Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Senioritas


“Satu-satunya cara untuk memperlihatkan komitmen pekerjaan Anda adalah melalui jam-jam yang panjang. Kenyataan bahwa senioritas tidak lagi menjamin berarti orang harus tampak memiliki komitmen bahkan jika mereka tidak memilikinya.”
—Phyllis Moen


LEWAT Facebook, saya bersua kembali dengan senior saya ketika saya menjadi trainee writer di sebuah biro iklan multinasional yang berbasis di Jakarta. Saat itu, kenyataan bahwa ia sudah berkarir sebagai copywriter (penulis naskah iklan) selama tujuh tahun ketika saya justru baru merintisnya sempat membuat saya bergidik.

Saya sedang menapaki tahun ketujuh belas karir saya di bidang penulisan naskah materi komunikasi pemasaran dan korporat ketika saya berjumpa kembali dengan senior saya itu pada 14 September 2011 lalu. Dari obrolan kami, saya beroleh kepahaman bahwa senioritas itu hanyalah sesuatu yang semu serta kabur maknanya.

Menjadi tidak jelas oleh apakah ukuran senioritas itu ditentukan; apakah lamanya seseorang menekuni bidang tertentu atau keluasan keahlian dan kedalaman pengetahuan dari bidang yang ditekuninya? Sebab, ketika saya berbicara dengan senior saya itu terasa benar ia tertinggal jauh dalam hal pengetahuan dari bidang yang sama-sama kami tekuni, mengingat bahwa di dunia komunikasi merek pengetahuan terus mengalami perkembangan-perkembangan baru, yang jika Anda tidak mengikutinya dipastikan Anda bakal tertinggal jauh.

Di kartu namanya, senior saya itu menyandang predikat ‘creative director’ (pengarah kreatif), sama dengan yang tercantum pada kartu nama saya, yang berarti ia (maupun saya) memimpin tim kreatif dari sebuah biro iklan atau perusahaan komunikasi merek. Di tingkat hubungan kerja ini, senioritas menjadi samar; yang semakin dikaburkan oleh kesetaraan dalam pengetahuan kami. Yang membuat saya merasa berada di atas angin adalah pernyataan senior saya: ia sedang belajar travel writing (penulisan wisata), suatu keahlian yang justru telah saya tekuni secara profesional sejak 2008. Satu-satunya respek saya yang tersisa terhadapnya bersih dari pretensi hubungan senior-yunior, yaitu perasaan hormat terhadap sesama manusia!

Bagi kebanyakan orang, senioritas dari relasi-relasi mereka, dalam bidang-bidang keahlian yang mereka tekuni, membuat mereka segan, rendah diri, serta menaruh hormat yang tak semestinya. Pengetahuan dan bagaimana bidang-bidang pekerjaan dilakukan senantiasa mengalami perubahan, sehingga senioritas tidak relevan lagi dalam hubungan kerja.

Jika kita mengharapkan respek dari rekan kerja atau dari lingkungan kita, maka bukan senioritas yang menjadi patokannya, melainkan respek itu sendiri; seberapa respectful kita terhadap diri kita sendiri sehingga kita patut mendapat respek dari orang lain. Jelasnya, Anda tidak akan direspeki dan dicintai orang jika Anda tidak respek dan cinta terhadap diri Anda sendiri.

Senioritas tidak mempunyai dasar yang kuat dalam hubungan apa pun, bahkan cenderung melemahkan hubungan tersebut jika salah satu pihak begitu mempermasalahkannya dengan tekanan-tekanan seputar usia, durasi dan banyaknya pengalaman, luasnya pengetahuan atau ketrampilan. Hubungan antar manusia—yang dilandasi kerja, cinta, persahabatan, atau persaudaraan spiritual—tidak seharusnya diwarnai senioritas. Hubungan yang langgeng berkembang lewat saling memahami, saling menghormati dan saling mencintai, tidak mengindahkan siapa yang lebih berpengalaman—dan karena itu lebih senior—dalam hal-hal tertentu.

Hubungan bersifat alami, yang berkembang atau menjadi kaya lantaran situasi dan kondisi pada saat hubungan itu berlangsung. Hubungan asmara, misalnya—saya tidak yakin bahwa orang-orang yang telah berpengalaman lama dalam menjalin hubungan percintaan atau seksual lebih piawai daripada mereka yang belum pernah melaluinya, karena perkembangan dan pengayaan hubungan itu semata tergantung dari seberapa serius Anda ingin mengembangkannya.

Di jalan spiritual, senioritas sebenarnya tidak berlaku, tetapi menjadi ada lantaran diimbasi pengaruh dari luar pagar spiritualitas, seperti tampak pada sejumlah perkumpulan spiritual. Ini konyol, karena pengalaman yang diterima masing-masing pejalan spiritual berbeda satu sama lain, dan sangat tergantung pada sikap penerimaan pejalan terhadap pengalamannya. Seseorang dinilai kematangan spiritualnya dari stasiun hati (maqam)-nya, yaitu sikap psikologisnya terhadap pengalaman yang dilaluinya—hikmah apa yang ia peroleh darinya, bukan dari jenis atau kehebatan pengalamannya.

