Sunday, December 15, 2024

Belajar Pada Bekas Musuh


BAYANGKAN situasi ini: Permusuhan Anda dengan seorang teman telah berakhir, tidak dengan baik-baik saja, melainkan dengan perjanjian agar ke depannya Anda dan teman Anda tidak lagi saling menyerang, meskipun masih menyimpan dendam. Nah, setahun kemudian Anda merasa harus mempelajari sesuatu untuk menunjang keahlian Anda terkait pekerjaan Anda dan satu-satunya yang bisa mengajari Anda adalah teman yang dengannya Anda pernah bermusuhan.

Itulah kenyataan yang dihadapi oleh para pejuang Perang Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1949 ketika mereka terpilih untuk mengikuti pendidikan perwira Angkatan Laut di Negeri Belanda. Hanya kurang dari setahun setelah Belanda dipaksa mengakui kedaulatan Republik Indonesia, pasca digempur enam jam oleh gerilyawan Republik di ibukota Indonesia saat itu, Yogyakarta.

Para mantan pejuang itu terdapat di antara 23 pemuda Indonesia yang dinyatakan lulus seleksi untuk menjadi adelborst (sebutan untuk kadet Akademi Angkatan Laut Belanda). Lolos dari serangkaian tes di Jakarta dan Surabaya, ke-23 pemuda itu diangkut ke Den Helder, Negeri Belanda, yang merupakan kawah candradimuka Koninklijk Instituut voor de Marine (Institut Angkatan Laut Kerajaan) yang disingkat KIM. Sebagai Angkatan 1950, mereka pun tak luput dari cercaan sebagian publik Indonesia, baik sipil maupun ALRI sendiri, yang memandang mereka sebagai produk penjajah.

Di Belanda sendiri, bahkan di KIM, mereka menghadapi situasi tak mengenakkan, walaupun hanya berlangsung sebentar. Karena KIM Den Helder menerapkan secara ketat dan tegas nilai-nilai kebersamaan (comradeship) sebagai anggota militer, tanpa pandang bulu. Di medan perang, bertindak sebagai tim adalah suatu keharusan. Untuk itulah para kadet harus menanamkan pada diri masing-masing kemauan untuk menyingkirkan segala bentuk permusuhan atau dendam. Meskipun baru lewat kurang dari setahun, permusuhan Indonesia-Belanda adalah cerita masa lalu!

Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2009 ini bercerita tentang para adelborst Indonesia generasi pertama dan kedua, tentang suka-duka belajar dan berlatih menjadi perwira angkatan laut di negara yang pernah menjajah Indonesia dan terhadapnya sebagian dari para adelborst Angkatan 1949 dan 1950 pernah menghunuskan senjata. Mereka adalah generasi yang membangun fondasi Angkatan Laut Republik Indonesia, yang kini dikenal sebagai TNI Angkatan Laut.

Mereka bertahan melalui masa-masa sulit beradaptasi dengan kehidupan di negeri Eropa yang masyarakatnya memandang orang Asia sebagai bangsa yang terjajah. Mereka bertahan berkat semangat yang ditanamkan pada diri mereka, yang ekspresinya menjadi judul utama buku ini: Dan Toch Maar (Apa Boleh Buat. Maju Terus!)

Karakter sebagai perwira terbentuk selama proses pendidikan di KIM Den Helder. Karakter dijunjung tinggi di KIM. Meskipun Anda berilmu tinggi, tetapi tanpa karakter yang kuat eksistensi Anda tidak ada nilainya. Hal itu terwakilkan dalam peribahasa bahasa Belanda yang berlaku di akademi angkatan laut yang didirikan pada 28 Agustus 1829 itu: “Kennis Is Macht, Karakter Is Meer” (pengetahuan adalah kekuatan, terlebih lagi karakter). Awal tiap kata pada peribahasa itu jika digabungkan akan membentuk singkatan KIM, sesuai nama institusi yang memiliki peribahasa itu sebagai prinsip hidupnya.

