Friday, August 15, 2025

Pentingnya Ide Kreatif yang Strategis

 


BARUSAN saya googling produk AP Boots, produk alas kaki industrial yang ketika beriklan pertama kalinya pada tahun 2001 ditangani oleh biro iklan papan atas yang berbasis di Surabaya, PT Aditya Lini Pariwara atau Adline Communications. Saat itu, saya bekerja di biro iklan tersebut sebagai Senior Copywriter dan Creative Director yang diberi tugas untuk merancang strategi branding dari merek sepatu boot yang diproduksi PT Waru Gunung Industry (PT WGI), Surabaya, milik pebisnis Anton Poediono. AP pada nama merek boot itu adalah inisial nama pemilik sekaligus Presiden Direktur PT WGI.                               

Saat itu, pemain di industri boot belum banyak, hanya dikuasai pemain-pemain besar di industri alas kaki, seperti WGI, New Era, dan Toyobo, yang semuanya berbasis di Surabaya dan Sidoarjo. Meskipun tergolong perusahaan berskala besar, pemasaran WGI masih tradisional, tidak memiliki strategi yang jelas, hanya melempar ke grosir di Jakarta, Medan, Surabaya, Balikpapan dan Makassar. Khusus untuk AP Boots, pemasarannya hanya business to business (B2B). Anton Poediono ingin membuat gebrakan dengan menjadikan produk bootnya menyasar konsumen business to consumer (B2C). Sesuatu yang biasa di negara-negara Barat dan sebagian Asia Tenggara tapi tidak biasa di Indonesia saat itu.

Karena baru beriklan—aksi komunikasi pemasaran yang membuat Anton Poediono dimaki-maki ayahnya sebagai pendiri WGI, karena ayahnya mengklaim produk WGI laku keras di pasar tanpa beriklan, iklan TV AP Boots hanya sekadar menggelar varian produknya: boot untuk pabrik, boot untuk pertanian dan boot untuk anak-anak (merek AP Kids). Bos Adline Communications, Pak Judo Purnomo Budi (meninggal 2019 lalu), mengusulkan tagline merangkap slogan yang akan membuat para kompetitor takluk, efektif sekaligus memorable. Pak Judo pun menantang copywriter andalannya (saya) untuk itu, karena menurutnya sebagai praktisi periklanan berpengalaman lima tahun di industri komunikasi pemasaran Jakarta saya terbiasa beride kreatif yang strategis.

Ide kreatif yang strategis adalah gagasan inovatif yang tidak hanya menarik, tetapi juga dirancang untuk mencapai tujuan tertentu, seperti meningkatkan penjualan, membangun merek (brand-building, atau branding), atau memecahkan masalah. Ide ini menggabungkan kreativitas dengan perencanaan matang untuk memastikan efektivitasnya future-proven atau “kekal”. 

Berbekal pemikiran yang usil—sebagaimana kebiasaan saya saat brainstorming kreatif dengan tim maupun dengan diri sendiri—saya mengajukan “Boots Sebenarnya!”, yang merepresentasi sebuah tagline tapi juga berfungsi sebagai slogan merek. Di pemikiran saya, kompetitor akan mati kutu menghadapi klaim “boots sebenarnya” dari AP Boots, karena dua kata itu merangkum berbagai fitur khusus boot (karet asli, jahitan kuat, anti air, anti selip, tahan benturan dan awet), yang juga ada pada merek-merek lainnya, tanpa harus berbicara panjang lebar.

Tak disangka, Anton Poediono sangat suka dengan tagline qua slogan itu. Blak-blakan, to the point dan tidak ada yang bisa menandinginya. Klaim apapun dari para kompetitor akan dimentahkan oleh dua kata itu. Seperti ketika Manajer Promosi PT New Era, yang kebetulan mengenal saya karena dia mantan Account Manager Adline Communications, mengkonfrontasi saya ketika kami bertemu di sebuah event Media Gathering Indosiar di Hotel Novotel Surabaya tahun 2002: “Bootnya New Era juga dari karet asli, anti air, anti selip, tahan benturan dan awet! Itu juga boots sebenarnya!”

“Ya memang. Terserah Mbak mau klaim gimana, tapi Boots Sebenarnya! hanya AP Boots. Sudah kadung dipatenkan lho, Mbak,” kata saya sambil tertawa penuh kemenangan. Si Manajer Promosi New Era memandang saya sambil mencibir, seolah berkata, “Sialan lo!”

Branding AP Boots sudah berlangsung 24 tahun sejak saya menciptakan tagline qua slogannya, penggarapan brandingnya pun sudah berpindah ke agensi lain, di Jakarta, tapi “Boots Sebenarnya!” masih terus melekat pada AP Boots.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 15 Agustus 2025

Sunday, August 10, 2025

“Kepal Jari Jadi Tinju, UI Kampusku, Bersatu Almamaterku, UI!”