Salah seorang saudara SUBUD saya bercerita, dengan nada penekanan seolah ia lebih senior dari saya dalam pengalaman kejiwaannya, bahwa ia bertemu dengan Yesus dalam suatu momen Latihan Kejiwaannya. Dengan enteng saya berkomentar, “Pak, saya pernah bertemu dengan almarhum Bapak Muhammad Subuh dalam Latihan saya. Beliau mengatakan kepada saya, ‘Nak, jangan percaya pengalaman saudara SUBUD-mu sebelum Nak mengalami sendiri’!”

Komentar saya yang spontan itu membuatnya terpana, tidak mampu berkata-kata lagi. Bagaimanapun, saya tetap respek terhadap saudara SUBUD saya ini, karena ia layak mendapatkannya, semata karena ia manusia seperti saya juga.

Jangan biarkan keberadaan senioritas dalam hubungan-hubungan Anda. Bukan saja hal itu menafikan hakikat kemanusiaan kita, tetapi juga menghambat pertumbuhan kreatif dari hubungan-hubungan tersebut. Hormati dan cintai relasi-relasi Anda semata karena ia manusia seperti Anda juga.(AD)



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 18 September 2011

Korelasi


“Setiap orang bisa melihat-lihat mode di butik atau sejarah di museum. Orang yang kreatif melihat-lihat sejarah dan mode di bandara.”
—Robert Wieder


Keponakan saya, anak perempuan berusia delapan tahun dan duduk di kelas 3 sekolah dasar, suatu hari datang bersama ibunya ke rumah saya, di mana saya sedang duduk di belakang meja makan, menikmati sore yang indah bertemankan segelas Ovaltine panas. Di atas meja makan terdapat sebuah sukun rebus dan semangkuk bubuk kedelai berasa pedas yang sebelumnya digunakan sebagai bumbu untuk ketan.

Sukun rebus itu menjadi perhatian keponakan saya, karena itulah pertama kalinya ia melihatnya dan mengetahui bahwa di dunia ini ada buah semacam itu. Ibunya memotong satu bagian kecil agar keponakan saya dapat mencicipinya, namun ia tidak berkenan. Ibunya membujuknya agar ia menyukainya, dengan mengatakan bahwa rasanya gurih dan manis. Karena keponakan saya tetap tidak mau, ibunya pun menyerah dan membiarkan potongan sukun itu di piring kecil di hadapan anaknya.

Lalu, saya perhatikan suatu gejala yang seringkali saya jumpai pada anak-anak yang kreatif nan jenius. Kedua bola mata keponakan saya bergerak dari buah sukun ke mangkuk berisi bubuk kedelai pedas. Begitu seterusnya, bolak-balik selama beberapa saat. Saya yakin, benak si anak sedang berusaha menciptakan korelasi (keterhubungan) yang selaras di antara kedua benda yang dianggap bertentangan itu.

Dugaan saya benar: keponakan saya mengambil potongan buah sukun rebus di piring kecil di depannya dan menyendok bubuk kedelai pedas yang lantas ia bubuhi pada buah sukun itu. Ibunya, yang rupanya tidak sejenius anaknya, hanya melongo dan berkomentar, “Ada-ada aja kamu, Cha. Itu kan bumbu untuk ketan, mosok dicampur dengan sukun?!”

Keponakan saya tidak menggubris ibunya; sukun berbumbu kedelai pedas itu pun meluncur ke mulutnya dan seketika wajahnya berbinar-binar sebagaimana orang yang merasakan lezatnya makanan. Dalam hitungan menit, setengah dari buah sukun, yang tadinya bernasib nahas lantaran tidak ada yang mau memakannya, habis dilahap keponakan saya dengan nikmatnya.

Saya bersyukur, dunia ini masih punya persediaan orang-orang jenius dan kreatif yang selalu melihat korelasi di antara hal-hal yang berbeda satu sama lain, namun menjadi selaras lantaran tindakan tersebut. Dengan demikian, tidak ada yang tidak berguna dalam hidup ini. Tuhan menciptakan segala sesuatunya untuk suatu maksud dan tujuan yang baik!

Sufi Perusahaan
Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk diselaraskan, sehingga antara hal-hal yang berbeda tercipta harmonisasi lewat tindakan saling melengkapi, sehingga muncullah sikap saling memahami. Tak mengherankan, jika dikatakan bahwa perbedaan itu merupakan rahmat, karena sejatinya di dalam perbedaan itu terdapat kasih-sayang Tuhan kepada makhlukNya.

Beberapa teman saya yang muslim, misalnya, akhirnya berhasil merasakan kekhusyukan dalam salat sejak mereka melihat korelasi antara meditasi ajaran Buddhisme Zen dan sembahyang a la Islam—dan mempraktikkannya. Selain itu, mereka juga mampu merengkuh kesalingpahaman dengan relasi mereka yang berbeda agama, yang merupakan landasan bagi terciptanya toleransi antar-umat beragama di lingkungan mereka. Alangkah dangkal pemikiran mereka yang menyebut korelasi semacam ini ‘percampuran (mixing) yang membahayakan kelangsungan keberagamaan umat’.


Dahulu, pada masa yang telah lama berlalu, spiritualitas hanya merupakan ranah para pencari diri sejati atau Tuhan yang biasanya hanya dilakoni di tempat-tempat yang jauh dari keramaian, seperti hutan, gua atau gunung, atau di rumah-rumah ibadah. Di abad ke-21, yang disebut John Naisbitt dalam bukunya Megatrends 2000 sebagai Abad Spiritual, manusia justru harus berhadapan dengan arus nilai-nilai yang cenderung memacu perolehan materi, yang akhirnya mendorong para pakar manajemen bisnis untuk mulai melihat korelasi antara bisnis dan spiritualitas.


