Tuesday, July 15, 2025

Lupa Nama, Tanda Rendahnya Interaksi Pembantu Pelatih dan Anggota

PADA tahun 2023, saya dimintai tolong oleh pembantu pelatih daerah Cabang Jakarta Selatan untuk menangani seorang anggota yang bersikeras melakukan Latihan dua kali seminggu di Hall Cilandak, meskipun ia telah melampaui batas Latihannya (di rumah ia melakukan Latihan setiap malam, membuat keributan yang mengganggu tetangganya). Tugas yang aneh bagi saya, karena saya bukan seorang pembantu pelatih, melainkan “dimintai bantuan” oleh seorang pembantu pelatih.

Karena saya merasa anggota tersebut seharusnya ditangani oleh seorang pembantu pelatih, saya bertanya padanya siapa pembantu pelatih yang membukanya. Ia dibuka pada tahun 2017, hanya enam tahun sebelumnya, tetapi ia tidak ingat nama-nama para pembantu pelatih yang hadir saat pembukaannya. Ia hanya ingat ada empat orang. Mengingat profesi anggota tersebut adalah dosen, saya rasa tidak masuk akal jika ia benar-benar lupa nama segelintir orang saja. Mungkin saja, sebelum dan/atau sesudah dibuka, ia tidak pernah berhubungan lagi dengan para pembantu pelatih tersebut, atau para pembantu pelatih tersebut mengabaikan tanggung jawab mereka untuk mengasuhnya.

Saya sering menjumpai anggota Subud, terutama di Jakarta, terutama yang baru dibuka pada tahun 2000-an, yang tidak ingat siapa saja para pembantu pelatih yang hadir menyaksikan pembukaan mereka. Ada beberapa anggota yang ingat nama dari setidaknya dua dari empat pembantu pelatihyang hadir, tetapi banyak juga yang tidak ingat siapa saja pembantu pelatih yang hadir.

Rata-rata jumlah pembantu pelatih yang hadir saat pembukaan anggota baru tidak lebih dari tiga atau empat orang. Hal ini bisa jadi karena calon anggota yang dibuka tidak pernah bertemu dengan para pembantu pelatih, yang menyaksikan pembukaannya, selama masa ngandidat-nya, atau hubungan mereka dengan para pembantu pelatih bersifat “sambil lalu”, tidak pernah intensif. Atau, rumor yang beredar memang benar, bahwa para pembantu pelatih dewasa ini tidak lagi tekun menjalankan tugas melayani anggota sejak masa kandidatan hingga mereka dibuka.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 16 Juli 2025

Monday, July 14, 2025

Forum Belajar Percakapan Bahasa Inggris di Wisma Subud Cilandak

MESKI berakar di Indonesia, Subud merupakan perkumpulan berskala internasional. Subud pun menjadi gerbang bagi orang-orang Indonesia untuk mendapatkan eksposur internasional, tetapi sayangnya hal itu belum maksimal. Penyebabnya adalah penguasaan bahasa asing, terutama Inggris, yang masih rendah di kalangan anggota Subud Indonesia.

Berawal dari obrolan santai seputar perbedaan budaya di grup WhatsApp “Subud 4G”, tercetuslah ide dari seorang anggota baru grup Jakarta Selatan untuk mengadakan forum pembelajaran bahasa asing yang dinamakan “Subud Practical English Conversation” (SPEC) yang bermula pada 8 Juli 2025. Objektif taktisnya adalah mempersiapkan anggota yang ingin menghadiri Kongres Dunia Subud ke-17 di Fàtima, Portugal, pada 2028, tetapi tujuan utama penyelenggaraan SPEC (yang akan diasuh oleh SICA Indonesia sebagai sebuah komunitas) adalah untuk memperkuat eksposur internasional dari para anggota Subud Indonesia.

