Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Tuesday, May 10, 2011

Pensiun Dini


Chase your passion, not your pension—Wujudkan apa yang menjadi hasrat Anda, bukan pensiun Anda.”

—Denis Waitley



Pada Juni 2007, saya didaulat menjadi pembicara motivator dalam lokakarya purna karya (pensiunan) PT Pupuk Kujang yang digelar di Hotel Grand Lembang, Bandung. Diikuti oleh lima puluhan calon dan pensiunan perusahaan produsen pupuk urea dan amonia tersebut, saya mempresentasikan materi mengenai mentalitas kewirausahaan, yang seyogianya dimiliki tidak saja oleh mereka yang masih berkarya, tetapi juga oleh para pensiunan.


Dalam kesempatan itu, saya sempat ‘digugat’ mengenai usia saya yang masih jauh dari usia pensiun dan, karena itu, dianggap tidak memahami beratnya menyandang predikat pensiunan. Bagi kebanyakan dari mereka, memasuki masa pensiun di PT Pupuk Kujang, yang mengakomodasi karyawannya dengan berbagai fasilitas dan keistimewaan, ibarat dikeluarkan dari sangkar emas. Tak mengherankan, jika banyak dari mereka yang mengalami kegoyahan secara material maupun mental; tidak siap menghadapi keadaan di mana tak ada lagi sokongan fasilitas dan keistimewaan.


Menjawab gugatan peserta, saya utarakan bahwa sebelum tampil sebagai pembicara dalam lokakarya tersebut saya sudah mengambil ‘pensiun dini’ dengan melepas semua ketergantungan pada hal-hal yang sejatinya bukan bagian dari diri saya, yang tidak bakal saya bawa serta ketika maut datang menjemput. Secara fisik, saat itu saya memang sudah bertekad bulat untuk mengundurkan diri dari kemapanan sebagai karyawan yang menerima gaji setiap bulan, dan menyambut keadaan penuh ketidakpastian sebagai freelance copywriter. Pernyataan saya menggugah para peserta lokakarya itu.


Sebagai karyawan tetap atau pun bukan, seyogianya secara hati kita sudah pensiun, atau melepaskan diri dari ketergantungan-ketergantungan pada perusahaan pemberi upah. Bahkan dalam semua aspek kehidupan ketergantungan yang berlebihan terhadap semua pendukung atau fasilitas yang mempermudah hidup kita di dunia, ada baiknya ditiadakan atau dikurangi. Keadaan serba kekurangan malah sebaliknya mendorong kita untuk senantiasa kreatif dan inovatif.


Perhatikanlah anak-anak. Anak-anak memiliki kekurangan dalam beberapa hal, tetapi justru di situlah kelebihan mereka. Mereka dikenal sebagai makhluk yang secara spontan sering berlaku kreatif. Keponakan saya waktu masih berusia lima tahun memiliki tinggi badan yang membuatnya tidak dapat mencapai tombol lampu kamar mandi di rumah saya, yang lumayan tinggi bagi dirinya. Suatu hari, ia tergopoh-gopoh berlari ke kamar mandi karena kebelet buang air kecil. Saya yang sedang duduk di depan meja makan tercengang melihat bagaimana ia dengan spontan meraih penggaris kayu yang sedang dipakai ibunya untuk membuat pola jahitan, dan dengan spontan pula digunakannya untuk memukul tombol lampu kamar mandi hingga menyala! Kekurangannya tidak menjadi halangan baginya untuk berbuat lebih bagi kebutuhan hidupnya.


Pendeta Myles Munroe, Ph.D., dalam bukunya Maximizing Your Potential: The Keys to Dying Empty (Destiny Image, 1996) dan Releasing Your Potential: Exposing the Hidden You(Destiny Image, 2007) mengungkapkan bahwa setiap kita diciptakan dengan segudang bekal bernama potensi. Demikian dahsyatnya potensi yang kita miliki sampai tidak sedikit di antara kita yang acap kali terkejut menyaksikan apa saja yang dapat kita lakukan. Kemampuan kita sesungguhnya tak terbatas, tetapi kita sendirilah yang membatasi dengan berbagai ilusi tentang keterbatasan makhluk di hadapan Sang Pencipta, yang secara mekanis menghalangi kita berbuat lebih banyak bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Bukankah kitab suci sudah menegaskan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib kita apabila kita sendiri tidak mau mengubahnya?


Saya sudah tuntas membaca kedua buku karya Myles Munroe ketika saya memutuskan untuk berhenti jadi ‘orang gajian’ dan merengkuh dunia freelancer atau wirausahawan yang bagi sebagian besar orang dianggap tidak memiliki kepastian dalam hal perolehan nafkah. Selain karena memang saya pada dasarnya tidak cocok menjadi pegawai, lantaran menyadari benar kemampuan saya dalam beride kreatif dan mewujudkannya, saya seperti disadarkan, melalui kedua buku itu, bahwa saya sejatinya memiliki potensi tak terbatas untuk mewujudkan kehidupan yang saya kehendaki.


