Sunday, March 6, 2011

Batuk Tetangga

“Tidak ada kebijaksanaan tanpa seni mengabaikan bantahan.”

Joseph De Maistre



Salah seorang kawan saya sangat mudah terusik oleh apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Ia mudah terusik oleh pendapat, opini, kritik, dugaan atau pandangan, yang langsung maupun tidak langsung terkait dengan dirinya. Bila dipuji ia melambung, bila dikritik ia marah tak terkira, bahkan tak jarang sampai putus hubungan apabila yang mengeritik itu relasinya atau kerabatnya. Ia bersedia bersitegang seumur hidup dengan siapa saja yang dianggapnya tidak sependapat dengan dirinya atau menjatuhkan gengsinya di mata teman-temannya.


Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter ia geluti, tetapi ia tak sanggup menanggung komentar-komentar negatif terhadap status atau tweet dirinya. Bukannya mengabaikan, menyingkirkan para penyinggungnya, atau tidak membuka media sosial untuk sementara waktu, ia malah membiarkan dirinya larut dalam pertentangan-pertentangan berkelanjutan yang timbul akibat menanggapi komentar-komentar miring itu.


Entah apa sebutan bagi orang semacam dirinya. Dan ia tidak sendiri; masih banyak lainnya di dunia ini, dengan emosi tak terkendali, gila hormat atau sanjungan. Saudara Subud saya secara sederhana menyebutnya ‘orang kurang kerjaan’. “Kalau orang nggak ada kerjaan, tetangga batuk aja bikin dia terusik. Coba kalau ada kerjaan, pasti dia nggak nanggepin.”


Tidak sesederhana itu memang, walaupun cara mengatasinya cukup sederhana. Sang Buddha menganjurkan untuk, pertama-tama, menyadarinya. Menyadari diri (mengapa terusik dan mengapa harus terusik) dan menyadari yang-bukan-diri (yang di luar diri). Dan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, baik dia banyak kerjaan maupun kurang kerjaan. Saya kadang juga masih bisa terusik oleh kritikan, utamanya yang ditujukan pada hasil pekerjaan saya. Itu yang dinamakan power syndrome.


Ego saya, yang terpaku pada lama dan banyaknya pengalaman bekerja saya di bidang komunikasi merek, yang memicu dan membakarnya, membuat saya tidak bisa menerima kritikan. Saya memadamkan kebakaran itu dengan kesadaran bahwa yang mengeritik tohadalah klien saya, yang notabene lebih memahami produknya dibanding saya maupun yang membayar saya, sehingga dia ‘berhak’ memperlakukan saya sesuai nilai nominal yang dibayarkannya.


Selama masih dapat dianggap wajar, saya akan mengabaikan tanggapan macam apa pun. Tetapi bila sudah di luar batas kewajaran, dan cenderung merugikan saya secara bisnis, tentunya saya menerapkan integritas profesional saya: tidak membiarkan diri terusik penghargaan materi yang bakal saya peroleh dari klien tertentu!


Batuk tetangga tadi tidak akan mengusik kita apabila kita simply mengabaikannya. Bila batuk tetangga saja tidak bisa kita abaikan, entah bagaimana jadinya dengan hal-hal yang jauh lebih serius daripada itu. Relasi saya memiliki kecenderungan ini. Tidak terbayangkan betapa lelahnya menjadi dirinya. Tetangga mendapat promosi jabatan, maka ia pun mempromosikan dirinya di lingkungan tempat tinggalnya seolah ia telah mencapai jabatan lebih tinggi dari tetangganya itu. Tetangganya berlibur ke Singapura, maka ia pun sesumbar ke seantero kompleks bahwa ia akan berlibur ke Hawaii.


Merendahkan hati, believe me, adalah lebih nyaman dan membahagiakan ketimbang terusik oleh segala sesuatu yang-bukan-diri. Untuk bisa sampai di aras hati itu, mulailah dari mengabaikan hal-hal simpel yang tidak membawa manfaat, seperti batuk tetangga.Ó



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 3 Maret 2011


Saturday, February 26, 2011

Merindu di Bulan Februari

Kado ulang tahun buat istriku...


