Wednesday, December 30, 2009

Rendah Hati di Tempat Tinggi

“Apakah hidup layak dijalani?
Ya, dengan kehebatan kita,
Ketinggian kita, kedalaman kita –
Hidup adalah ujian kita!”
—Corinne Roosevelt Robinson (1861-1933), penyair, dosen dan orator



Meski sudah belasan kali terbang ke beberapa tempat di kepulauan Indonesia, sampai sekarang saya tidak pernah merasa nyaman naik pesawat. Saya fobia terbang dan ketinggian, dan alih-alih menikmati penerbangan sebagaimana diharapkan pramugari dari para penumpang ketika pesawat akan lepas landas, saya malah ‘full istighfar’ selama perjalanan. Tetapi, saya tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa saya harus terbang, demi mengisi hobi saya menulis artikel-artikel wisata (travel writing). Satu-satunya cara untuk mengatasi fobia itu ketika saya sudah kepalang terikat di kursi penumpang pesawat adalah dengan merendahkan hati, berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, yang ternyata mujarab untuk meredakan ketegangan.

Bertahun-tahun lalu, saya juga gamang dengan ketinggian, baik ketika duduk di kursi penumpang pesawat maupun di ‘kursi panas’ (hot seat) manajemen perusahaan tempat saya mengabdikan diri. Di tempat tertinggi di perusahaan atau di masyarakat kebanyakan orang begitu gamangnya sampai segan melihat ke bawah, padahal dari bawah juga mereka bermula. Dengan senantiasa melihat ke bawah, selalu ingat (bahwa di atas kita masih ada Yang Maha Tinggi) dan mawas diri (melihat ke dalam, tempat bersemayamnya kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan), kita dapat menengarai pijakan-pijakan yang nyaman. Sehingga kita dapat turun dengan aman dan legawa, atau kalau jatuh pun tidak terlalu menyakitkan; terbawa perasaan hingga kita jadi kehilangan kewarasan.

Itulah kenyataan yang kini marak di sekitar kita. Posisi-posisi di ketinggian dicapai secara instan atau lewat jalan pintas; dengan naik lift, bukan lewat tangga, sementara dalam keadaan darurat kita selalu disarankan untuk turun lewat tangga. Naik-turun tangga memang melelahkan, tetapi pertimbangkan sisi positifnya: kita jadi sehat dan punya banyak waktu untuk merenungkan mengapa kita menempuh perjalanan itu, dan mereguk kedewasaan, tanggung jawab, serta selalu ingat bahwa ketinggian setinggi apa pun tidak ada yang dapat melampaui Yang Maha Tinggi.

Eling lan waspada, kata orang Jawa. Selalu ingat dan mawas diri. Bercerminlah pada sosok Gareng, salah satu dari empat punakawan dalam pewayangan Jawa, yang berjalan dengan telapak kaki menjinjit, tangan mengibas-kibas dan mata melihat ke atas, menyerupai penderita keterbelakangan mental, tetapi sesungguhnya merupakan perlambang bahwa dalam melakoni hidup kita harus berhati-hati dalam melangkah/bertindak, mengibasi kemelekatan pada hal-hal duniawi (yang tidak akan kita bawa seiring jasad kita yang telah tak bernyawa), serta selalu ingat pada Yang Di Atas.

Sosok Gareng mengajarkan kita agar senantiasa rendah hati di ketinggian. Keinsafan akan Yang Maha Tinggi meredakan kegamangan saat kita berada di ketinggian, melunturkan kesombongan, melelehkan perasaan bahwa kita memiliki segalanya untuk selamanya. Hidup tidak kejam sebagaimana dikira kebanyakan kita; hanya saja kita, tanpa sadar, suka menzalimi diri sendiri maupun orang lain, yang sejatinya merupakan bagian terpadu dari diri kita juga. Dengan hati yang merendah, kita akan dapat memahami bahwa tempat tertinggi atau terendah pada hakikatnya sama saja. Pengalaman saya menuturkan, kesuksesan tidak ditentukan oleh tingginya kedudukan, melainkan oleh kebisaan menjadi diri sendiri – bebas lepas dari nafsu untuk menguasai, tidak menempatkan ego kita dalam jabatan kita.

Seperti halnya ketika berada di ketinggian langit, di ketinggian jabatan atau pencapaian pun saya selalu mengingatkan diri untuk ‘full istighfar’, menginsafi bahwa di atas saya masih ada Yang Lebih Tinggi, agar tidak jadi seperti kawan-kawan saya yang kehilangan kewarasan akibat jatuh dari ketinggian. Saya tetap bisa menjadi diri sendiri, dengan atau tanpa jabatan. Karena saya pikir, apa yang bisa saya banggakan ketika kelak badan saya sudah berkalang tanah?©

Se(ribu)rius

“Satu rasa syukur yang dipanjatkan ke Langit adalah doa yang paling sempurna.”
—G.E. Lessing (1729-1781)


Pada tanggal 2 Desember yang lalu, saya mengantar istri saya ke Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta, berhubung dia harus menghadiri pernikahan salah seorang sepupunya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun saya, sehingga saya berdoa semoga hari itu akan menjadi sangat istimewa bagi saya – tetapi terserah Tuhan mau bagaimana mewujudkannya.