 


UI adalah dosen muda yang turun dari KRL, pagi-pagi, sehabis hujan, berjalan menghindari becek dan kena ceprot Toyota; adalah profesor yang pakai sendal; adalah mahasiswi yang repot ngurus rambutnya; adalah juru tik yang membuka amplop gaji dan isinya hanya bon.

(Angin memupuri gedung rektorat, berhamburan ke danau, berjalan hati-hati di selasar masjid, lalu bergegas kembali ke hutan karet)

UI adalah bisik-bisik porno di perpustakaan; adalah pengantar surat yang terpeleset di lantai marmer Rektorat; adalah bau keringat SPP di bank; adalah kaca mata yang ketinggalan di lab; adalah teriakan “uuu” di ruang komputer ketika tiba-tiba PLN ngadat

(Hujan berdenting di genteng Rektorat, menciptakan lumpur di bekas-bekas galian, menggenang di saluran macet, dan berjingkat pulang ke hutan karet)

UI adalah obrolan politik di kantin; adalah “E” yang jagoan KO dan “A” yang alhamdulillah; adalah mahasiswa yang menandatangankan daftar hadir temannya; adalah lektor yang salah masuk ruang kuliah; adalah woki toki yang bergantung di sabuk satpam

(Langit adalah mata yang tak pernah pejam, yang senantiasa mengawasi kita, yang tak habis-habisnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kita, yang sekaligus memberikan angin, air dan matahari kepada kita)

UI adalah suara seorang, sepuluh, seratus, entah berapa ribu anak-anak muda berjaket kuning yang menyanyikan larik-larik himne perlahan saja namun seperti tak ada habisnya...

 

Sapardi Djoko Damono—ditulis untuk buku 40 Tahun UI: Menoleh ke Belakang Sambil Melangkah Maju (1990)

Friday, August 8, 2025

Ijazah Kehidupan

 


MEMBUAT akun UI Connect—platform media sosial yang dikembangkan oleh Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) untuk memfasilitasi interaksi digital antar alumni UI baik secara personal maupun profesional—saya diharuskan mengunggah dokumen dalam format JPG atau PDF yang membuktikan bahwa saya memang pernah kuliah di UI sampai selesai. 

Masalahnya, ijazah S1 saya hilang, walaupun sudah saya simpan di document keeper bersama ijazah-ijazah SD, SMP dan SMA saya serta sertifikat-sertifikat serta piagam-piagam lainnya. Lebih dari 30 tahun berkarir di dunia komunikasi pemasaran, korporat dan keberlanjutan, menjadi kutu loncat di 13 biro iklan dan satu firma kehumasan, saya tidak pernah dimintai ijazah, walaupun di form lamaran ada pertanyaan perihal “Pendidikan Terakhir”. Alhasil, ijazah S1 UI saya pun terlupakan dan kemudian hilang.

Seorang Manajer Sumber Daya Manusia (SDM) sebuah biro iklan yang turut mewawancarai saya dalam proses rekrutmen pernah bilang, “Cara Anda mengartikulasikan gagasan demikian jernih dan wawasan Anda yang luas mencerminkan Anda lulusan universitas ternama. Dulu kuliah di mana?”

Saya menjawab, “UI, Bu. Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah.”

Ibu Manajer SDM yang cantik dan tergolong muda itu mengekspresikan Wow! dengan wajah berseri-seri dan memandangi saya dengan kagum. Begitu kagumnya sampai lupa menanyakan ijazah saya sebagai buktinya... mungkin.

Tapi UI Connect hanya sebuah alat, tidak secantik Ibu Manajer SDM, tapi jelas masih sangat muda, sehingga saya maklumi jika banyak kekurangannya—dengan sistem yang lumayan menyulitkan Generasi X khususnya. Sebagai pengganti ijazah S1 saya yang hilang, saya unggah saja foto saya ketika wisuda di Auditorium Gedung I kampus FSUI Depok. Terserah, mau diverifikasi atau tidak. Dinamika kehidupan nyata sudah membuktikan saya alumni Universitas Indonesia.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 9 Agustus 2025

Wednesday, August 6, 2025

Daya-Daya yang Sekadar Menumpang

TADI malam, saya Latihan di Wisma Barata Pamulang, yang kalau hari Rabu yang pria bertempat di rumah Bapak. Seperti biasa, saya “menduduki” ruangan di bawah mezanin kamar Bapak yang bagi saya power-nya terasa dahsyat.

