan berkarat di dalam pikiran kita bila tak segera diwujudkan. Ide tentang membuat Catatan ini akan lumer bersama pikiran-pikiran lain yang memenuhi kepala saya jika saya tidak segera menuangkannya.

Untuk memahami apa yang saya sampaikan dalam Catatan ini pun Anda perlu berniat, entah untuk mendapat inspirasi, motivasi, atau untuk mencerca saya. Percayalah, itu akan menjadi kenyataan. Karena apa pun yang Anda dapatkan nantinya, semua tergantung dari niat Anda pada awalnya.§


Perak BaratKrembanganSurabaya Utara28 Agustus 2011

Tuesday, September 18, 2012

Kebebasan


“Kebebasan itu tak ternilai harganya. Ia merupakan napas kehidupan. Siapa yang tak mau membayar untuk hidupnya?”


Dalam bidang pekerjaan saya, yang termasuk ranah komunikasi merek, kreativitas merupakan hal yang utama dan penting, karena segala sesuatu, dari produk dan jasa sampai orang, harus memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain, agar ancangan (positioning) mereknya menjadi jelas. Nama produk atau jasa belum bisa dikatakan ‘merek’ kalau belum terpenuhi semua aspek ekuitasnya (brand equity), yang pada gilirannya akan membuat namanya tertancap di benak, dipersepsikan kualitasnya oleh, diasosiasikan oleh, serta menggaet loyalitas konsumen, publik dan para pemangku kepentingan (stakeholder); ia baru menjadi sekadar label saja.

Bagaimanapun, menjadi kreatif bukanlah sesuatu yang mudah, utamanya bagi mereka yang pikirannya masih terkungkung. Kemampuan mendesain komunikasi visual, menulis naskah, memotret, membuat ilustrasi, mengomposisi nada (dalam pembuatan jingle atau ilustrasi musik sebuah iklan media elektronik) atau menciptakan lirik, dan lain-lain, yang dewasa ini serta-merta dianggap sebagai ‘industri kreatif’, tidaklah kreatif kalau karya yang dihasilkan tidak mencerminkan ciri-ciri yang berbeda atau memperlihatkan terobosan baru!

Untuk menjadi kreatif, menurut pengalaman saya selama ini, kita perlu sewaktu-waktu membebaskan diri dari nilai-nilai (pribadi maupun umum) yang menghambat kreativitas kita untuk tumbuh dan berkembang seluas-luasnya. Tidak boleh ada rasa takut, khawatir atau ragu-ragu. Menjadi kreatif saja tidak cukup; kita juga perlu berani bertindak kreatif. Lepaskan semua ketakutan itu, feel liberated, dan ide-ide kreatif akan menyembur bagaikan kuda yang menerjang kandangnya untuk meraih kebebasan.

Di pikiran kita pada umumnya terdapat sejumlah kunci, yang keberadaannya disebabkan oleh pengalaman, pengetahuan, ketakutan, nilai-nilai dan norma-norma, dan tali kekang-tali kekang lainnya, yang dapat membuat kita berkacamata kuda selamanya, tidak mampu keluar dari kotak (out-of-the-box), sehingga banyak peluang yang terlewatkan begitu saja.

Pengetahuan adalah baik, hanya ketika ia tidak menghalangi kita untuk maju. Yang berbahaya adalah ketika pengetahuan menjadi tak ubahnya tiran kejam yang mengekang pikiran, tubuh dan jiwa kita sedemikian rupa, sehingga kita tak beda dengan robot. Beberapa mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL) atau pemagang yang pernah singgah di perusahaan tempat saya bekerja dahulu menunjukkan gejala semacam itu: Teori-teori yang mereka peroleh di bangku kuliah dari dosen-dosen yang bukan praktisi ternyata menghalangi mereka dalam melakoni pekerjaan advertising a la dunia nyata, sedangkan mereka enggan keluar dari zona kenyamanan akademik mereka! Saya sampai berkesimpulan bahwa dunia kampus hanya menelurkan lulusan yang siap pakai, tetapi tidak siap kerja!

