Showing posts with label Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Spiritual. Show all posts

Thursday, July 9, 2020

Pengaruh Pekerjaan

SEJAK tahun 2012, saya menjadi konsultan komunikasi untuk proyek pembuatan buku mengenai lima peraih PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan) Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup (mulai tahun 2015 menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Awalnya, secara tak sadar, saya tiba-tiba memiliki kepedulian pada pelestarian lingkungan, mulai dari hal-hal kecil, seperti mematikan lampu bila tidak digunakan, menutup keran air bila tidak dipakai, membuang sampah pada tempatnya, dan mudah trenyuh melihat pohon-pohon ditebangi. Dan, tentu saja, dalam waktu relatif singkat saya mengerti proses-proses kerja pengelolaan lingkungan dari diskusi-diskusi dengan para insinyur lingkungan yang mewakili kelima perusahaan peraih PROPER Emas itu.

Hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Sejak menerima Latihan Kejiwaan, saya terbimbing untuk me-niteni bagaimana “energi” dari pekerjaan-pekerjaan yang saya tangani sebagai konsultan komunikasi dan branding mempengaruhi diri saya, mengisi diri saya dengan pengetahuan mendalam mengenai seluk-beluk bisnis atau bidang yang ditekuni organisasi dari klien-klien saya. Apakah hal itu baik atau buruk? Saya tidak terlalu memikirkan pengaruhnya. Yang jelas, yang saya dapatkan berdampak baik bagi klien-klien saya, karena dengan demikian mereka dapat mengandalkan saya (dan tim LI9HT) untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar.

Saya tidak mengkhawatirkan pengaruh pekerjaan itu, karena saya yakin—dan juga dipastikan dalam ceramah Bapak Subuh—adanya zat kekuasaan Tuhan dalam diri saya, yang membentengi saya dari dampak negatif atau buruk yang mungkin diberikan oleh segala gerak hidup saya. Bagaimanapun, adalah kekuasaan Tuhan pula yang membimbing pikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan saya sejak menekuni Latihan Kejiwaan. Saya saksikan sendiri bagaimana mulut dan pikiran saya bekerja otomatis, setiap kali diri saya tenang, saat tampil memerankan pekerjaan saya sebagai konsultan; bagaimana jari jemari saya bergerak di papan kunci komputer saat menulis; dan bagaimana keadaan diri saya saat menyikapi respons klien-klien terhadap pekerjaan saya dan tim LI9HT.

Apa pun pengaruh yang saya terima dari semua pekerjaan yang saya tangani, bagaimanapun, Latihan Kejiwaan yang telah mengisi diri saya membersihkannya secara bertahap, mengatur mana yang boleh tinggal dan mana yang tidak boleh terus melekat pada diri saya. Positifnya, saya jadi mengalami perubahan kebisaan-kebisaan saya secara dinamis, sehingga sebagai profesional dan pebisnis saya tidak berjalan di tempat. Puji Tuhan!©2020


GPR 3, Tangerang Selatan, 9 Juli 2020

Wednesday, September 19, 2012

Berbicara Dengan Tuhan

“Suara manusia tidak akan pernah dapat menjangkau jarak yang dicakup oleh suara nurani yang tetap kecil.”
—Mohandas Gandhi


Semalam, sepulang kerja, saya menonton televisi di ruang keluarga bersama keponakan saya. Keponakan saya itu, anak perempuan berusia sebelas tahun, duduk di sebelah saya di atas sofa di depan televisi. Beberapa kali ia mengutarakan kecemasannya, sehubungan dengan pengumuman hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

Beberapa kali ia menanyakan ke saya kemungkinannya ia lulus UASBN. Keponakan saya itu bukan tergolong anak yang rajin belajar. Ia belajar hanya ketika ada pekerjaan rumah atau ketika menyambut ulangan. Ia lebih suka bermain, membaca komik atau duduk di depan komputer, mengunggah foto di media sosial dan mengunduh lagu-lagu. Berulang kali saya mengingatkannya untuk belajar, ada atau tidak ada ulangan atau pekerjaan rumah, tetapi ia tidak menggubrisnya. Bagaimanapun, saya tetap mendoakan agar ia berhasil di sekolahnya.

“Om Anto, kira-kira aku lulus nggak ya?” tanyanya, untuk kesekian kalinya, sementara perhatian saya ke layar televisi. “Kamu lulus, Ya! Pasti lulus!” kata saya dengan yakin. “Ah, ini menghibur aja bisanya. Beneran, Om, lulus nggak ya aku?”

“Kamu lulus!” tandas saya.

“Kok tahu?” tanya keponakan saya lagi—lama-lama menyebalkan juga.

“Ya, tahu dong. Om Anto kan bicara dengan Tuhan. Kalau Yaya minta dengan sungguh-sungguh, dalam hati, kepada Tuhan, pasti dikasihNya.”

Ih, ketahuan bo’ong-nya nihEmang bisa bicara dengan Tuhan?” kata keponakan saya sambil mencibir.

Pada saat itulah, secara tak ketahuan, saya merenung—merenungkan kata-kata keponakan saya: Emang bisa bicara dengan Tuhan? Saya memikirkan betapa dangkalnya pelajaran agama yang diajarkan di sekolah bila hasilnya adalah ketidakpercayaan peserta didik bahwa Tuhan bisa diajak bicara, bisa menjadi teman bicara yang tiada bandingnya dengan manusia. Padahal para nabi dan utusan Tuhan di masa lalu sudah membuktikannya. Bukan kenabian mereka yang membuat mereka dapat berbicara dengan Tuhan, melainkan kemampuan mereka untuk berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, yang mendorong hati, diri dan jiwa mereka senantiasa tenang. Dalam ketenangan itulah suara Tuhan dapat kita dengar dengan jelas.

Ada yang menyebutnya suara batin (inner voice), suara hati, suara diri, atau, secara gamblang, suara Tuhan di dalam diri kita. Saya tidak punya teori tentangnya, karena suara ini merupakan fenomena alami. A. Reza Arasteh, dalam bukunya, Growth to Selfhood: The Sufi Contribution to Islam (Penguin, 1991), menyebutkan bahwa paling tidak satu kali dalam hidup kita pernah mendengar suara batin itu. Saya percaya, bahwa suara batin itu merupakan representasi dari diri saya yang ‘lain’, tetapi pengalaman saya menuturkan bahwa ‘diri yang lain’ itu lebih arif dan bijaksana ketimbang saya.

