Tuesday, July 7, 2020

Kesombongan Spiritual

SEMASA masih aktif berlatih kejiwaan di Wisma Subud Surabaya, Jalan Manyar Rejo 18-22, Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 2004, saya pernah mengalami kejadian yang kocak. Saat itu, saya baru selesai melakukan Latihan Kejiwaan di hallnya dan bergabung dengan para anggota dan pembantu pelatih di teras timur bangunan hall Latihan.

Sebelum dan sesudah Latihan, para anggota pria Subud Cabang Surabaya biasa duduk secara lesehan di teras yang dialasi tikar. Saat itu, saya duduk di seberang satu pembantu pelatih, seorang pria tua yang gemar merokok Djisamsoe. Beliau menawarkan saya rokoknya, yang saya sambut dengan senang hati—karena saya tidak punya rokok, sedangkan saya malas jika harus pergi keluar lingkungan Wisma Subud Surabaya untuk membeli rokok.

Sang pembantu pelatih, di balik kepulan asap rokoknya, berkata, “Tadi waktu Latihan, Dik Anto ketemu Yesus ya?” Beliau mengacu pada penerimaan di Latihan saya tadi di dalam hall, di mana saya merentangkan lengan kanan saya ke atas sementara tangan kiri saya saya letakkan di dada kanan. Dengan postur seperti itu saya berjalan keliling ruangan hall sambil berucap berulang kali “Yesus gembalaku!”

Dengan lugu, terutama karena saya saat itu masih baru di Subud, saya menjawab, “Nggak, Pak.”

Seorang pembantu pelatih sepuh lainnya, yang duduk di sebelah si pembantu pelatih yang bertanya ke saya, berkata, “Dia belum sampailah di situ… masih baru.”

Saya menandai ada nada kesombongan dalam ucapan si pembantu pelatih itu. Pembantu pelatih Djisamsoe yang membuka obrolan tadi itu berkata, “Saya pernah ketemu Yesus dalam Latihan, Dik.”

Saya memandang beliau dengan sebal. Sombong sekali! Terbersitlah sebuah ide konyol di benak saya. Saya menatap beliau sambil tertawa dan berkata, “Saya pernah ketemu Bapak dalam Latihan, Pak. Bapak bilang ke saya: ‘Nak, jangan percaya PP sebelum Nak mengalaminya sendiri.’.”

Si pembantu pelatih tua itu hanya mengepulkan asap rokok dan tidak berkomentar lagi. Selanjutnya beliau menoleh ke sebelah beliau dan mengobrol dengan orang yang duduk di sebelah beliau. Saudara Subud di sebelah saya berbisik, ”Sampeyan nekat ah, ngerjain PP!”

Lain lagi pengalaman saya saat berkunjung ke Subud Cabang Batang, Jawa Tengah, pada bulan Februari 2006, bersama tiga pembantu pelatih yang tergabung dalam Forum Komunikasi Anggota Subud serta satu anggota biasa. Mereka semua tercatat sebagai pembantu pelatih dan anggota Cabang Jakarta Selatan. Selama perjalanan dengan menumpang KA Argo Bromo Anggrek dari Stasiun Gambir ke Stasiun Pekalongan, saya bercerita kepada kawan-kawan seperjalanan saya tentang buku karya Master Sheng-yen, seorang guru Zen asal Taiwan (kelahiran Republik Rakyat Tiongkok), berjudul Zen: Tiada Penderitaan (Penerbit Suwung, 2004) yang sedang saya baca. Antara lain tentang adanya perintah Buddha Gautama kepada para pengikutnya, agar membunuhnya apabila para pengikutnya masih melihat kehadiran diri Gautama dalam semadi mereka.

Saat sarasehan malam harinya di hall Latihan Cabang Batang, ada satu anggota setempat yang mengungkapkan kepada salah satu pembantu pelatih dari Jakarta Selatan itu, Pak Djoko namanya, “Saya sering bertemu Yang Mulia Bapak dalam Latihan saya, Pak. Apa artinya ya?”

Saya merasakan kondisi diri si anggota terisi kesombongan, merasa dirinya istimewa karena didatangi Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Dengan santai, Pak Djoko menuturkan, “Tadi di kereta, Mas Anto ini cerita ke saya kalau dia lagi baca sebuah buku tentang Zen. Penulisnya mencantumkan cerita di mana Sang Buddha mengatakan, ‘Kalau kamu dalam semadimu masih melihat aku, maka bunuhlah aku!’ Jadi, Anda bunuh saja Bapak kalau masih suka datang saat Anda Latihan!”

Seluruh hadirin tergelak, sedangkan si anggota yang menceritakan pengalamannya didatangi Bapak Subuh dalam Latihannya hanya terpana, juga malu.

Kesombongan spiritual istilahnya. Hal ini biasa terjadi dalam semua komunitas spiritual, tidak hanya di Subud. Bahkan di agama-agama juga terjadi kesombongan seperti ini, bahkan pada orang-orang yang dipandang “tinggi” ilmunya. “Belum sampai” adalah kalimat yang biasa diucapkan seorang anggota atau pembantu pelatih Subud kepada anggota lain yang dia anggap belum menyamai pemahamannya. Ungkapan itu tidak jarang membuat seorang anggota merasa tersinggung, baper, lantas marah dan memutuskan tidak mau lagi aktif di Subud.