Saya melangkah ke anjungan pengantar (waving gallery) begitu kami berpisah di muka pintu masuk terminal keberangkatan domestik. Dari arah anjungan, saya memandang ke apron (landasan beton bandara) yang diparkiri sejumlah pesawat Boeing 737 dan Airbus A320 milik maskapai penerbangan Batavia Air. Satu pesawat Boeing 737 yang paling dekat dengan titik pandang saya berada dalam keadaan mesin mati serta tidak ada kegiatan persiapan keberangkatan di sekitarnya. Tiba-tiba terlintas rasa penasaran yang sudah lama bersemayam pada diri saya akan sesuatu yang sangat sepele: Bagaimana sih pesawat jet berbadan lebar distarter mesinnya? Apakah seperti menyalakan mesin mobil atau sepeda motor? Sebab, selama ini, saya selalu saja menjumpai pesawat jet komersial berbadan lebar, jika tidak dalam kondisi siaga berangkat dengan mesin jetnya meraung-raung memekakkan telinga, ya terparkir diam dan membisu di bagian dari bandara yang disebut ramp.

Hanya dalam hitungan menit sejak rasa penasaran itu melintas, saya melihat seorang pria berseragam pilot berjalan cepat ke arah pesawat yang sedang ‘berdiam diri’ itu, menaiki tangganya, dan sebentar kemudian saya melihat silhuet pria itu di balik jendela kokpit, dengan kedua tangannya bergerak ke sana ke mari, memencet tombol-tombol instrumen kendali pesawat. Tak lama kemudian, saya tersentak: Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri proses penstarteran mesin jet dari sebuah pesawat komersial berbadan lebar. Dan saya sangat bersyukur karena pengalaman langka itu terjadi pada hari ulang tahun saya! Bagi saya, itu sungguh istimewa. Untuk sebuah hal sepele saja, Tuhan memperlakukannya secara serius, bahkan dua rius, tiga rius, malah seribu rius. Dari pengalaman sepele itu, saya mendapat kepahaman bahwa doa, bila dipanjatkan secara serius, dengan niat dan keyakinan sungguh-sungguh akan pengabulannya, maka Sang Penjawab Doa akan memperlakukan doa kita secara berlipat-lipat seriusnya – seribu rius!

Selanjutnya, saya membatinkan doa, “Ya Allah, perkenankanlah aku membagi pengetahuanku kepada siapa saja yang membutuhkan.” Kontan, saya didekati seorang bapak tua, yang berada di bandara dalam rangka mengantar anaknya yang akan berangkat ke Medan. Dia berasal dari Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang dari penampilannya mengesankan dirinya ‘orang udik’. Dia mengaku bahwa saat itu baru pertama kalinya ngeh dengan yang namanya bandara dan pertama kalinya pula melihat dari dekat benda bernama pesawat terbang. Dia pun mengajukan pertanyaan bertubi-tubi terkait bandara dan masalah penerbangan, yang segera menyadarkan saya akan doa yang barusan saya batinkan. Secepat itu dikabulkanNya!

Seperginya bapak tadi, saya masih berdiam di anjungan pengantar dan larut dalam kebahagiaan karena Tuhan telah menjadikan hari ulang tahun saya demikian spesial, serta retrospeksi yang menimbulkan introspeksi berkelanjutan.

Pada akhir bulan Oktober lalu, mendadak sontak timbul keinginan yang kuat pada diri saya untuk memiliki sebuah laptop Apple MacBook Pro 13” untuk mendukung pekerjaan saya yang didominasi eksplorasi kreatif. Teriring pengremehan dan pengraguan dari sejumlah kerabat dan relasi saya, mengingat laptop Mac tergolong ‘barang mahal’ sedangkan secara finansial saya termasuk golongan pengusaha ‘ekonomi memble’, tak surut hasrat saya untuk mewujudkan impian saya memiliki sebuah laptop MacBook Pro. Saya sendiri heran dengan diri saya: kokdemikian nekat saya hendak menginvestasikan modal demi sebuah laptop. Namun, prinsip saya untuk selalu berpikir besar (think big), bersikap seribu rius dalam doa maupun usaha, membuat saya tak mundur sejengkal pun dari niat saya membeli MacBook Pro.

