Sunday, November 23, 2008

Pendekatan Terbaik untuk Mengenal Tuhan (?)

Beberapa bulan lalu, saya mendapat pengalaman menjadi atheis (put myself in the atheist's shoes), yang kemudian membuat saya berpikir, barangkali atheisme bisa menjadi alternatif untuk (malah) mengenal Tuhan. Pengalaman saya berawal dari sebuah buku.

"Jika buku ini berfungsi sesuai dengan maksud saya, para pembaca yang relijius yang membuka buku ini akan menjadi atheis ketika menutupnya," tulis Richard Dawkins, Ph.D. dalam kata pengantar bukunya (hlm. 28) yang menjadi "Surprise Bestseller of 2006", The God Delusion (London: Transworld Publishers, Cetakan ke-2, 2007; 463 hlm., termasuk lampiran, catatan belakang dan indeks). Dawkins mengakui bahwa pernyataannya itu merupakan prakiraan yang terlalu optimistik mengingat bahwa orang-orang yang fanatik dalam beragama biasanya kebal terhadap argumen, karena mereka memiliki mekanisme pertahanan yang dibangun selama bertahun-tahun melalui indoktrinasi sejak usia dini, menggunakan metode yang memakan waktu berabad-abad untuk menjadi matang.

Untungnya, Dawkins mengutarakan hal itu pada kata pengantar bukunya, sehingga saya pun dapat memperkuat kuda-kuda sebelum meneruskan membaca The God Delusion -- yang menurut saya lebih mengguncang iman daripada The Davinci Code-nya Dan Brown. Lagipula, buku yang tersebut pertama adalah literatur non-fiksi yang mengetengahkan data-data yang akurat.

Karena Dawkins mengasumsikan bahwa para pembaca yang relijius akan menjadi atheis ketika selesai membaca The God Delusion, saya tantang Charles Simonyi Professor for the Public Understanding of Science di Universitas Oxford ini dengan pola yang terbalik: saya menjadi atheis dulu saat akan membaca The God Delusion; semakin mendekati akhir dari buku tersebut, saya malah menjadi kian percaya dan yakin akan kekuasaan Tuhan!

Pasti Anda bertanya-tanya bagaimana seseorang yang telah sejak lahir memeluk agama Islam seperti saya dapat menggelontor keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa sedemikian rupa demi sebuah buku yang dihujat (juga dipuji, lho) kalangan beragama di seluruh dunia? Sebelum lanjut, patut diperhatikan pernyataan saya di atas: 'sejak lahir memeluk agama Islam'; Dawkins mengecam keras sebutan 'anak Muslim', 'anak Kristen', 'anak Yahudi', dan lain-lain, karena dunia anak adalah dunia yang masih suci dari campur tangan orang dewasa. Dawkins mengusulkan istilah 'anak dari orangtua yang beragama Islam' dan lain-lain. Saya menerapkan esensi dari Latihan Kejiwaan Subud, yaitu 'mengosongkan diri' dari segala sesuatu yang bersifat material. Material di sini tidak melulu berujud; bisa juga niskala (subtle), seperti bentukan pikiran (artefak). Dalam konteks ini, saya mampu 'mengusir' Tuhan dari pikiran saya. Lho kok? Lha, iyalah! Tuhan yang ada dalam pikiran kita bukanlah Tuhan yang sejati, melainkan Tuhan meme, Tuhan rekaan virus akalbudi. Tuhan sejati malah tidak terjangkau oleh akal kita. Ia adalah suatu spirit Yang Maha Kuasa dan tidak dapat dibatasi oleh materi. Jadi, saya menjadi atheis dalam pengertian tidak bertuhan yang meme (memetic god)!

Richard Brodie dalam bukunya, Virus of the Mind (1996; sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Awas! Virus Akalbudi Ganas, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2005), mendefiniskan meme sebagai "pemikiran, kepercayaan, atau sikap yang tersimpan di akalbudi kita yang bisa menyebar dari dan ke akalbudi orang lain." Meme meresap ke dalam akalbudi tanpa seizin kita. Meme menjadi bagian pemrograman mental kita dan memengaruhi kehidupan kita bahkan tanpa kita sadari. Media massa, utamanya televisi, dan periklanan diajukan Brodie sebagai 'pencipta meme terdahsyat'.

Sadar atau tidak, Tuhan yang kita hamba selama ini sering kita perosokkan menjadi sekadar bentukan pikiran sekehendak kita (seenak perut kita). Pada kalangan umat beragama sendiri, kemahaluasan Tuhan acap diberi batasan ruang dan waktu. Ia dibatasi oleh 'jalan' dan simbol. Dan kita pun menyembah materi yang berupa simbol-simbol. Simbol merupakan materi, sedangkan Tuhan (yang bukan meme) tidak dapat dibatasi dengan materi!

Yang membuat saya dahulu sempat menyingkir dari jalan menuju Tuhan adalah pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang tidak saya temukan jawabannya saat itu: Apakah Tuhan berdomisili di Arab, berbahasa Arab sehingga tidak bisa menjawab doa yang tidak dilantunkan dalam bahasa Arab, dan berbudaya gurun pasir, sehingga sebagai pemeluk agama Islam saya mesti bersandang, berpangan, berpapan, dan berkesenian layaknya masyarakat gurun? Para nabi sebagai penyampai pesan Tuhan memang berada di dalam dunia dan terbatas dalam suatu dimensi ruang dan waktu (suatu masa yang telah lampau di kawasan Timur Tengah). Apabila dimensi di mana para nabi hidup tersebut dipaksa diperpanjang dan diperluas, akan menjebak kita ke dalam suatu stagnasi. Kita manusia yang hidup secara dinamis dalam konteks sosial-budaya dan lain sebagainya. Tentunya, agama-agama juga bersifat universal-dinamis. Tuhan mengaruniakan kemajemukan dan keanekaragaman di dunia, bukan hegemoni Arab-sentris!

Richard Dawkins begitu mencerca kaum beragama, terutama yang fanatik. Alasan-alasan yang dikemukakannya bolehlah kita renungkan: "Kenapa, sih, umat beragama menunjukkan sikap permusuhan atas nama Tuhan?" (judul Bab 8-nya, "What's wrong with religion? Why be so hostile?") Inilah akibatnya jika yang disembah adalah Tuhan meme. Tuhan dipersonifikasi seolah Dia adalah makhluk lemah sehingga perlu dibela; seperti ciptaanNya yang selalu ingkar, Sang Pencipta pun harus memeluk agama, sehingga muncullah istilah 'agama Allah'. Tuhan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu malah diberi atribut-atribut idiosinkretik yang terdapat dalam 99 nama 'baik'-nya. Kawan saya pernah kena getah Asma'ul Husna; ia mengaku bingung dengan konsep "Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," karena bersamaan dengan itu Dia dicitrakan sebagai Maha Menyesatkan (lihat QS Ibrahim [14]: 4), Maha Pembalas, Maha Memurkai. Saya pun menyarankan agar dia menjadi 'atheis', yaitu meluruhkan diri dari Tuhan rekaan virus akalbudi, dan merasakan eksistensi Tuhan yang "bukan ini, bukan itu, tetapi yang Anda terima!".

Sebenarnya Dawkins sendiri pun terperangkap pada konsep 'agama' sebagai 'religion' (berasal dari bahasa Latin religaire = 'aturan-aturan yang mengikat'). Dalam hal ini, agama Dawkins adalah atheisme, karena seperti yang dituturkan oleh Fellow of New College ini, agnostikisme/atheisme mewujud 'jalan pencarian' bagi orang-orang yang menuntut pembuktian indrawi akan keberadaan Tuhan. Filsuf Bertrand Russell yang ditanya (The God Delusion, hlm. 131), apa yang akan dikatakannya jika ia mati dan menemukan dirinya berhadapan dengan Tuhan, yang ingin tahu kenapa Russell tidak percaya kepadaNya. "Tidak cukup bukti, Tuhan, tidak cukup bukti," adalah jawaban Russell.

Dalam kaitan ini, Dawkins membandingkan skeptisisme Russell yang berani dengan kepengecutan matematikawan Prancis, Blaise Pascal (hlm. 130) yang mengatakan, "Anda sebaiknya percaya Tuhan, karena bila Anda benar maka Anda berpeluang mendapatkan surga abadi dan jika Anda salah maka tidak akan ada bedanya. Di lain pihak, jika Anda tidak percaya Tuhan dan ternyata Anda keliru Anda akan dikutuk selamanya, sedangkan jika Anda benar toh tidak ada bedanya."

Dawkins mengutip Daniel C. Dennett, psikolog yang dalam bukunya, Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon (Viking Adult, 2006), membedakan antara kepercayaan kepada Tuhan (believe in God) dan kepercayaan kepada agama/kepercayaan (believe in belief): kepercayaan yang baik untuk dipercaya, bahkan bila kepercayaan itu sendiri palsu. Bagi sebagian besar orang, agama dianggap pelipur (consolation). Lebih baik bila ada 'sesuatu' untuk dijadikan pegangan dan pedoman daripada tidak sama sekali. Terhadap hal inilah Dawkins melancarkan pukulan yang, saya kira, cukup telak. Kalau manusia mengaku percaya kepada Tuhan, ujar Dawkins, kenapa mereka takut mati, bahkan menganggap kematian itu menakutkan, sehingga kematian dicap sebagai kedukaan. Fakta ini menafikan konsepsi kreasionis yang umumnya dianut kaum agama bahwa segala sesuatu berasal dari dan kembali kepada Sang Pencipta.

