Saturday, November 8, 2025

Belajar Pada Diri Sendiri

SEJAK menerima Latihan, saya mulai merasa alergi pada yang namanya belajar pada orang lain, baik secara tatap muka (live) maupun melalui membaca literatur. Makin ke sini, yang ingin saya ketahui atau pelajari, segera saya mendapat bimbingan ke arah subjek ajaran.

Seperti pengalaman saya tadi malam. Sebelum tidur, saya teringat cerita dari Stuart Cooke bahwa kalau ia galau ia akan membaca buku Susila Budhi Dharma. Saya kebetulan menyimpan PDF buku tersebut di ponsel saya, dan itulah yang saya baca. Saya membaca bait-bait yang berbahasa Jawanya, walaupun saya tidak paham bahasa Jawa.

Saya baca yang pupuh Kinanti, yang memiliki 60 pada (bait), tentu dengan ketidaklancaran yang parah, karena saya tidak familiar dengan tulisan latin dari bahasa Jawa. Bahkan saya sendiri tidak suka mendengar suara saya saat melisankan bacaan itu. Saat itulah, saya membatin: “Seharusnya saya ikut kegiatan Mocopatan di Wisma Subud tiap hari Minggu, belajar di situ aja cara membacanya dan nembang.”

Tiba-tiba, saya merasakan sesuatu menggerakkan mulut dan pita suara saya. Di luar dugaan saya, saya mulai nembang dengan pengucapan kata-kata bahasa Jawa yang lancar mengalir, smooth, dan getaran pada suara saya terasa merasuk ke dalam diri saya, menyebar ke semua persendian dan saluran peredaran darah saya. Saya jadi tidak ingin buru-buru menyelesaikan (seperti halnya bila saya bosan).

Mulut saya dengan ahli mengatur pola melodi atau alunan nada yang meliuk-liuk dan bervariasi, yang terasa indah. Hal itu jelas tidak bisa saya lakukan bila saya mengandalkan pikiran.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 8 November 2025

Tuesday, November 4, 2025

Menangis di Ruang Ujian

MESKI tidak sedikit yang menunjukkan kekaguman begitu mengetahui bahwa saya berkuliah di Universitas Indonesia, sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka yang diincar banyak sekali—kalau tidak bisa dikatakan semua—lulusan SMA, saya bukanlah mahasiswa terpandai di sepanjang karier kemahasiswaan saya di Universitas Indonesia. Dua semester ganjil pertama saya, saya terancam dropout (DO) karena Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya di bawah 1,75. Saya jadi harus belajar ekstra keras agar terhindar dari DO, yang tentunya akan membuat orang tua saya malu dan kecewa.

 



Tetapi memang saya lebih banyak main dan nongkrongnya, alih-alih kuliah yang rajin. Pada matakuliah-matakuliah wajib, yang karena itu saya ambil dengan terpaksa meski pengajarannya membosankan, seringnya saya menitip pada teman untuk menorehkan tanda tangan di daftar presensi. Alhasil, ya, nilai ujian saya pun tergolong rendah.

Bahkan ketika menyaksikan sejumlah senior saya—yang sebelumnya saya pandang sebagai mahasiswa super pintar—berguguran dalam ujian komprehensif (ujian lisan seluruh matakuliah wajib Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia atau FSUI), saya tetap santai dan kerap bolos kuliah. Namun, ketika saya sendiri menghadapi ujian kompre (demikian sebutan populernya di kalangan mahasiswa FSUI kala itu), barulah saya kelabakan.

Sebuah surat pemberitahuan yang diterbitkan Jurusan Sejarah FSUI dan ditujukan ke saya terasa bagaikan “surat perintah pelaksanaan hukuman mati” dalam waktu yang singkat. Ya, memang, waktu yang tersedia bagi saya untuk membaca 53 literatur wajib kompre hanya dua minggu, sedangkan sebagian besar dari jumlah literatur itu belum pernah saya baca sebelumnya.

 




Satu sahabat saya, Januar, lantas memaksa saya mengikuti “pemusatan latihan nasional” (Pelatnas) di bawah bimbingannya. Sahabat saya, yang bagi sebagian besar mahasiswa Sejarah FSUI menyebalkan itu, sejatinya memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Saat itu, dia sudah lolos dari ladang pembantaian kompre dan tengah menuntaskan penyusunan skripsinya.

