Thursday, November 17, 2016

Adilkah Tuhan?

Kita tidak pernah minta dilahirkan, 
pun tak bisa mencegah kematian
Kita tidak pernah minta diberi otak untuk berpikir
Toh diberi juga
Dan dengan pikiran kita ciptakan Tuhan
Lantas kita mengira ciptaan pikiran kita itu
Menghendaki kita harus begini dan begitu
Yang bila kita melakukannya dapat surga, tidak melakukan dapat neraka
Kenapa pula yang tidak minta dilahirkan, pun tak bisa mencegah kematian
Harus menanggung pahala atau dosa?


Surabaya, 3 November 2016

Saturday, October 8, 2016

Pikiran Anak Enam Tahun


APAKAH salah bila ingin mempermudah hidup?

Tadi pagi, saat bersama istri sarapan mie ayam di depan BCA Kemang, Jakarta Selatan, saya melihat balon mengudara tinggi di langit. Ada penjual balon di seberang jalan, dan tampaknya balon yang terbang itu putus benangnya.

Balon itu membawa ingatan saya terbang ke saat saya berusia enam tahun. Saya saat itu, karena sedang musim layangan, mencoba menerbangkan layangan yang saya beli seharga sepuluh rupiah. Sulit sekali menerbangkannya. Saya iri pada teman-teman yang berhasil menerbangkan layangan mereka. Saat itu, lewatlah penjual balon gas. Bersama dengan itu, terlintas di benak saya ide untuk mengikatkan layangan pada balon yang pada gilirannya akan menerbangkannya tinggi ke langit. Sesederhana itu pikiran anak usia enam tahun!

Semakin dewasa, “pikiran anak enam tahun” masih membekas di diri saya (makanya saya senang dengan dan tidak berniat mengganti nama “Anto”, yang bermakna “anak”, supaya saya selalu mampu berpikir kreatif layaknya anak-anak). Pikiran sederhana ala kanak-kanak itu yang rupanya mempermudah hidup saya dan membuat cara pandang saya terhadap segala sesuatu selalu sederhana. Seperti, contohnya, waktu nonton film Everest di HBO baru-baru ini, “pikiran anak enam tahun” saya bilang, “Ngapain susah-susah, mempertaruhkan nyawa untuk mendaki puncak Everest? Kalau aku sih naik helikopter aja, cepat dan gampang.”

Tapi istri saya tidak sependapat. Menurutnya, ada pembelajaran di dalam proses yang dilalui secara bertahap. Itulah bedanya antara cara berpikir orang dewasa dan anak-anak. Yang bilang bahwa berpikir simpel itu tidak simpel pasti sudah menanggalkan jiwa kanak-kanak mereka. Kalau saya, tetap mengandalkan “pikiran anak enam tahun” saya, karena terbukti memudahkan hidup saya.©2016

 

Kalibata Selatan II, Jakarta Selatan, 9 Oktober 2016

Wednesday, August 10, 2016

Memetik Memetika

TAHUN 2005, menyusul kepindahan saya dari Surabaya ke Jakarta, saya berkenalan dengan seorang saudara SUBUD, anggota Cabang Jakarta Selatan, yang telah lama mempelajari perihal memetika. Salah satu konklusinya adalah bahwa Latihan Kejiwaan memudahkannya mendapatkan pengalaman ketuhanan langsung, sehingga ia berani menegaskan bahwa “Tuhan bukan meme”; Tuhan bukan gagasan yang diulang-ulang selama ribuan tahun oleh oknum-oknum bergelar nabi atau utusan, melainkan keberadaanNya dapat dialami langsung oleh rasa kita.

Dewasa ini, media sosial merupakan salah satu saluran penyebar meme paling gencar, kuat dan mengakar, membuat siapa pun yang bergiat di medsos gampang sekali terpedaya, dan gampang menganggap suatu meme sebagai “kebenaran absolut”. Anggota SUBUD yang sudah menerima Latihan Kejiwaan seharusnya sanggup membentengi diri dari pengaruh meme—berhasil atau tidaknya tergantung bagaimana kita bersikap terhadap meme: apakah kita gampang marah, senang, tersanjung, atau tersandung saat menghadapi apa pun yang di-posting di medsos.