Suara itu biasanya dapat kita dengarkan apabila kita berada dalam suatu keadaan yang tenang. Bukan ketenangan suasana, sebagaimana yang sering disyaratkan oleh ajaran-ajaran meditasi yang salah kaprah, melainkan ketenangan hati, diri dan jiwa kita. Para biksu Buddhis dari aliran Theravada membiasakan diri mereka berlatih meditasi dan mendengarkan suara batin mereka—yang menuntun mereka dalam pemikiran dan perasaan, perkataan dan perbuatan—di tengah hiruk-pikuk dunia. Kaum praktisi tarekat Sufi Naqshbandiyah merangkul amalan khalwat dar anjuman (bahasa Persia yang berarti ‘menyepi di tengah keramaian’, yaitu menjalani hidup di tengah keramaian lingkungannya, namun hatinya sepi dari apa pun selain Allah).

Dalam profesi saya di bidang kreatif, pembadaian otak (brainstorming) dengan rekan-rekan satu tim merupakan hal yang penting, demi menangkap ide yang tepat untuk suatu pekerjaan. Tetapi tak jarang saya memperoleh ide-ide cemerlang justru ketika saya berbadai otak dengan diri sendiri. Kebanyakan kita punya pengalaman memperoleh ide hebat ketika berada di toilet, yaitu saat kita menenangkan diri, biasanya tanpa sengaja, dan berfokus pada aktivitas tunggal saat berada di toilet: buang hajat. Hal itu membuktikan bahwa ketenangan pikiran memang membuka gerbang komunikasi kita dengan sesuatu yang melampaui eksistensi kita (beyond our existence).

Bulan lalu, saya mendapatkan pengalaman dahsyat dari tuntunan Tuhan lewat suara batin ini, yang menyelamatkan saya dari kejahatan dunia. Seorang relasi saya, yang menjabat direktur pengelola di sebuah perusahaan freight forwarder, menghubungi saya untuk sebuah proyek senilai Rp 15 miliar dari kawannya. Proyek tersebut berupa branding untuk sebuah perusahaan telekomunikasi berskala nasional yang lebih dari enam puluh lima persen sahamnya dimiliki asing. Bersama tim dari perusahaan komunikasi merek yang saya gawangi, saya bertemu dengan kawan si direktur pengelola freight forwarder tersebut.

Seperti biasa, ketika bertemu dengan klien baru, saya menyodorkan kartu nama saya. Damas—bukan nama sebenarnya—menerima kartu nama saya sambil mengatakan bahwa ia tidak membawa kartu namanya. Entah dari mana asalnya, saya mendengar dengan jelas sekali suara di dalam diri saya, yang menandaskan bahwa Damas bukan tidak membawa kartu namanya, melainkan lantaran ia ingin selamat sendiri. Saya pun bertanya-tanya dalam hati: Selamat dari apa? Tetapi suara batin itu tidak berkata lebih lanjut. Damas itu bukan karyawan atau manajemen dari perusahaan telekomunikasi tersebut, yang membuat saya makin curiga.

Ketika saya menerima taklimat (brief) dari Damas, suara batin itu kembali muncul, dengan intensitas yang lebih besar. Saya ‘disuruh’ oleh suara itu untuk mempertanyakan secara kritis eksistensi proyek tersebut, berhubung iklan-iklan dan event promosi produk-produk perusahaan telekomunikasi itu telah beredar lama dan masih terus ditayangkan di berbagai media. “Bila kita merekomendasikan lagi konsep komunikasi yang baru, di pertengahan tahun pula, bukankah hal itu akan menimbulkan tumpang-tindih dengan strategi yang sudah dijalankan biro-biro iklannya, Pak?!” kata saya. Damas tertegun, tak bisa menjawab. Dan suara dalam diri saya terus berteriak girang, “Tuh kan, dia bohong. Bohong besar!”

Sulit saya jelaskan di sini dengan kata-kata, tetapi saya ‘digiring’ oleh suara itu untuk akhirnya menangkap adanya ketidakberesan dalam proyek tersebut. “Pemerasan! Dia mau melakukan pemerasan. Jangan kamu terima pekerjaan itu. Nantinya, dia yang dapat uangnya, sedangkan kamu masuk penjara!”

Secara diplomatis, saya katakan pada Damas maupun relasi saya, yang juga hadir saat itu, bahwa rekomendasi konsep akan segera saya persiapkan setelah saya memperoleh data riset pasar—yang sudah pasti memakan waktu, tetapi saya memang mau mengulur-ulur waktu sampai saya mendapat kejelasan tentang proyek tersebut. Belakangan, saya bersyukur telah diselamatkan Tuhan lewat suaraNya ke diri saya: Dari informasi kenalan saya yang mendapat akses ke direksi perusahaan telekomunikasi itu, proyek tersebut memang beritikad pemerasan terhadap direksi dan komisaris!

Mohandas Gandhi mengatakan bahwa siapa pun yang menghendaki dapat mendengar suara batinnya. Suara itu ada di dalam diri setiap orang, dibekali Tuhan sejak kita diciptakanNya agar kita dapat senantiasa berbicara denganNya.(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 18 Juni 2011

Jujur Pada Diri Sendiri


“Di atas segalanya, jujurlah pada diri sendiri, dan jika Anda tidak bisa menaruh hati Anda di dalamnya, tinggalkanlah.”
—Hardy D. Jackson


Menyusul pernyataan Jaksa Agung Republik Indonesia pada 11 Mei 2005 yang menetapkan direktur utama, wakil direktur dan direktur corporate banking Bank Mandiri sebagai tersangka kasus korupsi, bank terbesar di Indonesia ini mengundang tujuh perusahaan komunikasi pemasaran dan korporat untuk tender proyek pemulihan citra (image recovery) Bank Mandiri. Salah satu dari ketujuh perusahaan itu adalah biro iklan tempat saya bekerja sebagai pengarah kreatif (creative director) merangkap perencana strategis (strategic planner).

Sejak awal, yaitu ketika ketujuh perusahaan komunikasi pemasaran dan korporat itu diundang ke kantor pusat Bank Mandiri di Jakarta untuk mendapatkan taklimat dari Kepala Komunikasi Korporatnya, saya merasa bahwa biro iklan tempat saya bekerja dan beberapa perusahaan peserta tender lainnya tidak tepat untuk menangani proyek tersebut, lantaran menurut pertimbangan profesional saya yang diperlukan Bank Mandiri adalah pakar atau konsultan kehumasan (public relations), bukannya malah membuat iklan layanan masyarakat atau iklan korporat terkait dengan pengembangan merek (brand-building). Tetapi, tampaknya semua peserta sedang ‘rindu order’, sehingga saya biarkan saja.

Para peserta tender diberi waktu sebulan penuh untuk mempersiapkan rekomendasi strategi pemulihan citra maupun keluaran (output) kreatifnya. Sementara itu, saya, yang baru sebulan kembali berkarir di Jakarta setelah bekerja lima tahun di industri komunikasi pemasaran Surabaya, sedang rajin-rajinnya melakukan Latihan Kejiwaan SUBUD (Susila Budhi Dharma) di Wisma SUBUD Cilandak, Jakarta Selatan. Dalam salah satu Latihan Kejiwaan, saya menerima bahwa tender proyek tersebut tidak jujur, penuh muslihat, dan hanya mendatangkan kesia-siaan bagi saya maupun tim saya.

