Wednesday, September 19, 2012
Senioritas
Korelasi
Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk diselaraskan, sehingga antara hal-hal yang berbeda tercipta harmonisasi lewat tindakan saling melengkapi, sehingga muncullah sikap saling memahami. Tak mengherankan, jika dikatakan bahwa perbedaan itu merupakan rahmat, karena sejatinya di dalam perbedaan itu terdapat kasih-sayang Tuhan kepada makhlukNya.
Beberapa teman saya yang muslim, misalnya, akhirnya berhasil merasakan kekhusyukan dalam salat sejak mereka melihat korelasi antara meditasi ajaran Buddhisme Zen dan sembahyang a la Islam—dan mempraktikkannya. Selain itu, mereka juga mampu merengkuh kesalingpahaman dengan relasi mereka yang berbeda agama, yang merupakan landasan bagi terciptanya toleransi antar-umat beragama di lingkungan mereka. Alangkah dangkal pemikiran mereka yang menyebut korelasi semacam ini ‘percampuran (mixing) yang membahayakan kelangsungan keberagamaan umat’.
Dahulu, pada masa yang telah lama berlalu, spiritualitas hanya merupakan ranah para pencari diri sejati atau Tuhan yang biasanya hanya dilakoni di tempat-tempat yang jauh dari keramaian, seperti hutan, gua atau gunung, atau di rumah-rumah ibadah. Di abad ke-21, yang disebut John Naisbitt dalam bukunya Megatrends 2000 sebagai Abad Spiritual, manusia justru harus berhadapan dengan arus nilai-nilai yang cenderung memacu perolehan materi, yang akhirnya mendorong para pakar manajemen bisnis untuk mulai melihat korelasi antara bisnis dan spiritualitas.
Di Abad Spiritual inilah mengemuka istilah ‘sufi perusahaan’ (corporate sufi), yaitu pribadi-pribadi di perusahaan yang memahami diri mereka sebagai makhluk spiritual yang jiwanya memerlukan makanan di tempat kerja; mengenai pengalaman akan rasa bertujuan dan bermakna dalam pekerjaannya, dan juga tentang mengalami perasaan saling terhubung dengan orang lain dan komunitasnya di dan di luar tempat kerjanya.
Tren yang marak sejak dunia bergeser ke abad ke-21 ini melahirkan apa yang dijuluki CEO Microsoft, Bill Gates, sebagai ‘kapitalisme kreatif’ (creative capitalism), yaitu aksi tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility, CSR). Lewat program-program CSR mereka, organisasi-organisasi bisnis kini menyalurkan sekian persen dari keuntungan bisnis mereka untuk membangun komunitas (community development) di mana perusahaan mereka berada dan yang menerima dampak dari operasi perusahaan mereka. Untuk dapat bertahan dan sukses di abad ke-21, para pelaku bisnis yakin bahwa hanya organisasi pembelajar (learning organizations) yang mau mempertanyakan dan menguji alasan bagi eksistensinya maupun metode operasinya.
Beberapa perusahaan besar, seperti Proctor and Gamble, 3M Corporation, Motorola, dan Wal-Mart, memberikan bantuan bagi karyawannya untuk menguji visi pribadi dan nilai-nilai hidupnya, dan peduli sumber daya manusia. Ini berarti bahwa mereka telah menerapkan spiritualitas lewat tema-tema tersebut. The Body Shop dan Harley-Davidson berhasil mengorelasikan secara selaras motif keuntungan bisnis dengan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan pekerjaan yang bermakna.
Kreativitas untuk Sintas
Abaikan perusahaan-perusahaan besar; Anda sebagai pribadi pun dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup dan kehidupan Anda apabila Anda mampu melihat korelasi yang selaras dalam perbedaan segala sesuatu. Kemampuan untuk melihat korelasi antara hal-hal yang berbeda merupakan tolok ukur kreativitas Anda untuk sintas di tengah kehidupan dunia yang kian kompetitif sekaligus rapuh ini.
