Tuesday, January 1, 2019

Berhenti Sejenak


PADA 29 Desember 2018 lalu, saat bersama keluarga jalan-jalan ke Aeon Mall BSD City, Tangerang Selatan, saya mampir di toko buku Gramedia. Saya tidak selalu ada maksud khusus membeli buku bila saya ke toko buku. Seringnya karena kegiatan melacak buku yang menarik merupakan rekreasi tersendiri bagi saya. Serunya mirip perburuan harta karun rampasan bajak laut yang tersembunyi di tempat rahasia di pulau terpencil.

Di Gramedia saya berkeliling di antara rak-rak buku, dengan kedua mata saya melarik sekian banyak buku yang berdesain cover dan berjudul menarik, sampai saya pusing. Ini seperti menghadapi begitu banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari saya yang pencarian solusinya membuat kepala saya sakit. Biasanya, kalau sudah begini, saya teringat kata-kata orang bijak, agar berhenti sejenak, duduk tenang tanpa memikirkan apa pun. “Hanya ketika kita hening, kita dapat mendengar suara Tuhan,” kata orang bijak.

Tapi karena begitu banyak hal menarik di toko buku—berbeda dengan kenyataan sehari-hari yang tidak selalu menarik—saya mengabaikan bisikan di benak saya agar berhenti sejenak untuk dapat memutuskan membeli atau tidak membeli buku, jika ada. Ada satu buku yang menarik perhatian saya, yang dengan membaca sinopsisnya di bagian belakangnya saja saya tahu bahwa itu buku bagus. Namun, deretan buku di sebelah kanan-kiri, dan atas-bawah buku tersebut, serta di rak-rak lainnya, menggoda iman saya dan saya terseret makin jauh dari buku sasaran ketertarikan saya.

“Berhenti sejenak, dan pertimbangkan dengan baik,” kata suara lembut di dalam diri saya. Saya tidak bisa berhenti, dan terus saja berjalan dari rak ke rak, melarik semakin banyak buku yang menawarkan desain kulit dan judul yang menggoda. Kalimat bijak “Jangan menilai isi buku dari kulitnya” seakan tidak berarti bagi saya. Dan terjadilah sesuatu yang memaksa saya harus berhenti sejenak.

Sebelum ke Gramedia, saya dan keluarga menikmati kebersamaan dengan memanjakan selera makan kami di Food Carnival, arena kulinernya Aeon Mall BSD City. Saya makan cukup banyak hingga kekenyangan. Acara jalan-jalan yang saya lanjutkan kemudian, membuat makanan yang telah saya santap terproses dalam pencernaan saya, sehingga ketika berada di Gramedia, perut saya tiba-tiba bergejolak. Sejenak saya terkenang pada obrolan santai saya dengan beberapa teman kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, IKIP Negeri Jakarta, tempat saya melanjutkan studi selepas SMA dari tahun 1986 ke 1987, tentang besarnya pengaruh kebelet buang air besar atas jalannya peristiwa sejarah. Ujar salah satu teman saya, "Napoleon aja, gue yakin, rela brentiin Pertempuran Waterloo kalau mendadak kebelet.”

Saya persis Napoleon ketika tiba-tiba diserang rasa kebelet buang air besar di tengah serunya pelacakan buku bagus di Gramedia. Saya pun buru-buru meninggalkan toko buku tersebut, disambut salam ramah dari petugas sekuriti di jalan keluar toko buku, “Terima kasih sudah berbelanja di Gramedia.” Sempat terpikir oleh saya betapa memalukannya bila nanti saya balik ke Gramedia dan bertemu petugas sekuriti yang sama. Pasti dia mengherankan saya yang bolak-balik toko buku dalam waktu yang cukup singkat. Tapi saya tepis pemikiran itu; menemukan toilet terdekat lebih penting saat itu.