Di Abad Spiritual inilah mengemuka istilah ‘sufi perusahaan’ (corporate sufi), yaitu pribadi-pribadi di perusahaan yang memahami diri mereka sebagai makhluk spiritual yang jiwanya memerlukan makanan di tempat kerja; mengenai pengalaman akan rasa bertujuan dan bermakna dalam pekerjaannya, dan juga tentang mengalami perasaan saling terhubung dengan orang lain dan komunitasnya di dan di luar tempat kerjanya.


Tren yang marak sejak dunia bergeser ke abad ke-21 ini melahirkan apa yang dijuluki CEO Microsoft, Bill Gates, sebagai ‘kapitalisme kreatif’ (creative capitalism), yaitu aksi tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility, CSR). Lewat program-program CSR mereka, organisasi-organisasi bisnis kini menyalurkan sekian persen dari keuntungan bisnis mereka untuk membangun komunitas (community development) di mana perusahaan mereka berada dan yang menerima dampak dari operasi perusahaan mereka. Untuk dapat bertahan dan sukses di abad ke-21, para pelaku bisnis yakin bahwa hanya organisasi pembelajar (learning organizations) yang mau mempertanyakan dan menguji alasan bagi eksistensinya maupun metode operasinya.


Beberapa perusahaan besar, seperti Proctor and Gamble, 3M Corporation, Motorola, dan Wal-Mart, memberikan bantuan bagi karyawannya untuk menguji visi pribadi dan nilai-nilai hidupnya, dan peduli sumber daya manusia. Ini berarti bahwa mereka telah menerapkan spiritualitas lewat tema-tema tersebut. The Body Shop dan Harley-Davidson berhasil mengorelasikan secara selaras motif keuntungan bisnis dengan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan pekerjaan yang bermakna.



Kreativitas untuk Sintas
Abaikan perusahaan-perusahaan besar; Anda sebagai pribadi pun dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup dan kehidupan Anda apabila Anda mampu melihat korelasi yang selaras dalam perbedaan segala sesuatu. Kemampuan untuk melihat korelasi antara hal-hal yang berbeda merupakan tolok ukur kreativitas Anda untuk sintas di tengah kehidupan dunia yang kian kompetitif sekaligus rapuh ini.

Saya beri contoh berdasarkan pengalaman profesional saya: Dahulu, dunia finansial berseberangan bak bumi dan langit dengan dunia sastra. Ketika akhirnya praktisi keuangan melihat korelasi antara bidangnya dengan bidang sastra (menulis)—atau sebaliknya, penulis menekuni bidang keuangan dan bisnis—sebagai dampak dari keterbukaan yang dituntut publik terhadap korporasi bisnis, muncullah yang namanya penulis laporan tahunan (annual report), yang rupanya amat dibutuhkan, namun pada saat bersamaan ketersediaannya amat langka! Bisa Anda bayangkan, betapa kompetitif ‘harga di kepala’ saya dewasa ini selaku penulis materi komunikasi pemasaran dan korporat, yang antara lain mencakup laporan tahunan dan laporan keberlanjutan (sustainability report).


Korelasi menghasilkan terobosan-terobosan di berbagai bidang. Dalam bidang pemasaran, tulis Ippho Santosa dalam Marketing is Bullshit: Meledakkan Profit dengan Kreativitas dan Otak Kanan (2009), terobosan perlu agar konsumen tidak bosan. Di Banyuwangi ada jajanan khas yang dinamai rujak soto, yaitu menciptakan korelasi yang selaras antara rujak cingur dari Surabaya dengan soto daging Madura, yang pada gilirannya mampu menimbulkan pengalaman kuliner yang dahsyat bagi para penyuka jajanan tradisional.


Roger von Oech dalam bukunya, Whack—Pukulan untuk Merangsang Kreativitas dan Ide Baru (2008), menyebut tindakan mengorelasi antara bidang yang satu dengan yang lain sebagai ‘pembuahan silang’, dan mencontohkan, antara lain, terciptanya alat KB oleh seorang dokter kandungan yang berkorelasi dengan dokter gigi, khususnya dalam membuat bentuk dan cetakan!


Jadi, correlate before too late (lakukan korelasi sebelum terlambat)!©




Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 25 September 2011 


Tuesday, September 18, 2012

Telanjang


SEORANG kawan pernah meminta penjelasan ke saya tentang ajaran Kejawen yang “saya anut”. Saya bingung dengan permintaan tersebut, pasalnya saya tidak merasa seorang Jawa sejati dan tidak menganut nilai-nilai Kejawen. Belakangan, ia memberitahu mengapa ia menilai saya menganut ajaran Kejawen adalah lantaran status-status Facebook saya seringkali membuatnya beranggapan demikian, yaitu status-status yang mengungkapkan nilai-nilai luhur, yang secara budaya ia ketahui hanya diamalkan oleh orang Jawa.

Menurut saya, nilai seharusnya telanjang, tidak diberi baju atau atribut yang bukan sejatinya sang nilai. Lantaran diberi baju, makanya tidak mengherankan jika orang yang tidak memahami, seperti kawan saya di atas, mencap saya seorang penganut Kejawen, gara-gara nilai-nilai luhur yang saya sampaikan dipandangnya, menurut mata budayanya, sebagai ajaran kebatinan Jawa.

Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran moral bersifat universal, menyentuh segala lapisan, tidak pandang warna kulit, budaya, agama maupun kepercayaan. Saya pernah mengungkapkan ke sejumlah teman bahwa saya gemar melakukan semadi. Karuan saja, mereka menganggap saya beragama Buddha. Ketika saya konfirmasi hal itu ke mereka, mereka mengatakan bahwa hanya Buddhis yang melakoni semadi sebagai ritual pemujaannya.

Secara historis, semadi atau meditasi juga terdapat dalam berbagai praktik keberagamaan, bukan cuma Buddhisme dan Hinduisme. Praktik meditasi, dengan berbagai istilah dan cara yang dikenal oleh masing-masingnya, dilakukan pula oleh umat Yahudi, Kristen, Islam, dan lain sebagainya. Apa pun namanya, secara akademis, semua laku kontemplatif yang bertujuan mendekatkan diri dengan Tuhan itu disebut “meditasi”.

Perbedaan baju (baca: atribut keagamaan)-lah yang menyingkirkan universalitas meditasi dan mendegradasi manfaatnya. Bayangkan saja, semata karena dipandang sebagai “ajaran Buddha”, seorang yang beragama non-Buddhis menolak melakukan meditasi yang ditawarkan sebagai metode penyembuhan alternatif atas penyakit yang dideritanya. Dunia kedokteran Barat sudah mengakui meditasi sebagai metode penyembuhan yang kuat dan tegas dalil medisnya, tetapi lantaran keterbatasan pengetahuan mengenainya, apalagi meditasi sudah tidak telanjang lagi, banyak orang yang fanatik dalam beragama menepis metode tersebut. Sungguh mengenaskan!

Dalam kasus tubuh manusia, ketelanjangan memang dianggap tabu di sejumlah budaya. Tetapi dalam hal nilai, ketelanjangan malah menurunkan derajatnya—dari bermanfaat menjadi sia-sia, karena menjadi obyek pertentangan yang tiada habisnya.©


Mampang Prapatan XV, Jakarta Selatan, 18 September 2012

Wednesday, May 11, 2011

Di Ruang Sepi Itu...


“Saya selalu berpikir bahwa pencarian akan kebahagiaan merupakan kekuatan yang mendasari hidup ini. Apa pun yang kita lakukan di dunia ini, dalam kehidupan kita, isinya selalu pencarian akan suatu kebahagiaan. Salah satu dari pengalaman-pengalaman awal di mana saya merasakan bahagia yang mendalam di dalam meditasi memberi saya rasa bahagia yang berasal dari luar dunia ini. Dan sekalinya Anda merasakan hal itu Anda akan melakukan pencarian lebih lanjut akan makna dari kebahagiaan.”

—Ajahn Brahmavamso



Tak sedikit orang yang menganjurkan maupun merayu saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan saya dalam wujud buku, atau menulis buku yang kemudian diterbitkan, dibaca orang di seluruh negeri. Sebagai reaksi, saya selalu mengatakan, “Beri saya satu alasan kenapa saya harus melakukannya!” Tidak sedikit yang menganggap bahwa penerbitan buku karya sendiri merupakan representasi dari kesuksesan.


Anggapan keliru semacam ini sudah menyebar luas dan meruyak seolah tak dapat dibendung, hingga melarut dalam berbagai budaya, bukan hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Orang sukses sepertinya perlu atribut yang kasat mata, menurut anggapan tersebut. Padahal sukses tidak bisa diukur dari hal itu. Begitu pula dengan kebahagiaan.


Rasanya, semua orang mendambakan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupnya. Tetapi pendambaan tersebut cukup ajaib, lantaran yang didambakan merupakan sesuatu yang tak tampak, tak dapat disentuh, dicium baunya, apalagi disimpan. Segala sesuatu tentang kebahagiaan dan kesuksesan bersifat abstrak. Ada dan tiadanya hanya seputar rasa, atau refleksi dari hati, sebuah ruang sepi yang keberadaannya tak jelas di mana.


Untuk mudahnya, kita biasa menunjuk ke dada sebelah kiri, yang sesungguhnya tempat bersemayamnya jantung. Sedangkan hati fisik – yang tentunya berbeda dari yang dimaksud dengan ‘hati’ yang lokasinya tak jelas itu – merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh kita, yang letaknya di dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.


Hati yang saya maksud dalam Catatan ini adalah yang di kalangan Sufi disebut ‘hati spiritual’. Tempatnya di mana saja yang kita yakini, tetapi yang jelas ia merupakan sebuah ruang yang sepi dari apa pun, selain Tuhan. Hati yang ini telah menjadi kajian dan telaah para cendekiawan agama dan pejalan spiritual sepanjang zaman. Robert Frager dalam bukunya, Heart, Self and Soul: The Sufi Psychology of Growth Balance and Harmony (New Age Books, 2005), menyebutnya sebagai ‘kuil Tuhan’.


Hati yang ini tetap misterius, lantaran keberadaannya yang ‘tidak jelas’ namun ada. Ruang sepi itu senantiasa menjadi fokus pembersihan dan purifikasi bagi mereka yang menghendaki kehidupan yang lebih tenang dan menyenangkan. Cara membersihkannya beragam; ada yang lewat meditasi, sembahyang, salat yang khusyuk, bertapa menjauhkan diri dari keramaian, dan lain-lain. Apa pun caranya, semua benar dan semua dapat membawa kita kepada aras bahwa sejatinya kita sesepi ruang sepi itu. Sepi dari apa pun. Kita dilahirkan ke dunia tanpa membawa apa-apa selain tubuh dan jiwa kita, dan meninggalkan dunia ini juga tanpa membawa apa-apa selain tubuh dan jiwa kita.