Saya beri contoh berdasarkan pengalaman profesional saya: Dahulu, dunia finansial berseberangan bak bumi dan langit dengan dunia sastra. Ketika akhirnya praktisi keuangan melihat korelasi antara bidangnya dengan bidang sastra (menulis)—atau sebaliknya, penulis menekuni bidang keuangan dan bisnis—sebagai dampak dari keterbukaan yang dituntut publik terhadap korporasi bisnis, muncullah yang namanya penulis laporan tahunan (annual report), yang rupanya amat dibutuhkan, namun pada saat bersamaan ketersediaannya amat langka! Bisa Anda bayangkan, betapa kompetitif ‘harga di kepala’ saya dewasa ini selaku penulis materi komunikasi pemasaran dan korporat, yang antara lain mencakup laporan tahunan dan laporan keberlanjutan (sustainability report).
Korelasi menghasilkan terobosan-terobosan di berbagai bidang. Dalam bidang pemasaran, tulis Ippho Santosa dalam Marketing is Bullshit: Meledakkan Profit dengan Kreativitas dan Otak Kanan (2009), terobosan perlu agar konsumen tidak bosan. Di Banyuwangi ada jajanan khas yang dinamai rujak soto, yaitu menciptakan korelasi yang selaras antara rujak cingur dari Surabaya dengan soto daging Madura, yang pada gilirannya mampu menimbulkan pengalaman kuliner yang dahsyat bagi para penyuka jajanan tradisional.
Roger von Oech dalam bukunya, Whack—Pukulan untuk Merangsang Kreativitas dan Ide Baru (2008), menyebut tindakan mengorelasi antara bidang yang satu dengan yang lain sebagai ‘pembuahan silang’, dan mencontohkan, antara lain, terciptanya alat KB oleh seorang dokter kandungan yang berkorelasi dengan dokter gigi, khususnya dalam membuat bentuk dan cetakan!
Jadi, correlate before too late (lakukan korelasi sebelum terlambat)!©
Tuesday, September 18, 2012
Telanjang
Wednesday, May 11, 2011
Di Ruang Sepi Itu...

“Saya selalu berpikir bahwa pencarian akan kebahagiaan merupakan kekuatan yang mendasari hidup ini. Apa pun yang kita lakukan di dunia ini, dalam kehidupan kita, isinya selalu pencarian akan suatu kebahagiaan. Salah satu dari pengalaman-pengalaman awal di mana saya merasakan bahagia yang mendalam di dalam meditasi memberi saya rasa bahagia yang berasal dari luar dunia ini. Dan sekalinya Anda merasakan hal itu Anda akan melakukan pencarian lebih lanjut akan makna dari kebahagiaan.”
—Ajahn Brahmavamso
Tak sedikit orang yang menganjurkan maupun merayu saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan saya dalam wujud buku, atau menulis buku yang kemudian diterbitkan, dibaca orang di seluruh negeri. Sebagai reaksi, saya selalu mengatakan, “Beri saya satu alasan kenapa saya harus melakukannya!” Tidak sedikit yang menganggap bahwa penerbitan buku karya sendiri merupakan representasi dari kesuksesan.
Anggapan keliru semacam ini sudah menyebar luas dan meruyak seolah tak dapat dibendung, hingga melarut dalam berbagai budaya, bukan hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Orang sukses sepertinya perlu atribut yang kasat mata, menurut anggapan tersebut. Padahal sukses tidak bisa diukur dari hal itu. Begitu pula dengan kebahagiaan.
Rasanya, semua orang mendambakan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupnya. Tetapi pendambaan tersebut cukup ajaib, lantaran yang didambakan merupakan sesuatu yang tak tampak, tak dapat disentuh, dicium baunya, apalagi disimpan. Segala sesuatu tentang kebahagiaan dan kesuksesan bersifat abstrak. Ada dan tiadanya hanya seputar rasa, atau refleksi dari hati, sebuah ruang sepi yang keberadaannya tak jelas di mana.
Untuk mudahnya, kita biasa menunjuk ke dada sebelah kiri, yang sesungguhnya tempat bersemayamnya jantung. Sedangkan hati fisik – yang tentunya berbeda dari yang dimaksud dengan ‘hati’ yang lokasinya tak jelas itu – merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh kita, yang letaknya di dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.