Dalam konteks terpaksa, saya berhenti sejenak—di toilet—untuk membuang isi perut saya, namun saat itu juga pikiran saya hening. Dalam keheningan pikiran, terdengar suara Tuhan yang memastikan pilihan saya pada satu buku itu. Semua ketertarikan lainnya menyingkir, menyisakan ruang lapang untuk satu pilihan itu. Ya, saya yakin dengan pilihan itu. Makanya, setelah dari toilet saya melangkah pasti balik ke Gramedia. Laksana mengenakan kacamata kuda, perhatian saya hanya fokus pada buku tersebut. Setelah membayar buku tersebut di kasir, saya kemudian melenggang pergi dengan perasaan yang ringan dan gembira.@2019


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 2 Januari 2019

Monday, December 31, 2018

Mimpi di Malam Tahun Baru 2019

SAYA tidur sebelum pergantian tahun. Saya mimpi sedang jalan-jalan ke sebuah dipo lokomotif bersama satu saudara SUBUD. Ada lokomotif-lokomotif diesel dari yang tertua (CC200) sampai yang terbaru (CC206) di dalamnya, menggunakan livery dari zamannya PNKA sampai era KAI.

Saya pun minta saudara SUBUD itu memotret saya dengan masing-masing lokomotif di sebelah saya. Dia memotret saya dengan kamera ponsel saya. Saya girang sekali saat berfoto di sebelah lokomotif diesel elektrik BB200 dengan livery era PJKA (kuning-hijau), saya berharap jepretan saudara SUBUD itu bagus hasilnya. Saat saya cek ponsel saya, foto saya dengan BB200 itu tidak ada. Yang ada foto saudara SUBUD itu dengan BB200.

Saya marah pada saudara SUBUD itu, menudingnya telah menghilangkan foto tersebut. Dia menjawab tenang: "Aku terperangkap di masa lalu, sedangkan kamu selalu baru karena menggelayut di masa kini. Kamu tidak boleh hidup di masa lalu seperti aku. Sekarang kan sudah Tahun Baru."

Saya pun terbangun dari tidur jam 7.30 WIB, tanggal 1 Januari 2019.@2019


Griya Pamulang Estate, Tangerang Selatan, Banten, 1 Januari 2019

Saturday, December 29, 2018

Orang Biasa

Saya bersama istri dan putri kami saat menikmati kebersamaan di sebuah restoran di Aeon Mall BSD City,
29 Desember 2018.


SEANDAINYA SUBUD itu agama, maka itulah agama saya. Tetapi, SUBUD bukan agama, bukan pula aliran kepercayaan; sifatnya adalah Latihan Kejiwaan yang menjadi bakti tiap anggota SUBUD kepada Tuhan Yang Maha Esa. SUBUD Indonesia beranggotakan orang-orang yang telah memeluk salah satu dari agama-agama yang diakui negara. Di luar negeri, terutama di dunia Barat yang liberal, berbeda lagi keadaannya; anggota SUBUD tidak wajib memeluk agama. Tidak sedikit orang berlatarbelakang ateisme yang masuk SUBUD di Amerika dan Eropa.

Nyatanya, bimbingan yang saya terima dari Latihan Kejiwaan yang saya lakukan tiga-empat kali dalam seminggu itu benar-benar menjadi pedoman hidup saya. Kalau begitu, apa bedanya dengan agama? Bedanya, SUBUD tidak mengenal ajaran yang dogmatis, doktrin, pelajaran, atau kajian teoritis yang hanya memuaskan akal pikir, sebagaimana yang terdapat dalam agama-agama. Latihan Kejiwaan menjalinkan kontak antara saya dengan zat kekuasaan Tuhan, dan daya dari kontak ini membimbing saya dalam segala aspek kehidupan saya.

Saya melakukan Latihan Kejiwaan itu tiga sampai empat kali dalam seminggu, yaitu tiap Senin malam, Kamis malam, dan Minggu siang di Wisma SUBUD Cilandak, serta tiap Jumat malam di Tebet Mas, di rumah seorang pembantu pelatih. Seorang anggota SUBUD memang dianjurkan untuk melakukan Latihan Kejiwaan minimal dua kali dalam seminggu. Hal itu agar kontak dengan zat kekuasaan Tuhan tetap terpelihara dan stabil. Kontak ini membuat seorang anggota dapat terkoneksi dengan jiwanya yang sejak awal penciptaan selalu dalam keadaan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Di luar hari-hari Latihan Kejiwaan bersama saudara-saudara SUBUD di hall Latihan Kejiwaan, saya adalah seorang suami bagi istri saya yang juga anggota SUBUD dan ayah bagi putri saya yang bernama Nuansa Biru Oceania. Pekerjaan saya adalah konsultan penjenamaan (branding), copywriter, memetisis, dan perencana strategis untuk pengembangan merek (brand-building) di perusahaan yang saya dirikan dan jalankan bersama istri saya, yang bernama LI9HT—The Ideas Company. Semua jenis pekerjaan yang saya lakukan, apakah di depan komputer, ketika berhadapan dengan klien, atau saat blusukan ke berbagai tempat yang dikehendaki klien, tidak memutuskan kontak saya dengan bimbingan ilahiah tersebut.