Kecupan pagi yang kau beri setiap pagi

membuka cakrawala yang berseri-seri,

menyambut cinta yang kusisipkan di hati

yang merindu di bulan Februari

Tetes-tetes hujan merangkul sunyi

Hening meruyak di tengah pagi

ketika ku kenang semua ulang tahunmu,

yang menjadikanmu baru setiap waktu

Namun dengan nuansa cintamu tetap sama

—masih merengkuh asa, mendekap pesona

Tak pernah henti tercurah dari hati

yang merindu di bulan Februari

Izinkan aku membalas kecupanmu,

mengungkapkan peri rasa kasih yang berpadu

dengan segenap cinta dan rindu

akan kehadiran asa dan pesona

mendampingi kehidupan kita di dunia

Di hari ulang tahunmu ini, Istriku,

takkan kubiarkan berlalu seiring waktu

semua kenangan yang tercipta dari berbagi hati

yang merindu di bulan Februari...


Jakarta, 24 Februari 2011

Sunday, February 13, 2011

Berubah Pikiran


“Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau waktu yang lain. Kita menunggu diri kita sendiri. Kitalah perubahan yang kita cari.”

Barack Obama



Setelah membaca cukup banyak literatur, ucapan-ucapan para guru bijak maupun sejumlah pengalaman yang pernah saya lalui, saya semakin yakin bahwa apa pun yang kita pikirkan atau ucapkan dengan landasan niat yang kuat pasti akan terwujud. Entah itu kebaikan atau pun keburukan. Yang kita pikirkan tentang diri kita, anggapan kita, dalam sekejap dapat menjadi doa, yang pada gilirannya akan menjadikan kita sebagaimana yang kita pikirkan atau anggap sebelumnya.


Pengalaman-pengalaman saya pribadi membuktikan hal itu. Beberapa tahun lalu, saya pernah berujar ke salah seorang kawan saya bahwa saya ingin sekali jalan-jalan ke berbagai tempat tetapi digaji untuk itu. Dengan kata lain, pekerjaan saya adalah berlibur (vacationing for a living). Saya segera melupakan ucapan saya itu. Tetapi saya langsung teringat kembali setelah sang kawan mengingatkan saya pada ucapan saya sekitar tiga tahun yang lalu itu, setelah ia menyadari bahwa apa yang saya ucapkan itu menjadi kenyataan pada tahun 2009, ketika saya didaulat untuk menulis buku tentang Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, yang untuk maksud itu saya pun harus terbang ke sana. Honor yang saya terima untuk penulisan buku itu tidak sedikit. Sejumlah daerah destinasi wisata di Nusantara saya sambangi dan memperoleh bayaran untuk itu!


Beberapa waktu lalu, saya berpikir (atau tepatnya, berkhayal) diri saya menjadi penulis naskah materi komunikasi pemasaran dan korporat (copywriter) yang terkenal, sehingga dengan demikian saya bisa memperoleh banyak pekerjaan. Tidak lama setelah saya berkhayal sedemikian rupa, saya sering dihubungi oleh orang-orang yang mengaku mendapat rujukan dari orang-orang yang mengenal saya—tetapi mereka tidak mau memberitahu saya nama-nama pemberi rujukan—bahwa saya merupakan copywriter andalan saat ini. Hah?!


Robert Scheinfeld membahas fenomena ini dalam bukunya, The 11th Element: The Key to Unlocking Your Master Blueprint for Wealth and Success (New York: Wiley, 2003). Begitu pula Rhonda Byrne lewat The Secret (New York: Atria Books, 2006) atau ‘Rahasia’, walaupun sebenarnya bukan rahasia lagi, lantaran Buddha Gautama sudah mengamati fenomena alami ini ribuan tahun yang lalu, sehingga ia pun berujar, “Kamu menjadi seperti apa yang kamu pikirkan.”


Yang menjadi pertanyaan saya belakangan ini adalah, apabila pemikiran atau anggapan, atau bahkan khayalan saja bisa menjadi kenyataan, cepat atau lambat, lantas mengapa banyak orang yang tetap menderita kemiskinan, kekurangan materi, tertinggal secara intelektual dan sakit-sakitan?


Saya mengamati salah satu penjual bakso dan mie ayam langganan saya, sejak saya masih duduk di kelas satu sekolah menengah pertama, tahun 1980. Dia masih berjualan bakso dan mie ayam dengan gerobaknya yang lusuh dan kumuh, kadang keliling namun seringnya mangkal di depan sekolah dasar alma mater saya di Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, lantaran dia sudah tidak semuda dan seenerjik ketika saya pertama kali membeli darinya tiga puluh tahun yang lalu.