Latihan Kejiwaan merepresentasi proses pembelajaran berkelanjutan (continuous learning process), di mana “sampai” tidaklah relevan. Pengalaman merupakan bagian dari proses tersebut, dan sifatnya hanya sementara alias icip-icip. Pengalaman hari ini tidak akan sama dengan pengalaman di hari-hari berikutnya, dan semua pengalaman itu hanya merupakan media pembelajaran seorang anggota, untuk pada akhirnya dapat memahami atau memaknai peristiwa-peristiwa yang mengisi hidupnya. “Sampai” di saat ini hanya untuk saat ini; berikutnya, proses pembelajaran seseorang masih akan berlanjut. Jika Anda adalah anggota Subud dan merasa “sudah sampai”, dan dengan itu dengan sombongnya Anda menganggap orang lain “belum sampai”, sesungguhnya Andalah yang belum sampai. Belum sampai pada pengertian sejatinya.

Lagipula, pengalaman tidak dapat ditiru; tidak ada anggota Subud yang pengalamannya sama persis dengan saudara sejiwanya. Jangankan di Subud atau di jalan spiritual pada umumnya, di kehidupan duniawi saja, suatu solusi yang telah terbukti sukses dalam praktiknya tidak serta-merta dapat diterapkan sama persis untuk menyelesaikan masalah lainnya, meskipun masalahnya mirip. Penceritaan pengalaman, sebagaimana yang sedang saya lakukan ini, bukan suatu ajaran atau desain yang dapat ditiru, melainkan—diharapkan—menjadi pembangkit inspirasi atau “alat bantu” bagi orang lain untuk memaknai hidupnya sendiri.

Kesombongan spiritual memberi kita satu hal: Kita akan berhenti mengalami tumbuh-kembang kejiwaan sebagaimana yang diharapkan. Kita stuck di situ saja, di pemahaman sementara, seperti pengemudi mobil yang terlena di rest area sebuah jalan tol sehingga ia tidak akan pernah sampai di tujuan sebenarnya.

Pemahaman saya, Tuhan itu Maha Luas dan Maha Tidak Berbatas. Hidup mewakili keluasan dan ketakterbatasanNya, sehingga kita senantiasa dituntut menanggalkan kesombongan dan terus menjelajahi segala kemungkinan yang Tuhan sediakan untuk kita. Karena itu, tidak ada gunanya bersombong ria dengan apa pun yang kita alami dalam proses pembelajaran berkelanjutan ini.Ó2020



GPR 3, Tangerang Selatan, 8 Juli 2020

Monday, July 6, 2020

Al Fatihah—Pembuka Kontak Dengan Kekuasaan Tuhan


SAYA ingat pada sebuah pengalaman yang unik, sebuah kejadian yang mungkin bisa didaulat sebagai “pengalaman kejiwaan”. Saat mengalaminya, saya masih tinggal berdua dengan istri di sebuah rumah kontrakan di Gang Margodadi III, Demak Timur, Surabaya, Jawa Timur. Rumah itu saya kontrak dari salah satu pembantu pelatih Subud Cabang Surabaya. Beliau menerima dalam Latihan Kejiwaannya bahwa beliau harus membangun rumah dua lantai tepat di seberang rumah beliau sendiri, dan menerima bahwa yang boleh mengontrak dan menempatinya hanya anggota Subud. “Kebetulan” (saya pakai tanda petik karena saya tidak percaya pada kebetulan, karena semua sudah diatur oleh Tuhan) sayalah anggota Subud pertama yang memerawani rumah tersebut, untuk masa kontrak 2004-2006.

Tinggal berdua saja di rumah kontrakan tersebut, saya dan istri mengalami banyak hal yang memperkuat keyakinan kami pada kekuatan Latihan Kejiwaan sebagai jalan untuk berkontak dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang selalu membimbing kami dalam segala gerak hidup kami. Salah satunya adalah apa yang akan saya ceritakan di sini.

Pada suatu malam—saya lupa apa yang terjadi sebelumnya, namun saya ingat bahwa—saya dan istri sedang bercengkerama di dalam kamar tidur. Cengkerama yang kemudian “menuntun” kami berhubungan suami-istri. Sesuatu yang menurut perasaan saya heboh dan hebat terjadi pada diri kami (kami saling berbagi cerita pengalaman kami saat “kumpul” itu lama sesudahnya). Akan halnya dengan saya, saya merasakan kenikmatan luar biasa, yang sulit saya gambarkan dengan kata-kata. Malah kata-kata hanya akan menyempitkan makna dari pengalaman tersebut.

Saat berhubungan badan itu, saya merasakan nikmat yang tak terperi. Bukan kenikmatan seksual, melainkan kenikmatan berzikir layaknya saya sedang berada di tengah majelis yang mendaraskan nama Allah Swt berkali-kali sebagai pengagungan dan pemuliaan terhadapNya! Bukan kenikmatan rasa saat dua jenis kelamin saling “mengikat”, tetapi kenikmatan dari getaran rasa diri saat mengingat kemurahan Tuhan atas hambaNya.

Terbangun keesokan paginya, saya termangu-mangu di pinggir kasur. Selama menempati rumah kontrakan itu, agar ringkas kami tidak menggunakan satu set ranjang, melainkan kasur kami gelar di lantai dengan dialasi lembaran-lembaran kardus. Sehingga, ketika duduk termangu di tepi kasur, sementara pantat saya berada di kasur, kedua kaki saya yang bersila berada di lantai yang cukup dingin. Istri saya sudah lebih dahulu bangun dan sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan.