Pembunuhan, apa pun bentuknya, termasuk eutanasia dan bunuh diri yang dibantu (assisted suicide) adalah dosa. "Tetapi kenapa dianggap dosa," kritik Dawkins (hlm. 399), "jika Anda sungguh-sungguh percaya bahwa kematian adalah perjalanan ke surga?" Adalah mereka yang menganggap kematian sebagai terminal, bukannya transisional, yang akan secara naif menolak eutanasia atau bunuh diri dengan bantuan, tulis Dawkins di hlm. 400. Seorang perawat senior kenalan Dawkins, yang berpengalaman menjalankan panti jompo, mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya orang-orang yang paling takut mati justru adalah mereka yang relijius. Kenyataan ini menegaskan bagi Dawkins bahwa agama tidak memiliki kekuatan yang berpengaruh atas mereka yang sedang menghadapi maut.

Dawkins memegang teguh ajaran 'agama' yang dianutnya, yang bernama 'atheisme'. Kredo kesaksiannya berbunyi: "Tiada Tuhan dan Charles Darwin adalah sebenar-benarnya pemberi bukti." Dawkins memang terutama menyandarkan ketidakpercayaannya atas eksistensi Tuhan yang gaib pada teori evolusi yang dikemukakan Darwin. Tetapi berbeda dengan kaum fundamentalis agama yang bersikap kaku dan baku dalam menerapkan ajaran-ajaran agama mereka, Dawkins mengaku bahwa ia akan berubah pikiran bila ternyata Darwin keliru, atau bila kemudian muncul bukti-bukti yang cukup kuat tentang eksistensi Tuhan.

Teori evolusi Darwin adalah pijakan Dawkins, walau pada beberapa sisi teori tersebut mengandung kelemahan. Dengan gampangnya Profesor Harun Yahya dari Turki menantang dengan pertanyaannya, "Bila manusia memang berevolusi dari kera, kenapa sekarang kera masih ada?" Sebagai tangkisan, Darwin mengemukakan bahwa evolusi disemarakkan oleh seleksi alam (survival of the fittest); tidak semua jenis kera berevolusi menjadi manusia; hanya yang unggul, yang mampu menyisihkan jenis-jenis kera yang bernasib untuk selamanya menjadi kera.

Dawkins mengetengahkan 'kausalitas' sebagai contoh bagi penjabaran mengenai evolusi. Korek api ada karena ada rokok; rokok ada karena saya ingin; saya ingin karena melihat warung rokok; dan seterusnya. Dawkins selalu berhenti pada 'dan seterusnya'. Saya rasa, dia takkan sanggup membayangkan apa sebab dari segala sebab di balik penciptaan alam semesta. Kaum kreasionis (termasuk para agamawan) dengan gampangnya menisbikan ilmu pengetahuan, menandaskan, "Semua diciptakan oleh Tuhan."

Bagi Dawkins, agama adalah kesia-siaan (wasteful). Dan kesia-siaan ini, diherankan Dawkins, bisa begitu menguasai perikehidupan manusia selama berabad-abad. Begitu banyak nyawa melayang demi kesia-siaan ini. Orang rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melaksanakan ritual-ritual yang tidak bermakna, tetapi ogah-ogahan ketika diharapkan kepeduliannya pada sesama manusia yang menderita. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Dawkins. Bagaimanapun, berkenaan dengan kesia-siaan, saya menertawakan 'kecerobohan' Dawkins: Sebagai pakar biologi dengan spesialisasi perilaku hewan (animal behavior), bukankah seharusnya dia meluangkan banyak waktu, pemikiran dan kata-kata untuk membawa masyarakat kepada pengenalan terhadap dunia hewan, ketimbang merecoki 'kegembiraan' orang melalui kepercayaan kepada Tuhan. Ah, Dr. Dawkins is also being wasteful!

Jadi, kita harus bagaimana? Yaa, kosong saja. Suwung. Jangan merasa bahwa dengan menyebut "Allah, Allah" dalam sembahyang, kita sudah yang paling benar, mengingat nama 'Allah' sendiri merupakan meme. Kalau Anda telah membaca sejarah Tuhan, maka dalam pencarianNya, terungkap bahwa nama Allah berasal dari kepercayaan masyarakat di daerah aliran Sungai Nil untuk berterima kasih akan rezeki yang mereka dapatkan dari tanah yang subur; mereka mencari-cari kepada siapa mereka harus berterima kasih kalau bukan kepada Sang Pencipta -- yang mereka sebut El, dan datanglah istilah 'Allah' setelah melewati proses asimilasi selama berabad-abad pada rangkaian rumpun bahasa Semit (Ibrani, Aramaik, Arab).

Secara tidak langsung (di luar maksud sang penulisnya), The God Delusion telah mengajarkan kepada saya untuk menghamba kepada Tuhan yang bukan meme, yaitu Tuhan yang bisa dikerangka dan dirangkai dengan ulasan kata-kata dan olah pikiran, melainkan -- barangkali -- hanya dirasakan.© 



Jakarta, 24 November 2008

Tuesday, November 18, 2008

Rahasia Kegagalan

"Berserah diri kadang berarti berhenti mencoba mengerti dan merasa nyaman kendati pun tidak tahu. Di samping itu, berserah diri bisa juga berarti transisi di dalam dari penolakan menuju penerimaan, dari 'tidak' menjadi 'ya'."
--Eckhart Tolle, Stillness Speaks (London: Hodder & Stoughton, 2003)



Hari Sabtu, 2 Agustus 2008 lalu, saya beserta istri jalan-jalan ke Mal Pondok Indah. Tempat favorit saya—bukan hanya di MPI, tetapi di semua pusat perbelanjaan—adalah toko buku. Kami pun ke Gramedia. ‘Pulau-pulau’ (terjemahan pribadi saya untuk islands, yaitu displai atau meja peraga untuk promosi produk-produk yang diperdagangkan toko yang letaknya di tengah, di antara rak-rak) memamerkan banyak buku bersubyek pengembangan diri yang umumnya berkepala ‘rahasia sukses’. Sekejap, saya teringat pada buku Gede Prama, The Art of Success Mastery—Dari Keindahan untuk Kesuksesan (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004) yang nangkring di rak buku saya. Buku tersebut pemberian dua mahasiswi yang magang di departemen kreatif yang saya kepalai, karena menurut mereka buku tersebut banyak menjelaskan hal-hal yang sebelumnya sudah mereka dengar dari mulut saya.

Lalu, pada hari Selasa, 5 Agustus 2008, saya baca iklan kolom di harian Kompas, halaman 27, yang berbunyi sebagai berikut: “Temukan Rahasia Sukses membangun BISNIS dalam waktu 4 Jam!” Saya tersenyum waktu membacanya, sementara suara batin saya berseru, "Aaarrgh! Kenapa sih nggak ngajarin rahasia kegagalan? Kenapa sih nggak ada yang berani merilis bukunya dengan judul The Art of Failure Mastery—Seni Memahami Kegagalan?

Sehari setelah jalan-jalan di MPI itu, saya ke bertemu dengan tiga orang yang baru menempuh jalan spiritual. Mungkin karena penjelasan yang mereka terima dari pemandu mereka lebih banyak bermuatan yang ‘enak-enak’ saja, sehingga mereka mengira dengan berspiritualitas mereka akan terhindar dari—yang dimaknai oleh akal pikir sebagai—‘kegagalan’ dalam hidup.

Banyak lembaga pelatihan pengembangan diri maupun jalan spiritual 'memperdagangkan' kesuksesan, mungkin agar lebih marketable, namun sesungguhnya bila Anda memahami rahasia kegagalan, sukses atau gagal, ya, nggak ngaruh, nggak ngefek. Setelah membaca kisah hidup dan karier pendiri Apple Inc., Steve Jobs, saya jadi mengerti tentang hubungan sebab-akibat yang saling berhubungan (pattica sammupada istilah Buddhisme-nya). Saya sudah sering menceritakan tentang pengalaman Steve Jobs, karena kisahnya amat mengilhami saya.

Steve Jobs telah melalui pelbagai pengalaman getir dalam hidupnya, yang membawanya menjadi seperti sekarang ini. Pada acara wisuda di sebuah universitas di AS, Jobs mengharapkan agar para wisudawan tidak melulu melihat ke depan—karena toh belum jelas. Menurutnya, kesediaan untuk menengok ke belakang akan membuat kita selalu bersyukur. Dia memberi kiat connecting the dots (menghubungkan titik-titik) amtara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya di masa lalu. Keterhubungan titik-titik itu akan memberi kita pengertian bahwa segala sesuatu dalam hidup masing-masing merupakan suatu rancangan yang sudah 'dimaksudkan dari sononye'. Saudara Subud saya menamakannya ‘God’s design’. Gagal, sakit, celaka, berhasil, sehat, terhindar dari musibah, dan lain-lain unsur yang saling berlawanan itu sifatnya hanya sementara dan merupakan ‘bagian dari permainan’ (part of the game) yang mengusung diri kita kepada keadaan sekarang ini.

“Tanpa pernah drop out dari kuliah,” kata Steve Jobs, “mungkin saya tidak pernah berpikir untuk kursus kaligrafi.” Nah, tanpa bekal ilmu kaligrafi itu mungkin Anda sekarang tak bisa menikmati tampilan huruf-huruf yang indah pada layar komputer Anda. Sebab, 10 tahun kemudian ketika Jobs dan Steve Woz menciptakan generasi pertama komputer Apple Macintosh, ciptaan mereka itu merupakan komputer pertama di dunia yang menggunakan font!