Bacaan yang tergolong santai dengan kumpulan kisah yang diceritakan oleh mereka yang mengalaminya sendiri. Santai dan seru, yang membuat Anda sulit berhenti membacanya.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 16 Desember 2024

Friday, December 13, 2024

Melacak Aneka Subud


BARU-baru ini, saya terlibat dalam misi pelacakan edisi-edisi pertama majalah Aneka Subud untuk dikirimkan ke koleksi WSA Archives. Majalah yang diterbitkan oleh Pengurus Nasional PPK Subud Indonesia ini terakhir terbit pada tahun 2014. Saya tidak begitu mengerti mengapa penerbitannya dihentikan, sementara banyak sekali anggota yang menantikannya karena majalah ini dibuat untuk menyebarkan ceramah-ceramah Bapak.

Terkait pelacakan edisi-edisi pertama majalah Aneka Subud itu, saya menjangkau sejumlah cabang, anggota maupun pembantu pelatih individu, untuk menanyakan apakah mereka memiliki edisi-edisi yang dimaksud. Penjelasan berikut saya peroleh dari seorang pembantu pelatih senior dari Subud Cabang Rungan Sari, Kalimantan Tengah, yang menjawab pertanyaan saya mengenai sejarah Aneka Subud, melalui pesan WhatsApp yang saya kirim pada 12 Desember 2024.

“Keempat orang anggota Dewan Redaksi Aneka Subud pertama semuanya adalah anggota Subud Malang, Jawa Timur. Hanya anggota kelima, Dr. Anwar Zakir, yang anggota Subud Bogor, Jawa Barat.

Ruspana dan Prio Hartono saat itu mengajar di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang. Kusumo Sutanto karena seorang perwira tinggi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) berbasis di Surabaya, yang saat itu merupakan pangkalan Armada Republik Indonesia. Komodor Sutanto pernah menjadi komandan RI Irian-201, kapal penjelajah bekas Angkatan Laut Soviet yang ia bawa dari galangan kapal di Uni Soviet ke Indonesia dan ikut Operasi Mandala di bawah Jenderal Soeharto (Trikora tahun 1963, yaitu perebutan Irian Barat dari tangan Belanda).

Mereka itu sejak masih di Malang diperintahkan oleh Bapak untuk menerbitkan Aneka Subud, untuk menyebarkan ceramah-ceramah Bapak.

Setelah naik pangkat menjadi Laksamana Muda, Sutanto dimutasi ke Departemen Pertahanan dan Keamanan di Jakarta, dan ditunjuk oleh Bapak menjadi Ketua Umum Pengurus Nasional Subud Indonesia untuk masa jabatan 1969-1970, untuk kemudian mempersiapkan Kongres Dunia 1971 di Cilandak.

Bapak masuk Jakarta tahun 1960an dan langsung mengembangkan Subud di Jalan Jawa, Menteng, Jakarta Pusat. Prio Hartono dan Ruspana sudah lebih dahulu pindah ke Jakarta, sehingga kantor redaksi dan penerbitan Aneka Subud dipindah dari Surabaya dan Malang ke Cilandak.                                

Mengapa diambil alih Pengurus Pusat? Oleh karena ketua Pengurus Pusatnya, Kusumo Sutanto, berada di Jakarta. Ruspana dan Prio Hartono kemudian juga bergabung di Sekretariat Kejiwaan (Sekretariat Bapak) bersama Sudarto, Rusli Alif, dan Sunarto Brodjolukito.

Saat itu, di Jakarta belum ada kepengurusan yang solid. Sejak Bapak masih tinggal menumpang di Paku Alaman, Yogyakarta, beliau suka wara-wiri ke Malang naik mobil beliau saat itu, yaitu sebuah VW Transporter, yang di Indonesia dikenal sebagai VW Combi.

Saat itu, Malang dijadikan basis Subud karena banyak donatur kaya-raya yang membiayai perkembangan Subud. Selain Hadiono (redaksi Aneka Subud No. 4), ada Hanz, seorang Tionghoa-Belanda yang memiliki pabrik gula.

VW Combi milik Bapak itu, kabarnya, juga merupakan sumbangan dari Hanz. Rumah besar Hanz yang berada di kawasan pabrik gula Malang itupun dahulu dihibahkan kepada Subud untuk hall Latihan.