Konon, rasa bahagia atau rasa sukses berasal dari ruang sepi itu. Tidak ada yang tahu dengan pasti apakah benar demikian. Kata ‘rasa’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta ‘rahsa’, yang kemudian terserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘rahasia’, karena sifatnya memang tidak jelas atau tidak diketahui. Tetapi kalau Anda merasa nyaman dengan anggapan itu, ya silakan saja. Ada yang bersikeras bahwa bahagia atau sukses berasal dari hati, bukan pikiran. Ada yang merasa sok benar sendiri, dengan menegaskan bahwa yang berasal ‘dari dalam’ lebih bermakna daripada yang berasal ‘dari luar’. (Tuhan ada di dalam atau di luar diri kita ya?) Ada jalan spiritual yang ‘mengharamkan’ penggunaan akal pikir dan menjunjung jiwa di atas segalanya.


Maka para bhiksu Buddhis pun ‘menantang’ mereka: Coba tunjukkan di mana letak pikiran itu? Kenyataannya, pikiran, hati, diri dan jiwa sama misteriusnya terkait dengan keberadaannya. Yang kita kenal sekarang hanyalah asumsi, bukan kebenaran mutlak! Seorang bijak mengatakan, “Jangan ragukan mereka yang mencari kebenaran. Jangan percayai mereka yang mengaku telah menemukannya!” Itu menegaskan bahwa kebenaran tidak ada yang mutlak; yang ada hanyalah kebenaran esoteris/subyektif, hanya berlaku bagi yang (merasa) menemukannya.


Kebahagiaan atau kesuksesan teragung kita, menurut saya, adalah apabila kita tidak lagi membutuhkannya, karena sejatinya keduanya hanya perasaan yang bisa ‘dimanipulasi’ – baik oleh diri sendiri maupun orang lain, sebagaimana yang saya alami di atas. Di aras kesejatian – yang dicapai dengan kita ‘meniadakan’ diri dari segala sesuatu yang bukan sejatinya kita, kita hanyalah kita, tanpa apa-apa, seperti kondisi di ruang sepi itu. Ah, bahagia akhirnya.Ó




Wisma Indonesia Lantai 2, Kompleks Wisma SUBUD Cilandak, Jakarta Selatan, 27 April 2011, pukul 18.41 WIB



Tuesday, May 10, 2011

Gelombang Cinta



“Kebencian tidak dapat diakhiri dengan kebencian, tetapi hanya dengan cinta; inilah aturan abadinya.”
—Buddha


Saat ini, saya menempati pavilyun bekas garasi yang menempel pada rumah peninggalan orang tua saya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pavilyun itu saya tata sedemikian rupa, sehingga saya bisa bekerja, beristirahat (tidur) dan merenung dengan tenang. Saya mengharamkan amarah dan emosi-emosi negatif lainnya memasuki pavilyun itu, sehingga ketika saya sedang marah saya biasanya akan duduk di teras rumah utama, mengheningkan pikiran atau bermeditasi. Hanya bila hati saya sejuk saya akan memasukinya.

Pavilyun itu tidak berpendingin udara (air conditioning, AC), karena saya pada dasarnya juga tidak suka tidur dengan udara yang kelewat dingin namun artifisial sebagaimana yang diproduksi AC. Namun, anehnya, semua orang yang pernah memasuki pavilyun itu mengatakan bahwa udaranya sejuk seolah ada pendingin udaranya. “Karena penghuninya berhati sejuk,” kata saya berseloroh, menanggapi perkataan mereka. Mereka juga menganggap bahwa pavilyun itu memberi mereka ketenangan. Dua orang bibi saya—keduanya adik kandung mendiang ibu saya—tiba-tiba berurai air mata saat mengobrol dengan saya di pavilyun itu. Mereka secara bersamaan mendadak terkenang pada mendiang ibu saya. Dan mereka merasakan pula kedalaman kasih sayang ibu saya di pavilyun itu, seperti yang berulang kali saya alami di tempat itu.

Dalam ajaran Buddhisme ada yang disebut metta, yang dimaknai sebagai ‘cinta kasih’, ‘kebajikan’ atau ‘suka cita’ yang timbul secara alami. Buddha Gautama pertama kali mengajarkan metta saat sekumpulan biksu sedang berlatih meditasi jauh di dalam hutan. Para biksu mengeluh mereka tidak dapat bermeditasi karena kehadiran macan dan singa. Mereka meminta Buddha untuk mengusir binatang liar tersebut.

Buddha menjawab, “Maaf, aku tidak dapat menyingkirkan binatang-binatang tersebut, namun apa yang dapat aku ajarkan padamu adalah bagaimana melindungi diri sendiri melalui praktik cinta kasih.” Buddha menjelaskan kepada para biksu bahwa setiap makhluk hidup di atas bumi menginginkan kebahagiaan dan kita bisa mendoakan mereka agar bahagia, tak peduli bagaimana takut atau jijiknya kita kepada mereka. Buddha pun mengajarkan praktik metta pada mereka. Setelah beberapa minggu berlatih, mereka tidak lagi takut pada binatang-binatang tersebut.