 





Untuk sementara, karena keterbatasan ruangan, SPEC diadakan tiap hari Selasa pukul 12.00 di Rumah Wing Bodies Subud Indonesia (kompleks Wisma Subud Cilandak No. 22C) dengan asistensi dari seorang penutur asli, warganegara Amerika Serikat yang tinggal di kompleks yang juga pembantu pelatih Cabang Jakarta Selatan, Harris Roberts. Kepesertaan gratis, tetapi bila ingin menyumbang untuk kepentingan bersama dipersilakan.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 15 Juli 2025

Friday, July 11, 2025

Subud Adalah Apapun Latar Belakang Budaya Anda

SAYA bersama empat saudara Subud Indonesia, satu orang kandidat dan satu non anggota Subud pada akhir bulan Mei 2025 menandatangani akte pendirian perseroan terbatas yang bisnis intinya adalah industri kreatif. Kami terkumpul bukan dengan rencana manusiawi kami, melainkan “tak sengaja”, secara terbimbing. Proyek percontohan kami adalah ingin membuat film dan penyertanya (novel dan lagu), yang melalui itu kami ingin menyampaikan nilai-nilai Subud dan Latihan Kejiwaan tanpa sama sekali menyebut kata-kata itu, dengan harapan masyarakat luas akan mempraktikkan sikap sabar, tawakal, ikhlas dan berani sebagai gaya hidup.

Meski bukan anggota (paling tidak, belum), seorang sutradara film Indonesia yang menjadi salah satu pemegang sahamnya, Agung Sentausa, memiliki seabrek pengalaman hidup yang menimbulkan ketakjuban di antara kami yang sudah dibuka, terutama terkait bimbingan dari kekuasaan Tuhan. Bagaimanapun, ia belum menunjukkan minat untuk masuk Subud, tetapi ia memperlihatkan betapa ia mengagumi Subud dan Bapak, terlebih setelah ia kami biarkan membaca Susila Budhi Dharma.

Salah satu ucapannya, saya kutip, adalah bahwa menurut dia Subud adalah satu-satunya perkumpulan spiritual yang tidak berakar pada budaya tertentu, terlepas dari fakta bahwa Bapak adalah orang Jawa. Saya membenarkan pernyataannya, karena saya pernah membaca ensiklopedia Aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia, yang menyajikan informasi mengenai 300 organisasi spiritual yang terdapat di seluruh Kepulauan Indonesia, salah satunya Subud. Dalam ensiklopedia tersebut memang tidak dicantumkan keterkaitan Subud dengan budaya atau suku apapun di Indonesia, meskipun Bapak berlatarbelakang kebudayaan Jawa yang kental. Dan Subud, tambah Agung berdasarkan pengamatannya, bukan sekte maupun sempalan dari agama-agama atau sistem-sistem kepercayaan yang ada di Indonesia.

Bagaimanapun, masyarakat Indonesia pada umumnya menganggap Subud sebagai Kejawen, sebuah sistem kepercayaan dan budaya yang berkembang di kalangan masyarakat Jawa, yang secara sederhana dipandang sebagai perpaduan antara kepercayaan asli masyarakat Jawa (seperti animisme dan dinamisme) dengan pengaruh agama-agama besar yang masuk ke Jawa, terutama Hindu, Buddha, dan Islam. Kejawen menekankan pada nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, dan praktik-praktik tradisional yang diwariskan dari leluhur. 

Kadang, telinga saya panas mendengar komentar orang-orang Indonesia sendiri yang mengatakan bahwa Subud adalah Kejawen, hanya karena Bapak berasal dari Jawa dan sebagian anggota melestarikan artefak-artefak budaya Jawa dalam event-event Subud. Tetapi, telinga saya kembali sejuk jika mengenang ucapan satu pembantu pelatih dari Cabang Jakarta Selatan, yang meninggal pada 2010 lalu, “Ya, Subud memang Kejawen... bagi orang Kejawen. Subud adalah Islam... bagi orang Islam. Subud adalah Kristen... bagi orang Kristen. Subud adalah apapun latar belakang budayamu.”©2025


Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, 12 Juli 2025

Wednesday, July 9, 2025

Hubungan Lagu Dengan Jiwa

SAAT melihat sebuah postingan berisi sederet foto dan video yang menggambarkan kegiatan kepemudaan di Musyawarah Wilayah Subud Indonesia Komisariat Wilayah VI Jawa Timur, Bali dan Sulawesi, di akun Instagramnya @subudyouthindonesia pada hari ini, secara bersamaan saya menyalakan Youtube The Best of Relax Slow Rock Music untuk mengiringi waktu bekerja saya di depan komputer.