Potongan iklan cetaknya di koran, yang bertajuk Meet the New MacBook Pro, saya tempelkan pada whiteboard di kamar tidur saya, dan setiap kali akan berangkat menjemput nafkah, saya tatap potongan iklan itu laksana koboi yang siap mencabut pistolnya untuk menembak lawan duelnya, dan berucap dengan suara yang mantap, “Suatu hari kau akan menjadi milikku!” Selebihnya adalah ikhtiar dibarengi doa dengan niat serius, dua rius, tiga rius… Seribu rius!

Pada 21 November 2009, tergerak hati saya untuk mengunjungi Apple Authorized Premium Reseller di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, untuk sekadar melihat-lihat dan mencobai MacBook Pro, mudah-mudahan dapat mencambuk semangat saya untuk berusaha lebih keras agar mampu membeli laptop canggih itu. Tak dinyana, menjelang akhir tahun harganya rupanya sedang turun. Saya merasa pantat saya ditendang Gusti Allah yang menghardik, “Jika kamu meyakini sesuatu jangan ragu-ragu untuk mewujudkannya, dan Aku akan membantumu!”

Saya pandangi dan raba-raba MacBook Pro yang ditampilkan di atas meja peraga itu. Tergeletak memunggunginya adalah laptop MacBook White 13” dengan spesifikasi yang tak jauh beda dari Pro (diperkuat oleh informasi dari pihak reseller sendiri). Suara batin saya pun mengemuka: “Ya, ini (MacBook Pro) tepat untukmu, tapi bukan sekarang.” Rasa penyerahan yang ikhlas segera menyeruak dalam diri saya dan tanpa perlawanan atau penentangan, walaupun istri saya sudah memastikan bahwa ada dana dalam simpanan kami untuk membeli Pro, saya akhirnya memilih MacBook White. Utamanya karena saya tidak mau menipu diri sendiri. Sebagian besar dari kebutuhan saya akan laptop MacBook adalah untuk mendukung pekerjaan saya sebagai penulis, yang tidak setiap waktu memanfaatkan aplikasi-aplikasi hiburan atau grafis di dalam komputer itu.

Serangkaian pengalaman ini, dan kepahaman-kepahaman batiniah yang menyertainya, membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan pasti mengabulkan doa kita, asal kita sabar, bersyukur, dan selalu berusaha secara serius, dua rius, tiga rius, bahkan seribu rius.©


Sabar Bikin Subur

"Kesabaran kita akan mencapai lebih banyak daripada kekuatan kita."
--Edmund Burke (1729-1797)



Sebuah keprihatinan mendesak di dada saya belakangan ini terkait maraknya kasus-kasus sakit jiwa akibat kesulitan menerima kenyataan, kawin-cerai di kalangan artis yang ironisnya juga doyan bikin berita tentang perjalanan umroh mereka, korupsi merajalela, dan lain-lain perbuatan yang tidak islami. Padahal Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Keprihatinan saya memuncak setelah kemarin (29 November 2009) saya mendapat cerita tentang teman istri saya yang jadi gila gara-gara stres berat, dan salah seorang kerabat saya yang menunjukkan tanda-tanda ketidakwarasan setelah dia di-PHK yang langsung menyebabkannya depresi. Apa yang salah dengan pengajaran agama, sehingga membuat kehidupan umat terpuruk? Agama Islam, setelah saya dalami dan amalkan dengan menghayati hakikatnya, merepresentasi kedalaman dan kemuliaan dari sikap ketundukan (taslim) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, saya berkesimpulan penyebab kekisruhan dalam kehidupan umat secara umum terletak pada cara mengajarkan agama yang berfokus pada yang lahir semata, menafikan yang batin, sehingga menghambat internalisasi nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup.

Wajah yang islami ternyata tidak terwakili oleh atribut-atribut fisik, melainkan dengan senantiasa menghias batin kita dengan kesabaran. Kesabaran yang ikhlas dan diinsafi, bukan karena terpaksa, melahirkan sikap diri yang senantiasa siap menerima kenyataan; bahwa apa pun yang diberikan oleh Yang Kuasa merupakan curahan kasih sayangNya. Sabar bikin subur -- menyuburkan keimanan kita, keyakinan yang hakiki terhadap kuasa Allah Swt., dan memperlancar produksi kebijaksanaan (hikmah) pada diri kita. Sabar adalah permata keislaman yang sejati. Tanpa pernah berupaya menginternalisasi nilai sabar, hidup kita menjadi berantakan, sarat kemaksiatan, iman kita menggelontor dan kita cenderung berburuk sangka kepada Tuhan.