Dan waktu pulalah yang membuktikan: Suatu ketika, seorang relasi saya yang kaya-raya, eksekutif puncak dari berpuluh perusahaan, yang pernah saya irikan lantaran kekayaan materinya yang tampaknya tak terbatas, berujar bahwa ia iri pada saya, lantaran saya memiliki waktu dan kreativitas yang tak terbatas untuk mewujudkan apa saja yang saya kehendaki, termasuk berlibur ke berbagai tempat di Indonesia di saat semua orang yang berstatus pegawai terpaku pada pekerjaannya.


Kawan saya itu menyatakan bahwa dirinya sudah lebih dari empat tahun tidak berlibur karena ditekan oleh pekerjaan di kantornya yang seakan tidak pernah berhenti menuntut perhatiannya. “Ambil pensiun dini aja, Mas,” kata saya, berkelakar, kepadanya.Ó




Wisma Indonesia Lt. 2, Kompleks Wisma Subud Cilandak, Jakarta Selatan, 13 April 2011

Sunday, March 6, 2011

Batuk Tetangga

“Tidak ada kebijaksanaan tanpa seni mengabaikan bantahan.”

Joseph De Maistre



Salah seorang kawan saya sangat mudah terusik oleh apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Ia mudah terusik oleh pendapat, opini, kritik, dugaan atau pandangan, yang langsung maupun tidak langsung terkait dengan dirinya. Bila dipuji ia melambung, bila dikritik ia marah tak terkira, bahkan tak jarang sampai putus hubungan apabila yang mengeritik itu relasinya atau kerabatnya. Ia bersedia bersitegang seumur hidup dengan siapa saja yang dianggapnya tidak sependapat dengan dirinya atau menjatuhkan gengsinya di mata teman-temannya.


Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter ia geluti, tetapi ia tak sanggup menanggung komentar-komentar negatif terhadap status atau tweet dirinya. Bukannya mengabaikan, menyingkirkan para penyinggungnya, atau tidak membuka media sosial untuk sementara waktu, ia malah membiarkan dirinya larut dalam pertentangan-pertentangan berkelanjutan yang timbul akibat menanggapi komentar-komentar miring itu.


Entah apa sebutan bagi orang semacam dirinya. Dan ia tidak sendiri; masih banyak lainnya di dunia ini, dengan emosi tak terkendali, gila hormat atau sanjungan. Saudara Subud saya secara sederhana menyebutnya ‘orang kurang kerjaan’. “Kalau orang nggak ada kerjaan, tetangga batuk aja bikin dia terusik. Coba kalau ada kerjaan, pasti dia nggak nanggepin.”


Tidak sesederhana itu memang, walaupun cara mengatasinya cukup sederhana. Sang Buddha menganjurkan untuk, pertama-tama, menyadarinya. Menyadari diri (mengapa terusik dan mengapa harus terusik) dan menyadari yang-bukan-diri (yang di luar diri). Dan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, baik dia banyak kerjaan maupun kurang kerjaan. Saya kadang juga masih bisa terusik oleh kritikan, utamanya yang ditujukan pada hasil pekerjaan saya. Itu yang dinamakan power syndrome.


Ego saya, yang terpaku pada lama dan banyaknya pengalaman bekerja saya di bidang komunikasi merek, yang memicu dan membakarnya, membuat saya tidak bisa menerima kritikan. Saya memadamkan kebakaran itu dengan kesadaran bahwa yang mengeritik tohadalah klien saya, yang notabene lebih memahami produknya dibanding saya maupun yang membayar saya, sehingga dia ‘berhak’ memperlakukan saya sesuai nilai nominal yang dibayarkannya.


Selama masih dapat dianggap wajar, saya akan mengabaikan tanggapan macam apa pun. Tetapi bila sudah di luar batas kewajaran, dan cenderung merugikan saya secara bisnis, tentunya saya menerapkan integritas profesional saya: tidak membiarkan diri terusik penghargaan materi yang bakal saya peroleh dari klien tertentu!


Batuk tetangga tadi tidak akan mengusik kita apabila kita simply mengabaikannya. Bila batuk tetangga saja tidak bisa kita abaikan, entah bagaimana jadinya dengan hal-hal yang jauh lebih serius daripada itu. Relasi saya memiliki kecenderungan ini. Tidak terbayangkan betapa lelahnya menjadi dirinya. Tetangga mendapat promosi jabatan, maka ia pun mempromosikan dirinya di lingkungan tempat tinggalnya seolah ia telah mencapai jabatan lebih tinggi dari tetangganya itu. Tetangganya berlibur ke Singapura, maka ia pun sesumbar ke seantero kompleks bahwa ia akan berlibur ke Hawaii.


