Monday, January 26, 2026

Kapan?

MINGGU lalu, selama seminggu penuh, hujan deras mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya. Ada dua hari dalam pekan itu dimana hujan turun selama hampir sepuluh jam, yang menyebabkan banjir melanda sejumlah titik di Jakarta—bahkan kawasan-kawasan yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran tiba-tiba harus mengalaminya.

Yang paling menyebalkan bagi banyak warga masyarakat adalah kesulitan dalam mengeringkan cucian mereka. Mencuci bagi sebagian besar warga Jakarta dan sekitarnya merupakan hal yang mudah, karena rata-rata telah memiliki mesin cuci. Kesulitannya terletak pada jarangnya matahari menampakkan wajahnya, membuat jemuran tidak bisa cepat kering sehingga menimbulkan bau apek dan kain menjadi berjamur. Akibatnya, warga masyarakat berbondong-bondong ke gerai-gerai penatu swalayan yang menyediakan bukan saja mesin cuci tetapi juga mesin pengering.

Bagaimanapun, hal ini tidak serta merta menyelesaikan masalah. Banyak warga yang tidak memiliki mobil akan kehujanan dalam perjalanan mereka ke gerai-gerai penatu itu. Istri saya mendesak saya untuk bangun lebih pagi agar bisa terhindar dari kehujanan (meskipun kenyataannya, terkadang hujan pun turun sejak subuh), tetapi saya mengabaikannya. Saya hanya menjawab, “Nantilah.”

“Kapan itu nanti?” tanya istri saya.

“Ketika Tuhan menghendakinya,” jawab saya seenaknya. Istri saya, meskipun Subud juga, masih suka menganggap jawaban saya seperti itu sebagai lelucon. Karena menganggap saya tidak serius, ia pergi sendiri ke gerai penatu langganan kami, tetapi menolak membawa serta pakaian kotor saya—maksud dia, agar saya jera dengan akibat dari membiarkan pakaian kotor menumpuk terlalu lama.

Hari Minggu, 25 Januari, saya terbangun dengan penerimaan bahwa hari itu cuaca akan cerah dan saya terdorong untuk mencuci pakaian saya dalam dua giliran: Hari itu khusus pakaian atasan, dan hari berikutnya pakaian bawahan. Mengetahui bahwa saya akan mencuci pakaian, istri saya mengingatkan bahwa waktunya tidak tepat. “Hujan bisa turun kapan saja! Jemuran kamu tidak akan kering dan bau apek!” katanya. Tetapi saya tidak peduli dengan omongannya dan dengan santai meneruskan mencuci pakaian saya dengan mesin cuci.

 

Pemandangan dari balkon belakang tempat saya menjemur pakaian. Bisa dilihat awan mendung tebal di ufuk utara—tepat di perbatasan Jakarta Selatan—yang seolah sudah tidak sabar ingin tumpah. Entah bagaimana, hujan tertahan cukup lama sampai cucian saya kering. Benar-benar waktu yang pas!

Ajaibnya, hari itu memang tidak hujan sepanjang pagi hingga sore, memberi kesempatan pada jemuran saya untuk mengering sempurna. Hujan baru turun beberapa saat setelah saya memasukkan jemuran.

Senin ini, saya mencuci lagi, giliran pakaian bawahan saya, meski diperingatkan oleh istri saya bahwa langit sudah tertutup awan mendung hitam dan tebal. Ketika saya menjemur cucian saya, perlahan awan-awan mendung itu menyingkir, memberi jalan bagi masuknya sinar matahari.

Saat sarapan, saya berkata kepada istri saya, “Tuhan menciptakan waktu, manusia menciptakan jam. Kalau aku terima sekaranglah saat yang tepat untuk mencuci, maka akan aku lakukan. Jangan tanyakan kapan—aku tidak tahu, Dialah Yang Maha Tahu!”

Istri saya hanya mencibir.©2026


Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan, 26 Januari 2026

No comments: