TEPAT 28 Agustus, 33 tahun yang lalu, saya resmi menyandang gelar Sarjana Sastra (S.S.) dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI; sejak 2002 berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya/FIB). Detik itu, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Jujur saja, dengan Indeks Prestasi yang sekadar cukup dan bukan tergolong mahasiswa jenius ala standar ketat UI, saya sendiri heran bisa melenggang sintas hingga garis akhir.
Saya menuntaskan petualangan akademis ini tepat di batas napas terakhir: semester 12—batas maksimal di FSUI. Namun, keajaiban justru terjadi di babak penutup. Hanya butuh waktu enam bulan bagi saya untuk merampungkan dan mempertahankan skripsi setelah berhasil melewati ujian komprehensif. Ujian lisan legendaris itu benar-benar memeras isi kepala, menguras air mata, dan memancing keringat dingin, terutama karena diuji langsung oleh jajaran dosen sejarah paling killer.
Begitu lolos dari "lubang jarum" kompre, perjuangan belum usai. Saya harus pontang-panting bimbingan dengan seorang dosen pembimbing yang merupakan kombinasi unik: sejarawan kawakan sekaligus Kolonel Infanteri TNI AD yang berkantor di Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.
Masa penyusunan skripsi itu benar-benar melelahkan. Meski riset bahan dan penelusuran narasumber sudah saya cicil dua tahun sebelumnya, hari-hari saya tetap diwarnai lembur hingga larut malam. Parahnya lagi, di tengah tensi akademis yang membakar, saya dihantam badai asmara: patah hati terhebat yang pernah ada, hingga membuat saya berada di titik tergelap kehidupan. Beruntung, dua sahabat karib—yang sudah lulus lima bulan lebih awal—hadir menjadi pelipur lara. Merangkak bersama mereka, saya berhasil keluar dari lorong gersang keputusasaan dan menyelesaikan lembar-lembar akhir skripsi saya.
Ketika dinyatakan lulus dalam ujian skripsi pada 7 Juli 1993, orang tua saya—terutama Ibu—terperangah tak percaya. Saya pun sama terkejutnya. Bagi saya, diterima di Kampus Kuning adalah sebuah mukjizat, tetapi keluar dari sana sebagai seorang sarjana adalah sebentuk penyerapan takdir yang luar biasa.
UI mengajarkan saya cara meneliti masa lalu, tetapi perjuangan 12 semester dan patah hati itulah yang mengajari saya cara bertahan hidup di masa kini dan masa depan.©2026
Pondok Cabe Ilir,
Pamulang, Tangerang Selatan, 28 Agustus 2026

No comments:
Post a Comment