Jobs pernah dipecat dari Apple, perusahaan yang notabene dirintis olehnya. Tetapi berkat dipecat itulah ia mendirikan Pixar, perusahaan yang menciptakan Toys Story, film animasi 3-D pertama di dunia. Pixar berkembang pesat dan menguntungkan, sehingga sahamnya akhirnya dibeli oleh Apple Inc., dan Jobs bisa kembali duduk di puncak perusahaan yang dibidaninya dahulu itu. “Jika dahulu saya tidak dipecat dari Apple,” kisah Jobs, “mungkin ceritanya jadi lain.”

Jobs juga pernah didiagnosis terkena kanker pankreas pada saat usianya baru 33 tahun dan dokter memperkirakan hidupnya bakal segera berakhir. Dengan tenangnya, Jobs memberitahu keluarganya, mewasiatkan pembagian warisan, dan kemudian ia bertekad untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, sehingga ketika ia mati ia meninggalkan sesuatu yang bernilai bagi mereka yang masih hidup.

Ia mengabaikan penyakitnya dan terus saja bekerja seolah tidak terjadi apa-apa demi mewujudkan prestasi terbaiknya. Perusahaan-perusahaan yang digawanginya tumbuh besar dan jadi hebat selama ‘periode penantian datangnya maut’ itu. Suatu ketika, saat melakukan pemeriksaan medis berkala terhadap penyakit yang diderita Jobs, para dokter menangis. Mereka menemukan keajaiban: kanker pankreas yang diderita Jobs ternyata tergolong langka dan dapat disembuhkan lewat operasi. Jobs akhirnya sembuh total, berbarengan dengan terwujudnya apa yang pernah ditekadkannya!

Muhammad Subuh menyebut rancangan Tuhan itu sebagai 'konstruksi hidup'. Itu yang saya paparkan pada ketiga (kemudian, ketika obrolan jadi kian seru, meningkat jadi lima) orang tersebut di atas. Sebuah bangunan (konstruksi) rumah tinggal, misalnya, memiliki struktur tiang dan pondasi, dinding, ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, teras, atap, jendela, pintu. Semua memiliki fungsi. Bahkan pajangan mungil saja ada tujuan fungsionalnya, yaitu memperindah atau memperkaya atmosfer ruangan.

Seperti itu pula halnya dengan hidup kita. Peristiwa demi peristiwa dan unsur-unsur-yang-saling-berlawanan datang silih berganti. Semua ada maksud dan tujuannya. Yang satu ada karena sesuatu sebelumnya. Masing-masing kita punya rancangan sendiri-sendiri. Kalau Anda bisa menerima suatu realita sebagai privilese Anda seorang, kata Sang Buddha, berarti Anda berhasil menjadi diri sendiri. Anda tidak lagi hidup berdasarkan penilaian-penilaian orang lain, walaupun itu suami/istri, anak atau guru Anda sendiri. Bikkhu Utammo dari Vihara Samaggi Jaya, Blitar—Jawa Timur, yang rekaman audio ceramahnya saya unduh dari Internet, mengatakan bahwa sukses itu tidak ditandai oleh banyaknya harta dan jabatan, melainkan oleh kemampuan pribadi untuk menerima kenyataan hidup.

Pada diri orang yang mampu menerima kenyataan, sukses atau gagal menjadi tidak relevan—ia akan terus mengikhtiarkan yang terbaik bagi dirinya. Pada kedua unsur terdapat sifat kesementaraan yang perannya masing-masing adalah saling menopang. Memaksakan diri sukses—menurut tataran akal pikir, yaitu banyak harta dan jabatan—lewat jalan pintas yang menyalahi rancanganNya, malah mengacaukan hubungan sebab-akibat yang berlaku atas yang bersangkutan. Peluang-peluang yang jauh lebih indah, dan yang siap menghampirinya, malah terpuruk.

Kepahaman ini terproses di benak saya ketika saya lewati begitu saja pulau-pulau di Gramedia Mal Pondok Indah. Di rak berlabel ‘Pengembangan Diri’ pada bagian lain toko buku tersebut saya jumpai buku karya Rhonda Byrnes, The Secret (versi Bahasa Indonesia). Tangan saya menyentuh kulit buku tersebut tetapi tidak terdorong untuk membukanya, karena suara batin saya berkata, “It’s not a Secret anymore—bukan rahasia lagi, ah!”

Semua motivator pengembangan diri mengumandangkan rahasia kesuksesan dalam pelatihan yang mereka tawarkan kepada Anda, karena di tengah masyarakat yang frustrasi kata ‘gagal’ ibarat virus Ebola—mematikan tetapi sulit diatasi. Tetapi sesungguhnya Anda tidak dapat membongkar rahasia kesuksesan tanpa terlebih dahulu mengupas udang di balik batu bernama kegagalan.©


Jakarta, 19 November 2008

Ihwal Memulai

Waktu saya masih tinggal di Surabaya, ada seorang kawan yang bertanya pada seseorang yang sudah sepuh, bagaimana caranya berserah diri. Sebelum orang tua tersebut sempat menjawab, saya menyeletuk, ceplas-ceplos—entah dari mana dorongan itu datang, "Yaa, sampeyan berserah diri aja!" Si orang tua mengangguk-angguk sambil mengatakan, "Nah gitu tuh caranya." Saat itu, saya sendiri sebenarnya belum bersentuhan dengan pengalaman spiritual dan juga tidak tahu bagaimana caranya berserah diri.

Sepotong kisah pengalaman pribadi saya itu terlintas di benak saya baru-baru ini ketika dalam obrolan santai dengan sejumlah kawan, bertopik kewirausahaan, terlontar pernyataan klasik, "Kita nggak tau gimana mulainya!" Saya lantas berpikir, well, that's it! Tidak usah lagi deh lokakarya atau pelatihan. Langsung saja praktik!

Jawaban untuk setiap ihwal memulai, apa pun, sebenarnya terletak pada praktik, tindakan nyata (real-life experience). "Bagaimana memulai makan?" Ya, makanlah. "Bagaimana memulai wirausaha?" Ya, wirausahalah. Entar juga ngerti sendiri. Pengalaman saya menuturkan, segala sesuatu yang dipicu oleh rencana begini-begitu (tanpa kejelasan kapan melaksanakannya) jadinya malah amburadul. "A plan is nothing; planning is everything," kata Dwight D. Eisenhower, jendral bintang lima yang pernah jadi presiden AS itu. Jangan memulai suatu pekerjaan dengan rencana bertarget. Jalani saja pekerjaannya, nanti Anda akan tahu sendiri apa yang dibutuhkan untuk pekerjaan Anda itu.

Ihwal memulai seolah menjadi momok yang cukup mengganggu bagi sebagian besar orang. Ternyata senjata pamungkas untuk memberantas momok tersebut simpel saja: Keberanian. Kita harus berani, bahkan bila perlu keluar dari pakem, breaking the rules untuk hal-hal yang membawa kebermanfaatan. Ketika saya masih jadi trainee copywriter—tahun 1994—pada sebuah biro iklan multinasional di Jakarta, saya berpedoman pada kitab sucinya para copywriter, yaitu bukunya Alastair Crompton, The Craft of Copywriting, yang antara lain mencantumkan Sepuluh Aturan Perak mengenai iklan yang hebat. Saya sekarang sudah lupa sebagian besar dari aturan-aturan itu gara-gara adanya Satu Aturan Emas yang dikemukakan Crompton: "Lupakan semua aturan!" Tetapi saya tidak serta-merta mempraktikkan Aturan Emas itu, karena saya menceburkan diri ke penulisan naskah iklan memang karena ingin belajar hal-hal baru, yang tidak saya peroleh di bangku kuliah. Ketika sudah saya kuasai kesepuluh aturan perak itu dan menjadi skilled copywriter, barulah saya langgar semua aturan, yang malah membuat saya jadi professional copywriter.

Bisnis Apple Inc. jadi besar karena sikap eksentrik pendirinya, Steve Jobs, yang suka melanggar aturan. Berkat breaking the rules, komputer pertama bikinan Apple langsung jadi hit karena karakteristik user-friendly-nya dan merupakan komputer pertama di dunia yang menggunakan font. Filosofi melanggar aturan terlambangkan pada logo Apple: sebuah apel dengan bekas gigitan, yang ternyata diilhami kisah Alkitab, di mana diceritakan Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga gara-gara melanggar aturan Tuhan yang melarang mereka makan buah tertentu (apel?).

Kreatif saja tidak cukup. Kita juga harus berani untuk kreatif. Dunia ini tampaknya belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran orang kreatif, sehingga 'keberanian' untuk kreatif pun senantiasa ditekankan para fasilitator pelatihan wirausaha. Semasa saya masih kelas 4 sekolah dasar di Negeri Belanda, sejumlah murid, termasuk saya, dimasukkan ke kelas khusus dua kali seminggu untuk bimbingan dan penyuluhan dari beberapa pedagog. Semua murid kelas khusus itu punya ciri-ciri yang mirip dengan saya: suka melamun (day-dreaming), introvert, suka berbuat tidak sesuai perintah guru, lamban dalam pelajaran-pelajaran matematis-logis, asyik dengan diri sendiri, tidak suka dengan pelajaran-pelajaran sekolah, dan punya hobi nyeleneh. Sikap orang tua kami pun mirip: sedih (ibu saya menangis karena dengan dirujuknya saya ke psikolog, beliau anggap saya sudah tidak waras), kehilangan harapan akan masa depan yang cerah bagi anaknya, dan bertindak lebih keras dalam mendidik. Barangkali karena perlakuan-perlakuan semacam inilah membuat banyak orang tidak berani untuk kreatif. Tahun 2005, saya mendapat e-mail dari salah seorang teman sesama 'alumni kelas khusus' itu yang antara lain mengabari bahwa dia dan 'alumni kelas khusus' lainnya kini lebih sukses dalam karier ketimbang mereka yang dahulunya 'murid waras'. “Kita berhasil mengatasi rintangan-rintangan dalam hidup kita. Aku sangat senang karena kamu juga melakoni (hidupmu) secara luar biasa,” tulis teman saya itu.