Dalam periode 1965-1966, Bapak tidak melakukan lawatan ke luar negeri. Saat itu Indonesia sedang mengalami keadaan genting akibat kudeta yang dilancarkan oleh Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang digawangi Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk merongrong kewibawaan pemerintahan Presiden Soekarno, dengan mengambinghitamkan sejumlah jenderal Angkatan Darat. Saat itu, sedang pula dilakukan pembangunan kompleks perumahan di Wisma Subud Cilandak. Saat itu pula, semua perkumpulan spiritual sedang dicurigai dan diawasi oleh militer sebagai tempat persembunyian kader PKI.

Pada masa krisis itu ada sebuah perkumpulan spiritual bernama Paguyuban Mbah Suro di perbatasan Jawa Tengah dan Timur yang dihancurkan oleh pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD; kelak dinamai Komando Pasukan Khusus atau Kopassus) di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, karena dicurigai sebagai tempat penampungan para kader PKI yang melarikan diri pasca gagalnya kudeta G30S.

Jadi, para agen intelijen militer saat itu memata-matai semua kompleks perkumpulan spiritual dan lain-lain, termasuk Subud. Karena itu, para anggota Subud (orang tua kita) saat itu mendapat giliran jaga malam yang dipimpin oleh Bintoro Sukarno Padmodiredjo (ayah dari Iwan Muriawan, anggota Jakarta Selatan), seorang perwira Angkatan Darat dari markas polisi militer di Guntur, Jakarta Selatan.

Pada saat itu, banyak anggota Subud Jakarta yang merupakan perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), dari Angkatan Darat (ADRI), ALRI dan Angkatan Udara (AURI) serta Kepolisian. Tapi yang paling aktif ikut menjaga Wisma Subud justru yang dari AURI, padahal saat itu ADRI dan AURI sedang bersitegang sebagai akibat adu domba oleh PKI. Tapi dalam menjaga Wisma Subud mereka kompak. Dan mereka bersenjata. Bapak pun membawa pistol. Ketua Subud Indonesia saat itu adalah Hardiman, seorang kolonel Angkatan Darat. 

Bapak kembali melakukan perjalanan ke luar negeri setelah situasi aman, setelah Soeharto menjadi Presiden. Pada tahun 1967 Bapak pergi ke Jepang untuk menghadiri Kongres Dunia ke-3. Kongres Dunia di Jepang itu yang kemudian menunjuk Cilandak yang harus menyelenggarakan Kongres Dunia ke-4, empat tahun berikutnya, yaitu 1971.” ©2024

 

Tempat Latihan Jatiwaringin, Pondokgede, Kota Bekasi, 14 Desember 2024


Thursday, December 12, 2024

Menguji Keadaan yang Membingungkan

TADI ada pengalaman ajaib bin lucu. Saya WhatsAppan dengan Johan, seorang anggota Subud Cabang Jakarta Selatan, mengenai tanggal 14 Desember 2024 yang membuat saya bingung karena saya menghadapi dua acara yang waktunya bersamaan. Satu Gathering Back to Bapak di Jatiwaringin, satunya lagi acara keluarga besar ayah saya di Griya Pamulang Estate. Saya bilang ke Johan bahwa saya mau melakukan testing (pengujian secara kejiwaan) dulu.

Saya pun melakukan testing, dengan duduk saja di belakang meja kerja saya. Hasilnya, perasaan saya tenang, tidak bingung lagi. Dalam hitungan detik setelah testing, di WhatsApp Group keluarga besar ayah saya muncul pengumuman bahwa acara keluarga 14 Desember di Griya Pamulang Estate diundur ke tanggal 31 Desember, sekalian malam tahun baruan.

