Sunday, May 5, 2024

Itu Masalah Mereka, Bukan Masalahmu

KEMARIN siang, ketika para anggota pria baru memasuki hall untuk Latihan bersama dan saya nongkrong saja di teras timur Hall Subud Cilandak, datanglah satu anggota yang sedang “tidak berkenan” dengan saya. Sebut saja namanya Mukidi. Dia melihat saya tapi menghentikan langkahnya sekitar lima meter dari tempat saya duduk, dan mengobrol dengan anggota lainnya di depan bangku kayu sebelah toilet wanita.

Saya merasakan Mukidi enggan bertemu saya tapi saya didorong oleh jiwa saya untuk tetap bersikap baik ke dia, seolah tidak ada apa-apa. Saya baru-baru ini terkesan oleh sebuah quote, “Jika orang-orang tidak suka padamu, itu masalah mereka, bukan masalahmu.”

“Buktikan Subudmu!” kata jiwa saya. Maka ketika Mukidi jalan ke pintu hall saya sapa dia, saya dekati, saya ucapkan maaf lahir dan batin dan peluk dia. Kami mengobrol sejenak, tentang mengapa saya belakangan tidak Latihan.

Sore, saya bertemu, sebut saja, Mukado, di Rumah Wing Bodies, kompleks Wisma Subud Cilandak No. 22C. Dia datang agak telat dan sejak masuk ke ruang acara Peluncuran Komunitas-Komunitas SICA (Subud International Cultural Association) Indonesia, walaupun melihat saya, duduk agak di sebelah saya dan kemudian pindah ke kursi di depan saya, dia tidak mau menyapa, bahkan membuang muka. Dia pun sedang “tidak berkenan” dengan saya. Selesai acara pun dia langsung kabur. Saya hanya mengiringi langkah Mukado dengan senyum.

Ya, begitulah kehidupan. Baik-buruk, orang maupun peristiwa, silih berganti atau datang bersamaan. Kita cukup berserah diri dengan sabar, tawakal, dan ikhlas.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 6 Mei 2024

Thursday, May 2, 2024

Latihan Untuk Tidak Latihan

MALAM ke-27 Ramadan yang jatuh pada hari Sabtu, 6 April 2024, menandai satu episode mengejutkan dalam kehidupan Subud saya. Pada Latihan bersama di Hall Cilandak malam itu, sekitar pukul 22.30, saya menerima bahwa saya untuk sementara tidak boleh Latihan di hall manapun.

Terkejut dengan penerimaan tersebut, saya menghentikan sejenak Latihan saya saat itu dan kemudian mengulanginya. Lagi-lagi, saya menerima hal yang sama: Saya tidak boleh Latihan di hall manapun untuk sementara waktu.

Setibanya di rumah, selewat jam satu dini hari, 7 April 2024, saya mengirim pesan WhatsApp kepada dua pembantu pelatih Subud Cabang Surabaya yang dahulu melayani saya selama ngandidat hingga dibuka, yaitu Pak Rahardjo Basuki Soejanto Luwiharjo dan Mas Heru Iman Sayudi. Dalam jawaban beliau (pukul 02.51 WIB), Pak Yanto menulis: “Itulah aplikasi Latihan apa yang dikatakan sebaiknya duapuluh empat jam dalam salah satunya ceramah Bapak. Tapi harus waspada jangan sampai yang dinamakan krisis.”

Mas Heru menjawab pada pukul 03.38 WIB: “Iya, aku nangkep isinya. Yang penting tidak terikat dengan yang mengikat supaya bisa tumbuh dan dikenali bedanya secara ruang dan waktu sehingga mudah untuk segera bisa di-titeni karena memang jiwa tumbuh terus dan tidak bergantung raga.”

(Kelak, dalam pembicaraan per telepon, Mas Heru mengatakan bahwa Latihan saya kebanteran. Meskipun saya Latihan hanya dua-tiga kali seminggu, yang masih seturut dosis yang dianjurkan Bapak, menurutnya satu kali Latihan saya sangat kuat, sehingga harus dikurangi kuantitasnya.)

Pak Yanto selanjutnya, pukul 02.53 WIB, menelepon saya. Saat itu, beliau baru selesai sahur. Dalam pembicaraan per telepon itu, intinya saya diharapkan untuk melatih diri tidak Latihan dalam pengertian umum, yaitu di hall maupun di luar hall (termasuk di rumah sendiri), karena saya sedang menerima terus-terusan. Pak Yanto mengatakan bahwa beliau telah menerima tentang keadaan saya sejak beberapa hari sebelum saya sendiri menerimanya.