Pengalaman menjadi guru yang baik hanya jika ia tidak mengikat Anda untuk maju berlangkah-langkah ke depan. Tidak sedikit pelaku wirausaha yang jera berwirausaha ketika dirinya didera pengalaman dengan kegagalan, padahal dalam kegagalan itu tertera segudang pembelajaran yang akan sangat berguna jika ia melanjutkan tindakan wirausahanya. Takut dan khawatir juga merupakan noda dalam upaya menumbuhkembangkan kreativitas. Pendek kata, kita harus melepas (let go) itu semua, dan menjadi bebas.

Tidak Ada Gunanya Menginginkan Kebebasan
Semua orang menginginkan kebebasan. Tetapi, ketahuilah, kita takkan mendapatkannya, selama kita masih menginginkan. Untuk menjadi benar-benar bebas, kita tidak lagi menginginkan, melainkan menjadiSimply be.

Ketika masih menginginkan, akan susah bagi kita untuk go for it (melakukan saja), karena sudah pasti kunci-kunci dalam pikiran kita akan mencegah kita melakukan apa yang kita kehendaki untuk kesuksesan pribadi kita (saya sebut demikian, karena sejatinya kesuksesan adalah yang dicapai oleh kesadaran diri pribadi, bukan lantaran menuruti tolok ukur orang lain). Belum melakukan, atau mewujudkan, gagasan atau cita-cita, Anda sudah tersandung oleh pikiran Anda sendiri bahwa hasilnya tidak akan maksimal, atau tidak sesuai dengan harapan klien, atau Anda akan dicerca orang, atau Anda merasa tidak punya pengetahuan yang menunjang tindakan Anda dalam mewujudkan sesuatu, atau Anda merasa tidak berpengalaman.

Tidak sedikit orang yang gagal melakoni usaha, bukan karena usahanya berpotensi gagal, melainkan lantaran mereka tidak mau memulainya. Waktu mereka habiskan untuk berkutat memikirkan bagaimana memulainya, bagaimana biar tidak menanggung risiko (realistis saja, Bung, tidak ada tindakan yang tidak berisiko!), bagaimana kalau gagal, modalnya dari mana, klien atau pelanggannya dari mana, dan sebagainya. Lupakan sejenak omong-kosong itu. Tuhan tidak akan mengubah nasib kita, bila kita sendiri tidak mau berubah. Mau memulai usaha? Mulai saja, go for it!

Ketika saya ditawari proyek penulisan laporan tahunan (annual report) sebuah perusahaan pupuk nasional pada akhir tahun 2007, saya belum punya pengalaman dalam hal itu dan tidak punya pengetahuan secuil pun mengenai public relations writing, suatu ranah penulisan yang di dalamnya termasuk penulisan laporan tahunan. (Setahun kemudian, saya baru menemukan buku tentang PR writing di toko buku, tetapi saya tidak berminat membelinya, lantaran setelah saya baca sebagian isinya ternyata semua sudah saya praktikkan tanpa saya tahu teorinya!)

Saat itu, saya berpikir, “Why not go for itThere’s always a first time for everything.” (Kenapa tidak diterima saja? Selalu ada pertama kali untuk semua hal.) Ketika klien menanyakan perihal pengalaman saya, dengan santai saya bilang, “Gimana saya bisa punya pengalaman kalau Bapak nggak kasih saya kesempatan?” Si klien sempat ragu, pasalnya perusahaan yang direpresentasinya ingin memenangkan posisi “5 Besar” dalam Annual Report Award (ARA) tahun 2008. Tentunya merupakan hal yang riskan bila ia mempercayakan penulisan laporan tahunan perusahaannya kepada seseorang yang belum berpengalaman.