Apakah meme?

Memetika adalah ilmu yang mendedah “meme” sebagai bahan baku dasar pembentuk mental, sebagaimana genetika mendedah gen sebagai bahan baku dasar pembentuk kehidupan fisik. Replikasi mental merupakan kemampuan yang memisahkan manusia dengan primata lain. Bahasa, budaya, agama merupakan produk-produk yang dimungkinkan karena adanya replikasi mem, seperti halnya gen bereplikasi membentuk gugusan sel hingga menjadi tubuh yang mampu bereproduksi dan mempertahankan diri. 

Dunia sudah mengenal gen sebagai sebuah abstraksi yang bertanggung jawab pada kondisi biologis manusia. Gen adalah cetak biru kehidupan, yang bertanggung jawab membuat organ dan apa yang tampak dari tubuh kita. Ilmu biologi sudah mengakui eksisnya gen ini sejak dahulu.

Kemudian muncul pemahaman baru dari para ilmuwan biologi seperti Richard Dawkins, Richard Brodie, Daniel Dennett, serta Susan Blackmore, yang meyakini bahwa di samping gen yang mengatur kondisi biologis manusia, ada sebuah abstraksi lain yang bahkan amat penting menyetir kondisi manusia. Tak lain adalah meme (baca: mim) atau mem. Meme adalah adalah apa yang ada di dalam otak manusia, sesuatu yang mengatur lahirnya ide. Meme adalah pelengkap. Bila gen mengatur biologis, meme mengatur pemikiran. Meme melahirkan ide dan pemikiran. Memetika (memetics) adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari mengenai meme atau pembentukan ide manusia.

Meme, yang biasa dilafalkan mim, oleh Richard Brodie disebut sebagai "batu-sendi kebudayaan sebagaimana gen adalah batu-sendi kehidupan yang mampu membentuk bangsa, bahasa, agama. Lebih dari itu, meme dalam ruang lingkup kecil juga menjadi batu-sendi akalbudi, pemrogram "komputer" mental kita. 

Sebelum diberi pengertian itu, kata meme ini dicetuskan oleh seorang ahli biologi perilaku dari Oxford University, Richard Dawkins, dalam bukunya, The Selfish Gene (1976). Dawkins mendefinisikan meme sebagai unsur dasar penyebaran atau peniruan budaya. Sedangkan pengetahuan tentang cara-cara kerja meme yang memiliki pola berinteraksi, berlipatganda, dan berevolusinya itu namanya memetika. 

Melalui pendekatan memetika inilah kita dapat memahami bahwa globalisasi sesungguhnya adalah bagian dari upaya penyebaran meme atau ide. Ini sesuai dengan sifat dasar meme untuk menyebarkan dirinya. Maka Korean Pop yang tengah digandrungi segenap kalangan masyarakat Indonesia (bahkan dunia) sebelumnya hanya berawal dari meme atau ide seorang penggagas. Lama-kelamaan meme tersebut mereplikasi diri dan menyebar ke seluruh dunia. Mencoba menggandakan diri, terus-menerus. Hingga akhirnya meme tersebut menjadi tidak efektif dan tergantikan meme baru yang lebih segar dan bagus.

Sebagai spesies yang bertarung melawan alam selama jutaan tahun, agenda genetika selalu menggiring kita untuk bereaksi kuat terhadap isu seks, makanan, dan bahaya. Seiring dengan itu, tombol primordial memetika tak pelak adalah:  
  • Kemarahan,
  • Ketakutan, 
  • Kelaparan, dan 
  • Nafsu berahi. 

Menarik untuk direnungkan bahwa yang membuat sebuah informasi berkembang sesungguhnya bukan persoalan “penting” dan “tidak penting”, “berguna” dan “tidak berguna”, melainkan seberapa banyak tombol primordial kita yang ditembaknya sekaligus.

