Thursday, March 26, 2026

Masuk Subud Tertuntun Makanan

SAYA pagi ini membagi cerita yang lucu tapi nyata—pengalaman saya ketika mengenal Subud pertama kali dan dua tahun pertama saya sejak dibuka—kepada satu saudari Subud dari Semarang, Jawa Tengah. Ia rupanya meneruskan cerita yang saya bagi lewat WhatsApp itu ke grup WhatsApp Subud Semarang, sehingga satu anggota menghubungi saya lewat jalur pribadi, menanyakan kebenaran cerita tersebut. Saya tertawa membaca reaksinya dalam pesan WhatsAppnya.

Memang banyak yang mengira saya bercanda tiap kali saya menceritakan bahwa awal mula saya mengenal Subud adalah karena minat saya yang begitu besar terhadap makanan lezat. Bila saja rekan kerja saya yang seorang pembantu pelatih di Subud Cabang Surabaya tidak mengumpan saya dengan cerita bahwa di Subud banyak makanan enak, saya mungkin tidak pernah tertuntun ke Subud.

Ketika saya baru satu tahun di Subud, saya ikut serta dalam kunjungan Pembantu Pelatih Nasional (PPN) Pria Komisariat Wilayah VI (Jawa Timur, Bali dan Sulawesi), yang kebetulan berdomisili di Surabaya, ke rumah seorang anggota baru di Kabupaten Kediri di Jawa Timur, sekitar 125 km dari Surabaya. Anggota yang sudah berusia lanjut itu tergolong anggota terisolasi karena Cabang Kediri sudah bubar dan pembantu pelatihnya pindah ke kota lain, tetapi si anggota pria itu sangat bersemangat dengan Subud hingga ia membangun tempat Latihan di sebelah rumahnya. Istri dan ipar-iparnya pun akhirnya juga masuk Subud.

Menyambut PPN dan rombongan dari Surabaya, si anggota telah menyiapkan sambutan yang istimewa, tak ubahnya pesta pernikahan. Ia menghidangkan banyak sekali makanan enak dan buah-buahan, kopi dan teh free flow. Setelah Latihan bersama, kami mengadakan sarasehan disambi menikmati makanan dan minuman yang berlimpah. Seorang pembantu pelatih sepuh dari Surabaya berbisik ke saya, “Subud ya seperti ini... Subud itu LSM!”

Saya sempat kaget mendengar perkataan beliau bahwa Subud itu LSM. Secara umum di Indonesia, LSM adalah padanan dari NGO (non-governmental organization) dalam bahasa Inggris, yang kepanjangannya adalah “lembaga swadaya masyarakat”. Tetapi, rupanya LSM yang dimaksud si pembantu pelatih sepuh tersebut adalah singkatan dari Latihan, Sarasehan (gathering), dan Makan. Setelah beberapa tahun di Subud, saya setuju dengan beliau: Ke cabang, ranting atau kelompok manapun di Indonesia saya berkunjung, makanan enak selalu ada di depan mata. ©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 27 Maret 2026

Tuesday, March 24, 2026

Dialektika Bahasa dan Narasi Jenama

 


DI tengah rimba komunikasi digital yang bising, banyak jenama (brand) terjebak dalam teknis algoritma namun melupakan satu elemen fundamental: kemanusiaan. John Simmons, melalui karyanya yang provokatif, The Invisible Grail: How Brands Can Use Words to Engage with Audiences, mengajak kita melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang bahasa dalam dunia bisnis. Simmons tidak menawarkan formula pemasaran yang kaku, melainkan sebuah tesis bahwa kata-kata adalah instrumen utama untuk menemukan kembali “cawan suci” yang hilang dalam identitas sebuah organisasi—yakni kejujuran dan koneksi emosional.

Simmons berargumen bahwa bahasa korporat yang kering, penuh jargon, dan impersonal justru menjadi penghalang utama antara jenama dan audiensnya. Ia menekankan pentingnya kreativitas sastrawi yang diaplikasikan ke dalam strategi komunikasi. Baginya, sebuah jenama bukan sekadar logo atau palet warna, melainkan kumpulan cerita yang diceritakan secara konsisten. Buku ini mengupas bagaimana kekuatan narasi mampu mengubah persepsi konsumen dari sekadar pembeli menjadi pengikut setia yang merasa memiliki keterikatan batin dengan nilai yang diusung oleh perusahaan.

Kekuatan utama dari tinjauan Simmons terletak pada pendekatannya yang humanis. Ia meyakini bahwa setiap orang dalam organisasi, dari level eksekutif hingga operasional, memiliki peran sebagai pencerita. Dengan menggunakan gaya penulisan yang elegan namun praktis, Simmons memberikan kerangka kerja bagi siapa pun yang ingin mengasah kepekaan linguistik mereka.

Bagi saya, membaca buku ini adalah sebuah perjalanan intelektual untuk menyadari bahwa di balik setiap transaksi sukses, selalu ada kata-kata yang mampu menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan kita. Ini adalah bacaan esensial bagi para komunikator yang percaya bahwa bahasa adalah fondasi dari setiap bentuk kepercayaan.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Maret 2026

Monday, March 23, 2026

Membedah Anatomi Kepemimpinan Montgomery

 


BUKU memoar panglima perang pertama yang saya baca, ketika saya masih kelas 1 Sekolah Menengah Pertama, adalah tentang Marsekal Mandala (Field Marshal) Bernard Law Montgomery. Saya langsung merasakan kekaguman pada sosok jenderal Inggris ini, terinspirasi oleh apa yang saya baca dalam memoar itu. Buku berjudul The Memoirs of Field Marshal Montgomery itu terjepit di antara koleksi buku nonfiksi dan fiksi milik ayah dan ibu saya—saya mewarisi kesukaan membaca dari orang tua saya, puji Tuhan.

