Toh diberi juga
Thursday, November 17, 2016
Adilkah Tuhan?
Toh diberi juga
Saturday, October 8, 2016
Pikiran Anak Enam Tahun
APAKAH salah bila ingin mempermudah hidup?
Tadi pagi, saat bersama istri sarapan mie ayam di depan BCA Kemang, Jakarta Selatan, saya melihat balon mengudara tinggi di langit. Ada penjual balon di seberang jalan, dan tampaknya balon yang terbang itu putus benangnya.
Balon itu membawa ingatan saya terbang ke saat saya berusia enam tahun. Saya saat itu, karena sedang musim layangan, mencoba menerbangkan layangan yang saya beli seharga sepuluh rupiah. Sulit sekali menerbangkannya. Saya iri pada teman-teman yang berhasil menerbangkan layangan mereka. Saat itu, lewatlah penjual balon gas. Bersama dengan itu, terlintas di benak saya ide untuk mengikatkan layangan pada balon yang pada gilirannya akan menerbangkannya tinggi ke langit. Sesederhana itu pikiran anak usia enam tahun!
Semakin dewasa, “pikiran anak enam tahun” masih membekas di diri saya (makanya saya senang dengan dan tidak berniat mengganti nama “Anto”, yang bermakna “anak”, supaya saya selalu mampu berpikir kreatif layaknya anak-anak). Pikiran sederhana ala kanak-kanak itu yang rupanya mempermudah hidup saya dan membuat cara pandang saya terhadap segala sesuatu selalu sederhana. Seperti, contohnya, waktu nonton film Everest di HBO baru-baru ini, “pikiran anak enam tahun” saya bilang, “Ngapain susah-susah, mempertaruhkan nyawa untuk mendaki puncak Everest? Kalau aku sih naik helikopter aja, cepat dan gampang.”
Tapi istri saya tidak sependapat. Menurutnya,
ada pembelajaran di dalam proses yang dilalui secara bertahap. Itulah bedanya
antara cara berpikir orang dewasa dan anak-anak. Yang bilang bahwa berpikir
simpel itu tidak simpel pasti sudah menanggalkan jiwa kanak-kanak mereka. Kalau
saya, tetap mengandalkan “pikiran anak enam tahun” saya, karena terbukti
memudahkan hidup saya.©2016
Kalibata Selatan
II, Jakarta Selatan, 9 Oktober 2016
Wednesday, August 10, 2016
Memetik Memetika
- Kemarahan,
- Ketakutan,
- Kelaparan, dan
- Nafsu berahi.
Tuesday, June 21, 2016
Menapaktilasi Perjalanan Pak Subuh Dari Stasiun ke Stasiun
![]() |
| Foto tahun 1930 dari gedung "Lawang Sewu" di Kota Semarang yang merupakan kantor pusat NIS. (KITLV) |
![]() |
| Stasiun Kalitidu tahun 2015. (Wikipedia) |
| Bangunan bekas Stasiun Buyaran yang berubah fungsi menjadi toko. |
![]() |
| Peta jalur-jalur Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij pada bulan Mei 1902. (KITLV) |
| Bangunan bekas Stasiun Pamotan yang merana di usia tuanya. |
![]() |
| Overkapping (atap peron) Stasiun Kedungjati yang desainnya menyerupai yang terdapat di Stasiun Ambarawa dan Stasiun Purwosari. |
![]() |
| Saya berselfie ria dengan latar belakang Stasiun Kedungjati yang saya kunjungi pada 7 Februari 2016. |
Tuesday, May 31, 2016
YOU
Loving you is like a mirror for me to see
that you and me aren't very far apart
Because you belong to that special place in my heart...
I smell the dews of the morning's mist
I send you kisses from afar with liking
With those I write a poem of bliss...
Sunday, January 17, 2016
The Eyes of Love
Loving you is thus like loving myself
The kind of love
that God bestowed upon me
It is so grand that I see Him
right before my eyes
The eyes that looked at you
and made me feel I saw myself...
Mencintaimu, karena itu, adalah seperti mencintai diriku sendiri
Cinta yang Tuhan karuniakan kepadaku
Cinta yang begitu agung sampai aku melihat kehadiranNya
tepat di depan mataku
Yaitu mata yang menatapmu
dan membuatku merasa aku melihat diriku sendiri...
Monday, January 11, 2016
Rasaku Yang Sederhana
tapi aku menghirup wewangimu dari jarak tak terbayangkan
Engkau bukan foto
tapi aku betah menatapmu yang memancar pendar-pendar emas
Engkau bukan kitab suci
tapi membaca hatimu, namaNya terucap dari mulutku
Engkau adalah sempurna dalam rasaku yang sederhana
Sederhana ku membatin, aku mencintaimu...