Saya tulis pesan WhatsApp ke Johan, bahwa saya rasanya mau menangis... Gileee bener testing kejiwaan Subud!©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 12 Desember 2024

Wednesday, December 4, 2024

Menghadapi Diri Sendiri

HARI Minggu, 1 Desember 2024, saat ke Wisma Subud Bogor, saya berjumpa dengan Stuart Cooke, orang Subud Amerika yang sudah lama bermukim di Indonesia, bahkan beristrikan wanita Indonesia. Ketika ia baru tiba di Wisma Subud Bogor dan saat bersalaman dengan saya, saya membisiki di telinganya bahwa saya sudah tidak tahan dengan kegilaan di Subud, dan berencana akan mundur dari semua kegiatan Subud, kecuali Latihan Kejiwaan.

Stuart berkata bahwa saya tidak akan bisa meninggalkan kegiatan di Subud, apalagi ia tahu bahwa perkataan saya itu didasari oleh nafsu, karena marah terhadap kenyataan-kenyataan yang ada. Semua yang saya lihat, baik langsung maupun tidak langsung (dari cerita anggota-anggota lainnya) membuat saya “sakit”—saya jadi mudah merasakan kekecewaan, kemarahan, kesedihan; semua itu melemahkan saya. Saya memang terlalu terlibat di Subud—hal itu boleh saja selama kita kuat menghadapi terjangan daya-daya yang bermain di dalamnya.

Banyak pengurus maupun pembantu pelatih yang telah keluar dari prinsip-prinsip yang telah digariskan Bapak, yang pada gilirannya merugikan anggota. Anggota seolah menjadi mainan dari ketidakbecusan pengurus dan pembantu pelatih dalam mengelola perkumpulan. Hal ini yang menjadi fokus saya belakangan ini; saya memasukkan emosi saya ke dalamnya dan ini berbahaya sebenarnya.

Dulu, ketika baru dibuka, saya memang pernah dinasihati oleh Pembantu Pelatih Daerah Cabang Surabaya saat itu, Pak RB Soejanto Luwihardjo, agar tidak mengkritik atau menanggapi dengan buruk apapun perilaku yang diperlihatkan anggota lain maupun pembantu pelatih, karena hal itu “mengotori diri” kita. Benar nasihat dari salah satu pembantu pelatih yang menyaksikan pembukaan saya itu. Saya merasakan “sakit” yang tidak jelas pada diri saya.

Dalam perenungan-perenungan saya belakangan ini, saya terbawa ke ingatan pada ceramah Ibu Rahayu saat likuran Ramadan tahun 2017, kalau saya tidak salah, bahwa diri kita ibarat botol yang bagian dalamnya sudah menampung begitu banyak kekotoran hingga berkerak-kerak. Pembersihannya membutuhkan waktu yang lama dan menyakitkan, karena untuk melepas kerak-kerak itu cara menyikat yang kencang dan keras serta membutuhkan sikat kawat yang menyakitkan jika digosokkan ke badan kita.

Mungkin itu yang sedang saya alami belakangan ini. Diri saya dibersihkan dengan sikat kawat dan dengan kencang nan keras, sehingga terasa diri saya kesakitan secara rasa perasaan. Namun, saya hanya bisa berserah diri saja, melalui prosesnya dengan sabar, tawakal dan ikhlas, walaupun kadang saya tidak tahan.

Saya tidak boleh merasa frustrasi dengan semua ini. Saya malah menyadari ini sebagai “latihan kebugaran” yang sangat baik untuk jiwa saya. Terkadang saya hanya ingin lari dari semua ini, tetapi bimbingan itu mencegah saya. Tetapi yang jelas, saya jadi tahu bahwa kekotoran di pribadi saya sudah berkerak-kerak, yang harus dibersihkan agar saya memiliki wadah yang luas dan bersih untuk menerima kemurahan Tuhan yang tiada batasnya.

Kemarin malam, saat menunggu jamnya Latihan bersama di Wisma Barata Pamulang, saya menerima bahwa seberat-beratnya menghadapi perilaku orang lain, lebih berat menghadapi diri sendiri. Jiwa saya membimbing saya kepada pengertian agar saya terpusat saja pada diri saya sendiri, tidak usah terlalu memperhatikan orang-orang atau kejadian-kejadian di perputaran hidup saya. Sehingga saya memiliki energi lebih banyak untuk menghadapi diri sendiri saat melalui proses pembersihan ini.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 Desember 2024

Semua Terdengar Sama

 


SAAT ini di Indonesia sedang trending kata “goblok”, sebentuk kata kasar dalam berbahasa Indonesia, sehingga kerap dianggap sebagai penghinaan. Yang membuat kata ini trending belakangan ini adalah lantaran terucap dari mulut seorang kyai yang cukup kondang, yang ia lontarkan kepada seorang pedagang minuman teh yang berjualan di lokasi pengajian sang kyai. Si kyai dituding telah menghina “orang kecil”.