Di belantara literatur biografi militer, hanya sedikit karya yang mampu memicu perdebatan sehebat memoar Montgomery ini. Buku bersampul klasik keluaran Signet ini bukan sekadar catatan harian seorang serdadu, melainkan sebuah manifesto strategi yang dibalut dengan rasa percaya diri yang nyaris absolut. Montgomery, sang “Pahlawan El Alamein”, tidak menulis buku ini untuk meminta maaf atau bersikap rendah hati; ia menulisnya untuk memaku posisinya dalam sejarah sebagai arsitek kemenangan Sekutu yang paling presisi.

Montgomery membedah setiap kemenangannya dengan ketajaman seorang ahli bedah. Dari padang pasir Afrika Utara hingga pendaratan di Normandia, ia menekankan satu tesis utama: kemenangan adalah hasil dari perencanaan logistik yang rigid dan moril pasukan yang tak tergoyahkan. Bagi pembaca yang mencari analisis mendalam tentang bagaimana sebuah organisasi raksasa digerakkan di bawah tekanan maut, bab-bab mengenai persiapan Operasi Overlord adalah tambang emas informasi. Ia secara terbuka mengkritik koleganya, termasuk Dwight D. Eisenhower, dengan kejujuran yang provokatif, menciptakan sebuah narasi yang menantang hegemoni historiografi populer Amerika.

Namun, di balik detail teknis mengenai divisi dan pergerakan tank, esensi sejati dari buku ini terletak pada psikologi kepemimpinan. Montgomery menunjukkan bahwa seorang pemimpin besar harus memiliki keberanian untuk menjadi tidak populer demi efektivitas komando. Ia tidak peduli dengan sentimen; ia hanya peduli pada hasil. Membaca memoar ini di era modern memberikan perspektif unik mengenai manajemen krisis dan pengambilan keputusan strategis yang melampaui batas-batas kemiliteran. Ini adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah visi tunggal dapat mengubah jalannya sejarah, meskipun harus dibayar dengan gesekan ego di meja perundingan.

Meskipun buku ini sering dianggap sebagai upaya glorifikasi diri, saya menemukan bahwa kejujuran Montgomery tentang “kemenangan dan kekeliruan” (triumphs and blunders) memberikan ruang bagi refleksi kritis. Ia tidak menyembunyikan kontroversi, ia justru menempatkannya di depan agar publik bisa melihat logika di baliknya. Bagi saya, karya ini tetap menjadi referensi krusial yang menolak untuk dilupakan, memaksa kita untuk kembali bertanya: sejauh mana seorang individu dapat menentukan nasib sebuah peradaban?©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 24 Maret 2025

Melayani Penyandang Tunarungu

TADI malam, saya mendapat pesan WhatsApp dari seorang pembantu pelatih wanita di grup Subud Amsterdam, Belanda, yang menanyakan tentang bagaimana melayani kandidat yang tunarungu, apakah ada ceramah/petunjuk Bapak mengenai hal itu atau ada pengalaman saya terkait hal itu. Saya baru menjawab pagi ini, karena semalam saya sudah sangat mengantuk.

Berikut jawaban saya—aslinya dalam bahasa Belanda:

Saya belum pernah membaca ceramah Bapak mengenai penerangan kepada kandidat dengan disabilitas pendengaran, tetapi saya mempunyai pengalaman pribadi dengan seorang tunarungu. Dia bukan kandidat dan bukan pula anggota Subud, melainkan putri dari rekan kerja saya yang saat itu (2005) diajak ibunya ke kantor dan diperkenalkan ke saya. (Saat itu, kantor saya beralamat di Jl. Raya Tenggilis, Surabaya.)

Si gadis yang saat itu berumur 22 tahun sedang mengalami gejala yang di Subud disebut “krisis”. Ibunya kebingungan; dia sudah membawa putrinya ke banyak psikolog, psikiater, ustaz dan dukun, tetapi mereka semua tidak berhasil mengatasi masalahnya. Saya mengobrol saja berdua dengan si putri, di ruang rapat kantor. Terungkap bahwa si gadis mengalami hal-hal gaib: Dia tiba-tiba dapat melihat makhluk halus dan telinga tulinya dapat “mendengar” azan. Dengan sabar dan mengandalkan Latihan saya yang sedang kuat-kuatnya (saya baru satu tahun di Subud saat itu), saya berdialog dengan putri dari rekan kerja saya itu. Karena saya tidak paham bahasa isyarat, perbincangan kami berlangsung melalui tulisan saya di secarik kertas berselang seling dengan ucapan pelan-pelan yang dapat dipahami si gadis dengan membaca bibir saya.

Saya tidak menjelaskan Subud saat itu, melainkan tentang gejala-gejala spiritual universal. Yang disukai si gadis adalah sikap ramah saya terhadapnya—tidak menghakimi dia sebagaimana yang dilakukan ibunya, saudara-saudara kandungnya dan banyak orang lainnya. Saya minta dia menenangkan dirinya dan menikmati keadaan dirinya, lalu saya tinggal dia sendirian di ruang rapat itu, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Beberapa belas menit kemudian, saya kembali ke ruang rapat dan menjumpai si gadis tunarungu itu sedang menari dengan mata terpejam. Saya panik, karena menganggap bahwa saya telah tidak sengaja membuka dia, tetapi saya biarkan dia terus menari karena dia tampaknya bahagia—dan saya merasakan ruangan itu menjadi “terang dan ringan”.