Saat duduk di tepi kasur itu, saya membatinkan pertanyaan: “Apakah yang saya alami tadi malam itu. Kok saya teringatnya rasa menyebut nama Allah, dan bukannya kenikmatan bersetubuh?”

Saya kemudian menenangkan diri. Bukan sesuatu yang saya sengaja, bila saya “menenangkan diri”. Tiap kali kepala saya mulai nyut-nyutan karena “kemasukan” lintasan-lintasan pemikiran yang tidak perlu, saya akan memejamkan mata, dan tiap kali memejamkan mata saya akan mengalami penenangan diri atau menerima Latihan Kejiwaan. Dalam keadaan rasa diri yang tenang itu, saya menerima Latihan Kejiwaan dan dalam Latihan itu saya mengucapkan Surah Al Fatihah lengkap dari ayat pertama hingga ketujuh. Setelah itu saya menerima pengertian, bahwa yang saya alami tadi malam adalah ekspresi badaniah dari Surah Al Fatihah.

Al Fatihah, demikian yang saya terima lama sesudah hari itu, melambangkan penyerahan diri makhluk atau ciptaan kepada Sang Khalik atau Pencipta. Ayat-ayatnya menegaskan hal itu. Surah itu adalah seperti pengingat bagi kita agar selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berperasaan sabar, tawakal, dan ikhlas.

Al Fatihah secara etimologis berarti “pembukaan”. Meskipun secara syariat “pembukaan” di sini bermakna bahwa Al Fatihah merupakan surah pertama/pembuka dari kitab suci Al Qur’an, tetapi yang saya terima dalam Latihan Kejiwaan saya adalah makna hakikatnya. Yaitu bahwa surah tersebut menjadi kunci bagi manusia yang berserah diri dengan sabar, tawakal, dan ikhlas untuk membuka jalan yang lurus (yang mudah dan lancar, tanpa halangan dan rintangan) kembali kepada atau berkontak dengan kekuasaan Tuhan.

Namun, saya terima juga, Al Fatihah tidak serta-merta menjadi pembuka jalan yang lurus hanya dengan mendaraskannya, atau mengucapkannya, belaka. Hanya melalui pengamalannya, melalui pengejawantahannya, dalam kehidupan sehari-hari kita, Al Fatihah membuka jalan bagi manusia yang masih hidup untuk dapat berkontak dengan kekuasaan Tuhan. Dalam pengertian saya, karena itu, Latihan Kejiwaan merupakan media praktik dari ayat-ayat yang terkandung dalam Surah Al Fatihah.

Belakangan, seolah tren, banyak orang mengucapkan atau menuliskan dalam kolom komentar di media sosial “Al Fatihah kepada si Fulan” sebagai ungkapan penghiburan atau pernyataan belasungkawa atas meninggalnya seseorang atau ketika kenalan mereka tengah memperingati tahun kesekian meninggalnya kerabat atau sahabatnya. Sejatinya, demikian pemahaman saya, dengan mengamalkan atau mempraktikkan Surah Al Fatihah atau, dalam bahasa yang universal, berserah diri kepada Tuhan, kita membantu arwah-arwah dari orang-orang yang telah mendahului kita dimurahi perjalanan kembali mereka langsung ke Sang Pencipta. Mengucapkan atau menuliskannya belaka tidak dapat membantu; gerak hidup kitalah yang dapat.

Tren ini mengaburkan manfaat sejati dari Surah Al Fatihah, yaitu untuk mengingatkan yang masih hidup agar senantiasa memuji Allah, Tuhan semesta alam, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menguasai Hari Pembalasan. Untuk mendorong setiap manusia agar hanya kepada Tuhanlah mereka menyembah, dan hanya kepada Tuhanlah mereka seharusnya memohon pertolongan. Untuk meminta petunjukNya ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan jalan dari mereka yang dimurkaiNya dan bukan pula jalan mereka yang sesat—yaitu orang-orang yang mengandalkan akal pikir dan hati yang terisi nafsu daya rendah. Sudah pastilah itu (amin)!Ó2020



GPR 3, Tangerang Selatan, 7 Juli 2020







Sunday, July 5, 2020

Kebebasan Berimajinasi


“Paruh pertama kehidupan adalah belajar menjadi orang dewasa. Paruh kedua adalah belajar menjadi seorang anak.”
—Pablo Picasso


PADA malam hari, tanggal 5 Juli 2020, saya menemani putri saya yang berumur tiga tahun delapan bulan menonton film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse di HBO. Selama nonton, putri saya banyak sekali bertanya ini-itu menyangkut superhero, yang rupanya dia favoriti. Menjelang akhir film, putri saya mengatakan bahwa dia ingin menjadi Spiderman, bahwa dia ingin bisa meloncat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain, dan, dengan sedih, mengatakan bahwa dia belum bisa melakukan apa yang dia inginkan. Saya bilang kepadanya, sebagai penyemangat, bahwa dia bisa melakukannya asal dia berusaha dengan belajar dan berlatih.

Putri saya, Nuansa, menyenangi ketokohan superhero dan sering mengimajinasikan dirinya sebagai pahlawan super pembela kaum lemah. Kepedulian dan sifat penolongnya, yang sudah tampak dalam usia sebelia ini, adalah alasan utama dia ingin menjadi pahlawan super.