Merendahkan hati, believe me, adalah lebih nyaman dan membahagiakan ketimbang terusik oleh segala sesuatu yang-bukan-diri. Untuk bisa sampai di aras hati itu, mulailah dari mengabaikan hal-hal simpel yang tidak membawa manfaat, seperti batuk tetangga.Ó



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 3 Maret 2011


Sunday, February 13, 2011

Berubah Pikiran


“Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau waktu yang lain. Kita menunggu diri kita sendiri. Kitalah perubahan yang kita cari.”

Barack Obama



Setelah membaca cukup banyak literatur, ucapan-ucapan para guru bijak maupun sejumlah pengalaman yang pernah saya lalui, saya semakin yakin bahwa apa pun yang kita pikirkan atau ucapkan dengan landasan niat yang kuat pasti akan terwujud. Entah itu kebaikan atau pun keburukan. Yang kita pikirkan tentang diri kita, anggapan kita, dalam sekejap dapat menjadi doa, yang pada gilirannya akan menjadikan kita sebagaimana yang kita pikirkan atau anggap sebelumnya.


Pengalaman-pengalaman saya pribadi membuktikan hal itu. Beberapa tahun lalu, saya pernah berujar ke salah seorang kawan saya bahwa saya ingin sekali jalan-jalan ke berbagai tempat tetapi digaji untuk itu. Dengan kata lain, pekerjaan saya adalah berlibur (vacationing for a living). Saya segera melupakan ucapan saya itu. Tetapi saya langsung teringat kembali setelah sang kawan mengingatkan saya pada ucapan saya sekitar tiga tahun yang lalu itu, setelah ia menyadari bahwa apa yang saya ucapkan itu menjadi kenyataan pada tahun 2009, ketika saya didaulat untuk menulis buku tentang Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, yang untuk maksud itu saya pun harus terbang ke sana. Honor yang saya terima untuk penulisan buku itu tidak sedikit. Sejumlah daerah destinasi wisata di Nusantara saya sambangi dan memperoleh bayaran untuk itu!


Beberapa waktu lalu, saya berpikir (atau tepatnya, berkhayal) diri saya menjadi penulis naskah materi komunikasi pemasaran dan korporat (copywriter) yang terkenal, sehingga dengan demikian saya bisa memperoleh banyak pekerjaan. Tidak lama setelah saya berkhayal sedemikian rupa, saya sering dihubungi oleh orang-orang yang mengaku mendapat rujukan dari orang-orang yang mengenal saya—tetapi mereka tidak mau memberitahu saya nama-nama pemberi rujukan—bahwa saya merupakan copywriter andalan saat ini. Hah?!


Robert Scheinfeld membahas fenomena ini dalam bukunya, The 11th Element: The Key to Unlocking Your Master Blueprint for Wealth and Success (New York: Wiley, 2003). Begitu pula Rhonda Byrne lewat The Secret (New York: Atria Books, 2006) atau ‘Rahasia’, walaupun sebenarnya bukan rahasia lagi, lantaran Buddha Gautama sudah mengamati fenomena alami ini ribuan tahun yang lalu, sehingga ia pun berujar, “Kamu menjadi seperti apa yang kamu pikirkan.”


Yang menjadi pertanyaan saya belakangan ini adalah, apabila pemikiran atau anggapan, atau bahkan khayalan saja bisa menjadi kenyataan, cepat atau lambat, lantas mengapa banyak orang yang tetap menderita kemiskinan, kekurangan materi, tertinggal secara intelektual dan sakit-sakitan?


Saya mengamati salah satu penjual bakso dan mie ayam langganan saya, sejak saya masih duduk di kelas satu sekolah menengah pertama, tahun 1980. Dia masih berjualan bakso dan mie ayam dengan gerobaknya yang lusuh dan kumuh, kadang keliling namun seringnya mangkal di depan sekolah dasar alma mater saya di Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, lantaran dia sudah tidak semuda dan seenerjik ketika saya pertama kali membeli darinya tiga puluh tahun yang lalu.


Saya bertanya-tanya, mengapa secara fisik dia tidak mengalami perubahan ke aras yang lebih baik. Yang berubah hanyalah penampilan busananya: ia tampak selalu mengenakan kupluk di kepalanya dan rajin salat, yang membuat saya berasumsi bahwa ia pastilah tak pernah berhenti berdoa dan berharap keadaan ekonominya berubah menjadi lebih baik. Nyatanya, secara ekonomi ia tidak berubah; masih lusuh dan kumuh, bukan hanya gerobaknya, tetapi juga penampilan dirinya.


Siang ini, saya membeli dua bungkus mie ayam darinya untuk makan siang saya dan istri. Ketika saya minta tambah kuahnya, dengan nada menghardik, ia mengatakan, “Ini sudah banyak!” Saya kaget, pasalnya kuah yang saya minta hanyalah air biasa, yang mendidih, bukan kuah kaldu, yang memang boleh ia jadikan alasan yang kuat untuk menolak permintaan saya, karena ketersediaannya yang terbatas.


