Sunday, March 8, 2026

Jalan Ajaib Menemukan Subud

SABTU, 7 Maret 2026, menjelang tengah malam, saya di-video-call oleh pembantu pelatih sepuh yang dulu membuka saya. Beliau menyambungkan saya dengan seorang anak muda berusia 23 tahun asal Perth, Australia, yang tertarik pada Subud dan menyatakan keinginannya untuk masuk Subud. Ketertarikannya dipicu oleh buku John G. Bennett, Concerning Subud.

Kiri ke kanan: Joshua dari Perth, Australia, Pak Yanto Luwiharjo dan Cak Nur (Nuruddin), di Hall Margodadi, Jl. Demak Timur Gang Margodadi III, Surabaya.

Yang membuat saya takjub adalah bagaimana anak muda itu menemukan jalannya ke pembantu pelatih sepuh Subud Surabaya, Jawa Timur, itu. Dia sedang berada di Surabaya dalam rangkaian pelancongannya ke Indonesia. Mungkin dipikirnya Surabaya merupakan kota kecil (faktanya, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia) yang penduduknya sedikit dan semuanya familiar dengan Subud, sehingga ia pun meminta petunjuk pada sembarang orang. Tetapi mungkin karena telah menjadi kehendak Tuhan, si anak muda Australia itu bertemu dengan beberapa warga kampung di mana pembantu pelatih sepuh itu tinggal, dan mereka rupanya tahu bahwa tetangga mereka bergiat di Subud, sehingga mereka mengantar si anak muda kepada si pembantu pelatih.

Karena keterbatasan kemampuan untuk menjelaskan secara garis besar mengenai Subud dalam bahasa Inggris, maka Pak Yanto Luwiharjo—pembantu pelatih sepuh itu—mem-video-call saya untuk berbincang dengan si anak muda. Saya beritahu dia mengenai keberadaan Subud di Perth, kota asalnya, dan berjanji akan memberi alamatnya.

Di kota Surabaya terdapat satu cabang Subud, yang Wisma Subudnya beralamat di Jl. Manyar Rejo No. 18-22, Surabaya Timur, maupun beberapa kelompok kecil, tetapi tempat Latihan di seberang rumah Pak Yanto itu tidak berstatus “cabang” maupun “kelompok”, melainkan “tempat Latihan” yang secara administratif tidak terkait cabang manapun. Dalam struktur organisasi Subud di Indonesia, setiap kabupaten atau kotamadya memiliki hanya satu cabang, sedangkan kumpulan anggota yang memiliki jadwal Latihan reguler di luar cabang hanya berstatus “kelompok”. Di sinilah ajaibnya perjalanan si anak muda Australia dalam menemukan Subud—bukan ke Cabang Surabaya, melainkan ke tempat Latihan tidak resmi.

Perjalanan orang-orang ke Subud memang ajaib; kisah si anak muda itu termasuk. Meski pengalaman seperti itu sudah dialami banyak anggota lainnya, tetapi hal itu tidak pernah berhenti membuat saya kagum dan termotivasi untuk rajin Latihan.©2026

 

Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Maret 2026