Demikian pula dalam interaksi saya dengan istri dan anak saya. Saya merasakan energi bimbingan terus-menerus dalam semua kegiatan saya. Bagi saya, semua yang saya lakukan maupun yang saya alami sehari-hari merupakan sujud atau bakti saya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada waktu-waktu khusus bagi seorang anggota SUBUD untuk berbakti kepada Tuhan; "rumah ibadah" saya adalah di mana saja saya menginjakkan kaki saya.

Dari lahiriah saya, tidak ada yang tahu bahwa saya sedang "beribadah" terus-menerus. Saya tidak mengenakan atribut-atribut yang menegaskan keterkaitan saya dengan agama atau kepercayaan tertentu. SUBUD memiliki lambang tujuh lingkaran berjari-jari tujuh, tetapi itu hanya identifikasi semata dari perkumpulan persaudaraan kejiwaan SUBUD, bukan sarana pelengkap kebaktian anggota. Yang tahu bahwa saya sedang beribadah hanyalah saya sendiri dan Tuhan. Bukan dengan gerakan-gerakan tubuh yang diatur sedemikian rupa, melainkan dengan segala gerak hidup yang tertuntun Latihan Kejiwaan, yang dalam bahasa SUBUD disebut "enterprise".

Sebagai anggota SUBUD saya tergolong aktif bergaul dengan sesama saudara SUBUD, utamanya di lingkungan Wisma SUBUD atau di kelompok Latihan Kejiwaan. Saat berkumpul, saya dan saudara-saudara sejiwa mengobrol santai, meskipun isi obrolannya serius dengan bahasan seputar pengalaman kejiwaan saya dan setiap saudara sejiwa saya, tetapi topik-topik non kejiwaan juga kami obrolkan, seperti perkembangan politik dalam negeri dan naik-turunnya nilai rupiah terhadap dolar. 

Ketika waktunya tiba, saya dan saudara-saudara SUBUD saya memasuki hall untuk melakukan Latihan Kejiwaan bersama, dengan atau tanpa pendampingan seorang pembantu pelatih. Waktu Latihan Kejiwaan adalah kapan saja sekelompok anggota merasakan dorongan di dalam dirinya masing-masing untuk melakukannya. Bagi anggota baru yang belum bisa menerima "waktu yang tepat untuk Latihan Kejiwaan" dapat melakukannya sesuai jam-jam yang telah ditetapkan di masing-masing cabang SUBUD. Di Hall Latihan Kejiwaan Jakarta Selatan di Jl. RS Fatmawati No. 52, Jakarta Selatan, atau yang dikenal sebagai Wisma SUBUD Cilandak, waktu Latihan Kejiwaan bagi pria adalah pukul 19.00-23.00 WIB di hari Senin dan Kamis, serta pukul 11.30-15.00 WIB di hari Minggu. Juga tersedia jadwal Latihan Kejiwaan di hari Selasa pagi hingga siang.

Selesai Latihan Kejiwaan yang berlangsung selama setengah hingga satu jam atau lebih, saya dan saudara-saudara sejiwa yang berlatih kejiwaan bersama saya dan pembantu pelatih yang mendampingi kembali nongkrong di teras hall. Ada juga yang langsung pamit untuk pulang, terutama di Senin dan Kamis malam, biasanya karena rumah mereka jauh.

Saya dan saudara-saudara sejiwa biasa nongkrong di teras timur Hall Cilandak. Kami mengobrolkan hal-hal yang tergolong duniawi, ditemani kopi, rokok, dan kue-kue, layaknya di warung kopi. Pemandangan yang sangat biasa, yang akan mengernyitkan kening orang yang terbiasa bergaul di lingkungan spiritual lainnya atau agama. Karena sesungguhnya anggota SUBUD itu memang orang biasa. Orang biasa yang dimurahi Tuhan, kata Bapak Subuh.©2018



Krispy Kreme Cafe, Aeon Mall BSD City, Tangerang Selatan, 29 Desember 2018


Setrum Persaudaraan

Saat Kelompok SUBUD Tebet bersilaturahmi ke Wisma SUBUD Bogor pada 25 Desember 2018.