Di bawah gemblengannya, saya termotivasi untuk mengatasi rasa malas saya. Saya menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari, termasuk akhir pekan, untuk membaca ke-53 literatur wajib tersebut. Diselingi pendalaman melalui diskusi dengan sang mentor—yang mengancam akan memutuskan persahabatan kami bila saya gagal kompre akibat kebodohan dan kemalasan saya.

Tanggal 2 November 1992, siang, saya memasuki ruang ujian di lantai 2 Gedung III Kampus FSUI Depok, Jawa Barat. Panitia ujiannya terdiri dari dosen-dosen yang terkenal “killer”. Pertanyaan demi pertanyaan mencecar saya, kebanyakan membuat saya tersudut karena kurang siap. Bayangkan, pertanyaannya kadang terkesan usil: “Anda sudah baca Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI? Sebutkan Daftar Isinya!”

Tentu saja, saya kelabakan, karena selama Pelatnas dua minggu itu, saya tidak terpikir sama sekali untuk menghafal daftar isi.

Usai kompre, saya dipersilakan meninggalkan ruang ujian, sementara para dosen penguji berunding untuk meloloskan saya atau tidak. Di luar ruang ujian, saya menahan tangis di depan dua sahabat saya, Januar dan Adi Nusferadi. Terbayang oleh saya, saya harus mengulang kompre. Setiap mahasiswa diberi kesempatan mengulang dua kali secara lisan, dan sekali dengan presentasi makalah. Bila gagal juga di presentasi makalah, mahasiswa harus dropout.

Ketika saya dipanggil masuk ruang ujian lagi, saya tidak dapat menahan air mata saya. Ketua Panitia Ujian, Pak Soetopo Soetanto, melihatnya dan bertanya, “Anda kenapa?”

“Maafkan saya, Pak, saya nangis. Saya benar-benar nggak siap,” kata saya sesenggukan.

“Saya kira Anda harusnya menangis bahagia...,” kata Pak Topo, “...karena kami memutuskan Anda lulus dengan nilai C. Selamat ya. Semoga Anda lebih baik lagi di sidang skripsi nanti.”

Di situ saya benar-benar meluapkan tangis saya.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 4 November 2025

Monday, November 3, 2025

“Inner Bag”

 


BEBERAPA waktu lalu, istri membelikan tas ransel buat saya melalui toko daring. Saya memang penyuka ransel karena tidak mengganggu gerakan saya ketika berkendara roda dua atau berjalan kaki. Ransel yang dibelikan istri tergolong murah, dengan kantong untuk botol air di kedua sisinya dan tiga kompartemen besar serta kantong untuk laptop di bagian dalamnya.

Bagaimanapun, bagi saya jumlah kompartemennya masih kurang, terutama untuk menyimpan barang-barang printilan (antara lain dompet, ponsel, kotak kartu nama dan kotak kacamata). Tak kehabisan ide, saya selipkan tas pinggang saya yang memiliki cukup banyak kompartemen ke dalam bagian paling besar dari ransel itu, dan ternyata pas. Ketika saya ceritakan hal ini ke istri, dia berkomentar, “Oh itu inner bag namanya.”

Istri selanjutnya menjelaskan bahwa inner bag adalah tas kecil atau kantong yang dimasukkan ke dalam tas yang lebih besar untuk membantu mengatur dan memisahkan barang-barang agar tetap rapi.

Inner bag pouch adalah tas kecil dengan banyak kompartemen untuk menyimpan barang-barang penting seperti dompet, ponsel, dan kunci agar lebih mudah diatur di dalam tas yang lebih besar seperti ransel atau tote bag.

Saya belajar hal baru lagi nih. Mungkin sudah banyak yang tahu dan saya ketinggalan informasi, tapi tak apalah, yang penting pengetahuan ini berguna bagi saya.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 3 November 2025

Sunday, November 2, 2025

Pesan Whatsapp Kepada Pembantu Pelatih Senior New York

 



Berikut adalah pesan WhatsApp saya kepada seorang bule Amerika Serikat yang merupakan pembantu pelatih Subud New York yang sudah sepuluh tahun tinggal di Indonesia. Pesan aslinya dalam bahasa Inggris...

 

HI S, tadi malam, saya bermalam Minggu di Nasi Kulit Ayam Gokskin Cilandak Barat, bersama beberapa anggota dan pembantu pelatih dari Jakarta Selatan, Pusat, Timur dan Bogor (karena hujan sejak magrib, banyak yang berhalangan hadir). Tetapi yang luar biasa adalah kesediaan Pembantu Pelatih Daerah Cabang Jakarta Selatan, Pak RAP, dan Pembantu Pelatih Daerah Cabang Jakarta Pusat, LU, untuk memenuhi undangan saya untuk menemani gathering santai para anggota ini.