Sesampainya di rumah, saya dan istri menyantap mie ayam itu. Bah, hambar rasanya, begitu pula rasa dua pentol bakso yang melengkapi masing-masing porsi, sehingga istri saya merasa perlu menambahkan bumbu penyedap, minyak wijen dan bawang putih goreng. Saat itulah, saya beroleh pemahaman, mengapa nasib si penjual bakso dan mie ayam langganan saya itu tidak berubah dari masa ke masa. Ia sendiri tidak berniat mengubahnya. Ia sudah puas dengan apa yang dikerjakannya, meski pelanggan telah sering mengeluhkan kekurangan dalam hal layanan dan kualitas produk. Dalam teori dan praktik pemasaran, kedua hal itu saja merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pembelian berulang (repeat buying).


Saya teringat perkataan orang bijak bahwa alam bekerja keras untuk manusia, dan karena itu pula manusia mesti bekerja keras untuk mengimbanginya. Alam sudah menyediakan apa yang manusia butuhkan untuk kelangsungan hidupnya; tinggal manusia menggali, mengolah dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan dirinya. Hukumnya menetapkan bahwa hidup kita takkan berubah jika kita sendiri tidak mengupayakan perubahan itu. Tidak perlu menunggu orang lain atau waktu lain untuk mengalami perubahan itu. Yang bisa melakukan perubahan itu adalah kita sendiri dan sekarang!


Berdoa dan berharap adalah energi kesintasan (survival) kita, hanya bila kita mengimbanginya dengan tindakan yang relevan. Bila, misalnya, sumber kesintasan kita adalah pekerjaan yang mensyaratkan layanan kepada orang lain, tentunya reputasi diri maupun produk yang kita tawarkan mesti dipertimbangkan dengan baik. Jangan hanya mengharapkan keuntungan tetapi dengan merugikan kepentingan orang lain.


Untuk itu, kita mesti berubah pikiran pula. Tidak hanya memikirkan keuntungan yang bakal kita peroleh, tetapi juga memikirkan (baca: berniat) agar layanan dan produk yang kita tawarkan dapat memiliki kualitas yang disenangi orang lain. Ini berlaku bukan hanya dalam menjual makanan seperti penjual bakso dan mie ayam langganan saya di atas. Dalam hal menulis, merancang sesuatu, memasak, berhubungan dengan orang lain, dan lain-lain kegiatan pun mensyaratkan pemikiran dan niat yang sungguh-sungguh diarahkan pada apa yang dikerjakan, sehingga hasilnya mampu menyenangkan orang lain yang menikmatinya.


Jangan lupa bahwa kita hidup dan melakoni kehidupan selalu diwarnai dengan hubungan dengan orang lain. Untuk apa pun yang kita kerjakan, ada pemangku kepentingan (stakeholder) atas hasilnya. Sehingga perlu kita senantiasa memikirkan orang lain dalam beraksi. Orang lainlah yang memberi makna reaktif atas setiap aksi kita, sehingga, dengan demikian, tindakan kita mempunyai makna.©



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 12 Februari 2011

Wednesday, January 19, 2011

Peluang Permenungan


“Manusia pada dasarnya mau berubah, hanya bila itu berasal dari dirinya.”

—Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, gurubesar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.



Beberapa waktu lalu, saya menonton film Forever Strong (2008) lewat saluran televisi berbayar (paid television) Star Movies, yang berkisah tentang pelatih rugbi asal Amerika Serikat, Larry Gelwix. Film ini memberi saya kesan tersendiri, bukan terhadap permainan rugbi yang keras, strategi permainannya atau kerja tim para pemainnya, melainkan tentang bagaimana menangani anak-anak muda yang bermasalah.


Film itu sendiri bertolak dari kisah anak muda Rick Penning yang lantaran mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk menyebabkan dirinya dan pacarnya mengalami kecelakaan dan membuat ia divonis pengadilan untuk mendekam di Panti Rehabilitasi Remaja Bermasalah di Salt Lake City selama satu tahun. Ia juga kehilangan posisinya sebagai kapten tim rugbi Arizona.


Setiap kali membuat masalah di panti rehabilitasi itu, Rick dipaksa duduk di depan meja petugas bimbingan dan penyuluhan, bernama Marcus, dan didiamkan selama waktu yang tak terbatas. Marcus menyuruh Rick untuk bertanya pada dirinya sendiri, kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Marcus tidak memberi nasihat maupun teguran; yang dibutuhkannya adalah cara komunikasi yang persuasif dengan membiarkan Rick berpikir secara independen, mendengarkan dirinya sendiri. Sementara itu, Marcus hanya sibuk menekuni pekerjaannya. Setiap kali Rick bertanya, apakah ia boleh pergi, Marcus berkata, “Tidak, sampai kamu mendengarkan suara kamu sendiri.” Marcus juga menekankan bahwa untuk mendengarkan itu dibutuhkan kedisiplinan.


Ketika Rick merenung dan mendengar suara batinnya, ia menyatakan diri menyesal atas perbuatannya dan meminta maaf.