SEBAGAI sebuah perkumpulan, adalah lazim bila persaudaraan kejiwaan Susila Budhi Dharma (SUBUD) mengadakan kongres nasional dan dunia. Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan (PPK) SUBUD Indonesia rutin menyelenggarakan kongres nasional dua tahun sekali. Dalam kongres, anggota, melalui pengurus cabangnya masing-masing mencalonkan kandidat ketua umum, yang akan memimpin pengurus nasional PPK SUBUD Indonesia selama satu periode (dua tahun).

Di kongres juga digelar sidang-sidang yang membahas program-program organisasi, kepembantupelatihan, dan kepemudaan, yang akan diputuskan oleh kongres untuk dilaksanakan selama dua tahun kepengurusan dari ketua umum yang terpilih.

Bagaimanapun, sebagian besar peserta Kongres Nasional SUBUD Indonesia datang untuk acara-acara kejiwaannya, seperti gathering dengan sesama anggota dan pembantu pelatih, ceramah dan/atau testing dari Ibu Rahayu, ataupun sekadar temu kangen dengan saudara-saudara sejiwa yang terpisah jarak yang jauh. Acara kejiwaan, formal maupun nonformal, di ajang Kongres Nasional mampu men-charge anggota dengan semangat baru yang tak terlupakan sepanjang hayat, karena bersama-sama para anggota menjadi sebuah gardu listrik yang memberi daya setrum yang menggelorakan semangat batin, yang pada gilirannya mengaktifkan sisi lahiriah kita.

Ceramah-ceramah Bapak Subuh di sejumlah kongres nasional SUBUD di berbagai negara Eropa sepanjang tahun 1970 mengkritisi sangat kurangnya porsi kejiwaan dibandingkan porsi organisasi atau kepengurusan pada perhelatan anggota SUBUD. Rupanya, kongres nasional ala SUBUD seharusnya menjadi ajang kejiwaan bagi.anggota untuk mengisi baterai dirinya dengan setrum persaudaraan yang terbangkitkan melalui acara tersebut, dan bukan ajang pengurus dalam rangka menata organisasi. Inilah yang membedakan organisasi SUBUD dengan organisasi pada umumnya.

Degradasi kongres nasional SUBUD—dari ajang kejiwaan menjadi acara pengurus—juga menimpa Indonesia, dari mana SUBUD berasal. Pembahasan anggaran dasar dan rumah tangga tak berkesudahan dan bursa pencalonan ketua umum mengingatkan anggota SUBUD akan nuansa kongres partai politik. Dan jangan dikira politik uang tidak ada dalam pencalonan ketua umum organisasi kejiwaan ini. Para anggota yang datang untuk aspek kejiwaannya malah disandangi status "penggembira", seakan tidak penting apakah mereka hadir atau tidak.

Kenyataan ini telah mendorong para anggota SUBUD Indonesia, khususnya, yang berasal dari budaya yang kental tradisi silaturahminya, berinisiatif sendiri membangkitkan setrum persaudaraan dengan melakukan kunjungan-kunjungan sosial ke berbagai cabang SUBUD di seluruh negeri.

Sebagaimana yang saya alami berkali-kali, setrum persaudaraan menyengat sekujur diri saya hanya melalui pertemuan kasual dengan saudara-saudara sejiwa dalam suasana yang santai. Pertemuan itu tidak perlu mewah, dengan hidangan ala kadarnya, dan di tempat yang sederhana. Kadang tanpa perlu mengobrol, setrum tersebut membangkitkan kesadaran akan kedekatan dan keselarasan, suatu rasa damai tak terbatas, suatu perasaan kuat meskipun sedang menderita. Keberadaan setrum itu membuat anggota SUBUD betah berlama-lama bersama saudara sejiwa.