Pengalaman pendiri Apple Inc., Steve Jobs, mengajarkan saya bahwa apabila kita bersabar dalam menjalani proses kehidupan, pada titik penghujungnya kita akan mensyukuri apa saja yang kita hadapi selama proses tersebut. Jobs mensyukuri kenyataan bahwa dia dropout dari bangku kuliah dan untuk mengisi waktu luangnya ia mengambil kursus kaligrafi. Saat itu, ia tidak menyadarinya dan tidak peduli. Ia baru mengangguk-angguk puas, seakan telah memetik hikmah, ketika Apple meluncurkan komputer Macintosh pada tahun 1984. "Kalau saya tidak pernah mengambil kursus itu di kampus, Mac takkan pernah memiliki banyak typeface ataufont-font yang dispasi secara proporsional," katanya.

Bersabar dengan apa yang diberikan Allah, bagi kebanyakan orang merupakan pekerjaan yang amat sulit. (Demikian sulit rupanya sehingga banyak orang lebih memilih jalan pintas: mau kaya mereka korupsi, kurang sabar membangun komunikasi dengan pasangan, mereka langsung memutuskan bercerai.) Bagaimanapun, kesabaran harus diupayakan agar ditumbuhkan dalam diri kita, kecuali Anda memang maunya hidup dengan susah hati terus. Landasan untuk bisa bersabar adalah rasa syukur; mensyukuri apa pun yang hinggap pada kita, senang atau susah, sebagai berkah. Bercermin pada pengalaman Steve Jobs di atas, kesusahan ketika kita sedang berproses merupakan berkah tak berkesudahan, asal kita sabar membiarkan proses itu berjalan hingga mencapai kenyataan yang dikehendakiNya.

Kita harus bervisi jauh ke depan, jangan berjangka pendek, untuk saat ini saja. Biarkan hidup merekah hingga menampakkan keindahannya. Telusuri dan temukan keindahan wajah Allah pada setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan pribadi kita, lahir maupun batin. Bersabarlah dengan duka cita, karena di dalamnya tersimpan mutiara hikmah yang menjanjikan suka cita.

Dengan kepahaman dan pengalaman langsung dengan mukjizat sabar, akhirnya saya bisa bersabar terhadap kenyataan banyaknya orang yang gila lantaran tidak bisa menerima kenyataan, artis-artis yang doyan kawin-cerai serta pejabat-pejabat di berbagai tingkatan yang gemar korupsi, walaupun secara fisik mereka mengenakan atribut yang menandai keislaman mereka. Mereka demikian karena tidak mengerti bahwa sejatinya pakaian agama yang mereka anut adalah kesabaran dalam mengamalkan ketundukan kepada Allah. Saya berdoa, semoga Tuhan mengertikan mereka bahwa justru sabar yang bikin subur.©

Di Sini Senang, Di Sana Senang

“Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang.
Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang…
La la la la la la…”
—Lagu anak-anak



Kegamangan menghadapi hidup di Jakartalah yang membuat saya pada awal tahun 2000 pindah ke Surabaya, dengan harapan di kota itu kehidupan saya bakal membaik. Sampai saat itu, saya telah lima tahun berkarir di industri periklanan dengan gaji yang wah. Tetapi karena saya selalu merasa kurang, semua itu menjadi tidak ada artinya. Saya tetap saja menderita, tidak puas dengan apa yang saya terima, dan berbuntut dengan saya nyaris setiap hari uring-uringan, marah-marah tak jelas sebab. Dan saya juga menjadi tambah bodoh, walaupun setiap pekerjaan yang saya tangani mendatangkan pengalaman baru, ketemu orang-orang baru dan permasalahan-permasalahan baru yang mestinya membuat saya lebih kreatif.

Yang saya kira akan memberi saya hidup baru yang menyenangkan, dengan tinggal dan bekerja di kota lain, ternyata hanya angan-angan semu. Surabaya, bagi saya saat itu, menawarkan kegamangan dan kekecewaan lebih besar. Pengalaman dengan seorang relasi yang punya deposito Rp 50 miliar, yang hidup bermewah-mewah dan berperilaku bejat, membuat saya akhirnya merasa Tuhan tidak adil. Saya yang rajin salat dan berdoa, puasa, zakat dan lain-lain bentuk ibadah (ritual) lainnya dan (merasa) telah berbuat baik, menjauhkan diri dari kemaksiatan, malah dipurukkan ke kubangan kemiskinan, baik secara material maupun intelektual dan spiritual. Kekecewaan yang berlarut-larut ini membuat saya berpaling dari Tuhan, menjadi ateis. Rupanya sikap tidak bertuhan pun membuat saya semakin menderita. Hidup saya menjadi berantakan, yang saya lampiaskan ke alkohol dan perempuan.

Dalam prosesnya, saya menyadari, penyebab mengapa di mana pun saya berada saya tidak merasa senang adalah karena rasa syukur tidak bersemayam di hati saya. Sejatinya, di mana pun, mau di Indonesia, Amerika, Belanda, Afrika, di kota yang menyajikan dunia gemerlap atau alam pedesaan yang permai, ketika rasa syukur diabaikan semua tempat itu tak ubahnya neraka.