Ego saya tentu saja memberontak terhadap kenyataan ini. Pasalnya, saya sedang getol Latihan meskipun dalam proporsi sewajarnya (dua kali seminggu), dan saya sangat membutuhkan Latihan bersama. Energi Latihan membuat hidup saya lebih hidup!

Dalam chat via WhatsApp bertanggal 14 April 2024, dengan satu saudara Subud yang pernah mengalami, ia mengungkapkan “solusi” untuk menggantikan Latihan seperti biasa: “Ya, duduk saja sambil lerem, rileks... Nanti bentuk Latihan datang tapi bukan seperti Latihan yang biasa...”

Menjelang penerimaan malam ke-27 itu saya memang merasakan getaran Latihan yang lebih daripada biasanya, di luar kehendak saya, dan saya menerimanya di mana saja, bahkan saat mengendarai motor. Sempat saya merasa takut, karena fokus saya pada penerimaan pengertian-pengertian baru dan mata lahir saya “diselubungi” penglihatan akan hal-hal gaib serta isinya orang-orang (yang terlintas di pikiran saya). Pak Yanto berpesan agar saya tidak takut, karena takut menghalangi bakti kepada Tuhan.

Beliau juga berpesan agar saya tidak menceritakan apa yang saya lihat pada diri orang-orang, untuk meredam kesombongan spiritual. Intinya, saya harus mulai berlatih mengendalikan diri, berlatih untuk tidak Latihan seperti di hall karena Latihan saya sedang berjalan 24 jam.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 Mei 2024

Wednesday, May 1, 2024

Dari Klien ke Mitra Kerja ke Sahabat

 


PERTAMA kali saya mengenal beliau, pada 22 Agustus 2013, adalah pada saat event peluncuran buku A Journey to Gold: Mencapai PROPER Emas, Menyemai Kebajikan, Melindungi Lingkungan, yang saya tulis dan edit dalam kapasitas sebagai ghostwriter.

Saat makan siang, saya minta lewat satu staf CSR PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. untuk diperkenalkan kepada Manajer atau Kepala Divisi Corporate Social Responsibility perusahaannya. Jean Christophel Prihyanto namanya. Orangnya ramah, suka melucu dan mencandai setiap topik pembicaraan meski isi candaannya serius dan mengena.

Perkenalan di ajang event yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu berlanjut menjadi hubungan klien-vendor—Pak Jean mewakili PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. dan saya sebagai ujung tombak PT Asta Nindya (li9ht—The IDEAS Company). Kerja sama kami langgeng dalam melahirkan karya-karya kreatif berupa publikasi yang mempromosikan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang diemban Indocement maupun TJSL secara umum.



Hubungan klien-vendor ini berjalan hingga akhir tahun 2016, dimana Pak Jean mengundurkan diri dari Indocement untuk merintis perusahaan konsultan program dan komunikasi CSR. Beliau menggandeng saya, yang sejak 2012 telah menimbun banyak pengalaman dengan sustainability communication dan CSR branding.

Kemitraan kami membentuk hubungan persahabatan yang unik. Saya menjadi lawan tangguh beliau dalam brainstorming. Analisis Pak Jean yang kritis juga membantu saya menyempurnakan ide-ide saya untuk proyek komunikasi pembangunan berkelanjutan bagi klien-klien kami.

Di waktu senggang saat bersama mengunjungi suatu daerah untuk pekerjaan, kami berbincang mengenai hidup—beliau sering bertanya tentang aktivitas saya di Subud dan bagaimana Latihan Kejiwaan mempengaruhi kehidupan saya. Beliau tertarik tapi merasa belum tergerak untuk masuk Subud.

Saya diapit oleh Pak Rasyid (kiri) dan Pak Jean (kanan), duduk di atas atap instalasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Dusun Sumberkapung, Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang dirintis dan dikembangkan Pak Rasyid. Foto dibuat pada 4 Maret 2017.

Saya terakhir berjumpa dengan Pak Jean ketika kami blusukan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk memetakan keadaan sosial dan lingkungan yang terdampak operasi pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex), pada 11-12 Agustus 2018. Stamina beliau luar biasa, gesit bergerak, sangat antusias saat berinteraksi dengan para petani dan pengrajin di desa-desa binaan CSR Sritex. Sehingga saya tak menyangka ketika mendapat kabar bahwa tidak lama setelah tahun 2018 Pak Jean terkena serangan jantung yang mengakibatkan beliau koma berlarut-larut.