Video di akun Instagram itu kemungkinan ada ilustrasi musiknya juga, atau suara dari mereka yang tampak dalam video tersebut, tetapi entah mengapa tidak keluar. Saya pikir, mungkin ada gangguan di speaker komputer saya, tetapi kemudian saya ketahui bahwa bukan itu penyebabnya, karena nyatanya saya bisa mendengar dengan jelas musik dari akun Youtube yang saya kunjungi. Saat itulah, saya menyadari sesuatu yang indah: Musik dan lagu dari Youtube The Best Relax Slow Rock Music yang beriringan dengan video di akun Instagram @subudyouthindonesia yang “bisu”, memberi yang tersebut terakhir nuansa yang berbeda, atmosfer yang positif, membangun rasa kekaguman, semangat, bahkan kebahagiaan.

Seketika saya teringat pada pengalaman bertahun-tahun lalu. Saat itu, tahun 2001, saya bekerja di sebuah biro iklan papan atas di Surabaya, yang sedang menggarap proyek iklan televisi untuk minyak goreng berlabel “Ikan Mas”, yang pabriknya berlokasi di Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER). Sudah delapan kali tim kreatif biro iklan tersebut dan saya, sebagai pengarah kreatif dan copywriter-nya, mempresentasikan ide dan konsep untuk iklan TV-nya disertai papan cerita (storyboard)-nya, di kantor klien yang menyatu dengan pabriknya, namun klien—yang diwakili pasangan suami-istri pemilik perusahaan dan manajer personalianya—tetap belum berkenan.

Pada kesempatan kesembilan, kami mempresentasikan papan cerita yang tidak kami ganti—masih sama dengan saat kami mempresentasikannya pada kesempatan kedelapan, tetapi kali ini kami mempersilakan klien mempelajari frame demi frame pada papan cerita sambil mendengarkan lagu “Bunda” yang dibawakan Melly Goeslaw dari grup musik Potret dari tape yang sengaja kami bawa dari kantor.

Lagu “Bunda” menceritakan tentang rasa cinta yang diungkapkan seorang anak kepada ibunya, juga pengorbanan seorang ibu kepada anaknya. Lirik lagu tersebut dapat membuat kita teringat kepada sosok seorang ibu. Kebetulan, konsep kreatif iklan TV “Ikan Mas” menggambarkan seorang ibu yang menantikan kedatangan anak-anaknya yang telah meninggalkan rumah—karena bekerja di lain kota, kuliah di luar negeri, dan tinggal di tempat yang berbeda karena sudah menikah—dan untuk menyambut mereka sang ibu memasak hidangan yang istimewa, yang tercipta berkat “Ikan Mas”.

Perpaduan musik dan lagu dengan aktivitas mempelajari konsep kreatif iklan TV yang terpampang pada papan cerita tersebut rupanya mencetuskan suasana yang berbeda, suasana yang hangat, yang menghidupkan gambar-gambar pada papan cerita, memberi kesan khusus kepada istri pemilik perusahaan yang adalah seorang ibu dari dua anak yang beranjak dewasa. Kontan saja, klien menyetujui konsep kreatif yang kami presentasikan di kesempatan kesembilan kalinya itu. Begitu sukanya istri pemilik perusahaan pada konsep kreatifnya dan ilustrasi musiknya sampai ia minta agar iklan TV-nya tidak menggunakan suara apapun, termasuk efek suara (sound effects/SFX), selain suara merdu Melly Goeslaw membawakan lagu “Bunda” dan musik yang mengiringinya.