Setiap kali saya bertemu orang yang ingin berwirausaha, kebanyakan mereka tidak memperhitungkan merek, tetapi yang dipersoalkan adalah sulitnya mendapatkan modal. Membangun dan mengelola merek yang saya maksud itu bukan hanya terkait dengan produk/jasa yang kita pasarkan, tetapi juga, yang lebih penting, merek diri kita. Saudara Subud sepuh saya yang sudah sepuh pernah bilang ke saya dan tiga rekan kerja saya, "Kalian kalau kerja jangan cari duit. Carilah nilai." Maksudnya, setiap pekerjaan yang kita lakukan seyogianya menambah nilai kualitas keahlian dan profesionalisme kita di mata prospek pembeli produk/pengguna jasa kita.

Pendiri Subud, Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, menyampaikan hal yang sama—dengan kata-kata yang berbeda—dalam ceramah beliau kepada anggota Subud di Cilandak, 28 Maret 1976! Ceramah yang dicuplik buku Human Enterprise dalam kaitan dengan 'reputasi' itu menuturkan (dalam terjemahan saya):

"Meskipun Saudara punya uang—misalnya seratus juta, dua ratus juta, tiga ratus juta—kalau Saudara tidak punya nama yang baik di dunia ini, maka Saudara tidak bernilai satu sen pun."

Ceramah Muhammad Subuh inilah salah satu kekuatan pendorong bagi saya untuk menanggalkan predikat 'orang gajian' dan memutuskan untuk menjadi 'freelancer 100%'. Saya jelas tidak punya modal uang yang memenuhi syarat untuk membuka usaha, dan meminjam uang pada orang-orang yang tidak sevisi dan tidak 'setuntunan' saya rasa malah akan menghambat tumbuh-kembang saya. Saya melakukan perenungan mendalam, menelusuri perjalanan karier dan hidup yang telah saya lalui, menghubungkan titik-titik (connecting the dots) dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya yang saya alami sepanjang usia dewasa saya. Tergambarlah secara virtual suatu peta tuntunan dari masa lalu, masa kini dan masa depan saya. Wow! Dari situlah saya ketiban pedang sakti CREATIVE (Connection, Responsibility, Exposure, Ahead of time, Travel, Information-hunger, Vocal, Engagement) saya. Naah, ini dia modal saya untuk berwirausaha sebagai agen bebas, haleluya! Saya lalu memulainya saja. Apa kiatnya? Ya, mulai saja...

Nah, sekarang, bagi Anda yang selalu bingung dengan ihwal memulai apa pun, barangkali bisa membantu saya dahulu, yang selalu bingung dengan ihwal mengakhiri apa pun, termasuk tulisan ini.©



Jakarta, 19 November 2008

Sunday, November 16, 2008

Taman Bermain

"Adalah jiwa kanak-kanak di dalam diri manusia yang menjadi sumber bagi keunikan dan kreativitasnya, dan taman bermain adalah lingkungan optimal untuk menggali semua kemampuannya. "
-- Eric Hoffer (1902-1983), dalam The True Believer: Thoughts on the Nature of Mass Movements, 1951


Bertahun-tahun yang lalu, saya menemukan sebuah iklan di buku album iklan pemenang penghargaan (award-winning ads) yang sempat membuat saya syok. Namun bertahun-tahun kemudian, ketika pengalaman dan pemahaman batiniah saya kian kaya, saya tersenyum mengingat hal itu. Saya lupa, iklan itu disponsori oleh lembaga apa, tetapi pesan yang dikomunikasikannya membangkitkan permenungan. Kepala naskah (headline)nya -- dalam bahasa Inggris -- berbunyi: "Dibutuhkan tiga nama untuk membuat anak-anak ini bertikai di antara mereka sendiri." Visualisasi iklan tersebut menggambarkan tiga anak berwajah lugu duduk berdempetan tanpa masalah, sedangkan pada masing-masing anak dilekatkan nama nabi-nabi dari tiga agama besar dunia -- Muhammad, Yesus, dan Abraham!

Sangat mengejutkan dan kelewat vulgar memang. Tetapi kalau kita masing-masing mendinginkan kepala, meredam emosi, atau sekalian saja menenteramkan rasa diri, kita akan dapat membuktikan pada lembaga yang menyeponsori iklan tersebut bahwa apa yang diiklankannya tidak benar. Apalagi ditambah dengan kita membaca (kembali) buku-buku sejarah agama, kita akan tahu bahwa antara Nabi Muhammad SAW dengan umatnya Yesus dan Abraham -- yang berasal dari satu rumpun dan satu garis keturunan -- tidak pernah terjadi pertikaian, kecuali yang diakibatkan oleh fitnah dari pihak di luar kaum mereka. (Hadis yang menyatakan bahwa Yahudi dan Nasrani adalah kafir ternyata berstatus maudhu', meragukan; hadis itu diciptakan secara sepihak, bernuansa politis, oleh kaum Majusi Persia yang menyembah berhala ketika berperang melawan bani Israil dan kaum Nasrani.)

Ketiga rasul Allah itu pun terkenal suka mendoakan musuh-musuh mereka agar Tuhan mengampuni dosa-dosanya. Nabi Muhammad terluka pada mulut beliau akibat lemparan batu seorang kafir dalam Perang Tabuk. Melihat hal itu, Umar ibn Khattab berseru kepada Nabi, "Kutuklah orang itu, wahai Rasul Allah!" Tetapi Nabi Muhammad malah menegur Umar, "Aku diutus Allah bukan untuk mengutuk manusia!" Lalu Nabi Muhammad mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Ya Allah, ampunilah orang itu karena ia tidak mengerti." Jika Anda orang Islam* yang masih suka merecoki keyakinan orang lain, sepatutnya Anda malu ketika membaca kisah keteladanan Rasulullah ini.

Betapa pun vulgarnya iklan tersebut di atas, saya mengagumi pendalaman materi yang dilakukan oleh tim kreatifnya. Mereka tampaknya mempelajari dunia anak-anak. Richard Dawkins dalam bukunya yang mengguncang kemapanan lembaga-lembaga agama, The God Delusion (2007), menulis bahwa tidak ada yang namanya 'anak Kristen', 'anak Islam', dan 'anak Yahudi'; yang ada hanyalah 'anak dari orang tua yang beragama Kristen', dan seterusnya. Anak-anak adalah makhluk yang suci, tak ternoda, begitu mereka dilahirkan. Orang tua merekalah yang melekatkan macam-macam atribut pada diri mereka. Bagi anak-anak, dunia tempat mereka hidup adalah sebuah taman bermain (playground). Layaknya taman bermain, yang ada hanya kegembiraan, kedamaian, dan pembelajaran.

Saya terkenang pada masa kanak-kanak saya di Negeri Belanda. Pada waktu itu, saya punya dua orang sahabat -- teman-teman sepermainan yang membagi kegembiraan mereka bersama saya di taman bermain dekat lingkungan tempat tinggal kami. Yang satu bernama Peter de Bruin, anak dari orang tua yang beragama Kristen. (Kelak ketika dewasa, Peter memilih menjadi atheis, tetapi toh kami tetap berteman baik dan tetap berhubungan lewat e-mail.) Yang lain, Ruud Verweij, keturunan Yahudi. Namanya anak-anak, ya kami juga suka berantem, gara-gara memperebutkan kelereng, gara-gara merasa dicurangi waktu balap lari sepulang sekolah, dan hal-hal sepele lainnya. Namun permusuhan tidak berlangsung lama; esoknya, di sekolah dan sepulang sekolah, kami bermain lagi dalam suasana kegembiraan dan kedamaian.

Ruud tidak satu sekolah lagi dengan saya dan Peter ketika kelas 3 SD, karena ia tidak naik kelas, sehingga ia pindah sekolah. Apakah persahabatan kami berakhir? Tidak -- kami masih terus bertemu di taman bermain yang sama. Bahkan Ruud ikut les renang bareng saya di pusat olahraga dekat rumah kami; kami mendaftar bersama, berenang bersama, bahkan pernah sama-sama disetrap instruktur renang kami, karena menggoda anak-anak perempuan yang juga sedang les renang.

Kebersamaan saya, Peter dan Ruud tidak pernah sedikit pun terusik oleh atribut-atribut agama yang dilekatkan pada diri kami, yang di dunia orang dewasa justru menjadi sumber pertentangan paling dahsyat, sampai merenggut nyawa. Pada suatu waktu, ketika saya mengunjungi apartemen di mana Ruud tinggal bersama ayah-ibunya, nenek dan kakaknya, ia menanyakan apa agama saya, semata karena ingin tahu saja (khas anak-anak, bukan?). "Islam?" ucapnya dengan kening berkerut, lalu bertanya pada ibunya, "Apakah Islam?" Sang ibu menjawab, "Islam itu Mohamedaan."