Atas rekomendasi Marcus, yang sepakat untuk memberi nilai yang baik pada Rick yang dapat mengurangi masa hukumannya, anak muda itu pun bergabung dengan tim rugbi Highland, sebuah klub rugbi SMA di bawah asuhan Larry Gelwix. Rick sempat kesal lantaran Gelwix dianggapnya tidak pernah turun lapangan untuk melatih anak-anak asuhnya. Ternyata Gelwix mempraktikkan metode yang sama dengan Marcus: para pemain diharapkan agar tidak ragu untuk mengikuti kata hati mereka, dengan mendengarkan suara batin mereka.


Peluang permenunganlah yang diberikan Marcus maupun Pelatih Gelwix kepada anak-anak muda itu. Melalui permenungan kita memasuki ruang batin kita, di mana yang ada hanya kejujuran dalam pikiran dan perasaan, perkataan maupun perbuatan. Setiap kita, paling tidak sekali seumur hidup, pernah mendengar suara batin itu, memberi petunjuk-petunjuk di kala kita mengalami kesusahan. Sebenarnya suara batin itu selalu ada dan berkata lirih di tengah keheningan yang kita telusuri, bila saja kita bersedia memanfaatkan peluang permenungan di sela-sela kesibukan kita.©




Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 19 Januari 2011, pukul 18.25 WIB

Sunday, January 16, 2011

Negeri (Tanpa) Harapan


“Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau waktu lain. Kita sendirilah yang kita harapkan. Kitalah perubahan yang kita cari.”

—Barack Obama



Seorang perempuan di sebuah dusun di kawasan Purwokerto Barat, Banyumas, Jawa Tengah, menawarkan bayi yang sedang dikandungnya untuk saya adopsi.


Kemiskinanlah yang mendorongnya berbuat begitu. Dia sudah punya dua anak, dan tidak sanggup untuk menanggung perawatan anak ketiga, yang diperolehnya akibat upaya keluarga berencana yang 'kebobolan'.


Bersama istri, saya kunjungi gubuk reyotnya. Suaminya adalah buruh serabutan, yang tidak berada di rumah ketika saya datang. Tantangan kemiskinan mendorongnya untuk bekerja tak peduli waktu. Ia mendukung keputusan istrinya untuk menyerahkan anak ketiga mereka kepada orang tua angkat.


Perempuan itu berkisah bahwa ia pernah menjadi TKI di Malaysia. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah per bulan, setara dengan gaji PRT di keluarga-keluarga kelas atas Jakarta. Lalu, mengapa harus ke Malaysia? tanya saya.


“Saya mencari harapan yang lebih baik, Mas,” jawab perempuan itu sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit sedemikian rupa, yang menandakan kondisi dirinya yang hamil tua.


Harapan yang lebih baik? Apakah negeri ini sudah tidak punya harapan? Saya tercenung saat itu, merenungkan apa gerangan yang saya miliki untuk memastikan bahwa harapan saya lebih baik daripada perempuan itu.


Saya menerawang, ke belakang dan ke depan. Negeri ini tidak bisa memberi harapan. Sampai kapan pun. Yang bisa adalah diri kita sendiri. Sedangkan negara dapat menciptakan situasi yang kondusif agar harapan-harapan rakyatnya, apa pun itu, selama masih realistis, dapat terealisasi.


Situasi yang berkembang sekarang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan atas apa pun yang mereka yakini selama ini. Bahkan kepercayaan diri pun merosot hingga ke titik nadir. Kepercayaan pada sesuatu yang lebih besar daripada eksistensi manusia (Tuhan) juga telah surut bagai ombak yang menarik diri dari pantai. Tidak mengherankan bila tingginya angka bunuh diri mampu membunuh kenyataan bahwa negeri ini merupakan tempatnya agama-agama dapat tumbuh subur.


Para pemimpin yang membiarkan diri dipimpin oleh ego mereka sendiri telah memelorotkan harapan banyak orang, menjadikan negeri ini hampir tak memiliki harapan. Dewasa ini, semakin banyak orang yang terhipnotis oleh harapan yang dijanjikan negeri-negeri lain. Mulai dari kalangan kelas bawah yang merasa tidak punya harapan sampai orang kaya yang kelebihan harapan.


Hidup tidak berhenti pada harapan. Bahkan bergantung pada harapan saja akan menghasilkan hidup yang tidak nyata. Adalah lebih baik jika harapan ditindaklanjuti dengan upaya untuk mewujudkannya. Apa pun kendala yang menghadang di muka, seyogianya langkah kita tidak surut selama kita meyakini harapan kita.


Orang-orang beriman merupakan sosok-sosok yang meyakini bahwa setiap harapan mereka dapat terwujud lewat setiap langkah usaha mereka. Sang Buddha mengajarkan, agar kita jangan hanya duduk diam, melainkan supaya kita melakukan sesuatu. Jika harapan kita adalah perubahan, misalnya, lakukanlah perubahan itu, tidak usah menunggu orang lain atau alam yang melakukannya.