Para pengiklan tahu bahwa siluet tubuh perempuan bisa membantu penjualan sebuah mesin pompa air, yang sesungguhnya tidak punya hubungan langsung dengan lekuk pinggul dan belahan dada. Mereka juga bisa menyembunyikan bahaya rokok dalam sosok laki-laki gagah yang berarung jeram di alam nan indah. Begitu juga dengan liputan berita yang kerap menciptakan suasana kritis agar pemirsa merasa terdesak dan tercekam. Reporter berwajah santai dan mengatakan “semua baik-baik saja” tidak akan menularkan meme kuat yang menjadikan berita itu punya nilai penting (atau tepatnya nilai jual).

Seberapa pun hebat urgensi yang ditawarkan, apa yang kita konsumsi seringkali bukanlah apa yang kita butuhkan. Ini mengingatkan saya pada penelitian Masaru Emoto; bagaimana molekul air rusak ketika didekatkan pada televisi yang memutar adegan kekerasan, dan sebaliknya, molekul air membentuk gugus heksagonal saat diputarkan dokumenter alam. Tampilan dunia yang baik-baik saja ternyata memperbaiki tubuh kita sampai level molekular, sementara dunia yang keras dan bahaya—walau rating-nya lebih tinggi—ternyata merusak kita sama besarnya.

Virus pikiran juga bekerja melalui asosiasi dan repetisi. Ketika artis-artis yang bercerai habis-habisan diekspos, orang mulai percaya bahwa artislah jenis manusia yang paling rentan kawin-cerai, bahkan menjadi motor penggerak bagi rakyat untuk ikut tren sama. Padahal jumlah artis yang bercerai hanyalah noktah tak berarti dibandingkan kasus perceraian yang terjadi di masyarakat umum.

Patriotisme sebagai nilai tidak muncul spontan sejak kita lahir. Kita diprogram melalui repetisi upacara setiap Senin pagi dan penataran Pancasila setiap naik jenjang sekolah. Keinginan beragama tidak muncul begitu saja; seorang anak diprogram mulai dari nol melalui repetisi dan asosiasi tentang adanya hadiah bernama surga, hukuman bernama neraka, dan bos besar yang lebih berkuasa daripada orang tuanya bernama Tuhan.


Memetika sebagai ilmu yang relatif masih muda mampu memberi perspektif segar untuk memilih, memilah, bahkan berhenti sejenak dari bombardir informasi yang menginvasi pikiran kita. Tidak heran jika dalam hampir semua buku memetika yang ada, meditasi selalu jadi bahasan penutup, semacam antiviral yang dianjurkan. Bukan karena meditasi adalah bagian dari mem religi tertentu, tapi itulah satu-satunya metode yang membalikkan proses invasi mem: hening, diam, mengamati, tanpa bereaksi. Para anggota SUBUD punya Latihan Kejiwaan, yang bukan meditasi, bahkan dianggap melampaui meditasi (kecuali informasi ini merupakan meme-nya SUBUD). Kita perlu membekali diri kita dengan perangkat ini di dunia yang dilanda “pembunuh karakter laten” bernama meme.©




Jakarta, 10 Agustus 2016

Tuesday, June 21, 2016

Menapaktilasi Perjalanan Pak Subuh Dari Stasiun ke Stasiun

TANGGAL 22 Juni setiap tahun, para anggota Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK SUBUD) memperingati hari lahirnya Bapak Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo. Lahir di Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Karesidenan Semarang (sekarang masuk Kabupaten Grobogan), Jawa Tengah, pada 22 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta pada 23 Juni 1987, Pak Subuh merupakan penerima pertama dari Latihan Kejiwaan, pada tahun 1925, dan pendiri perkumpulan SUBUD di Jogjakarta, 1 Februari 1947.