Saya bertanya-tanya, mengapa secara fisik dia tidak mengalami perubahan ke aras yang lebih baik. Yang berubah hanyalah penampilan busananya: ia tampak selalu mengenakan kupluk di kepalanya dan rajin salat, yang membuat saya berasumsi bahwa ia pastilah tak pernah berhenti berdoa dan berharap keadaan ekonominya berubah menjadi lebih baik. Nyatanya, secara ekonomi ia tidak berubah; masih lusuh dan kumuh, bukan hanya gerobaknya, tetapi juga penampilan dirinya.


Siang ini, saya membeli dua bungkus mie ayam darinya untuk makan siang saya dan istri. Ketika saya minta tambah kuahnya, dengan nada menghardik, ia mengatakan, “Ini sudah banyak!” Saya kaget, pasalnya kuah yang saya minta hanyalah air biasa, yang mendidih, bukan kuah kaldu, yang memang boleh ia jadikan alasan yang kuat untuk menolak permintaan saya, karena ketersediaannya yang terbatas.


Sesampainya di rumah, saya dan istri menyantap mie ayam itu. Bah, hambar rasanya, begitu pula rasa dua pentol bakso yang melengkapi masing-masing porsi, sehingga istri saya merasa perlu menambahkan bumbu penyedap, minyak wijen dan bawang putih goreng. Saat itulah, saya beroleh pemahaman, mengapa nasib si penjual bakso dan mie ayam langganan saya itu tidak berubah dari masa ke masa. Ia sendiri tidak berniat mengubahnya. Ia sudah puas dengan apa yang dikerjakannya, meski pelanggan telah sering mengeluhkan kekurangan dalam hal layanan dan kualitas produk. Dalam teori dan praktik pemasaran, kedua hal itu saja merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pembelian berulang (repeat buying).


Saya teringat perkataan orang bijak bahwa alam bekerja keras untuk manusia, dan karena itu pula manusia mesti bekerja keras untuk mengimbanginya. Alam sudah menyediakan apa yang manusia butuhkan untuk kelangsungan hidupnya; tinggal manusia menggali, mengolah dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan dirinya. Hukumnya menetapkan bahwa hidup kita takkan berubah jika kita sendiri tidak mengupayakan perubahan itu. Tidak perlu menunggu orang lain atau waktu lain untuk mengalami perubahan itu. Yang bisa melakukan perubahan itu adalah kita sendiri dan sekarang!


Berdoa dan berharap adalah energi kesintasan (survival) kita, hanya bila kita mengimbanginya dengan tindakan yang relevan. Bila, misalnya, sumber kesintasan kita adalah pekerjaan yang mensyaratkan layanan kepada orang lain, tentunya reputasi diri maupun produk yang kita tawarkan mesti dipertimbangkan dengan baik. Jangan hanya mengharapkan keuntungan tetapi dengan merugikan kepentingan orang lain.


Untuk itu, kita mesti berubah pikiran pula. Tidak hanya memikirkan keuntungan yang bakal kita peroleh, tetapi juga memikirkan (baca: berniat) agar layanan dan produk yang kita tawarkan dapat memiliki kualitas yang disenangi orang lain. Ini berlaku bukan hanya dalam menjual makanan seperti penjual bakso dan mie ayam langganan saya di atas. Dalam hal menulis, merancang sesuatu, memasak, berhubungan dengan orang lain, dan lain-lain kegiatan pun mensyaratkan pemikiran dan niat yang sungguh-sungguh diarahkan pada apa yang dikerjakan, sehingga hasilnya mampu menyenangkan orang lain yang menikmatinya.