Melihat anaknya masih dilanda kebingungan, Bu Verweij menyuruh Ruud membuka ensiklopedia yang bertengger di lemari buku di ruang tamu apartemen mereka yang sempit itu. Ruud membaca keras-keras dan agak terbata-bata, "Mohamedaan adalah sebutan untuk para pengikut Muhammad, seorang nabi dari negeri yang kini bernama Saudi Arabia bla-bla-bla." Ruud mengangguk-angguk, menutup kitab babon ensiklopedia itu dan kami kemudian bermain seperti biasa. Sesimpel itu. Kalau kami orang dewasa, yang membabi-buta dalam beragama, tanpa bekal kesalingpahaman, mungkin bukan pergi nongkrong bareng yang kami lakukan, melainkan saling baku hantam! Tetapi alhamdulillah, bahkan ketika kami dewasa, jiwa kanak-kanak masih terus hidup di dalam diri kami. (Walaupun tidak sesering Peter, hingga kini Ruud masih kontak dengan saya via e-mail.)

Saya tidak sependapat dengan Richard Dawkins (The God Delusion. Houghton Mifflin, 2006) dan Sam Harris (The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason. W.W. Norton & Company, 2004) serta para penulis lain yang berlatarbelakang atheisme, yang menganggap agama sebagai kesia-siaan, sumber malapetaka bagi peradaban manusia. Agama tidak buta, karena ia adalah pedoman hidup kita. Sistem yang diajarkan agama, bila dipahami secara kontemporer dan kontekstual, adalah suatu 'jalan' menuju ke Tuhan. Yang membutakan umat beragama bukanlah ajaran agamanya, melainkan fanatismenya dalam beragama. Tanpa disadari, fanatisme sering membutakan kita sehingga kita menyembah agama tersebut, bukannya Tuhan. Yang disembah adalah atribut-atribut dan materi-materi yang berupa simbol-simbol. (Di tingkat fanatisme, bahkan seorang atheis sama saja dengan umat beragama. Pelopor psikologi agama, William James, dalam Perjumpaan Dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia, Cet. I (Bandung: Mizan, 2004), hlm. 98, menulis: "Para penentang doktrin [agama] yang paling keras menunjukkan perilaku yang, jika dilihat dari sisi psikologis, tidak bisa dibedakan dari semangat keagamaan.")

Dahulu, pernah ada kasus menyangkut sepatu Big Boss yang garis-garis pada bagian solnya menyerupai aksara Arab untuk 'Allah'. Itu saja sudah menimbulkan keributan di kalangan umat Islam negeri ini. Coba Anda renungkan, deh, tulisan itukah sejatinya Allah, Penguasa Alam Semesta? -- ah, betapa nistanya kedudukan Tuhan bila Anda mengiyakan. Nabi Ibrahim pernah menganggap bulan itulah Tuhannya, tetapi karena bulan kemudian sirna, beliau meragukan anggapannya sendiri. Karena Nabi Ibrahim tidak mau menyembah tuhan yang sewaktu-waktu bisa hilang, saya pun ogah -- saya tidak mau menyembah Allah yang berupa tulisan (Arab) yang sewaktu-waktu bisa dihapus. Saya maunya menghamba kepada Tuhan Yang Maha Ada terus-menerus, Yang Maha Tidak Terusik oleh kasus penyerupaan tulisan Arab pada sol sepatu atau sampul albumnya grup musik Dewa.

Kitab-kitab suci agama-agama wahyu menggarisbawahi bahwa dunia ini memang hanya sebuah taman bermain yang penuh kegembiraan -- walau kita dihampiri kesusahan sekalipun, kedamaian -- meski terdapat perbedaan, tetapi perbedaan adalah rahmatNya, dan pembelajaran -- untuk mengenal diri, mengenal Tuhan, dan untuk sampai pada pemahaman bahwa jalan apa pun yang kita tempuh semuanya menuju kepadaNya! Ketetapan Tuhan bahwa dunia tempat kita hidup adalah taman bermain memang bukan main.©


*) Terdapat perbedaan mendasar antara sebutan 'orang Islam' dan 'Muslim'. Yang pertama mengacu pada orang yang menunaikan ajaran agama Islam secara taklid (ikut-ikutan orang lain), sedangkan yang tersebut terakhir adalah sebutan hakiki bagi orang yang sudah mampu berserah diri kepada Kehendak Tuhan secara sabar, ikhlas, dan tawakal, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad (dan nabi-nabi sebelum beliau). Seorang Muslim menjalankan agamanya secara tahqiq (sadar lahir-batin mengikuti tuntunan Tuhan).



Jakarta, 17 November 2008

Menjelajahi Dunia Tanpa Batas

"Anda punya pikiran seperti perpustakaan, bukan gudang. Ada dunia di luar sana. Jadilah seorang penyapu jalanan, tukang pukul, matador, dan Anda akan memperoleh lebih banyak informasi daripada yang Anda butuhkan."
-- Neil French tentang ketidakmengertiannya atas orang-orang yang langsung bekerja di periklanan setelah tamat kuliah, dalam Jim Aitchison, Cutting Edge Commercials: 138.


Seorang saudara Subud saya suatu ketika memberi saya sebuah PDA (personal digital assistant). Karena sudah lama saya penasaran pada benda itu, saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk menjelajahi fitur-fiturnya. Minat saya pada PDA itu ternyata tidak bertahan selama rasa penasaran saya. Lalu ada kawan yang usul agar menunya ditambah dengan gambar/foto, musik, dan permainan. Saya mengikuti usulnya, tetapi itu pun tidak membantu hasrat saya untuk menjelajahi dunia tanpa batas, sampai saya mengkhayalkan PDA atau telepon seluler atau komputer yang fitur-fiturnya bisa berganti dengan sendirinya dengan sesuatu yang baru setiap hari. Sadar bahwa itu mustahil, kecuali dengan meng-install perangkat lunak baru yang juga belum tentu bisa dilakukan setiap hari, maka saya menyimpulkan bahwa perangkat gadget itu, ya, sekadar benda yang memberi kepuasan sesaat.

Tahun 1999, ketika saya tengah diliputi penasaran akan internet, saya diterima bekerja sebagai editor pada sebuah lembaga swadaya masyarakat. Sesuai fungsi saya selaku editor, tugas saya adalah menjelajahi internet, 8 jam per hari, 5 hari dalam seminggu, mencari perkembangan-perkembangan baru di bidang sosial dan ekonomi untuk selanjutnya dibuatkan artikel. Di waktu luang, saya mencari hal-hal lainnya. Internet berhasil memuaskan rasa penasaran saya sekaligus memupuskan greget saya. Internet memang menyediakan informasi A sampai Z, tetapi tidak segalanya! Daya imajinasi saya melampaui dunia maya yang ternyata masih memiliki keterbatasan.

Dunia tanpa batas yang begitu ingin saya jelajahi rupanya bukan terdapat pada benda-benda elektronik yang dicap 'adi-canggih' itu, yang menjadi aksesori vital manusia millenium hingga kehilangan esensi dirinya. Bagi manusia modern saat ini, kehilangan/tidak memiliki perangkat pelengkap tersebut berarti kiamat. Hah?!

Saya tidak menafikan kegunaan PDA, ponsel, kamera digital, komputer dan internet. Di Abad Informasi ini, teknologi-teknologi itu memang memudahkan hidup kita. Namun saya menyayangkan jika semua itu malah menghambat tumbuh-kembangnya kreativitas kita. Semua teknologi adalah produk dari kreativitas manusia, tetapi produknya sendiri tidak bisa diandalkan untuk memberi kita ide-ide kreatif.

Salah seorang creative director yang menjadi narasumber bagi buku Jim Aitchison, Cutting Edge Commercials (2002), punya kebiasaan menempelkan pada komputer-komputer di departemen kreatif yang dikepalainya stiker bertuliskan: "Benda ini tidak bisa memberi Anda ide!" Ia mendorong semua awak kreatif untuk menemukan ide dengan menjelajahi 'dunia di luar sana'. Ya, hidup ini menawarkan berbagai aspek yang amat dinamis jika saja kita mau melakoninya dan menerima tantangan-tantangannya sebagaimana adanya. Melakoni hidup berbekal kreativitas bahkan lebih mengasyikkan dan menyehatkan jiwa kita. Arthur J. Cropley dalam "Definitions of Creativity" (Encyclopedia of Creativity, vol. 1: 512), berpendapat bahwa kreativitas dipandang dapat mendorong kita melakukan penyesuaian yang positif terhadap kehidupan.

Bagi saya, kreativitas menyingkirkan segala hambatan. Yang tidak mungkin menjadi mungkin, paling tidak dalam ruang imajinasi saya. Enam tahun kuliah di jurusan sejarah tidak menghalangi saya untuk menjadi praktisi periklanan. Empat belas tahun melanglang di dunia periklanan tidak menghambat saya untuk tampil sebagai pembicara dalam seminar pengembangan diri. Walaupun pada dasarnya saya beragama Islam, hal itu tidak merintangi saya untuk membaca dan memperoleh pemahaman dari Alkitab, Zabur, Taurat, Tipitaka, serta menekuni amalan Buddhisme. Sebelum Anda mengerutkan kening, lantas meragukan keislaman saya, coba deh telusuri buku Jamal Badi dan Mustapha Tajdin, Islamic Creative Thinking -- Berpikir Kreatif Berdasarkan Metode Qurani (Bandung: Mizan, 2007), yang mengemukakan sejumlah ayat yang intinya membenarkan umat Islam untuk ber-ijtihad (berusaha keras) melalui jalan yang kreatif, jika tidak ditemukan solusinya di dalam Al Qur'an dan Hadis.