Sebagai pehobi kereta api (railfan) yang juga anggota SUBUD, saya lebih tertarik untuk memperingati hari lahir Pak Subuh dengan menapaktilasi perjalanan beliau “dari stasiun ke stasiun”. Ya, di samping menyebarluaskan Latihan Kejiwaan ke lebih dari 75 negara di dunia sejak tahun 1957, Pak Subuh sebenarnya lekat dengan sejarah perkeretaapian Indonesia, karena beliau sempat berkarir cukup lama di badan usaha kereta api (KA) swasta Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Foto tahun 1930 dari gedung "Lawang Sewu" di Kota Semarang
yang merupakan kantor pusat NIS. (KITLV)
Berkantor pusat di Kota Semarang, menempati bangunan yang kini dikenal sebagai “Lawang Sewu”, NIS memainkan peran signifikan dalam sejarah perkeretaapian Indonesia, karena perusahaan itulah yang pertama kali membangun jaringan KA di Nusantara. Dimulai dari pembukaan jalur antara Stasiun Kemijen (KMJ, +1,8 mdpl) di Semarang dan Stasiun Tanggung (TGG, +20 mdpl) di Grobogan sepanjang 25 kilometer pada tanggal 10 Agustus 1867, NIS memicu revolusi transportasi berbasis rel di Hindia Belanda. Jalur itu kemudian diperpanjang hingga tiga kota di Jawa Tengah—Semarang, Solo, dan Jogjakarta—melalui Kedungjati, sebuah tempat terpencil di pedalaman Jawa Tengah di mana Pak Subuh dilahirkan dan kelak bekerja untuk NIS sebagai pegawai di salah satu stasiun tertua di Indonesia, yaitu Stasiun Kedungjati (diresmikan pada tahun 1873).

Paling tidak ada lima stasiun warisan Hindia Belanda (heritage) disebut-sebut dalam buku Autobiografi RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo (diterbitkan pertama kali pada 1991), yaitu Stasiun Telawa(h), Stasiun Kalitidu, Stasiun Buyaran, Stasiun Pamotan, dan Stasiun Kedungjati.

Stasiun Telawa(h), Stasiun Kalitidu, dan Stasiun Kedungjati dikelola oleh NIS, sedangkan Stasiun Buyaran dan Stasiun Pamotan pada masanya merupakan halte trem (kereta api jarak dekat) bertenaga uap yang dimiliki oleh Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), atau Perusahaan Trem Uap Semarang-Juwana yang juga berkantor pusat di Semarang.

Stasiun Telawa(h) (TW, +63 mdpl) berada di jalur KA Brumbung-Gundih, tepatnya di Desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Jalur KA Brumbung-Gundih merupakan jalur heritage yang oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebisa mungkin dipelihara keasliannya sebagaimana keadaannya pada masa kolonial Hindia Belanda, antara lain dengan tidak mengganti sistem persinyalan mekanik dengan sistem elektrik. Tiga stasiun di jalur ini sudah non-aktif/mati, yaitu Gedangan, Jetis, dan Jambean.

Stasiun Kalitidu tahun 2015. (Wikipedia)
Dalam Autobiografi RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, disebutkan bahwa karir beliau di NIS dimulai ketika beliau diterima bekerja di Stasiun Kalitidu, berkat bantuan Pak Reksodiharja, adik dari eyang putri beliau yang menjabat sebagai “sep” (chef) Stasiun NIS Kalitidu. Stasiun Kalitidu (KIT, +24 mdpl) di jalur KA Gambringan-Kandangan masih aktif hingga kini, berlokasi di wilayah Kabupaten Bojonegoro, dan merupakan salah satu stasiun di Lintas Utara Jawa yang dilalui KA-KA relasi Jakarta-Surabaya pp, antara lain Argo Bromo Anggrek dan Jayabaya.

Bangunan bekas Stasiun Buyaran yang berubah fungsi menjadi toko.
Dalam perjalanan pencarian spiritualnya, Pak Subuh dan beberapa teman beliau diceritakan dalam Autobiografi RM Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo meninggalkan rumah seorang kyai dan menuju Stasiun Buyaran, naik KA pagi yang datang dari Demak menuju Semarang. Stasiun Buyaran (BYA) yang berlokasi di Desa Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah dibangun pada tahun 1885 di jalur KA Semarang Tawang-Demak oleh SJS, sebuah perusahaan swasta trem uap yang dahulu mengelola jalur KA sepanjang 417 kilometer di Kabupaten-Kabupaten Demak, Kudus, Pati, Rembang, Jepara, Blora, Grobogan, dan sebagian Tuban. Stasiun Buyaran ditutup Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tahun 1986 bersama stasiun-stasiun lainnya di jalur KA Semarang Tawang-Demak. Bangunan bekas Stasiun Buyaran kini menjadi toko.

