RUMAH itu masih berdiri kokoh di sebuah ruas jalan yang menyimpan sejarah panjang keluarga kami. Ayah saya, seorang perwira menengah TNI Angkatan Darat, mulai menempati rumah papan sederhana tersebut pada tahun 1963. Saat itu, kawasan ini masih dikenal sebagai Kompleks Perumahan Angkatan Darat Jaya—merujuk pada nama Komando Daerah Militer Jayakarta. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini lebih populer disebut Pondok Jaya, sebuah permukiman militer yang berbatasan langsung dengan Kompleks Kepolisian RI, Pondok Karya, di sisi utara.
Secara administratif, Kompleks Pondok Jaya terletak di Kelurahan Pela Mampang, Jakarta Selatan. Kawasan strategis ini dulunya merupakan area penyangga pemukiman yang kemudian berkembang menjadi hunian padat. Sayangnya, kepadatan tersebut sempat membuat Pondok Jaya identik dengan banjir; genangan air kiriman sering kali mencapai ketinggian 60 hingga 150 sentimeter. Wajah kawasan ini baru bersolek ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Melalui kebijakan betonisasi jalan setebal 30 cm, risiko banjir yang menghantui selama puluhan tahun akhirnya berhasil ditekan secara signifikan.
Pondok Jaya adalah saksi bisu pertumbuhan saya. Kecuali masa empat tahun saat saya bermukim di Belanda, seluruh masa kecil saya habiskan di sini. Saya memulai langkah pendidikan di TK Jaya Baru (sebelumnya TK Persit Kartika Chandra Kirana) di Jl. Pondok Jaya VIII, lalu berlanjut ke SD Paripurna (kini SDN Pela Mampang 05 Pagi/06 Petang) di Jalan Pondok Jaya VI, hingga menamatkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 141. Hanya saat masa SMA dan kuliah saya akhirnya “merantau” ke luar lingkungan kompleks.
Hingga saat ini, saya masih rutin
berkunjung ke rumah peninggalan mendiang Ayah dan Ibu saya. Meski waktu terus
bergerak maju, bagi saya, jejak kehidupan dan memori kebahagiaan bersama orang
tua serta saudara kandung tetap tertinggal di sana, abadi di antara
dinding-dindingnya.©2026
Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 7 April 2026

No comments:
Post a Comment