Saya kemudian menelepon pembantu pelatih yang membuka saya—Pak Yanto Luwiharjo, dan saya ceritakan apa yang terjadi. Beliau menyarankan agar saya jangan panik, malah sebaliknya tenang dan tenteram, duduk menenangkan diri dan memohon kepada Tuhan agar si gadis dapat dihentikan aksi menarinya atau “Latihan tak disengaja” itu. Beliau juga memastikan bahwa saya tidak membukanya, melainkan bahwa si gadis hanya mengalami “sentuhan Latihan” saya.

Bertahun-tahun kemudian, saya memahami bahwa terhadap semua jenis kandidat, “normal” atau “berkebutuhan khusus”, hanya diperlukan keadaan diri si pembantu pelatih selalu dalam keadaan sabar, tawakal dan ikhlas serta berani ketika melayani. Karena dalam hal itu, adalah kekuasaan Tuhan yang bekerja—tidak dibutuhkan campur tangan manusia.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 24 Maret 2026

Sunday, March 22, 2026

Pendekatan Seorang Sarjana Sejarah Terhadap Copywriting

SEORANG managing director dari sebuah butik kreatif tempat saya bekerja sebagai freelance copywriter dulu, menyampaikan kekagumannya pada cara bekerja saya. Menurut dia, saya bukan tipe copywriter yang hanya patuh pada brief, melainkan saya akan melakukan pendalaman materi terkait jenama (brand) yang akan dikomunikasikan.

Barangkali latar belakang akademik saya sebagai lulusan Jurusan Sejarah yang berperan dalam hal itu. Sejarawan itu, sesuai yang pernah saya alami berkali-kali, adalah ibarat detektif dan pengembara, yang tidak berhenti pada penemuan fakta pertama. Ia akan terus menggali dan menggali lebih dalam hingga ke inti. Karena seringkali bahkan pemilik jenama tidak mengetahui detail dari penciptaan produk/jasa yang ia tawarkan ke pasar.

Saya bukan tipe copywriter yang semata mengolah kata-kata menjadi komunikasi jualan. Bagi saya, copywriter itu tugasnya bukan “menulis naskah”, melainkan menemukan ide. Kadang, output idenya bukan merupakan jalinan kalimat yang cerewet tentang produk yang ditawarkan, melainkan hanya visual yang begitu kuat konsepnya sampai tidak perlu “berkata-kata” lagi.

Menurut sang managing director pula, sekarang ini sudah sangat langka copywriter yang mau meluangkan waktu untuk melakukan pendalaman atau meneliti lebih jauh. Para copywriter Gen Z cukup puas dengan apa yang tampak di permukaan, sehingga dewasa ini banyak jenama kehilangan spirit kompetisi, menjadi produk yang puas di zona nyaman meski kenyataannya ia terkungkung dalam perangkap paritas.

Mungkin sekarang jenama-jenama memang tidak mau lagi bermain di luar ajang paritas—yang penting bagi mereka jualannya laris manis, meski tak seorang konsumen pun ingat nama jenamanya. Barangkali itu yang menyebabkan pemilik jenama, pemasar atau produsen tidak mau menggunakan jasa copywriter berpengalaman lebih dari tiga dekade seperti saya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 23 Maret 2026

Friday, March 20, 2026

Perasaan Historis

SELAMA 22 tahun di Subud, saya telah beberapa kali mendadak mengalami ketertarikan pada lawan jenis atau kebencian pada seseorang yang sulit saya lawan, walaupun alasan di balik perasaan itu tidak jelas. Tetapi, perasaan itu berlangsung tidak lama—kadang bahkan hanya satu-dua hari. Beberapa pembantu pelatih senior menyarankan agar saya menerima kenyataan itu dengan sabar dan ikhlas, serta menikmati momen itu sambil merasakan perasaan-perasaan itu mengalir melalui diri saya, hingga berlalu selamanya.

Getaran halus itu sulit didefinisikan oleh nalar. Ia datang bukan sebagai pikiran, melainkan sebagai sebuah “perasaan historis” yang menyelinap masuk ke dalam ruang kesadaran tanpa diundang. Kadang saya sedang duduk tenang atau sedang melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba dada saya sesak oleh kerinduan pada tempat yang belum pernah atau pernah saya kunjungi atau orang yang pernah saya kenal di masa lalu saya, atau dirundung kesedihan atas peristiwa yang tidak pernah saya alami dalam masa hidup saya yang sekarang.

Gejala kejiwaan ini sering kali terasa asing dan membingungkan karena ia tidak memiliki akar pada memori logis. Tetapi, bagi mereka yang akrab dengan perjalanan spiritual, fenomena ini rupanya dipahami sebagai lapisan ingatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar ingatan biologis. Dalam proses Latihan yang saya lalui, tabir yang membatasi masa kini dengan masa lalu perlahan menipis. Di sanalah, jejak-jejak rasa milik para leluhur atau sisa-sisa getaran dari pengalaman diri di masa yang amat lampau muncul kembali ke permukaan. Ia adalah resonansi spiritual yang membuktikan bahwa jiwa manusia membawa beban dan warisan yang melintasi batas waktu.