Dunia tidaklah selebar daun kelor. Karena itu, meski saya aktif berspiritualitas, yang sering dianggap urusan akhirat, saya tetap manusia normal yang punya kegemaran duniawi. Anda hanya akan menemukan sedikit sekali literatur bertopik spiritualitas dan keagamaan di rak buku saya, dibandingkan koleksi buku militer dan film perang. Dan meski saya mengoleksi film perang, film drama percintaan Sleepless in Seattle yang dibintangi Tom Hanks dan Meg Ryan justru menjadi film yang membuat saya rela menontonnya berulang kali. Dunia yang kita diami ini akan terasa ketiadaan batasnya jika kita berani 'banting setir' tinimbang 'mempertahankan jalur'. Dan hidup pun serasa abadi bila kita mau meraup pilihan-pilihan yang disediakannya.

Harian Kompas, 20 April 2008, menurunkan di halaman 29-nya kisah mengenai orang-orang yang berani berbalik arah: seorang asisten manajer di Toyota Motor Corporation memutuskan untuk menekuni bisnis pakaian dan selimut; seorang general manager di Astra Graphia keluar dari tempatnya bekerja dan mengembangkan usaha pengobatan herbal, sekaligus untuk menyiapkan masa pensiunnya; seorang meninggalkan pekerjaannya di perusahaan asing dan membangun usaha perikanan di Bali; dan seorang lagi mengembangkan bisnis perjalanan petualangan setelah melepas jabatannya di Aquarius. Dengan latar belakang visi yang mulia, yaitu menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, jelas orang-orang ini bermental wirausaha, yang ingin memberdayakan hidup mereka semaksimal mungkin. Dan sudah pasti mereka kreatif! Mereka mungkin juga berpikir, "Ada dunia di luar sana, kenapa aku harus mengekang diri dengan kemapanan?"

Daya imajinasi dan wawasan merupakan dua bahan baku utama bagi penumbuh-kembangan kreativitas. Kebanyakan kita tidak memperoleh privilese untuk berkhayal ketika masih kanak-kanak, karena berkhayal umumnya dianggap sebagai hal yang sia-sia. Orang tua saya amat mengkhawatirkan kesukaan saya berkhayal. Rapor saya ketika masih sekolah dasar di Negeri Belanda dahulu sering dibubuhi catatan 'dag-dromen' (berkhayal), seakan berkhayal itu sejenis penyakit yang mesti diberantas. Saya ingat kata-kata ibu saya waktu itu menyangkut kesukaan saya berkhayal: "Mau jadi apa kamu nanti?" Jika saat ini waktu bisa diputar kembali ke masa itu, saya akan sujud sungkem kepada beliau, mohon maaf, dan memberitahu, " Ma, berkat berkhayal saya sukses sebagai creative director dan saya selalu menemukan ide-ide brilian dari situ. Ide-ide yang membuat saya sanggup bertahan di tengah krisis kehidupan setelah Mama kembali ke pangkuan Allah."

Sewaktu saya masih duduk di kelas 4 sekolah dasar Belanda, guru seringkali membacakan kisah-kisah dari buku fiksi. Guru tidak pernah menuntaskan pembacaannya, tetapi menugasi murid-muridnya untuk membuat karangan yang diawali dengan pertanyaan si guru: "Kalau kamu jadi tokoh utama dalam kisah ini, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?" atau "Kalau kamu penulis ceritanya, bagaimana kamu akan mengakhiri kisah ini?" Jawabannya terserah pada masing-masing murid. Yang dinilai oleh guru bukan kemampuan menulis murid, melainkan seberapa kreatif jawaban yang diberikannya. Pelajaran itu melatih murid untuk senantiasa berpikir dan bertindak secara berbeda atau melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam pelajaran menggambar, guru juga pernah menerapkan pendekatan ini. Suatu ketika, guru menggambar kepala seorang raja yang bermahkota. Para murid diminta menirukannya. Selesai menggambar kepala raja, si guru tiba-tiba meninggalkan kelas, karena, katanya, ia harus menghadap kepala sekolah. Ditinggal cukup lama oleh guru tanpa penugasan apa pun, timbul keusilan saya untuk menambahkan gambar bingkai di sekeliling kepala si raja serta memberi ornamen-ornamen. Murid yang duduk di sebelah saya menggambar raja itu lengkap dengan badannya dan memegang tongkat scepter kerajaan. Murid lainnya membuat si raja duduk di atas singgasana. Secara keseluruhan, hanya segelintir murid yang 'seusil' saya. Ketika guru kembali ke kelas dan melihat apa yang telah saya dan segelintir murid lakukan, ia malah memuji kami sebagai anak-anak yang kreatif. Murid-murid yang tidak berbuat apa-apa selagi guru pergi dikritik sebagai 'tidak punya inisiatif'!

Berdasarkan pengalaman saya di atas, ide-ide kreatif muncul dari pertanyaan "Bagaimana kalau...?" atau pernyataan "Kalau aku jadi dia, maka..." Seperti juga ketika melamar untuk posisi penulis naskah iklan di biro iklan Lintas Indonesia (kini Lowe) pada tahun 1995, saya juga disodori tes tertulis, yang antara lain mencantumkan pertanyaan: "Iklan apa yang tidak Anda sukai? Jika Anda menjadi kreator iklannya, apa yang akan Anda lakukan untuk membuatnya lebih baik?" Memandang diri saya sendiri yang pada dasarnya suka memprotes segala sesuatu yang di mata saya kurang sempurna, dan sering tidak sejalan dengan pendapat kebanyakan orang, barangkali itulah pemicu kemampuan berpikir kreatif pada diri saya. Menurut B. McLaren, dalam artikelnya, "Dark Side of Creativity," yang termuat di Encyclopedia of Creativity, vol. 1, kreativitas muncul dari kerinduan akan kesempurnaan yang tak terealisasikan dalam pengertiannya yang mutlak. Ia mengandung ketidakpuasan terhadap hal-hal sebagaimana adanya, dan semangat memperbaikinya untuk 'memuliakan' atau bahkan untuk membebaskannya dari kekangan kondisi yang sekarang berlaku, atau untuk menyelaraskan dunia aktual dengan dunia ideal.

Wawasan juga berperan penting dalam mengembangkan kreativitas. Wawasan tidak hanya didapat dari buku. Tapi -- bahkan lebih penting -- juga melalui interaksi kita dengan lingkungan. Creative director saya dahulu, seorang wanita eksentrik asal Selandia Baru, menganjurkan agar saya memperluas cakrawala dengan bergaul dengan berbagai kalangan, mendengarkan segala jenis musik, menonton semua film, membaca semua jenis buku, menulis tentang topik apa saja dengan mengabaikan aturan-aturan redaksional.

Dari sini, tertangkap kesan bahwa kreativitas menafikan batas-batas, termasuk aturan-aturan yang mengekang. Kekangan seakan mengabaikan kenyataan bahwa tidak ada yang lebih baik dari yang sudah ada. Orang kreatif bukan mengabaikan; mereka hanya tidak mengindahkan aturan-aturan yang dibuat orang lain, tetapi mereka, sebaliknya, berpegang teguh pada prinsip-prinsip pribadi serta mengikuti ke mana pun imajinasi membawa mereka. Mereka menyadari konsekuensinya, dan karena orang kreatif umumnya punya harga diri setinggi langit dan rada narsistis, mereka cenderung membiarkan diri menanggung kesalahannya sendiri ketimbang mengakui kekeliruannya pada orang lain. Toh, di dalam menumbuhkembangkan kreativitas, kesalahan/kegagalan adalah bagian dari proses pembelajarannya. Untuk menjadi benar/berhasil kita tidak boleh takut salah/gagal. Orang yang tidak kreatif susah untuk menerima prinsip ini, sehingga dalam kacamata mereka, orang kreatif dituding anti-kemapanan. Padahal, bagaimana kita bisa mapan jika sejatinya dunia ini tanpa batas dan terus berubah?[]



Jakarta, 17 November 2008

Melatih Kesadaran Secara Tidak Sadar

"Spiritualitas hakikatnya adalah perjalanan ke dalam. Anda tidak memerlukan persiapan, tidak usah bawa koper -- sama sekali tidak perlu apa pun. Yang Anda butuhkan hanyalah CINTA! Dan Cinta ini hanya dapat timbul sebagai hasil dari aktualisasi diri yang dicapai melalui laku hidup secara meditatif."
-- Anand Krishna


Mengawali kehidupan sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Kampus Baru UI Depok pada September 1987, saya mulai menulis catatan harian -- dalam pengertian harfiahnya, yaitu setiap hari! Lebih karena terilhami oleh pendahulu saya di Jurusan Sejarah FSUI, almarhum Soe Hok Gie, melalui Catatan Seorang Demonstran-nya, saya mengisi lembar demi lembar catatan harian saya dengan pengalaman sehari-hari saya sebagai mahasiswa, peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar saya, manusia-manusianya, juga mengenai kejadian-kejadian penting di lingkungan intra dan eksta kampus di mana saya tidak terlibat di dalamnya.

Tadinya terpaksa -- sekadar mengikuti tren Soe Hok Gie (yang sudah merebak di kalangan mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI jauh sebelum muncul film Gie yang dibintangi Nicolas Saputra), saya kemudian malah ketagihan menulis catatan harian. Bahkan setelah tidak lagi berstatus mahasiswa. Terakhir saya menulis catatan harian adalah pada tahun 2005; terutama karena pengalaman spiritual dan pemahaman saya tentang hidup kian susah untuk dijabarkan. Penjelasan apa pun, betapa pun mendalamnya, seperti yang biasa saya tulis di catatan harian sebelum itu, hanya merupakan pendangkalan sebuah kebenaran yang tidak bisa terucapkan/dituliskan. Jadi, hampir 18 tahun saya menggores pena, mengisi lembaran-lembaran perjalanan hidup saya. Lalu, apa yang saya peroleh?