Bila dalam jarak yang jauh saja—lintas benua, sebagaimana yang saya alami—setrum persaudaraan dapat dirasakan sengatannya, apalagi dalam jarak yang dekat. Tidak perlu bersusah-payah ke kongres nasional di tempat yang jauh, memakan biaya yang tidak sedikit, serta besar porsi urusan keorganisasiannya.©2018


Aeon Mall, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, 29 Desember 2018

Friday, December 21, 2018

Tuhan Bukan Bankir

Gerai Emax di Jl. Kemang Raya, Jakarta Selatan.
Di sinilah pada tahun 2009 saya mendapat keajaiban ilahiah.

JUDUL tulisan ini terinspirasi oleh versi bahasa Inggrisnya dari ceramah Bapak Muhammad Subuh yang dipetik Rahman Connelly dan Bradford Temple dalam buku Human Enterprise: Compiled from the Talks and Writings of Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (1995). Dalam buku itu saya baca bahwa Bapak Subuh menasihati anggota SUBUD agar jangan berdoa meminta uang kepada Tuhan, karena Tuhan bukan bankir, bukan pemilik bank. Pada saat saya membaca bagian itu, saya tidak mengerti maksudnya. Pengertian baru saya peroleh setelah mendapat pengalaman berikut ini.

Tahun 2009, saya ingin memiliki sebuah komputer portabel yang dirilis Apple Inc., yaitu MacBook. Terserah saya mau dibilang terpengaruh daya benda atau sok branded; saya ingin memiliki MacBook. Bukan soal gengsi yang ditawarkannya, tetapi lebih pada pengalaman menggunakan sebuah sistem komputer yang berbasis Mac OS (Macintosh Operating Systems), yang berbeda dengan Windows yang biasa saya pakai. Banyak pula program di dalamnya yang menunjang pekerjaan saya di bidang kreatif.

Dorongan yang begitu kuat untuk memiliki sebuah MacBook membuat saya menempelkan gambar laptop tersebut di dinding kamar saya, yang saya pandangi setiap hari sambil berucap dengan suara pelan: “Kamu akan menjadi milikku, lihat saja!” Dan saya juga berdoa, “Ya Tuhan, berilah aku pekerjaan freelance dengan honor yang bisa aku pakai untuk membeli MacBook.”

Saya berdoa “minta pekerjaan”, bukan “minta uang”, karena jauh sebelumnya saya telah membaca buku Human Enterprise. Saya membatin, “Baiklah, Tuhan, Engkau bukan bankir, makanya aku nggak minta duit. Aku minta pekerjaan aja, yang honornya bisa aku pakai buat membeli yang aku inginkan.” Saat itu, harga sebuah MacBook masih Rp 13 jutaan.

Tidak lama setelah berdoa, saya ditelepon seseorang, seorang account manager dari sebuah butik kreatif yang mendapatkan proyek pembuatan laporan tahunan (annual report) dan membutuhkan seorang copywriter yang berpengalaman menulis laporan tahunan. Lebih disukai yang pernah memenangkan penghargaan Annual Report Award atau ARA (kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Bapepam-LK (kini Otoritas Jasa Keuangan) untuk menilai kualitas penyajian informasi dalam Laporan Tahunan sebuah perusahaan). Laporan Tahunan PT Pupuk Kalimantan Timur yang saya tulis naskahnya tahun 2008 meraih posisi kedua dalam ARA tahun itu untuk kategori perusahaan non-Tbk. Saya terima tawaran dari sang account manager untuk menulis naskah laporan tahunan dari kliennya, sebuah perusahaan pertambangan batu bara.

Honor yang saya ajukan, Rp 15.000.000, ditawar menjadi Rp 9.ooo.ooo. Walaupun saya terima, tetapi saya mengeluh kepada Tuhan: “Bagaimana aku bisa membeli MacBook kalau honorku di bawah harganya?” Saya menerima dalam ketenangan rasa diri saya kemudian, bahwa saya harus menjalaninya saja dulu, tanpa perasaan kecewa atau ogah-ogahan. “Nanti kamu akan tahu kenyataannya,” kata suara batin saya. Singkat cerita, laporan tahunan itu pun saya kerjakan dengan sungguh-sungguh selama lebih dari sebulan, dan saya menerima honor sebagaimana yang ditawarkan.