Perasaan ini sering kali hadir hanya dalam sekejap, seperti kilatan cahaya di tengah badai yang kemudian menghilang begitu saja. Meski singkat, dampaknya mampu mengubah cara pandang saya terhadap identitas diri saya. Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan proses pembersihan atau penyelarasan batin di mana hal-hal yang belum tuntas di masa lalu—baik itu kegigihan, penderitaan, maupun cinta yang tak terucap—diberi ruang untuk dirasakan sekali lagi agar ia bisa dilepaskan dengan ikhlas.

Memahami perasaan historis ini memang menuntut kepasrahan. Beberapa pembantu pelatih menyarankan saya agar tidak perlu memaksakan logika untuk mencari tahu dari mana asalnya atau mengapa ia muncul saat ini. Cukup dengan menyadari bahwa setiap getaran rasa yang muncul adalah bagian dari perjalanan besar menuju kemurnian diri. Pada akhirnya, perasaan-perasaan misterius itu adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan akar spiritual yang tak kasatmata, mengingatkan bahwa kita adalah kelanjutan dari sebuah bentangan sejarah yang panjang dan bermakna.

Secara teoritis, jiwa manusia tidaklah kosong saat dilahirkan; ia adalah sebuah bejana yang sudah terisi oleh endapan emosi dari generasi sebelumnya. Setiap pengalaman batin yang sangat kuat dari para leluhur—baik itu kebahagiaan yang meluap, ketakutan saat masa peperangan, atau kepasrahan seorang ibu—meninggalkan jejak getaran yang menetap dalam “memori batin” keluarga. Ketika kita berada dalam kondisi batin yang tenang dan terbuka, frekuensi rasa dari masa lalu ini bisa beresonansi kembali. Ia seperti lagu lama yang tiba-tiba terdengar dari radio tetangga; kita tidak sedang memutarnya, tapi iramanya membuat jantung kita berdegup kencang karena keakraban yang tak terjelaskan.

Fenomena ini bekerja seperti aliran sungai bawah tanah. Di permukaan, kita melihat diri kita sebagai individu modern yang mandiri, namun di kedalaman, kita terhubung pada arus emosi kolektif keluarga yang sudah mengalir berabad-abad. Perasaan historis yang muncul secara tiba-tiba itu sejatinya adalah momen di mana arus bawah tanah tersebut merembes naik ke permukaan kesadaran. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa sangat “mengenali” sebuah penderitaan atau kejayaan tertentu, seolah-olah sel-sel dalam tubuhnya memiliki ingatan sendiri tentang apa yang pernah diperjuangkan oleh orang-orang sebelum dia.

Kehadiran perasaan ini dalam jangka waktu singkat bukanlah sebuah gangguan batin, melainkan sebuah proses penyelarasan. Jiwa sedang berusaha mengenali akar-akarnya agar tidak tercerabut oleh arus masa kini yang serba cepat. Dengan merasakan kembali sisa-sisa emosi leluhur tersebut, kita sebenarnya sedang melakukan dialog sunyi dengan sejarah kita sendiri. Itu adalah cara alam semesta mengingatkan bahwa keberadaan kita saat ini adalah hasil dari ribuan doa, air mata, dan tawa yang telah membeku menjadi kristal-kristal rasa di dalam sanubari, menunggu momen yang tepat untuk mencair dan menyatu dengan kesadaran kita.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Maret 2026

Mengapa Penceritaan Adalah Strategi Penjenamaan Masa Kini

SEJAK tahun 2012, saya memperhatikan adanya pergeseran besar dalam cara organisasi dan individu melakukan branding. Arahnya kini menuju ke penceritaan (storytelling) yang menciptakan komunikasi dua arah yang tulus, membuat konsumen dan pemangku kepentingan merasakan koneksi nyata dengan sebuah jenama.

Saya melihat hal ini secara langsung dalam proyek-proyek branding yang saya kerjakan. Bagi banyak klien korporat saya, pergeseran ini terjadi melalui cara mereka mengomunikasikan inisiatif CSR mereka. Salah satu klien saya—produsen semen—menemukan melalui riset pasar bahwa penjualan mereka lebih didorong oleh cerita humanis tentang dampak sosial dan lingkungan mereka (yang dibagikan melalui buku dan video) dibandingkan oleh iklan tradisional.

Di era di mana konsumen dibombardir oleh ribuan iklan setiap hari, jenama (brand) yang bertahan bukanlah mereka yang memiliki pengeras suara paling keras, melainkan mereka yang memiliki narasi paling memikat. Penjenamaan (branding) modern telah bergeser dari sekadar mencantumkan fitur dan manfaat menuju penyusunan alasan “Mengapa” (Why) yang beresonansi. Evolusi ini menandai transisi dari perdagangan transaksional menuju koneksi emosional. Ketika sebuah jenama menceritakan sebuah kisah, ia berhenti menjadi korporasi tanpa wajah dan mulai menjadi karakter dalam perjalanan hidup pelanggan itu sendiri.