Peta jalur-jalur Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij pada bulan Mei 1902. (KITLV)


Bangunan bekas Stasiun Pamotan yang merana di usia tuanya.
Stasiun Pamotan melekat di kenangan Pak Subuh lantaran di stasiun inilah beliau melihat perempuan yang kelak diperistri beliau turun dari gerbong trem SJS yang ditumpangi Pak Subuh. Ibu Rumindah, istri pertama Pak Subuh memang bertempat tinggal di Pamotan. Dibuka pada tahun 1900, Stasiun Pamotan kini tinggal bangunan tua yang merana, dengan area stasiun digunakan sebagai pangkalan truk. Papan penanda “Aset Milik PT KAI” yang dijumpai di muka bangunan menegaskan bahwa di Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pernah ada stasiun kereta api. Stasiun Pamotan ditutup oleh PJKA pada tahun 1989.

Overkapping (atap peron) Stasiun Kedungjati yang desainnya
menyerupai yang terdapat di Stasiun Ambarawa dan Stasiun Purwosari.
Ketika ditugaskan di Stasiun Kedungjati, Pak Subuh boleh dibilang beruntung, lantaran rumah di mana beliau dilahirkan pada 22 Juni 1901 hanya berjarak sekitar 50 meter dari stasiun tersebut. Bahkan lahan kosong di sebelah rumah orang tua Pak Subuh saat ini dipasangi papan penanda “Aset Milik PT KAI”; artinya, Desa Kedungjati merupakan bagian dari kompleks Stasiun Kedungjati. Stasiun Kedungjati (KEJ, +36 mdpl) juga masih aktif saat ini di jalur Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) atau yang dikenal sebagai Lintas Tengah Jawa. KA Bangunkarta, Matarmaja, Majapahit, Kalijaga, dan KA Semen rutin meniti jalur ini dalam perjalanan mereka pergi-pulang Semarang-Solo. Saat ini, bahkan tengah berlangsung proyek konstruksi dalam rangka reaktivasi jalur Tuntang-Kedungjati yang pernah berjaya di era kolonial Hindia-Belanda. ©2016
Saya berselfie ria dengan latar belakang Stasiun Kedungjati yang saya kunjungi pada 7 Februari 2016.




Kalibata Selatan, Jakarta, 22 Juni 2016

Tuesday, May 31, 2016

YOU

Loving you makes the world a better place for me

Loving you is like a mirror for me to see

that you and me aren't very far apart

Because you belong to that special place in my heart...

Jakarta, May 21, 2016


As I see the sun smiling

I smell the dews of the morning's mist

I send you kisses from afar with liking

With those I write a poem of bliss...

Jakarta, May 31, 2016

Sunday, January 17, 2016

The Eyes of Love


I looked at you and I saw myself
Loving you is thus like loving myself
The kind of love
that God bestowed upon me
It is so grand that I see Him
right before my eyes
The eyes that looked at you
and made me feel I saw myself...

Aku menatapmu dan kulihat diriku
Mencintaimu, karena itu, adalah seperti mencintai diriku sendiri
Cinta yang Tuhan karuniakan kepadaku
Cinta yang begitu agung sampai aku melihat kehadiranNya
tepat di depan mataku
Yaitu mata yang menatapmu
dan membuatku merasa aku melihat diriku sendiri...



Wisma SUBUD Cilandak, Jakarta Selatan, 17 Januari 2016

Monday, January 11, 2016

Rasaku Yang Sederhana

Engkau bukan bunga
tapi aku menghirup wewangimu dari jarak tak terbayangkan

Engkau bukan foto
tapi aku betah menatapmu yang memancar pendar-pendar emas

Engkau bukan kitab suci
tapi membaca hatimu, namaNya terucap dari mulutku

Engkau adalah sempurna dalam rasaku yang sederhana
Sederhana ku membatin, aku mencintaimu...



Jakarta Selatan, 11 Januari 2016