Jangan lupa bahwa kita hidup dan melakoni kehidupan selalu diwarnai dengan hubungan dengan orang lain. Untuk apa pun yang kita kerjakan, ada pemangku kepentingan (stakeholder) atas hasilnya. Sehingga perlu kita senantiasa memikirkan orang lain dalam beraksi. Orang lainlah yang memberi makna reaktif atas setiap aksi kita, sehingga, dengan demikian, tindakan kita mempunyai makna.©



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 12 Februari 2011

Friday, January 21, 2011

Intermezzo: 10 Hal yang Ingin Saya Lakukan Sebelum Mati

  1. Minum (paling tidak) secangkir Kopi Luwak (sudah terwujud)
  2. Berlibur di pantai nudis bersama Charlize Theron, Nicole Kidman, dan Naomi Watts
  3. Berlibur ke Nepal, Skotlandia dan pantai Normandia di Perancis
  4. Menangkap/menyentuh Hiu Putih Besar yang hidup
  5. Makan tiram mentah (raw oyster)
  6. Berlayar dengan kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat
  7. Berkunjung ke kampus Akademi Militer AS di West Point dan sarangnya Divisi Lintas Udara ke-101 "Screaming Eagles" di Fort Campbell, Kentucky, AS
  8. Bekerja/berkantor paling sedikit tiga bulan di areal bandar udara
  9. Menumpang helikopter UH-60 Black Hawk
  10. Naik di lokomotif diesel CC201 dan CC203 dari Stasiun Gambir ke Stasiun Purwokerto

Wednesday, January 19, 2011

Peluang Permenungan


“Manusia pada dasarnya mau berubah, hanya bila itu berasal dari dirinya.”

—Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, gurubesar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.



Beberapa waktu lalu, saya menonton film Forever Strong (2008) lewat saluran televisi berbayar (paid television) Star Movies, yang berkisah tentang pelatih rugbi asal Amerika Serikat, Larry Gelwix. Film ini memberi saya kesan tersendiri, bukan terhadap permainan rugbi yang keras, strategi permainannya atau kerja tim para pemainnya, melainkan tentang bagaimana menangani anak-anak muda yang bermasalah.


Film itu sendiri bertolak dari kisah anak muda Rick Penning yang lantaran mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk menyebabkan dirinya dan pacarnya mengalami kecelakaan dan membuat ia divonis pengadilan untuk mendekam di Panti Rehabilitasi Remaja Bermasalah di Salt Lake City selama satu tahun. Ia juga kehilangan posisinya sebagai kapten tim rugbi Arizona.


Setiap kali membuat masalah di panti rehabilitasi itu, Rick dipaksa duduk di depan meja petugas bimbingan dan penyuluhan, bernama Marcus, dan didiamkan selama waktu yang tak terbatas. Marcus menyuruh Rick untuk bertanya pada dirinya sendiri, kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Marcus tidak memberi nasihat maupun teguran; yang dibutuhkannya adalah cara komunikasi yang persuasif dengan membiarkan Rick berpikir secara independen, mendengarkan dirinya sendiri. Sementara itu, Marcus hanya sibuk menekuni pekerjaannya. Setiap kali Rick bertanya, apakah ia boleh pergi, Marcus berkata, “Tidak, sampai kamu mendengarkan suara kamu sendiri.” Marcus juga menekankan bahwa untuk mendengarkan itu dibutuhkan kedisiplinan.


Ketika Rick merenung dan mendengar suara batinnya, ia menyatakan diri menyesal atas perbuatannya dan meminta maaf.


Atas rekomendasi Marcus, yang sepakat untuk memberi nilai yang baik pada Rick yang dapat mengurangi masa hukumannya, anak muda itu pun bergabung dengan tim rugbi Highland, sebuah klub rugbi SMA di bawah asuhan Larry Gelwix. Rick sempat kesal lantaran Gelwix dianggapnya tidak pernah turun lapangan untuk melatih anak-anak asuhnya. Ternyata Gelwix mempraktikkan metode yang sama dengan Marcus: para pemain diharapkan agar tidak ragu untuk mengikuti kata hati mereka, dengan mendengarkan suara batin mereka.


Peluang permenunganlah yang diberikan Marcus maupun Pelatih Gelwix kepada anak-anak muda itu. Melalui permenungan kita memasuki ruang batin kita, di mana yang ada hanya kejujuran dalam pikiran dan perasaan, perkataan maupun perbuatan. Setiap kita, paling tidak sekali seumur hidup, pernah mendengar suara batin itu, memberi petunjuk-petunjuk di kala kita mengalami kesusahan. Sebenarnya suara batin itu selalu ada dan berkata lirih di tengah keheningan yang kita telusuri, bila saja kita bersedia memanfaatkan peluang permenungan di sela-sela kesibukan kita.©




Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 19 Januari 2011, pukul 18.25 WIB

Sunday, January 16, 2011

Negeri (Tanpa) Harapan


“Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau waktu lain. Kita sendirilah yang kita harapkan. Kitalah perubahan yang kita cari.”