Jenama-jenama paling sukses yang menggunakan storytelling memahami satu kebenaran mendasar: pelanggan adalah pahlawannya, bukan jenama tersebut. Jika Anda melihat raksasa perlengkapan luar ruang seperti Patagonia, mereka tidak hanya menjual jaket tahan air; mereka menceritakan sebuah epik luas tentang pelestarian lingkungan dan jiwa petualang yang tangguh. Jenama tersebut berperan sebagai mentor atau “alat ajaib” yang membantu sang pahlawan—yaitu pelanggan—mengatasi tantangan di alam liar. Dengan memposisikan diri seperti ini, mereka menciptakan identitas bersama. Orang-orang membeli Patagonia bukan karena mereka butuh jaket; mereka membelinya karena ingin menjadi tipe orang yang peduli terhadap planet ini.

Konsistensi adalah benang merah yang menyatukan narasi-narasi ini. Sebuah cerita akan hancur jika protagonisnya mengubah kepribadian setiap sepuluh menit, dan hal yang sama berlaku untuk penjenamaan. Setiap titik kontak (touchpoint), mulai dari estetika minimalis sebuah situs web hingga nada bicara spesifik dalam surel layanan pelanggan, bertindak sebagai kalimat dalam sebuah buku besar. Kohesi naratif ini membangun rasa aman secara psikologis dan kepercayaan. Ketika tindakan sebuah merek selaras dengan cerita yang disampaikan—seperti jenama “berkelanjutan” yang benar-benar menggunakan kemasan daur ulang—cerita tersebut berpindah dari fiksi menjadi kenyataan, memperkuat loyalitas yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh diskon apa pun.

Pada akhirnya, storytelling memanusiakan pengalaman digital. Secara biologis, kita dirancang untuk mengingat cerita jauh lebih baik daripada mengingat statistik atau harga. Jenama yang mampu mengartikulasikan asal-usulnya, perjuangannya, dan visinya untuk masa depan mengajak konsumen untuk berpartisipasi dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar pembelian biasa. Hal ini mengubah seorang pembeli menjadi seorang penganut (believer). Di pasar tahun 2026 yang begitu padat, jenama yang menang adalah mereka yang menyadari bahwa mereka tidak sekadar menjual produk; mereka sedang menulis bab-bab dalam kehidupan komunitas mereka.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 21 Maret 2026

Wednesday, March 18, 2026

Awal Perjalanan Suci

MENYAMBUT hari terakhir bulan puasa Ramadan 1447 H./2026, saya melakukan sahur sendirian, karena istri sedang letih. Bagaimanapun, saya tidak kesepian. Dada saya serasa sesak penuh ilham, saya bahkan mendengar batin saya dipenuhi gaung suara “Allah, Allah, Allah”. Saya merasa harus menuangkan semua ini melalui kata-kata, meski saya tahu bahasa tak dapat melampaui rasa. Yang tertuang bukanlah prosa, melainkan puisi yang menangkap vibrasi alam semesta—paling tidak, begitulah yang saya rasakan.


Fajar Fitri

Ini bukanlah penghujung, melainkan fajar keberangkatan

Langkah mula bagi jiwa yang lahir dalam pembaruan

Kemenangan bukanlah garis akhir yang diam

Namun titik awal bagi pribadi yang tak lagi kelam

 

Di penghujung bulan penuh limpahan rahmat

Bakti pada Ilahi terpatri dalam khidmat

Sabar, tawakal, dan ikhlas senantiasa memayungi

Menuntun langkah suci menyambut hari yang fitri

 

Gema takbir melangit, menggetarkan jagat raya

Sujud tersungkur di bawah naungan tenteram-Mu yang kaya

Meleburkan diri dalam syahdu temaram malam

Membasuh jiwa dari segala dendam yang terpendam

 

Mari rendahkan hati, ulurkan tangan penuh ketulusan

Saling memberi dan memeluk maaf dalam keikhlasan

Biarkan khilaf dan sengketa terbang dibawa angin

Menuju hari baru yang bersih, sejuk, dan dingin...

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 19 Maret 2026

Monday, March 16, 2026

Tanggung Jawab Kejiwaan

SEMALAM, likuran malam ke-27 Ramadan, saya ke Wisma Subud untuk buka puasa bersama. Seperti likuran-likuran pada 10, 12 dan 14 Maret, rangkaian acaranya terdiri dari buka puasa bersama, mendengarkan rekaman audio ceramah Bapak atau Ibu Rahayu, dan Latihan bersama. Tadi malam, saya tidak menghadiri pemutaran ceramah di dalam Hall, melainkan duduk di luar Hall bersama Pak Harris Roberts, seorang pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan.

Volume suara rekaman dinaikkan sehingga dari luar Hall suara Ibu Rahayu yang lemah lembut dapat terdengar jelas sekali.

Di luar Hall, duduk di teras sisi timur Hall saya mengobrol dengan Pak Harris tentang ulang tahun ke-98 Ibu, 13 Maret lalu, bahwa Ibu sudah sangat tua dan lemah, dan agak pikun. Pak Harris berkata bahwa di kondisi seperti Ibu itu seseorang biasanya sudah tidak ingat hidupnya di dunia, dan seperti berada di dua alam.

Ibu Rahayu di rumah Wisma Bharata Pamulang, 13 Maret 2026 saat memperingati ulang tahun ke-98.

Teras sisi timur Hall Latihan Cilandak pada 16 Maret 2026, kurang lebih setengah jam sebelum waktu berbuka puasa di Jakarta.