Pagi ini, saya mendapat kabar via WhatsApp dari adik saya—yang seangkatan dengan Pak Jean di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—bahwa mantan klien, mantan mitra dan sahabat selamanya itu telah berpulang. Semoga Tuhan menerima amal saleh almarhum. Aamiin.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 Mei 2024


Aku Tetap Mencintaimu

Aku tetap mencintaimu

Betapapun aku tak mengerti bagaimana bisa terjadi

—dan kau tersandung benci karena tak menyadari

Tapi, bukankah cinta tak perlu arti?

Tak perlu alasan dan landasan,

tak butuh pesan dan kesan?

Aku tetap mencintaimu,

walau kau tak lagi peduli

 

Aku bercinta lewat getar rasa diri

yang terpancar dari jiwamu

yang mengenal jiwaku

bahkan jauh sebelum kita ada

Rasa kasih telah mengarus dari titik semuanya bermula

Mungkin pendahulu kita sumbernya,

mungkin sudah menjadi kehendakNya

Tak pernah jelas dan pasti

Tapi, aku tetap mencintaimu,

walau kau tak lagi peduli

 

Kau terus hadir dalam mimpi,

Bayangmu memenuhi diri,

betapapun aku berusaha kuat menghindari

Kurasakan hadirmu, hidupmu sehari-hari

Galau mengharap kesah gelisahmu berhenti

Kurasakan itu semua, walau tak kuingini

Doa lirih kupanjatkan atas namamu, kembaran jiwaku

Dan aku tetap mencintaimu,

karena dengan begitu aku mencintai diriku...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 1 Mei 2024

Thursday, April 25, 2024

Twin Flame



Telah mengada kasih abadi di antara kita

Walau kita tak dekat, itu tetap terasa

Ingin ku raih dirimu dalam jarak waktu

Namun apa dayaku, kau menjauhiku

 

Firasatku kuat, membaca isi dirimu

Lega rasaku karena kau dalam jangkauan rindu

Aku berdoa senantiasa, memelihara cinta

Menjaga jalinan leluhur kita

Ejawantah satu jiwa dalam dua raga...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 26 April 2024

Wednesday, April 24, 2024

Culture is You

SAYA tadi saat mandi mengalami vibes seakan sedang sharing dengan para anggota Pemuda (Youth) Subud Jakarta Selatan dalam suatu gathering nonformal, diantaranya ada Ketua Subud International Cultural Association (SICA) Indonesia untuk masa bakti 2023-2025, Charalambos Elias David. Dalam gathering secara mental itu saya berbagi pengalaman dan pemahaman saya tentang hubungan kita dengan leluhur.

Lalu, ada Youth yang mempertanyakan dengan nada protes bahwa tidak mungkin leluhur dia dan saya, misalnya, bisa segaris, karena saya campuran Jawa-Aceh, sedangkan dia Maluku.

“Lhoooo,” kata saya merespons protesnya, “leluhur bangsa Indonesia pada awalnya kan nggak bersuku, karena datang dari beberapa cultural hub di beberapa titik di benua yang sama. Budaya itu terbentuk karena tantangan geografi, keadaan daerah di mana leluhur kita bermukim untuk jangka waktu yang lama, mungkin sudah tiga atau lima generasi. Leluhur kita, bisa jadi, berasal dari satu budaya, yang lantas dalam proses diaspora terjadi pemecahan menjadi sejumlah subculture sesuai tantangan-tantangan di daerah baru yang ditempati leluhur kita.

“Saya rasa, budaya berkembang dari akar yang sejatinya ada di diri kita masing-masing dalam menyikapi tantangan lingkungan kita—alam, sosial dan ekonomi. Maksud saya, budaya itu individual, bukan kolektif, karena secara hakikat tiap orang itu beda. Budaya bukan sekadar kesenian lhoo... itu sih artefak (peninggalan kebudayaan). Di Subud-lah kita menemukan budaya masing-masing, yang dimanifestasi oleh bimbingan Latihan Kejiwaan. Budaya itu adalah segala gerak hidup kita yang terbimbing Latihan Kejiwaan!”