Tidak ada negeri yang dapat memberi atau tidak dapat memberi kita harapan—apakah negeri itu kaya-raya atau tidak. Harapan adalah cetusan dari diri kita sendiri, dan pemenuhannya juga berawal dari niat kita sendiri. Jadi, apakah masih ada harapan di negeri ini? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.(AD)



Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, 17 Januari 2011, pukul 04.46 WIB


Tuesday, October 19, 2010

Sadar Mengenai Kesadaran


"Dunia ini bukanlah masalah; yang jadi masalah adalah ketidaksadaran Anda.”

—Bhagwan Shree Rajneesh, pemimpin spiritual India (1875-1955)




Seorang lelaki di usia akhir dua puluhan berniat belajar tasawuf pada seorang mursyid (guru tasawuf) yang tinggal di pegunungan. Pergilah si lelaki tadi ke rumah sang mursyid. Lantaran hujan deras sedang turun dan medan yang dilaluinya berbatu serta mendaki, si lelaki membawa tongkat kayu dan berpayung.


Setibanya di rumah sang mursyid, si lelaki menaruh tongkat dan payungnya di masing-masing sisi pintu. Ia pun dipersilakan masuk oleh sang mursyid. Setelah si lelaki menyampaikan maksud kedatangannya, sang mursyid bertanya, “Di sisi sebelah mana pintu engkau taruh tongkatmu dan di sisi mana pula payungmu?”


Si lelaki kebingungan. Ia juga heran, mengapa sang mursyid menanyakan hal itu; apa relevansinya dengan niatnya untuk belajar tasawuf?


“Esensi dari tasawuf,” kata sang mursyid dengan tegas, “adalah kesadaran! Engkau belum sadar. Pulang sana, latih kesadaranmu!”


Sebagian besar dari kita pasti akan protes bila dibilang tidak sadar. Eits, jangan terburu-buru mengklaim diri sadar. Sadar beda dari tahu. Orang yang karena suatu musibah kehilangan kesadaran dapat tetap melihat dan tahu bahwa dirinya tahu, tetapi ia tidak sadar, tidak mengenali lingkungannya, di mana ia berada, dan sedang apa ia. Menurut Wikipedia, kesadaran adalah keadaan atau kemampuan untuk memahami, merasakan, atau menjadi sadar akan peristiwa, obyek atau pola sensorik. Dalam psikologi biologi, kesadaran diartikan sebagai sebagai persepsi dan reaksi kognitif dari manusia atau hewan terhadap suatu kondisi atau peristiwa.


Tahu adalah sekadar melihat dan mengerti, tetapi pengertian tersebut didasari oleh ilmu yang dipelajari dari sesama manusia atau literatur. Anda melihat pohon jati dan langsung mengerti bahwa itu pohon jati lantaran Anda pernah membaca di buku atau diterangkan seseorang bahwa pohon jati itu bentuknya begini dan begini.


Tetapi, apakah Anda dapat mengidentifikasi pohon jati di tengah kerumunan pepohonan yang beragam jenis, sedangkan Anda tengah berada dalam kendaraan yang melaju cepat melewati deretan pepohonan itu? Pasti tidak bisa.


Mengapa tidak bisa? Karena kesadaran Anda tidak difokuskan pada pepohonan tadi, melainkan, mungkin, pada perjalanan yang sedang Anda tempuh, atau pada kegiatan Anda mengemudi mobil.


Jadi, kesadaran bermakna pengetahuan yang melampaui ilmu yang dapat dipelajari dari buku atau guru. Kesadaran merefleksikan kemampuan memahami sesuatu secara luas dan tak berbatas, melampaui pengetahuan yang baku. Kalau Anda menyadari eksistensi sebuah pohon, misalnya, Anda akan menangkap makna hakiki dari manfaat dan tujuan dari keberadaannya, misalnya untuk memberi keteduhan. Kalau Anda sadar, Anda takkan menebang pohon tersebut, kan? Sekarang, berapa banyak orang yang tahu mengenai keberadaan pohon, tetapi toh menebangnya? Itu bedanya sadar dengan tahu.


Sang Buddha pernah ditanya seseorang, apa yang dilakukannya bersama murid-muridnya. “Kami makan, kami tidur, belajar, bekerja, berjalan,” jawab Siddhartha, sang Buddha Shakyamuni.


Lho, bukankah itu sama saja dengan apa yang dilakukan orang pada umumnya?” tanya orang itu lagi, keheranan. Sambil tersenyum, Siddhartha mengatakan, “Oh tidak. Tidak sama. Kami melakukannya dengan sadar.”


Pernyataan sang Buddha itu menegaskan adanya perbedaan antara melakukan sesuatu dengan sadar dan yang tidak diiringi kesadaran. Coba Anda fokuskan perhatian pada napas Anda selama lima menit. Lama-kelamaan Anda akan menyadari napas Anda. Dengan menyadari napas, kita akan menyadari kehadiran diri saat ini, dan di sini. Banyak orang justru menyadari napasnya ketika napasnya sudah tersengal-sengal, megap-megap, di penghujung nyawanya.