Saya kira ada campur tangan Ilahi ketika si klien akhirnya memberi saya kesempatan yang menantang itu. Singkat cerita, saya berhasil melaksanakan pekerjaan yang saya tidak miliki pengetahuan maupun pengalaman yang relevan tentangnya, dan predikat Juara II untuk kategori non-listed company dimenangkan perusahaan pupuk nasional itu di ajang ARA 2008!

Kesimpulannya, tidak usah menginginkan kebebasan. Jadilah bebas, maka Anda baru bebas. Logis kan?!

Menghentikan Waktu
Dapatkah kita menghentikan waktu? Menurut saya, bisa. Yaitu dengan mempraktikkan ajakan Sang Buddha untuk senantiasa hidup di saat sekarang. Saya menyebutnya ‘ajakan’, bukan ‘ajaran’, karena Sang Buddha dengan rendah hati mengundang siapa saja untuk mengikuti, bukan taat ‘mati’, lantaran kepercayaan tanpa landasan pengetahuan maupun kesadaran diharamkan dalam Buddhisme. Sang Buddha tidak meminta kepercayaan Anda padanya jika Anda belum mengalaminya sendiri. Dalam Islam, sebenarnya, juga demikian: tahqiq (sadar) lebih diutamakan daripada taqlid (ikut-ikutan).

Saat sekarang adalah detik ini, dengan menjadi, bukan menginginkan begini atau begitu nanti, atau menyesali yang telah lewat. Menjadi saja (simply be), sekarang juga. Saat kita menjadi, detik ini, detik ini pula waktu berhenti. Dengan menjadi, kesadaran penuh tercapai; fokus secara alami, bukan fokus yang dikehendaki. Kawan saya pernah bertanya, bagaimana agar bisa khusyuk dalam sembahyang. “Lakukan saja. Khusyuk saja. Sembahyang kamu akan terusik sepanjang prosesnya karena selama itu kamu malah menanti-nanti momen kekhusyukan. Biarkan kekhusyukan datang secara alami. Nggak usah kamu harapinnggak usah kamu pikirin. Terima aja dan jadilah,” kata saya, santai.

Sudahkah Anda mencintai dengan bebas? Pertanyaan itu terlontar dari dalam diri ketika saya sedang mencintai seseorang. “Sebab, kalau kamu belum mencintai dengan bebas, itu bukan cinta yang sejati!” lanjut suara batin saya itu. Mencintai dengan bebas berarti tidak menghambat diri untuk memberi. Beri saja apa yang Anda ingin beri. Limpahkan cinta seutuhnya, tidak dipagari oleh penilaian ini-itu, pertimbangan begini-begitu. Cintai saja. Tuhan dan ibu kita juga hanya memberi dan memberi, tidak harap kembali. Maaf, saya tidak percaya Tuhan bisa disogok dengan sembah-sujud dan puja-puji berjuta kali agar Dia melimpahkan cintaNya kepada kita. Yang saya percayai adalah bahwa Dia hanya Cinta. Bahkan ketika Dia memanggil kita kembali landasannya adalah cinta, bukan kemurkaan!

Cinta (yang sejati) merepresentasi kebebasan sejati. Pada dirinya tidak melekat penjelasan, syarat, pamrih, hal-hal yang membuatnya terlarang, salah-benar, norma, dan lain-lain. Dia mengada saja. Kalau Anda mencintai seseorang lantaran orang itu memenuhi ideal Anda tentang sesuatu, baik itu menyangkut fisik maupun kepribadian, percayalah itu bukan cinta, melainkan tertarik atau naksir (infatuation). Anda boleh yakin bahwa itu cinta yang sesungguhnya, ketika Anda tidak punya penjelasan masuk akal mengenai alasan Anda mencintai seseorang. Anda mencintainya saja!

Kebebasan merupakan visi bagi kebanyakan orang. Tetapi kita belum bebas bila tidak menjadi. Simply be.Ó


Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 14 Desember 2011

Penemuan


 “Penemuan terdiri dari melihat apa yang telah dilihat semua orang, dan berpikir apa yang belum dipikirkan orang lain.”