Lha, susah kan menceritakan kepada orang-orang non-SUBUD tentang penerimaan tersebut, apalagi kepada bos saya maupun rekan-rekan kerja saya. Tidak mungkin saya menyampaikan hal itu kepada mereka, dan meminta mereka mundur saja dari tender tersebut atas dasar penerimaan gaib! Saya simpan saja penerimaan tersebut untuk diri sendiri dan melanjutkan pekerjaan saya mempersiapkan konsep kreatif dan perencanaan strategi pemulihan citra Bank Mandiri sebagai dampak dari kasus korupsi yang melibatkan tiga pejabat terasnya, walaupun rasanya menyakitkan, mengingat saya telah tidak jujur pada diri sendiri.

Seminggu sebelum tenggat waktu berakhir, bos saya, yang tahu bahwa saya anggota SUBUD dan mempunyai gambaran salah-kaprah—karena berefleksi pada rekannya, sesama pengusaha periklanan, yang juga anggota SUBUD—bahwa anggota SUBUD pasti hebat dalam soal menerawang hal-hal gaib, bertanya ke saya bagaimana prospek biro iklan tempat saya bekerja itu dalam tender proyek pemulihan citra Bank Mandiri. Saya jawab apa adanya; saya mengungkapkan penerimaan saya dalam salah satu Latihan Kejiwaan yang saya lakukan di Wisma SUBUD Cilandak.

Karuan, bos saya marah, mengira saya tidak sudi menangani persiapan untuk tender proyek tersebut. Sebagai reaksi, saya berkata, “Lha, Bapak kan tanya gimana prospeknya. Saya jawab apa adanya,kok Bapak malah marah?!” Bos saya tidak berkutik mendengar reaksi saya, yang tegas namun disampaikan dengan lembut. Dia menawarkan ke saya, jika saya tidak mau menanganinya, saya boleh istirahat, tidak terlibat dalam tim yang akan maju mempresentasikan rekomendasi strategi dan konsep kreatifnya. Tetapi saya tepis tawaran itu, dengan alasan bahwa saya ingin menyaksikan sendiri bagaimana kesudahannya.

Pada saat itu, ada dua orang pemagang yang menyaksikan bagaimana bos saya mengamuk setelah mendengar penuturan saya tentang prospek tender proyek pemulihan citra tersebut. Tak saya sangka, merekalah saksi utama dari kebenaran Ilahi yang ‘diturunkan’ kepada saya!

Seminggu setelah semua peserta tender mempresentasikan rekomendasi strategi dan konsep kreatifnya, biro iklan tempat saya bekerja mendapat faksimil disusul telepon dari departemen Komunikasi Korporat Bank Mandiri, yang memberitahu bahwa kami tidak berhasil memperoleh proyek tersebut. Yang menjengkelkan, belakangan kami mendapat informasi bahwa pemenang tender justru adalah tiga perusahaan komunikasi pemasaran (biro iklan) yang tidak mengikuti tender!

Setelah menyampaikan informasi tersebut, bos saya melirik ke saya, saat para karyawan biro iklan tempat saya bekerja berkumpul di meja rapat, seolah membenarkan penerimaan spiritual saya. Dua orang pemagang yang sebelumnya saya ceritakan, yang selama rapat itu duduk di sebelah saya, memandang saya sambil terpana—karena apa yang pernah saya sampaikan terbukti benar adanya.

Itulah pengalaman saya dengan gagasan ‘jujur pada diri sendiri’. Anda harus siap menghadapi kenyataan bahwa orang tidak akan menyukai Anda, bahwa Anda akan menjadi sosok yang tidak populer, dan bukan tidak mungkin Anda akan kehilangan peluang memperoleh imbalan materi.

Tetapi reward terbesarnya adalah Anda memperoleh peluang langka: Menjadi diri sendiri! Anda siap jujur pada diri sendiri? Terus terang, pada saat itu saya juga tidak siap, namun saya percaya Tuhan tidak akan menelantarkan saya.(AD)


Lantai 7 Apartemen Citylofts Sudirman, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, 21 Oktober 2011 


Sunday, January 1, 2012

Taruhan Dengan Tuhan


Herr Gott wurfelt nicht—Tuhan tidak melempar dadu.”
—Albert Einstein


Bila Anda ingin menjadi anggota Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Susila Budhi Dharma (PPK SUBUD), maka berlaku bagi Anda masa orientasi, yang secara populer di kalangan anggota SUBUD disebut masa ngandidat (dari kata “kandidat”, atau calon), yang berlangsung tiga bulan. Ada sedikit perbedaan dalam penerapannya antara cabang yang satu dengan yang lainnya; sebagian besar cabang menerapkannya sebanyak dua belas kali pertemuan, satu kali seminggu, sehingga jika dijumlahkan dalam masa bulan menjadi tiga bulan.

Di cabang tempat saya ngandidat dahulu, yaitu Cabang Surabaya, Jawa Timur, diberlakukan sistem pertemuan dua kali seminggu, yaitu pada setiap hari Senin dan Kamis malam, bersamaan dengan jadwal Latihan Kejiwaan bagi mereka yang sudah “dibuka” (menjadi anggota SUBUD), sehingga walaupun tetap terhitung tiga bulan, dalam praktiknya saya ngandidat sebanyak 30 kali. Soal seberapa banyak Anda menjalankan masa ngandidat tidaklah penting; yang lebih utama adalah pengalaman dan pengetahuan yang bakal Anda peroleh dengan melaluinya dengan perasaan sabar, ikhlas dan tawakal.

Tidak sedikit orang yang berhenti di tengah jalan, tidak meneruskan atau mengambil jeda panjang dari masa ngandidat-nya, biasanya lantaran tidak puas dengan layanan dari para helper (“pembantu pelatih”) atau, yang sering terjadi, berbenturan dengan keperluan-keperluan lain yang dianggap lebih penting oleh para kandidat, seperti urusan pekerjaan atau acara keluarga.

Untuk, utamanya, urusan pekerjaan, kebanyakan kandidat tidak mau mengambil risiko dengan menomorduakannya demi menghadiri ngandidat di Wisma SUBUD. Bagi mereka, itu seperti mempertaruhkan pekerjaan mereka untuk sesuatu yang “tidak nyata”. Dengan kata lain, mereka menganggap bersikap sabar, ikhlas dan tawakal kepada kehendak Tuhan sama saja dengan melempar dadu, alias taruhan dengan Tuhan!

Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Tuhan untuk menyembelih putra kesayangannya sendiri bagi kebanyakan orang dewasa ini tak ubahnya melempar taruhan dengan Tuhan: Apa benar Tuhan memerintahkan begitu? Atau jangan-jangan yang didengar Nabi Ibrahim adalah bisikan setan? Bagaimana kalau salah?

Keadaan dewasa ini tidaklah “separah” yang dialami Nabi Ibrahim, tetapi toh orang zaman sekarang memperlakukan pekerjaan mereka, harta benda mereka, keluarga mereka, teman-teman mereka, jabatan dan gelar mereka, bahkan diri mereka sendiri seperti anak kesayangan yang tidak patut dipertaruhkan dalam rangka bakti kepada Tuhan. Tidak mengherankan, jika dewasa ini sikap menerima dengan sabar, ikhlas dan tawakal, yang dahulu amat dijunjung leluhur kita lantaran besarnya manfaat yang diperoleh darinya, amat tidak populer! Dan tidak mengherankan pula jika banyak orang yang menderita sakit fisik dikarenakan keadaan psikis mereka yang tidak bisa menerima kehilangan pekerjaan, harta benda, keluarga, teman, jabatan atau gelar mereka.

Bagi saya, tolok ukurnya adalah kenyataan yang saya jumpai di SUBUD maupun di dalam kehidupan sehari-hari, di mana orang cenderung meratapi penuh sesal keadaan kehilangan harta, jabatan atau keluarga ketimbang kehilangan cinta Tuhan atas dirinya. Ironisnya, mereka itu kebanyakan kaum beragama, yang mengaku-aku lewat mulutnya cinta dan kesetiaan kepada Tuhan dan rasulNya. Di sinilah kita saksikan betapa rendahnya kecerdasan spiritual manusia zaman sekarang.

Orang yang dapat menerima kenyataan dengan sabar, ikhlas dan tawakal cenderung yakin bahwa Tuhan selalu menyertai langkahnya, dan bahwa hanya Tuhan yang memberinya rezeki. Orang semacam ini cenderung memantapkan dirinya bahwa harta atau pekerjaan tidak melulu merupakan berkah, tetapi juga bisa menjadi musibah jika ia tidak arif dalam menyikapinya.

Pengalaman saya tiga tahun belakangan ini menuturkan bahwa bukan tidak mungkin kita yang “dicari uang”, alih-alih kita yang “mencari uang”. Keadaan ini menghindarkan saya dari kemelekatan yang hebat kepada kebendaan, dan sebaliknya “menenggelamkan” saya ke dalam samudra makna, di mana saya lebur dalam cintaNya! Keadaan, yang menurut saya sangat spiritual ini, mengajarkan saya satu hal: bahwa berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal sama sekali bukan taruhan dengan Tuhan!(AD)


Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 2 Januari 2012

Wednesday, May 26, 2010

Tersesat ke Jalan yang Lurus

“Ilmu pengetahuan hanya dapat mengusulkan sebuah kebenaran, tetapi tidak akan pernah dapat mengklaim kebenaran.”
—Ajahn Brahm, bhiksu Buddhis dan sarjana Fisika Teori dari Universitas Cambridge, penulis buku laris Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya(Jakarta: Yayasan Karaniya, 2005)



Saya suka sekali melakukan perjalanan jarak pendek maupun jauh. Sebelum jalan, saya biasanya berkonsultasi pada peta, mencari alamat yang akan saya tuju. Itu pun tidak selalu banyak membantu. Selain nama jalan yang dicari tidak ditemukan, kadang ada nama jalan yang sama tetapi berada di dua wilayah yang berbeda. Bila sudah demikian, saya nekad meneruskan tekad saya untuk melakukan perjalanan itu. Bagi saya, melangkah dalam kegelapan ada serunya: saya jadi bisa mereguk banyak pelajaran-pelajaran berharga dan pengalaman yang bernilai.

Baru-baru ini, saya bahkan mendapatkan dari salah satu klien saya – yang merasa sangat berterima kasih atas arahan saya, sehingga ia memperoleh keuntungan dari pemasaran produknya – sebuah telepon seluler canggih yang dilengkapi kompas digital dan GPS (global positioning system). Meski begitu, saya tidak pernah memanfaatkannya. Saya lebih suka ‘bersesat-sesat dahulu, melesat pesat kemudian’, lantaran ketersesatan memberi saya banyak pengalaman berharga yang dapat menjadi petunjuk ke arah kelurusan.

Sebagai orang yang berkecimpung di bidang kreatif, saya mewajibkan diri saya sendiri untuk senantiasa waspada terhadap hal-hal di sekeliling saya, di mana pun saya berada. Saya tidak memasang kaca mata kuda atau bahkan menutup mata terhadap kenyataan-kenyataan yang ada. Setiap momen menjadi pembelajaran berharga jika kita mampu melihat dengan sadar serta hadir sepenuhnya saat itu. Inilah yang disebut cara hidup yang meditatif menurut tataran Buddhisme.

Saya ‘nyemplung’ ke dalam ranah Buddhisme sejak dua tahun belakangan ini. Tak sedikit cercaan dan hujatan yang saya terima dari saudara-saudara (yang tadinya) seagama (saya tidak menyebut ‘seiman’, karena iman adalah urusan hati yang hanya kita sendiri yang tahu) dengan saya. Mereka yang mengklaim agama mereka menjunjung tinggi toleransi beragama justru yang paling keras memurtadkan saya. Beruntung saya telah terbimbing oleh kekuatan dari kerelaan yang, pada gilirannya, memperjernih kesadaran saya serta kesediaan saya untuk memaafkan.

Banyak yang bilang bahwa saya telah tersesat. Iya, memang saya telah tersesat. Tetapi, itulah nikmatnya perjalanan itu; saya jadi memperoleh banyak hal di berbagai tingkatan. Hidup saya kian kaya dengan perolehan (gain) spiritual, intelektual maupun material. Iya, saya telah tersesat, tetapi tersesat ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang meningkatkan kesadaran kita.

Seorang ustadz di Surabaya yang pernah saya temui dalam pencarian spiritual saya mengatakan bahwa yang dimaksud ‘jalan lurus’ mengacu pada lurusnya hati dan pikiran kita hanya kepada Allah semata. Persoalannya, sebagaimana dinyatakan dalam QS 2: 115, wajah Allah ada di arah ke mana kita menghadap, sehingga lurus dalam hal ini bukanlah seperti obyek elementer dalam geometri, yaitu garis yang menghubungkan dua titik dengan jarak yang terdekat dengan gradien yang sejajar, melainkan kelurusan secara mental kepada sasaran yang dituju, meski jalannya sendiri bisa berkelok-kelok, bergelombang atau menyerong.