Coba Anda mulai belajar menyadari segala sesuatu yang Anda miliki, lakukan, dapatkan dan yang telah hilang. Anda akan segera mengetahui betapa banyak yang telah Anda sia-siakan—dan beberapa di antaranya bahkan sudah terlambat untuk digapai kembali. Meditasi merupakan cara untuk menggapai kesadaran itu. Meditasi bukan hanya duduk bersimpuh atau bersila, memejamkan mata dan mengonsentrasikan pikiran. Itu merupakan anggapan yang salah-kaprah. Meditasi (atau padanannya dalam praktik agama Islam disebut tafakur, atau jhana/semadi dalam Buddhisme) sesungguhnya bermakna mengerahkan segenap perhatian pada apa yang dilakukan, menjiwainya, memberinya arti dan manfaat.


Ada orang-orang tua yang selama melahirkan, merawat hingga membesarkan anak tidak benar-benar mengerahkan perhatian mereka pada tindakan-tindakan itu. Ketika si anak sudah besar, tiba-tiba saja mereka tersadar bahwa belum banyak yang mereka berikan pada si anak.


Sebaliknya dengan anak-anak juga demikian. Ketika ibu saya mengembuskan napas terakhir, dalam sekejap bergulung bak ombak samudra di benak saya kesadaran bahwa belum banyak yang telah saya persembahkan untuk membalas budi baik beliau, kesabaran dan cinta kasih beliau dalam merawat dan membesarkan saya. Kesadaran yang terlambat itu hingga kini mendera saya, sampai saya kerap berharap agar waktu dapat diputar kembali ke masa ibu saya masih berada di dunia ini bersama saya.


Latihan seni bela diri apa pun selalu diawali dengan meditasi, mengumpulkan benih-benih kesadaran akan manfaat dan tujuan dari latihan itu. Ada beberapa murid Taekwondo saya yang secara teknis amat menguasai jurus-jurus tendangan. Kaki-kaki mereka lentur dan gemulai namun kuat menghantam ketika melancarkan tendangan. Namun, saya perhatikan, mereka tak dapat menerapkannya ketika bertarung menghadapi lawan, dan selalu kalah. Masalah mereka terletak pada kenyataan bahwa mereka tidak menyadari manfaat dari jurus-jurus tendangan yang mereka kuasai.


Coba, deh, mulai sekarang Anda mengaktifkan kesadaran akan apa pun yang Anda kerjakan atau tidak kerjakan. Hidup Anda akan terasa bedanya—Anda akan menyaksikan lewat mata dan rasa betapa indah hidup ini. Bernapas dengan sadar, memberi dengan sadar, menerima dengan sadar, mencintai dan dicintai dengan sadar. Mudah-mudahan Anda bisa secepatnya sadar mengenai kesadaran. (AD)



Jakarta Selatan, 19 Oktober 2010.

Tuesday, June 29, 2010

Merdeka Tapi Kaya

Hingga kini, saya sudah empat kali ke Papua. Setiap kali ke daerah di ujung timur Kepulauan Indonesia itu, di antara cerita-cerita tentang keindahan alamnya, wisata budaya dan sejarahnya yang saya dengar dari tuturan orang-orang setempat terselip kisah yang rada kurang merdu, yaitu adanya upaya berkelanjutan untuk memerdekakan Papua; berdiri sendiri, terpisah dari negara kesatuan Republik Indonesia.

Namun, cita-cita tersebut tidak begitu populer di kalangan awam. Mereka melihat pada kondisi Timor Leste yang bergitu bercerai dari Indonesia menghadapi tantangan kesejahteraan ekonomi yang amat berat. Infrastruktur dan fasilitas publik yang tadinya ditunjang RI otomatis ‘dipulangkan’ kepada yang empunya. Merdeka bagi rakyat Timor Leste pada awalnya berarti menjadi miskin, karena harus mulai dari nol lagi, lepas dari campur-tangan kekuasaan asing.

Tampaknya telah menjadi hukum alam bahwa kemerdekaan harus dibayar dengan ‘pengurangan’ (deprivation) segala sesuatu, utamanya materi, dari diri kita, yang sebelumnya terpenuhi berkat keberadaan pihak lain. Ketika saya memutuskan untuk sepenuhnya memerdekakan diri dari status ‘orang gajian’, yang bergantung pada kemurahan majikan, keadaan ekonomi saya tergolong sulit. Kekayaan saya hanya ide-ide kreatif, pengalaman panjang yang menunjang profesi saya selaku penulis materi komunikasi pemasaran dan korporat, jejaring, serta keyakinan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Menjadi merdeka bukan persoalan mudah, karena seringkali menyangkut ketersediaan materi. Bagi sebagian orang bahkan merambat ke masalah harga diri lantaran status sebagai ‘orang merdeka’, apalagi bagi mereka yang terbiasa menyandang jabatan, bukanlah keadaan indah, nyaman dan tentram. Kemerdekaan baru sempurna jika kita juga mampu memerdekakan jiwa kita yang telanjur terborgol kebendaan.