Perjalanan ke arah kesadaran itu bukan tanpa liku. Tetapi jalannya – bagi yang menginsafinya – terang dan pasti. Setiap orang akan ditunjukkan jalannya masing-masing. Sama sekali bukan hak orang lain untuk mengatur-atur atau menentukan mana jalan yang terbaik bagi Anda. Itu adalah hak prerogratif Yang Kuasa.

Dalam kasus saya, Dia membimbing saya lewat jalan Susila Budhi Dharma (Subud), yang melaluinya saya dapat memahami hakikat dari agama saya. Salah satu penyebab mengapa saya (saya kira, semua orang) nekat berpaling dari Tuhan, adalah karena kepada saya tidak pernah diajarkan hakikat dari agama saya. Guru agama tidak pernah menjelaskan tentang Tuhan dan ketuhanan, bahwa untuk mendekatiNya diperlukan bagi saya untuk berserah diri dengan sabar, ikhlas dan tawakal, serta bahwa segala sesuatu dalam kehidupan kita sudah diatur menurut kehendakNya, sehingga ketika menghadapi keadaan yang bagaimanapun, saya tidak berkemampuan sama sekali untuk menerimanya dengan ikhlas.

Sejak saya menggapai kesadaran tersebut, Tuhan, dengan caraNya yang tidak dapat diduga-duga, selalu mengajarkan kepada saya bahwa apa yang saya lihat pada orang lain tidak selalu seperti apa yang terlihat. Ketika saya iri pada seseorang yang kaya-raya, orang tersebut malah menyatakan secara langsung bahwa dia iri pada saya, karena dianggapnya saya kaya pengetahuan dan kaya peluang untuk melakukan apa saja yang saya suka. Ketika saya anggap seseorang beruntung dengan apa yang dimilikinya, yang bersangkutan malah bilang ke saya betapa beruntungnya saya karena telah berhasil mewujudkan semua yang saya cita-citakan.

Pengalaman-pengalaman ini mendudukkan saya pada keinsafan bahwa tidak ada kebaikan sama sekali dalam melakoni hidup (berdasarkan cara hidup) orang lain. Kita harus menjadi diri sendiri,be yourself, mensyukuri keadaan kita sebagaimana adanya sekarang, bukan ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Kalau pun harus ada yang diubah, itu harus berasal dari kesadaran kita sendiri, bukan karena kita disuruh atau karena anggapan orang lain – yang berpotensi menjadikan diri kita munafik. Kita seyogianya juga mesti terus memohon kepada Tuhan, agar diri kita dimampukanNya untuk mewujudkan semua potensi yang kita miliki, sehingga tidak menjadi manusia yang ‘biasa-biasa saja’.

Memang tidak ada cara lain selain bersyukur. Kadang susah menerima kenyataan dengan ikhlas, apalagi bila kenyataan itu jauh dari apa yang kita bayangkan. Tetapi apabila kita dapat melampaui kesusahan itu, rasa syukur akan membukakan segala kemudahan. Betapa menyenangkannya. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang… La la la la la la…©

Makin Canggih, Makin Canggung

“Komunikasi elektronik merupakan kontak seketika dan ilusi yang menciptakan rasa keakraban tanpa investasi emosi yang mengarah kepada persahabatan yang akrab.”
—Clifford Stoll, Silicon Snake Oil: Second Thoughts on the Information Highway. Anchor Books, 1996.



Seorang apu afaa (penasihat adat) menjelaskan kepada saya, ketika kami duduk di dermaga Dinas Perhubungan di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Mei 2009 silam, bahwa instrumen komunikasi di antara suku-suku simpel saja: buah pinang (beserta kelengkapan makan pinang, yaitu batang sirih dan kapur yang terbuat dari kerang yang ditumbuk) dan/atau rokok. Apabila hendak mengundang ondoafi (ketua adat) untuk hadir di suatu acara, seperti, misalnya, Festival Danau Sentani (FDS) yang mementaskan tradisi budaya dan kesenian dari dua puluh empat kampung adat di seputaran maupun di tengah danau, apu afaa akan datang menghadap ondoafi dengan membawa pinang dan rokok. Tanpa perlu banyak cingcong, ondoafi akan segera mengerti bahwa dirinya dan komunitas yang dipimpinnya diundang untuk menghadiri dan tampil di pentas FDS.

Dalam hal perang suku, ternyata tidak serta-merta terjadi begitu saja. Sebelum perang, biasanya digelar perundingan antar kepala-kepala suku yang berkonfrontasi. Pihak yang dianggap bersalah, sehingga menimbulkan perang tersebut, harus menawarkan pinang kepada pihak lawannya. Bila tawaran diterima, mereka bukan saja berdamai, tetapi juga menjadi saudara.