Tak banyak yang menyadari bahwa dalam melakukan apa pun, termasuk menegakkan agama, kesadaran adalah jauh lebih utama daripada sekadar ikut-ikutan. Justru perilaku ikut-ikutan itulah yang dapat menyebabkan kita terpuruk ke dalam jurang kesesatan, di mana mata kita terbutakan oleh dogmatisme dan fanatisme tanpa tedeng aling-aling. Agama Islam saja mengajarkan umatnya untuk tahqiq (sadar, insaf) tinimbang terus-menerus taqlid (ikut-ikutan). Hilang agama Anda, jika Anda hanya tahu siapa yang Anda ikuti, tetapi tidak menyadari ke mana perjalanan atau sebuah proses yang Anda tempuh itu mengarah. Jadilah diri Anda sendiri, jangan jadi orang lain, begitulah kira-kira yang ditekankan ajaran yang mementingkan kesadaran di atas perilaku ikut-ikutan.

Saya menandai bahwa orang-orang yang telah berani menapaki kesesatan, menjejak jalan tanpa rambu, yang penuh onak dan wajah kehidupan yang menakutkan yang pada akhirnya menemukan jalan lurus mereka. Ada sebuah ungkapan anonim yang berbunyi: “Agama adalah untuk mereka yang tidak mau masuk neraka. Spiritualitas adalah untuk mereka yang telah melaluinya (neraka).” Pengalaman saya maupun sejumlah orang lainnya bertutur, memang kedalaman batin dapat disentuh oleh mereka yang telah melewati penderitaan berat bak neraka di dunia.

Kawan saya, seorang mantan pecandu narkoba, menemukan kasih Tuhan setelah sepuluh tahun mengakrabi narkoba. Ketika nyawanya akan meregang, ia memohon kepadaNya agar diberi kesempatan untuk bertobat. Kesempatan itu ia dapatkan dan kini ia rajin mendalami agama, bukan hanya untuk mengajak mereka yang masih terpikat narkoba untuk meninggalkannya, tetapi juga untuk menantang para ulama agar jangan sok tahu mengharamkan narkoba, tetapi tidak tahu di mana letak haramnya.

Semua ilmu – tak terkecuali ilmu agama – adalah laksana sebidang tanah yang menuntut untuk terus digali. Pada lapisan pertama, kita mungkin menemukan air. Di lapis kedua, bukan tak mungkin kita temukan minyak. Pada lapisan berikutnya mungkin ada emas. Jangan berhenti pada lapisan itu, karena siapa tahu di bawahnya kita akan menjumpai lapisan yang kaya unsur logam tertentu yang bisa membuat kita kaya-raya.

Tidak ada kebenaran yang mutlak; yang ada adalah kebenaran yang kita yakini secara pribadi dan subyektif (esoterik), yang tidak bisa dipaksakan pada orang lain. Semua manusia terlahir dengan sifat-sifat sekala (kasat mata) maupun niskala (tankasat mata) yang berbeda-beda, sehingga merupakan tindakan yang melawan hukum alam jika perbedaan-perbedaan itu dicoba untuk diberangus, dan manusia serta proses-proses kehidupannya dipaksa untuk diseragamkan.

Proses tumbuh-kembang kita merupakan perjalanan yang tidak selalu lurus (dalam konteks geometri) dan mulus. Justru dengan begitulah kita dapat mengenal kesejatian kita. Ketika kita mengklaim kebenaran, seketika itu pula kebenaran berhenti mengada! Kita akan berhenti mencari, ilmu pengetahuan akan berhenti berkembang, dan diri kita akan berhenti tumbuh. Jalan lurus yang menghampar di muka secara geometris akan mendorong kita berjalan di atasnya dengan kaca mata kuda, yang membuat kita lupa wajahNya ada di mana pun kita menghadap.©

Friday, January 1, 2010

Kompleks Permasalahan

“Permasalahan besar yang kita hadapi tidak dapat diselesaikan dengan keadaan pikiran yang sama yang dengannya kita menciptakan permasalahan itu.”
—Albert Einstein (1879-1955)



Salah seorang sahabat saya suatu kali ditimpa permasalahan kehidupan – bercerai, anak semata wayangnya dibawa oleh istrinya, dan bisnisnya bangkrut. Ia membantah saya ketika saya bercerita tentang orang-orang yang punya permasalahan yang mirip dengannya dan bagaimana mereka mengatasinya. “Permasalahan mereka tidak sama dengan aku. Permasalahanku lebih kompleks!” katanya, yang intinya menekankan bahwa ia tidak perlu nasihat saya. Hampir setiap hari ia mengeluh kepada Tuhan, mengapa dia yang diberiNya cobaan seberat itu. Namun, ketika sahabat saya itu berhasil melewati cobaan tersebut, ia malah bilang bahwa permasalahannya ternyata simpel saja dan jalan keluarnya mudah.

Sahabat saya yang lainnya juga mengekspresikan kegundahannya akan permasalahan hidupnya, yang dianggapnya jauh lebih kompleks dari semua permasalahan yang ada di muka bumi ini. Dan, sebagaimana orang-orang yang menderita sindrom ‘permasalahan-lebih-kompleks’ lainnya, ia menolak membuka diri terhadap dukungan moril dari siapa pun, karena “Permasalahanku sangat kompleks, susah diselesaikan!”

Hampir setiap kita pasti menderita kecenderungan ‘permasalahan-saya-lebih-kompleks-daripada-yang-lain’ ini. Saya pun kadang, bila ditimpa masalah yang tidak bisa saya temukan jalan keluarnya, merasa sayalah yang paling menderita. Padahal sejatinya tidak ada yang dapat melampaui lebihnya Yang Maha Lebih, seberat atau sekompleks apa pun permasalahan yang kita hadapi. Yang menyebabkan kita mengira kitalah satu-satunya yang menderita adalah ketidaksediaan kita untuk bersikap rendah hati di hadapan Sang Kuasa.

Manusia sering bersikap egoistis terhadap sesamanya, bahkan ketika ditimpa problema hidup. Dirinyalah yang harus jadi satu-satunya yang menderita dan hanya dirinya yang mesti dikasihani. Lha, kalau semua orang merasa begitu, maka tidak akan ada lagi satu permsalahan yang ‘istimewa’. Sejatinya, semua permasalahan sama saja, walau berbeda muatan. Tetapi, yang pasti, semua ada jalan keluarnya, yang bisa diperoleh bila diri kita berada dalam keadaan tenang lahir-batin. Tinimbang memencilkan diri dengan permasalahan-lebih-kompleks, mendingmenghuni kompleks permasalahan, di mana diri Anda menginsafi kenyataan bahwa permasalahan Anda tidak lebih kompleks dari permasalahan orang lain, hanya muatan emosi Anda dalam menghadapinya yang berbeda tingkatan. Layaknya kompleks perumahan yang arsitektur rumah-rumahnya mirip satu sama lain, tetapi penghuninya saja yang beraneka jenis.