Meditasi metta menghasilkan suatu gelombang cinta kasih yang merupakan fenomena alamiah—yang tidak ada penjelasan teoritisnya, sebuah mekanisme alam, bahwa bila kita mencintai orang lain dengan tulus tak berpamrih, maka orang yang kita tuju, walaupun terpisah jarak yang jauh, atau tidak saling mengenal, akan mendapatkan perasaan cinta yang mendalam, kuat dan berjangka waktu tak terbatas.

Dalam buku Diana Winston, Wide Awake: A Buddhist Guide for Teens (Perigree Trade, 2005), saya temukan penjelasan tentang fenomena gelombang cinta ini. Winston menceritakan seorang temannya yang berlatih metta di dalam hutan Myanmar dan menemukan bahwa serangga, ular dan kalajengking jadi mendatanginya! Ia merasa mereka ‘jatuh cinta’ padanya karena ia memancarkan begitu banyak metta! Winston juga menjelaskan bahwa metta hanya dapat terjadi apabila kita berperasaan cinta tanpa pamrih. Sebagaimana yang saya alami dalam berbagai peristiwa yang melibatkan metta, Winston menjabarkan bahwa kita akan merasa lembut dan hangat dalam hati.

Gelombang cinta itu memancar dari diri yang tulus dan rendah hati mencintai sesama makhluk, tidak terpaku pada satu tempat. Artinya, bila kita mampu memancarkan metta tanpa batas, tempat di mana kita berada beserta makhluk-makhluk yang berada di sekeliling kita dapat menerima dan merasakannya. Makhluk di sini mencakup baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Saudara Subud saya di Surabaya memiliki aneka tanaman di sekitar rumahnya, yang semuanya tumbuh subur dan indah. Kabarnya, saudara Subud ini hanya ‘menyapa’ tanaman-tanaman itu dengan ramah setiap pagi dan mengajak mereka ‘berbicara’ dari hati ke hati.

Saya pernah pula mengalami dengan mesin cetak (printer) di kantor saya yang ngadat, tidak mau bekerja. Teknisi sudah didatangkan untuk memperbaikinya, tetapi tidak ada hasil. Akhirnya, iseng saya mengelus-elus mesin cetak itu sambil mengucapkan kata-kata manis penuh kasih sayang yang tulus. Alhasil, mesin berfungsi kembali seperti sediakala! Philip Toshio Sudo menjelaskan soal fenomena ini dalam bukunya, yang sayangnya hanya ada dalam bahasa Belanda, Zen en de Kunst van Computer Gebruik {Zen dan Seni Menggunakan Komputer} (Uitgeverij De Fontein, 2000). Sudo menyarankan agar kita senantiasa mengucapkan kata-kata yang baik kepada komputer kita, dan niscaya komputer kita akan awet!

Gelombang cinta itu dapat kita alirkan pada satu orang saja dan kemungkinan orang itu akan mengembalikannya dalam arus cinta yang sama dalamnya, penuh kasih sayang, yang membuat jiwa kita serasa melayang, menyenangkan dan darinya tumbuh cinta yang sangat besar kepada semua orang dan segala hal. Metta menghasilkan gelombang cinta yang alami, luar biasa dan total, yang dapat ‘menyengat’ hati-hati yang mendambakan cinta kasih.

Jika demikian, sesungguhnya telah tampak di hadapan kita jalan terbaik ke arah perdamaian dunia. Tetapi, jalan itu hanya dapat kita tempuh apabila kita sudi membuka diri, membuka hati dengan lapang untuk memancarkan gelombang cinta yang bermula dari diri sendiri, terus ke lingkungan terdekat kita, dan, sebagaimana sifat gelombang, beriak-riak ke ranah yang lebih luas dan mendalam.Ó



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 16 April 2011


Berani Menghadapi Takut

“Lakukan apa yang paling Anda takuti dan rasa takut pun pasti akan berakhir.”

—Mark Twain



Ketakutan terbesar saya adalah jarum suntik. Fobia saya terhadapnya sudah berada di aras tertinggi, di mana bila saya harus menerima suntikan, dampak yang terparah adalah saya bisa stres berat berminggu-minggu. Saya bahkan tidak tega melihat orang lain disuntik; saya cenderung mengalihkan pandangan saya dari layar televisi bila ada adegan orang yang disuntik. Kawan saya secara bercanda pernah bilang ke perawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta—di mana saya dirawat selama delapan hari akibat infeksi lambung—yang keheranan melihat tingkah saya yang begitu ketakutan ketika akan disuntik, “Itulah sebabnya, Suster, teman saya ini tidak pernah terlibat narkoba.”


Tidak sedikit orang yang menyarankan saya agar menghadapi rasa takut itu dengan ‘hidup bersama sesuatu yang ditakutkan’ tersebut. Mengikuti saran mereka, karena itu saya menempelkan jarum suntik dan jarum infus di masing-masing dari kedua sisi layar komputer saya, untuk membiasakan diri saya agar sanggup berlama-lama bersama kedua benda yang menakutkan itu di dekat saya.


Saya mempunyai ketakutan lainnya, yang tak jarang menyebabkan saya menderita sakit perut dan mual, yaitu terbang dengan pesawat terbang. Tetapi fobia yang satu ini belakangan sedikit banyak dapat saya atasi lantaran saya harus sering terbang ke berbagai tempat di Indonesia terkait pekerjaan saya sebagai penulis wisata atau penulis naskah audio-visual yang pembesutannya harus dilakukan di lokasi yang dijabarkan dalam naskah tersebut.