Saya geleng-geleng kepala mendengar penuturan sang apu afaa, tetapi percaya pada kebenarannya. Sebab, untuk berteman baik dengan orang-orang Papua itu hanya memerlukan alat komunikasi yang sangat sederhana. Selain buah pinang dan rokok yang sifatnya resmi, sering pula dalam bentuk sapaan disertai lambaian tangan atau senyum yang ramah.

Kita yang hidup di kota besar, yang merasa peradaban kitalah yang paling maju -- sedangkan suku-suku pedalaman itu kita anggap primitif – ternyata tidak lebih baik dari mereka. Teknologi komunikasi yang berkembang dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita memang semakin canggih. Mulai dari telepon yang bisa dikantongi dan dibawa ke mana-mana, sistem untuk mengirim teks dan gambar dalam waktu secepat kedipan mata, e-mail, media sosial seperti Facebook, MySpace atau Twitter, sampai aplikasi program komunikasi dengan teknologi P2P, Skype. Tetapi tidak dipungkiri, bahwa komunikasi pribadi di antara kita malah menjadi semakin canggung, sehingga alat-alat komunikasi yang canggih itu menjadi kurang berguna. Alih-alih menunjang komunikasi, perangkat-perangkat tersebut malah, baik sadar maupun tidak, kita pakai sekadar untuk menunjang gengsi!

Secara etimologis, atau menurut asal katanya, istilah ‘komunikasi’ berasal dari bahasa Latincommunication, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Perkataan communistersebut dalam pembahasan kita ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai dalam kegiatan politik. Arti communis di sini adalah ‘sama’, dalam arti kata ‘sama makna’, yaitu ‘sama makna mengenai suatu hal’.

Jadi, secara umum, komunikasi didefinisikan sebagai proses di mana kita menetapkan dan menyampaikan makna dalam upaya untuk menciptakan pemahaman bersama. Proses ini memerlukan ketrampilan yang cukup dalam hubungan-hubungan intrapribadi (dialog dengan diri sendiri, menggali pengetahuan mengenai diri pribadi melalui persepsi dan kesadaran) dan antar-pribadi (hubungan dengan orang lain).

Aktivitas hubungan intrapribadi dalam upaya memahami diri pribadi, antara lain adalah berdoa, bersyukur, introspeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Menurut pengalaman saya, tingginya frekuensi kita berhubungan intrapribadi ternyata meningkatkan serta melanggengkan hubungan antar-pribadi.

Komunikasi yang langgeng dan sarat kandungan emosinya dimulai dari keadaan diri yang diliputi cinta – yang memandang penerima pesan sebagai bagian seutuhnya dari diri kita. Saya acap menjumpai orang-orang yang canggung dalam menjalin komunikasi, pada dasarnya, juga tidak mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri (solilokui). Mereka pun enggan memandang orang sebagai bagian dari dirinya, sehingga cenderung merasa benar sendiri, sulit merendahkan hati, juga susah memaafkan.

Komunikasi yang langgeng, yang tidak terkendala kecanggungan, dan bahkan dapat menyentuh sisi pribadi penerima pesan kita, tercipta dari diri yang tenang (nafs al-muthma’inah), tidak tumpat dengan egoisme, serta dihias niat yang tidak mengutamakan kepentingan sendiri. Ini yang namanya komunikasi pakai empati, di mana pengirim pesan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membawa penerima pesan kepada pengertian yang dikehendaki. Dengan tingkat intrapribadi yang luas dan dalam, tanpa atau dengan teknologi komunikasi yang canggih, komunikasi akan dapat berlangsung tanpa canggung.©


Tulisan ini terilhami oleh pengalaman saya baru-baru ini di organisasi di mana saya berkrida sebagai pengurus.

Kekuatan Memimpin Diri

“Ada orang yang bersamanya kamu lewatkan lebih banyak waktu daripada dengan yang lainnya, orang yang lebih berpengaruh atas dirimu, dan memiliki lebih banyak kemampuan untuk merintangi atau mendukung pertumbuhanmu daripada siapa pun. Teman yang selalu hadir ini adalah dirimu sendiri.”
—Dr. Pamela Butler, psikolog klinis


Suatu waktu pada ‘masa kegelapan’ saya (yaitu masa di mana saya belum mampu mengidentifikasi tuntunan Tuhan atas diri saya), saya pernah sangat bernafsu untuk memegang jabatan yang (seolah) memberi saya hak untuk berkuasa atas orang lain. Karena karir saya melaju di atas rel departemen kreatif biro iklan, maka saya berhasrat akan kursi panas pengarah kreatif (creative director). Ketika hal itu akhirnya terwujud, bayangan akan segala keenakan berada di puncak buyar. Saya memang tidak menyadarinya saat itu, melainkan setelah saya bertekun dengan Latihan Kejiwaan Subud.