Nah, malam itu, saat menonton film animasi Spiderman di HBO, dia memasang sikap badan seperti jagoannya itu. Saya tertawa, karena senang melihatnya menikmati dirinya sebagai tokoh favoritnya. Tetapi Nuansa salah paham terhadap tawa saya; dia kira, saya menertawakannya. Dia tiba-tiba menangis keras dan mengamuk dan memukuli saya. Setelah dipeluk dan ditenangkan oleh istri saya, terungkaplah penyebab mengapa dia menangis dan mengamuk terhadap saya. Nuansa merasa saya menertawakannya dan malu karenanya. Dia merasa harga dirinya jatuh karena sikap saya yang keliru ia pahami.

Di situlah saya merasa sangat bersalah, sekaligus teringat pengalaman saya sendiri dengan orang tua saya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa saya suka berimajinasi.

Adalah ibu saya, terutama, yang paling tidak suka bila saya berimajinasi. Beliau menganggap berimajinasi adalah perbuatan dosa, buang waktu, dan membuat seorang anak tertinggal secara intelijensia. Ketika kecil, hingga sekolah menengah atas, saya suka membayangkan diri saya sebagai perwira militer, seorang komandan pasukan yang berwibawa di medan tempur. Saya tuangkan imajinasi itu ke dalam gambar (saya sangat suka menggambar) atau tulisan-tulisan di label nama di alat tulis yang saya gunakan di sekolah. Menurut ibu saya, hal itu tidak wajar. Saya dilarang berimajinasi, dan beliau akan marah besar bila memergoki saya berimajinasi.

Kala itu, saya membenci sikap ibu saya terhadap kegemaran saya berimajinasi. Tapi kini, saya tidak lagi marah atau benci, karena setelah membaca ceramah-ceramah Bapak Muhammad Subuh, setelah saya masuk Subud, mengenai kesalahan-kesalahan yang diwarisi leluhur, saya jadi paham bahwa orang tua saya tidak bersalah. Mereka memiliki sikap seperti itu karena dengan cara itulah mereka dididik oleh orang tua mereka (kakek-nenek saya), dan begitu seterusnya ke atas. Mereka hanya tidak mengerti; untuk orang-orang yang tidak mengerti seyogyanya saya memohon agar Tuhan memurahi mereka, alih-alih membenci mereka.

Imajinasi bagi anak-anak, berdasarkan pengalaman saya, bukanlah sesuatu yang buruk. Hal itu dapat membuat anak mampu berpikir kreatif dan menganalisis, memperkaya pengetahuannya, membuat anak lebih percaya diri, mandiri, dan mampu bersaing. Dalam penuturan satu saudara Subud saya yang juga pakar pendidikan, Harris Roberts, pada hari Kamis, 2 Juli 2020, lalu di Wisma Subud Cilandak, Jakarta Selatan, berimajinasi membuat seorang anak mampu berkonsep. Dengan kemampuan berkonsep, dia akan mampu memaknai segala sesuatu yang dihadapinya dalam kehidupan dewasanya kelak.

Insiden dengan putri saya membuat saya bertekad untuk menghentikan selamanya pewarisan sikap dan tindakan dari kedua orang tua saya, dan dari kedua orang tua dari ayah-ibu saya, dan seterusnya ke atas, dengan sikap dan tindakan saya dalam mengasuh putri saya, yang saya cintai sepenuh hati, diri, dan jiwa saya. Saya dan istri telah sepakat untuk membebaskan Nuansa berimajinasi sesuai usianya. Kami sebagai orang tua hanya mendukung sebisa kami, selama yang ia inginkan dan (akan) lakukan tidak merugikan dirinya.

Tekad saya itu sekaligus menjadi cara saya memaafkan masa lalu saya—yang tidak seberuntung putri saya, lantaran kebebasan berimajinasi saya direnggut oleh orang tua saya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 6 Juli 2020

Saturday, July 4, 2020

Membawa Makanan ke Surga


SEBERAPA sering Anda makan sup iga? Steik? Soto jeroan sapi? Saya yakin, tidak sering. Mungkin hanya sekali seminggu atau sekali sebulan, atau bahkan setahun hanya sekali.

Saat memakannya, pasti berasa sangat lezat. Ya, jelas, karena jarang memakannya, jadi lidah telah menjadi “murni”. Itu sebabnya, demikian pengamatan saya, anak kecil dianjurkan makan makanan yang berbeda-beda, agar lidahnya peka terhadap rasa.

Karena kejarangan dalam konsumsi makanan-makanan yang saya sebutkan di atas, seharusnya kita tidak perlu khawatir. Makanlah secukupnya, tidak perlu berlebihan pula. Berlebihan itulah yang menyebabkan penyakit, tetapi pikiran khawatir yang menyertai saat memakannyalah yang lebih berbahaya, karena juga dapat menyebabkan penyakit.

Dapat dikatakan bahwa lebih dari 75 persen penyakit mematikan dewasa ini disebabkan oleh pikiran yang dipenuhi kekhawatiran atau ketakutan, lebih dari penyakitnya sendiri. Saya amati bahwa selama tiga bulan sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di Jakarta dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19, lebih banyak orang yang meninggal karena stroke atau serangan jantung, daripada karena virus Corona penyebab COVID-19. Orang yang mati karena tertekan lantaran memikirkan ancaman virus lebih banyak daripada akibat virusnya sendiri.