Negeri ini sudah merdeka sejak diproklamasikan enam puluh lima tahun yang lalu, tetapi saya yakin masih banyak di antara kita yang terjajah jiwanya, bukan saja oleh materialisme, tetapi juga oleh amarah yang tak terkendali, kecemburuan, kecurigaan, egoisme, dan sikap-sikap negatif lainnya. Visi kesejahteraan lahir-batin akan sulit terwujud jika kita tidak memiliki jiwa yang merdeka.

Jiwa kita sejatinya merdeka. Dari ‘sananya’ ia tidak dilekati keduniaan. Dunia yang justru memasungnya sehingga tidak berkembang, malah stagnan. Untuk memerdekakannya (kembali) dibutuhkan upaya yang tidak mudah, tidak pula singkat. Tetapi jiwa yang merdeka tidaklah miskin, dari awal sampai akhir, tidak seperti kehidupan lahiriah kita yang selalu miskin pada mulanya lalu kaya kemudian, atau mungkin juga miskin selamanya. Ia kaya-raya, melampaui keadaan ekonomi orang-orang kaya yang dengan jiwanya yang terjajah materialisme sejatinya sangat miskin.

Saya pernah sangat iri pada teman saya yang amat kaya materi. Apa saja, saya kira, sebenarnya bisa ia beli dengan mudah, semudah membalikkan tangan. Rupanya perkiraan saya meleset, dan saya mengetahuinya waktu teman saya itu berkeluh-kesah pada teman lainnya, yang kami tuakan, di depan saya tentang betapa irinya ia pada diri saya. Teman saya satunya lagi tentu saja heran, dan bertanya, “Kok iso wong sugih (kok bisa orang kaya) iri pada wong kere (orang miskin)?”

Dengan mimik serius, teman saya yang kaya itu menandaskan, “Benar, Pak. Saya tuh iri sama Mas Anto. Dia punya banyak waktu dan peluang untuk jalan-jalan ke mana-mana. Saya ini, Pak, sudah empat tahun tidak liburan bersama keluarga. Bagaimana saya bisa liburan, wong saya selalu dituntut untuk terus menghimpun kekayaan!” Yang menuntutnya demikian bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri.

Dari pengalaman remeh itu, saya memetik pelajaran tentang betapa tersiksanya jiwa-jiwa yang melekat keras pada materialisme (baca: segala sesuatu yang bukan sejatinya jiwa). Memerdekakan diri dari kemelekatan dengan dunia, sementara kita masih hidup di dunia, adalah gagasan yang sulit diterima oleh kebanyakan orang. Muncullah asumsi-asumsi yang mendasari amalan-amalan tertentu yang mensyaratkan pemiskinan diri, pengasingan diri dari pergaulan sosial, pengekangan (self-denial) lewat laku prihatin yang ketat, dan lain-lain.

Semua itu sebenarnya tidak perlu. Yang kita perlukan adalah kesadaran berlandaskan pengetahuan bahwa yang kita bawa mati adalah sang jiwa yang merdeka. Dalam Buddhisme, itulah yang dicita-citakan: pembebasan (dari kemelekatan). Jika kita menyelami sifat hakiki dari benda-benda di sekitar maupun yang ada pada diri kita, kita akan menemukan bahwa mereka hanyalah benda, yang sampai kapan pun tidak dapat memberi kita kepuasan.

Saya memperoleh kepahaman ini bukan dari laku semadi yang mendalam atau praktik spiritual yang begini-begitu, melainkan dari dunia komunikasi pemasaran yang lima belas tahun terakhir saya geluti. Tanpa merek dan upaya komunikasi, produk tinggallah produk, bukan sesuatu yang patut diidamkan secara berlebihan, dipuja atau menjadi sumber pertentangan, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Tanpa merek tidak akan ada orang yang merasa dirinya lebih kaya, terhormat, atau bergengsi daripada sesamanya. Dan yang namanya merek, seperti dikatakan pakar permerekan (branding) legendaris dunia, Walter Landor, dibuat dalam pikiran kita, sedangkan produk dibuat di pabrik.

Jadi, pikiran itu yang harus kita kendalikan, lantaran pikiranlah penyebab timbulnya kemelekatan. Pikiranlah yang selalu mengatakan kita miskin atau kaya, berduka atau bersuka. Sekalinya kita memperoleh apa yang kita idamkan, ia akan membisiki kita bahwa itu belum cukup. Berdamailah dengan pikiran Anda sendiri, lalu kendalikan ia. Kikis semua yang tidak relevan dengan kesejatian jiwa kita. Sejatinya, jiwa bersifat merdeka. Merdeka tapi kaya.©


Kamar 117, Hotel Sentani Indah, Jl. Raya Hawai, Sentani 99352, Kabupaten Jayapura, Papua, 17 Juni 2010.