Di situ, mendadak gathering mental itu terhenti, dan saya terdiam dalam permenungan sesaat, lalu merasakan kegembiraan... Ooh, saya baru mengerti sekarang, makna hakiki dari slogan Culture is You (slogan untuk event festival budaya di Tulungagung tahun depan, yang diterima oleh pembantu pelatih Cabang Surabaya yang kini bermukim di Madiun, Heru Iman Sayudi).©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 25 April 2024

Tuesday, April 23, 2024

Kembaran Jiwa

KAMIS malam, 18 April 2024, saat nongkrong dengan satu saudara dan satu saudari Subud di warung kopi sebelah bangunan Guesthouse Wisma Subud Cilandak, terungkap cerita yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Saudari Subud itu, Vreni (bukan nama sebenarnya) menceritakan pengalamannya beberapa bulan sebelumnya, saat ia sedang duduk di warung kopi tersebut.

Saat itu, ia melihat Aira (bukan nama sebenarnya), gadis muda yang merupakan anggota baru Subud Cabang Jakarta Selatan (dibuka tahun 2021) keluar dari Kafe Kencana, kafe berpendingin udara di bawah atap Guesthouse, dan melangkah ke jalan di depannya. Melihat dari arah belakangnya, Vreni terkejut karena ia melihat wajah Aira mirip sekali dengan wajah saya, guratan-guratannya juga sama plek. Tetapi yang lebih mengejutkan Vreni adalah bahwa bahkan vibes yang memancar dari diri Aira juga sama dengan vibes saya.

Saudara Subud bernama Jofri (bukan nama sebenarnya) menimpali cerita Vreni dengan versinya sendiri. Yang dialami Jofri tergolong baru. Ketika berjalan di teras barat Hall Cilandak, ia seperti melihat sosok saya yang sedang mengobrol dengan beberapa anggota Pemuda Subud, padahal saat itu saya sedang tidak ke Wisma Subud Cilandak. Jofri tidak mempercayai penglihatannya, dia pikir itu akibat cahaya lampu. Namun, ketika ia berada di sudut pandang lainnya ia masih melihat sosok saya “menempel” pada seorang perempuan muda yang tak lain tak bukan adalah Aira.

Bagi yang belum mengetahui kisah saya dengan Aira, ia adalah gadis lajang berusia 29 tahun ketika saya berkenalan dengannya pada bulan Juni 2023. Sebuah fenomena kejiwaan terjadi enam hari sebelumnya, dimana saya tiba-tiba merasakan jatuh ke lubang dalam dan gelap tetapi perasaan saya tenang dan nyaman, setelah melihat foto Aira di akun Instagramnya. Saya merasa jatuh cinta padanya, padahal kami belum saling mengenal.

Singkat cerita, hanya sebulan setelah kami berkenalan dan intensif mengobrol bila berjumpa di Wisma Subud Cilandak maupun di WhatsApp dan di Pesan Instagram, ia tiba-tiba menjaga jarak dari saya, me-remove nomor WhatsApp saya dan unfollow akun Instagram saya. Dalam proses yang memakan waktu lebih dari setengah tahun setelah insiden itu, saya pun sudah melupakannya. Sesekali melihat dia dari jauh di lingkungan Wisma Subud Cilandak tidak membuat saya tertarik untuk kembali seperti ketika kami baru berkenalan.

Saya teringat kembali pada Aira hanya setelah Vreni dan Jofri menceritakan pengalaman unik mereka. Menurut Jofri, selain dia dan Vreni ternyata ada beberapa saudara sejiwa yang juga mengalaminya. Saya menganggap lucu, karena kok bisa-bisanya orang yang menjauhi saya dengan rasa sebal memiliki wajah yang mirip dengan orang yang padanya dia merasa sebal.

Baru-baru ini, saya juga teringat pada pengalaman terkait hal itu namun anehnya pada saat itu saya dan Aira belum saling mengenal. Saat itu, seorang anggota Subud senior yang sedang duduk di teras timur Hall Cilandak bertanya ke saya, apakah saya memiliki adik. Mengira yang dia maksud adalah dua adik kandung saya, saya mengiyakan. “Benar, Pak. Adik saya dua, dua-duanya cewek,” kata saya. Si anggota berkata, “Bukan! Maksud saya, Anda punya adik di Subud?”

Saya jelaskan pada si anggota senior bahwa saya satu-satunya di antara saudara-saudara kandung saya yang sudah Subud. Si anggota bercerita bahwa ia melihat seorang gadis muda di teras barat yang wajahnya benar-benar menyerupai saya. Saya menjadi bingung, kok bisa ada orang yang belum saya kenal memiliki wajah yang mirip dengan wajah saya?