Saya tidak segera berreaksi negatif terhadap si kyai, melainkan menyelidiki akar budayanya. Kalau berasal dari Jawa Timur, di mana saya pernah tinggal selama lima tahun dan masih terus ke sana setiap tahun karena orang tua dan saudara-saudara kandung istri saya tinggal di Surabaya, ibukota provinsi Jawa Timur, saya agak memakluminya. Dalam budaya Jawa Timur, kata-kata yang dianggap penghinaan atau ejekan kasar di budaya lain bisa mendapatkan reaksi atau respons yang berbeda, tergantung pemakaiannya berdasarkan situasi. Apabila diutarakan dengan ekspresi marah atau serius, kata-kata itu bisa mengundang reaksi atau respons negatif pula dari lawan bicara. Sebaliknya, bila disampaikan dengan niat untuk menciptakan keakraban, respons audiens akan baik-baik saja.

Bos di tempat kerja saya sebelumnya di Surabaya terkadang berkata ke saya dalam rapat, “Ah, kamu goblok!”, tetapi saya berreaksi dengan tertawa karena saya sangat tahu bahwa ia tidak sedang menghina saya, melainkan menunjukkan rasa sayangnya ke saya.

Meskipun kelahiran Lampung di Sumatera, si kyai adalah keturunan dari seorang ulama besar di Jawa Timur, pendiri salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia, yaitu Tegalsari di Ponorogo, yang didirikan pada tahun 1680 Masehi. Pantas saja, si kyai itu spontan berucap “goblok” untuk menunjukkan niatnya mengakrabkan diri dengan audiens. Kesalahan dia adalah tidak menyadari peribahasa “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. “Goblok” dari si kyai bernuansa keakraban ala Jawa Timur, tetapi menimbulkan salah sangka karena audiensnya bukan masyarakat Jawa Timur.

Trending topic saat ini mengingatkan saya pada sebuah kejadian remeh beberapa bulan lalu, yang mampu membangkitkan kesadaran diri.

Menceritakan pengalaman saya saat mempelajari memetika setelah berdiskusi mengenai meme dengan seorang saudara Subud tahun 2006 (menanggapi makalah yang beliau tulis, berjudul “Tuhan Bukan Meme”), kepada para anggota sebuah kelompok di Bandung, Jawa Barat, satu pembantu pelatih di sana mengajak para anggota lainnya ke dalam “permainan rasa diri”. Dia berkata, “Coba kalian rasakan diri kalian saat mendengar saya bilang ‘goblok’.”

Beberapa saat kemudian ia mendentingkan sendok ke sebuah gelas kaca, dan berkata, “Nah, sekalian bandingkan rasa kalian tadi dengan rasa saat mendengar denting ini. Bagaimana?”

“Sama saja!” jawab para anggota hampir serentak.

“Bagus! Memang tidak ada bedanya. Jadi, kalau sudah menerima Latihan tapi masih gampang tersinggung, pilih salah satu: Tinggalkan Subud atau rajinkan Latihanmu.”©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 Desember 2024

Sunday, December 1, 2024

Harapan Mendahului Kekuasaan Tuhan

 


TANGGAL 1 Desember 2024, saya menemukan postingan ini di Story Instagramnya Youth Jakarta Selatan. Saya segera merasa heran: Sudah menerima Latihan Kejiwaan kok ya masih berkutat pada sesuatu yang tidak mencerminkan susila, budhi dan dharma.