Secara tak sadar, saya ternyata telah melatih kesadaran saya terhadap diri dan lingkungan. Keinginan untuk membuat muatan catatan harian saya sedetil mungkin, termasuk mengenai tanggal dan jam, nama tempat, topik pembicaraan, siapa saja pelakunya, pemikiran-pemikiran saya dan orang lain, bahkan sampai judul dan penulis buku-buku yang saya baca, nomor/nama angkutan umum yang saya tumpangi menuju ke suatu tempat, nama lengkap orang dan hari ulang tahunnya, telah mendorong saya agar rajin mengamati lingkungan di mana saya beraktivitas.

Hasil pengamatan itu lantas saya analisis di benak saya, dan terjadilah dialog dengan diri sendiri: "Seharusnya begini, bukan begitu, agar nanti begini. Kalau gue pelakunya, gue akan melakukan ini lalu itu." Setahun setelah menamatkan kuliah, baru saya menyadari manfaat dari melewati proses-proses melatih kesadaran itu, yaitu ketika saya mulai menjejaki karier sebagai penulis naskah iklan. Dengan menimba banyak pengalaman saya telah menimbun banyak ide di pikiran bawah sadar saya, yang bakal mengucur deras begitu saya membutuhkannya untuk suatu pekerjaan atau untuk menyelesaikan suatu masalah.

Pengalaman saya ini sejajar dengan pandangan para psikolog Gestalt, yang mengakui bahwa pengalaman dengan lingkungan memainkan banyak peran dalam tindakan kreatif. Aliran Gestalt menegaskan bahwa menemukan sudut pandang baru terhadap keseluruhan masalah -- bukannya memilah-milahnya -- lebih mungkin menciptakan kreativitas.

Ketika membaca buku yang mengompilasi kolom mingguan Danai Chanchaochai di rubrik Real.Time pada Bangkok Post sejak Agustus 2002, berjudul Dhamma Moments (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer -- Kelompok Gramedia, 2006), saya beroleh informasi, bahwa meditasi bukanlah sekadar duduk bersila/bersimpuh sambil memejamkan mata dan memusatkan perhatian. Meditasi Buddhis, utamanya Vipassana atau 'meditasi wawasan' (insight meditation), pada dasarnya, bisa dilakukan bahkan di tengah jalan raya sekalipun tanpa si pelaku merasa terusik, karena prosesnya berpusat pada dirinya, memutuskan siklus dengan keadaan sekitar tetapi sepenuhnya sadar akan keberlangsungan, sehingga pelaku tidak merasa dirinya istimewa.

Meski Buddhisme umumnya mengamalkan meditasi, tetapi yang lebih penting adalah melakoni hidup secara meditatif (sadar dan terfokus) dan bersemangat Dhamma Sang Buddha. Menjadi sadar berarti menjadi penuh perhatian terhadap lingkungan, berfokus pada saat ini, dan, hasilnya, kita menjadi lebih peka.

Kebanyakan kita mengabaikan kesadaran ketika beraktivitas. Tindakan untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang seyogianya menjadi ajang pembelajaran dilaksanakan tanpa menaruh perhatian sungguh-sungguh pada langkah-langkah penyelesaiannya, sehingga pengalaman tersebut tak berhikmah sama sekali -- malah berpotensi menimbulkan permasalahan yang sama di kemudian hari. Tampaknya hal itu memang telah menjadi kecenderungan umum, sehingga novelis Joseph Bulgatz pun berkomentar, "Satu hal yang bisa kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak memetik pelajaran apa pun dari sejarah." Dari sudut pandang agama kesalahan sama yang dilakukan dua kali bahkan dianggap tidak mencerminkan sifat orang yang beriman, seperti disampaikan oleh pepatah, "Orang beriman dilarang terperosok dua kali di lubang yang sama."

Sehari-hari saya mengamati segala sesuatu yang berlangsung di seputar saya, jauh dan dekat, dan efeknya terhadap diri saya. Dari aktivitas itu, saya mendapat pengertian bahwa kehadiran benda dan peristiwa pada suatu waktu merupakan tata kelola Kehendak Tuhan. Kejadian-kejadian dalam hidup ini, keberhasilan maupun kegagalan, adalah rangkaian perjalanan yang memberi makna pada hidup karena mengacu pada suatu hukum 'siklus sebab-akibat yang saling bergantung' (pattica samuppada) yang berlandaskan ketetapanNya. Ujung-ujungnya, saya menginsafi eksistensi Kekuasaan Maha Besar yang terlalu kompleks untuk dipikirkan, sehingga sebaiknya kita tidak memikirkan misteri tentang hakikatNya, tapi sebaliknya bergiat saja dengan hidup dan kehidupan. Jalan spiritual apa pun, saya kira, karena itu menitikberatkan pada implementasi tuntunan Tuhan dalam laku hidup sehari-hari, menghindari jalan ngelmu yang tidak menuju ke mana pun.

Apa perlunya kita melatih kesadaran -- dan menjadi peka? Agar kita menyadari kebermanfaatan dari keberadaan kita di dunia; agar eksistensi kita tidak percuma. Bukankah sebaik-baik manusia di hadapan Tuhan adalah yang dapat memberi manfaat bagi orang lain? Di sekeliling kita terdapat kebutuhan-kebutuhan yang memohon untuk dipenuhi. Kepekaan diri yang terpercik oleh kesadaran yang tinggi akan mendorong kita untuk meredakan ego, dan memberdayakan keikhlasan untuk menyumbangkan manfaat kita bagi lingkungan. Sadarilah.[]



Jakarta, 17 November 2008

Saturday, November 15, 2008

Tiga Pilar

“Banyak melihat, banyak menderita, dan banyak belajar, adalah tiga pilar pembelajaran.”
– Benjamin Disraeli (1804-1881)


Tulisan bertajuk "Tertawa Belakangan" di bawah ini, yang saya sebarluaskan melalui e-mail dan juga via blog saya di Friendster.com pada 25 Desember 2007 lalu ternyata mengundang tanggapan positif dari sejumlah orang, Subud maupun non-Subud. Mereka bertanya, "Bagaimana caranya menjadi the most wanted?"—di bidang mereka masing-masing.

Ya, menurut pengalaman saya, pertama-tama saya bertanya pada diri saya sendiri apa misi dan tujuan hidup saya. Dalam hal ini, saya disadarkan oleh buku Robert Scheinfeld, The 11th Element (Unsur ke-11): Mengaktifkan Kekuatan Batin Anda untuk Menderaskan Kesuksesan dan Kekayaan (PT Serambi Ilmu Semesta, 2003), yang juga menganjurkan begitu. Saya beruntung, karena saya sudah menerima Latihan Kejiwaan, di mana dalam keadaan merem dan lerem saya biasanya memperoleh jawaban atas segala pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang pernah saya batinkan adalah: "Apakah yang bisa menjadi sumber nafkah saya?" Penerimaan saya kuat sekali saat itu juga: "Nulis, nulis, nulis, nulis," sementara jari telunjuk saya bergerak seperti sedang menulis. Sambil merenungkan misi dan tujuan hidup Anda, mulailah menelusuri minat dan bakat Anda. Minat membangun kecintaan, dan segala sesuatu yang kita lakukan dengan cinta menghasilkan karya yang bakal disukai orang, dan meredakan rasa tertekan dalam diri kita.

Kedua, setelah memahami apa misi dan tujuan hidup saya, saya meminta kepada Tuhan. As simple as that. Bagi sebagian orang yang menekuni tasawuf, meminta seolah 'diharamkan', karena bertentangan dengan prinsip tawakal—‘tidak meminta apa yang tidak dikehendaki Tuhan, dan tidak menolak apa yang dikehendakiNya'. Namun, saya kira, kalau kita tidak pernah meminta alangkah sombongnya; seolah kita mampu memenuhi sendiri apa yang kita butuhkan. Sejumlah hal dalam hidup ini memang tidak perlu diminta, karena Tuhan sudah menyediakannya, antara lain langit, air, api, udara dan tanah. Tetapi ini adalah 'bahan-bahan mentah' yang menanti untuk diolah. Untuk mengolahnya, kita perlu meminta kepada Tuhan agar kreativitas, intelektualitas dan kemauan/semangat kita dilanggengkanNya. Bahkan untuk bisa sabar, ikhlas dan tawakal saja kita perlu meminta kepadaNya. Tetapi kalau kita tawakal ('mendelegasikan segala urusan kepada Tuhan'), lakukanlah yang ini: minta dan lupakan, atau simpan permintaan itu di dalam laci batin kita. Scheinfeld dalam 11th Element dan Rhonda Byrne dalam The Secret (Gramedia, 2007) menganjurkan agar kita menyimpan permintaan tertulis kita di tempat-tempat kesayangan kita dan tidak membukanya sampai waktunya tiba. Kapan itu? Kita takkan pernah tahu kapan, hingga permintaan kita terealisasi—saat itulah biasanya kita menyadari bahwa kita pernah memintanya.

Ketiga, bertindaklah! Banyak orang yang salah kaprah terhadap ekspresi 'berserah diri'; berserah diri bukan menyerah, tidak melakukan apa-apa, hanya menanti mukjizat, manyun sambil rokokan di bawah pohon pada waktu di mana kita mestinya menjalani hidup, dan berkeluh-kesah dengan melankolik: "Ah, kenapa ya hidup ini nggak adil sama aku, ya?!" Berserah diri adalah sikap proaktif untuk berusaha semaksimal mungkin, tetapi menyerahkan hasilnya pada Tuhan.