Beberapa saat kemudian, lewatlah gadis muda yang dimaksud si anggota senior di teras timur Hall Cilandak menuju toilet wanita. Si anggota senior berbisik pada saya bahwa gadis muda itulah yang ia anggap wajahnya mirip dengan saya. Gadis muda itu kelak saya kenal sebagai Aira.

Meskipun sudah berjauhan dan Aira menjaga jarak dari saya, ada “kebetulan-kebetulan”—terlalu banyak untuk saya sebutkan di sini—yang memberi saya keyakinan bahwa hubungan jiwa ke jiwa memang ada. Mungkin dia tidak menyadarinya, tetapi saya cukup sering merasakan kehadiran gaib Aira di dekat saya, kadang berjumbuh dengan diri saya. Seakan jiwa kami tetap berhubungan dan sepertinya sudah saling mengenal sejak lama—sebelum kami sendiri berkenalan secara fisik.

Postingan saya di linimasa Facebook saya pada 22 April 2024, yang berbunyi “Ada saudari Subud sebal pada saya. Beberapa saudara sejiwa melihat dan merasa wajah dan vibes-nya mirip saya. Nah lho, fenomena apa ini?” ditanggapi seorang saudari Subud dari Cabang Yogya, “Twin flame...” Komentarnya itu membuka mata saya dan merasa bahwa itulah jawaban atas fenomena spiritual yang saya alami sejak saya mengenal Aira.

Menurut situs www.mindbodygreen.com, twin flame adalah hubungan jiwa yang intens dengan seseorang yang dianggap sebagai belahan jiwa seseorang, terkadang disebut “kembaran jiwa” (mirror soul). Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa terkadang satu jiwa terpecah menjadi dua tubuh. Salah satu ciri utama hubungan twin flame adalah bahwa hubungan itu menantang sekaligus menyembuhkan. Hal ini disebabkan oleh sifat pencerminan dari twin flame; mereka menunjukkan rasa tidak aman, ketakutan, dan bayangan terdalam Anda. Namun mereka juga membantu Anda mengatasinya, dan sebaliknya—twin flame Anda juga akan terpengaruh oleh Anda.

Salah satu tanda twin flame, menurut situs www.alodokter.com, adalah mudah mengakrabkan diri seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Saya teringat ketika pertama kali berkenalan dengan Aira di depan teras barat Hall Cilandak, sikap dan tindak-tanduk saya terhadapnya seperti sudah lama kenal. Saya bahkan kaget dengan diri saya sendiri yang bisa begitu akrab dengannya, padahal baru berjumpa saat itu.

Bahkan ketika kami berjumpa di kafe milik anggota Subud Jakarta Selatan di Jl. Caringin Barat, Cilandak Barat, pasca Latihan Kamis malam, 12 Juli 2023, dengan ringannya saya mengatakan “I love you” ketika kami bersalaman saat ia pamit untuk pulang. Ia menjawab dengan ringan pula, “I love you too.” Ya, memang itu hanya sekadar flirting, tetapi saya tetap heran mengapa saya begitu berani, tanpa beban, melakukannya, apalagi terjadinya di depan banyak orang!

Tanda lainnya adalah “menemukan banyak kesamaan”. Dilansir dari www.alodokter.com, rasanya mustahil memang saat mendengar orang lain memiliki cerita hidup yang sama dengan kita, bahkan setiap detailnya pun mirip. Namun, hal ini sangat mungkin terjadi bila kita menemukan twin flame. Semua trauma hingga kisah bahagia yang ia lewati bisa jadi pernah kita alami.

Inipun saya dan Aira memilikinya. Ibaratnya, Aira dan saya adalah cermin dan saya bisa melihat kehidupan saya dari kisah-kisah yang diceritakan oleh Aira. Kami sama-sama sarjana S1 dari fakultas dan universitas yang sama, meskipun berbeda angkatan. Jurusan kami di kampus juga berbeda tetapi terkait satu sama lain, dan di fakultas kami kantor-kantor kedua jurusan itu berada di lantai yang sama, hanya ruangannya berseberangan. Beberapa dosennya dulu merupakan teman-teman nongkrong saya di kampus.

Meskipun pengalaman di Subud ini—menemukan orang yang kemungkinan besar adalah kembaran jiwa saya—berasa “manis nan pahit” bagi saya, saya akhirnya merasa lega karena mendapatkan jawaban atas pertanyaan berulang “mengapa?” yang terus menghantui saya sebelum hari ini. Saya tetap menyayangi Aira dengan tulus, meskipun entah sampai kapan ia menjauhi saya.©2024

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 23 April 2024