Pada suatu hari, tidak lama setelah honor tersebut ditransfer ke rekening saya, istri saya mengajak saya ke gerai Kemang dari Emax, yang merupakan Apple Premium Reseller. Ujar istri saya, “Biar kamu bisa merasakan dulu gimana rasanya memakai MacBook.” Saya terima ajakannya, dan pergilah kami berdua ke Emax Kemang, Jakarta Selatan. Saat itu, malam Minggu. Tidak terpikir sama sekali untuk membelinya malam itu juga, karena jumlah nominal uang saya masih belum mencapai harga yang ditawarkan. Ternyata, sedang ada diskon untuk semua produk Apple di Emax Kemang, yang berlaku hanya pada malam itu. Harga MacBook yang saya inginkan, dengan diskon tersebut turun menjadi Rp 8.450.000. Saya dan istri saling menatap. Mata saya berbinar-binar dan diri saya diselimuti semangat yang meletup-letup. Istri saya pun berkata, “Kita beli sekarang, gimana?”

Kami pun membahasnya dengan pramuniaga Emax Kemang. Masalahnya, kami tidak membawa uang tunai sebanyak itu. Kami harus ke ATM dulu, dan ATM dalam sekali tarik hanya dibatasi maksimal Rp 5 juta. Kami merasa mendapat mukjizat ketika pramuniaga Emax Kemang berkata dengan berbisik, “Bagaimana kalau sisanya besok? Malam ini Bapak-Ibu setor lima juta, sisanya tiga juta empat ratus lima puluh besok, sekalian bawa barangnya. Hanya kita kasih tawaran ke Bapak-Ibu aja. Bapak-Ibu nggak usah kasih tahu yang lain.”

Tentu saja, saya dan istri setuju dengan tawaran itu. Dengan ledakan kesukacitaan di dalam diri kami, saya dan istri bergegas ke ATM Mandiri terdekat, dan menarik uang tunai senilai Rp 5.000.000. Lalu, kami kembali ke Emax Kemang. Kami bayarkan uang tersebut ke kasir disertai catatan dari si pramuniaga kepada kasir, bahwa itu spesial untuk kami. Keesokan harinya, siang hari, usai Latihan Kejiwaan di Wisma SUBUD Cilandak, saya dan istri kembali ke Emax Kemang untuk membayar sisanya. Sebuah MacBook baru pun saya tenteng pulang.

Dari pengalaman tersebut, saya mendapat pengertian mengapa Tuhan tidak usah dimintai uang, karena cara Dia bekerja untuk memenuhi keinginan kita sama sekali berbeda dengan yang kita pikirkan. Bahkan, bila Tuhan menghendaki, yang kita inginkan dapat kita peroleh tanpa mengeluarkan ongkos sama sekali. Tuhan tidak memberi kita uang, karena uang adalah ciptaan makhlukNya, sebagai sarana untuk memudahkan dan menertibkan tatacara pertukaran barang dalam kehidupan di dunia. Uang adalah benda ciptaan manusia yang diberi nilai oleh akal pikir kita. Dia, sebaliknya, memberi kita jalan dan bimbingan agar kita mampu melalui jalan itu, salah satunya berupa keajaiban yang saya dan istri terima dari tawaran spesial dari si pramuniaga.

Sejak mengalami keajaiban ilahiah lewat pembelian sebuah MacBook, mulailah saya mengubah cara saya berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan. Saya sampaikan saja apa yang saya inginkan. Umpamanya saya ingin memiliki rumah, saya mohon kepada Tuhan: “Tuhan, aku ingin rumah di mana aku dan keluargaku dapat memperoleh kenyamanan dan keteduhan. Bantulah aku dalam memperolehnya.” Tidak lagi diembel-embeli “perantaraan” seperti uang atau kemampuan fisik dari sisi saya. Tetapi yang pasti, harus dengan perasaan sabar, tawakal, dan ikhlas terhadap bimbinganNya.©2018



Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 22 Desember 2018

Monday, December 17, 2018

Tuhan yang Bukan Meme


BARU-baru ini, saya mendengar tentang satu anggota SUBUD yang tidak pernah lagi muncul di Wisma SUBUD Cilandak atau di kelompok SUBUD mana pun lantaran kecewa pada Tuhan. Dia kecewa pada Tuhan karena dianggapnya Tuhan tidak mengabulkan permohonannya akan kehidupan yang lebih baik.