Saudara Subud saya pernah mengatakan, di kala saya mengeluhkan bahwa permasalahan saya saat itu sangat kompleks. “Kompleks atau tidak kompleks tergantung pada ‘ini’ kita.” Jari telunjuknya menunjuk ke pelipisnya. Pikiranlah yang selalu mengatur-atur diri kita, bahwa apa yang ada pada diri kita melebihi apa yang ada pada orang lain, termasuk permasalahan-permasalahan kita.

Kasih Tuhan dibuktikanNya dengan ketersediaan solusi atas setiap permasalahan, betapa pun kompleksnya. Hanya saja, kita suka menutup diri terhadap kemungkinan-kemungkinan. Ketenangan diri, mengabrasi emosi dan kemarahan yang cenderung menghakimi, membawa kita keluar dari anggapan bahwa permasalahan yang kita hadapi lebih kompleks dari apa pun, memasuki wilayah kompleks permasalahan.©

Wednesday, December 30, 2009

Tuhan Juga Ada di Toilet

Suatu hari, saya membatinkan pertanyaan, "Ya Tuhan, kenapa sih kita harus berserah diri kepadaMu?" Dalam sekejap, saya beroleh jawaban, yang seolah dituangkan ke dalam kepala saya, begitu derasnya sampai saya 'mendengar' suaraNya: "Aku seperti dirimu yang dapat meyakinkan klien-klienmu agar menyerahkan semuanya menyangkut pekerjaan kepadamu supaya mereka tenang. Dan kamu pun dapat bekerja dengan baik setelah diberi kepercayaan oleh mereka, bukan?"

Sontak, saya tersentak, lalu melonjak-lonjak. Bukan di atas tempat sujud, bukan pula di rumah ibadah, melainkan di toilet, yang ironisnya selama ini dianggap tempat yang tidak layak untuk 'menemui' Tuhan. Anggapan itu seperti menegaskan bahwa Tuhan ada di mana-mana tetapi tidak di toilet.

Kepahaman-kepahaman yang saya peroleh selama ini, dan yang kemudian saya tuangkan dalam Note Facebook, tidak melulu saya dapatkan ketika sedang 'menghadap' kepadaNya secara ritualistik di rumah ibadah, tetapi kebanyakan malah ketika sedang berada di toilet, di jalan, sedang bekerja, sedang mengolah asmara bersama istri, di atas sepeda motor, di dalam bus di antara bau ketiak dan keringat, dalam susah dan derita, dalam suka dan gembira. Di mana saja, kapan saja, sehingga yang menyeruak hanya rasa syukur tak berkesudahan.

Mendekatkan diri kepada Tuhan bisa di mana saja -- di mana saja Anda merasa nyaman dan dapat sepenuhnya menjadi diri sendiri. Yang penting juga, kitanya harus tenang dan tentram diri (walaupun di sekeliling kita ramai), berserah diri secara sabar, ikhlas dan tawakal. Walaupun sembahyang menurut tata cara agama, di rumah ibadah sekalipun, tetapi bila pikiran kita mengembara ke mana-mana selain kepada Tuhan yang ada di mana-mana, sembahyang yang menjadi kendaraan niat kita takkan pernah sampai di tujuannya. Kabarnya, Tuhan itu dekat, lebih dekat daripada urat nadi kita, dan dapat dicapai oleh jiwa-jiwa yang memaktubkan penyerahan diri kepada Sang Kuasa dengan sabar, ikhlas dan tawakal.

Berserah diri tidak cukup dengan dilisankan lewat mulut belaka. Ini adalah sikap batiniah yang lahir dari diri yang 'dikondisikan' secara alami untuk menjadi tenang dan tentram. Tempatnya bisa di mana saja: di rumah ibadah, di kamar, di mal, di gua atau hutan, di toilet, dan lain-lain. Yang penting rumah ibadah di dalam hati kita bersih dari segala sesuatu yang (kita anggap) menyerupaiNya. Di wilayah niskala nan suci itulah pendar-pendar cahayaNya menerpa bidang kepahaman dan penerimaan kita.

Berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, dengan hati dan pikiran yang suci dari yang selain kesejatian, membawa kita pada realitas batin bahwa Tuhan memang ada di mana-mana. Dia bahkan juga ada di toilet.©

Diduduki Kursi

Keringat bercucuran saat saya berdiri menanti mikrobus Kopaja P-20 di depan terminal Lebak Bulus. Udara sedang panas-panasnya pada pagi itu. Selain minuman dingin, tempat duduk menjadi harapan saya ketika bus yang saya nantikan tiba. “Mudah-mudahan belum dipenuhi penumpang lain,” batin saya ketika di kejauhan saya melihat bus itu muncul.

Saya bersegera lompat ke dalam bus yang baru dimuati dua penumpang, dan dalam perjalanan lewat kampus Selapa Polri Pasar Jum’at bus tersebut segera ditumpati penumpang, juga yang berdiri berjejal-jejal lantaran tidak mendapat tempat duduk. Saya duduk dekat pintu, agar tidak kepanasan.

Naiklah dengan susah-payah seorang perempuan yang sedang hamil tua. Ia rela berdiri berjejalan dengan penumpang lain, sedang saya pada saat itu mengalami pertarungan dengan nafsu yang tidak rela menyerahkan tempat duduk saya kepada perempuan itu. Saya dijangkiti kondisi yang di kalangan anggota Subud menimbulkan permenungan: “Anda menduduki atau diduduki kursi?”; untuk menghindarkan diri kita dari sikap dan perbuatan yang dapat mengganggu hubungan dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.

Menyembah berhala tidak melulu ditandai dengan penghambaan terhadap patung-patung belaka, melainkan mencakup pula sikap mengarahkan hati dan pikiran kepada selain Tuhan. Menafikan silaturahmi demi sesuatu yang hanya menguntungkan diri sendiri, seperti tindakan saya di atas, dikategorikan sebagai penyembahan terhadap berhala-berhala hati. Memusuhi orang-orang yang berbeda agama, atau yang berbeda paradigma walaupun satu agama, juga termasuk dalam perbuatan menuhankan nafsu angkara murka.

Sejatinya, bukan saya yang sedang menduduki kursi saat itu, melainkan (keakuan) saya yang sedang diduduki kursi. Saya dikalahkan oleh nafsu yang menghendaki duduk terus, sementara ada orang lain yang lebih membutuhkannya. Pada satu sisi, saya malu sekali pada diri sendiri, pada Tuhan, juga pada perempuan itu, tetapi di sisi lain saya lelah dan kepanasan, sehingga ingin duduk saja.