Setelah melakukan Latihan Kejiwaan selama bertahun-tahun, saya mulai menyadari satu hal: musik atau lagu memiliki efek khusus terhadap jiwa kita, baik yang datang dari luar ataupun dari dalam diri kita. Secara tidak sengaja (mungkin merupakan bimbingan buat saya), baru-baru ini saya menemukan ceramah Bapak mengenai pengertian saya itu, sebagai berikut cuplikannya:

“Saudara-saudara, sekedar penjelasan yang mengenai kesenian. Zaman dahulu, lahirnya kesenian yang disebut kebudayaan ialah dilahirkan karena jiwa. Jadi, bukan karena pelajaran, tapi karena jiwa. Karena itu, maka setiap melahirkan kebudayaan yang berupa kesenian—misalnya musik atau bersolah atau lagu-lagu atau menyanyi—seketika dapat menjadikan rasa diri atau hati seseorang tenteram dan bahagia. Karena itu, maka dalam agama, misalnya agama Kristen atau agama Islam atau agama Buddha, dalam memberi penuturan, nasihat kepada para orang-orang, selalu dilagukan, selalu dengan lagu-lagu. Jadi, terang, saudara sekalian, bahwa lagu-lagu atau kebudayaan, amat dekat sekali kepada jiwa, sehingga dengan mengucapkan atau melagukan lagu-lagu dan dapat membangkitkan diri dan membangkitkan rasa diri—sebagai halnya saudara kalau terlatih atau berlatih.” (Cilandak, Indonesia, 17 Februari 1970—70 TJK 1)

Musik dapat menjadi alat yang efektif untuk mengatur suasana hati, baik untuk meningkatkan energi, menenangkan diri, atau mengekspresikan emosi. Dengan memahami bagaimana musik dapat memengaruhi mood, kita dapat memanfaatkannya secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mental kita.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 10 Juli 2025

Selamat Ulang Tahun, Hyang

Di usiamu yang matang, berkah tak terbilang

Kini kau telah kembali dari berhaji,

jadikan hati berseri, jiwa pun suci

Usia terangkai sudah,

menjalin kisah hidupmu yang penuh makna dan anugerah

Langkahmu kini ringan dan bercahaya,

bekal suci dari Makkah dan Madinah

                                                  

Semoga tiap doamu terkabulkan,

Di setiap sujud, harapan menuju wujud.

Kebahagiaan abadi menaungi,

di dunia ini hingga akhir nanti

Dirgahayu, Hyang,

Semoga Allah limpahkan rahmatNya tak terhingga

Jalanmu terang, imanmu kokoh,

Dalam pasrah, hidupmu indah...

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 9 Juli 2025

Budaya Generalisasi

MASYARAKAT Indonesia itu suka salah kaprah terhadap nama-nama makanan yang berasal dari budaya-budaya yang berbeda, terutama karena kecenderungan menggeneralisasi. Generalisasi umumnya disebabkan oleh kemalasan memahami detail.

Seperti kasus Roti Canai vs Roti Maryam, misalnya—kedua jenis roti pipih yang berbeda asal budaya dan cara masaknya tapi dianggap sama. Begitu pula dengan Dimsum; masyarakat Indonesia menganggap Dimsum adalah hanya camilan berbentuk daging ayam giling berbumbu yang dibungkus kulit tepung yang dikukus. Padahal shumai (nama untuk jenis Dimsum itu) hanya salah satu dari lebih dari 950 jenis Dimsum. Dalam bahasa Kanton, dim sum berarti “makanan kecil”, dan nama itu mencakup segala jenis camilan khas Tiongkok, baik dikukus, digoreng, disetup, dibakar maupun dipanggang, termasuk onde-onde, kue ku (angku), bakcang, bakpia, bakpau, lumpia, ceker ayam, bakwan/bala-bala, kue lapis tepung beras, dan hoklopan (terang bulan/martabak manis).