Kepada saudara SUBUD yang mengatakan bahwa ia telah menemukan Tuhan lewat Latihan Kejiwaan yang dilakoninya selama beberapa tahun, saya berseloroh, “Lhaemangnya selama ini Tuhan hilang ke mana?” Memang cukup banyak orang yang melakoni pencarian, entah itu Tuhan, diri sejati, cinta sejati atau apalah yang bersifat visioner, padahal sesungguhnya yang mereka cari sudah ada sejak dahulu, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Di bidang pekerjaan saya, yang berada di lingkup industri komunikasi pemasaran dan korporat, telah menjadi umum ekspresi ‘mencari ide’. Kalau Anda kebetulan menjumpai atau mengenal seorang kreator materi komunikasi pemasaran dan/atau korporat, entah copywriter atau art director, perhatikan beragam tingkahnya yang aneh, yang biasanya mereka kaitkan dengan proses pencarian ide. Betulkah sesungguhnya mereka ‘mencari ide’?

Tahun 2002 terbit buku karya Jim Aitchison, Cutting Edge Advertising: How to Create the World’s Best Print for Brands in the 21st Century (New Jersey: Prentice Hall, 2002), yang menandaskan bahwa tugas kreator iklan bukanlah ‘mencari ide’, melainkan ‘menemukan ide’. Menurut Aitchison, ide sudah ada sebelumnya dan ada di mana-mana, dan menjadi tugas seorang penulis naskah iklan (copywriter) dan pengarah artistik (art director) untuk menemukan ide tersebut serta mewujudkannya menjadi kesatuan konsep yang utuh. ‘Penemuan’ Aitchison itu menyadarkan saya, yang selama ini sibuk berkutat mencari ide, bahwa segala sesuatu yang bagi kita merupakan hal yang baru sesungguhnya sudah ada sebelumnya!

Baru-baru ini, saya baca novel ilmiah karya Michael CrichtonState of Fear—Kondisi Ketakutan (Jakarta: Gramedia, 2009 ), sebuah cerita fiksi yang secara ilmiah membeberkan skenario non-fiksi bahwa isu pemanasan global merupakan isu tanpa kebenaran ilmiah yang ditiupkan oleh oknum-oknum tertentu dari kalangan politisi, pengacara dan media untuk menciptakan kondisi ketakutan yang mendunia demi mencapai tujuan-tujuan materi mereka.

Penulis yang terkenal lewat karya-karya fiksi ilmiah yang diadaptasi ke film, seperti Jurassic ParkThe Lost WorldSphereAirframeTwister (skenario film), Eaters of the Dead (judul filmnya The 13th Warrior), Timeline dan sebagai penulis skenario serial televisi E.R. ini mengemukakan sejumlah fakta bahwa berbagai hal yang dituding sebagai penyebab dan gejala-gejala utama pemanasan global, seperti sendawa sapi yang kabarnya mengandung gas metana, naiknya permukaan laut dan melelehnya es di Kutub Utara dan Selatan sebenarnya sudah terjadi berulang kali sejak lama, sangat jauh sebelum para aktivis pro lingkungan mem-blowup isu pemanasan global.

Penulis yang dokter lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini menyimpulkan bahwa alam menjadi rusak justru oleh upaya pelestarian dan pengelolaan (environmental management) yang dilakukan manusia. Kesimpulannya itu didasari oleh temuan ilmuwan bahwa ternyata alam melestarikan dirinya sendiri lewat proses mutualisme simbiosis dengan unsur-unsur alami yang sudah ada ‘sejak penciptaan’!

Novel karya Michael Crichton tersebut mempertegas ‘temuan’ saya bahwa apa yang baru diketahui manusia sesungguhnya sudah lama ada, karena Tuhan telah membekali segala sesuatu yang akan menjadi kebutuhan ciptaanNya ketika dilahirkan ke dunia. Dalam konteks bahasa, untuk kata “penemuan” dalam Bahasa Indonesia terdapat dua padanan kata dalam bahasa Inggris yang dipakai sesuai sifat dari masing-masing padanan kata tersebut.

