SAYA selalu iri pada teman-teman saya yang bisa menuliskan pengalaman perjalanan batin atau pencerahan spiritual mereka ke dalam bentuk prosa yang mengalir indah atau puisi yang penuh makna. Rasa iri itu datang bukan tanpa alasan; saya justru merasa gamang karena sebagai seseorang yang akrab dengan dunia tulis-menulis, saya malah tidak mampu melakukan hal yang sama pada pengalaman saya sendiri.
Di satu sisi, saya menekuni jalan spiritual secara sungguh-sungguh, namun di sisi lain, setiap kali saya mencoba menyelami titik-titik pencerahan batin atau momen keheningan yang saya alami, alurnya terasa semakin random dan liar. Pikiran saya mendadak terasa kaku dan sulit diajak berkompromi ketika saya mencoba memaksakannya ke dalam bentuk kalimat yang terstruktur rapi.
Bagi sebagian orang, proses merangkai kata dan menulis itu sendiri merupakan sebuah jalan spiritual yang autentik. Menulis dipandang sebagai laku meditatif yang memberi ruang lapang bagi seseorang untuk kembali menjadi diri sendiri secara utuh. Aktivitas menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata kerap kali menjadi wadah kontemplatif yang menenangkan, tetapi ternyata hal itu tidak berlaku bagi semua orang. Dalam Latihan Kejiwaan yang saya jalani sebagai anggota Subud, di mana keheningan dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa memegang peranan utama, pengalaman-pengalaman spiritual sering kali melampaui batas-batas bahasa.
Kadang-kadang,
bagi sebagian dari kita, “menulis mental"—yaitu meresapi, mengalami, dan
merenungkan semuanya murni melalui rasa serta gejolak pikiran yang hening tanpa
harus menyentuhnya dengan kata atau bahasa—sudah lebih dari cukup untuk
merangkum kedalaman makna yang ada.©2026
Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2
November 2026