Kasus lainnya adalah kebab. Di budaya asalnya, Timur Tengah, kebab secara etimologis berasal dari kata bahasa Arab kabāb yang artinya “daging bakar/panggang”. Dalam konteks budaya asalnya, kebab mengacu pada daging giling yang dibakar atau dipanggang, tapi ada pula kebab yang berwujud bola daging giling (meatball atau bakso) atau daging potong dadu yang disetup (stew). Kuliner khas Indonesia, sate, termasuk kategori kebab. Begitu tiba di Indonesia, kebab digeneralisasi sebagai “daging giling bakar yang dibungkus roti pipih”; yang tidak dibungkus roti pipih dianggap bukan kebab.

Kesalahkaprahan semacam ini juga berlaku untuk kuliner lokal Nusantara. Seperti, misalnya, tempe mendoan. Di budaya asalnya, Banyumas, mendoan mengacu pada tempe tipis yang dibungkus adonan tepung yang mengandung ketumbar dan daun bawang lalu digoreng setengah matang. Istilah setempat untuk “setengah matang” adalah mendho. Jadi, mendoan atau mendhoan seharusnya mengacu pada “gorengan setengah matang” atau “basah”, bukan “gorengan garing” atau “kering” yang disukai masyarakat di luar Banyumas, utamanya Jakarta dan Surabaya. Orang Banyumas akan terbengong-bengong mendapati camilan khas daerahnya disajikan kering di daerah lain tapi tetap pakai nama “tempe mendoan”.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 9 Juli 2025

Saturday, July 5, 2025

Saya Ada di Mana Ketika Bapak Masih Ada?

SAYA sedang melihat postingan berjudul “Overlapping Timelines That Shouldn’t Have Happened” di akun Instagramnya Look Into History, dan menemukan slide pertamanya adalah gambar ini. Terbersit pemikiran yang mengasyikkan, yaitu “saya ada di mana ketika Bapak masih ada?” 




Ketika Bapak tutup usia pada 23 Juni 1987, saya sedang kelewat larut dalam belajar di kamar saya untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri kedua kalinya bagi saya. Saat itu, saya sebenarnya sudah kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, sebuah perguruan tinggi bagi calon guru. Karena saat itu menjadi guru bukan cita-cita saya—terutama karena saya demam panggung bila berdiri di depan kelas, saya memutuskan untuk mulai kembali hit the books, mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri yang sangat kompetitif--jelas bukan ajang pertarungan yang mudah bagi seseorang dengan ranking terbawah di SMA seperti saya ketika itu. Terbersit pemikiran, seandainya saya sudah masuk Subud saat itu, mungkin menjadi agak mudah bagi saya untuk mengatur pikiran saya (yang selalu saya tuding sebagai penyebab utama ketertinggalan saya dalam pelajaran selama pendidikan dasar dan menengah saya).

Periode pendidikan saya, baik di sekolah dasar, menengah maupun ketika di universitas merupakan masa-masa yang sulit bagi saya secara psikologis. Saya menjadi pribadi yang tergolong sangat tertutup. Saya bukan saja mengalami kegagalan dalam kuliah, tetapi juga dalam pergaulan sosial dan asmara. Saya merasa terkucilkan, dan diri sendiri adalah sahabat saya. Mengenang masa-masa itu, kalau boleh, saya menyesalkan mengapa saya belum menemukan Subud. Periode pendidikan dasar, menengah hingga tinggi saya adalah saat Bapak masih ada, dan saya mungkin akan memaksimalkan bertanya jawab dengan beliau dan merajinkan Latihan demi mengatasi problema psikologis saya (rendah diri yang parah).

Tapi... ya, sudahlah, masa itu sudah lewat dan saya sintas melaluinya meski belum menerima Latihan. Bagaimanapun, saya mensyukuri kenyataan bahwa saya baru menerimanya sepuluh tahun setelah saya menamatkan kuliah sarjana saya, dan saya bertekad akan membiasakan anak saya dalam hal pasrah dengan sabar, tawakal dan ikhlas, agar ia tak perlu melalui apa yang telah saya lalui dulu.©2025

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 5 Juli 2025