Saya salut dengan Pak RAP yang demi memenuhi permintaan anggota sampai rela mencari penginapan di dekat Wisma Subud Cilandak untuk beliau dan istri menginap, karena beliau tahu bahwa gathering di Gokskin selalu sampai larut malam. Rumah beliau sendiri cukup jauh, di Bekasi.

Karena gathering-nya santai, dan yang mengadakan adalah para anggota yang tergabung dalam grup WhatsApp “Subud 4G” (yang saya buat sejak tahun 2016 dan saya salah satu adminnya), maka terjadilah momen berbagi yang menurut saya “blak-blakan”, tidak ada “menahan diri”. Pak RAP tahu bahwa Cabang Jakarta Selatan menjadi sorotan terutama karena rendahnya kualitas para pembantu pelatih dalam memenuhi tugas dan tanggung jawab mereka, termasuk melanggar banyak petunjuk Bapak kepada pembantu pelatih.

Pak RAP sendiri ada di grup WhatsApp Subud 4G dan membaca (silent reader) berbagai komentar miring mengenai kualitas dan kondisi para pembantu pelatih Jakarta Selatan. Tetapi, seperti kata Harris Roberts, selaku Pembantu Pelatih Daerah, Pak RAP benar-benar bekerja. Beliau tidak tinggal diam dengan ulah sebagian besar pembantu pelatih Jakarta Selatan yang merugikan kandidat dan anggota. Beliau mengakui, tidak sedikit pembantu pelatih Jakarta Selatan yang “menjadi pembantu pelatih hanya sekadar ingin memiliki ‘gelar’ itu” atau menganggapnya sebagai jabatan dengan kekuasaan atas anggota.

Beliau bercerita semalam bahwa secara bertahap beliau dan segelintir pembantu pelatih yang berpihak padanya melakukan upaya-upaya untuk mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Beliau meminta kerja sama dari yang hadir tadi malam, terutama yang dari Cabang Jakarta Selatan, untuk duduk bersama membahas apa yang kiranya bisa dilakukan, sehingga saya bercerita kepada beliau apa yang kamu, saya dan Harris upayakan pula.

Insiden RU marah dan mengusir kamu dari pertemuan kandidat ternyata juga dibahas dalam Rapat Cabang Jakarta Selatan pada hari Minggu, 26 Oktober 2025. Tetapi LU (yang hadir sebagai undangan mewakili Cabang Jakarta Pusat) dalam kesempatan itu telah menyampaikan kritiknya terhadap cara RU menangani keadaan, karena terjadi di depan para kandidat, yang menyaksikan pertengkaran di antara para pembantu pelatih sehingga mungkin dapat mempengaruhi pandangan mereka terhadap Subud. Pak RAP menyesalkan kejadian itu dan merasa seharusnya RU bisa menyelesaikan secara baik-baik, apalagi dia berpengalaman sebagai Pembantu Pelatih Daerah dan Pembantu Pelatih Nasional.

Saya rasa, dalam pertemuan kita berikutnya kita ajak pula Pak RAP dan para pembantu pelatih yang berpihak pada upaya beliau, seperti IH (pemilik Gokskin).©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 November 2025

Memungut Pelajaran di Jalan

TADI malam, usai gathering Back to Babble (B2B) di Nasi Kulit Ayam Gokskin, Jl. Caringin Barat No. 13, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, saya tidak langsung pulang, melainkan mengantar teman saya yang masih ngandidat ke apartemennya di Jl. Puri Sakti II, Cipete Selatan.

Saya sempat cemas begitu melihat penunjuk BBM motor saya sudah mendekati E (habis), sedangkan jarak yang harus saya tempuh masih lumayan jauh. Saya dan teman saya meninggalkan Gokskin mendekati jam 00.00, yang saya perkirakan tidak ada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang masih buka. Akhirnya, yah, saya pasrah saja.