—Barack Obama



Seorang perempuan di sebuah dusun di kawasan Purwokerto Barat, Banyumas, Jawa Tengah, menawarkan bayi yang sedang dikandungnya untuk saya adopsi.


Kemiskinanlah yang mendorongnya berbuat begitu. Dia sudah punya dua anak, dan tidak sanggup untuk menanggung perawatan anak ketiga, yang diperolehnya akibat upaya keluarga berencana yang 'kebobolan'.


Bersama istri, saya kunjungi gubuk reyotnya. Suaminya adalah buruh serabutan, yang tidak berada di rumah ketika saya datang. Tantangan kemiskinan mendorongnya untuk bekerja tak peduli waktu. Ia mendukung keputusan istrinya untuk menyerahkan anak ketiga mereka kepada orang tua angkat.


Perempuan itu berkisah bahwa ia pernah menjadi TKI di Malaysia. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, setara dengan gaji PRT di keluarga-keluarga kelas atas Jakarta. Lalu, mengapa harus ke Malaysia? tanya saya.


“Saya mencari harapan yang lebih baik, Mas,” jawab perempuan itu sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit sedemikian rupa, yang menandakan kondisi dirinya yang hamil tua.


Harapan yang lebih baik? Apakah negeri ini sudah tidak punya harapan? Saya tercenung saat itu, merenungkan apa gerangan yang saya miliki untuk memastikan bahwa harapan saya lebih baik daripada perempuan itu.


Saya menerawang, ke belakang dan ke depan. Negeri ini tidak bisa memberi harapan. Sampai kapan pun. Yang bisa adalah diri kita sendiri. Sedangkan negara dapat menciptakan situasi yang kondusif agar harapan-harapan rakyatnya, apa pun itu, selama masih realistis, dapat terealisasi.


Situasi yang berkembang sekarang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan atas apa pun yang mereka yakini selama ini. Bahkan kepercayaan diri pun merosot hingga ke titik nadir. Kepercayaan pada sesuatu yang lebih besar daripada eksistensi manusia (Tuhan) juga telah surut bagai ombak yang menarik diri dari pantai. Tidak mengherankan bila tingginya angka bunuh diri mampu membunuh kenyataan bahwa negeri ini merupakan tempatnya agama-agama dapat tumbuh subur.


Para pemimpin yang membiarkan diri dipimpin oleh ego mereka sendiri telah memelorotkan harapan banyak orang, menjadikan negeri ini hampir tak memiliki harapan. Dewasa ini, semakin banyak orang yang terhipnotis oleh harapan yang dijanjikan negeri-negeri lain. Mulai dari kalangan kelas bawah yang merasa tidak punya harapan sampai orang kaya yang kelebihan harapan.


Hidup tidak berhenti pada harapan. Bahkan bergantung pada harapan saja akan menghasilkan hidup yang tidak nyata. Adalah lebih baik jika harapan ditindaklanjuti dengan upaya untuk mewujudkannya. Apa pun kendala yang menghadang di muka, seyogianya langkah kita tidak surut selama kita meyakini harapan kita.


Orang-orang beriman merupakan sosok-sosok yang meyakini bahwa setiap harapan mereka dapat terwujud lewat setiap langkah usaha mereka. Sang Buddha mengajarkan, agar kita jangan hanya duduk diam, melainkan supaya kita melakukan sesuatu. Jika harapan kita adalah perubahan, misalnya, lakukanlah perubahan itu, tidak usah menunggu orang lain atau alam yang melakukannya.


Tidak ada negeri yang dapat memberi atau tidak dapat memberi kita harapan—apakah negeri itu kaya-raya atau tidak. Harapan adalah cetusan dari diri kita sendiri, dan pemenuhannya juga berawal dari niat kita sendiri. Jadi, apakah masih ada harapan di negeri ini? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.(AD)



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 17 Januari 2011, pukul 04.46 WIB


Friday, January 14, 2011

Petaka Perkataan


"Setiap hari dari hidup kita kita menabung di bank pikiran anak-anak kita."
--Charles R. Swindoll, The Strong Family


Kawan saya adalah seorang pria yang sopan dalam bertutur kata dan bertindak. Dengan latar belakang pendidikan di bidang akuntansi yang gelar akademisnya ia raih di sebuah universitas di Inggris, ia menjabat direktur external relations dari sebuah perusahaan pertambangan minyak bumi yang berbasis di Jakarta.