Hati yang saya maksud dalam Catatan ini adalah yang di kalangan Sufi disebut ‘hati spiritual’. Tempatnya di mana saja yang kita yakini, tetapi yang jelas ia merupakan sebuah ruang yang sepi dari apa pun, selain Tuhan. Hati yang ini telah menjadi kajian dan telaah para cendekiawan agama dan pejalan spiritual sepanjang zaman. Robert Frager dalam bukunya, Heart, Self and Soul: The Sufi Psychology of Growth Balance and Harmony (New Age Books, 2005), menyebutnya sebagai ‘kuil Tuhan’.
Hati yang ini tetap misterius, lantaran keberadaannya yang ‘tidak jelas’ namun ada. Ruang sepi itu senantiasa menjadi fokus pembersihan dan purifikasi bagi mereka yang menghendaki kehidupan yang lebih tenang dan menyenangkan. Cara membersihkannya beragam; ada yang lewat meditasi, sembahyang, salat yang khusyuk, bertapa menjauhkan diri dari keramaian, dan lain-lain. Apa pun caranya, semua benar dan semua dapat membawa kita kepada aras bahwa sejatinya kita sesepi ruang sepi itu. Sepi dari apa pun. Kita dilahirkan ke dunia tanpa membawa apa-apa selain tubuh dan jiwa kita, dan meninggalkan dunia ini juga tanpa membawa apa-apa selain tubuh dan jiwa kita.
Konon, rasa bahagia atau rasa sukses berasal dari ruang sepi itu. Tidak ada yang tahu dengan pasti apakah benar demikian. Kata ‘rasa’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta ‘rahsa’, yang kemudian terserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘rahasia’, karena sifatnya memang tidak jelas atau tidak diketahui. Tetapi kalau Anda merasa nyaman dengan anggapan itu, ya silakan saja. Ada yang bersikeras bahwa bahagia atau sukses berasal dari hati, bukan pikiran. Ada yang merasa sok benar sendiri, dengan menegaskan bahwa yang berasal ‘dari dalam’ lebih bermakna daripada yang berasal ‘dari luar’. (Tuhan ada di dalam atau di luar diri kita ya?) Ada jalan spiritual yang ‘mengharamkan’ penggunaan akal pikir dan menjunjung jiwa di atas segalanya.
Maka para bhiksu Buddhis pun ‘menantang’ mereka: Coba tunjukkan di mana letak pikiran itu? Kenyataannya, pikiran, hati, diri dan jiwa sama misteriusnya terkait dengan keberadaannya. Yang kita kenal sekarang hanyalah asumsi, bukan kebenaran mutlak! Seorang bijak mengatakan, “Jangan ragukan mereka yang mencari kebenaran. Jangan percayai mereka yang mengaku telah menemukannya!” Itu menegaskan bahwa kebenaran tidak ada yang mutlak; yang ada hanyalah kebenaran esoteris/subyektif, hanya berlaku bagi yang (merasa) menemukannya.
Kebahagiaan atau kesuksesan teragung kita, menurut saya, adalah apabila kita tidak lagi membutuhkannya, karena sejatinya keduanya hanya perasaan yang bisa ‘dimanipulasi’ – baik oleh diri sendiri maupun orang lain, sebagaimana yang saya alami di atas. Di aras kesejatian – yang dicapai dengan kita ‘meniadakan’ diri dari segala sesuatu yang bukan sejatinya kita, kita hanyalah kita, tanpa apa-apa, seperti kondisi di ruang sepi itu. Ah, bahagia akhirnya.Ó
Wisma Indonesia Lantai 2, Kompleks Wisma SUBUD Cilandak, Jakarta Selatan, 27 April 2011, pukul 18.41 WIB
Tuesday, May 10, 2011
Gelombang Cinta

Berani Menghadapi Takut
“Lakukan apa yang paling Anda takuti dan rasa takut pun pasti akan berakhir.”