Berdasarkan pengalaman saya, menyantap makanan dengan pikiran yang kalut tidak akan memberi kita kelezatan yang sejatinya ditawarkan makanan tersebut—sehingga kita juga menjadi tidak mensyukuri rezeki Tuhan itu. Simpul-simpul saraf di lidah kita agaknya terkendala dengan simpul-simpul saraf di otak yang terbungkus aneka pikiran negatif. Menarik untuk direnungkan, kearifan yang menyatakan bahwa bahan-bahan yang membentuk makanan yang kita makan dapat terbawa ke surga apabila kita memakannya dalam keadaan diri yang dipenuhi sukacita. Bahkan, leluhur kita percaya—dari pengalaman nyata—meskipun racun yang kita makan, dia akan kehilangan dampak mematikannya apabila orang yang memakannya dalam keadaan ikhlas dan berpikir positif.

Saya pribadi menerapkan cara itu dalam menyambut tawaran makan dari orang lain. Makanya saya selalu merasa janggal dengan orang yang disodori makanan yang ada unsur yang pantang dia makan dengan alasan kesehatan, seperti nasi putih. Lain halnya bila prasmanan, yang swalayan, sehingga bisa menghindari makanan-makanan yang dipantangi. Tapi bila ditawari oleh tuan rumah, misalnya, adalah tidak sopan untuk menolak, apalagi dengan perkataan “Wah, saya nggak makan nasi, saya diabetes” atau “Saya tidak boleh makan jeroan, kolesterol tinggi”. Terima saja, tanpa komentar macam-macam, dan makanlah yang Anda rasa baik bagi tubuh Anda. Sisihkan yang Anda tidak mau atau tidak suka, tidak usah banyak komentar.

Saya ingat pada suatu pengalaman di bulan Desember 2015 di Kota Bandung, di mana saya dan tiga saudara Subud saya dari Jakarta Selatan dijamu minum bir di sebuah kafe oleh para saudara Subud Kelompok Cilengkrang. Satu saudara Subud saya dari Jakarta Selatan berbisik ke telinga saya, “Bro, gimana nih, minum bir nanti kita mabuk.” Ada nada kecemasan pada suaranya. Dia membayangkan bahwa usai acara di kafe tersebut kami akan langsung balik Jakarta naik mobil yang disopiri saudara Subud lainnya yang juga ikut menenggak bir.

Saya jawab dengan berbisik pula di telinga saudara Subud itu, “Bro, kita nggak akan mabuk. Tergantung niat, bro. Niat kita adalah untuk memuliakan tuan rumah.”

Alhasil, tidak ada di antara kami berempat yang mabuk, meski telah menenggak bergelas-gelas bir malam itu, dan dapat kembali ke Jakarta malam itu dengan lancar dan selamat. "Birnya sudah kita surgakan," gurau saudara Subud yang sebelumnya takut mabuk bila menerima tawaran minum bir dari tuan rumah itu. ©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 4 Juli 2020

Friday, July 3, 2020

Nonkonvensional: Mengapa Saya Bertahan di Subud


SAYA kerap mengonsumsi makanan tertentu secara tidak seharusnya. Seperti makan soto mie dengan roti (bukan dengan nasi), roti lapis isi gado-gado, spaghetti dengan kuah kari (bukan saos tomat), dan lain-lain. Saya juga sering mengerjakan hal-hal biasa dengan pendekatan-pendekatan yang tidak biasa. Artikel saya di Facebook pernah dikomentari seorang teman yang sedang menempuh pendidikan magister di Amerika Serikat: “Artikelnya pakai kerangka tidak jelas. Seharusnya pakai piramida terbalik, atau plotting. Yang menarik, artikelnya tetap enak dibaca, dengan menampilkan hal-hal secara surprising.”

Foto-foto makanan yang “tidak seharusnya” itu saya posting di Facebook dan Instagram, dan karuan mendapat komentar-komentar yang diawali atau diakhiri dengan kata “seharusnya”. Ada satu teman saya yang merasa ganjil dengan cara saya menyantap soto mie dengan roti. “Apa enak? Kok aneh, sih!”

“Apa yang enak dimakan dengan nasi, pasti enak dimakan dengan roti,” balas saya.

Kita hidup di dunia yang telanjur dicekoki dengan konvensi “harus/tidak harus”. Konvensi adalah suatu hukum atau aturan-aturan tidak tertulis yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, yang timbul karena kebiasaan-kebiasaan. Dalam konteks memetika, konvensi atau adat istiadat tergolong meme, yaitu ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya.

Sejatinya, tidak ada yang harus atau tidak harus dalam kehidupan kita. Konvensi-konvensi tertentu malah mematikan kreativitas kita, menghambat kita untuk berevolusi sebagai manusia, karena kita jadi menutup diri terhadap perubahan, sedangkan perubahan adalah satu-satunya yang pasti dalam hidup. Aturan—tak tertulis maupun tertulis—dibuat untuk menatatertibkan kehidupan bersama, bukan untuk mengatur cara bagaimana satu individu menjalani hidupnya.