Kalau saja mau bersusah payah sedikit, dengan melongok ke ceramah Bapak, akan ditemukan bahwa harapan itu hanyalah khayalan belaka. Seperti ditekankan dalam Buddhisme, untuk menjaga kesadaran kita kita harus hidup di saat ini, melupakan masa lalu dan tidak mengkhayalkan masa depan. Kesadaran adalah kunci utama dalam proses kejiwaan. Makanya, saat Latihan kita harus selalu sadar agar dapat menginsafi bimbingan Tuhan yang kita terima.

Beberapa minggu lalu, dalam perjalanan ke Kelompok Latihan Jatiwaringin, dalam mobil milik seorang pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan yang membawa kami ke sana, saya berdebat dengan Pak Harris Roberts perihal “harapan”. Menurut Pak Harris, harapan itu sejatinya tidak ada, karena kita hidup di saat ini dengan yang nyata-nyata saja. Harapan adalah khayalan, kata beliau. Saya sependapat dengan beliau tapi bersikukuh dengan pendapat bahwa orang-orang non Subud membutuhkan harapan utk sintas (survive) atau bertahan hidup meski kenyataannya mereka tidak bisa bertahan kalau hanya duduk berpangku tangan dan hanya berharap. Pak Harris mengiyakan pendapat saya tapi tetap pada pendirian bahwa orang Subud tidak pakai harapan-harapan. Bukankah ketika kandidat akan dibuka akan mendapatkan saran agar tidak berangan-angan dan mengharap-harap?

Dalam ceramah di Singapura pada 24 Februari 1963 (63 SIN 1), Bapak antara lain mengatakan:

Jika kita dalam Latihan atau sebelum Latihan banyak yang kita fikirkan, kita akan tidak dapat banyak menerima. Malahan dapat juga berhenti Latihan ini. Yang demikian itu berarti bahwa para saudara sekalian setiap akan melakukan Latihan, pun juga dalam menerima Latihan Kejiwaan, sedapat mungkin lebih menyerah dengan sabar dan ikhlas. Jangan banyak yang diharapkan, karena harapan saudara kepada Tuhandalam hakekatnyamendahului daripada kekuasaan Tuhan. Apa sebab Bapak katakan demikian? Karena harapan saudara menggambarkan bahwa Tuhan tidak tahu bagaimana keadaan saudara yang sebenarnya. Jadi, adanya saudara tidak lekas dapat menerima atau Latihannya tidak ada kemajuannya, bukan karena Tuhan tidak suka memberi, tetapi karena kemampuan saudara sendiri sampai pada saat itu belum ada dan belum cukup.

Memang bagi kita manusia sukar sekali untuk menghilangkan keinginan itu. Tetapi karena kita telah mengalami setiap kali di dalam Latihan, yang membuktikan demikian itu, maka sedapat mungkin saudara sekalian Bapak harapkan, Bapak anjurkan, agar jangan banyak harapan dan keinginan yang diajukan kepada Tuhan, melainkan menyerah bagaimana kehendak Tuhan atas dirinya masing-masing.”

Mengenai harapan, benar kata YM Bapak: Harapan mendahului kekuasaan Tuhan! Seolah Tuhan tidak tahu bagaimana keadaan kita.

Kemarin pagi, saya terbangun dengan perasaan enggan, mager (malas gerak) dan lelah, tapi saya berkewajiban untuk memenuhi janji saya ke Daniela Moneta, arsiparis Subud Archives Washington DC, bahwa saya akan memeriksa koleksi majalah Aneka Subud di Wisma Subud Bogor pada 1 Desember 2024 (sesuai permintaan Ketua Subud Cabang Bogor, Pak Wahyu Budi Susetyo). Saya pun berdoa penuh pengharapan akan kekuatan dan semangat. Tapi jiwa saya malah menegur saya, “Kalau kamu nggak jalanin, kamu nggak akan tau kamu kuat atau nggak. Kamu juga nggak akan mengalami mukjizatNya kalau cuma berdoa tapi kamu nggak gerak."                                