—Mark Twain
Ketakutan terbesar saya adalah jarum suntik. Fobia saya terhadapnya sudah berada di aras tertinggi, di mana bila saya harus menerima suntikan, dampak yang terparah adalah saya bisa stres berat berminggu-minggu. Saya bahkan tidak tega melihat orang lain disuntik; saya cenderung mengalihkan pandangan saya dari layar televisi bila ada adegan orang yang disuntik. Kawan saya secara bercanda pernah bilang ke perawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta—di mana saya dirawat selama delapan hari akibat infeksi lambung—yang keheranan melihat tingkah saya yang begitu ketakutan ketika akan disuntik, “Itulah sebabnya, Suster, teman saya ini tidak pernah terlibat narkoba.”
Tidak sedikit orang yang menyarankan saya agar menghadapi rasa takut itu dengan ‘hidup bersama sesuatu yang ditakutkan’ tersebut. Mengikuti saran mereka, karena itu saya menempelkan jarum suntik dan jarum infus di masing-masing dari kedua sisi layar komputer saya, untuk membiasakan diri saya agar sanggup berlama-lama bersama kedua benda yang menakutkan itu di dekat saya.
Saya mempunyai ketakutan lainnya, yang tak jarang menyebabkan saya menderita sakit perut dan mual, yaitu terbang dengan pesawat terbang. Tetapi fobia yang satu ini belakangan sedikit banyak dapat saya atasi lantaran saya harus sering terbang ke berbagai tempat di Indonesia terkait pekerjaan saya sebagai penulis wisata atau penulis naskah audio-visual yang pembesutannya harus dilakukan di lokasi yang dijabarkan dalam naskah tersebut.
Intinya adalah pembiasaan, agar kita berani menghadapi takut. Lakukanlah apa yang Anda takutkan (do what you fear). Memang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, terlebih-lebih bagi orang-orang seperti saya yang sumber ketakutannya adalah jarum suntik. Kecuali saya pecandu narkoba—yang suka menyuntik diri berulang kali, bagaimana lagi saya dapat membiasakan diri dengan jarum suntik, selain sebagaimana yang saya ceritakan di atas? Sumber ketakutan saya adalah jarum yang disuntikkan ke anggota tubuh saya, dan bukan sekadar melihat alat suntiknya.
Namun, terkait hal itu, saya punya pengalaman yang berkesan. Ketika dirawat di RSPP, saya harus melewati momen mengerikan di mana seorang perawat pria hendak mengganti jarum infus saya dengan yang baru, serta memindahkannya dari tangan kiri ke kanan. Saya meminta si perawat agar saya diberitahu bilamana jarum akan ditusukkan, supaya saya bisa mempersiapkan diri (bagaimanapun, saya tidak pernah benar-benar siap menghadapi jarum suntik). Si perawat mengajak saya mengobrol dan ia menceritakan kisah-kisah lucu yang membuat saya terpingkal-pingkal. Merasa bahwa proses persiapan penusukan jarum ke tangan saya kelewat lama, saya pun bertanya, “Mas, belum ya? Kok lama banget?”
“Apanya yang lama? Ini udah lho,” kata si perawat dengan santainya sambil menaruh tangan saya yang telah ditanami jarum infus di muka saya. Saya terperangah. Lha, sudah toh?!
Pengalihan perhatian dengan menciptakan kondisi yang berlawanan dengan keadaan yang sebenarnya; itulah salah satu cara untuk berani menghadapi takut. Di bidang pekerjaan saya yang acap berisikan tekanan lantaran tenggat waktu yang ketat serta sikap klien yang emosional atau seenaknya, alih-alih terbawa suasana, saya dan tim saya cenderung menghidupkan atmosfer yang sarat kejenakaan dan kesantaian. Hidup terlalu singkat untuk dianggap terlalu serius—demikian prinsip saya dalam menghadapi tekanan hidup. Bukannya mengabaikan, tetapi lebih untuk hidup secara harmonis bersama tekanan-tekanan itu. Seluruh dunia boleh saja mengecam Anda, tetapi tetaplah menjadi diri sendiri, dengan mengikuti kata hati Anda. Bagaimanapun, adalah diri Anda sendiri yang mengarahkan hidup Anda. Tak terhitung jumlah orang yang menghujat saya lantaran saya berpindah keyakinan, tetapi mengingat betapa mereka tidak peduli pada derita perasaan saya, lha buat apa saya peduli pada hujatan mereka?