Sebelum penenangan diri, seperti biasa pula saya memohon bimbingan Tuhan dalam Latihan Kejiwaan Subud (terkadang saya menyebut kepanjangannya: Latihan Kejiwaan Susila Budhi Dharma) dan kemudian minta izin pendampingan dari YM Bapak. Tadi malam, selain izin, saya juga spesifik minta YM Bapak membantu saya mengatasi semua perasaan cinta, rindu, senang, benci, dendam, marah, kesal, sebal, resah, lelah, iri, rakus, tamak, kenangan, ingatan, pengetahuan-pengetahuan eksisting, yang “menumpang” pada diri saya beberapa minggu belakangan ini, yang mengendalikan segala gerak hidup saya.

Kemudian, Latihan bersama pun dimulai, yang aba-abanya diberikan oleh Pak Rasyidi, Pembantu Pelatih Subud Ranting Pamulang. Saya merasakan lompatan-lompatan dari tahap yang satu ke yang lainnya dari Latihan saya, dari gerakan wadag yang kasar diiringi suara—yang sempat terusik oleh suara orang bule yang menyanyikan dengan merdu nyanyian khas Celtic (bangsa, bahasa, dan budaya yang terkait dengan kelompok etnis yang tersebar di Eropa Barat Laut, terutama di Irlandia, Wales, Skotlandia, dan Brittany) yang bernuansa magis.

Di sekitar 15 menit terakhir, dari posisi berbaring saya seperti direnggut (ditarik dengan paksa) oleh sebuah tangan gaib yang membuat saya dengan cepat berdiri lalu mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi sambil melantunkan gendhing Jawa dengan dendang dalam bahasa yang terkesan Jermanik Kuno (kebudayaan dan bahasa yang digunakan oleh kelompok suku-suku yang berbicara bahasa Jermanik, yang mendominasi sebagian besar Eropa pada Zaman Besi hingga Abad Pertengahan Awal). Disusul kemudian oleh ucapan-ucapan yang merepresentasi daya-daya tumpangan saya. Di akhir Latihan, saya kembali duduk di kursi yang sebelum Latihan saya gunakan saat penenangan diri.

Pagi ini, setelah bangun tidur, saya menyadari sesuatu yang aneh bin ajaib: Semua perasaan hilang, bahkan ingatan-ingatan, yang tadinya menempel kuat di benak saya, tidak bersisa. Saya tidak bisa mengembalikan ingatan-ingatan itu, meski saya berpikir keras, berusaha mengembalikan mereka (karena beberapa di antara ingatan atau kenangan itu bagi saya menyenangkan, walaupun tidak ada manfaatnya untuk sekarang ini). Juga semua perasaan dan pengetahuan yang saya sebutkan di atas. Hilang tak berbekas.

Anjriiiittt, dahsyat banget power Latihan Kejiwaan! Semua dibablaskan tanpa upaya susah payah dari pihak saya.

Saya pun berucap syukur dalam hati, karena dengan begitu, saya bisa memulai segala sesuatu dengan semangat yang baru nan segar.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 7 Agustus 2025

Tuesday, August 5, 2025

Misi Meminjam Bangku Peron

 


Saya mengirim cerita berikut ini ke panitia lomba Cerita Stasiun UI. Saat menulisnya, yang memang kisah nyata, saya sendiri sulit percaya kalau semasa kuliah saya sudah gila.

 

DUA tahun terakhir keberadaan saya di Universitas Indonesia, tahun 1991-1993, sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI atau FSUI (kini bernama Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI/FIBUI), saya lalui dengan tinggal di kos. Saya menempati kamar kosnya berdua dengan senior saya yang kala itu sudah lulus.

Kos saya terletak sekitar sepuluh meter dari Stasiun Universitas Indonesia. Bahkan saat itu nama gang di mana kos saya berlokasi adalah “Gang Stasiun UI”.

Pemandangan KRL Komuter Jabotabek berlalu lalang pun menjadi suguhan sehari-hari saya. Bunyi deru roda KRL yang lewat Stasiun UI menjadi “jam weker” saya setiap pagi, yang menguntungkan saya jika saya ada jadwal kuliah pagi. Kedekatan kos saya dengan Stasiun UI membuat saya merasa stasiun itu adalah “garasi kendaraan pribadi” saya, karena tiap kali saya ingin ke Jakarta atau ke Bogor, saya tinggal jalan kaki kurang dari dua menit dari kos saya ke stasiun itu. Tapi cerita seru yang ingin saya sampaikan bukan terkait perjalanan dengan KRL, melainkan yang berikut ini...