Intinya adalah pembiasaan, agar kita berani menghadapi takut. Lakukanlah apa yang Anda takutkan (do what you fear). Memang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, terlebih-lebih bagi orang-orang seperti saya yang sumber ketakutannya adalah jarum suntik. Kecuali saya pecandu narkoba—yang suka menyuntik diri berulang kali, bagaimana lagi saya dapat membiasakan diri dengan jarum suntik, selain sebagaimana yang saya ceritakan di atas? Sumber ketakutan saya adalah jarum yang disuntikkan ke anggota tubuh saya, dan bukan sekadar melihat alat suntiknya.


Namun, terkait hal itu, saya punya pengalaman yang berkesan. Ketika dirawat di RSPP, saya harus melewati momen mengerikan di mana seorang perawat pria hendak mengganti jarum infus saya dengan yang baru, serta memindahkannya dari tangan kiri ke kanan. Saya meminta si perawat agar saya diberitahu bilamana jarum akan ditusukkan, supaya saya bisa mempersiapkan diri (bagaimanapun, saya tidak pernah benar-benar siap menghadapi jarum suntik). Si perawat mengajak saya mengobrol dan ia menceritakan kisah-kisah lucu yang membuat saya terpingkal-pingkal. Merasa bahwa proses persiapan penusukan jarum ke tangan saya kelewat lama, saya pun bertanya, “Mas, belum ya? Kok lama banget?”


“Apanya yang lama? Ini udah lho,” kata si perawat dengan santainya sambil menaruh tangan saya yang telah ditanami jarum infus di muka saya. Saya terperangah. Lha, sudah toh?!


Pengalihan perhatian dengan menciptakan kondisi yang berlawanan dengan keadaan yang sebenarnya; itulah salah satu cara untuk berani menghadapi takut. Di bidang pekerjaan saya yang acap berisikan tekanan lantaran tenggat waktu yang ketat serta sikap klien yang emosional atau seenaknya, alih-alih terbawa suasana, saya dan tim saya cenderung menghidupkan atmosfer yang sarat kejenakaan dan kesantaian. Hidup terlalu singkat untuk dianggap terlalu serius—demikian prinsip saya dalam menghadapi tekanan hidup. Bukannya mengabaikan, tetapi lebih untuk hidup secara harmonis bersama tekanan-tekanan itu. Seluruh dunia boleh saja mengecam Anda, tetapi tetaplah menjadi diri sendiri, dengan mengikuti kata hati Anda. Bagaimanapun, adalah diri Anda sendiri yang mengarahkan hidup Anda. Tak terhitung jumlah orang yang menghujat saya lantaran saya berpindah keyakinan, tetapi mengingat betapa mereka tidak peduli pada derita perasaan saya, lha buat apa saya peduli pada hujatan mereka?


Takut, dalam situasi tertentu, lebih sering mendatangkan kesia-siaan yang mengendala. Lantaran pengaruh ajaran tertentu, tak sedikit orang yang menahan diri mereka dari pikiran dan perasaan serta tindakan yang sesungguhnya akan memberi mereka banyak pelajaran tentang hidup. Belum apa-apa, sudah takut. Tidak ada yang salah sampai itu salah (nothing is wrong until it’s wrong), dan kita tidak akan tahu tentang benar-salahnya sesuatu jika tidak dihadapi dan dikerjakan. Dan sejatinya tidak ada benar-salah, melainkan cocok-tidak cocok. Gurubesar filsafat di almamater saya pada tahun 1986, IKIP Negeri Jakarta, berujar dalam rangka menukas pernyataan seorang mahasiswa bahwa berciuman di depan umum itu merupakan budaya yang negatif, “Anda tanyakan deh orang Barat yang suka berciuman di depan umum, apakah itu budaya yang negatif.” Si mahasiswa pun tak berkutik.


Takut, sejatinya, merupakan bayangan cermin dari berani. Takut mendorong kita untuk berusaha bertahan. Tanpa rasa takut, saya kira tidak akan pernah ada upaya untuk sintas (survive) dalam hidup ini, yang pada gilirannya akan mendayai kita untuk melahirkan gagasan-gagasan yang kreatif dan inovatif. Seperti saya, yang sampai sekarang masih memikirkan cara agar pemberian obat atau pengambilan darah tak perlu ditempuh dengan menggunakan jarum suntik.(AD)



Bandung, 2 April 2011

Rancangan naskah ditulis di tengah Sharing Session "Communication & Media Megatrends 2011" di Hotel Topas Galeria, Jl. Dr. Djundjunan 153, Bandung, tatkala menunggu giliran tampil sebagai pembicara.


Monday, November 1, 2010

Mengurai Kebenaran


Dua orang darwis (murid tasawuf) berdebat soal dua jalan yang berbeda dalam mendekatkan diri kepada Allah. Darwis A berpendapat bahwa upaya yang keras, melalui berbagai ritual dan tata cara, merupakan jalan yang paling benar. Sedangkan darwis B beranggapan yang paling benar adalah dengan berserah diri dengan sabar dan tawakal. Karena tidak mencapai titik temu, kedua darwis pergi menghadap syekh mursyid (guru tarekat Sufi) untuk meminta pertimbangannya. Saat itu, sang mursyid sedang ditemani seorang darwis muda, yang baru bergabung dengan tarekat itu.