Takut, dalam situasi tertentu, lebih sering mendatangkan kesia-siaan yang mengendala. Lantaran pengaruh ajaran tertentu, tak sedikit orang yang menahan diri mereka dari pikiran dan perasaan serta tindakan yang sesungguhnya akan memberi mereka banyak pelajaran tentang hidup. Belum apa-apa, sudah takut. Tidak ada yang salah sampai itu salah (nothing is wrong until it’s wrong), dan kita tidak akan tahu tentang benar-salahnya sesuatu jika tidak dihadapi dan dikerjakan. Dan sejatinya tidak ada benar-salah, melainkan cocok-tidak cocok. Gurubesar filsafat di almamater saya pada tahun 1986, IKIP Negeri Jakarta, berujar dalam rangka menukas pernyataan seorang mahasiswa bahwa berciuman di depan umum itu merupakan budaya yang negatif, “Anda tanyakan deh orang Barat yang suka berciuman di depan umum, apakah itu budaya yang negatif.” Si mahasiswa pun tak berkutik.
Takut, sejatinya, merupakan bayangan cermin dari berani. Takut mendorong kita untuk berusaha bertahan. Tanpa rasa takut, saya kira tidak akan pernah ada upaya untuk sintas (survive) dalam hidup ini, yang pada gilirannya akan mendayai kita untuk melahirkan gagasan-gagasan yang kreatif dan inovatif. Seperti saya, yang sampai sekarang masih memikirkan cara agar pemberian obat atau pengambilan darah tak perlu ditempuh dengan menggunakan jarum suntik.(AD)
Bandung, 2 April 2011
Rancangan naskah ditulis di tengah Sharing Session "Communication & Media Megatrends 2011" di Hotel Topas Galeria, Jl. Dr. Djundjunan 153, Bandung, tatkala menunggu giliran tampil sebagai pembicara.
Monday, November 1, 2010
Mengurai Kebenaran

Dua orang darwis (murid tasawuf) berdebat soal dua jalan yang berbeda dalam mendekatkan diri kepada Allah. Darwis A berpendapat bahwa upaya yang keras, melalui berbagai ritual dan tata cara, merupakan jalan yang paling benar. Sedangkan darwis B beranggapan yang paling benar adalah dengan berserah diri dengan sabar dan tawakal. Karena tidak mencapai titik temu, kedua darwis pergi menghadap syekh mursyid (guru tarekat Sufi) untuk meminta pertimbangannya. Saat itu, sang mursyid sedang ditemani seorang darwis muda, yang baru bergabung dengan tarekat itu.
Darwis A melontarkan pandangannya soal jalan yang paling benar untuk mendekatkan diri kepada Allah. “Ya, kamu benar!” kata si mursyid mengomentari. Darwis B langsung protes, dan mengutarakan pendapatnya. “Ya, kamu benar,” kata mursyid tadi dengan tenang.
Jadi, apakah yang dimaksud dengan kebenaran, kalau tidak ada salah-benar, ditilik dari kisah tersebut? Kalau kita cermati sifat-sifat Allah, kita akan lihat adanya pasangan-pasangan sifat yang saling berlawanan. Tetapi, toh hal-hal yang ‘negatif’ itu tidak dipandang sebagai ‘salah’, sementara yang ‘baik’ atau ‘positif’ sebagai ‘benar’.
Dalam konteks keilahian, merupakan hal yang dangkal untuk membuat penilaian benar-salah, sebab sebagaimana pengalaman hidup kita membuktikan bahwa yang satu menopang yang lain. Yang satu ada lantaran yang lain. Dan kebenaran bersifat sangat pribadi serta subyektif. Apa yang benar bagi seseorang belum tentu bisa diterapkan pada orang lain.