“Tapi mengapa tidak segera meninggalkan dunia ini ya?” tanya saya dan Pak Harris hampir bersamaan. Dan kami agak kaget lantas terdiam karena, seolah menjawab pertanyaan kami, bersamaan dengan itu suara Ibu di rekaman ceramah itu terdengar berkata, “...karena menjadi tanggung jawab saya secara kejiwaan...”©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 17 Maret 2026

Friday, March 13, 2026

Pendidikan Mandiri

TERKENAL di kalangan para pencari spiritual di Indonesia ekspresi bahwa “berserah diri” merupakan “pendidikan tingkat universitas”. Saya ingat suatu insiden di tahun 2006, ketika petugas satuan pengamanan (Satpam) di kantor saya menyampaikan ke guru tarekatnya bahwa ia ingin belajar berserah diri, setelah ia tak sengaja menguping obrolan saya dengan manajer SDM saat merokok di luar bangunan kantor. Si manajer SDM, seperti saya, juga anggota Subud.

Ia pun nimbrung dengan kami dan bercerita bahwa ia pengikut sebuah tarekat tradisional yang menggunakan jenjang-jenjang ilmu hikmah dalam pengajarannya. Ia menceritakan salah satu pengalamannya dengan ilmu mimpi yang diajarkan gurunya. Dengan ilmu itu, ia bisa memimpikan siapa saja yang dia kehendaki, terutama untuk mengetahui apa yang dipikirkan atau apa yang menjadi niat-niat dari orang yang ia mimpikan terhadap diri si Satpam. “Semua orang di kantor ini pernah saya mimpikan, kecuali tiga orang tidak bisa saya tembus,” tutur si Satpam, seorang pria muda usia 20an. Dia blak-blakan menyampaikan ke saya dan si Manajer SDM bahwa ketiga orang itu adalah saya, si Manajer SDM dan salah satu General Manager yang juga anggota Subud. “Saya terhalang kabut putih yang tebal setiap kali saya berusaha memimpikan kalian,” katanya. “Mengapa begitu ya, Pak?”

Alih-alih menjawab pertanyaan dia, saya persilakan dia datang ke pertemuan pembantu pelatih dan anggota Subud pada hari Jumat malam. Sebuah kelompok Latihan kecil telah diadakan di kantor saya sejak sepuluh karyawannya masuk Subud—bermula dari saya dan si General Manager yang kala itu baru kurang dari tiga tahun di Subud. Di pertemuan itu, saya perkenalkan si Satpam dengan dua pembantu pelatih pria—Pak Mulyono Hardjopramono dan Mas Achmad Asad Luthfie, yang salah satunya juga pernah berguru di tarekat sebelum ia masuk Subud. Kedua pembantu pelatih menjelaskan perihal berserah diri.

Si Satpam menyatakan akan minta izin kepada gurunya dulu sebelum memutuskan untuk masuk Subud. Beberapa waktu kemudian, ia menemui si Manajer SDM untuk menyampaikan bahwa gurunya melarang dia ikut Subud, dengan alasan yang menurut saya lucu: “Jangan! Berserah diri itu ilmunya profesor universitas. Kamu masih SD!”

Meskipun alasan itu terkesan menggelikan, menurut saya Subud memang layaknya lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi. Saat pertama kali menjadi mahasiswa perguruan tinggi, saya mengalami kejutan budaya yang sangat dahsyat, lantaran kehidupan mahasiswa universitas sangat berbeda dengan kehidupan siswa sekolah menengah atas (SMA). Di SMA, saya masih didampingi orang tua dan guru yang penuh perhatian dalam mengasuh saya, agar saya tidak “salah jalan”. Ada berbagai aturan dan petunjuk harus saya terapkan agar bisa naik kelas atau lulus, dan segala perkataan dan perbuatan saya dimonitor oleh guru-guru bekerja sama dengan orang tua. Tentu saja, saya merasa nyaman dengan adanya “teman seperjalanan”, yaitu guru dan orang tua saya.

Di universitas, model pengajarannya bersifat mandiri. Mahasiswa harus merencanakan sendiri semua kerangka pendidikannya, apakah mau ambil jalur cepat lulus, lambat lulusnya, atau mau melanjutkan ke strata berikutnya setelah meraih Sarjana. Semua menjadi tanggung jawab individu mahasiswa; dosen hanya memberi paket pengajaran dan sekadar pengantar. Persis di Subud—atau di semua jalan spiritual di level hakikat, dimana tidak ada ajaran, pelajaran, dan guru, membuat kita senantiasa harus waspada tiap saat. Salah sedikit bisa terperosok atau bahkan celaka. Di saat lelah, putus asa atau berduka, satu-satunya tempat sandaran kita bukan orang tua atau guru, tetapi diri kita sendiri yang bersedia berserah diri.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 14 Maret 2026

Apakah Perang Dunia III Sudah Terjadi?

JIKA kita dengar kata PERANG DUNIA, yang terbayang biasanya pasukan besar yang saling serang antar benua dan aliansi militer yang saling berhadapan. Kita menganggapnya sebagai titik balik yang mengubah tatanan dunia secara total.

Tapi masalahnya, Perang Dunia itu tidak selalu soal tank dan rudal. Ini juga soal perang urat saraf, perang dagang global, perang melawan terorisme, bioterorisme, bahkan soal bagaimana pandemi dipolitisasi untuk kepentingan dominasi militer di wilayah-wilayah strategis.

​Salah Kaprah Kita

Ketika Rusia menginvasi Ukraina 24 Februari 2022 lalu, semua orang heboh dan bilang, “Perang Dunia III bakal pecah!” Reaksi yang sama muncul lagi waktu Amerika Serikat-Israel menyerang Iran. Kebanyakan orang membayangkan Perang Dunia itu cuma peristiwa sesekali yang isinya adu senjata canggih antara dua kekuatan besar.