Saat itu, saya dihinggapi sindroma kekuasaan, yang simtomnya mencakup gila sanjungan, gila hormat, dan tidak mau dipersalahkan serta menghindari tanggung jawab. Singkat kata, saya gagal dalam memimpin orang lain, lantaran tidak bisa memimpin diri sendiri.

Dewasa ini, saya menginsafi bahwa memimpin orang lain adalah jauh lebih mudah daripada memimpin diri sendiri. Diri kita merupakan sarang bersemayamnya nafsu-nafsu, yang jika dibiarkan tak terkelola dengan baik malah akan mencelakakan kita sendiri. Kita akan cenderung merasa takut, gelisah, kecewa, marah, sedih, tidak puas, atau cemas. Semua itu mencirikan nafsu-nafsu kita yang tidak dipuaskan. Padahal, demikian pengalaman saya menuturkan , bila saja kita bersedia menyerahkan diri kepada kehendak Yang Maha Kuasa, nafsu-nafsu itu bakal kembali kepada fungsinya, yaitu sebagai alat peserta atau pembantu kita dalam menjalankan hidup di dunia; mereka akan mengikuti kepemimpinan kita, dan bukan sebaliknya kita yang membiarkan diri dipimpin oleh nafsu-nafsu itu.

Nafsu-nafsu itu harus ditata, dikelola dan dipimpin. Bila itu dapat kita capai, berarti kita telah berhasil memimpin diri sendiri. Tetapi, hal itu tidak mudah. Apalagi bila tidak disertai keinsafan akan betapa bermanfaatnya memimpin diri sendiri. Semakin banyak orang yang mengira duduk di kursi kekuasaan itu nikmat; bahwa berkuasa atas tubuh dan pikiran orang lain itu asiknya tiada tara. Saya pun pernah mengira begitu pada masa kegelapan saya. Saya pun kemudian dituntunNya ke pertanyaan, yang merenungkan jawabannya saja membuat saya bergidik ngeri: Kamu merasa berkuasa. Baiklah, kuasakah kamu mencegah ketika jantungmu tiba-tiba jenuh menopang kelanjutan hidupmu? Kuasakah kamu dengan perintahmu menghambat nyawamu dicabut?

Ya Tuhan, betapa kecilnya dan tidak berdayanya saya saat menyadari keterbatasan saya sebagai manusia. Betapa tidak ada artinya kekuasaan yang sebagian dari kita mengklaim memilikinya.

Kekuatan memimpin diri tampaknya membutuhkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa, tetapi bukan berarti tidak semua orang bisa memperolehnya, apalagi mengingkat kemanfaatan dari kemampuan tersebut. Bagaimanapun, kita harus menjemput bola; dimulai dengan usaha yang berkelanjutan dan sadar. Diniatkan. Sebab, seperti dinyatakan dalam kitab suci, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bila mereka tidak mau berusaha mengubah nasib mereka sendiri.

Usahanya bisa dimulai, misalnya ketika Anda sakit dan karena itu Anda harus berpantang atas sejumlah makanan dan/atau minuman. Umumnya, kita memberontak, tidak terima jika hak kita atas kelezatan makanan dan minuman dicabut begitu saja, walaupun itu demi kebaikan kita, dan membiarkan nafsu-nafsu kita lepas kendali.

Kemampuan memimpin diri harus dikedepankan dalam berbuat bagi orang lain atau mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi tanpa pamrih. Pamrih kanbentuknya bukan hanya materi, tetapi juga yang bersifat niskala (intangible), seperti keinginan untuk dipuji, dihargai, atau maksud-maksud lainnya yang tidak relevan dengan niat kita membantu orang lain. Dalam berbuat bagi orang lain tanpa pamrih, kita harus benar-benar ‘kosong sekaligus penuh’ (menjadi diri kita sendiri yang luruh keakuannya, tetapi penuh dengan cinta tak bersyarat, ikhlas dan tawakal). Hanya pada saat itulah, perbuatan kita memancarkan kebaikan yang menyentuh hati semua orang.©

Jurusan Sukses

"Masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkannya sekarang."
--Malcolm X (1925-1965)

"Cara terbaik untuk meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya."
--Alan Kay



Semasa masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat skripsi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (FS; sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, FIB) Universitas Indonesia (UI), saya pernah naksir cewek dari Fakultas Hukum UI, yang saya kenal ketika saya menjadi petugas pengawas Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1992. Cewek itu sendiri merupakan salah satu peserta ujian Sipenmaru yang waktu itu bertempat di SMA Negeri 45, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Singkat cerita, cewek itu diterima di FHUI dan tahu bahwa saya kuliah di Jurusan Sejarah FSUI, jurusan yang acap kali dianggap jurusan yang tidak menjanjikan masa depan yang cerah alias 'madesu' (masa depan suram), sehingga tatkala saya akhirnya mengungkapkan isi hati kepadanya, sambil mengejek dia menolak cinta saya. Ejekannya ya seputar ke-madesu-an jurusan di mana saya menuntut ilmu.