Lama-lama, malu saya pada Yang Maha Melihat lagi Memberi Pertolongan kian memuncak. Serasa saya sedang diamati oleh Yang Maha Kuasa yang berkata lewat jiwa saya, “Pertumbuhan spiritual kamu akan terhambat oleh tingkahmu yang menyebalkan itu.” Saya tidak rela kehilangan kedekatan berkelanjutan dengan Yang Maha Kuasa hanya gara-gara hati saya dikuasai oleh sikap menuhankan kursi.

Tidak! Saya tidak mau. Persetan dengan kursi, lelah dan jejalan penumpang. Saya akhirnya berdiri dan mempersilakan perempuan tadi mengambil tempat duduk saya. Di mata saya, perempuan itu laksana ibu saya waktu sedang mengandung saya. Saya pun takkan rela ibu saya diperlakukan sebagaimana saya memperlakukan perempuan itu saat saya masih diduduki kursi. Ketika perempuan tadi merebahkan pantatnya di tempat duduk dalam bus yang dipadati penumpang, saya mendapat berkah kepahaman tentang betapa celakanya mereka yang menuhankan segala sesuatu selain Tuhan Yang Maha Esa, termasuk kursi yang seyogianya dipakai untuk duduk, bukannya membiarkan ia menduduki kita.©

Bentuk Beda, Isi Sama

“Anda takkan pernah bisa menebak isi buku dari kulitnya.”
—Edwin Rolfe dan Lester Fuller, Murder in the Glass Room, 1946


Beberapa tahun belakangan ini, saya tergolong amat jarang mengonsumsi nasi. Sebaliknya, saya amat suka mi atau, sejak mengalaminya di Papua, papeda yang terbuat dari sagu. Yang tersebut terakhir merupakan karbohidrat yang nyaris murni.

Alasannya bukanlah kesehatan; bukan karena saya menderita diabetes, bukan pula lantaran saya overweight. Sehingga saya menyanggah siapa pun yang mengkritisi tindakan saya beralih dari nasi ke mi, kentang atau sagu. “Lho, kan nasi, kentang dan sagu sama-sama karbohidrat?!” sergah mereka. Iya, saya tahu, tetapi bentuknya kan berbeda dari nasi. Inti dari tindakan saya beralih dari nasi ke mi bukanlah karena saya memikirkan kesehatan saya. Saya hanya bosan melihat bentuk nasi – yang sudah saya konsumsi selama lebih dari tiga puluh tahun!

Ketika akan bertolak ke pedalaman Papua, 6 Desember 2009 lalu, seorang pendeta Kristen didaulat untuk memimpin doa, memohon lindungan dan keselamatan kepada Tuhan Allah, Bapa di Sorga. Walaupun beliau juga mempersilakan para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo yang non-Nasrani untuk berdoa menurut cara agama masing-masing, saya telah terbiasa untuk ‘masuk ke dalam’, menyelami isi dari doa dan bukan bentuk/cara berdoa. Doa yang diucapkan sang pendeta, dengan ‘bahasa Kristen’ yang saya hayati lewat isinya ternyata menggugah relijiusitas saya, sehingga doa sang pendeta pun saya amini. Bentuk boleh beda, tetapi isi ternyata tetap sama.

Kebanyakan kita terpola hidupnya berdasarkan bentuk, dan amat jarang – jika tidak bisa dibilang tidak pernah – menghayati isi dari segala sesuatu, yaitu esensinya, makna hakikinya. Kegagalan semata dipandang sebagai kegagalan, yang seolah tidak membuka peluang bagi perbaikan, sedangkan isi dari kegagalan adalah segudang pelajaran yang dapat memandu kita untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

Pun dengan kesuksesan, yang hanya dianggap sebagai puncak dari proses ikhtiar. Padahal isi kesuksesan, lagi-lagi, adalah pembelajaran agar seyogianya kita mawas diri bahwa kesuksesan hanyalah satu tahap dari perjalanan hidup kita; bukan satu-satunya serta bukan ‘terminal terakhir’. Sukses pada saat ini belum tentu berarti sukses di kemudian hari. Isi dari gagal-sukses sejatinya adalah hikmah yang membantu kita untuk melakoni hidup secara sadar, dan darinya kita akan memperoleh kebijaksanaan.

Bentuk merupakan karunia untuk kehidupan saat ini, di dunia ini. Ketika mati, isilah yang menyertai. Namun, segala bentuk punya isi, yang hakikatnya sama, walaupun dalam tampilan bentuk tampak beda. Sejumlah kerabat dan relasi saya bertanya-tanya, kok saya bisa feel at home di tengah masyarakat Papua yang bentuk fisiknya maupun cara hidupnya berbeda dari umumnya kita di Jakarta atau Pulau Jawa, sedangkan saya baru menjejakkan kaki di Papua pada pertengahan tahun 2009 ini. Di mana pun saya berada, saya selalu memohon tuntunan Tuhan agar saya dapat menyelami isi dari budaya masyarakat di mana saya berada, dan tidak terjebak pada bentuk semata. Itulah yang menyebabkan saya bisa merasa di rumah sendiri di mana pun saya berada; di antara orang asing, di tengah umat beda agama, atau dalam berbagai suasana. Setiap perjalanan yang saya lakukan ke Papua, kini, membuat dada saya bergemuruh dengan kerinduan akan kampung halaman sendiri!

Ada mereka di antara kita yang acap merasa terganggu, hingga tingkat paranoia, dengan bentuk-bentuk yang berbeda dari yang mereka punyai. Apakah Tuhan hanya mengabulkan doa orang Islam saja, atau orang Kristen saja? Doa yang dipanjatkan sang pendeta Kristen sebelum para peserta ekspedisi Nawa-Mamberamo meluncur ke lokasi, maupun yang dipohonkan para peserta yang non-Nasrani, pada akhirnya membuat perjalanan itu penuh berkah lindungan dan keselamatan bagi siapa saja dalam rombongan, tak memandang agama apa yang dianutnya atau cara berdoanya. Bagaimana bentuk atau cara Anda menjalani hidup tidak usahlah dipaksakan pada orang lain hanya karena Anda melihat perbedaannya. Segala sesuatu diciptakan Tuhan untuk setiap makhluk sesuai proporsinya masing-masing, sehingga tidak perlu dipertentangkan. Bentuk beda, isi sama.©

Rendah Hati di Tempat Tinggi

“Apakah hidup layak dijalani?
Ya, dengan kehebatan kita,
Ketinggian kita, kedalaman kita –
Hidup adalah ujian kita!”
—Corinne Roosevelt Robinson (1861-1933), penyair, dosen dan orator



Meski sudah belasan kali terbang ke beberapa tempat di kepulauan Indonesia, sampai sekarang saya tidak pernah merasa nyaman naik pesawat. Saya fobia terbang dan ketinggian, dan alih-alih menikmati penerbangan sebagaimana diharapkan pramugari dari para penumpang ketika pesawat akan lepas landas, saya malah ‘full istighfar’ selama perjalanan. Tetapi, saya tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa saya harus terbang, demi mengisi hobi saya menulis artikel-artikel wisata (travel writing). Satu-satunya cara untuk mengatasi fobia itu ketika saya sudah kepalang terikat di kursi penumpang pesawat adalah dengan merendahkan hati, berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, yang ternyata mujarab untuk meredakan ketegangan.