Konvensi mengacu pada “melakukan hal-hal secara benar”. Dalam tindakan kreatif, konvensi-konvensi dilanggar maupun dihormati, dan inilah yang membuat sebuah artefak baru dapat dikatakan kreatif dan bisa dimengerti. Lebih jauh lagi, dari perspektif sosio-kultural, pengetahuan dan konvensi yang membentuk apa yang kita sebut “tradisi” tidak pernah menjadi kenyataan yang statis, melainkan lebih terkait dengan kreativitas dan inovasi.

Dalam kaitan dengan Subud, saya pernah dihadapkan pada pertanyaan: “Haruskah beragama atau percaya pada Tuhan untuk bisa ‘diterima’ menjadi anggota Subud?”

Saya pernah mengalami episode tidak percaya Tuhan, sebelum dan sesudah dibuka di Subud. Dalam bahasa Subud, episode ini, bila sudah dibuka, biasanya merupakan pembersihan dari kepercayaan kepada “Tuhan ajaran” (bentuk ketuhanan yang diajarkan dalam agama-agama, dengan sifat-sifat yang diberikan merupakan representasi dari sifat-sifat manusiawi) menuju Tuhan yang dapat dialami melalui rasa. Kepada saya pun pernah diceritakan oleh beberapa pembantu pelatih dan di buku memoar Varindra Vittachi Special Assignment: A Subud Trilogy, bahwa orang yang percaya “Tuhan ajaran” cenderung tidak bertahan lama, dibandingkan mereka yang tidak percaya Tuhan apa pun.

Saya masuk Subud dalam keadaan tidak percaya Tuhan. Saya menanggalkan agama dan kepercayaan saya kepada Tuhan mulai tahun 2003, ketika segala sesuatu yang saya perjuangkan dengan usaha dan doa tidak membuahkan hasil yang saya harapkan. Ketika ngandidat di Subud, saya dilayani oleh pembantu-pembantu pelatih yang membiarkan saya tidak percaya Tuhan, karena di Subud tidak ada ajaran maupun pelajaran. Saya akan mengalami sendiri kelak eksistensi sesuatu yang dikonvensikan sebagai “tuhan”.

Subud adalah jalan berbasis pengalaman (experiential), yang tidak memaksakan “harus/tidak harus”. Anda “dituntut” (oleh diri Anda sendiri) untuk menjadi diri sendiri, dengan aturan-aturan atau pedoman yang hanya cocok untuk Anda sendiri. Bagi orang seperti saya, yang suka melanggar konvensi, pembersihan dari ajaran atau kebiasaan-kebiasaan umum tergolong proses yang mudah. Itulah yang membuat saya bertahan di Subud.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 4 Juli 2020

Wednesday, July 1, 2020

Malaikat Penjaga



SAYA kesengsem pada film seri Touched by an Angel yang diputar oleh salah satu televisi kabel. Saya sering membayangkan, bahkan ketika masih kecil, kehadiran malaikat penjaga (guardian angel) yang menemani saya sepanjang perjalanan hidup saya. Saya membayangkan malaikat itu bagaikan seorang sahabat yang berada di dekat saya dalam suka maupun duka.

Dahulu, saya pikir malaikat penjaga hanyalah khayalan belaka, fantasi kanak-kanak yang diangkat ke layar kaca untuk menghibur pemirsa yang mungkin sedang menderita kesusahan. Tetapi pemikiran itu keliru, sejak saya menerima Latihan Kejiwaan. Meskipun tak tampak, gaib, kehadiran “malaikat penjaga” ini terasa nyata, dalam cara bagaimana ia senantiasa memberi saya jalan keluar.

Saya ingat pada satu pengalaman baru-baru ini.

Tanggal 22 Juni 2020 lalu, dalam perjalanan kembali ke Wisma Subud Cilandak, Jakarta, dari Wisma Subud Bogor, bersama empat saudara Subud dalam satu mobil, saya mendapat pesan WhatsApp dari klien saya, Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal), yang menantikan artikel saya untuk dimuat di majalah The Horizon edisi ke-2 tahun 2020. Jauh hari sebelum hari itu, saya memang sudah diminta, namun karena saya anggap becanda, maka saya santai saja, tidak membuat artikel tersebut. Saya pikir, apalah saya dibandingkan penulis-penulis lainnya yang rata-rata perwira menengah hingga tinggi di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Namun, hari itu, klien—person in charge majalah The Horizon, seorang anggota Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) berpangkat Letnan-Kolonel Laut—terus mendesak, dengan tekanan bahwa tenggat waktunya adalah keesokan harinya. Saya membatin, “Ya, Tuhan, apa yang harus saya tulis? Saya belum begitu memahami dunia angkatan laut.”

Meskipun mendalami kajian militer, fokus saya selama ini hanya pada angkatan darat, sejarah dan strategi perang darat, belum pernah pada angkatan laut.

Tiba-tiba, saya mendengar suara batin saya berkata, “Tidak usah dipikirkan. Relakan saja.”

Saya (membatin): “Tapi aku capek sekali. Aku pengen istirahat hari ini.”

Suara batin: “Ya, istirahatlah secukupnya. Sampai rumah nanti kamu tidur.”

Sampai rumah, saya menyantap makan siang, dan beberapa lama kemudian saya tidur. Terbangun setelah magrib, saya mendesah, terpikir kembali oleh saya bahwa saya harus membuat artikel untuk majalah The Horizon. Saya pun mendengar suara batin—saya menganggapnya suara sang malaikat penjaga—berkata, “Tulislah tentang sesuatu yang paling kamu pahami dan dikaitkan dengan angkatan laut.”