Lebih dari dua tahun kemudian, cewek yang sama menelepon saya, saat saya berada di kantor, sebuah biro iklan multinasional di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Saya kaget begitu tahu bahwa dia yang menelpon, namun lebih kaget lagi dengan kenyataan betapa murah harga dirinya. Bayangkan, dia menelepon saya untuk memberitahu bahwa dia saat itu sedang 'kosong', atau bahasa zaman sekarangnya 'jomblo'. Tetapi yang membuat saya menolak adalah karena sebagai prolog pembicaraan teleponnya, dia menyatakan kekagumannya atas profesi yang saya jalani, yaitu sebagai copywriter di sebuah biro iklan multinasional, yang menurutnya bergaji besar dan karirnya prospektif. Menyadari niatnya, saya, dengan gaya mengejek sebagaimana dia dahulu, menegaskan bahwa saya sudah punya calon istri, yang tidak mementingkan saya kuliah di mana. Itulah saat pertama kalinya saya menolak cewek cantik yang secara murahan mengajukan diri untuk menjadi pacar saya.

Pengalaman itu memberi saya sebuah pemahaman, bahwa masa depan tidak ditentukan oleh lembaga pendidikan di mana seseorang pernah menuntut ilmu, seperti yang selama ini disangka, baik oleh orang tua maupun calon mahasiswa. Selama menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI, tak jarang saya dilecehkan dan diremehkan, baik oleh teman-teman, guru sekolah, bahkan kerabat saya: "Mau jadi apa setelah lulus?" Jika waktu sekarang bisa diputar, dan saya diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, walaupun sejenak, saya akan berteriak di telinga mereka: "Saya menjadi apa saja yang saya inginkan!"

Sampai sekarang saja, banyak orang yang tidak melihat korelasi apa pun antara latar belakang pendidikan sarjana saya dengan profesi saya dewasa ini di bidang komunikasi pemasaran dan korporat. Masyarakat, baik awam maupun industri, masih saja menganggap bahwa bidang-bidang tertentu hanya dapat ditangani oleh ilmu-ilmu yang terkait. Salah satu klien saya, yang suatu ketika mendapat penjelasan dari saya tentang strategi distribusi untuk produknya, mengira saya master of business administration dari sebuah universitas terkemuka di Amerika, oleh sebab, katanya, apa yang saya sampaikan pernah disampaikan dosennya ketika dia kuliah untuk MBAnya di Amerika Serikat. Dia terbelalak, nyaris tidak bisa bicara, waktu saya sampaikan bahwa saya sarjana sejarah lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. "Lalu, di mana Anda belajar soal distribusi?" tanyanya, tergagap-gagap. "Saya baca bukunya, Pak, dan kemudian saya praktikkan melalui pekerjaan-pekerjaan yang saya terima!"

Masa depan ditentukan oleh kita sendiri; kita maunya jadi apa, lantas memompakan energi ekstra ke dalam diri untuk menggerakkan tindakan ke arah pencapaian dari apa yang kita cita-citakan. Bahkan bisa dikatakan, bahwa sekolah sebenarnya tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan belajar. Kita dapat belajar apa saja, kapan saja dan di mana saja, tanpa bergantung atau terbatas oleh dinding-dinding, pagar atau nama lembaga. Kehidupan kita sendiri bahkan sudah terlalu sering diwarnai oleh keberadaan orang-orang yang profesi dan pekerjaannya tidak mencerminkan latar belakang pendidikannya.

Membatasi diri hanya karena merasa tidak memiliki pengetahuan di suatu bidang sesungguhnya menafikan kenyataan bahwa dalam diri kita terkandung segudang potensi yang menanti untuk dimanifestasi. Segala sesuatu bisa dipelajari, dipahami dan kemudian dipraktikkan tanpa Anda harus berguru pada suatu lembaga pendidikan yang terspesialisasi atau guru tertentu. Anda bisa belajar dari diri sendiri, melalui praktik-praktik langsung dalam kehidupan Anda. Hidup ini menyediakan bagi mereka, yang bersedia menjalaninya dengan sadar, banyak peluang dan kemampuan untuk mengerjakannya dengan potensi-potensi yang mereka miliki.

Untuk menciptakan masa depan kita sekarang ini, tidak diperlukan untuk masuk 'jurusan sukses' di perguruan tinggi. Dewasa ini, kita hanyut dalam pusaran persaingan yang keras, di mana latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting dibandingkan menjalankan ikhtiar terus-menerus dan sadar, sehingga Anda akan memperoleh pembelajaran maupun pemahaman secara berkelanjutan.©