Keluar dari Jl. Melati yang bermuara di Jl. RS Fatmawati, saya pacu motor saya ke arah utara agar bisa lewat Jl. Cipete Raya. Karena belokan dari Jl. RS Fatmawati ke Cipete Raya sudah lama ditutup, saya hanya bisa memutar balik di U-Turn lebih dari 1,5 km dari jalan akses ke Cipete Raya yang sudah ditutup itu. Yang menjadi patokan saya adalah kedai kopi Tokonoma di sisi kiri Jl. RS Fatmawati ke arah Blok M—U-Turn-nya berada di depannya. Tetapi saya kebablasan. Menyadari bahwa U-Turn itu terlewat oleh saya, padahal saya sudah memberi sinyal lampu kanan, saya mengutuk diri saya sendiri, karena jarak tempuh motor saya jadi semakin jauh, sementara penunjuk ketersediaan bensin di tangkinya sudah “berteriak” minta diisi.

Bagaimanapun saya tetap memacu motor saya dalam kecepatan sedang, supaya tidak terlewat lagi U-Turn berikutnya. U-turn berikutnya terletak sekitar 500 m dari U-Turn sebelumnya (yang di depan Tokonoma). Saya berbelok di situ, masih menggerutu dan mengutuk kebodohan saya. Tiba-tiba kekesalan pada diri saya sendiri sirna begitu melihat SPBU Pertamina, sekitar 270 m dari U-Turn itu. “Puji Tuhan!” batin saya.

Setelah itu, suara diri saya berkata, “Bukankah kamu mencari pom bensin? Kenapa marah begitu kamu diarahkan menuju tempat yang kamu cari?! Ingat, Tuhan tidak pernah salah memberi petunjuk! Ego kamu saja yang tidak suka dengan petunjukNya, karena kamu sering memilih mengikuti apa yang menurutmu benar, alih-alih yang menurut Tuhan itu baik bagimu!”©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 2 November 2025

Thursday, October 30, 2025

Gorengan: Keramahan Sederhana Masyarakat Indonesia

 


GORENGAN. Satu kata, namun memanggil ribuan kenikmatan. Mulai dari tempe goreng tepung yang hangat, bakwan renyah, hingga pisang goreng yang manis legit. Di Indonesia, ia bukan sekadar camilan; gorengan adalah fenomena budaya, penawar lapar di kala darurat, dan teman setia untuk segala suasana. Tak heran, dari pinggir jalan hingga meja makan restoran, posisinya selalu terdepan dan tak pernah sepi peminat.

Apa yang membuat gorengan begitu mendarah daging dalam keseharian masyarakat Indonesia? Jawabannya terletak pada kombinasi tiga hal utama: rasa, aksesibilitas, dan harga.

Gorengan menawarkan perpaduan tekstur dan rasa yang sulit ditolak. Lapisan tepung yang garing di luar, namun lembut dan gurih di dalam, ditambah dengan sentuhan bumbu rempah sederhana seperti bawang putih dan kunyit—semuanya menciptakan cita rasa yang akrab di lidah. Apalagi bila dicocol sambal kacang, saus pedas, atau ditemani gigitan cabai rawit hijau, kenikmatannya langsung naik berlipat ganda.

Di mana pun Anda berada—di sudut kota metropolitan, di pasar tradisional, atau bahkan di depan gang perumahan—pedagang gorengan hampir selalu ada. Mereka ibarat pahlawan kuliner cepat saji lokal. Praktis, sudah matang, dan bisa langsung disantap. Bagi para pekerja, mahasiswa, atau anak kos, gorengan adalah penyelamat saat lapar mendadak atau sebagai menu sarapan yang ringkas.

Dengan harga yang sangat terjangkau, seringkali hanya Rp1.000 hingga Rp3.000 per potong, gorengan mampu menembus semua lapisan ekonomi. Ia adalah camilan demokratis yang dapat dinikmati siapa saja, dari anak kecil hingga orang dewasa, tanpa perlu menguras dompet. Ini menjadikannya camilan "seribu umat" yang sesungguhnya.

Secara historis, kebiasaan menggoreng bukanlah teknik memasak asli Nusantara. Para peneliti dan sejarawan menduga teknik menggoreng deep-fry (goreng rendam minyak) diperkenalkan ke Indonesia melalui budaya kuliner Tiongkok sekitar abad ke-16.

Namun, tradisi ini baru benar-benar menjamur dan menjadi masif di seluruh pelosok negeri sejak abad ke-19, seiring dengan munculnya industri minyak kelapa dan, yang paling signifikan, industri minyak sawit pada era 1970-an. Ketersediaan minyak goreng yang melimpah dan harga yang semakin terjangkau mengubah kebiasaan memasak di dapur rumah tangga dan memicu ledakan variasi gorengan yang kita kenal hari ini.