​Sudut Pandang yang Lebih Luas

Padahal, definisinya jauh lebih luas dari itu. Kita bisa bilang kalau Perang Dingin itu termasuk perang dunia. Begitu juga Perang Iran-Irak, Perang Teluk, Perang Falkland, sampai Perang di Afghanistan. Kenapa? Karena dampaknya terasa secara global—mengubah geopolitik, mengacak-acak ekonomi, hingga mengubah budaya kita selamanya.

Seperti kata Albert Einstein yang terkenal:

“Aku tidak tahu senjata apa yang akan digunakan dalam Perang Dunia III, tapi Perang Dunia IV akan dilakukan dengan tongkat dan batu.”©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 13 Maret 2026

Sekepal Nasi dan Sayur Bening



DUA hari lalu (11 Maret 2026), timbul diskusi tentang makanan di grup WhatsApp Subud Cabang Sidoarjo, Jawa Timur, gegara saya memposting foto menu buka puasa di Wisma Bharata Pamulang. Satu pembantu pelatih berkomentar: “Yang jelas, setiap ada makanan di acara Subud, khususnya di rumah Bapak dan keluarga beliau itu selalu enak dan terasa berbeda. Karena apa ya? Saya perhatikan demikian: suasananya, makanannya, sampai minumannya lho enak semua!”

Satu anggota membagi cerita berikut: “Dulu, sisa makanannya Ibu Rahayu jadi rebutan. ‘Ngalap berkah’, kata para anggota dan pembantu pelatih wanita. Semoga sekarang sudah berbeda. Kasihan Ibu Rahayu, belum selesai makan para anggota sudah berdesak-desakan di dekat Ibu, [dengan harapan mendapat bagian berkahnya].”

Saya menanggapi cerita tersebut dengan candaan: “Ibu makannya sekepal nasi dan sayur bening, aku sih ogah rebutan untuk dapat menu seperti itu.”

Makan sekepal nasi dengan sayur bening bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan sebuah simbol budaya dan spiritual yang mendalam, terutama dalam tradisi masyarakat Jawa. Praktik ini sering disebut sebagai bagian dari ritual prihatin atau laku tirakat. Dalam konteks ini, prihatin bukan berarti sedih atau menderita karena miskin. Prihatin adalah sebuah pilihan sadar untuk menahan diri dari kesenangan duniawi.

Dengan membatasi porsi (sekepal) dan rasa (sayur bening yang biasanya hanya berbumbu kunci, kencur, dan garam), seseorang sedang melatih ego agar tidak diperbudak oleh lidah dan keinginan yang berlebihan. Ini adalah pengingat bahwa manusia sebenarnya hanya butuh sedikit energi untuk bertahan hidup dan beribadah. Memilih untuk makan sederhana di tengah kelimpahan adalah cara seseorang menjaga jarak agar tidak “mabuk” oleh dunia.

Melanjutkan obrolan di grup WhatsApp itu, saya menyampaikan bahwa selain sebagai bentuk keprihatinan, kemungkinan Ibu Rahayu makan hanya sekepal nasi dan sayur bening adalah karena usia beliau juga sudah lanjut, yang berarti harus benar-benar mengatur pola makan demi kesehatan. 13 Maret 2026 ini, Ibu merayakan ulang tahun ke-98. Semoga selalu terjaga kesehatan Ibu, lahir dan batin. Aamiin.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 13 Maret 2026

Thursday, March 12, 2026

Me-Niteni Diri

SEMALAM di Pendopo Wisma Bharata Pamulang, dalam rangka Silaturahmi Ramadan Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia, diputar ceramah Bapak. Bapak berbicara mengenai sikap seseorang yang dibentuk oleh faktor-faktor di luar diri, alih-alih dari diri sejatinya. Bapak memberi contoh dengan orang yang memiliki pistol, yang ketika lewat jalan yang banyak perampoknya, dia berani. Apakah beraninya benar dari sejatinya diri orang itu atau dari pistol yang dia punya? Itu harus kita titeni, kata Bapak.

Kelihatannya sepele, tapi rata-rata kita (termasuk saya) gagal dalam menampilkan diri kita, terutama di hadapan orang lain, sebagaimana sejatinya kita. Ada yang over pede karena uang yang dia miliki atau karena ditopang oleh orang berduit di belakangnya, ada yang berani menasihati orang lain dengan kata-kata bijak karena dia terlalu sadar pada kedudukannya (saya rasakan ini pada sejumlah pembantu pelatih, yang “melambung” egonya setelah dijadikan PP—yang juga pernah disampaikan dalam ceramah Ibu Rahayu), ada yang suka berdebat karena sadar dia memiliki wawasan yang luas atau mempunyai sederet gelar akademik, atau mengandalkan ceramah Bapak yang diperlakukan seperti ayat-ayat kitab suci.

Ada yang sadar, ada pula yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipengaruhi “daya jabatan/status” ketika berkata, berpikir, atau berbuat.

Tidak ada yang bisa dibanggakan bila asal keberanian atau kepercayaan diri kita masih berasal dari sumber yang bukan diri kita.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 12 Maret 2026

Wednesday, March 11, 2026

Ajaran vs. Tidak Ada Ajaran

KARENA Subud tidak ada ajaran dan pelajaran, maka tidak jarang obrolan kita di Subud lebih tentang sepak terjang kita dalam kehidupan.                         