Lionel Bender dalam bukunya, Eyewitness: Invention (London: DK Children, 2000), membedakan antara istilah invention dan discovery, yang dalam Bahasa Indonesia cukup diterjemahkan sebagai ‘penemuan’ saja. Menurut Bender, invention mengacu pada penemuan ‘sesuatu yang belum ada sebelumnya’ atau penciptaan, seperti Alexander Graham Bell menciptakan telepon pertama dan Heron dari Alexandria yang menemukan kincir angin. Discovery, sebaliknya, mengacu pada penemuan sesuatu yang sudah ada sebelumnya, tetapi baru diketahui manusia, seperti Christopher Columbus menemukan benua Amerika dan Isaac Newton merumuskan Teori Gravitasi.

Tetapi, benarkah terdapat hal-hal yang tidak ada sebelumnya? Saya meragukannya. Ketika kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (FS; kini Fakultas Ilmu Budaya, FIB) Universitas Indonesia, saya baru tahu bahwa yang menemukan benua Amerika bukanlah Columbus, melainkan suku-suku purba, yang lantaran Columbus mengira daratan yang dilihatnya pertama kali dalam pelayaran ekspedisinya pada tahun 1492 adalah India (karena memang itu destinasi yang ditujunya) lantas disebutnya ‘suku Indian’. Jauh sebelum James Cook menemukan Australia, para pelaut Jawa dan Makassar sudah mendarat di utara benua itu untuk mencari teripang. Pada saat suku-suku Indian dan pelaut Jawa serta Makassar masing-masing sampai di benua Amerika dan Australia pun kedua daratan itu sudah ada—dalam arti bukan dibuat dengan sengaja oleh orang Indian, Jawa dan Makassar lewat reklamasi laut lepas, seperti yang terjadi di Jakarta dan Negeri Belanda dalam rangka perluasan wilayahnya.

Sebelum ada manusia, saya kira bumi ini sudah ada. Sebelum bumi ini ada, sudah ada sistem tata surya. Sebelum semua ini ada, ada Yang Maha Ada dan Maha Awal sekaligus Maha Akhir, yang umumnya disebut ‘Tuhan’.

Kita cenderung menganggap Tuhan menghukum kaum tertentu lewat bencana alam atau bencana sosial, sedangkan di berbagai kitab suci dinyatakan Tuhan tidak pernah menyiksa ciptaanNya. Kalau direnungkan lebih jauh, kita akan menemukan bahwa kita sendiri yang salah. Gempa bumi, misalnya, yang terjadi di suatu tempat yang dimukimi manusia, tidak bisa serta-merta dihakimi sebagai hukuman Tuhan atas manusia, melainkan dampak dari perbuatan bodoh manusianya. Seperti diungkap Michael Crichton, ada kawasan-kawasan tertentu di dunia yang rawan gempa karena merupakan pertemuan lempeng-lempeng bumi. Gempa bumi di kawasan-kawasan itu sudah berulang kali terjadi sejak ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu.

Manusia sudah diberi akal untuk mempelajari terlebih dahulu keadaan tanah di mana ia akan bertempat tinggal, tetapi lantaran keserakahan hal tersebut tidak dipertimbangkannya, sehingga salah siapa dong kalau daerah tempat tinggalnya mengalami gempa bumi yang meluluh-lantakkan tempat tinggalnya dan menewaskan dirinya dan keluarganya? Pada saat yang sama, kawasan tersebut biasanya ada gunung berapinya, yang membuat tanahnya subur, sehingga bisa ditanami dan menghasilkan bahan makanan yang bisa memakmurkan manusia yang hidup di kawasan itu.