Dengan perilaku dan jabatan semacam itu, kawan saya seharusnya tak mengalami kendala dalam berhubungan dengan orang lain serta mengambil keputusan atau inisiatif. Seharusnya!

Tetapi, ternyata tidak demikian kenyataannya. Saya sendiri heran. Dengan gelar akademis dari universitas di luar negeri, dalam persepsi saya, seharusnya ia mewujud sosok yang tangguh, cerdas dan cergas serta tak ragu dalam memotori orang banyak dengan keberanian mengambil inisiatif dan keputusan lantaran berani bertanggung jawab. Yang saya lihat malah dirinya selalu diliputi keraguan dan tidak bergerak kalau ‘pantatnya tidak ditendang’. Ada apa? Mengapa bisa begitu?

Baru-baru ini, saya memperoleh jawabannya. Ia bercerita bahwa di keluarganya ia merupakan anak yang diremehkan kemampuannya, bukan saja oleh saudara-saudaranya, tetapi bahkan oleh orang tuanya, terutama ayahnya. Dan itu sudah berlangsung sejak ia masih kecil. Ia bahkan sempat mengalami depresi sebagai akibatnya. Terbukti dari ceritanya, perkataan saja bisa membawa petaka.

Ketika kepadanya dipercayakan tanggung jawab pelaksanaan tugas di organisasi di mana kami berdua menjalankan fungsi sebagai pengurus nasionalnya, dengan disertai dorongan semangat bahwa dirinya tidak seperti yang dikatakan keluarganya, ternyata ia dapat memenuhinya dengan baik, bahkan mengagumkan. Ketua umum organisasi yang menugaskan kawan saya itu berujar bahwa kondisi dirinya tidak ditentukan oleh apa yang dikatakan orang lain padanya. “Jangan biarkan penilaian orang menghambat kemajuan lu,” kata si ketua umum.

Kita menjadi apa yang kita pikirkan tentang diri kita, demikian ungkapan orang bijak. Karena itu, jangan diperburuk oleh apa yang menjadi pikiran orang lain terhadap diri kita.

Perkataan memang terkesan sepele, tetapi dayanya ternyata dapat berdampak pada psikologi orang ke mana perkataan itu ditujukan. Bukan saja kepada anak-anak, namun juga kepada orang dewasa. Apalagi kepada anak-anak, yang sedang dalam masa pertumbuhan, di mana apa saja yang ditawarkan oleh lingkungannya, baik secara sadar maupun tidak, bakal terserap olehnya. Katakanlah hal-hal buruk pada anak Anda, niscaya ia akan cepat mempercayainya dan bahkan tercamkan di pikirannya, seolah hal-hal itu merupakan kebenaran yang mutlak.

Waktu saya kecil, kepada saya dikatakan oleh orang tua saya bahwa berimajinasi itu tidak baik dan buang-buang waktu saja. Saya memang suka melamunkan hal-hal yang di luar jangkauan saya. Untungnya, saya mengabaikan perkataan orang tua saya, karena setamat kuliah saya menekuni profesi di mana berimajinasi justru merupakan salah satu syarat utama untuk berhasil, yaitu sebagai praktisi kreatif periklanan.

Dari pengalaman ini, saya menyadari betapa beratnya tugas sebagai orang tua. Apa pun yang dikatakannya kepada anak-anaknya akan menentukan masa depan mereka. Jika yang dikatakannya baik, niscaya anak-anaknya akan tumbuh sesuai perkataannya. Sebaliknya, bila yang dikatakannya buruk, anak-anaknya akan menjadi pula sesuai yang dikatakannya.

Wahai para calon ayah, berhati-hatilah dengan apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda kelak. Jangan sampai perkataan Anda membawa petaka bagi hidupnya.


Tulisan ini merupakan artikel saya untuk rubrik "Calon Ayah" di tabloid Gen@.