Terkait hal itu, saya barusan terkenang pada suatu insiden lucu tahun 2012. Terjadi di pekarangan Wisma Subud Surabaya, Jawa Timur. Pada malam itu, saya ke sana karena memang jadwal Latihan cabang, tetapi sebelumnya saya janjian untuk ketemu teman Facebook saya yang bukan anggota Subud. Saat itu, kami mengobrol di teras sebuah bangunan di belakang Hall Latihan Surabaya, yang pada hari-hari tertentu berfungsi sebagai tempat pertemuan kandidat.

Kami mengobrol tentang ponsel terbaru dan fitur kameranya. Di dekat kami, dalam jarak sekitar 1,5 meter duduk seorang pria paruh baya, dengan kumis dan janggutnya serta rambut panjangnya berwarna kelabu. Saya merasa dia kandidat yang sedang menanti jam dimulainya pertemuan kandidat. Dari penampilannya, saya menduga dia aktif di salah satu aliran kebatinan Jawa. Saya juga merasa dia menganggap obrolan saya dengan teman saya sebagai “tidak bermutu secara spiritual”. Kaum penghayat aliran kebatinan Jawa memang lebih suka diskusi hal-hal spiritual dan klenik, dunia gaib dan tempat-tempat angker.

Karena terus-menerus mendengar kami mengobrol tentang tren-tren gaya hidup terkini, tampaknya si pria yang rambut panjangnya dikuncir itu tidak tahan untuk berkomentar. Nadanya sinis ketika ia berkata, “Oh, saya pikir Subud itu sudah nggak keduniaan. Anda berdua kok malah bahas ponsel dan tren gaya hidup.”

Saya menoleh ke pria itu dan berkata, “Tunggu saja nanti kalau Masnya sudah dibuka, Anda akan tahu bedanya Subud dengan aliran kebatinan. Mau bahas kejiwaan—apa yang mau dibahas?!”

Saya kemudian mengabaikan si kandidat dan melanjutkan obrolan. Beberapa menit kemudian dia berkata, “Saya dari Sumarah, Mas. Nggak pernah ada obrolan seperti Anda di kalangan Sumarah. Saya jadi tahu bedanya sekarang, antara Subud dan Sumarah—yang satu nggak ada ajaran, sedangkan yang lain kebanyakan ajaran.”©2026


Pondok Jaya Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 11 Maret 2026

Sunday, March 8, 2026

Jalan Ajaib Menemukan Subud

SABTU, 7 Maret 2026, menjelang tengah malam, saya di-video-call oleh pembantu pelatih sepuh yang dulu membuka saya. Beliau menyambungkan saya dengan seorang anak muda berusia 23 tahun asal Perth, Australia, yang tertarik pada Subud dan menyatakan keinginannya untuk masuk Subud. Ketertarikannya dipicu oleh buku John G. Bennett, Concerning Subud.

Kiri ke kanan: Joshua dari Perth, Australia, Pak Yanto Luwiharjo dan Cak Nur (Nuruddin), di Hall Margodadi, Jl. Demak Timur Gang Margodadi III, Surabaya.

Yang membuat saya takjub adalah bagaimana anak muda itu menemukan jalannya ke pembantu pelatih sepuh Subud Surabaya, Jawa Timur, itu. Dia sedang berada di Surabaya dalam rangkaian pelancongannya ke Indonesia. Mungkin dipikirnya Surabaya merupakan kota kecil (faktanya, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia) yang penduduknya sedikit dan semuanya familiar dengan Subud, sehingga ia pun meminta petunjuk pada sembarang orang. Tetapi mungkin karena telah menjadi kehendak Tuhan, si anak muda Australia itu bertemu dengan beberapa warga kampung di mana pembantu pelatih sepuh itu tinggal, dan mereka rupanya tahu bahwa tetangga mereka bergiat di Subud, sehingga mereka mengantar si anak muda kepada si pembantu pelatih.

Karena keterbatasan kemampuan untuk menjelaskan secara garis besar mengenai Subud dalam bahasa Inggris, maka Pak Yanto Luwiharjo—pembantu pelatih sepuh itu—mem-video-call saya untuk berbincang dengan si anak muda. Saya beritahu dia mengenai keberadaan Subud di Perth, kota asalnya, dan berjanji akan memberi alamatnya.

Di kota Surabaya terdapat satu cabang Subud, yang Wisma Subudnya beralamat di Jl. Manyar Rejo No. 18-22, Surabaya Timur, maupun beberapa kelompok kecil, tetapi tempat Latihan di seberang rumah Pak Yanto itu tidak berstatus “cabang” maupun “kelompok”, melainkan “tempat Latihan” yang secara administratif tidak terkait cabang manapun. Dalam struktur organisasi Subud di Indonesia, setiap kabupaten atau kotamadya memiliki hanya satu cabang, sedangkan kumpulan anggota yang memiliki jadwal Latihan reguler di luar cabang hanya berstatus “kelompok”. Di sinilah ajaibnya perjalanan si anak muda Australia dalam menemukan Subud—bukan ke Cabang Surabaya, melainkan ke tempat Latihan tidak resmi.

Perjalanan orang-orang ke Subud memang ajaib; kisah si anak muda itu termasuk. Meski pengalaman seperti itu sudah dialami banyak anggota lainnya, tetapi hal itu tidak pernah berhenti membuat saya kagum dan termotivasi untuk rajin Latihan.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Maret 2026