Ketika bertindak justru kita harus mengerahkan segala daya upaya untuk menjadikan diri kita masing-masing lebih bernilai. Tuhan sudah menyediakan potensi-potensinya, tinggal kita menggalinya. Dalam kaitan dengan melengkapi permintaan untuk menjadi the most wanted freelance copywriter yang saya panjatkan kepada Tuhan, saya mempraktikkan prinsip pribadi saya yang saya singkat CREATIVE (Connection, Responsibility, Exposure, Ahead of time, Travel, Information-hunger, Vocal, Engagement), yang merupakan penerimaan saya berdasarkan pelbagai pengalaman pribadi. Penjabarannya sebagai berikut:

CONNECTION—Membangun jejaring (network). Bergaullah dengan sebanyak mungkin orang dari segala lapisan sosial dan ekonomi, tetapi utamakan dahulu dengan mereka yang menyandang predikat network hub (sumbu jejaring) atau opinion leader (pemandu opini) dalam komunitas masing-masing. Jika Anda membenci seseorang segera hilangkan rasa itu; jika Anda sedang bermusuhan, segeralah berdamai (karena dengan demikian Anda juga berdamai dengan diri sendiri), lupakan apa pun yang menjadi penyebab permusuhan itu. Berinvestasilah dalam hubungan-hubungan ini, siapa tahu esok Anda membutuhkan orang lain, atau sebaliknya. Saya pernah mendapat proyek-proyek yang tidak mungkin saya kerjakan sendiri, kecuali saya gurita yang punya banyak tangan. Saya kontak salah seorang network hub pemuda Subud Jakarta Selatan (yang saya juluki "Database Berjalan") untuk mencarikan saya satu orang untuk data collection (untuk pembuatan laporan tahunan PT Pupuk Kaltim Tbk., di mana saya jadi penulisnya) yang siap diterbangkan Jakarta-Bontang p.p., serta satu orang produser untuk produksi iklan televisi. Puji syukur, keduanya bisa saya peroleh dalam waktu singkat.

RESPONSIBILITY—Jaga nama baik Anda dengan senantiasa mempertanggungjawabkan pekerjaan Anda. Penuhi tenggat waktu yang ditetapkan klien Anda (on-time delivery)—walaupun kadang tidak masuk akal; siang ini di-brief, besok pagi harus sudah diserahkan. Jangan menunda-nunda pekerjaan, mengerjakannya setengah hati, atau menomorduakan klien tertentu. Klien tidak peduli, bila Anda ada kerjaan lain yang sama urgent-nya. Kalau mau realistis, jangan serakah dengan menerima dan menyanggupi semua pekerjaan yang ditawarkan, karena semata mengejar uangnya, daripada Anda sendiri keteteran yang berujung Anda di-blacklist klien. Atau, bagilah rezeki Anda dengan mengajak orang lain yang bisa bekerja sama dengan Anda. Janji-janji kualitas sebaiknya juga dipenuhi. Dengan menjadi bertanggung jawab, Anda sebenarnya telah menguntungkan banyak orang maupun Anda sendiri. Karena itu, ini bisa menjadi aspek penting dalam membangun reputasi Anda sebagai "the most wanted".

EXPOSURE—“Don’t tell, but show!" Jika Anda memang hebat dalam hal tulis-menulis, misalnya, jangan hanya berkoar-koar, tetapi tunjukkan. Tulislah artikel atau cerita pendek dan kirim ke media cetak. Kalau ditolak, jangan kecewa; kalau saya melihat sisi positifnya: Saya merasa mendapat layanan konsultasi gratis tentang menulis yang bagus dari media bersangkutan. Saya menyimpan banyak surat penolakan dari harian Kompas, majalah Tempo dan Gatra yang menekankan alasan kenapa artikel saya tidak bisa dimuat. Surat-surat itu kalau saya rangkum bisa saya jadikan buku tersendiri tentang teknik penulisan artikel dan bisa saya jual—karena itu saya berterima kasih kepada media yang telah menolak artikel saya. Lagi pula Anda bakal makin piawai menulis bila sering dikritik ketimbang dipuji terus—yang malah membuat Anda terlena. Tulislah catatan harian, blog atau aktif di milis tertentu. Ketiga media ini membuka bagi Anda peluang untuk mengekspresikan diri sendiri. Penulis-penulis hebat yang saya tahu, jadi terkenal karena memasukkan 'orisinalitas diri' mereka ke dalam karya-karya mereka. Ketrampilan apa pun hanya bisa diasah jika Anda melakukannya secara rutin (practice makes perfect).

AHEAD OF TIME—Untuk selalu bisa melampaui waktu, yaitu mengerjakan apa yang bahkan belum terpikir oleh orang lain pada suatu masa, Anda harus memiliki intuisi yang tajam. Bersyukurlah teman-teman yang telah menerima Latihan Kejiwaan, karena pikiran Anda cenderung menjadi jernih. Pelajari apa saja. Dalam belajar, jadilah generalis, jangan spesialis, tulis Kazuo Murakami, Ph.D. dalam The Divine Message of the DNA -- Tuhan Dalam Gen Kita. Aktifkan kesadaran dan nalar, serta kembangkan kemampuan analisis. Kalau Anda perhatikan benar-benar, gejala-gejala yang ada sekarang sebenarnya merupakan landas pacu menuju pembentukan tren di masa depan. Mulailah 'membaca' lingkungan Anda.

TRAVEL—Perjalanan mendatangkan pengalaman yang membuat saya makin mengenali diri sendiri. "The truth is out there," ujar Fox Mulder, lakon dalam film seri The X-Files. Selaku freelance copywriter, saya sering harus mengunjungi dua-tiga klien dalam sehari, yang jarak antara yang satu dengan yang lainnya berjauhan. Dalam perjalanan ini, yang saya tempuh dengan sepeda motor, saya sering berpapasan dengan ide dan pemahaman, yang membuat saya begitu senangnya sampai lupa kalau saya disorot panas terik matahari atau guyuran hujan. Perjalanan yang ditempuh dengan sadar akan membuka dinamika tuntunan Ilahi.

INFORMATION-HUNGER—Salah satu ciri dari seorang profesional adalah well-educated—terpelajar. Tetapi bukan berarti Anda harus kuliah S1, S2, atau S3. Banyak perusahaan mensyaratkan kesarjanaan untuk posisi-posisi tertentu, hingga akhirnya terkecoh. Saya pernah mengajar kuliah tamu tentang profesi praktisi periklanan di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya. Pada akhir kuliah, beberapa mahasiswa menghampiri saya dan mengatakan bahwa mereka cepat dan mudah mencerna materi yang saya sampaikan dalam waktu dua jam itu dibandingkan dengan kuliah dari dosen mereka yang bergelar doktor. Itulah bedanya antara teorisi dengan praktisi. Kalau Anda ingin menjadi the most wanted professional, Anda harus senantiasa lapar informasi, sebab setiap bidang terapan mengalami perubahan, pembaruan dan perkembangan sekejap mata. Be there or behind.

VOCAL—Vokal di sini bukan hanya pandai buka mulut, tetapi lebih pada penyampaian (sharing). Komunikasi pemasaran punya kredo: "If you want to SELL, you have to YELL!" Anda harus aktif mengkomunikasikan pemikiran, pendapat, kritik yang membangun, atau ide kepada publik. Jangan khawatir ide Anda dicuri orang, sebab selama belum menjadi konsep yang matang, ide tidak bernilai apa pun. Unsur vokal adalah hal yang esensial dalam networking; pemikiran-pemikiran Anda akan menggambarkan siapa diri Anda sebenarnya dan, dengan demikian, membentuk citra bahwa Anda memang pantas menjadi the most wanted.

ENGAGEMENT—Anda harus lincah menjemput bola, dan jangan kapok bila belum berhasil. Saya belajar dari semangat keponakan-keponakan saya yang masih kanak-kanak, yang walaupun jatuh dari sepeda membuat mereka kesakitan tetapi tidak menjamin esoknya mereka tidak akan mengulanginya lagi.

Senantiasa yakin pada pertolongan Tuhan membuat hati kita teguh. Sebagai reaksi atas komentar para panglima perangnya bahwa serangan ke daratan Jepang tidak mungkin dilakukan, Presiden Franklin D. Roosevelt, yang lumpuh dan memerintah Amerika Serikat selama Perang Dunia II dari kursi roda, langsung bangkit berdiri tegak dan berucap tegas, "Satu-satunya yang kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri. Saya sudah lama lumpuh, tetapi keteguhan hati membuat saya bisa berdiri. Jadi, jangan bilang ke saya, hal itu tidak mungkin dilakukan!"

Demikianlah tiga pilar yang menopang saya untuk menjadi the most wanted freelance copywriter. Anda boleh mengadopsinya, tetapi saya sarankan agar Anda menciptakan kiat sendiri, karena yang tahu potensi Anda adalah Anda sendiri, bukan orang lain. Pendiri Subud, Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo mengatakan, "Meniru adalah keliru"; dengan kata lain, jangan ikut-ikutan, walaupun kiatnya disampaikan seorang Hermawan Kertajaya sekali pun. Sejatinya,batin kita bisa menerima sinyal-sinyal tuntunan. Mudah-mudahan, kata-kata saya ini ada manfaatnya bagi Anda.©


Jakarta, 16 November 2008