Apa saja sudah ada bahkan sebelum manusia menemukannya dan mengklaim dirinyalah penemunya. Bahkan hal-hal yang niskala (intangible), seperti masalah, gagasan dan pemikiran, sudah ada jauh sebelum kita mengenalinya, dan bersamanya tersedia pula jawaban atau solusinya. Pengalaman saya maupun banyak orang lainnya menunjukkan, jawaban itu mengemuka dengan cepat ketika kita menenteramkan diri dan berfokus pada persoalan dasarnya. Tidak percaya? Silakan cari... eh... temukan sendiri kebenarannya.©


Apartemen Citylofts Sudirman Lantai 7, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, 1 Februari 2012

Kembara Pikiran (2)*



“Kita terbentuk oleh pikiran-pikiran kita; kita menjadi apa yang kita pikirkan. Jika pikiran itu suci, suka-cita akan mengiringi seperti bayangan yang tak pernah pergi.”
Buddha


PAGI hari pada Sabtu, 4 Februari 2012, lalu saya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor guna menyelesaikan perbaikan atas suatu naskah laporan tahunan klien yang tenggat waktunya Senin pagi, 6 Februari 2012, ini. Sejak Jum’at pagi saya sudah merencanakan bahwa Sabtu itu akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan perbaikan tersebut.

Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan jualah yang menentukan apakah rencana itu dapat terwujud atau tidak. Maksud hati saya mau lembur sejak pagi, apa daya saya malah diminta kerabat saya untuk menebus tunggakan sewa rumahnya di Kukusan, Depok, Jawa Barat, serta mengambil barang-barangnya yang disandera pemilik rumah sebagai jaminan dan memindahkannya ke rumah saya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Mengira bahwa hal itu akan berlangsung cepat, saya pun menyanggupinya.

Perkiraan dan rencana merupakan produk pikiran, yang bila dibiarkan tak terkendali akan membuat kita khawatir dan cemas tak karuan. Itu yang saya alami, ketika saya menemui kenyataan bahwa proses penyelesaian pembayaran sewa dan pengambilan barang-barang milik kerabat saya itu tidaklah semudah dan secepat yang saya bayangkan. Ada saja kendalanya. Tinimbang larut dalam kecemasan, membayangkan bahwa pekerjaan saya sendiri bakal tidak berhasil mencapai tenggat waktunya, saya pun berdoa, memohon agar Tuhan memberikan saya pengertian bahwa keadaan itu mengandung rencanaNya untuk saya.

Saya pun menenangkan dan merasakan diri, suatu hal yang selalu saya lakukan sebelum berbuat dan berkata, berpikir dan berperasaan. Saat itulah saya menggapai pengertian mengapa Sang Buddha selalu menganjurkan agar kita hidup di saat ini, di momen ini, dan tidak menyesali masa lalu maupun mengangan-angankan masa depan. Konteks masa lalu yang saya pegang adalah ujaran salah seorang dosen saya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI, sekarang FIBUI atau Fakultas Ilmu Budaya UI): “Sedetik yang lalu pun adalah sejarah!”

Ungkapan ini pun, dalam konteks ini, saya terapkan untuk masa depan; bahwa masa depan adalah sedetik dari saat ini, yang tidak perlu saya risaukan. Sang Buddha menganjurkan agar kita selalu melepas (release) dan merelakan apa saja yang sudah, sedang dan akan terjadi, karena dengan demikian kita dapat hidup secara meditatif—berfokus penuh pada apa yang sedang kita perbuat, katakan, pikirkan dan rasakan.

Sebelumnya, saya membiarkan diri saya takluk pada kembara pikiran (wandering thoughts) saya sendiri mengenai apa yang akan terjadi pada Senin ini: Account executive butik kreatif yang memakai jasa saya akan marah besar, tidak puas dengan cara kerja saya yang pengelolaan waktunya payah, serta klien yang memaki-maki ketidakbecusan saya! Hal itu benar-benar melelahkan. “Benar perkataan Sang Buddha. Sekarang aku mengerti mengapa beliau menganjurkan demikian!” batin saya.