Darwis A melontarkan pandangannya soal jalan yang paling benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. “Ya, kamu benar!” kata si mursyid mengomentari. Darwis B langsung protes, dan mengutarakan pendapatnya. “Ya, kamu benar,” kata mursyid tadi dengan tenang.

Jadi, apakah yang dimaksud dengan kebenaran, kalau tidak ada salah-benar, ditilik dari kisah tersebut? Kalau kita cermati sifat-sifat Allah, kita akan lihat adanya pasangan-pasangan sifat yang saling berlawanan. Tetapi, toh hal-hal yang ‘negatif’ itu tidak dipandang sebagai ‘salah’, sementara yang ‘baik’ atau ‘positif’ sebagai ‘benar’.

Dalam konteks keilahian, merupakan hal yang dangkal untuk membuat penilaian benar-salah, sebab sebagaimana pengalaman hidup kita membuktikan bahwa yang satu menopang yang lain. Yang satu ada lantaran yang lain. Dan kebenaran bersifat sangat pribadi serta subyektif. Apa yang benar bagi seseorang belum tentu bisa diterapkan pada orang lain.

Baru-baru ini, saya mendapat pengalaman yang menurut saya ‘benar’ bagi saya, terkait tolok ukur kebenaran. Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud akan menggelar kongres nasionalnya tahun depan. Lokasinya, yang telah ditetapkan dua tahun sebelumnya, adalah Palangkaraya di Kalimantan Tengah. Mendadak, justru ketika waktunya kian mepet, lokasi dipindah ke Jawa Barat, dengan alasan tingginya biaya yang bakal harus ditanggung peserta apabila tetap diadakan di Palangkaraya.

Karuan saja, pemindahan lokasi ini menimbulkan kontroversi. Mereka yang berasal dari Jakarta, yang umumnya berstatus ekonomi menengah-atas menyatakan kesanggupan mereka dan menyesali pemindahan tersebut. Sebaliknya, para anggota yang berasal dari daerah-daerah luar Jakarta, yang secara ekonomi kekurangan, menyatakan tidak sanggup dan mensyukuri pemindahan tersebut.

Dalam suatu obrolan dengan dua saudara Subud, saya menyatakan dukungan atas keputusan pengurus nasional PPK Subud Indonesia lantaran diambil berdasarkan suara terbanyak. Tidak demikian dengan salah seorang saudara Subud saya, sebut saja Budi. Budi prihatin dengan sikap anggota yang sepertinya tidak niat. “Saya menabung sejak tahun lalu, seribu perak per hari, karena saya berniat benar berangkat ke kongres di Palangkaraya. Sekarang sudah terkumpul dua setengah juta rupiah. Ada kemauan, ada jalan! Itu nunjukin, orang-orang di daerah itu pada dasarnya nggak niat,” kata saudara itu dengan menggebu-gebu.

Saya membenarkan perkataannya lantaran saya sendiri pernah dan sering mengalami, di mana begitu saya berniat akan sesuatu sekonyong-konyong saya tertuntun untuk mewujudkannya.

Lalu, saudara Subud satunya lagi, Tommy (bukan nama sebenarnya), angkat bicara. Dengan sikap ramah ia menepuk bahu Budi dan berkata, “Kalau duitnya sudah cukup, kenapa nggak sekarang aja berangkat ke Senggigi? Ngapain harus nunggu kongres segala?!”

Aha! Benar juga pernyataan Tommy. Dan saya rasa, Budi secara tidak langsung juga membenarkan, karena ia terpana, tidak sanggup menyanggah. Mengapa pula menyanggah apabila pernyataan Tommy masuk akal?

Anda bisa lihat sendiri kan? Dua anggota Subud tersebut menyatakan dua kebenaran. Dua-duanya benar dan logis. Tetapi masing-masing punya pertimbangan untuk melaksanakan dan tidak melaksanakan salah satunya. Dua-duanya benar, tetapi masing-masing kebenaran hanya berlaku untuk masing-masing pribadi.

Ada orang yang berpendapat bahwa kebenaran mutlak hanya satu, yaitu Tuhan. Coba Anda katakan itu pada mereka yang tidak percaya pada eksistensi Tuhan, tentu pernyataan itu bakal mereka sanggah. Saya punya kawan di Negeri Belanda, seorang ateis, yang menertawakan aktivitas saya di Subud sebagai sesuatu yang sia-sia, karena, menurutnya, berserah diri kepada Tuhan itu omong-kosong. Percuma saja saya memaksakan kebenaran saya padanya. Ketika saya katakan bahwa dengan bertuhan saya memperoleh banyak berkah dalam kehidupan ini, sebaliknya ia merespons, “Hidup saya bahagia sekali dan saya selalu mendapat solusi atas semua masalah saya walaupun saya tidak percaya adanya tuhan!”

Kami tetap berteman baik. Pertemanan kami yang langgeng dilandasi saling menghormati dan menghargai kebenaran masing-masing. Anda pun boleh setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka, dengan apa yang saya ungkap di sini. Saya hanya mengurai kebenaran saya. Bagaimana dengan Anda? Lebih baik berdiri tegak di atas kebenaran yang Anda yakini daripada bersikap plin-plan lantaran ada orang yang tidak setuju dengan Anda.Ó


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 30 Oktober 2010