Meskipun kenikmatan gorengan sulit dibantah, perlu diingat bahwa konsumsi berlebihan memiliki risiko kesehatan. Kandungan minyak yang tinggi sering dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan kolesterol tinggi.

Kuncinya adalah keseimbangan. Menikmati dua potong bakwan renyah di sore hari tentu sah-sah saja, selama diimbangi dengan gaya hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi lainnya.

Pada akhirnya, kesukaan pada gorengan bukan hanya tentang memuaskan lidah. Ini adalah sebuah cerminan budaya, sejarah, dan keramahan sederhana yang disajikan hangat di sudut jalan—buktikan bahwa kadang, kenikmatan terbesar datang dalam bentuk yang paling sederhana dan renyah.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 30 Oktober 2025

Saturday, October 25, 2025

Obituari: Harry N.P. Danardojo (8 November 1965-26 Oktober 2025)

 


DIBERITAKAN sebuah mobil mewah Lexus tertimpa pohon yang tertiup angin kencang pada siang hari sekitar pukul 14.15 WIB, 26 Oktober 2025. Pengendaranya tewas akibat kejadian itu. Belakangan saya mengetahui siapa korbannya, yaitu seorang saudara Subud Jakarta Selatan yang sudah lama tidak Latihan.

Saya mengenalnya pertama kali ketika saya balik ke kota kelahiran saya, Jakarta, pada bulan Juli 2005, setelah bergabung dengan sekelompok saudara Subud. Harry Nugroho Prasetyo Danardojo namanya, mantan managing director di PT Danareksa (Persero) saat itu dan juga anggota Subud yang tidak terlalu aktif.

Berusia dua tahun lebih tua dari saya, Mas Harry, begitu saya memanggilnya, memiliki “urat kaya”. “Apa saja yang disentuh Harry berubah menjadi emas,” kata almarhum Pak Mulyono Hardjopramono, pembantu pelatih yang membuka Mas Harry di Subud sekaligus rekan kerja di Danareksa. Bersama saya, almarhum Pak Mul, almarhum Pak Otjo Wiroreno, Armansyah, Achmad As’ad Luthfie, Agus Ichwanto, dan Nugroho Putut Wibowo (semuanya anggota Subud), Mas Harry pada 10 Desember 2005 di Ciganjur, Jakarta Selatan, mendeklarasikan berdirinya Yayasan Nurus Subhi Institute (NSI), sebuah wahana untuk menyebarluaskan mentalitas enterprise yang terbimbing Latihan Kejiwaan.

Kekayaannya membuat saya iri pada Mas Harry, hingga suatu hari di tahun 2006, saya memendam niat untuk menyampaikan kepada beliau betapa irinya saya pada beliau. Saat itu, para pendiri NSI akan bertemu untuk rapat, di kantor saya, Tiga PR, di kompleks Hanggar Teras Pancoran. Yang pertama tiba di Tiga PR adalah Pak Mul, Mas Harry dan saya. Kami menunggu yang lain di ruang rapat. Saat itulah saya mau mengungkapkan rasa iri saya kepada Mas Harry, tapi keduluan Mas Harry bicara ke Pak Mul: “Nyuwun sewu, Pak Mul, saya itu iri pada Mas Anto!”

Bercanda, Pak Mul bilang, “Lho, wong sugih kok iri pada wong kere?!”

Mas Harry berkata dengan serius, “Beneran, Pak. Saya serius. Saya iri pada Mas Anto. Saya lihat Friendster-nya, dia jalan-jalan ke Bali, ke mana-mana, dan dibayar pula! Nyuwun sewu, Pak Mul, saya sudah lima tahun tidak liburan! Saya hanya bekerja menimbun uang tapi tidak punya waktu untuk menikmatinya! Saya iri sama Mas Anto, waktu kerjanya adalah dengan jalan-jalan. Dia dibayar untuk liburan!”

Saya terenyak, tidak menyangka akan mendengar langsung dari seorang super kaya bahwa ia iri pada saya. Saya sepatutnya bersyukur bahwa kekayaan saya adalah waktu yang melimpah untuk menikmati hidup.

Malam ini, saya mendapat kabar bahwa Mas Harry telah dipanggil Sang Pencipta. Saya saksi bahwa almarhum adalah orang yang baik, kaya tetapi tidak sombong. Semoga arwahnya selalu dalam kemurahan Tuhan Yang Maha Esa.©2025


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Oktober 2025