Karena kecewa pada Tuhan, ada orang yang meninggalkan SUBUD. Ketika saya kecewa pada Tuhan, saya tinggalkan Tuhan, bukan SUBUDnya. SUBUD adalah saya, saya adalah SUBUD. Dan di SUBUD saya ketemu Tuhan yang bukan meme agama.

Kebanyakan orang—sebagian terbesar malah—mengenal Tuhan dari gagasan yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya, atau “meme”. Meme tidak menawarkan kebenaran indrawi, melainkan hanya kepuasan akal pikir yang pada gilirannya membangkitkan sensasi merasa paling benar agamanya, dan akhirnya menimbulkan sikap tidak toleran terhadap yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Meme memang virus yang persebarannya lewat persepsi yang dibangun di pikiran. Pikiran manusia memiliki kelemahan, yaitu terlalu cepat menyerap informasi, bahkan yang palsu sekalipun. Karena itu, orang yang telah berbekal ilmu yang mempelajari meme, disebut memetika, tidak mudah termakan berita hoax.

Di dunia Barat, agama-agama besar telah ditinggalkan umatnya sejak 20 tahun yang lalu, karena terumpan rayuan gerakan Era Baru (New Age) yang menawarkan experiential religiosity (ER) atau keberagamaan berdasarkan pengalaman keilahian langsung yang menghormati ranah pribadi, bukan kepercayaan kolektif yang berkiblat pada pengalaman satu orang (nabi atau utusan Tuhan).

Meskipun mengandung konsep keberagamaan atau religiusitas, ER tidak masuk ranah agama. Ia adalah pengalaman indrawi akan hal-hal yang diyakini memiliki daya ilahiah yang melampaui eksistensi manusia. Ada yang menyebut itu Tuhan, daya hidup, kesadaran agung, sang cahaya, atau apa pun yang ingin Anda sebut.

ER tidak seragam; ia beragam, yang membangun keimanan seseorang berdasarkan pencerahan pribadi yang esoteris (hanya dipahami oleh yang bersangkutan). Karena itu, ER bersifat pribadi, tidak kolektif sebagaimana agama-agama yang dikenal selama ini. Tidak ada ajaran yang baku; satu-satunya tuntunan adalah yang diterima seseorang melalui “suara batin” atau tanda-tanda niskala (tak tampak) yang hanya dapat dipahami secara pribadi.

Di ranah ER ini, saya menghirup udara segar, setelah sekian lama sesak napas akibat ketumpatan ritual agama yang tak bermakna. Saat saya dibuka untuk menerima kontak Latihan Kejiwaan, saya serasa seperti ditarik secepat kilat dari ruang sempit di tengah panas gurun pasir dan dipindah ke ruang beratap langit berlantai bumi di lereng gunung yang berkabut dingin, di mana embusan angin meninggalkan embun yang memuaskan dahaga pencarian akan kesejatian diri. Di ruang tak berdinding dan tanpa batas waktu itu, saya menari penuh sukacita mengikuti irama bimbingan rasadiri yang telah berkontak dengan kesadaran agung, sang Kenyataan Tertinggi, Tuhan yang bukan meme. Segala kecewa atau sakit dalam rasa perasaan melebur dalam cinta. Cinta yang tak bertepi.

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Bapak.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 18 Desember 2018

Icip-Icip


LATIHAN Kejiwaan memberi pelatih (dalam bahasa SUBUD berarti “orang yang berlatih kejiwaan”) banyak sekali “icip-icip" berupa kesaktian atau kemampuan yang menurut logika tidak mungkin dicapai seseorang dengan mudah, atau melampaui kebiasaan dan kebisaan orang biasa. Karena bersifat icip-icip maka kesaktian tersebut tidak bertahan lama. Bagaimanapun, sifat atau bentuk kesaktian tersebut berganti-ganti seiring seorang pelatih menekuni Latihan Kejiwaan.

Tidak jarang seorang pelatih kejiwaan terpedaya oleh icip-icip tersebut; ia merasa telah sampai pada suatu aras (level) yang lebih tinggi daripada pelatih-pelatih lainnya. Padahal SUBUD tidak mengenal jenjang; seorang pelatih yang baru dibuka (pertama kali menerima kontak Latihan Kejiwaan) dapat saja lebih maju kejiwaannya daripada pelatih yang sudah puluhan tahun berlatih kejiwaan.