Saya membatin, “Sesuatu yang paling aku pahami? Ya, kereta api dan kuliner. Ada relevansinya dengan angkatan laut?”

Suara batin: “Kamu ingat, apa yang menjadi tema skripsimu?”

Saya (membatin): “Perang urat saraf. Studi awal terhadap perang urat saraf dalam Perang Kemerdekaan RI.”

Suara batin: “Mengapa kamu menulis tentang perang urat saraf?”

Saya (membatin): “Karena terinspirasi Bapak (panggilan untuk ayah saya) yang pernah kursus perang urat saraf di Jerman Barat.”

Saya terpaku. Mendadak, semua kenangan itu mengisi benak saya. Ayah saya, pernah bercerita tentang pengalaman beliau mengikuti kursus perang urat saraf di Jerman Barat, dikirim oleh kantor tempat beliau bekerja, yaitu Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin; sekarang Badan Intelijen Negara/BIN). Beliau menuturkan tentang cara kerja intelijen, yang menaklukkan musuh dengan perang urat saraf. Dalam perang urat saraf (psychological warfare), tindakan yang dilancarkan menggunakan cara-cara psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis yang telah dirancang terhadap orang lain.

Rangkaian dialog-dalam-kenangan dengan ayah saya itu mengerucut pada satu tema: Intelijen. Nah, suara batin saya, berteriak, seolah menggoyang badan saya seperti guru terhadap muridnya yang bodoh: “Tidakkah kamu paham, intelijen relevan dengan angkatan laut. Intelijen adalah mata dan telinga dari angkatan laut maupun angkatan-angkatan lainnya.”

Saya ingin berteriak “Eureka!” (bahasa Yunani yang berarti “Saya telah menemukannya”, yang diteriakkan Archimedes ketika ia menemukan hukum gaya tarik), tetapi hari sudah malam; saya khawatir akan mengejutkan keluarga saya. Saya pun bergegas turun dari tempat tidur dan pergi ke ruang kerja saya, menyalakan komputer, lalu duduk diam menatap layarnya yang telah menyajikan halaman putih pertama dari Microsoft Word. Satu kalimat judul telah tercantum: The Future of Naval Intelligence (Masa Depan Intelijen Angkatan Laut)

Saya (membatin): “Saya harus mulai dari mana?”

Suara batin: “Coba diingat-ingat apa yang pernah Bapak katakan ke kamu.”

Saya memohon kepada Tuhan agar Dia “mengembalikan” saya ke masa lampau, ke momen saya mengobrol dengan ayah saya, lalu saya menenangkan diri dengan perasaan sabar, tawakal, dan ikhlas. Laksana potongan-potongan jigsaw puzzle, satu per satu kenangan-kenangan bersama ayah saya menyatu menjadi satu rangkaian pita seluloid film yang ditayangkan di layar pikiran saya. Saya teringat pada satu episode di mana ayah saya mengatakan betapa lemahnya intelijen militer yang mengabaikan pengkajian sejarah, budaya, dan sosiologi suatu bangsa atau masyarakat, yang akibatnya memberi mereka pondasi analitik yang melenceng.

Dengan ingatan itu, saya pun mulai merancang bangun artikel saya tentang masa depan intelijen yang dihadapkan pada tantangan dalam memperoleh data yang valid. Saya berangkat dari kecenderungan para perwira intelijen yang malas dalam menggali data sehingga berpotensi mengacaukan operasi militer. Saya menyarankan dalam artikel tersebut agar proses pengumpulan data disandarkan pada cara sejarawan, dengan mengklasifikasi data menurut asalnya: data primer (sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara, jajak pendapat dari individu atau kelompok, maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian terhadap benda), data sekunder (sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip, baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum), dan sumber tersier (kumpulan data primer dan sekunder, seperti ensiklopedia atau buku teks). Saya tegaskan dalam artikel saya yang sepanjang empat setengah halaman A4 itu bahwa sebisa mungkin perwira intelijen angkatan laut harus mendapatkan data primer.

Saya juga mengkritisi, bahwa sebagai akibat dari kemalasan mereka, para perwira intelijen dewasa ini cepat percaya pada data sekunder yang mereka peroleh dari internet, bahwa ketergantungan pada teknologi harus diimbangi dengan kemampuan “manual”, sehingga ketika teknologi tidak berfungsi mereka tetap dapat menjalankan tugasnya.

Pada malam itu juga, sejak saya mulai mengerjakannya, saya mengirimkan artikel tersebut ke klien saya.

Keesokan malamnya, dalam bincang-bincang saya dengan senior saya dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang berdinas di TNI Angkatan Laut, terungkap dari pihaknya bahwa intelijen TNI AL khususnya memang malas menggali data, dan cenderung mudah mempercayai informasi yang diperoleh dari internet. Menurutnya, artikel saya layak dibaca oleh Asisten Pengamanan dari Kepala Staf Angkatan Laut (Aspam KASAL), karena menyajikan informasi valid dan aktual. Saya sulit mempercayai bahwa dialog batin saya menghasilkan karya sedemikian rupa. Puji Tuhan!