Baru-baru ini, saya mendapat pengalaman yang menurut saya ‘benar’ bagi saya, terkait tolok ukur kebenaran. Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud akan menggelar kongres nasionalnya tahun depan. Lokasinya, yang telah ditetapkan dua tahun sebelumnya, adalah Palangkaraya di Kalimantan Tengah. Mendadak, justru ketika waktunya kian mepet, lokasi dipindah ke Jawa Barat, dengan alasan tingginya biaya yang bakal harus ditanggung peserta apabila tetap diadakan di Palangkaraya.
Karuan saja, pemindahan lokasi ini menimbulkan kontroversi. Mereka yang berasal dari Jakarta, yang umumnya berstatus ekonomi menengah-atas menyatakan kesanggupan mereka dan menyesali pemindahan tersebut. Sebaliknya, para anggota yang berasal dari daerah-daerah luar Jakarta, yang secara ekonomi kekurangan, menyatakan tidak sanggup dan mensyukuri pemindahan tersebut.
Dalam suatu obrolan dengan dua saudara Subud, saya menyatakan dukungan atas keputusan pengurus nasional PPK Subud Indonesia lantaran diambil berdasarkan suara terbanyak. Tidak demikian dengan salah seorang saudara Subud saya, sebut saja Budi. Budi prihatin dengan sikap anggota yang sepertinya tidak niat. “Saya menabung sejak tahun lalu, seribu perak per hari, karena saya berniat benar berangkat ke kongres di Palangkaraya. Sekarang sudah terkumpul dua setengah juta rupiah. Ada kemauan, ada jalan! Itu nunjukin, orang-orang di daerah itu pada dasarnya nggak niat,” kata saudara itu dengan menggebu-gebu.
Saya membenarkan perkataannya lantaran saya sendiri pernah dan sering mengalami, di mana begitu saya berniat akan sesuatu sekonyong-konyong saya tertuntun untuk mewujudkannya.
Lalu, saudara Subud satunya lagi, Tommy (bukan nama sebenarnya), angkat bicara. Dengan sikap ramah ia menepuk bahu Budi dan berkata, “Kalau duitnya sudah cukup, kenapa nggak sekarang aja berangkat ke Senggigi? Ngapain harus nunggu kongres segala?!”
Aha! Benar juga pernyataan Tommy. Dan saya rasa, Budi secara tidak langsung juga membenarkan, karena ia terpana, tidak sanggup menyanggah. Mengapa pula menyanggah apabila pernyataan Tommy masuk akal?
Anda bisa lihat sendiri kan? Dua anggota Subud tersebut menyatakan dua kebenaran. Dua-duanya benar dan logis. Tetapi masing-masing punya pertimbangan untuk melaksanakan dan tidak melaksanakan salah satunya. Dua-duanya benar, tetapi masing-masing kebenaran hanya berlaku untuk masing-masing pribadi.
Ada orang yang berpendapat bahwa kebenaran mutlak hanya satu, yaitu Tuhan. Coba Anda katakan itu pada mereka yang tidak percaya pada eksistensi Tuhan, tentu pernyataan itu bakal mereka sanggah. Saya punya kawan di Negeri Belanda, seorang ateis, yang menertawakan aktivitas saya di Subud sebagai sesuatu yang sia-sia, karena, menurutnya, berserah diri kepada Tuhan itu omong-kosong. Percuma saja saya memaksakan kebenaran saya padanya. Ketika saya katakan bahwa dengan bertuhan saya memperoleh banyak berkah dalam kehidupan ini, sebaliknya ia merespons, “Hidup saya bahagia sekali dan saya selalu mendapat solusi atas semua masalah saya walaupun saya tidak percaya adanya tuhan!”
Kami tetap berteman baik. Pertemanan kami yang langgeng dilandasi saling menghormati dan menghargai kebenaran masing-masing. Anda pun boleh setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka, dengan apa yang saya ungkap di sini. Saya hanya mengurai kebenaran saya. Bagaimana dengan Anda? Lebih baik berdiri tegak di atas kebenaran yang Anda yakini daripada bersikap plin-plan lantaran ada orang yang tidak setuju dengan Anda.Ó
Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 30 Oktober 2010
