SAYA barusan ditelpon satu anggota wanita dari Cabang Jakarta Selatan yang telah bermukim di kota lain di Jawa. Dia mau berkonsultasi tentang proses dari Latihan Kejiwaan; ya sudah, saya tampung saja. Saya ingin mengatakan padanya agar menelepon pembantu pelatih wanita saja atau anggota lain yang lebih senior daripada saya, dan berjenis kelamin wanita. Tetapi rasa diri saya mencegah saya untuk berkata begitu, dan sebaliknya menyuruh saya untuk mendengarkan dengan sabar, tawakal dan ikhlas.
Dalam gathering-per-telepon tersebut, terungkap melalui ucapan anggota itu, yang menginspirasi saya—meski saya pernah menerima pemahaman tersebut sebelumnya: “Saya nggak percaya dengan positive thinking atau negative thinking, Mas Arifin. Saya cenderung mengikuti positive atau negative feeling saya.”
Saya merespons dia, “Iyalah! Subud kan pakai feeling, alih-alih thinking. Kalau kita melihat orang dengan mengandalkan akal pikir saja, yang terlihat adalah yang lahiriah saja. Di tataran Rasa, yang terlihat belum tentu benar. Seseorang bisa saja kelihatan jahat, dari penampilan, perbuatan atau ucapan, tapi belum tentu ‘isi’ dirinya jahat.”
“Wah, benaarr kalau begitu perasaan saya tadi
sebelum menelpon Mas,” kata si anggota. “Kalau mengandalkan akal pikir,
seharusnya saya curhat ke PP wanita. Tapi nyatanya rasa saya mengarahkan saya
ke Mas Arifin, yang PP bukan, wanita juga bukan.”©2026
Pondok
Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 5 April 2026
No comments:
Post a Comment