Saya berterima kasih pada malaikat penjaga saya dan kepada Tuhan yang telah menugaskan malaikat penjaga yang cerdas untuk mendampingi saya terus-menerus.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 1 Juli 2020

Sunday, June 28, 2020

Organisasi Dengan “Isi”


TAHUN 2010, saat di Selandia Baru tengah berlangsung Kongres Subud Dunia, seorang anggota Subud di depan toilet pria di Hall Cilandak berbicara kepada saya yang duduk di sebelahnya. Meskipun tidak akrab, saya cukup mengenal anggota itu: seorang pria usia lanjut, yang masuk Subud ketika dirinya sudah sangat tua (70an), dan pemikir yang kritis yang mendapati kenyataan bahwa di Subud “berpikir kritis” tidak selalu relevan.

Meninggal pada 1 Maret 2019 lalu dalam usia 81 tahun, anggota ini mengutarakan kesebalannya pada berbagai laporan mengenai acara-acara di kongres dunia yang tengah berlangsung di Christchurch, Selandia Baru. Ia merasa agenda acaranya tidak cocok untuk Subud karena, menurutnya, minim aspek kejiwaannya.

Pernyataannya membuat saya terlonjak karena kaget. Meskipun banyak anggota Subud, saya ketahui, memisahkan antara keduniawian dan spiritualitas, atau antara non-kejiwaan dan kejiwaan, tetap saya kaget mendengar pernyataan seperti itu. Merasa barangkali dia salah ucap, saya pun bertanya padanya, “Maksudnya, Pak?”

“Iya, kok yang dibahas hanya masalah organisasi dan enterprise saja. Kejiwaannya mana?” jelasnya, dengan suara parau seakan pita suaranya juga ikut menua sejalan dengan usianya.

“Maksud Bapak dengan ‘bahasan kejiwaan’ apa, ya?” tanya saya, benar-benar bingung.

Bapak tua itu terlihat bingung merespons pertanyaan saya. Mungkin dia menyadari bahwa yang namanya bahasan kejiwaan sesungguhnya tidak ada, karena kejiwaan adalah ranah gaib yang bebas bahasa dan, karena itu, tidak bisa dibahas. Menurut pengertian saya, “kejiwaan” adalah wilayah rasa, yang untuk tiap orang berbeda, sehingga membahasnya hanya akan mengaburkan maknanya.

“Pak Achmad pernah jadi pengurus di Subud?” tanya saya, setelah kagetnya berlalu dan menjadi tenang. Bapak itu menidakkan, dengan alasan bahwa dia tidak tertarik dan hanya mau “berkejiwaan” saja. Saya pun menjelaskan lebih lanjut.

“Subud itu tidak mengenal pemisahan ranah-ranah dunia dan akhirat, Pak. Tidak ada istilah kejiwaan dan non-kejiwaan. Diri kita, luar dan dalam, adalah wadah yang menaungi kedua aspek tersebut. Seperti diterangkan Yang Mulia Bapak, adalah seperti air dan minyak yang disatukan dalam wadah yang sama: Nggak saling mencampuri tapi harmonis dalam wadah tersebut,” kata saya. “Yang Mulia Bapak menyebutnya Ilmu Pisah.”

Saya meneruskan penuturan saya dan si anggota usia lanjut itu mendengarkan dengan saksama. Saya menceritakan pengalaman saya saat mengemban tugas sebagai Wakil Sekretaris Nasional (namun karena aktif berkomunikasi dengan komunitas Subud internasional, para anggota luar negeri menganggap saya adalah “Sekretaris Nasional”-nya untuk masa bakti 2009-2011) di pengurus nasional PPK Subud Indonesia. Saya mengutarakan bahwa apa pun jabatan yang diemban dalam kepengurusan Subud semuanya bertitik tolak pada Latihan Kejiwaan. Dalam berpikir dan merasakan, dalam berkata dan berbuat sebagai “pengurus”, semuanya merupakan ekspresi yang terbimbing Latihan Kejiwaan. Sekalinya mengandalkan akal pikir yang ditunggangi nafsu, maka yang mengemuka adalah kepentingan pribadi yang ujung-ujungnya berbuah konflik antar pribadi. Saya pernah mengalaminya, makanya bisa menceritakan hal ini.

“Itulah sebabnya mengapa rapat-rapat pengurus nasional selalu didampingi Pembantu Pelatih Nasional dan sebulan sekali atau tergantung tuntunan, pengurus dan PP Latihan bersama. Supaya selalu harmonis, selalu rukun. Kalau perkumpulan kita terasa kacau, biasanya karena nggak terisi Latihan. Semua yang terlibat punya kepentingan, apa pun itu,” kata saya.

Si bapak tua itu tertegun. “Jadi, walaupun kelihatannya bukan kejiwaan, tapi sebenarnya acara-acara Kongres Dunia itu ada isi Latihannya ya?” tanyanya, seperti menuntut penegasan saya.

“Betul, Pak. Organisasi kita ini ada ‘isi’nya. Isinya adalah Latihan Kejiwaan. Jadi, Pak Achmad jangan menolak kalau ditawari jadi pengurus. Karena itu kesempatan untuk tumbuh dan berkembang Latihannya Pak Achmad. Pak Achmad jadi bisa belajar me-niteni bekerjanya jiwa, hati, dan akal pikir, sehingga dapat mengendalikan diri,” jawab saya. Anggota uzur itu mengangguk-angguk dalam diam. Selanjutnya, ia mohon diri dan berlalu dari hadapan saya.©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 29 Juni 2020