Saat itu, KRL terakhir lewat, seingat saya, jam 23.00. Selewat jam itu, bila kebetulan ada beberapa teman main ke kos saya, saya ajak mereka nongkrong di peron Stasiun UI, yang menyediakan bangku-bangku panjang. Teras di depan kamar kos saya terlalu sempit, lebih merupakan emperan, yang tidak bisa menampung banyak orang nongkrong, terlebih bila hujan.

Suatu saat, ketika jam sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam, enam teman kuliah tiba-tiba datang bertamu ke kos saya. Perkara menyuguhkan makanan tidak terlalu menjadi soal bagi saya, karena di seberang pekarangan kos saya ada warung makan milik seorang kakek Betawi yang pensiunan penjaga jalan lintasan (PJL) dan sebuah warung kopi, yang dijalankan penghuni bedeng di seberang kamar kos saya.

Tempat untuk nongkronglah yang menjadi kendala, tetapi jika saya ajak nongkrong di peron Stasiun UI yang sudah tutup pada jam tengah malam, akan kejauhan dari kedua warung tersebut. Bukannya apa, tapi malas saja jalan kaki bolak balik ke warung dan peron karena harus menyusuri sisi rel yang berlapis kricak, yang kadang menyebabkan kaki tersandung atau terpeleset.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, saya mendapat ide yang rada gila: Meminjam dulu bangku peron Stasiun UI, mengangkutnya ke emperan depan kamar kos saya. Memang menyusahkan tapi cukup sekali jalan malam itu. Saya dan tiga teman saya pun melangkah menuju peron Stasiun UI, yang saat itu bisa diakses siapapun karena tidak dijaga petugas keamanan. Kami menggotong satu bangku ke kos saya. Saya bertekad akan mengembalikannya ke posisinya semula keesokan paginya sebelum KRL pertama lewat.

Keesokan paginya, saya buru-buru bangun tidur untuk menjalankan misi pengembalian bangku peron Stasiun UI, tapi akibat begadang semalaman bersama teman-teman, rupanya saya terlambat bangunnya. Sudah jam sembilan. Dan saya harus membatalkan misinya karena bangku itu sudah diduduki sejumlah mahasiswa yang sedang menunggu pesanan fotokopi dokumen mereka. Kamar di sebelah kamar kos saya memang dikontrak untuk kios fotokopi. Saya berdoa saat itu, semoga saja petugas Stasiun UI tidak menyadari berkurangnya jumlah bangku peron.

Misi pengembalian bangku peron baru berhasil saya laksanakan malamnya, di waktu yang sama dengan ketika saya “meminjamnya”.©2025


Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 6 Agustus 2025

Friday, August 1, 2025

The Chances I Missed

 Mengenang Djt N.


In halls of ivy, thirty-five years gone,

a shy-eyed girl, a quiet, early dawn

A year and a half my senior, yet a child

in matters of the heart, so undefiled

                                             

She watched me from the library stacks,

her kindness a warm blanket on my back

She’d ask of me, a deep concern so rare,

a tender note I was too scared to share

 

My own heart stirred, a silent, clumsy beat,

impressed by her, so gentle and so sweet

But pride and youth, a foolish, thorny wall,

I looked away and missed her tender call

 

The years rolled on, a blur of work and strife,

a different path, a different kind of life

The memories of her, a faded thing,

a melody that had forgot to sing

Then came the night, a dream so clear and bright,

we stood again within that college light

No words were said, but feelings, raw and true,

a love unspent, between me and her

 

I woke to find my pillow damp with tears,

for chances lost to time and foolish fears

That silent love, a ghost that won't retreat,

a missed connection, bittersweet...©2025

 

Pondok Cabe, South Tangerang, 2 August 2025, 11:36 p.m.

Bayangan Masa Lalu

 Mengenang Djt N..


Di panggung mimpi yang tak pernah kuminta,

kamu kembali hadir, seulas senyum yang dulu kuraba dalam nyata

Bukan wujud, tapi isi; bukan hadir, melainkan rasa

Silam telah mengukir kisah tanpa suara

                                              

Di selasar kampus yang menyimpan bisu,

terangkai dua hati yang merindu

Saling sapa, tapi tak melisankan cinta

Kita muda, penuh asa yang tak bersuara

Mengikat janji tak terucap, namun terpatri abadi

dalam ruang asmara yang tak menjadi

Anomali kasih yang melampaui definisi

Perhatianmu mengalir bagai sungai yang tak pernah kering,

membasahi hatiku dengan hangat teriring

 

Dalam tawa yang telah menjadi gema,

kutemukan kembali tatapmu, seolah semesta menyatu dalam jeda

Waktu, si pengikis segalanya, tak sanggup menyentuhmu

Kamu adalah bayangan yang tak pernah pudar, kekal dalam ruang batinku... ©2025

 

Pondok Cabe, Tangerang Selatan, 2 Agustus 2025