Selama sisa hari itu saya merasa gembira dan bahagia, bukan saja oleh pencerahan batiniah yang saya dapatkan mengenai bahaya kembara pikiran, tetapi juga oleh keadaan ‘mengada saja’ (simply be) yang saya rasakan saat itu. Segala sesuatu seperti air bening yang mengalir hening, walaupun perjalanan saya dari Depok ke Mampang Prapatan naik mobil pikap yang sempit dan panas di samping sopir yang merokok sepanjang jalan, dikepung kemacetan yang parah dan hujan yang membasahi barang-barang yang saya angkut di bak pikap tersebut. Saya tidak merasa lelah; yang ada hanya senang, tenang dan menang! Bahkan ketika baru menjelang senja saya sampai di kantor kejernihan pikiran saya membantu saya menemukan bahwa naskah yang sudah dicoret-coret klien tersebut lebih banyak akibat kesalahan klien sendiri, bukan kesalahan saya, yang memantapkan hati saya untuk menegur klien, tak peduli dia bisa marah karenanya!

Sungguh melelahkan dan menyusahkan mengikuti maunya pikiran yang mengembara ke mana-mana. Kita akan merasa tertekan oleh ketakutan-ketakutan yang tidak berdasar. Mending kita bergelayut pada sang jiwa yang melaluinya Tuhan mengucurkan bimbingan dan tuntunanNya!

Saya teringat pada mitra bisnis saya di Surabaya dahulu, yang sepanjang jalan menuju kantor klien untuk menghadiri rapat atau presentasi selalu merencanakan terlebih dahulu apa yang akan dikatakannya. “Kalau nanti client ngomong gini, aku harus bilang apa, Mas? Atau gini aja, Mas Anto, sampeyan ngomong begini dan begini, entar aku backup begitu dan begitu.” Saya cuma menukas, bahwa dia tidak perlu merisaukan apa pun dan biarkan waktu yang berbicara. Yang penting, kami serius dalam mengerjakan suatu pekerjaan, yang dengan begitu sebenarnya kami menguasai konten materi maupun subyeknya. “Whatever will bewill be-lah,” kata saya agar dia diam. Kenyataannya, apa yang ia risaukan dan rencanakan dengan pikiran yang mengembara ke mana-mana toh tidak pernah terjadi.

Sepupu saya yang rajin salat mengaku tidak pernah bisa salat dengan khusyuk. Saya tanya apa yang merisaukan pikirannya. Dia bilang, tidak ada. Saya ubah pertanyaannya: Mengapa kamu salat?

Pertanyaan itu ternyata ampuh untuk memancing sepupu saya berterus-terang tentang duduk persoalannya. Ia sedang menghadapi masalah hidup yang berat, dan tidak menemukan jalan lain selain mengadu kepada Tuhan di atas sajadah.

“Kalau mau menghadap kepadaNya, kamu harus suci. Suci bukan sekadar dengan berwudu membersihkan badan lahiriah, tapi juga badan batiniah. Kamu harus benar-benar kosong dari apa pun selain Allah! Salatlah dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal. Tawakal itu artinya ‘mewakilkan’ semua masalah, hidup dan mati kamu kepadaNya. Tanggalkan pikiran kamu yang mengembara tanpa arah. Lepaskan dan relakan. Let golet God!” kata saya, mengutip kata-kata seorang Sufi untuk menasihati dia yang pikirannya amat kemrungsung (kacau).

Sekarang, bila pikiran Anda sedang berwisata ke destinasi yang tidak jelas nan berbahaya bagi kesehatan jasmani dan rohani Anda, tenangkan diri Anda dan mengembaralah ke jagat diri yang senantiasa dicahayai petunjukNya.©


Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, 6 Februari 2012


*) Catatan berjudul sama pernah saya tulis jauh sebelum ini, namun dengan konten yang sama sekali berbeda. Untuk membedakannya, saya cantumkan angka ‘2’ di sebelah judul di atas.