Saya pun segera bangkit dari atas kasur, keluar kamar saya dan pergi ke dapur untuk memasak nasi goreng buat sarapan (itu lebih baik daripada harapan) untuk semua penghuni rumah saya dan kemudian meluncur ke Bogor dengan sepeda motor. Wah iya, rasa enggan, malas dan capeknya hilang. Saya bahkan bernyanyi sepanjang jalan diselingi teriakan-teriakan yang menyatakan kegembiraan.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 Desember 2024

“Raiders of the Lost Subud Magazines”



HARI Minggu pagi, 1 Desember 2024, saya memacu sepeda motor ke Wisma Subud Bogor di Jawa Barat, 33 km dari tempat tinggal saya di pinggiran selatan Jakarta, untuk suatu “misi pelacakan” yang seru. Latar belakang akademik saya di Ilmu Sejarah membuat saya sangat menyukai pencarian, apalagi penemuan, artefak-artefak bersejarah.

Kali ini misinya adalah melacak dan mendata majalah Aneka Subud, media komunikasi Subud Indonesia (terbit pertama kali pada akhir tahun 1950an, majalah ini awalnya adalah media organik Subud Jawa Timur) yang 85 persen isinya berupa ceramah Bapak dan Ibu Rahayu, surat jawaban Bapak dan Ibu atas pertanyaan anggota, dan secuil berita kegiatan Subud di Indonesia serta kisah pengalaman anggota dengan Latihan.



Aneka Subud terbit terakhir kalinya tahun 2014. Banyak anggota Subud Indonesia yang mengira penghentian penerbitannya lantaran harga cetak yang membubung. Tetapi hal itu terbantahkan oleh kenyataan bahwa Pengurus Nasional Subud Indonesia masih terus menerbitkan versi cetak dari Jurnal Subud Indonesia (JSI) yang 100 persen isinya adalah kegiatan organisasi dan pengalaman anggota, dan tidak ada ceramah Bapak atau Ibu. Memang awalnya penerbitan JSI bukan untuk menyaingi Aneka Subud, melainkan keduanya berjalan harmonis, dengan JSI sebagai suplemen Aneka Subud yang mewartakan kegiatan pembantu pelatih, pengurus dan anggota.

JSI kini dibuat dalam format PDF yang didistribusikan kepada anggota melalui WhatsApp. Meskipun ini sangat membantu dalam mengatasi biaya percetakan yang mahal, toh Aneka Subud malah tidak lagi diterbitkan. Saya tidak tahu apa alasannya.

Sebagai sejarawan (meski saya lulusan program studi Sejarah dari universitas negeri terkemuka Indonesia, saya lebih ke amatir daripada profesional, yang dikenal dewasa ini dengan sebutan “sejarawan publik”), saya sangat suka menyentuh artefak-artefak kuno, mencium aromanya, meraba-rabanya untuk merasakan jiwa zamannya. Kemarin, saya sendirian di ruangan di Wisma Subud Bogor yang menampung lemari etalase kaca dimana semua terbitan Subud disimpan. Penataannya cukup rapi dan tidak menyemburkan bau apek seperti yang saya cium di ruang baca di gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Dada saya bergemuruh dengan suka cita karena menemukan majalah Aneka Subud terbitan tahun 1967, seusia dengan saya. Ada pula isu-isu lama yang kertasnya sudah menguning, sobek, isinya sebagian hilang, dan lembaran-lembaran kertas yang di sudut-sudutnya jadi korban santapan rayap. Saya menemukan pula majalah-majalah Subud dari Belanda, Jerman dan Amerika Serikat—entah apakah dulu ada anggota yang pernah berkunjung ke negara-negara itu dan membawanya sebagai oleh-oleh atau komite-komite Subud di ketiga negara itu memposkannya ke Subud Bogor.



Mendata nomor isu dan tahun terbitnya cukup melelahkan karena saya bekerja sendiri, namun ada kenikmatan tersendiri pula. Kegiatan itu mengingatkan saya pada masa ketika saya masih mahasiswa Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra (sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB) Universitas Indonesia, saat melakukan penelitian arsip di ANRI dan blusukan ke lembaga-lembaga lain yang memiliki sarana kearsipannya sendiri. Saya merasa menjadi Indiana Jones dalam film khayalan saya, “Raiders of the Lost Subud Magazines”.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 Desember 2024