Saya mengenal satu saudara SUBUD yang terpedaya oleh icip-icip. Merasa dirinya maju secara akademis (penyandang gelar magister dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Pulau Jawa) dan mampu membuat orang lain tenteram dengan perkataannya, dia membukai para wanita usia lanjut yang tergabung dalam majelis taklimnya. Padahal dia belum menjadi pembantu pelatih—suatu tugas yang dibebankan kepada seorang anggota yang telah berlatih minimal tujuh tahun dan disukai para anggota lainnya karena pembawaannya yang mampu ngemong dan mengayomi.

Untuk tertib organisasi, hanya pembantu pelatih yang diberi tugas untuk membuka kandidat (calon anggota SUBUD) dan mendampinginya selama hal itu diperlukan. Dan orang yang berminat masuk SUBUD harus melalui masa orientasi atau “masa tunggu” selama tiga bulan. Selama masa tunggu itu, seorang kandidat mendapat penerangan dari pembantu pelatih mengenai asas dan tujuan SUBUD, mengenai berbagai aspek kejiwaan dan keorganisasian SUBUD. Bukan tugas yang ringan, karena tanpa penerangan dan pendampingan yang memadai, menurut yang saya saksikan, banyak anggota akhirnya meninggalkan SUBUD.

Nah, saudara SUBUD ini merasa mampu membuka orang, tetapi ujung-ujungnya kelabakan ketika harus mendampingi para wanita usia lanjut yang ia buka—tanpa penerangan yang cukup—mengalami kebingungan. Utamanya, karena Latihan Kejiwaan mereka dibungkus dengan pengajian (dan pengkajian) syariat Islam, sedangkan SUBUD bukan agama, tidak memiliki ajaran serta tidak berteori. SUBUD adalah bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat eksperiensial, atau mengalami langsung keilahian pada diri masing-masing orang.

Alhasil, saudara SUBUD itu meminta saya untuk memberi penerangan lanjutan kepada para wanita usia lanjut tersebut. Saya mau asal saya boleh menjadi diri sendiri, tidak harus mengutip dalil-dalil dari Al Qur'an atau berlagak ustad, supaya diterima para anggota majelis taklim yang dipimpin saudara SUBUD itu. Dia setuju, walaupun sempat mendesak saya agar membekali diri dengan satu-dua ayat dari Al Qur'an. Saya menolak, karena masuk SUBUD adalah tentang menjadi diri sendiri, bukan menjadi orang yang disukai menurut nilai-nilai orang lain.

Demi menjaga kesejatian saya (menjadi diri sendiri, apa adanya), saya pun muncul di acara pengajian dengan pakaian kesukaan saya: kemeja lengan pendek yang bagian bawahnya saya biarkan menggantung di luar celana, dan sepotong celana jeans belel. Pokoknya, jauhlah dari citra seorang ustad. Sebelum tampil di hadapan 50an anggota majelis taklim yang rata-rata sudah sepuh, saya menenangkan diri, sepenuhnya berserah diri kepada bimbingan Tuhan.

Lalu, mulailah saya bicara. Saya bercerita tentang berbagai pengalaman kehidupan saya setelah menerima Latihan Kejiwaan. Tidak terselip satu pun ayat suci di antara penceritaan saya. Semua mengalir sebagaimana adanya. Saya merasa ucapan saya dibimbing—begitu lancar, tanpa keraguan atau kelupaan. Tetapi yang ajaib, yang saya yakini sebagai bimbingan Tuhan, pada sesi tanya-jawab, para anggota majelis taklim membenarkan cerita-cerita saya dengan dalil-dalil dari Al Qur’an yang mereka sampaikan kalimat-kalimatnya dalam bahasa Arab yang fasih serta terjemahannya. Tanpa saya lengkapi dengan ayat-ayat suci, sebagaimana yang diharapkan saudara SUBUD tadi pada saya, ternyata audiens sendiri yang melengkapinya.

Begitu pun, para anggota majelis taklim itu menobatkan saya sebagai ustad yang hebat, sampai mereka tak segan untuk bergiliran mencium tangan saya ketika momen berbagi pengalaman itu sudah selesai. Maha Besar Tuhan dengan segala firmanNya, yang Dia salurkan melalui ucapan saya.©2018


Jl. Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 18 Desember 2018