Bertahun-tahun lalu, saya juga gamang dengan ketinggian, baik ketika duduk di kursi penumpang pesawat maupun di ‘kursi panas’ (hot seat) manajemen perusahaan tempat saya mengabdikan diri. Di tempat tertinggi di perusahaan atau di masyarakat kebanyakan orang begitu gamangnya sampai segan melihat ke bawah, padahal dari bawah juga mereka bermula. Dengan senantiasa melihat ke bawah, selalu ingat (bahwa di atas kita masih ada Yang Maha Tinggi) dan mawas diri (melihat ke dalam, tempat bersemayamnya kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan), kita dapat menengarai pijakan-pijakan yang nyaman. Sehingga kita dapat turun dengan aman dan legawa, atau kalau jatuh pun tidak terlalu menyakitkan; terbawa perasaan hingga kita jadi kehilangan kewarasan.

Itulah kenyataan yang kini marak di sekitar kita. Posisi-posisi di ketinggian dicapai secara instan atau lewat jalan pintas; dengan naik lift, bukan lewat tangga, sementara dalam keadaan darurat kita selalu disarankan untuk turun lewat tangga. Naik-turun tangga memang melelahkan, tetapi pertimbangkan sisi positifnya: kita jadi sehat dan punya banyak waktu untuk merenungkan mengapa kita menempuh perjalanan itu, dan mereguk kedewasaan, tanggung jawab, serta selalu ingat bahwa ketinggian setinggi apa pun tidak ada yang dapat melampaui Yang Maha Tinggi.

Eling lan waspada, kata orang Jawa. Selalu ingat dan mawas diri. Bercerminlah pada sosok Gareng, salah satu dari empat punakawan dalam pewayangan Jawa, yang berjalan dengan telapak kaki menjinjit, tangan mengibas-kibas dan mata melihat ke atas, menyerupai penderita keterbelakangan mental, tetapi sesungguhnya merupakan perlambang bahwa dalam melakoni hidup kita harus berhati-hati dalam melangkah/bertindak, mengibasi kemelekatan pada hal-hal duniawi (yang tidak akan kita bawa seiring jasad kita yang telah tak bernyawa), serta selalu ingat pada Yang Di Atas.

Sosok Gareng mengajarkan kita agar senantiasa rendah hati di ketinggian. Keinsafan akan Yang Maha Tinggi meredakan kegamangan saat kita berada di ketinggian, melunturkan kesombongan, melelehkan perasaan bahwa kita memiliki segalanya untuk selamanya. Hidup tidak kejam sebagaimana dikira kebanyakan kita; hanya saja kita, tanpa sadar, suka menzalimi diri sendiri maupun orang lain, yang sejatinya merupakan bagian terpadu dari diri kita juga. Dengan hati yang merendah, kita akan dapat memahami bahwa tempat tertinggi atau terendah pada hakikatnya sama saja. Pengalaman saya menuturkan, kesuksesan tidak ditentukan oleh tingginya kedudukan, melainkan oleh kebisaan menjadi diri sendiri – bebas lepas dari nafsu untuk menguasai, tidak menempatkan ego kita dalam jabatan kita.

Seperti halnya ketika berada di ketinggian langit, di ketinggian jabatan atau pencapaian pun saya selalu mengingatkan diri untuk ‘full istighfar’, menginsafi bahwa di atas saya masih ada Yang Lebih Tinggi, agar tidak jadi seperti kawan-kawan saya yang kehilangan kewarasan akibat jatuh dari ketinggian. Saya tetap bisa menjadi diri sendiri, dengan atau tanpa jabatan. Karena saya pikir, apa yang bisa saya banggakan ketika kelak badan saya sudah berkalang tanah?©

Wednesday, May 20, 2009

Testing by Doing

What I so often read and heard is about Subud members doing testing in advance of starting enterprising ventures. Enterprises, as Bapak persistently suggests to members, are meant for us to recognize and benefit God's guidance upon us. Bapak said when he was in Mexico (77 MEX 2), "...that enterprises are not purely directed towards commercial undertaking, but rather they are a training ground to get Subud members used to receiving the guidance of God Almighty, both in the kejiwaan and also in their outer life."

A testing in Subud is like any ordinary Latihan Kejiwaan. The difference lies in that a kejiwaan testing is performed when a helper or a member has a problem that needs to be asked, which by so doing they would receive answers in any form whatsoever, while during an ordinary latihan the mind should be emptied. Bapak has always advised against too much testing. In her talk to the Dewan of International Helpers (Cilandak, July 1984), Ibu Rahayu said that there is no new recipe for testing -- it is only surrender. "Deal with ordinary matters in a practical way. Look at each situation and maybe by talking about it with [other members], in a quiet state, you will arrive at the right answer -- without testing," Ibu notes.

So often, mostly among Subud members in Indonesia where I come from, are enterprises commenced through prior testing to find out whether one venture is all right to be undertaken or not -- whether one try would end up in "umph" or, on the contrary, a breakdown. Testing is usually acted upon as well in the course of the endeavor, merely to make sure everything will go well.

So frequently too, "pre-tested enterprises" wind up in collapse. Now, what or who is ultimately to blame when such mishaps ensued? The testing? God? Or simply the men-behind-the-work who aren't quite proficient in handling the trade? Let's brood over this later. Now, I'm just in the frame of mind to mull over enterprises without a practical kejiwaan testing, both prior as well as at some point in time.

In my experience, a kejiwaan testing, as it would in learning, may occur when you simply undertake your enterprise. A testing -- in Subud's sense of the word -- is practicable by plainly doing your thing. I always hammered into myself Bapak's advice that members should constantly niteni (Jv. observe) their latihan and living out the latihan in daily life. When you observe with awareness everything you do, you will eventually get the notion that you are in reality always under constant guidance from the Divine. Every step of your way will then be directed.

If it is failure that befell you, don't mind too acutely. Failures are one way or another just one stage of the path towards accomplishments. Unbeaten entrepreneurs build their successes on heaps of failures. Being indomitable in times of failure is what distinguishes entrepreneurs from the run-of-the-mill business undertakers. Fine entrepreneurs know that what awaits them in the near future, both pleasant and disagreeable, is just part of their learning process -- it will lead them to something that carries great weight for the benefit of their enterprise.

In short, failures or successes reveal the Divine guidance that is everlastingly bestowed upon us. This may imply that the kind of enterprise that Bapak always recommends us to do is another way of testing yourself!
©