Monday, September 7, 2026

Beban Penderitaan

KEMARIN siang hingga magrib, saya nongkrong di Teras Timur Hall Cilandak bersama sembilan anggota lainnya. Beberapa di antaranya berbagi wawasan dan pengetahuan yang sebagian dipetik dari ceramah Bapak dan Ibu Rahayu. Sebagian terdengar cukup menakutkan. Saya me-niteni diri, menyaksikan bagaimana diri saya berreaksi terhadap semua yang saya dengar, tetapi suara diri saya berkata, “Jangan percaya semua yang kamu dengar, jangan diingat apapun yang mereka katakan atau pernah kamu baca. Sebaiknya, kamu buang semua kalau itu membebanimu.”                                       

Alhasil, ketika kami bubar dan berjalan ke kendaraan masing-masing untuk pulang, saya perhatikan bahwa tidak ada satupun dari yang di-sharing tadi tersisa jejaknya di pikiran saya. Saya tidak pula berusaha mengingatnya, melainkan hanya let go (merelakannya pergi).

Pagi ini, saya menemukan parabel berikut di Facebook:

Dua orang biksu sedang berjalan bersama ketika mereka tiba di tepi sungai. Di pinggir air, berdiri seorang wanita yang takut untuk menyeberang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, biksu yang lebih tua menggendongnya, membawanya menyeberangi sungai dengan selamat, dan menurunkannya di seberang.

Kemudian kedua biksu tersebut melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa jam kemudian, biksu yang lebih muda tidak tahan lagi untuk tetap diam. “Bagaimana bisa Anda melakukan itu?” tanyanya. “Kita tidak seharusnya menyentuh wanita.”

Biksu yang lebih tua menatapnya dengan tenang dan menjawab: “Aku sudah meninggalkannya di pinggir sungai tadi. Kamu masih membawanya sampai sekarang.”

Kadang-kadang seseorang mengucapkan satu kalimat yang menyakitkan lalu melupakannya begitu saja. Namun kita membawanya terus selama bertahun-tahun. Kita memutarnya kembali dalam pikiran.

Kita menjadikannya sebagai bukti.

Kita mengubahnya menjadi rasa sakit.

Kita menyimpannya di dalam diri seperti batu yang enggan kita letakkan.

Dan jauh setelah momen itu berlalu, kita masih membiarkannya terus berjalan bersama kita.

Beberapa beban tidak bertahan karena bentuknya yang berat. Beban itu bertahan karena kita terus membawanya.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 September 2026

No comments: